Sabtu, 27 September 2014

Renungan Efesus 5 : 8-10 ; Pengkhotbah 5 :7-9

DI sepanjang minggu yang berjalan ini dalam suasa perayan GMIM Bersinode yang ke-80 sebagai warga GMIM Kita merenungkan bagian firman Tuhan dengan Tema Bulanan : Keadilan yang gerejawi dan Tema mingguan, HIDUP DALAM TERANG BERBUAHKAN KEADILAN.
Belakangan ini aliran listrik ke rumah kita seringkali diputuskan oleh PLN. Ini menjadi persoalan klasik yang nampaknya belum dapat diselesaikan. Ketika aliran listrik dipadamkan banyak orang protes, marah marah dan tidak setuju. Intinya disini adalah  kita tidak ingin hidup dalam kegelapan, melainkan kita mau hidup dalam terang  karena kegelapan akan menghambat aktivitas kehidupan dan menimbulkan kekhawatiran ,ketakutan, ketidakpastian bahkan membuat hidup kita susah.
Walaupun demikian manusia kadang kala lebih mencintai  kegelapan .  keadaan gelap yang berkepanjangan kadangkala  telah melatih manusia  untuk hidup didalamnya, contohnya adalah Ketika lampu-lampu menjadi padam, secepatnya kita mengusahakan adanya penerangan lain agar kita tetap dapat berjalan tanpa khawatir terantuk dengan benda-benda yang ada di dalam rumah. Tapi cobalah untuk tidak menyalakan penerangan apapun juga di dalam rumah. Kali pertama, kita cenderung memilih untuk tetap tinggal di tempat di mana posisi kita berada saat kegelapan itu datang. Saat harus berjalan, langkah kita penuh kehati-hatian. Tetapi, jika kita lebih lama lagi tinggal di dalam kegelapan itu, lambat laun kita dapat ber-adaptasi [menyesuaikan atau mencocokkan diri] dengan keadaan gelap itu. Mata kita akan terbiasa dengan kegelapan dan kita dapat melangkah lebih yakin dari sebelumnya, karena keadaan gelap yang berkepanjangan itu telah melatih kita untuk hidup didalamnya.
Firman Tuhan menjelaskan bahwa mereka yang diam di Efesus dahulunya hidup di dalam kegelapan dengan rupa rupa perbuatan kecemaran yang membuat hidup kehilangan makna.  Mereka telah terbiasa dan terlena dengan jalan hidup yang berdosa . Perbuatan kegelapan inipun kita baca dalam konteks pengkhotbah 5 :7-9. Paling tidak ada  3 hal yang diangkat tentang kondisi  manusia yang gelap yaitu : menindas orang miskin, memperkosa keadilan dan mendewakan kekayaan.
Kondisi ini membuat Manusia menjadi homo homini lupus atau manusia adalah serigala bagi manusia lain. Dalam ungkapan lain  manusia  seringkali menjadi serigala yang  selalu menerkam dengan cara apapun demi keuntungan pribadi meski mengorbankan orang lain,  yang kuat menindas yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin, yang berkuasa memperkosa keadilan.
Semua ini telah merusak citra dan gambar diri manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah.


 Ini mengakibatkan manusia tidak hanya kehilangan makna dan tujuan hidup  tetapi juga kehilangan arah pengharapan ke depan . Berbagai perbuatan yang  mereka lakukan  membuat murka Allah dan selayaknya mereka akan mendapatkan penghukuman. Semua hal itu terjadi karena sebelumnya mereka tidak mengenal Kristus Yesus yang membawa terang kedalam hidup mereka. Intinya mereka sangat membutuhkan terang cahaya kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari Kristus.
Namun  dalam konteks Efesus  perbuatan kegelapan yang mereka lakukan adalah masa lalu , kasih Tuhan telah menjamah hamba hamba pelayannya yang mau melakukan tugas penginjilan dan pemberitaan Firman Tuhan yang tak kenal lelah , tak kenal menyerah dan mau berkorban bagi orang lain demi berita Injil, . Berita Injil mereka sebarkan di Efesus dan oleh perbuatan Roh Kudus sekarang mereka telah berpindah dari gelap ke terang.

Terang inilah yang dibutuhkan manusia dari masa ke masa,  terang yang sesungguhnya bukan hanya terang yang biasa kita lihat. terang itu merupakan hasil karya penciptaan yang pertama, namun  manusia dapat menikmati terang jika bergantung pada Tuhan sendiri. Kepercayaan seperti ini juga diteguhkan oleh Nabi Yesaya yang berkata: ''Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu.'' (Yesaya 60:20)
Dalam  firman yang ditujukan kepada umat di Efesus, Paulus menegaskan jikalau mereka sekarang adalah terang di dalam Tuhan, maka nampakkanlah perbuatan, sikap dan cara hidup   seperti anak-anak terang.
Anak anak terang akan dapat dengan mudah diketahui kualitasnya melalui buah yang dihasilkan. Dari buah yang dihasilkan orang kita dapat menilai apa yang tersembunyi dalam hatinya. Hati yang telah diterangi kasih Kristus seharusnya berbuah cahaya terang yang menerangi kegelapan disekelilingnya. Pengaruh terang bagi kehidupan itu akan memunculkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Ketiga hasil atau buah terang itulah yang akan mendukung kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan manusia.
Sekarang dalam konteks kita sebagai warga negara Indonesia. Kita menyaksikan kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh masalah . Korupsi dan ketidakadilan terus kita dengar dan jumpai. Rakyat menjadi korban oleh perbuatan oknum pejabat yang memperkaya diri sendiri. Hari demi hari dipenuhi dengan berita penangkapan KPK akibat keserakahan dan penyalagunaan kekuasaan sementara hutang negara semakin membengkak setiap tahun. Belum lagi Angka kemiskinan terus meningkat. 
Disini juga  Tuhan menempatkan kita sebagai warga gereja  untuk hidup dan berkarya di tanah Minahasa ini , diinjili dan mengenal Yesus melalui pelayanan Gereja Masehi Injili Minahasa yang telah bersionde ke-80. Kita melihat disekitar kita masih banyak kegelapan disana sini. Masih banyak saudara saudara kita yang hidup dalam kegelapan , mungkin keluarga kita terdekat, mungkin teman dan sahabat kita, mungkin tetangga kita yang sementara berjalan dalam kegelapan karena hidup jauh dari persekutuan dengan Tuhan. Mereka membutuhkan terang dan siap yang mau pergi untuk mereka. Kalau saja Rasul Paulus tidak pergi memberitakan Injil di Efesus maka pasti mereka tetap hidup dalam kegelapan. Demikian juga kita yang sudah hidup dalam terang dipanggil untuk membawa terang itu menyinari kegelapan supaya semuanya dalam kebersamaan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Tuhan memanggil manusia untuk hidup dalam terang-Nya, Dalam dinamika hidup dengan tantangan dan persoalan, saat suka dan duka, dalam setiap tugas aktivitas, mata pencaharian dimanapun kita pergi dan berada marilah kita  mengarahkan diri pada Sang Terang itu, sehingga kehidupan ini dipenuhi dengan kebaikan, keadilan dan kebenaran.

Jumat, 29 Agustus 2014

PESAN PENTING BAGI DIRI SAYA !

Pesan penting saat ini :
1. Hiduplah sehat dengan rajin berolaraga, menggerakkan badan, mengatur pola makan, mengelola pikiran
2. Jangan terbeban dengan pekerjaanmu.
3. Manusia hidup untuk menghidupkan orang lain. (ST3)
4. Dimanapun kamu ditanam berkembanglah.
5. Untuk kemajuan jangan takut , jadilah pribadi yang berani sebab dengan keberanian kita dapat menyelesaikan banyak hal.
6. Jangan mengasihi diri karena kekurangan mu tapi jadikanlah itu motivasi untuk berbuat yang terbaik meski dalam kekuarangan.
7. Bertobatlah dan hiduplah dalam kebenaran.
8. Cintailah istri, anak dan keluargamu dengan segenap hatimu.
9. Hati hati dengan pemborosan , kelola keuangan dengan  bijaksana, hemat dan rajin menabung tapi suka menolong orang lain.
10. Rajin rajinlah berbuat baik sekecil apapun itu.
11. Peganglah prinsip dan berdirilah pada kebenaran dan jangan takut kehilangan apa apa karena berdiri pada prinsip.
12. Jujurlah dengan keuangan yang dipercayakan padamu, jauhkan jiwa korupsi dan belajarlah benar dengan uang.

PEMIMPIN 28/8/14

Hari ini banyak pengalaman berharga dalam kehidupan saya.
Sebagai pemimpin
1. Menyelesaikan masalah
Pagi pagi saya mendapatkan telepon dari seorang perangkat desa yang mempertanyakan operasional A.D.D yang " katanya " belum diserahkan Ka des. Disini laporan ini jangan langsung di benarkan maka saya pun langsung lakukan kroscek dengan Ka des. Menurut penjelasan pak Kades tidak benar demikian. Kades pun meminta identitas pelapor tapi dalam rangka kerahasiaan informasi maka saya tidak sampaikan. Untuk pembuktian maka saya pun mendapat ide langsung untuk mempertemukan kedua pihak yaitu pelapor dan terlapor. Saya segera menindaklanjutinya, tidak menunda nunda dan langsung respon. Ternyata sang pelapor " tidak mau bertemu" banyak alasan . Saya pun meminta Ka des untuk datang  dan bawa bukti kwitansi penerimaan dan memang Kades datang ke kantor , mengadakan klarifikasi dan menunjukkan buktinya. Saya pun menfotocopy bukti tersebut dan mengambil keputusan sementara bahwa pelapor ini hanya cari masalah saja.
2. Menahan emosi, mampu mengendalikan diri dan sabar.
Ada masalah yang saya  komunikasikan dengan atasan tentang ketidakpuasan salah satu desa dengan pemindahan lokasi kantor camat . Saya pun langsung memberi saran kepada atasan dan didengar oleh teman teman kantor. Pembicaraan sebelumnya berjalan baik tapi teman teman yang mendengar " tanpa etika" langsung berubah menjadi kompor , mereka tertawa tapi tertawa ini lain yaitu menyinggung perasaan. Perasaan dan posisi saya seperti tersudut, tapi bersyukur saya dapat menahan emosi, mengendalikan diri dan sabar, meski pendapat saya tidak diterima malah di balas dengan candaan yang tidak tepat dari teman teman.
Herannya kalau dirumah tangga pengalaman sebelumnya emosi saya cenderung tidak terkendali , meledak bahkan barang barang sekitar jadi sasaran akibatnya memalukan diri sendiri dan dapat menghancurkan masa depan keluarga.
3. Jerih juang dan upaya kerja kita sebagai pemimpin dihargai oleh jemaat dan masyarakat
Sore hari saya diundang oleh Salah satu gereja untuk menghadiri HUT seorang pendeta ketuanya. Begitu saya tiba suasana sangat meriah, ada bangsal sukacita, banyak orang diundang . Saat masuk bangsal berjejer makanan di meja meja yang disedikan secara sukarela oleh anggota jemaat hanya untuk merayakan HUT seorang pemimpin. Begitu besar maknanya dalam acara ini yaitu kerelaan untuk membagi dan kedewasan dalam memberi dan menghargai pemimpin oleh jemaat. Bila sudah begini berarti pemikiran saya sang ketua ini pasti telah memberi yang terbaik, dicintai jemaatnya sehingga mereka rela membuat acara untuk sang pemimpin. Tentu kalau sudah begini maka otomatis sang pemimpin harus terlecut untuk lebih memberi yang terbaik.

Jumat, 27 Juni 2014

TUGAS TUGAS DIKANTOR

Jadilah teladan di kantor dalam banyak hal. Patuh, dengar dengaran, loyalitas pada atasan. Berilah masukan, bangun komunikasi dan jangan bertindak sebagai atasan meski kita lebih tahu. Biarlah sebagai bawahan kita betul betul dibentuk menjadi masak bukan karbitan. Anggaplah apa yang terjadi adalah proses untuk membentuk kita supaya kita siap menjadi pemimpin. Semuanya pasti ada makna dan artinya.

MASALAH KESEHATAN

Puji syukur pada Tuhan atas kesehatan dan nafas hidup yang Tuhan masih beri dalam saya menjalani hari hari ini. Meski memang saya banyak dosa pada Tuhan dan saya mau merubah hidup saya supaya berkenan dan layak meminta kepada Tuhan. Orang berkata sakit adalah tanda dari tubuh, Sakit juga dapat menjadi sarana untuk mengingatkan apa yang sudah kita buat dalam hidup ini. Yang pasti meski dalam kesulitan tetap mengucap syukur, memuji Tuhan, mendekat kepada Tuhan dalam firman dan doa sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Pasrah dan berserah kepadaNYa sebab apa yang Tuhan buat baik adanya.
Secara pribadi memang hari hari ini penuh kesibukan tapi juga penuh kekuatiran dengan kondisi tubuh yang terasa tidak fit, cepat lelah dan merasa sakit di bagian organ tubuh tertentu. Ada kerinduan untuk memeriksakan di dokter ahli tapi masih menunggu uang. Semoga saja Tuhan menyembuhkan dan semuanya baik baik saja. HIDUPLAH BERKUALITAS

TERUS BELAJAR

Dalam rangka peningkatan kualitas, pengembangan karier maka saya melanjutkan ke tingkat S2 meski memang tidak gampang, banyak tantangan, termasuk membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, dan juga aktifitas organisasi. Lanjut studi memang juga butuh dana yang besar. Jadi perlu pengetatan anggaran dan penghematan. Disini kelemahan saya yang banyak kali boros dan mengeluarkan biaya untuk hal hal yang tidak penting akibatnya di akhir  bulan juni 2014 ini, masih ditengah bulan anggaran bobol, mengakibatkan beban pikiran , kecemasan, kekuatiran dan juga kesulitan. Pinjam sana dan pinjam sini akibatnya ketika gaji datang tutup sana tutup sini. Saatnya untuk belajar dari pengalaman pengelolaan keuangan selama ini yang gagal untuk menata gaji supaya tidak bobol dengan pengeluaran pengeluaran yang ada. Saya sebenarnya mengelola keuangan sendiri tidak diberi kepada isteri dan ini memang salah, sampai saat ini keuangan habis pakai , ndak ada tabungan. Beruntunglah ada berkat terus dan aman aman saja, tetapi tetap saya merasa harus ada pembenahan total apalagi dengan biaya kuliah yang mendekati akhir semakin banyak. Jalan satu satunya adalah mengadaikan gaji di bank, beruntung saja pinjaman di bank periode lalu akan selesai bulan depan jadi ada dana fresh untuk penyelesaian studi. Ini yang sementara saya usahakan untuk modal selesai studi.
Disatu sisi memang keluarga kami sudah ada modal tanah, anak masih kecil, keluarga muda  tetapi masih ada hutang kepada orang tua yang cukup besar dan sekarang mengangsur mobil yang besar biayanya setiap bulan. Biaya kredit  terus terang ditanggulangi selalu oleh isteri melalui penghasilannya karena memang idenya untuk pengadaan kendaraan baru meski saya memang agak tidak setuju tetapi ya jalani saja.

KE RUMAH DUKA

Hari ini saya merasa bersalah ketika berjumpa dengan teman yang saya tahu berduka karena kehilangan ayahnya. Untuk ke kantor saya harus melewati jalan depan rumahnya dan suatu ketika saya melihat ada bangsal dukacita tapi saya tidak tertarik untuk bertanya siapa yang meninggal yang ternyata adalah ayah dari sahabat saya. Ketika saya berjumpa sahabat saya ini ada rasa penyesalan tidak melayat sedangkan waktu bertemu ia dengan begitu ramah menyambut saya. Ya kalau acara suka pasti ketemu lagi tapi kalau acara duka kapan lagi . Betul sekali firman : Lebih baik kerumah duka daripada kerumah suka.

BERBUATLAH KEBAIKAN

          Suatu hari saya bercerita dengan seorang Bapak tetangga saya yang bercerita tentang kematian sahabatnya yang begitu tiba tiba , sementara bertugas di kantor mengalami pusing dan koma sampai meninggal di rumah sakit. Tetapi sayangnya bapak almarhum  ini karena perbedaan pandangan politik dan ada masalah jabatan /keuangan dengan seorang anggota DPRD tetangga rumahnya maka  hubungan memanas, merenggang dan tidak sempat berbaikan sampai ajal menjemput. Bapak tetangga saya ini pun mengambil kseimpulan dari kisah ini bahwa dalam hidup ini lebih baik saling berbaik baikan dengan orang lain, artinya apapun itu entah kita yang benar tetapi kasih, pengampunan , memaafkan, hubungan baik dengan semua orang harus menjadi yang terdepan.

             Pada waktu menerima anggaran di sebuah kantor di ibukota kabupaten, saya bersama teman teman sekantor pergi dimana kebetulan ada juga acara bersamaan . Selesai menerima anggaran tersebut karena acara yang diikuti teman teman belum kunjung selesai maka muncul niat untuk pulang lebih dahulu bersama teman saya yang sama sama menerima anggaran. Terbersit dalam pikiran , ah kesempatan pulang lebih dahulu supaya bebas biaya traktir, itu saya utarakan kepada teman saya. Tapi teman saya berkata lebih baik menunggu sama sama pulang dengan teman temanmu, jangan pikirkan biaya traktir , tapi pikirkan kebaikan yang diberi pasti akan diingat teman temanmu dan kemudian pasti akan mereka ceritakan. Saya pun sadar , menyalami tanda setuju dengan ide teman saya ini.

             Waktu makan dengan isteri saya di sebuah rumah makan, isteri bercerita dengan kebaikan seorang Bapak yang peka dengan kebutuhan tetangga yang kebetulan sementara membangun dan ia memberi hadiah berupa seng. Mantap kebaikan pasti mendatangkan kebaikan.

Tetapi yang pasti berilah kebaikan dengan tulus, jangan mengharapkan imbalan
Berilah kebaikan bukan karena timbal balik memberi karena sudah diberi.
Berilah meski sebenarnya yang diberi adalah orang yang tidak menyukai kita.


Catatan , 28 Juni 2014

                Hari ini banyak inspirasi yang saya dapat melalui perjumpaan dengan lingkungan , dengan sesama dan perjumpaan dengan ciptaanNya. Ini untuk kembali lebih membentuk tujuan hidup ini dan apa yang harus kita perbuat dalam hidup yang dianugerahkanNya. Saya menyadari saya ini banyak sekali dosa dan kesalahan apakah untuk diri sendiri, istri, anak, keluarga, orang tua dan sesama termasuk dosa terhadap lingkungan, Sampai hari ini pun terus bergumul tentang arti kehidupan. Dengan melihat kesalahan dan kekurangan orang lain maka rasanya tidak tepat diri ini jika memberi penilaian terhadap kekurangan orang lain apalagi menghakimi. Dalam arti lihat dulu diri sendiri baru menilai orang lain. Itu baru adil. Kita pun tidak boleh mengambil hak Tuhan yaitu menghakimi. Bila ada kesalahan tentu kita sepakat kita tidak setuju dengan perbuatan kesalahan itu dan kita harus menegor dengan kasih karena lebih baik teguran yang nyata daripada kasih yang tersembunyi. Kita harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk mereka memperbaiki diri . Jika ternyata mereka memilih untuk tidak memperbaiki diri maka itu pilihan mereka sebab bukankah masing masing orang harus mempertanggungjawakan sendiri apa yang ia buat selama ia hidup. 
              Tulisan saya diatas didasari pada apa yang saya terjadi dimana seorang pemimpin masyarakat di desa saya , dalam kabar yang saya dengar telah menyalagunakan jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, tidak ada keterbukaan pada masyarakat, tidak mau mendengar masukan, lebih mendengar dan memakai pendapat sendiri, memiliki sifat mendendam, tidak melaksanakan tugas sebagai pengayom masyarakat. Akibatnya muncul mosi tidak percaya dari masyarakat dan menuntut pengunduran diri yang bersangkutan. Kesalahan pemimpin ini memang kalau terbukti tidak boleh dibenarkan dan dijadikan contoh. 
                Ini juga yang menjadi pelajaran penting kepada saya lewat apa yang terjadi pada orang lain sebab saya juga diberi kepercayaan sebagai pemimpin. Godaan sebagai pemimpin sangat besar tetapi sebagai pemimpin tidak boleh buta dengan godaan yang hanya membuat hidup ini kosong, hampa, sia sia dan tak berarti. Untuk apa kita memiliki isi dunia tapi binasa di akhirat. Bahwa sebagai pemimpin harus bertindak sebagai pelayan, mengutamakan kepentingan orang lain dulu diatas kepentingan pribadi. Sebagai pemimpin masyarakat harus menjadi PEMBELA bukan menjadi PENGHANCUR masyarakat. Kalau memang sesuatu hal itu bukan milik kita, kita hanya diberi tugas untuk mengurusnya maka berikanlah kepada siapa yang berhak. Jangan kita mengambil keuntungan pada sesuatu yang bukan hak kita. Teringat masalah pemotongan hak perangkat di suatu desa yang akibatnya adalah nama baik rusak. Nama baik itulah yang penting , untuk apa kita memiliki semuanya tapi nama baik hancur karena tindakan yang tidak benar.
        Selanjutnya dalam proses maka seharusnya ada pembinaan dulu kepada pemimpin ini supaya ia mengintrospeksi diri dan merubah sikap. Tetapi justru beberapa orang masyarakat dengan motivasi yang tidak baik justru membuat masalah semakin berat karena cenderung menghakimi tanpa berkaca melihat diri sendiri terlebih dahulu yang juga banyak kesalahan. Salah tetap salah tetapi janganlah menghakimi. Apapun yang kita buat ada konsekuensinya, ada Tuhan yang melihat dan serahkan saja kepada Tuhan yang memiliki jalan terbaik terhadap kesalahan yang kita perbuat. 

Jumat, 16 Mei 2014

MELATIH BERBICARA

Memang sebagai birokrat kita harus melatih berbicara. Berani dan berani tampil di muka umum mengemukakan untuk pendapat yang mendasar , sopan santun dan beretika. Kemampuan untuk berbicara dan mengemukakan pendapat harus kita asah. Apa yang kita ungkapkan harus urgen, up tu date, sesuai pokok permasalahan dan supaya tidak menyinggung maka dipilih sedapat mungkin kata kata yang sesuai. Intonasi juga dijaga baik , nafas di kontrol . Hari ini pengalaman saya berbicara dalam suatu forum meski hanya penanya saja , tetapi memang banyak evaluasi yaitu :

  1. Harus dipikirkan dengan matang apa yang kita tanyakan , termasuk memikirkan kata kata yang tepat supaya tidak salah diucapkan dan menyinggung .
  2. Nafas dijaga sehingga bicara tidak terbata bata, percaya diri menatap orang lain dan jangan hanya satu arah saja.
Memang apa yang saya tanyakan memang itulah yang selama ini menjadi bahan perenungan saya , yang pertama tentang bangunan bangunan yang dibangun melalui dana pemerintah tapi tidak berfungsi, tidak tepat sasaran. Prioritas pembangunan  di desa itu sesuai situasi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat misalnya adalah jalan tapi dibangun pasar seperti di lokasi belakang kantor saya bertugas sebelumnya , dibangun pasar dan bangunan RPH dengan milyaran rupiah tapi tidak berfungsi sampai saat ini. Juga dalam suatu kesempatan berbincang dengan seorang Kabag tentang rumah pompa, saluran air utk pertanian yang tidak berfungsi, letaknya selalu dilihat orang karena berada dipinggir jalan raya, juga puskesmas pembantu yang terbengkalai. Saya pikir ini kesalahan adalah dimulai dari perencanaan awal yang tidak matang dan tidak dikaji dengan betul , ada program ambil saja mo berguna atau tidak yang penting dibangun, apalagi kalau sudah mainsheet berpikir cari keuntungan ya jadilah bangunan bangunan hantu yang tak digunakan.
Kemudian masalah sampah yang harus dipikirkan dengan baik solusi untuk mencegah dan mengatasi dari hulu sampai hilir dengan melibatkan masyarakat dan seluruh stake holder , perlu juga sanksi tegas terhadap semua pelanggaran . Juga perlu dipikirkan tentang tempat pembuangan sampah akhir di setiap kecamatan.

Rabu, 14 Mei 2014

Lika liku Pemimpin

Keberhasilan pemimpin adalah ketika dia mampu menjalankan fungsi manajemen. Tapi kalau pemimpin gagal memanage pekerjaan dan person maka pemimpin itu yang akan susah sendiri, kerja sendiri, menanggung sendiri pekerjaan dan bukan tidak mungkin dicap pemimpin gagal. Untuk apa ada staf kalau hanya pemimpin yang kerja. Ini juga yang saya rasakan. Hari ini saya melakukan pekerjaan staf ngantar surat dengan alasan saya berpikir  tidak mau menyusahkan staf, berapa lagi ongkos yang harus saya keluarkan kalau saya menyuruh staf. Padahal kepercayaan harus diberi dan pemimpin harus memanage pegawai, jangan semua melulu dikerjakan pemimpin. Memang ironi sekali PNS di kantor saya, tidak ada program, disuruh buat program kerja, sudah diberi format , sudah diberi petunjuk jelas , tidak dilakukan sampai saat ini. Belum lagi malas, jam kerja diatur sendiri, mau datang jam berapa semaunya, mau pulang jam berapa semaunya, datang telat tidak ada rasa malu pada pimpinan, mau keluar kantor pun tidak ada rasa hormat kepada pimpinan karena diam diam sudah keluar tanpa pemberitahuan, belum lagi sifat tidak disiplin, tidak bertanggung jawab terhadap tugas, pandang enteng, tidak ada kesadaran kerja, tidak punya etika birokrasi, tidak kreatif, kerjanya tidak jelas, jelas kalau terima gaji dan tunjangan. Bahkan ada tenaga honor yang lebih rajin daripada PNS, ada sekdes yang lebih mampu mengerjakan tugas kepala seksi. Ironi sekali. Memang kesimpulan saya kesalahan ada pada saya sebagai pimpinan yang “tidak tegas” menjalankan aturan kepegawaian melalui punishmet dan reward. Terkesan memang terjadi pembiaran dari pimpinan terhadap fenomena ini. Pemimpin yang lebih banyak pakai perasaan manusiawi. Memang kalau itu berbicara aturan kepegawaian , harus tegas apapun resikonya. Ketiak pemimpin bertindak menurut aturan, sopan, menghargai, bukan untuk kepentingan diri maka tidak usah takut. Ya pegawai yang malas jangan dimanja seperti yang terjadi selama ini, uang Tunjangan tambahan penghasilan tetap di beri full, daftar hadir dimanipulasi, pegawai dimanja dengan pemberian seragam, diajak makan/minum, jalan jalan tanpa ada unsur pembinaan disana. Harus ada perbedaan pegawai yang rajin dan malas dan wewenang pembinaan pegawai ada pada pimpinan. Tentu jauhlah dari pemimpin otoriter, tapi pemimpin juga harus selalu memberi teladan, tidak menyuruh disiplin sedangkan atasan sendiri tidak ada keteladanan disiplin. Butuh pemimpin yang bijaksana, harus beri penghargaan kepada yang setia dan punishment kepada yang malas.
Tugas tugas juga harus diarahkan , jadi dimulai dengan penguasaan Tupoksi masing masing, bekerja berdasarkan prinsip management perencanaan , pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi dan pertanggungjawaban. Setiap PNS dengan jabatan struktural menyusun program berdasar Renstra dan renja, ada terobosan tupoksi, setiap bulan ada pelaporan realisasi, dan permasalahan dan rencana kedepan. Itu yang saya rasa harus dilakukan. Surat surat penugasan dibagikan sesuai Tupoksi dan jangan ditunda tunda pekerjaan, harus ada rapat evaluasi setiap minggu untuk mengevaluasi kinerja.
Dalam pengambilan keputusan harus melalui Rapat Resmi , kecuali wewenang ada pada pimpinan tetapi harus menggali masukan, menimbang dengan bijaksana, jangan terburu buru, pelajari aturan terkait dan apapun resikonya keputusan harus diambil dan tegas dalam mengawal keputusan, jangan plin plan.


Jikalau kita berjuang untuk kepentingan banyak orang, untuk kesejahteraan rakyat maka jangan takut dan gentar, sopan dan santun dalam berjuang, totalisme , dedikasi tinggi dan berjuang sampai akhir dalam keyakinan. Perjuangan harus dengan motivasi yang luhur dan tulus, semua  akan sia sia jika kita mulai mengijinkan sesuatu dalam pikiran untuk diri sendiri.

Di wilayah saya ada  Eksplorasi dari perusahaan besar. Namanya perusahaan besar maka pasti organisasi, struktur dan modal sangat kuat apalagi perusahaan ini didukung negara. Persoalan eksplorasi tidak menjadi masalah,  yang penting dapat menjamin keamanan , tidak menimbulkan kerusakan lingkungan dan menjamin kesejahteraan masyarakat sekitar. Perusahaan juga harus terbuka soal CSR kepada masyarakat. Persoalan CSR inilah yang kadang menjadi masalah . Berbagai kepentingan yang benar untuk rakyat maupun kepentingan pribadi mengatasnamakan rakyat demi CSR. Perjuangan menuntut CSR haruslah melalui organisasi resmi yang satu, kuat dan berjuang untuk kepentingan masyarakat bukan pribadi. Jika kita berjuang sendiri sendiri maka perjuangan akan berat, terkotak kotak, dan mungkin sia sia. 

MASALAH SAMPAH DAN PENANGANANNYA

Bukan maksud untuk memberi penilaian karena diri sendiri juga banyak kekurangan, boleh berpikir sebagai camat tapi jangan bertindak sebagai camat, itulah yang kira kira tepat dalam etika organisasi saya . Anggaplah ini sebagai pembelajaran pribadi kalau Tuhan berkenan dan mengizinkan untuk jabatan itu.
Organisasi harus melakukan fungsi manajemen. Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, Evaluasi dan Pertanggungjawaban. Semuanya haruslah bermula dari rencana program , kegiatan dan anggaran. Ada kegiatan yang dilakukan di kantor dalam inisiatif pimpinan menurut saya tidak dilaksanakan dalam berpikir SISTEM. Itulah yang pernah diajarkan oleh mner S2 saya.  Salah satu dampak dari perkembangan ekonomi, pertumbuhan penduduk adalah masalah sampah. Wilayah Kecamatan saya bertugas dilewati poros jalan protocol atau jalan provinsi karena menghubungkan beberapa Kabupaten /Kota.Tetapi yang menjadi sisi negative dari mobilisasi penduduk adalah kurangnya kesadaran akan kebersihan, masih banyak sampah dari dalam mobil dibuang langsung kejalan oleh pengendara atau penumpang. Saya juga punya mobil , kadang saya sadari saya juga melakukan hal itu bahkan sempat adu mulut dengan istri karena istri juga beberapa kali membuang sampah rumah tangga yang di buang ke saluran air pinggir jalan  saat hendak pulkam ke rumah ortu.  Masalahnya jelas banyak sampah dibuang dari dalam kendaraan ke pinggir jalan. Solusi yang ditempuh oleh pihak kantor yaitu membuat baliho himbauan untuk jangan membuang apapun dari kendaraan anda! Himbauan ini ditempatkan di tempat tempat strategis yang dengan harapan akan dibaca oleh pengguna jalan sehingga ada kesadaran tidak membuang sampah. Tetapi memang dari evaluasi tidak maksimal, jauh dari harapan, tetap saja setiap minggu setelah dibersihkan begitu banyak sampah berserakan di pinggir jalan. Haruskah setiap minggu kita laksanakan gerakan memungut sampah, bolehlah kalau terprogram tapi kalau tidak terprogram selama ini? Ya harusnya ditetapkan setiap jumat misalnya, sudah disampaikan ke pada staf terlebih dahulu untuk kegiatan , jangan seperti yang selama ini terjadi, tanpa pemberitahuan sebelumnya tiba tibalangsung ada instruksi kerja bakti . Oke saja sih tapi kalau waktunya tidak tepat, pakai seragam resmi lagi, di hari yang banyak tugas kerja di kantor, otomatis waktu kerja tersita  apalagi tidak semua staf terlibat. Gerakan ini pun saya melihat hanya sekedar “ cari muka” karena tempat yang dibersihkan hanya disitu situ saja, hanya di dekat rumah “sang pejabat besar”, kalau ada acara pejabat mau lewat tiba tiba ada instruksi kebesihan , kerja bakti. Ini seperti bagaikan pemadam kebakaran yang hanya melaksanakan tugas saat sudah terjadi kebakaran tapi tidak melihat persoalan dan masalah masalah yang menyebabkan mengapa terjadi kebakaran? Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Jadi benar bahwa dalam kerja apapun kita harus berpikir SISTEM, jangan tiba saat tiba akal, hanya memyelesaikan masalah sesaat tanpa melihat akar persoalan. Jadi masalah kebersihan ini harus melibatkan semua pihak, harus terus disosilisasikan dalam berbagai acara dan kegiatan dan semua pihak harus saling mengamankan lingkungan masing masing.


Di wilayah tugas sekarang pun sementara berkembang dari segi pembangunan perumahan, tetapi masalahnya adalah tempat buang sampah dimana, armada sampah mana? Pengembang hanya tahu bangun rumah tapi tidak memikirkan dampak dari perumahan ini, belum lagi kesadaran yang kurang dari masyarakat. Inilah yang terjadi akhirnya banyak sampah dibuang sembarangan dijalan diluar perumahan karena pengembang tidak menyediakan Tempat pembuangan sampah dan  tidak ada armada sampah.  Itulah akar masalahnya, sekarang bagaimana dengan solusinya? Ya ini harus difasilitasi duduk bersama , buat pertemuan dengan masyarakat setempat, bangun kesadaran masyarakat , beri penyuluhan.  Kalau memang bantuan pemerintah untuk armada sampah tidak ada, bagaimana kalau ada swadaya masyarakat untuk petugas dan armada sampah, toh ada TPA di wilayah kecamatan sekitar. Setiap keluarga ada iUran per minggu untuk sampah. Ini saya rasa salah satu jalan keluar. Disamping pencegahan yaitu kalau ada pembangunan perumahan maka harus juga ada langkah langkah antisipatif dari pengembang untuk  mengatasi masalah sampah.  
" Menulis sebagai wadah untuk mencurahkan pikiran, ide ide , gagasan, konsep , pengalaman dan segalanya tentang perjalanan di kehidupan yang hanyalah tititpan dan anugerahNya, mengapa kita mempeributkan yang sia sia dan menjauh dari yang kekal. Semuanya hanyalah sandiwara dan semuanya hanyalah sementara."


Berjuang untuk rakyat memang bukan hanya slogan untuk menarik simpati tapi tidak pernah benar benar dilakukan dalam perjuangan kehidupan.
Sebagai pemimpin dibutuhkan kecerdasan berpikir dan bertindak dalam banyak hal. Satu hal yang pasti pemimpin haruslah berpikir untuk orang lain dan sedapat mungkin menjauh dari kepentingan diri.
Godaan sebagai pemimpin semakin besar berdasarkan level kepemimpinan. Pohon semakin tinggi akan semakin banyak cobaan lewat angin , pohon yang kuat akan bertahan dan pohon yang lemah akan tumbang.
\Hari ini saya berbincang dengan seorang kepala desa yang orangnya baik menurut saya karena ia berpikir banyak untuk masyarakatnya, berpikir untuk bagaimana desanya maju dan masyarakatnya sejahtera. Selalu ingin bertanya , bertanya dan bertanya meski agak bosan juga karena sudah diberi jawaban dan petunjuk masih kembali lagi ke pertanyaan awal. Akibatnya percakapan terputar putar. Kadang juga kepala desa ini mempersalahkan kenyataan yang terjadi tetapi tidak mencari solusi terhadap persoalan yang terjadi. Banyak kali ragu ragu untuk mengambil keputusan padahal padanya ada kewenangan. Sudah diberikan jalan dan petunjuk tapi ragu ragu atau  tidak dilaksanakan. Ya begitulah,
Saya belajar pemimpin harus tegas , taat pada aturan dan mati matian untuk kebenaran , untuk harkat dan martabat orang lain, untuk yang dipimpinnya, gigih, tidak putus asa dan pantang menyerah dalam memperjuangkan aspirasi masyarakatnya. Kalau untuk kebenaran mengapa kita harus takut, gentar dan cemas.Kalau ada dasar dan alasan yang jelas terhadap perjuangan kita untuk kepentingan orang banyak maka maju terus meski sulit , ada tantangan, sepertinya jalan tertutup tapi lebih baik berusaha daripada diam tidak dapat berbuat apa apa.  Kita harus takut, gentar dan cemas bila kita bekerja untuk diri kita sendiri dan menyimpang dari kebenaran.
Ada sebuah perusahaan besar yang mengadakan eksplorasi alam di wilayah kecamatan. Perusahaan ini kuat karena plat merah. Eksplorasi ini tentu ada dampak baik dampak positif maupun negatif. Dampak positif seperti hasil eksplorasi tetapi juga dampak negatif berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan. Namanya perusahaan yang besar maka dia memiliki sumber daya untuk mewujudkan keinginannya. Tetapi sekarang aspirasi masyarakat harus didengar, tidak lagi seperti dulu namanya untuk kepentingan perusahaan negara masyarakat harus setuju. Sekarang ini HAM memang menjadi isu penting, termasuk dalam eksplorasi alam. Perusahaan besar memiliki strategi supaya keinginannya terwujud, termasuk kucuran dana dan apa yang disebut CSR . CSR dalam pengamatan saya adalah salah satu cara untuk membujuk masyarakat supaya setuju dan mendukung eksplorasi.  Pemerintah dan masyarakat desa  sekuat apapun menolak eksplorasi ya tidak berdaya juga . Itu fakta yang saya lihat. Lebih bahaya lagi dengan beberapa orang yang mensusupi kepentingan pribadi, bermain dalam air keruh dan masyarakat jadi korban. Saya melihat pemimpin yang tidak tegas terhadap aspirasi masyarakat yang tertuang dalam hasil rapat yang menolak namun entah kenapa ketika kepala desa ini " dibujuk" maka hasil keputusan rapat menolak menjadi setuju. Iming iming tanah yang dibeli oleh perusahaan dengan harga melambung tinggi sudah pasti godaan ini tidak bisa ditampik oleh pemilik tanah yang hanya masyarakat biasa. Kalau tanah ini sudah dijual kepada perusahaan ya tidak ada cerita lagi dan percuma menolak eksplorasi. Seharusnya memang menghadapi fenomena ini harus ada kekompakan, berjuang sendiri sangat lemah tapi berjuang bersama kuat. Ya sudahlah eksplorasi tetap jalan dengan Izin yang lengkap dan amdal yang mumpuni , meski tetap ada resiko kegagalan karena kita hanya manusia. Selanjutnya pemerintah dan masyarakat mulai menuntut kontribusi dari perusahaan , saya melihat muncul juga oknum oknum yang bersuara kritis berjuang atas nama masyarakat menuntut kontribusi kepada masyarakat tapi sayangnya dibalik itu ada motivasi untuk pribadi. Perjuangan menuntut hak masih secara sporadis, tembak sana tembak sini yang lebih banyak mengakibatkan peluru nyasar. Tidak ada kebersamaan dalam perjuangan, lebih suka berjuang sendiri sendiri, berjuang untuk kepentingan sendiri, berjuang untuk desa sendiri, desa lain emang gue pikirin, kalau sudah begini gampang sekali masyarakat akan diatur / distel oleh perusahaan. Bahkan saya dengan sendiri bagaimana staf perusahaan mengadu domba antar kepala desa hanya karena salah satu bantuan. Staf ini akhirnya minta maaf karena kesalahannya. Bantuan yang diberikan pun saya melihat tidak tepat sasaran , perusahaan tidak koordinasi dengan pihak pemerintah, contoh bantuan perusahaan di bidang pertanian tidak koordinasi dengan UPT Pertanian akhirnya ada kelompok yang karena kedekatan dengan perusahaan  selalu dapat bantuan, padahal dia juga banjir bantuan dari pemerintah, sementara ada kelompok yang tidak pernah tersentuh bantuan. Adilkah ini. Ada juga desa yang karena disitu lokasi utama kegiatan eksplorasi selalu dapat sedang desa yang hanya dekat dengan lokasi tapi juga merasakan dampak eksplorasi tidak dapat. Ini menimbulkan kecemburuan. Tapi masing masing hanya memikirkan kepentingan sendiri. Siapa yang mau memfasilitasi ?

Apalah arti hidup ini tanpa TUHAN

Saya hanyalah manusia biasa dengan banyak sekali kekurangan, tetapi mencoba bangkit dan merubah diri kearah yang lebih baik, mencoba menjalani hidup anugerah Tuhan sambil terus bertanya pada diriku : apa yang sudah saya buat dengan hidup saya, hal hal apa yang telah saya buat bermakna bagi orang lain , atau lebih banyak saya menghasilkan karya karya buruk.



Sebenarnya hidup ini berat diluar Tuhan apalagi ditambah dosa dosa yang terus dan terus dilakukan secara sadar, beribadah tapi memungkiri kekuatannya, ada kekurangan jasmani yang membuat saya tidak percaya diri menjalani hidup ini, belum lagi ketakutan akan penyakit yang akhir akhir ini saya rasakan, mudah mudahan semua kekuatiran ini akan sirna dan meski dalam kekurangan jasmani saya dapat dimampukan menjalani hidup yang keras dan berat ini. Ya mau bagaimana lagi jalani saja dengan ucap syukur dan terus beri yang terbaik dalam kekurangan yang sangat banyak ini.

Terus menulis !

Menulis untuk mencurahkan isi hati, ide , gagasan, pendapat dan segalanya tentang kehidupan yang dianugerahkan sang pencipta.


Pengalaman menulis di blog ya ternyata harus hati hati, itulah yang saya alami ketika menulis pengalaman hidup  .Hampir selesai diketik , eh tiba tiba salah menekan  tuts , ya ternyata tak bisa di-undo lagi , konsep yang sudah dipikirkan dengan matang, diketik dalam waktu yang cukup lama sekejap hilang.  Menyesal ya tidak ada guna, . Sekarang saya memilih cara aman dengan mengetik dulu di word dulu baru copy paste ke blog.  Pengalaman adalah guru terbaik , jangan jatuh lagi kelobang yang sama, karena kita manusia dan bukan keledai.

Rabu, 19 Maret 2014

BEKING MALO JO !

Beking malu jo!
Tuhan ampunilah hambamu ini, janganlah menghukum kami dalam kepanasan amarah-Mu !!

Terulang lagi terulang lagi, oh Tuhan semoga ini jangan terulang lagi, tolong saya untuk mengatasi kelemahan saya , tolong saya Tuhan, jangan saya menghancurkan keluarga saya sendiri.
Hari ini masih dalam minggu minggu sengsara, hari pun sangat sangat dibuka dengan baik lewat doa keluarga, saya pun memimpin doa dengan sangat khusyuk, sungguh sungguh itu yang saya rasakan , beda dari hari hari yang biasanya.
Tapi kuasa kegelapan bisa saja merubah sekejap semuanya itu .
Seperti biasa saya tidak dapat menahan emosi, tapi herannya memang ini terjadi Cuma terhadap isteri saya , kalau diluar keluarga herannya saya bisa menahan.
Ini memang sangat berbahaya, sudah menjadi penyakit kambuhan dalam diri , sepertinya pola ini sudah tertanam dalam memori dan bisa bisa saja akan muncul dalam sekejap tanpa peringatan terlebih dahulu.
Ledakkan emosional yang tak terkendali memang membuat lupa segala galanya, pantas saja orang jadi khilaf seperti kejadian kejadian, membakar rumah, membunuh, setelah itu baru sadar, ternyata sudah salah. Daya rusak emosional yang tak terkendali memang sangat hebat dan berimplikasi besar .
Seperti saya yang dilanda emosional tanpa berpikir dimana saya  tinggal sekarang,  mengapa saya tinggal disini, siapa saya , siapa isteri saya dan siapa keluarga saya.
Malu maluin saja, dihormati orang tapi diri sendiri menghancurkan kehormatan itu
Sekali lagi cuma dimulai dari “ MASALAH KECIL”,  “ SEPELE”.
Dan yang menjadi sasaran lagi adalah “ anakku tersayang”
Ampunilah aku Tuhan, tolong saya Tuhan untuk merubah diri, belajar dari kegagalan, dan berusaha untuk tidak mengulangi saja.
Padahal secara ekonomi, kemapanan keluarga, kesejahteraan, apa lagi yang kurang dari keluarga saya.
Tapi kalau membandingkan dengan keluarga lain , tetangga yang Cuma hidup sederhana, mencari nafkah untuk makan sehari, tapi justru ada kedewasaan
Kadang saya berpikir apa arti semuanya ini hidup ini , ada kendaraan, ada jabatan, dihormati orang, tapi hidup nggak ada damai karena kelakuan sendiri, ndak ada yang abadi didunia ini , semuanya sia sia
Benda apapun tidak akan pernah memuaskan dan kita akan merasa terus tidak cukup tidak cukup dan tidak cukup. Seperti kendaraanku eh baru beli, jarang dipakai , eh nggak sengaja tergores bagian kanan depan, ya ongkos lagi.
Ampuni aku ya Tuhan.
Akhirnya saya pun tetap pada satu kesimpulan sayangilah keluargaMu , baik ataupun tidak baik keadaanmu, sayangilah, sayangilah , dengarlah mereka, jangan egois, mengalahlah ya mengalahlah demi keutuhan keluargamu….

SALAM  PERUBAHAN

HARI PENUH KEGAGALAN

Mungkin ini buah buahnya atau ada maksudnya, atau bagaimana, mengapa ini terjadi, betul betul minggu minggu sengsara, Rabu, 19 Maret 2014 dibuka sangat baik dengan doa dan ibadah tapi dijalani penuh kegagalan mulai pagi sampai disiang hari, emosi memuncak , lagi lagi cekcok dengan  isteri, anak jadi sasaran, pergi kerja tidak tenang, dan sialnya saat berkendara memakai mobil yang masih baru dan kredit lagi eh kena senggol bendi, untunglah tidak ada korban nyawa dan syukurlah hanya tergores body mobil tidak penyok. tapi ya inilah pengalaman hari ini, semoga tak terulang lagi, ampuni aku Tuhan. Sekarang saya mau pergi Ibadah KPI dulu. Salam.

Rabu, 12 Maret 2014

POLITISASI BIROKRASI

Memang sudah menjadi nasib PNS untuk saat ini kariernya bukan ditentukan oleh kapasitas, profesionalisme, kualitas , kapasitas, sumber daya yang handal tapi ditentukan oleh politik. Ini yang saya amati di daerah saya.  Jenjang karier menjadi tidak jelas, siapa dekat api katanya dia panas.PNS di kantor lebih banyak berbicara tentang politik, caleg, partai, daripada menyelesaikan tugas. Tupoksi pun terhambat karena arahan politis. Kegiatan kegiatan yang didanai APBD seperti sosialisasi, tatap muka , dialog melenceng dari tujuan karena jadi ajang kampanye terselubung . Warna baju PNS lebih banyak berganti ganti sesuai warna partai  pemenang. Lebih heran lagi fungsi mutasi, rotasi, promosi jabatan bukan ditentukan oleh Baperjakat tapi oleh " baperjakat swasta", orang orang dekat penguasa, pembisik pembisik, pelapor pelapor, pimpinan partai penguasa.  Siapa pasang badan untuk memenangkan kemauan pimpinan terhadap salah satu partai ya kalau menang pasti jadi bintang , kalau kalah pasti jadi sampah. Banyak pejabat pejabat ABS : asal bapak senang. Politik adalah kepentingan , dan kepentingan tidak ada yang abadi . Hari ini sama kepentingan kawan, besok berbeda jadi lawan. Kasihan politik bila harus seperti ini mengorbankan manusia terutama sang abdi negara, PNS. PNS lebih banyak menjadi alat politik di masa masa pemilihan daripada menjadi alat negara. PNS tidak berdaya karena nasibnya ditentukan oleh politik. PNS ditakut takuti seperti ungkapan : mutasi di tempat jauh, non job akhirnya   Lebih banyak yang suka cari cari muka tetapi mereka yang demikianlah yang dipakai. Sampai kapan ini terjadi ? Mau jadi apa bangsa ini, apa ini tujuan bangsa kita merdeka sedangkan kemerdekaan bagi PNS masih jauh dari harapan. Apa ini tujuan Soekarno Hatta mendirikan bangsa ini? Bukan main pembodohan terpelajar ini dan kita tidak dapat berbuat apa apa menghadapi fenomena ini. Elit elit penguasa sangat senang melihat penderitaan PNS. Setiap ajang pemilihan selalu ditakut takuti, diancam, di politisasi . Ini fakta karena saya sendiri alami, lihat dan rasakan. Pakai baju di rumah saja hati hati jangan salah warna. Hari ini pun masuk telepon , mau suka jabatan aman? pasang badan. Eh , di rumah nenekmu ada pasang bendera partai lain, hati hati ada laporan, bisa berpengaruh pada jabatanmu. Inikah demokrasi? Ya saya hanya memilih  berdoa saja dan lebih mendekat kepada Tuhan, karena hanya dalam DIA ada perlindungan, sukacita dan damai. Untuk apa kekuasaan, harta , jabatan , kalau mengorbankan orang lain , didapat dengan cara tidak benar. Tidak ada yang abadi dalam dunia ini. 

Belajar dari senior

Memang hidup penuh dengan makna apalagi dalam perjumpaan dengan orang lain dimana dalam percakapan ada hal hal menarik dan penting untuk dicatat.
Hari ini saya belajar dari senior Pak Sendow yang telah malang melintang dalam dunia birokrasi antar kabupaten /Kota, dimulai dari bawah sampai puncak. Ia sudah dua tahun lalu pensiun tapi dari perawakan sangat sehat, masih memiliki semangat , pemikiran masih jernih, suatu harapan juga bagi saya kalau pensiun nanti masih sehat sehat. Ia masih memiliki jiwa muda, nampak pada mobil yang baru ia beli dilengkapi dengan accecoris, prinsipnya nikmati hidup jangan ada harta tidak dinikmati.Katanya kepribadian orang kalau ia memiliki mobil dapat dilihat dari bagaimana ia memperhatikan kebersihan mobilnya.   mengetahui saya juga adalah birokrat muda yang sementara meniti karier maka ia menyampaikan pesan pesan kepada juniornya :

  1.         Pesan utama kesuksesan adalah andalkan Tuhan, hidup sesuai firmanNya ,cari dahulu kerajaan Allah, senantiasa bersyukur dalam keadaan apapun,  segala sesuatu sia sia tanpa Tuhan.
  2.         Jalani saya tugas , jangan bersungut sungut, CINTAI PEKERJAAN ITU, kalau memang Tuhan berkenan ia akan mengangkat kita , kalau memang garis tangan, itu akan terjadi, bersukacita saja, jangan kejar bintang , bintang tidak akan dapat kita kejar,
  3.           Sebagai sekcam maka buat atasan / camat merasa tenang meski tugas camat 75 % di lapangan tapi ia berpikir tenang , karena tugas kantor dapat diselesaikan oleh sekcam. Senior ini 7 tahun jadi sekcam dan setiap ganti camat selalu dipercaya.
  4.             Beri contoh kepada bawahan, jangan main perintah. Seperti disiplin setiap pagi lebih dahulu ke kantor.
  5.        Jangan menolak penugasan, merasa minder, merasa rendah diri dan tidak mampu dalam penugasan mewakili. Jalani saja dulu, dan minta hikmat Tuhan.
  6.       Sebagai atasan perhatikan kesejahteraan bawahan bila kuasa itu ada padamu, berbagi berkat, jangan makan sendiri.  Kalau ada anggaran beli seragam , lakukan itu untuk pegawai dan kepala desa.
  7.        Nama baik lebih berharga dari apapun itu.
  8.        Bangun komunikasi dengan semua orang / masyarakat. Sebagai pemimpin harus banyak turun lapangan dan menyerap aspirasi serta membantu menyelesaikan persoalan.
  9.        Jadilah birokrat tulen , ingat kita ini PNS, bukan pengurus partai, cerdaslah , loyal itu betul tapi jangan terlalu loyal sampai pasang badan. Bangun komunikasi yang baik terutama dengan politikus. Lebih baik tunjukan kualitas dan prestasi dalam pekerjaan.
  10.       Minta saran , masukan dan kritik membangun itu lebih baik daripada pujian manis yang membawa pada jurang kebinasaan. Ingatkan bawahan untuk dengan etika, sopan, santun memberi masukan pada pimpinan, jangan pemimpin so salah diam saja, sebab kalau pemimpin masuk jurang pasti bawahan juga kena akibatnya.
  11. .          Jadilah pemimpin yang tegas, integritas dan komitmen.
  12.             Berpikir matang sebelum bertindak.
Demikianlah poin poin penting yang saya tangkap dari percakapan dengan sang senior  yang sangat mencerahkan ini, makanya menyesal sekali kalau tidak langsung ditulis nanti keburu dilupa.
Setelah itu saat siang tiba pada hari itu juga, saya jumpa kepala bengkel . kebetulan lagi menambah accecoris kendaraan. Seorang Bapak yang ketika saya Tanya umurnya , dijawab sudah jam 3 sore. Entahlah umur berapa itu. Ciri khasnya meledak ledak, berbicara tegas dan keras , kadangkala keluar kata kata kasar, cenderung membenarkan pendapat dan hampir hampir tidak memberi kesempatan lawan bicara untuk bicara. Tangannya bahkan sampai menunjuk nunjuk. Orang kalau tidak kenal pribadi dan pemikirannya  pasti memiliki kesan tidak baik pada Bapak ini. Tapi begitulah kita jangan hanya selalu melihat dari sisi luar, tentang kekurangan dan kekurangan, bagaimanapun dan sekecil apapun ada sisi baik dari orang lain.

Kalau berbicara dengannya bahan apapun sepertinya ia sangat pakar dan menguasai apapun juga , apalagi politik. Dengar dengar sih dulu ia pernah jadi jurkam salah satu partai besar. Tapi bapak ini sisi bagusnya teguh berpegang pada prinsip yang ia yakini benar. Ia juga mahir bicara Alkitab. Saat ini lagi masa pencalegan dan ia marah pada salah satu saudaranya yang sudah 1 periode menjabat tapi tidak ada yang ia buat bagi masyarakat dan sekarang minta dukungan masyarakat lagi. Ia muak dan benci sosok seperti ini. Wakil rakyat harus benar benar merakyat , bersama sama rakyat, mendengar keluhan mereka dan memperjuangkan nasib mereka.

Rabu, 26 Februari 2014

Saatnya untuk kembali menata kehidupan

Asal ada makanan dan pakaian cukuplah,
Berikanlah kami makanan dan pakaian kami yang secukupnya

Mengucap syukur atas berkat rahmat dan kasihNya dalam hidup ini adalah hal yang terutama menurut saya dalam perenungan saat ini,
Mengapa kita mau menjadi susah untuk sesuatu yang akan binasa, tapi kadangkala itulah pilihan dan kebodohan kita, padahal sudah diingatkan hati nurani.
Hai manusia apakah yang kau cari di dunia ini, mengapa engkau mencari yang sia sia dan akan binasa, serta sifatnya sementara saja
Untuk hal hal yang mudah hancur , binasa, tidak kekal mengapa kita rela mati matian , berjuang sekuat tenaga dan memberikan segalanya bahkan rela mengorbankan sesama, keluarga dan harga diri
Tapi untuk hal yang abadi dan kekal kita biarkan dan santai santai saja , tanpa kita sadari hidup ini tidak selama lamanya.
Mengapa kita kuatir , takut, cemas, untuk kehilangan jabatan, kekuasaan, harta yang sifatnya sementara saja.
Dimana hatimu berada disitulah hidupmu berada,
Apa yang kau kejar didunia ini , yang selalu kau pikirkan itulah fokus hidupmu
Apakah arti kebahagiaan sejati ada pada harta, kekayaan dan kedudukan?
Semuanya yang ada didunia ini adalah kesia siaan belaka
Kalau memandang orang yang susah, hanya bekerja untuk makan sehari tapi justru ada kebahagiaan karena mereka bersyukur untuk apa yang ada.

Memang ternyata betul prinsip hiduplah secukupnya, jangan malas tapi bekerja dan berusahalah dengan semampunya, dengan sekuat tenaga, berilah yang terbaik, jangan meniru orang lain yang masa bodoh, malas malasan, egois, mementingkan diri sendiri, berdoalah kepada Tuhan selalu dan bersyukurlah untuk apapun hasilnya
Mendekatlah kepada Tuhan dan berserahlah kepadaNya sebab Ialah yang empunya segalanya, termasuk hidup ini.
Kalau Tuhan berkenan dan membuka jalan maka tidak ada satupun manusia yang dapat menutupnya, tapi kalau Tuhan tidak berkenan sekuat apapun kita berusaha pasti jalan akan tertutup.

 Gunakanlah segala sumber daya yang ada padamu saat ini, baik harta, materi dan kedudukan dengan sebaik baiknya, jangan boros apalagi berhutang untuk sesuatu yang fana, tidak berfaedah, terjerat dalam kredit yang menyusahkan seperti saat ini. Berhematlah , efisien dan hati hati menggunakan uang, jangan boros dan royal. Bantulah orang yang susah dan jadilah berkat bagi orang lain.
Jangan pernah merencanakan, berpikir yang buruk tentang orang lain apalagi menjatuhkan mereka meskipun sikap mereka banyak kali menjengkelkan kita.
Kalau kita berbuat sesuatu , berbuatlah yang terbaik, jangan ikut ikutan seperti orang lain, mereka malas tapi biarlah kita rajin.
Ada hal hal yang memang kita sudah berbuat yang terbaik tapi hasilnya kurang memuaskan, bersyukurlah yang penting kita sudah berusaha.
Janganlah menjadi sombong tapi jadilah rendah hati selalu menganggap orang lain juga penting , selalu punya hati yang ramah, dan mau membantu orang lain artinya hidup ini adalah hidup yang lebih banyak memikirkan bagaimana membantu orang lain daripada memikirkan diri sendiri.
Dimanapun kita ditanam berkembanglah dan berbuahlah!
Milikilah prinsip hidup, ketegasan dan integrtitas pribadi , bukan seperti kapal yang dapat diombang ambingkan sehingga tidak pernah sampai pada tujuan,
Apa artinya sukses diluar rumah tapi berantakan di dalam rumah. Keluarga adalah asset yang paling berharga.
Kesehatan juga harus dijaga dengan sangat baik , melalui pengaturan pola makan dan rajin berolahraga.

Saatnya untuk menata kembali kehidupan!
Rabu, 26 Feb 2014

pengampunan dan penerimaan ulang dari TUHAN menjadi titik sejarah iman

 YESAYA 44 :21-28 Jemaat yang dikasihi Tuhan Berita pengampunan yang baru kita baca memiliki dampak yang begitu besar bagi perjalanan iman...