Minggu, 07 Oktober 2012

artikel motivasi dari berbagai sumber


Renungan

Artikel-artikel renungan atau yang dapat memberi inspirasi

20 Berkat

Mengapa saya berkata "Saya tidak bisa" jika Alkitab mengatakan bahwa saya bisa melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada saya (Fil 4:13)
Mengapa saya merasa kurang jika saya tahu bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan saya menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (Fil 4:19)
Mengapa saya harus merasa takut jika Alkitab berkata bahwa Tuhan tidak memberi saya roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, ketertiban (2 Tim 1:7)

Mengapa saya harus merasa kurang iman jika saya tahu bahwa Allah telah mengaruniakan kepada saya ukuran iman tertentu (Rom 12:3)
Mengapa saya menjadi lemah jika Alkitab berkata bahwa Allah adalah terang dan keselamatan saya dan bahwa saya akan tetap kuat dan akan bertindak (Maz 27:1, dan 11:32)
Mengapa saya harus membiarkan iblis menang atas hidup saya jika Roh yang ada di dalam saya lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh 4:4)
Mengapa saya harus pasrah kalah jika Alkitab berkata bahwa Allah dalam Kristus selalu membawa kita di jalan kemenanganNya (2 Kor 2:14)
Mengapa saya harus kekurangan hikmat jika Kristus sendiri telah menjadi hikmat bagi saya dan Allah akan memberi hikmat jika saya minta padaNya (1 Kor 1:30; Yak 1:5)
Mengapa saya harus depresi jika saya dapat mengingat bahwa saya dapat berharap pada Allah yang kasih setiaNya tidak habis-habisNya setiap pagi (Rat 3:21-23)
Mengapa saya harus kuatir, resah, dan rewel jika saya dapat menyerahkan segala kekuatiran saya pada Tuhan yang memelihara saya (1 Pet 5:7)
Mengapa saya harus selalu hidup dalam beban jika saya tahu bahwa di mana ada Roh Allah, ada kemerdekaan, dan Kristus telah memerdekakan kita (2 Kor 3:17; Gal 5:1)
Mengapa saya harus merasa terhukum jika Alkitab berkata bahwa saya tidak ada lagi di bawah penghukuman sebab saya di dalam Kristus (Rom 8:1)
Mengapa saya harus merasa sendirian jika Yesus berkata Ia akan selalu menyertai saya, tidak akan membiarkan dan tak akan meninggalkan saya (Mat 28:20; Ibr 13:5)
Mengapa saya harus merasa terkutuk atau merasa saya menjadi korban nasib sial jika Alkitab berkata bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu (Gal 3:13-14)
Mengapa saya harus merasa tidak puas dalam hidup ini jika saya,seperti Paulus, bisa belajar untuk menjadi puas dalam segala keadaan (Fil 4:11)
Mengapa saya harus merasa tidak layak jika Kristus telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5:21)
Mengapa saya merasa takut disiksa orang jika saya tahu bahwa jika Allah di pihak saya tidak ada yang akan melawan saya (Rom 8:31)
Mengapa saya harus bingung jika Allah adalah Raja Damai dan Ia memberi saya pengetahuan melalui RohNya yang diam di dalam kita (1 Kor 14:33; 2:12)
Mengapa saya harus terus-menerus gagal dan jatuh jika Alkitab berkata bahwa sebagai anak Allah saya lebih daripada orang-orang yang menang dalam segala hal, oleh Dia yang telah mengasihi saya (Rom 8:37)
Mengapa saya harus membiarkan tekanan hidup mengganggu saya jika saya dapat punya keberanian karena tahu Tuhan Yesus telah menang atas dunia dan penderitaan (Yoh 16:33) " Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah ! " (Mazmur 46:11a)

A Little Lesson about Life

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut.
Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.
Semuanya tak pernah terjadi.
Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu- kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita- cita dan harapan yang kita mintakan.
Kita mungkin tidak akan pernah dapat "Terbang". Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih dan maha Penyayang.
Kita memohon Kekuatan... Dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar.
Kita memohon kebijakan... Dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan Hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.
Kita memohon kemakmuran... Dan Tuhan memberi kita Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.
Kita memohon Keteguhan Hati... Dan Tuhan memberi Bencana dan Bahaya untuk diatasi.
Kita memohon Cinta...Dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.
Kita Memohon kemurahan/kebaikan hati...Dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.
Begitulah cara Tuhan membimbing Kita. Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya inginkan, berarti bahwa saya tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan? Kadang Tuhan tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti mengenal, bahkan tidak mau menerima rencana Tuhan, padahal justru itulah yang terbaik untuk kita.
Tetaplah berjuang...berusaha...dan berserah diri... Jika itu yang terbaik maka pasti Tuhan akan memberikannya untuk kita

Ada Tawa di Balik Luka

Penulis : Lesminingtyas
Mungkin ini adalah tulisan saya yang paling konyol. Tidak ada kata puitis di dalam judul dan tidak ada pesan tersembunyi di balik tulisan ini. Semuanya saya nyatakan secara vulgar, terus terang dan tanpa basa-basi. Ini sejalan dengan sikap saya yang apa adanya, tanpa tambahan pemanis dan penyedap rasa. Kalau orang bertanya siapakah saya? Ya, saya adalah apa yang ada dalam tulisan saya.

Tanpa tedeng aling-aling, saya paling tidak suka dengan sikap NATO (No Action, Talk Only) atau istilah gaulnya OMDO (Omong Doang). Saya paling tidak suka dengan orang yang dengan berapi-api mengajarkan kesucian, kalau dirinya sendiri masih kotor. Saya juga tidak suka dengan pembawa Firman yang mengajak orang damai sejahtera, sedangkan dirinya masih saja bersungut-sungut, tidak pandai bersyukur dan menderita "pauperism" yang selalu merasa dirinya kekurangan.
Dengan kata lain, saya hanya menulis dan bersaksi mengenai apa yang saya imani dan amini. Sebelum saya mengajak orang bersuka cita, saya harus terlebih dulu bersuka cita. Saya tidak akan berbicara kepada orang banyak tentang Yesus Sang Pengasih, kalau saya sendiri masih terus mengiba, meminta belas kasihan orang lain dan tidak bisa mengasihi orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Saja juga tidak akan menulis tentang pentingnya bersyukur, sebelum saya pandai bersyukur baik dalam suka maupun duka, baik dalam keadaan sehat maupun terluka. Saya juga tidak akan bersaksi tentang indahnya melayani Tuhan, kalau saya masih diperhamba uang dan memilih-milih pelayanan yang "basah" dan beramplop tebal.
Kata "Luka" dalam tulisan ini mengandung makna yang sebenarnya, yaitu luka fisik. Saya perlu bersaksi tentang luka fisik, karena sendiri sering bergumul dengan sakit penyakit yang saya alami. Saya sendiri tidak setuju dengan syair lagu dangdut lawas yang mengatakan "lebih baik sakit gigi dapi pada sakit hati..." Mungkin bagi kebanyakan orang syair itu cocok. Tapi bagi saya pribadi, sangat tidak masuk akal. Mengapa demikian? Kalau saya sakit hati, saya hanya cukup menangis, mengadu kepada Tuhan di dalam doa, membaca Firman dan menyanyikan kidung-kidung pujian bertempo riang. Jadi tanpa harus bergantung isi dompet, rasa sakit hati saya bisa sembuh dengan kekayaan maaf yang saya miliki dan pengampunan yang Tuhan janjikan untuk saya sejauh saya mengampuni orang lain.
Nah, kalau sakit gigi gimana dong? Saya bisa merang-raung 1-2 hari hanya gara-gara sakit gigi. Gigi dan kepala saya makin sakit kalau dompet lagi kosong. Sampai saat ini saya belum pernah berhasil mengatasi sakit gigi atau sakit fisik lainnya tanpa bantuan orang lain, dokter atau obat-obantan yang semuanya berujung pada isi dompet. Jadi, bagi saya sakit fisik lebih berat dan lebih mahal dari pada sakit hati yang kesembuhannya sangat tergantung pada jamahan Tuhan Yesus. Kalau seseorang berjumpa dan memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Tuhan Yesus, saya rasa tidak ada sikap dan perbuatan orang lain atau musuh yang bisa menyakitinya. Hati orang benar adalah tahta bagi Kristus dan Roh Kudus sendiri yang akan menangkal tombak dan pedang yang dihujamkan iblis. Dengan hikmat dan penyertaan Kristus kita akan mampu bertahan dan tidak goyah atau jatuh tersungkur ke dalam jurang dosa yang bernama sakit hati, dendam dan permusuhan.
Lagi pula kalau kita benar-benar kristiani, seharusnya tidak pernah ada kata musuh dalam hidup kita. Yang ada adalah orang yang memusuhi kita. Tetapi kita tetap tidak boleh menganggapnya sebagai musuh. Justru sebaliknya, kita harus berbelas kasihan terhadap orang-orang yang memusuhi kita atau sesamanya, karena dengan sikap memusuhi berarti mereka sedang berada jauh dengan Tuhannya.
Kembali ke soal sakit fisik, saya akui bahwa kadang-kadang saya KO karenanya. Saya setuju keselamatan dan kesehatan adalah mahal. Kalau soal keselamatan, saya anggap sudah beres karena sudah dibayar lunas oleh darah Kristus. Lha, kalau soal kesehatan, mau tidak mau saya harus merogoh kocek sendiri. Tuhan Yesus tidak pernah memberikan jaminan bahwa dengan mengikutNya, berarti saya akan terbebas dari sakit penyakit. Kalau saya sakit, Tuhan Yesus juga tidak pernah bermukjizat bim sala bim dan seketika itu juga penyakit saya lenyap. Tuhan Yesus juga tidak pernah memberi saya rejeki nomplok dari lotre, togel, kuis berhadiah berkedok SMS, arisan berantai atau penggandaan uang untuk berobat. Walaupun Tuhan Yesus sangat menyayangi saya, tetapi Ia belum pernah mengutus orang yang sekonyong-konyong datang dengan segepok uang untuk saya berobat. Tuhan Yesus justru berkali-kali mengingatkan saya harus bekerja keras walau harus menahan sakit.
Jadi kembali lagi, kesehatan bagi saya adalah sesuatu yang mahal. Untuk kesehatan saya, Tuhan Yesus hanya memberi saya kesadaran bahwa kesehatan lebih berharga dari pada sekedar materi. Ada kalanya Tuhan Yesus mengijinkan saya sakit supaya saya merasakan betapa Tuhan sangat mengasihi dan melawat saya melalui anak-anakNya. Tuhan Yesus mengijinkan saya sakit supaya ketika saya sehat, saya memiliki kepedulian, kasih sayang dan penghiburan untuk sesama yang menderita sakit.
Berbicara soal "Luka" saya justru tertawa dengan pengalaman konyol saya beberapa hari yang lalu. Tepatnya tanggal 12 Maret yang lalu, saya sungguh meraung-raung karena lutut saya terluka. Waktu itu kebetulan hari Sabtu, seperti biasa saya membeli koran Sinar Harapan tak jauh dari rumah. Sebelum ada kenaikan harga BBM, saya dan hampir seluruh tetangga sering menggunakan jasa ojek untuk keluar/masuk kompleks yang kira-kira 200m dari jalan yang dilalui angkot. Terlebih kalau hari sudah mulai gelap, banyak orang merasa ngeri berjalan sendiri melewati tanjakan terjal yang dipercaya orang masih angker.
Beberapa waktu yang lalu, saya menuliskan tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi kenaikan harga BBM. Salah satunya saya menyarankan pembaca untuk berjalan kaki kalau hanya untuk jarak kurang dari 1 km. Saya tidak memusingkan apakah ada pembaca yang melakukannya atau tidak, tetapi saya harus tetap melakukannya sebagai saksi sekaligus teladan.
Waktu itu kira-kira jam 17.00 dan gelap sudah mulai mengusir senja. Saya memang sengaja berjalan kaki santai dengan tangan kiri menenteng koran dan tangan satunya menenteng duren (durian) pesanan anak saya. Selama perjalanan saya sedikit konflik dengan batin saya sendiri gara-gara dipanggil "teteh" oleh penjual durian. Saya tidak tahu apa sebabnya tapi panggilan itu kok rasanya aneh di telinga saya. Apalagi aksen bicara saya yang medok, penampilan saya yang "sudah tua" rasanya memang tidak pantas lagi dipanggil "teteh"oleh pedagang yang masih sangat belia itu.
Ketika saya menuruni jalan yang cukup menukik dan berbatu tajam, saya tergelincir dan sedetik kemudian saya sudah bersimpuh. Kejadiannya memang terlalu singkat dan saya sendiri kurang bisa menjaga keseimbangan. Jujur saja waktu itu saya lebih mengkuatirkan durian di tangan kanan dan celana panjang saya yang masih gres. Saya sempat blank beberapa detik dan tidak sadar di mana saya berada. Walaupun telapak tangan kanan saya tergores, saya masih lega ketika durian yang saya beli tidak mental jauh. Saya sering geli setiap mengingat "wajah kartun" saya yang bersuka cita dan bangga karena celana baru saya tidak robek, sedangkan rasa perih di lutut sudah tidak tertahankan. Saya juga geli mengingat nasehat saya yang sering saya pakai menghibur orang yang kira-kira demikian "Kalau kita mengerti seni jatuh, maka jatuhpun terasa nikmat dan indah". Sayang sekali, waktu jatuh saya sedang blank sehingga lupa menerapkan seni jatuh tanpa rasa sakit.
Sambil cengar-cengir saya memungut kembali duren yang telah melukai saya dan kembali berjalan dengan gagah, kembali ke rumah yang kira-kira masih berjarak 100m. Tapi begitu sampai di depan rumah, saya lemas sekali dan tiba-tiba ambruk. Tetangga saya yang melihat saya berlumuran darah, kontan panik karena menyangka saya blooding. Saya masih mendengar sayup-sayup suara para tetangga yang membagi tugas. Ada yang mengambil tanggung jawab menjaga anak-anak di rumah, ada yang bersedia mengontak RS dan ada juga yang menyalakan kendaraannya untuk mengatar saya ke rumah sakit.
Sebelum saya berangkat, saya masih sempat mengucapkan terima kasih untuk para tetangga dan menitipkan anak-anak kepada mereka. Karena dompet saya kebetulan kosong, saya pun menyerahkan ATM kepada salah seorang tetangga yang selama ini saya percaya dan saya ijinkan untuk tahu PIN saya.
Singkat cerita, saya harus telentang di RS. Hampir saja petugas salah membawa saya ke dokter kebidanan. Untung saja saya sadar dan berteriak "Oe, dengkul saya yang sakit, bukan ituannya". Tetangga saya pun menjadi malu karena ditertawakan petugas dan pasien lain.
Ketika dokter bedah memeriksa luka saya, langsung memerintahkan juru rawat untuk menyiapkan alat-alat operasi kecil. Dengan gaya instruksi, dokter itupun berkata "Kamu ambil gunting dan potong celananya! Kamu siapkan alkohol dan betadin untuk mencuci lukanya" Saya pun dengan cepat merespon "Lho, kok celana saya mau digunting, Dok?!" Dengan ketus dokter itu menjawab "Sekarang Ibu mau pilih celana atau dengkul?" 189ch, sadis man!" kata saya dalam hati, bernada cengengesan. Tetangga perempuan yang ikut mengantar saya tak kalah usilnya "Memangnya kredit celananya belum lunas, ya?" bisiknya sambil cekikikan. "Justru itu satu-satunya kenangan celana hasil keuntungan saya ngreditin celana, kok" kata saya melucu. Walaupun sudah dibius lokal, tetapi saya tetap berteriak-teriak ketika lutut saya mendapat 8 jahitan. Saya memang termasuk orang yang tidak tahan sakit. Saya pasti berteriak dan menangis begitu merasa sakit. Menyadari kelemahan tesebut, saya pun menggunakan telapak tangan saya untuk membekap mulut saya sendiri. Saya berharap walaupun saya berteriak, suara saya tidak sampai terdengar orang di luar ruangan.
Ketika dokter itu bertanya "Lho, tanganya kenapa?" Saya tetap mengaduh sambil berpura-pura tidak mendengar. Dalam hati saya bercanda-canda "Want to know aja! Udah tahu luka begitu, masih aja nanya! Kalau gua jawab jujur, memangnya lu mau ngapain? Memangnya beda tindakan untuk luka karena terjatuh dengan luka karena menahan durian? Gua minta diobatin, bukan pengin ditanya-tanya kenapa mengorbankan tangan untuk sebutir durian!"
Begitu selesai merawat dan menjahit luka saya, dokter itu menyarankan saya beristirahat dulu sambil menunggu radiolog datang untuk merontgen lutut saya. Dokter itu meminta saya untuk tidak terlalu banyak menggerakkan kaki kiri saya karena takut jahitannya akan jebol dan posisi tulang lutut dengan tempurungnya tidak pas. Waktu itu saya sempat protes "Lho, kalau belum jelas posisi tulang lutut dengan tempurungnya, kok sekarang sudah dijahit, dok? Nanti kalau lutut saya lepas dan harus dibetulkan, berarti jahitannya dibuka lagi, dok?" tanya saya was-was. Dokter jutek itu pun menjawab "Yang dokter saya apa situ?" Saya hanya menjawab dalam hati "Lha, jelas situ dong! Kalau situ bukan dokter, mana mungkin saya ngijinin situ nusuk-nusuk jarum di dengkul saya!"
Tidak cukup dengan hanya menasehati saya, dokter itu pun memerintahkan juru rawat untuk mengikat kaki saya dengan tempat tempa tidur. Saya hanya tersenyum sambil melucu di dalam hati "Lu orangnya nggak percayaan, ya? Gua nggak perlu gerak-gerakin kaki, cuma perlu gerak-gerakin jari tangan buat ngirim SMS ke atasan, sanak saudara dan kawan-kawan rohani. Lagian gua khan bukan orang yang bebal, kalau dinasehati untuk kebaikan nggak bakal ndableg"
Ketika tetangga menggoda "Mau makan apa? Durian ya?", saya pun hanya berkelakar "Kalau hanya ada satu permintaan yang boleh diajukan, saya minta lepasin ikatan kaki saya. Memangnya saya maling, pakai dikat-ikat segala?" Di tengah canda dan tawa, ada juga tetangga yang berseloroh "Lagian duren berduri saja dibela-belain, masih mending kalau durennya itu duda keren!". Saya pun berusaha membela diri dalam canda "Lho, duren yang itu juga penuh kenangan. Perlu perjuangan untuk mendapatkannya. Dari harga lima belas saya menawar dan menunggu lama untuk bisa mendapat harga sepuluh ribu. Untung saja, tangan ini tidak harus kena 10 jahitan!" Walaupun tangan saya sakit, saya masih menggunakan falsafah jawa "serba bejo". Maksudnya, masih bejo jatuh tertimpa durian, yang penting tidak terluka parah. Kalaupun terluka parah masih bejo, yang penting tidak tetanus. Kalaupun tetanus, masih bejo karena tidak mati. Kalaupun sampai mati masih tetap bejo karena bisa masuk surga.
Dari pada meratapi celanja baru yang sudah terpotong sebelah, saya mencoba bercanda ria dengan kawan-kawan rohani saya lewat SMS. Banyak SMS lucu dari adik-adik rohani saya, seperti "Mbak jangan lari-lari dulu ya.." Saya pun membalas dengan gurauan "Emangnya gw pesulap? Mo jalan aja gak bisa, gimana mo lari, oneng?!" Ada lagi pesan "Makanya Mbak jangan nakal, ha,ha,ha" dan saya pun membalas "Bawel ah!"
Walaupun lutut masih terasa nyeri dan perih, saya sempat menangis bahagia setelah mendapat SMS dari kakak kandung saya "Kamu layak mendapat bintang, karena penderitaan tidak membuatmu cengeng". Saya juga terharu ketika beberapa adik angkat saya menelpon dari Jakarta, Yogya dan Pontianak hanya karena mengkuatirkan keadaan saya. Saya juga terharu ketika orang terpenjara yang baru sekali saya lawat mengirim pesan lewat ponselnya "Ibu sakit apa? Bagaimana keadaan Ibu? Saya cuma bisa berdoa, semoga Ibu cepat sembuh, GBU" "Gila, baru sekali ini saya diberkati dengan �God bless you� sama nara pidana" kata saya heran bercampur harapan semoga orang itu pun percaya bahwa berkat Tuhan menjadi andalannya.
Ketika pulang ke rumah, gugatan pertama saya terima dari anak sulung saya yang duduk di kekas 6 SD."Makanya jangan nulis dan ngajarin orang jalan kaki, nanti disumpahin sama tukang ojek yang nggak dapat duit. Gara-gara Ibu nggak mau ngeluarin uang seribu untuk ojek, sekarang ibu harus mengeluarkan uang ratusan ribu" protes anak saya. "Bukan masalah jalan kaki atau naik ojek! Jalan kakinya sendiri memang bisa menghemat biaya dan membuat badan sehat. Kesalahan ibu adalah jalan sambil meleng. Jadi yang salah bukan tulisan ibu yang mengajak orang lain untuk jalan kaki. Toh ibu juga tidak mengajurkan orang berjalan sambil meleng!"
Ketika seorang tetangga menjenguk, ia pun membawa cerita kalau seminggu yang lalu anaknya jatuh dari ojek di tempat yang sama, sampai bengkak di sekujur tubuhnya. Dengan berapi-api ia membenarkan rumor yang mengatakan keangkeran tempat itu. Saya hanya tersenyum sambil berkata "Bukan salah tempatnya kok, tetapi saya yang meleng, nggak konsentrasi dan pikiran mengembara nggak karu-karuan"
Ketika saya berjalan tertatih-tatih ke kamar madi dan ke ruang makan, anak bungsu yang berumur 3 tahun berusaha menuntun saya. Ini sunguh suka cita yang luar biasa! Ketika saya memaksakan lutut kiri tidak tertekuk, anak saya tertawa geli dan berkata "Ibu kayak penguin!" Saya pun tertawa geli. Ketika saya mengenakan daster supaya lutut tidak tertekan, anak saya yang baru pertama kali melihat saya mengenakan baju spesifik untuk perempuan itu pun tertawa heran sambil nyeletuk "E.Ibu cantik!" Saya pun balik bertanya "Memangnya kemarin-kemarin ibu tidak cantik?". Dengan tawa lugu dan dengan sorot mata polos, anak saya menggelengkan kepala yakin. Saya pun menggelitiki perut anak saya sambil berkata "Enak saja! Ini sudah yang paling cantik, tahu?!"
Ternyata di balik luka masih saja ada tawa. Jadi, sekali lagi secara pribadi saya menolak ungkapan "lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati" karena bagi saya sakit gigi lebih kompleks. Untuk menyembuhkan sakit gigi kita perlu motivasi pribadi, pertolongan Tuhan, pertolongan dokter dan tentunya persediaan uang. Sedangkan sakit hati bisa disembuhkan oleh diri sendiri dengan pertolongan Tuhan, tanpa dokter dan tanpa uang. Suka cita itu ternyata bukan identik dengan tanpa penderitaan. Suka cita dapat tercipta ketika seseorang berhasil memaknai sebuah penderitaan dan mengatasinya hingga berhasil keluar sebagai pemenang.

Air Mata Tuhan

Oleh: Sion Antonius
Apakah arti Natal? Jika saya memberikan jawaban Natal adalah hiburan, maka banyak orang mungkin tidak akan setuju. Hanya saja disetujui ataupun tidak faktanya memang menunjukkan bahwa Natal adalah hiburan. Cobalah kita tengok tawaran-tawaran tentang Natal, pastilah semua berkaitan dengan acaranya. Di Mall, ada acara apa di sana? Di Rumah Makan, ada acara apa di sana? Di hotel, ada acara apa di sana? Di diskotik, karaoke, semua membuat acara yang dikaitkan dengan Natal. Acara yang paling sederhana adalah dengan memberikan “Christmas discount”. Acara yang lebih “hebat” lagi tentulah masih banyak. Pada saat membuat tulisan ini, ada sms masuk menawarkan Christmas Dinner dengan tema “An Unforgettable Christmas”, indah bukan tawarannya, tapi apa hubungannya makan malam dengan kelahiran Kristus? Tidak berhubungan sama sekali. Berbicara tentang acara maka ini identik dengan hiburan apa dari acara tersebut, jika tidak menghibur itu bukan acara yang baik. Tidaklah heran apabila artis-artis membuat pertunjukkan dengan tema dikaitkan dengan Natal, walaupun isinya tidak berkaitan sama sekali. Film-film diluncurkan berkaitan dengan liburan Natal, bahkan jika saya tidak salah ingat, salah satu sekuel film Harry Potter pernah ditayangkan perdana dalam rangka liburan Natal. Mall-mall di hias dengan indah luar biasa, lampu berkerlap-kerlip, memberikan tontonan mata pada pengunjung. Jadi jika saya mengatakan Natal adalah hiburan nampaknya tidak salah.
Bagaimana dengan Natal di gereja? Jika saya katakan bahwa Natal di gerejapun adalah hiburan, mungkin banyak orang menjadi tersinggung dan marah. Hanya saja marah ataupun tidak, fakta menunjukkan Natal di gerejapun lebih banyak unsur hiburannya daripada maknanya. Saya menyaksikan sebuah “iklan” tentang perayaan Natal. Dalam video klip ditayangkan betapa hebatnya acara tahun yang lalu, lalu ada tulisan “KITA SUDAH LAKUKAN TAHUN YANG LALU, SEKARANG KITA AKAN LAKUKAN LAGI”. Saya merasakan pesan yang ingin disampaikan adalah tentang kemeriahan, pesta, glamornya, dan sekarang kita akan berpesta kembali. . Bagaimana seriusnya panitia dalam mempersiapkan “pertunjukan” bisa dipantau pada saat melakukan tata rias dan kostum. Rias wajah memanggil penata rias artis, mereka berjam-jam sebelum pertunjukkan (bahasa rohaninya pelayanan) sudah harus hadir untuk mendapatkan rias wajah dan kostumnya wah sangat mewah. Jadi Natal adalah hiburan. Apakah panitia melakukan kesalahan? Nampaknya tidak, karena saya bertanya kepada orang-orang muda, apa yang berkesan dari sebuah perayaan Natal? Jawabannya adalah dramanya, karena banyak ketawanya, lucu, menghibur. Secara “supply and demand” sudah cocok, menurut teori pemasaran sangat tepat. Jangan mengkritik untuk hal demikian, karena pandangan orang bisa berbeda. Bagi orang yang suka perayaan Natal yang penuh dengan hiburan ini sangat lumrah, bukankah Natal adalah sukacita dan sukacita adalah kemeriahan, pesta. Jika mengkritik malah bisa dikatakan sebagai orang yang tidak toleran dan tidak tahu bersukacita, bahkan mungkin balik dikritik. Pernah untuk sebuah acara, seorang pendeta berkata di atas mimbar, “Aneh ya, kita semua sukacita, tapi orang itu kritik kita, acaranya memboroskan uang, padahal dia tidak memberi persembahan”. Ada orang yang mengingatkan, malahan dianggap aneh, di kritik balik bahkan di atas mimbar. Pada saat gedung gereja disesaki banyak orang, saya jadi berpikir, seandainya Justin Bieber mengadakan acara pada tanggal dan jam yang sama dengan perayaan Natal dan tiketnya juga gratis, apakah masih ada orang mau datang ke tempat ibadah? Mungkin masih ada tapi akan lebih banyak orang pergi ke konser Justin Bieber, alasannya Justin tidak setiap tahun ke Bandung (penulis tinggal di Bandung), tapi perayaan Natal setiap tahun, jadi masih ada tahun depan. Kalau boleh saya memberi saran, acara perayaan Natal silakan lakukan apa saja, tapi jika fokus kita hanya pada acara, suatu saat acara ini akan ditinggalkan orang juga karena ada yang lain lebih menarik.
Saya teringat dengan kisah Raja Salomo pada saat membangun Bait Suci, 480 tahun setelah keluar dari Mesir (I Raja-Raja 6). Ini adalah peristiwa yang penting dan sangat dinantikan oleh bangsa Israel. Bait Suci yang dibangun Salomo adalah sangat luarbiasa megah dan mahal, lebih hebat dari Cristal Cathedral di Amerika Serikat. Salomo membangun Bait Suci selama 7 tahun. Pada saat pentahbisan Bait Suci, Salomo mempersembahkan 22 000 ekor lembu sapi dan 120 000 kambing domba (I Raja-Raja 8:63), secara tepat saya tidak tahu harga seekor sapi dan domba, tapi dari perkiraan, biaya untuk hewan itu pada saat ini berkisar 250-300 milyar rupiah. Orang Israel mengadakan perayaan selama 7 hari. Sangat luar biasa dan hebat. Apa respon Tuhan terhadap semua ini? Tuhan menerima semua ini (I Raja-Raja 9:3), adakah pujian dari Tuhan atas semua kemegahan ini? Tidak ada, bahkan Tuhan melanjutkan dengan sebuah peringatan yang keras. Jika Salomo dan anak-anaknya tetap beribadah kepada Tuhan, maka kerajaan Israel akan tetap berdiri, namun jika Salomo dan anak-anaknya berpaling dari Tuhan maka orang Israel akan di buang dari tanah perjanjian dan Bait Suci akan dihancurkan (I Raja-Raja 9:4-9). Sebuah peringatan yang menusuk ke dalam jiwa diberikan oleh Tuhan. Pada waktu membaca bagian ini, saya gemetar, ternyata Tuhan tidaklah “haus” dengan pujian. Usaha-usaha hebat dan megah yang dilakukan manusia, tidaklah membuat Tuhan lebih mengasihi dan mengagumi manusia. Perayaan-perayaan manusia tidaklah menggetarkan hati Tuhan, bahkan Dia memberikan peringatan sangat keras.
Pada bagian lain, saya teringat akan kisah perumpamaan tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang (Lukas 15:1-10). Di bagian akhir dari perumpamaan ini Tuhan Yesus memberikan pesan, “AKAN ADA SUKACITA DI SORGA, KARENA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT…..ayat 7, …..AKAN ADA SUKACITA PADA MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH KARENA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT…ayat 10”. Inilah yang akan menggetarkan sorga, pertobatan orang berdosa. Bukan perayaan-perayaan yang menghibur dan hebat karena bagi Tuhan semua itu tidaklah berarti apapun.
Kembali kepada pertanyaan apakah arti Natal? Natal adalah air mata Tuhan, apa maksudnya? Apakah Tuhan sedih dengan peraayan-perayaan Natal yang kehilangan makna, mungkin ya, tapi saya ingin kita melihat lebih jauh dari itu. Air mata Tuhan di sini, bukanlah berbicara tentang seseorang yang sedih karena kehilangan sesuatu, tapi berbicara tentang kesedihan sehingga harus melakukan sesuatu.
Kita lihat sebuah ayat yang sangat menjelaskan tentang air mata Tuhan, Yohanes 3:16…”KARENA BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA INI, SEHINGGA IA TELAH MENGARUNIAKAN ANAKNYA YANG TUNGGAL, SUPAYA SETIAP ORANG YANG PERCAYA KEPADANYA TIDAK BINASA, MELAINKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL”.
Allah adalah Kasih, hal ini yang membawa Tuhan datang ke dalam dunia. Pada saat manusia jatuh ke dalam dosa Tuhan langsung membuat Proklamasi, bahwa akan ada keturunan manusia yang mengalahkan si jahat (Kejadian 3:15). Pada saat proklamasi ini air mata Tuhan sudah jelas nampak, Dia sedih karena manusia kehilangan hubungan dengan dengan penciptanya, oleh karenanya Allah harus bertindak.
Sedikit ilustrasi tentang kasih dan air mata, pada saat seorang bayi berusia beberapa bulan, seringkali bayi itu menangis di tengah malam karena lapar atau pakaiannya basah oleh air seni. Dalam keadaan seperti itu sangatlah tidak mungkin apabila ibunya bangun, kemudian sambil tertawa berkata,”wah lucunya anak saya tengah malam mau minum susu” atau ”aduh….lucu sekali…ngompolnya banyak”. Jika orang waras tidak akan berkata seperti demikian, yang mungkin dikatakan adalah,”Tuhan kuatkan saya”, karena ibu itu sudah lelah, ” sabar ya nak, mama buatkan susu, tapi mama cape, jadi mama buatnya agak lama, sabar ya”, demikianlah ibu itu berkata berulang-ulang, dan jika sangat lelah, mungkin ibu itu membuat susunya sambil berlinang air mata, tapi dia rela, karena apa? Karena kasih.
Cerita lain, seorang anak sakit, pada saat bersamaan ayahnya hanya memiliki uang untuk satu hari di depan. Ayah ini tidak akan tertawa terpingkal-pingkal berkata,”Lihat, uang aku tidak punya dan anakku sedang sakit”. Ayah yang waras tidak akan seperti demikian. Apakah ayah ini akan membiarkan anak yang sedang sakit tanpa membawanya ke dokter? Tentu saja tidak, dia dengan gagah akan mengatakan, “ Mari kita berobat supaya engkau sembuh”. Padahal hatinya hancur, bahkan air mata menetes, karena tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk esok hari, karena apa? Karena kasih.
Dari 2 cerita ini, kondisi si ibu dan ayah sangat ekstrim, tapi saya ingin menggambarkan itulah kasih dengan air mata. Pada saat manusia jatuh ke dalam dosa, ini masalah serius, Tuhan tidak menganggap sebuah lelucon, Dia tidak sedang mentertawakan manusia, tapi sebaliknya sedang mencucurkan air mata. Tuhan sedang melihat manusia yang tanpa pengharapan dan harus ditolong. Karena kasihlah Dia pergi ke tempat manusia yang dikasihinya yang akan menolaknya. Jikalau kita tahu bahwa suatu daerah terkena wabah penyakit berbahaya, dan jika kita pergi ke sana pasti akan tertular? Apakah masih mau pergi? Pastilah kita tidak akan pergi. Yesus tidak demikian, Dia meninggalkan sorga untuk menanggung penyakit Anda dan saya. Kasih dengan air mata bercucuran adalah kasih yang habis-habisan ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Pada waktu dalam taman Getsemani, di sanalah kita bisa melihat kasih yang bercucuran air mata dari Tuhan. Di dalam doanya Ia berkata…Jikalau mungkin cawan ini lalu…., Yesus dapat membuat cawan itu berlalu, tapi itu artinya manusia tetap tanpa pengharapan. Dan Yesus menerima cawan itu….supaya ada pengharapan bagi manusia, sehingga di atas kayu salib Dia berkata, “Sudah genap”.
Natal bukanlah hiburan, tontonan, lelucon, tapi bukti keseriusan Allah, karena kasihNya maka Dia datang ke dalam dunia. Jadi alangkah naifnya kita, jikalau dalam merayakan Natal tidak memahami keseriusan Allah, kita hanya mau merayakan Yesus menurut gaya dan cara berpikir manusia. Seharusnya di dalam merayakan Natal maka kita menangisi diri sendiri, karena kitalah maka Dia datang. Jikalau kita tidak berdosa maka Allah tidak perlu menanggung penderitaan. Masih inginkah kita berpesta pada saat Natal?
Pada saat Natal kita bisa mengguncang sorga dengan cara membawa jiwa-jiwa yang bertobat. Jadi jika ada drama, maka drama itu harus membuat orang bertobat. Jika paduan suara menyanyi maka harus ada yang berobat. Jika menaikkan pujian, maka hendaklah pujian itu membawa orang bertobat. Jika berkhotbah, kabarkan firman yang membuat orang bertobat. Karena air mata Tuhan, Dia hadir ditengah-tengah umat manusia, maka kita bisa merayakan Natal, biarlah sukacita kita dalam meresponnya adalah sebuah tindakan yang menggoncang sorga. Selamat Natal 2011.
Catatan: istilah air mata Tuhan adalah perumpamaan tentang kasih yang berkorban, bukan dimaksudkan secara hurufiah Tuhan yang cengeng dan menangis.

Air Mata adalah Bahan untuk Menenun Pelangi yang Terindah

Oleh: Kenia Oktavianie
Pagi ini saya terbangun karena suara seseorang menangis di kamar asrama saya. Sedikit kaget, karena tangisannya begitu kencang di pagi hari yang masih sangat sunyi. Selidik punya selidik, saya mengetahui penyebab ia menangis, ternyata salah satu keluarganya meninggal dunia.
Kejadian pagi ini membuat saya berpikir tentang air mata. Saya teringat pembicaraan saya beberapa hari yang lalu dengan seorang teman. Ia membagikan percakapannya dengan seorang ibu yang suaminya di rawat di rumah sakit karena stroke. Ibu ini menyampaikan pengamatannya selama ia menjaga suaminya berbulan-bulan di rumah sakit. Ia menemukan bahwa orang yang kebanyakan dirawat di rumah sakit karena penyakit stroke adalah seorang laki-laki. Lalu ibu ini membuat sebuah analisa yang menurut saya masuk akal.
Ya, kebudayaan kita menuntut laki-laki untuk tetap kuat dalam kondisi apapun. Jangan menangis kalau kamu benar-benar seorang laki-laki, mungkin kata-kata inilah yang sering kali kita dengar dari mulut orang tua. Hal ini membuat sebagian besar laki-laki yang hidup dalam pola didikan seperti ini bertumbuh menjadi pribadi yang memendam perasaan dan kesedihan. Akibatnya tingkat stress meningkat, dan timbul penyakit karena emosi yang tertahankan. Mungkin inilah yang menyebabkan wanita lebih kuat, mereka lebih bebas mengekspresikan perasaan mereka tanpa tekanan.
Hal ini membuat saya berpikir, sesungguhnya apa yang salah dengan air mata? Bukankah Allah menciptakan air mata untuk suatu tujuan? Dan benarkah ada perbedaan antara pria dan wanita dalam hal menangis? Apakah air mata mengindikasikan kelemahan?
Saya berusaha mencari beberapa penelitian ilmiah tentang air mata. Salah satu yang saya dapatkan adalah ini, "Seseorang yang menangis bisa menurunkan level depresi karena dengan menangis, mood seseorang akan terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena emosi mengandung 24% protein albumin yang berguna dalam meregulasi sistem metabolisme tubuh dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata" (sr: indohot.org). Luar biasa bukan? Allah memang menciptakan air mata dengan sebuah tujuan!
Lalu apa yang salah dengan air mata? Apakah air mata mengindikasikan kelemahan?
Alkitab sendiri menyatakan dengan gamblang, pria-pria gagah perkasa yang menangis. Tengoklah Daud, prajurit hebat yang berhasil mengalahkan Goliat. Dia menangis. Bahkan di dalam Mazmur jelas menyebutkan, "Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku." Daud menangis, bahkan setiap malam.
Ayub menangis dalam kesengsaraannya, "mukaku merah karena menangis, dan bulu mataku ditudungi kelam pekat (Ayub 16:16). Petrus menangis karena menyadari ia telah berbuat dosa dengan mengkhianati Yesus. Yusuf menangis ketika ia bertemu kembali dengan saudara-saudaranya. Dan Yesus pun menangis (Yohanes 11:35).Ya, pria-pria itu menangis.
Lalu apa yang salah dengan tangisan dan air mata? Tidak ada bukan? Setiap orang berhak untuk menangis, tidak peduli gender, usia, atau jabatan sosial. Mengapa? Karena kita masih manusia. Bukankah tangisan adalah reaksi dari perasaan yang alami, sama halnya dengan tertawa? Bahkan Pengkotbah 7:3 mengatakan, "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega."
Air mata mengindikasikan kelemahan? Apa yang salah dengan itu? Bukankah setiap manusia memang lemah? Bukankah ini manusiawi? Air mata justru menunjukkan kerapuhan kita sebagai manusia yang terbatas dan kebutuhan kita akan Pribadi yang tidak terbatas.
Lagi pula bukankah segala sesuatu ada waktunya, "Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari (Pengkotbah 3:4). Berikanlah waktu pada kesedihan, jika memang itu yang sedang kamu alami. Tidak ada yang salah dengan itu, Allah menciptakannya untuk suatu tujuan yang mulia. Penyangkalan akan kesedihan, sesungguhnya malah membuat manusia jatuh ke dalam ketimpangan emosi yang lebih parah.
Ada penggalan kata-kata indah yang saya baca di buku karya Max Lucado,
Air mata melegakan otak yang panas,
seperti hujan pada awan-awan bermuatan listrik.
Air mata melepaskan kesengsaraan hati yang tak terpikulkan,
seperti luapan air yag mengurangi tekanan banjir pada bendungan
Air mata adalah bahan yang dibuat di surga untuk menenun pelangi yang terindah.
Pada akhirnya, Allah memang mengizinkan kita menangis, dan itu wajar karena kita masih manusia. Bahkan Ia mengahargainya. Namun sebagai seorang Kristen yang dewasa, alkitab mengatakan dalam 1 Tes 4:13b, "supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan." Dalam tangisan karena dukacita yang terdalam pun, ketahuilah bahwa pengharapan di dalam Allah tidak pernah berubah.
Pujilah Tuhan untuk setiap kesempatan untuk menangis. Pujilah Tuhan untuk setiap kesempatan berduka cita. Pujilah Tuhan untuk pengharapan yang Dia berikan.
Jadi, sedang ingin menangis? Lakukan saja! Tidak ada yang salah dengan itu :) Allah menghargainya.

Allah Sumber Penghiburan

Penulis : Lucy Midyette Hobgood
Bacaan : 2 Korintus 1:3-7
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. . Mat. 5:4 Dua tahun yang lalu, adik laki-lakiku meninggal. Satu bulan kemudian, ibu mertuaku pun meninggal. Selama musim dingin yang suram itu aku berjalan dalam lembah kesedihan dan air mata. Aku bertanya apa tujuan hidupku. Bagaimana Allah dapat menghiburku dalam kesedihan yang mendalam ini?

Pada awal kesedihanku, teman-teman gereja menghiburku dengan kartu ucapan, kunjungan, bunga dan makanan. Pada saat itu, putraku yang berusia 5 tahun tiba-tiba berhenti, berbalik dan berkata, "Mama, mau dipeluk?" Pelukannya menyelimuti aku dengan perasaan bahwa Allah hadir. Suatu malam ketika aku tidak bisa tidur, aku berdoa, "Ya Tuhan, aku membutuhkan Engkau." Segera sesudah itu, telepon berdering. Ternyata seorang sahabatku memberi perhatian dan menjadi jawaban dari doaku. Di lain kesempatan, teman yang lain mengajakku makan siang dan mendengarkan kesedihanku. Firman Allah menjadi sauh bagi jiwaku saat aku mengikuti pemahaman Alkitab dalam kelompok sel. Allah setia dan melalui gereja-Nya, Ia menghiburku.
Apakah Roh Allah mendorong Anda untuk menghibur seseorang yang tengah berduka saat ini? Jika kita percaya dorongan itu, kita menjadi saluran penghiburan Allah bagi mereka yang berduka.
Pokok Pikiran : Setiap kita dapat menjadi jawaban Allah atas doa seseorang yang memohon penghiburan.

Anak Beruang yang Penakut

Oleh: Yon Maryono
Ada tampilan Youtube tentang perilaku seekor anak beruang yang lucu karena ekspresi ketakutannya. Terdengar para pemirsanya tertawa karena menyaksikan anak beruang terguling-guling, menghindar, berlari di pojok sangkarnya setiap melihat bayangan dirinya. Saya pun ikut tersenyum melihatnya, tidak hanya perilaku ketakutannya, tetapi juga keheranan karena anak beruang itu takut dengan bayangannya sendiri. Bayangan yang selalu menempel dan seolah-olah mengejar di mana sang beruang kecil itu berada. Yah, anak beruang itu instingnya belum terlatih sehingga kurang peka bahwa induknya siap menjaga dan selalu berada di sampingnya.
Akhirnya, saya pun mentertawakan diri sendiri, karena saya sebagai orang percaya mengaku sebagai anak-anak Allah (bdk. 1 Yoh 3:1), tetapi kenyataannya selalu dihantui perasaan kuatir, gelisah, cemas dan perasaan takut menghadapi pergumulan hidup. Mengaku sebagai anak Allah, tetapi tidak sadar Bapa selalu dekat dengan kita. Mengaku sebagai anak Allah tetapi tidak sepenuhnya tunduk dengan aturan Bapanya. Mengaku sebagai anak Allah tetapi tidak menyadari warisan yang tidak bernilai di sorga, tetapi masih bergelimang di lumpur dosa. Mengaku sebagai anak-anak Allah, yang sering kita nyatakan bahwa Dialah sumber dan jalan keluar bagi semua masalah, ternyata kita hidup dalam alam retorika karena antara apa yang di kata bibir dan isi hati jauh berbeda. Saya baru sadar, saya sudah di Baptis, saya sudah mengakui Iman Percaya kepada Yesus, saya "mengaku" sudah hidup baru tetapi tidak mengerti bahwa hidup baru itu baru dapat dimulai bukan dari baptisan, bukan dari pengakuan di mulut tetapi hidup baru itu baru dimulai dari kematian. Kita lupa, ajaran Kristus yang paradoksal : lahir baru itu timbul dari kematian. Anda boleh klaim lahir secara phisik pada saat lahir di bumi, tetapi lahir baru dimulai dengan kematian. Selama kita belum merasakan mati bersama Kristus, menyalibkan kemauan daging kita, dan mengenakan manusia baru yang roh dan pikiran kita sudah diperbaharui menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (bdk Ef 4:23-32) maka di baptis dengan cara selam atau percik pun tidak ada artinya.
Kondisi orang percaya yang gelisah, takut dalam ungkapan Pemazmur telah diingatkan: Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam jiwaku? Berharaplah kepada Allah (Mazmur 42:12). Dalam Mazmur ini tersirat bahwa manusia yang selalu kuatir dalam kehidupannya adalah manusia yang ragu berharap kepada Allah. Iman yang bercampur dengan keraguan memberikan celah bagi iblis masuk di dalamnya. Jadi, bila orang percaya ketakutan maka iblis tertawa. Iblis akan membiarkan orang ini masuk Gereja setiap minggu bahkan ikut dalam setiap kegiatan Gereja. Iblis membiarkan orang ini berdoa. Si Iblis mengetahui, mereka yang mengaku anak Allah, adalah orang peragu terhadap kekuasaan-Nya, sehingga tidak mungkin memunyai kuasa atau kemampuan mengusirnya. Mungkin si Iblis juga bergumam: Kasihan... deh lu.

Anak Kerang

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam." "Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi! tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara ; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transdensial untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat m! engubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transdensial tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki : menjadi ´kerang biasa´ yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara´. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja´.
So..sahabat mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka krn orang2 disekitar kamu..cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan didalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan..dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara2..."

Anjing Kecil

Untuk benar-benar memahami rasa sakit (kesukaran) dalam hidupmu, kau harus menjalaninya. Seorang petani mempunyai beberapa anak anjing yang akan di jualnya. Dia menulisi papan untuk mengiklankan anak-anak anjing tersebut, dan memakukannya pada tiang di pinggir halamannya.

Ketika dia sedang dalam perjalanan untuk memasangnya, dia merasakan tarikan pada bajunya. Dia memandang ke bawah dan bertemu mata dengan seorang anak laki-laki kecil.
" Tuan," anak itu berkata, "Saya ingin membeli salah satu anak anjing anda." "Yah," kata si petani, sambil mengusap keringat di lehernya, "Anak-anak anjing ini berasal dari keturunan yang bagus dan cukup mahal harganya."
Anak itu tertunduk sejenak, kemudian merogoh ke dalam saku bajunya, Ia menarik segenggam uang receh dan menunjukkannya kepada si petani.
"Saya punya tiga puluh sembilan sen. Apakah ini cukup untuk melihatnya?" "Tentu," kata si petani yang kemudian bersiul " Dolly, kemari!" panggilnya.
Dolly keluar dari rumah anjingnya dan berlari turun diikuti oleh anak-anaknya. Si anak laki-laki tersebut menempelkan wajahnya ke pagar, matanya bersinar-sinar.
Sementara anjing-anjing tersebut berlarian menuju pagar, perhatian anak laki-laki tersebut beralih pada sesuatu yg bergerak di rumah anjing. Perlahan keluarlah seekor anak anjing, lebih kecil dari yang lain. Ia berlari menuruni lereng dan terpeleset. Kemudian dengan terpincang-pincang berlari, berusaha menyusul yang lain.
"Aku mau yang itu," kata si anak, menunjuk pada yg anak anjing kecil itu.
Sang petani berjongkok disampingnya dan berkata," Nak, kau tidak akan mau anak anjing yang itu, dia tidak akan bisa berlari dan bermain bersamamu seperti yang bisa dilakukan anak-anak anjing lainnya."
Anak itu melangkah menjauh dari pagar, meraih ke bawah, menggulung celana di salah satu kakinya, memperlihatkan penguat kaki dari logam yang melingkari kakinya hingga sepatu yg di buat khusus untuknya.
Ia memandang sang petani, dan berkata, "Anda lihat, tuan, saya juga tidak bisa berlari, dan anak anjing itu memerlukan seseorang yang memahaminya."
Dunia penuh dengan orang-orang yang memerlukan seseorang lain yang mau memahaminya. Yesus berkata, "Sebab barangsiapa malu karena Aku, Aku-pun akan malu karena orang itu di hadapan Bapa-Ku"
Tidak merasa malu? berikut ini adalah test yg paling mudah............jika kau mengasihi Tuhan, dan tidah malu atas hal-hal indah yang dilakukan-Nya bagi kita.

Antara Mbok Wek dan Yu Paing

Penulis : (Kerjasama dengan Retno Palupi)
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. (Ef. 4:29) Praaang! Terdengar bunyi piring pecah. Diikuti langkah kaki laki-laki yang berlari meninggalkan seorang ibu yang bersimpuh tersedu. "Duh Gusti, ampuni anakku! Ngger, Cah Bagus, taat sama orang tua!" Demikianlah cara Mbok Wek (begitu orang-orang sekampung memanggilnya) menanggapi kenakalan anak-anaknya: ia selalu mendaraskan kata-kata bagus yang berlawanan dengan kekurangajaran si anak. Ratapannya jadi lebih menyerupai sebuah doa.

Lain lagi dengan Yu Paing (bukan nama sebenarnya). Janda cerai yang mesti menanggung tujuh anak ini cenderung bermuka masam. Kalau anak-anaknya membuat masalah, tak ayal perkataan lucah langsung terlontar mencemari udara kampung kami.
Hasilnya? Setelah besar, anak-anak Mbok Wek menjadi "orang": ada yang insinyur, dokter spesialis, perwira polisi, pengusaha. Adapun anak-anak Yu Paing: yang perempuan terjerumus ke dalam pelacuran, yang laki-laki menjadi begundal jalanan.
Perkataan adalah "senjata" yang ampuh. Ia bisa dipakai untuk membangun, namun bisa pula disalahgunakan untuk menghancurkan orang. Karena itulah, saat membicarakan kehidupan baru yang semestinya dijalani oleh orang-orang yang telah ditebus, Paulus berbicara panjang lebar tentang pentingnya berkata-kata secara bijaksana.
Ya, sebagai orang Kristen, kita perlu mengekang lidah dan menjadi teladan dalam perkataan. Kalau hati kita telah diperbarui, semestinya perkataan kita juga diperbarui, karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.

Antara Usaha dan Anugerah

Penulis: Yogi Triyuniardi
Alkisah, ada seorang anak manusia yang sedang bergumul dengan Sang Penciptanya. "Tuhan", seru anak manusia itu. "Mengapa Engkau begitu jauh? Mengapa aku Kau buang di bumi ini?" Tidak ada jawaban.
"Aku ingin bertemu denganMu, ya Allahku." kata anak manusia itu. Aku tahu dari nenek moyangku, bahwa Engkau bertahta di atas langit."
"Aku akan berusaha melintasi langit itu, agar aku bisa bertemu denganMu!" Lalu ia membuat sepasang sayap besar yang terbuat dari kerangka kayu, dilapisi oleh bulu-bulu burung elang yang besar, diikat secara tersusun rapi, layaknya sayap seekor burung.
Setelah beberapa bulan mengerjakan sayap ini, dan selesai, ia membawa sayap buatannya ke puncak tebing yang paling tinggi, memasang sayap tersebut ke tubuhnya, dan mengepak-ngepakan sayapnya, layaknya seekor burung. Ia melompat dan berhasil terbang di udara! Ia berkata dalam hatinya, "Tuhan, aku akan kembali ke rumahMu."
Langit begitu luas. setelah beberapa jam anak manusia itu mengepakkan sayap buatannya, ia menjadi lelah. Angin berhembus lebih kencang dan merusakkan sayap buatannya. Ia jatuh dari langit, tanpa daya.
Sebelum ia terhempas ke bumi, ia sempat berkata dalam hatinya, "Tuhan, aku sudah berusaha dengan sekuat tenagaku. Namun aku gagal. Aku tak bisa bertemu denganMu. Maafkan aku yang sombong ini, Ya Tuhanku."
Tiba-tiba dalam hatinya ada suara, "AnakKu, Kuterima permohonan maafmu. sekarang engkau tahu bahwa semua usahamu sia-sia. Aku mau supaya engkau percaya sepenuhnya padaKu."
Ia menjawab, "Ya Tuhan, sekarang aku percayakan hidupku. Aku berserah penuh kepadaMu." Lalu terdengar suara seperti benda jatuh dari langit. Sang anak manusia telah mati.
Tubuhnya memang mati. tetapi jiwa dan rohnya tidak. Ia segera keluar dari tubuhnya yang sudah menjadi mayat, dan melayang ke udara, kembali ke pangkuan Bapa di Sorga.
Saudara-saudariku yang kukasihi dalam Tuhan Yesus, banyak orang mengira bahwa kita dapat kembali ke sorga dengan kekuatan dan usaha kita sendiri. Kita harus mencari pahala sebanyak-banyaknya, dengan tujuan bahwa Allah akan melupakan dosa kita yang besar itu, dan melihat "jasa" yang kita lakukan. Ketahuilah, bahwa usaha manusia itu sia-sia, dan hanya Allah saja yang dapat menyelamatkan kita. Dan Ia telah menyelamatkan kita dengan menebus kita dari dosa-dosa dan pelanggaran kita, Ia cuma minta supaya kita percaya kepadaNya.
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: Jangan ada orang yang memegahkan diri. (Efesus 1:8-9)
Tuhan Yesus memberkati.

Apa yang Kelihatan Baik Belum Tentu Benar Adanya

Suatu sore, seorang pemuda datang ke sebuah restoran yang menjual ayam goreng dan membeli 9 potong ayam. Ia membawa ayam gorengnya ke taman, untuk dinikmati bersama kekasihnya di bawah sinar rembulan yang romantis. Ketika membuka bungkusan ayam goreng itu, pemuda itu terkejut. Bukan ayam yang didapatinya, melainkan uang hasil penjualan restoran itu sebanyak 9000 dollar. Pemuda itu kemudian mengembalikan uang itu dan meminta ayam goreng sebagai gantinya. Pemilik restoran, merasa kagum atas kejujuran si pemuda, menanyakan namanya dan mengatakan hendak menelpon wartawan surat kabar dan stasiun televisi agar membuat cerita tentang si pemuda. Ia akan menjadi pahlawan, sebuah contoh nilai kejujuran dan moral yang akan mengilhami yang lain!
Namun pemuda yang sedang lapar itu menolaknya. "Kekasihku sedang menunggu. Aku hanya ingin ayam gorengku." Pemilik restoran menjadi semakin kagum atas sikap si pemuda yang begitu rendah hati. Ia memohon agar diijinkan menceritakan kejadian itu kepada wartawan. Pada saat itulah si pemuda jujur menjadi marah dan meminta ayam gorengnya.
"Aku tidak mengerti" kata pemilik restoran. "Anda adalah satu-satunya pemuda jujur di tengah dunia yang tidak jujur! Ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mengatakan kepada dunia bahwa masih ada orang-orang jujur yang mau bertindak benar. Saya mohon, beritahukan nama Anda dan juga nama wanita itu. Apakah ia istrimu?"
"Itulah masalahnya," kata si pemuda. "Istriku ada di rumah. Wanita di dalam mobil itu adalah kekasihku. Sekarang berikan ayamku agar aku dapat pergi dari sini."
Moral of the story: Mudah untuk terlihat baik di depan orang-orang yang tidak mengenalmu. Banyak di antara kita yang melakukan perbuatan baik di sana sini, pergi ke tempat ibadah, berkata benar, dan semua orang mengira kita adalah sosok ideal yang sebenarnya tidak demikian.
Yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hatimu. Tidaklah Penting berapa banyak hal yang kau perbuat atau apa yang orang lain kira tentang dirimu. Yang penting adalah hal yang terdalam. Jangan lakukan sesuatu supaya orang lain menyukaimu atau supaya seseorang kagum padamu - lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri, jadikan dirimu seseorang yang lebih baik.

Apakah Ada Hari Esok

Oleh: Yon Maryono
Pada saat melihat tayangan TV, penyanyi Utha Lekumahuwa kembali ke pangkuan Bapa di Sorga, yang diiringi background soundtrack musiknya "esok ‘kan masih ada", terbesit pesan optimis dalam kehidupan esok bagi pribadinya. Lagu itu telah memberikan kenangan bagi penggemarnya yang sekaligus rasa duka mendalam. Pada akhir hidupnya, didasarkan pemberitaan diabdikan dalam pelayanan Gereja telah memberikan pesan lain bahwa hari esok sungguh telah dipersiapkan dan dipertanggungjawabkan dengan baik di hadapan Bapa. Pertanyaan bagi kita adalah: Apakah hari esok ada bagi kita? Apakah sisa waktu hidup kita telah diisi kehidupan sesuai kehendak Tuhan, dan memberi buah kepada sesama?
Saya mengenal sepasang suami isteri doktor Teologi. Mereka pernah ditawari dalam jabatan dalam kekuasaan pemerintahan, tetapi tawaran jabatan dan fasilitas tersebut ditolaknya. Cerita ini pernah diungkapkan pada suatu kesempatan kepada saya: "Sepanjang perjalanan hidup saya," kata sang suami, "kami sudah cukup berbahagia dan bersuka cita karena tidak pernah melakukan sesuatu, yang menurut penilaian kami pribadi kurang baik di mata Tuhan. Kami kuatir kalau masuk dalam lingkaran kekuasaan, tergiur dan kami jatuh, sehingga kehidupan yang telah terbina 50 tahun tidak berarti dihadapan-Nya." Pasangan suami-isteri ini berfikir tentang sisa perjalanan hidup, hari esok mereka yang dapat runtuh oleh karena pengaruh duniawi, sehingga tidak dapat mengakhiri pertandingan dalam hidup ini dengan baik. Pantaslah, kalau hidup mereka sederhana, hidupnya tidak di jalan utama atau komplek orang kaya. Saya pun juga mengenal saudara seiman eks salah satu menteri di negeri ini yang parkir kendaraan jabatannya di tepi gang, pernah makan dengan nasi bungkusan. Hidupnya sederhana tidak seperti manajer yang penuh segala fasilitas mengelilinginya. Memang, kehidupan terasa aneh bila berbeda dengan kehidupan dunia.
Kemungkinan masalahnya tidak terletak pada usia, penampilan sederhana, kekayaan atau kemewahan, tetapi pandangan dan sikapnya terhadap kehidupan esok yang merupakan bagian sisa waktu hidup yang tidak pasti. Mereka selalu berjaga dan waspada, sebagaimana Surat 1 Petrus 4:2: Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu (Mark 12:15b). Selanjutnya, Paulus dalam 2 Timotius 2:7 menuliskan pengakuan yang luar biasa: aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memeliharan iman. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah (Fil 1:21-22b). Coba kita perhatikan kata "telah" yang diucapkan Paulus "mencapai garis akhir" saat dia masih hidup. Mampukah kita katakan demikian saat ini.
Ada kisah heroik yang luar biasa yang banyak menginspirasi spirit untuk bertanding sampai akhir, seseorang bernama John Stepen Akhwari. Seorang pelari marathon dari Tanzania yang mengikuti Olimpiade Meksiko 1968. Ia menjadi terkenal bukan karena nomor satu dalam Marathon itu, tetapi justru yang paling buncit. Itu pun saat lapangan pertandingan sudah ditinggalkan penonton, dan masih tersisa beberapa panitia pertandingan. Pada saat berlari ia cedera dilutut sampai terlepas engselnya, keluar darah. Lututnya dibalut, ia terus berlari dan berlari, sambil menahan derita sakitnya. Ia menyeret kakinya setapak demi setapak... terus... terus... dengan kekuatan akhirnya sampai ke garis finish. Tahukah saudara, juara pertama dalam Marathon ini bernama Mamo Wolde dari Ethiopia dengan waktu 2:20:26. Dan Akhwari masuk finish dengan waktu 3:25:27 artinya pertandingan sudah berakhir 1 jam lebih yang lalu. Pada terik matahari dan panitia sudah membersihkan lapangan, salah satu Panitia terkejut dan menghampiri bertanya: "Mengapa dalam kondisi luka seperti ini saudara tetap meneruskan pertandingan?" Jawab Akhwari, "Negaraku mengirim aku sejauh 10000 mil dari tempat ini bukan untuk memulai pertandingan tetapi negaraku mengirim aku untuk mengakhiri pertandingan dengan baik." Koran paginya yang menjadi "Head Line" bukan juara satunya tetapi orang yang paling akhir masuk ke garis finsh oleh karena semangatnya menyelesaikan pertandingan. Spirit Paulus yang telah mengakhiri pertandingan telah dicontoh dengan baik oleh Akhwari.
Dari perenungan ini, membawa dalam suatu pembelajaran bahwa hidup ini ternyata tidak tergantung dari lamannya tetapi kualitasnya, hidup ini tidak tergantung awalnya tetapi akhirnya. Oleh karena itu, selalu menganggap hari esok adalah hari akhir telah mendorong tindakan berjaga dan waspada untuk mencapai akhir kehiduan yang berkualitas di hadapan Kristus.

Arti Sebuah Derita

1 Petrus 4:1 Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian,
karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa

1 Petrus 4:2 supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.
1 Petrus 4:3 Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang.
1 Petrus 4:4. Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu.
1 Petrus 4:5 Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
1 Petrus 4:6 Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.
1 Petrus 4:7. Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.
Ketika kita menanggapi positif panggilan dan pemilihan Kristus, saat itu kita memilih derita sebagai jalan hidup. Menjadi orang Kristen, berarti siap untuk bersekutu dengan Dia yang telah menekuni jalan salib. Ingatlah kata-kata Yesus, bahwa jalan hidup yang benar adalah jalan sempit yang menuju kehidupan. Jalan sempit itu dipilih pengikut-Nya. Sebaliknya, jalan lebar yang menuju kebinasaan dipilih mereka yang ingin hidup semaunya. Matius 7:13 “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;“.
Begitu hitam-putih-nyakah pilihan itu? Apakah orang Kristen benar-benar tidak boleh bersenang-senang, berpesta, dan menjadi kaya? Jawabannya, ya dan tidak. Ya, pada pilihan yang memang hitam-putih. Sebagai pengikut Kristus, kita terikat pada Yesus Kristus. Kita memperoleh hidup berdasarkan pengorbanan-Nya di kayu salib. Jawabannya menjadi tidak ketika kita mendefinisikan arti penderitaan itu.
Pertama - Kita tidak perlu mengalami derita fisik seperti yang Yesus alami, karena Dia yang telah mengalaminya untuk kita
Kedua - Yang menjadi derita kita adalah nuansa cemooh, dan fitnah(4c). Status kita sebagai orang sebagai orang Kristen terkadang menjadi bahan pertimbangan utama kemajuan karir maupun ditengah pergaulan.
Ketiga - Derita kita justru berasal dari kebimbangan kita sendiri menyangkal diri. Kata Yesus Setiap orang yang mau mengikut Aku, Ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku“.(Lukas 9:23).
Selamat menjalani hidup yang bercirikan penderitaan. Dan selamat pula menikmati hidup yang dilimpahkan dengan damai sejahtera dan sukacita, dalam pengharapan.

Ayam Goreng...

Tinggallah pasangan suami istri sederhana yang dikaruniai satu orang anak perempuan yang berumur 5 tahun. Keluarga ini adalah keluarga yang takut Tuhan, hari-hari mereka selalu diwarnai dengan doa dan ibadah. Nilai-nilai kebenaranpun ditanamkan dalam diri si anak sedari kecil.

Suatu hari, sang suami diberhentikan dari pekerjaan karena alasan yang tidak jelas. Awalnya ia kuat, namun lama-kelamaan ia mulai kecewa dan nyaris putus asa, bahkan ia mulai meragukan kebaikan dan keperdulian Tuhan dalam keluarganya. Iapun mulai enggan berdoa. Dengan penuh kesabaran sang istri terus menghibur dan menguatkan sang suami dengan firman Tuhan. Sang istripun terus berdoa dan berpuasa agar suaminya tetap kuat dalam Tuhan.
Keuangan yang terus menipis memaksa mereka untuk lebih berhemat, termasuk dalam makanan sehari-hari. Suatu malam mereka berkumpul untuk makan malam. Di hadapan mereka tersedia hidangan yang sangat sederhana.
Tiba-tiba si anak memanggil sang ayah. "Ayah, Tasyha pengen makan ayam goreng"
Mendengar keinginan si anak, sang ayah merasa hancur, air matanya hampir menetes. Dengan lembut sang Ibu menjawab: "Tasyha, apapun yang Tuhan b�ri kita harus mengucap syukur. Lagipula lauk kita malam ini tidak kalah enaknya koq dengan ayam goreng, apalagi kalau sebelum makan kita berdoa dulu." Ia juga menyentuh tangan suaminya, tanda agar suaminya tidak menangis di depan sang anak.
Dengan wajah gembira sang anak menatap ayahnya. "Oh iya, Tashya lupa, ayah pernah bilang sama Tashya bahwa dalam Tuhan Yesus semuanya bisa terjadi dan berubah. Itu artinya Tuhan bisa merubah rasa lauk ini jadi rasa ayam goreng. Benarkan ayah?"
Gelagapan si ayah menjawab "Iya."
"Ma, Tashya aja yang berdoa ya!" Setelah selesai berdoa, dengan kepolosannya sang anakpun makan dengan lahapnya sambil sedikit menjerit. "Wah, Tuhan Yesus hebat. Rasa lauk ini benar-benar seperti rasa ayam goreng. Ayah cobain dech"! Sang anak memasukkan ke dalam mulut sang ayah.
Sang ayahpun menangis. Ia bukan lagi menangis karena tidak bisa memberikan ayam goreng. Ia menangis karena ternyata anaknya yang berumur lima tahun lebih beriman dibanding dirinya yang telah mengenal dan mengecap pertolongan Tuhan puluhan tahun.
Jujur saja, kita pun sering seperti ini; mengenal Tuhan bertahun-tahun bahkan merasakan pertolongan- pertolongan Tuhan dalam hidup kita. Namun saat ujian datang, dengan mudah kita melupakan kebaikan-Nya. Mengapa saat ujian datang kita lebih memandang beratnya ujian tersebut? Mengapa bukan kebaikan-Nya yang kita pandang?
"Tuhan Yesus Memberkati."

Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun

Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun Melakukan yang Terbaik Untuk...
Penulis : Karen Kingsbury
Kisah berikut ini sangat menyentuh perasaan, dikutip dari buku "Gifts From The Heart for Women" karangan Karen Kingsbury. Kisahnya sbb:

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.
Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari. "Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."
Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.
Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?" Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini. "Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu."
Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?" Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu, Ibuku meninggal." Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata "Hari ini,..hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka.". Luke kembali menangis terisak-isak. Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini.
Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak. Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya. Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya.
Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN :
Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar.
Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ? Berapakah usia Anda saat ini ?
Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hilang untuk selamanya?
Sumber: Gifts From The Heart for Women

Bangunlah dan Berjalanlah

Oleh:Salohcin
Yohanes 5:1 9 & 14

  • 5:1 Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.

  • 5:2 Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya


  • 5:3 dan di serambi serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang orang buta, orang orang timpang dan orang orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.

  • 5:4 Sebab sewaktu waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya.

  • 5:5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.

  • 5:6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"

  • 5:7 Jawab orang sakit itu kepada Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."

  • 5:8 Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."

  • 5:9 Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.

  • 5:14 Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; ajangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."

Yohanes 5 dimulai dengan kedatangan Yesus ke Yerusalem iaitu pada waktu Hari Raya orang Yahudi. Di Yerusalem dekat pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam yang bernama Betesda iaitu beerti Rumah Belas Kasihan Di situ terdapat banyak orang sakit yang menunggu goncangan air kolam yang dilakukan oleh malaikat supaya siapa yang masuk ke kolam itu akan disembuhkan apapun juga penyakit mereka. Salah satu orang yang menunggu goncangan air kolam itu ialah orang sakit yang sudah sakit selama 38 tahun. Nama orang ini tidak disebutkan dalam alkitab tetapi kita akan belajar sesuatu yang bermakna daripada peristiwa yang berlaku antara orang sakit ini dengan Yesus. Kalau alkitab terjemahan King James, orang sakit itu digelar The impotent man(ayat 7) iaitu dalam bahasa Yunani disebut Ëœadunatos" yang bermaksud tiada kekuatan(powerless), tidak mampu bergerak dan berada dalam keadaan yang mustahil untuk melakukan sesuatu. Nah, pada masa ini betapa banyak orang kristian yang mengalami keadaan seperti orang sakit ini yang seolah olah tiada kekuatan, pertumbuhan yang terbantut, lumpuh secara rohani, tidak mengalami kemenangan di dalam kehidupan kristian mereka dan mudah saja jatuh ke dalam perangkap iblis serta diikat oleh kuasa kegelapan. Ini menyebabkan orang kristian tidak maju dalam hidup rohani dan fizikal mereka. Orang kristian yang impotent tidak akan berhasil dalam menjangkau jiwa jiwa orang lain karena tiada kesaksian yang baik dari kehidupan mereka yang mampu menarik orang lain kepada Kristus. Bagaimanakah kita dapat mendemonstrasikan kuasa Tuhan dalam hidup kita sedangkan diri kita hidup dalam keadaan yang tidak bertumbuh dan lemah secara rohani? Kita tidak akan dapat menjadi saksi Kristus yang efektif jika kita dalam keadaan yang sakit secara rohani. Mari kita menyelidiki keadaan hidup kita. Adakah kita terus bertumbuh dan semakin matang di dalam Tuhan atau kita semakin jauh daripada Tuhan dan lemah seperti orang sakit itu? Firman Tuhan ini bukan sahaja ditujukan kepada kita secara individu, tetapi juga untuk sesebuah jemaat(gereja), persekutuan kristian dan juga keluarga kristian.
Seperti mana firman yang di dalam kitab nabi Hagai 1:5, perhatikanlah keadaanmu!, mari kita lihat di manakah posisi kehidupan kristian kita. Di ayat yang ke 6 dikatakan bahawa Yesus melihat keadaan orang sakit itu dan Yesus tahu bahwa dia sudah lama sakit, lalu Yesus bertanya kepadanya maukah engkau sembuh? Ini merupakan suatu berita yang baik bagi kita semua. Sesungguhnya Yesus sangat prihatin terhadap apa yang terjadi kepada diri kita. Dia tidak mau keadaan kita yang lemah berterusan tetapi Dia datang untuk memulihkan kehidupan kita. Apa yang harus kita ketahui ialah bahawa Yesus berinisiatif untuk datang menolong kita. Seperti keaadaan orang sakit ini, dia tidak mampu untuk datang kepada Yesus karena dengan kekuatannya sendiri karena dia sangat lemah dan memang mustahil. Selama 38 tahun orang sakit itu menderita dan mungkin sudah beribu kali dia mencoba mencari jalan untuk mendapat kesembuhan namun dia tidak berdaya. Dia juga sudah berusaha untuk masuk ke kolam Betesda(rumah pengampunan) untuk mendapat pemulihan tetapi tidak juga berjaya. Begitu juga dengan hidup kita tanpa Tuhan. Kita tidak dapat pergi kepada Bapa dengan usaha kita sendiri karena kita memang lemah tetapi Tuhan sendiri yang bertindak untuk datang ke dalam dunia untuk memulihkan kehidupan kita dan supaya kita dapat pergi kepada Bapa yang di syurga. Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup(yoh 14:6). Belas kasihan(betesda) juga datang melalui Yesus sendiri yang menjadi pendamai antara kita dengan Tuhan.
Kesakitan pada tubuh kita atau lemah secara rohani boleh disebabkan oleh dosa-dosa kita. Seperti yang terjadi kepada orang sakit itu, dia sakit disebabkan oleh dosanya. Oleh sebab itu Yesus berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (yohanes 5:14). Di dalam kitab Mazmur 107:17 juga ad a mengatakan: Ada orang orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan kesalahan mereka Kadang kadang kita boleh sakit karena kita masih sakit hati dengan orang lain ataupun dengan kata lain kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain. Awas! Sikap tidak mengampuni adalah suatu DOSA! Mengampuni atau memaafkan adalah suatu perintah dalam firman Tuhan. Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Matius 6:14 15 Bukankah ngeri akibatnya jikalau kita tidak mau berdamai dan mengampuni orang lain? Saya sudah melihat hal yang seperti ini berlaku di mana orang tersebut tidak mau berdamai, meminta maaf dan memaafkan orang yang menyakiti hatinya. Perkara yang amat menyedihkan adalah mereka ini adalah orang yang melayani Tuhan.
Suatu hal yang saya pelajari dari hal tersebut, kita sebagai manusia masing masing mempunyai ego di dalam hati kita. Kita susah untuk mengampuni orang lain karena kita merasa diri kita betul dan kita mau orang lain yang mengikuti keinginan kita. Ini yang dinamakan kesombongan. Sekalipun kita adalah orang yang melayani Tuhan, ego ataupun kesombongan itu boleh wujud di dalam diri kita. Ego ini harus dikikis dan dibuang dari dalam diri kita. Mari kita selidiki hati kita, adakah kita masih menyimpan kesalahan orang lain atau sakit hati kepada orang lain termasuk orang yang sama sama melayani dengan kita suatu ketika dahulu? Pilihan terletak di dalam tangan kita. Jikalau kita mengambil keputusan untuk mengampuni, maka kita juga akan di ampuni oleh Tuhan tetapi jikalau kita tidak mau berdamai dan memaafkan orang yang menyakiti hati kita, maka Tuhan juga tidak akan mengampuni kita. Apabila kita tidak di ampuni oleh Tuhan, sesungguhnya api neraka adalah tempat yang akan kita pergi sesudah di hakimi.
Maukah kita mengalami hal yang seperti itu? Saudara dan saudari yang dikasihi Tuhan, jikalau Tuhan sudah sanggup mengampuni dosa kita bahkan melupakan dosa dosa kita itu, apakah alasan kita untuk tidak mau memaafkan orang lain? Tidak ada ruginya jika kita memaafkan dan berdamai dengan orang lain malah saya percaya kita akan memiliki damai di dalam hati kita. Salah satu kompenen di dalam kasih ialah tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
1 Korintus 13:4-6
Jikalau kita masih marah akan perbuatan orang terhadap diri kita maka itu bermakna bahawa kita tidak memenuhi tuntutan kasih. Mari kita berbalik semula kepada kisah orang sakit itu. Apabila Yesus datang kepadanya dan bertanya maukah engkau sembuh?, orang sakit itu menjawab: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."
Nah, mari kita perhatikan betul-betul. Orang sakit ini tidak menjawab pertanyaan Yesus tetapi dia memberi alasan. Seharusnya orang sakit itu cuma perlu menjawab "ya" atau "tidak" . Orang sakit itu seolah olah menyalahkan orang lain dengan alasan yang dia beri. Seringkali apabila kita menghadapi suatu masalah, kita mencari alasan dan tidak kurang juga yang menuduh orang lain untuk membela dirinya. Kita juga suka menuding jari kepada orang lain daripada merenung sedalam dalamnya perihal mengenai diri kita sendiri. Sejak zaman Adam dan Hawa, sikap tuduh menuduh sudah wujud dalam manusia setelah mereka berdosa memakan buah pengetahuan akan apa yang baik dan jahat. Apabila Tuhan bertanya kepada Adam, Adam menyalahkan Hawa dan Hawa pula menyalahkan ular.
Perhatikan:
Firman Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kau perbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.
Kejadian 3:11,13
Sikap ini telah diwarisi oleh manusia sampai pada hari ini. Begitu susah untuk manusia mengakui kesilapannya sendiri sebaliknya menuduh orang lain seperti yang dilakukan juga oleh orang sakit itu. Hal ini mengingatkan saya tentang sebuah lagu kanak kanak yang berjudul "Bangau oh bangau". Lagunya seperti ini:
Bangau oh bangau,kenapa engkau kurus?
Macam mana aku tak kurus,ikan tidak timbul.
Ikan oh ikan kenapa kau tak timbul?
Macam mana aku nak timbul,rumput panjang sangat.
Rumput oh rumput,kenapa kau panjang sangat?
Macam mana aku tak panjang,kerbau tak makan aku.
Kerbau oh kerbau,kenapa kau tak makan rumput?
Macam mana aku nak makan,perut aku sakit?
Perut oh perut,kenapa engkau sakit?
Macam mana aku tak sakit,makan nasi mentah?
Nasi oh nasi kenapa engkau mentah?
Macam mana aku tak mentah,kayu abi basah?
Kayu oh kayu,kenapa engkau basah?
Macam mana aku tak basah,hujan timpa aku?
Hujan oh hujan kenapa timpa kayu?
Macam mana aku tak timpa,katak panggil aku.
Katak oh katak kenapa panggil hujan?
Macam mana aku tak panggil,ular nak makan aku.
Ular oh ular,kenapa nak makan katak?
Macam mana aku tak makan,memang makanan aku!
Walaupun lirik lagu itu menceritakan kisah binatang tetapi ilham lagu itu adalah dari manusia. Di sini terbukti sekali lagi bahawa manusia memang suka menuduh. Daripada lagu itu adalah lebih baik untuk kita belajar daripada ular yang mengaku saja perbuatannya walaupun di dalam alkitab ular selalu melambangkan iblis namun saya ingin katakan tidak semestinya begitu. Adakah anda setuju? Pada masa sekarang ini, banyak orang sudah berhenti melayani Tuhan. Apabila mereka di tanya, ada yang mengatakan mereka sudah jemu dengan sikap pelayan Tuhan yang lain, rasa diri mereka tidak di hargai dalam memberi pendapat, merasakan pelayanan mereka di suatu tempat itu tidak berbaloi dan hanya membuang masa. Memang tidak dinafikan ada waktunya kita melayani bersama pelayan Tuhan yang lain yang mempunyai kerenah yang berbeda-beda dan kadang kadang menyakitkan hati kita dan ada juga waktunya pelayanan yang kita lakukan seolah olah tidak dihargai. Namun begitu, kita harus kembali kepada dasar kita iaitu Yesus sendiri. Siapakah yang sedang kita layani sebenarnya? Kita bukan ingin memuaskan hati manusia dan mendapat penghargaan dari manusia tetapi semuanya untuk Tuhan. Amen?
Di dalam sesebuah pelayanan, kita harus belajar untuk saling menghormati pelayan Tuhan yang lain. Jangan kita menunggu orang lain supaya menghormati kita dahulu maka baru kita mau menghormati orang lain. Perhatikan firman Tuhan ini: "Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat"
Roma 12:10
Jika kita saling mendahului dalam memberi hormat, setiap konflik dapat di selesaikan. Saya pernah mengalami saat saat kekecewaan dan hampir putus asa dalam pelayanan. Saya kecewa melihat sikap pelayan pelayan Tuhan yang seolah-olah tidak mengambil serius hal pelayanan mereka dan membuat saya kadang-kadang marah dan rasa tidak mau meneruskan pelayanan saya di tempat tersebut. Namun satu hal yang saya lakukan dan di sini saya ingin mengongsikannya bersama dengan saudara dan saudari yang membaca penulisan saya ini. Di saat saya merasa kecewa melihat sikap pelayan Tuhan yang lain, saya membawa semua hal itu ke hadapan Tuhan melalui doa. Dalam doalah saya sering meluapkan segala perasaan saya pada Tuhan dan sering kali saya meluapkannya dengan tangisan. Ingin saya nyatakan di sini bahawa tidak salah kita meluahkan isi hati kita kepada Tuhan karena Dia memang rindu kita berkongsi segala masalah dan beban kita kepada Nya. "Percayalah kepada Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita". Mazmur 62:9
Apabila kita selalu melakukannya maka hubungan kita dengan Tuhan juga akan semakin intim. Yesus sentiasa mengalu alukan kita yang berbeban berat untuk datang kepada Nya. "Marilah kepada Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu". Matius 11:28 Coba kita praktikkan hal ini. Luahkan segalanya kepada Tuhan walaupun itu kekecewaan dan kemarahan. Jika kita melakukannya, kita akan beroleh kekuatan daripada Tuhan untuk bersabar,tekun dalam pelayanan,bahkan memaafkan orang yang menyakiti hati kita. Memang berat rasanya untuk memaafkan orang tetapi jika kita membawa hal itu kepada Tuhan maka Dia akan memampukan kita untuk memaafkan orang lain. Setelah saya meluahkan segalanya kepada Tuhan, tibalah saatnya untuk saya berdiam diri di hadapan Tuhan. Untuk apa? Untuk mendengar isi hati Tuhan. Ingin saya tegaskan di sini bahawa sangat penting untuk mendengar isi hati Bapa kita yang di Syurga. Jangan kita hanya tahu untuk berdoa bla bla bla tetapi selepas itu tidak memberi ruang kepada Tuhan untuk berbicara kepada kita. Mendengar isi hati Tuhan boleh dilakukan dengan merenung firman Tuhan dan suara Roh Kudusnya. Pada waktu itulah kita akan belajar banyak perkara yang akan mengubah persepsi fikiran kita dan juga motivasi yang benar dalam melayani Tuhan.
Kita harus merelakan supaya hati kita dibentuk oleh Tuhan. Lalu apakah yang saya dengar daripada Tuhan? Roh Kudus mulai berbicara: "Engkau harus berfokus kepada Ku. Pelayananmu harus tertuju kepada Ku. Mengenai hamba hamba Ku yang lain, Aku juga mengasihi mereka sama seperti Aku telah mengasihi kamu. Belajarlah untuk mengasihi dan menerima mereka". Dari kata kata itu saya belajar sesuatu yang sangat berharga. Saya belajar untuk melayani Tuhan dalam keadaan apapun saya berada dan siapapun orang yang di sekeliling saya. Tuhan mengajar saya supaya menerima kelemahan orang lain sebagaimana Tuhan juga telah menerima seadanya diri saya ini.
Kita sebagai manusia masing masing mempunyai kelemahan yang tersendiri dan sebab itulah kita harus saling mendukung dan melengkapi satu dengan yang lain. Saya berpendapat bahwa ada waktunya kelemahan itu baik. 3 sebab yang menyebabkan saya mengatakan demikian yaitu:

  1. Kelemahan kita akan mengajar kita bahawa kita memerlukan orang lain.

  2. Mengelakkan kita daripada bersikap sombong dan mementingkan diri
    sendiri. Jika kita tiada kelemahan, boleh menyebabkan kita merasa tidak memerlukan bantuan orang lain bahkan kita akan menolak Tuhan karena kita merasa mampu untuk melakukan banyak perkara.

  3. Menggalakkan persekutuan yang membentuk satu tubuh Kristus yang
    sempurna. Masing masing kita memainkan peranan untuk memberi faedah
    kepada tubuh Kristus secara bersama. Rujuk 1 korintus 12:12,30

Jika pada waktu ini kita merasa begitu lemah dan dan banyak kekurangan, kita harus bersandar kepada Tuhan dan mengimani Dia dengan sungguh sungguh karena hanya melalui Dia kita dapat melakukan segala hal walaupun yang mustahil bagi manusia. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13).
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. (Yeremia 17:7,8)
Marilah kita jangan berdalih lagi. Jangan kita terlalu banyak memberi alasan dalam hidup ini. Yesus sedang bertanya kepada kita baik yang mengalami kesakitan pada tubuh, lemah secara rohani, keadaan gereja yang mundur dan keadaan keluarga yang mungkin semakin retak, Yesus bertanya: Maukah engkau sembuh? Maukah kau dipulihkan? Maukah kau mendapat kekuatan yang baru daripada Ku? Jikalau anda sudah tidak melayani Tuhan disebabkan anda telah disakiti dan kecewa melihat karena hamba hamba Tuhan yang lain, pada saat ini Tuhan ingin bertanya: Maukah kau mengampuni orang yang menyakiti hatimu dan berdamai dengan mereka tanpa menyimpan sedikit rasa marah terhadap mereka? Maukah kau mengasihi mereka seperti mana Aku juga mengasihi mereka dan mengasihi engkau? Maukah kau kembali melayani Ku untuk kemuliaan Ku? Saudara dan saudari yang dikasihi, renungkan pertanyaan di atas dan ambillah keputusan yang wajar. Berdoalah dan renungkan firman Tuhan supaya anda mengetahui kehendak Nya.
Jika anda merasa Tuhan menjamah dan berbisik di dalam hati anda saat anda membaca penulisan ini, jangan keraskan hatimu. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara Nya, janganlah keraskan hatimu! Ibrani 4:7b. Saya juga ingin mengongsikan sedikit kalimat doa yang sering saya ucapkan kepada Tuhan iaitu begini: Tuhan,ajar aku melihat orang lain seperti mana Engkau melihat mereka. Ajarlah aku menerima keadaan mereka sebagaimana Engkau telah menerima apapun keadaan diri saya. Ajar juga saya mengasihi mereka seperti mana Engkau mengasihi mereka.
Apabila kita dengan sungguh-sungguh menginginkan hal seperti itu, Tuhan akan mengubah cara kita melihat orang lain, mengubah cara kita berfikir dan menilai serta membentuk hati kita dengan mengalirkan kasih Nya ke dalam hati kita supaya kita dapat mengasihi orang lain. Tuhan melihat manusia dengan penuh kasih sayang dan belas kasihan dan Dia menginginkan kita juga melakukan hal yang sama.
Berbalik kepada kisah orang sakit itu, di ayat yang ke 8, Yesus berkata kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Di ayat yang ke-9 pula mengatakan: Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat. Melalui ayat inilah kemuncak mesej yang ingin saya kongsikan bersama dengan saudara dan saudari. Kita dapat melihat reaksi Yesus yang tidak memberi respon kepada alasan orang sakit itu yang seolah olah menyalahkan orang lain. Ini karena Yesus tahu bahwa alasannya itu tidak dapat menyelesaikan apa apa dan tidak dapat memulihkan keadaannya itu. Marilah kita menyadari bahawa alasan dan rungutan kita tidak akan berhasil memulihkan keadaan kita. Namun ada berita baik bagi kita semua iaitu: Firman Tuhan mampu memulihkan kita. Kata kata yang keluar dari mulut Yesus adalah firman yang berkuasa yang menyembuhkan orang sakit itu dan keadaannya dipulihkan. Saya percaya hal itu juga dapat berlaku kepada kita karena Yesus yang kita sembah tidak pernah berubah dan Ia sama dari dahulu kala sebelum dunia dijadikan, hari ini, dan sampai selama lamanya.
Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selamalamanya. Ibrani 13:8, "Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap. Maleakhi 3:6, Hanya firman Tuhan yang mampu melepaskan kita dari ikatan dosa dan iblis serta menyembuhkan kita. Jika pada saat ini kita berasa lemah dan tidak berdaya baik dari segi tubuh badan maupun dari segi rohani, marilah kita mulai tekun dalam merenungkan firman Tuhan serta hidup sesuai dengan firman Tuhan itu supaya segala ikatan dosa dan sakit penyakit kita dikalahkan. Bagi yang sakit pada tubuh badan, percayalah kepada firman Tuhan dan mulailah mengucapkan kata kata iman kepada dirimu sendiri. Contohnya begini: Dalam nama Yesus aku telah sembuh. Saya berdoa bagi yang sakit secara jasmani, di dalam nama Yesus Kristus, anda telah di sembuhkan. Kenapa Firman Tuhan itu sangat berkuasa untuk menyembuhkan? Jawapannya tertulis di dalam alkitab. Contohnya: disampaikan Nya firman Nya dan disembuhkan Nya mereka, diluputkan Nya mereka dari liang kubur. Mazmur 107:20, Firman Tuhan adalah Tuhan sendiri sebab itu Ia berkuasa. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.Ia pada mulanya bersama sama dengan Allah.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan (Yohanes 1:1,3). Bagi yang terikat dengan tabiat tabiat dosa seperti mabuk,ketagihan rokok,sikap pemarah,ketagihan seksual dan sebagainya, firman Tuhan juga mampu membebaskan kita asal saja kita tekun merenungkan dan mengamalkannya. Maka kata Nya kepada orang orang Yahudi yang percaya kepada Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar benar adalah murid Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:31,32).
Tabiat tabiat buruk memang sangat sukar dilepaskan kalau kita tidak mempunyai tekad yang kuat untuk ingin lepas dan tidak membenarkan kuasa Roh Kudus untuk bekerja dalam hidup kita. Roh Kudus bekerja melalui firman Tuhan yang kita baca dan renungkan. Perhatikan perkataan tetap, dan frasa kebenaran itu akan memerdekakan kamu di ayat yang di atas. Tetap dalam firman Tuhan berarti suatu tindakan yang berterusan dalam mendengar,merenungkan dan melakukan firman-Nya. Jangan sesekali mengamalkan rutin seminggu,sebulan atau setahun sekali dalam merenungkan firman Tuhan. Ia nya harus dilakukan secara berterusan dari hari ke hari.
Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Jika hal itu kita lakukan, saya percaya kita akan terlepas dari semua ikatan yang membelenggu kehidupan kita yang menyebabkan kita lumpuh rohani dan tidak dapat melangkah lebih jauh bersama Tuhan tetapi jika kita tidak melakukannya, itu bermakna kita tidak serius dalam hubungan kita dengan Tuhan dan keadaan kita juga sukar dipulihkan.Tuhan ingin memulihkan segala aspek kehidupan kita tetapi kita harus memberi respon yang positif kepada firman-Nya.
Pada waktu ini banyak orang kristian, gereja Tuhan dan persekutuan kristian yang sudah semakin tenggelam, ada yang suam suam kuku dan tidak kurang juga yang sudah berpaling daripada Tuhan. Perhatikanlah ke mana arah tuju gereja, persekutuan, keluarga dan hidup anda. Adakah semuanya semakin maju atau sebaliknya. Tuhan sebenarnya mau anak anak Nya semakin bertumbuh dalam mengenali Nya, semakin dewasa dalam iman dan berbuah lebat. Tuhan ingin supaya kita bangun daripada keadaan kita yang tidak mengalami kemajuan dan hanya melalui Yesus sahaja penerobosan( breakthrough) dapat terjadi di dalam kehidupan kita. Tuhan juga ingin kita bangun dari kekecewaan, penderitaan, kemiskinan dan dari apa saja yang menghalang kita untuk terus bertumbuh dan dimaksimakan sepenuhnya potensi kita bagi Kristus Yesus. Bangun juga berarti sadar dari keadaan yang seolah olah tidur, termenung, berangan angan dan di buai mimpi. Berjalan pula berarti kita melangkah dengan iman dan maju ke hadapan. Tuhan memang inginkan anak-anak-Nya supaya berhasil dalam kehidupan mereka. Kejayaan dan keberhasilan akan kita nikmati apabila kita tinggal di dalam Firman Nya karena di luar Yesus kita tidak dapat membuat apa apa(Yoh 15:5). Hanya di dalam Yesus sahaja ada harapan dan kemenangan. Seperti yang terjadi dengan orang sakit yang disembuhkan oleh Yesus itu, pasti dia tidak pernah menyangka bahwa keadaan hidupnya boleh berubah. Selama 38 tahun dia tidak melihat adanya harapan dan masa depan yang baik namun kehadiran Yesus telah mengubah segalanya. Begitu juga dengan kehidupan kita, jika Yesus hadir dalam hidup kita Dia mampu mengubah segala sesuatu yang tidak berpengharapan menjadi sesuatu yang penuh harapan.
Benarkanlah Yesus hadir dalam hidup anda. Untuk mengakhiri penulisan saya ini, sekali lagi saya ingin katakan: BANGUNLAH DAN BERJALANLAH!

Batu Besar

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, "Okay, sekarang waktunya untuk quiz." Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember. Ia bertanya pada kelas, "Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?" Semua mahasiswa serentak berkata, "Ya!"

Dosen bertanya kembali, "Sungguhkah demikian?" Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-ker ikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas,
"Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?" Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab, "Mungkin tidak."
"Bagus sekali," sahut dosen. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, "Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?" "Belum!" sahut seluruh kelas.
Sekali lagi ia berkata, "Bagus. Bagus sekali." Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, "Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?"
Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, "Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya."
"Oh, bukan," sahut dosen, "Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa: bila anda tidak memasukkan "batu besar" terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya."
Apa yang dimaksud dengan "batu besar" dalam hidup anda? Anak-anak anda; Pasangan anda; Pendidikan anda; Hal-hal yang penting dalam hidup anda; Mengajarkan sesuatu pada orang lain; Melakukan pekerjaan yang kau cintai; Waktu untuk diri sendiri; Kesehatan anda; Teman anda; atau semua yang berharga.
Ingatlah untuk selalu memasukkan "Batu Besar" pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestin ya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.
Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: "Apakah "Batu Besar" dalam hidup saya?" Lalu kerjakan itu pertama kali."
IMPIAN = BATU BESAR

Batu Karang yang Teguh

Oleh: John Adisubrata
"Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman." (Yohanes 6:44)
Menabur benih-benih firman Tuhan sedini mungkin dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita sering mengakibatkan hasil penuaian yang tidak tersangka. Kesempatan untuk bisa menyaksikannya selalu berbeda-beda, sesuai dengan waktu dan kehendak Tuhan, karena hanya Dia yang mampu menumbuhkan benih-benih tersebut.

Banyak orang menabur firman dengan harapan untuk dapat menyaksikan "tuaian" tindakan mereka seketika itu juga. Tetapi kenyataan yang sebenarnya, menakjubkan sekali! Buah-buah yang dihasilkan melalui benih-benih firman Tuhan yang ditaburkan ke dalam hidup orang-orang, terkadang baru terlihat nyata bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin beratus-ratus tahun kemudian. Kisah "Batu Karang yang Teguh" ini sudah membuktikannya!
Salah satu sekolah dasar di kota Surabaya yang pernah saya kunjungi beberapa puluh tahun yang lalu, telah mempertemukan saya dengan Pak Paliyama, seorang guru SD kelas 6 yang masih muda. Tuhan telah memakai guru ini sebagai alat untuk mempengaruhi kehidupan saya dalam usia yang amat dini. Benih-benih firman yang ditaburkan melalui pelayanannya di sekolah ikut membantu persiapan-persiapan bagi pertobatan hidup saya beberapa tahun yang lalu.
Setiap hari Jum"at segenap siswa sekolah dasar tersebut dipisahkan menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok diwajibkan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran agama yang ditawarkan di sana. Entah bagaimana, saya yang baru berumur kira-kira 7 tahun dikategorikan oleh guru saya ke dalam kelompok siswa-siswa yang mengikuti pelajaran agama Kristen, meskipun pada saat itu kami sekeluarga masih belum menjadi "penganut" agama tersebut. Mungkin sekali, karena kakak saya yang memutuskan bagi adik-adiknya.
Pak Paliyama selalu mempersiapkan pelajaran agamanya dengan penuh kedisiplinan, dibantu oleh salah seorang dari guru-guru yang lain secara bergantian. Setiap minggu ia memulainya dengan mengajak kami untuk berdoa bersama, dan mengajarkan nyanyian lagu-lagu rohani yang pada waktu itu tidak saya ketahui. Salah satu dari lagu-lagu yang diperkenalkan olehnya, yang amat membekas di dalam hati saya, adalah lagu Hymne kuno: "Batu Karang yang Teguh".
Sebelum pelajaran agama dimulai, ia selalu mempersiapkan lirik dari lagu-lagu tersebut untuk ditulis di papan secara rapi. Tidak jarang ia memberikan tugas tersebut kepada saya. Ia mengetahui, bahwa saya selalu tertarik pada semua hal-hal yang berhubungan dengan kesenian, oleh karena itu sering ia mempercayakannya kepada saya.
Suaranya selalu terdengar lantang dan bagus, setiap kali ia memimpin kami menyanyi dari depan ruangan kelas. Satu hal yang tidak dapat saya lupakan selama bertahun-tahun mengikuti pelajaran agama Kristen di situ, adalah menyadari, bahwa ia mempunyai kemampuan pendengaran yang amat hebat. Sering kali ia datang menghampiri, berdiri, dan menyanyi di sebelah (bersama) saya, karena di luar pengetahuan saya sendiri, saya sedang menyanyikan irama lagu-lagu tersebut dalam nada suara dua. Pak Paliyama amat menyukainya!
Selain itu, saya juga terkenang akan ceritera-ceritera bersambung yang selalu dibawakan olehnya dengan penuh ketrampilan. Tentu saja pada waktu itu saya tidak menyadari, bahwa kisah-kisah tersebut sungguh terjadi, bahkan berasal dari dalam firman Allah yang hidup. Tetapi yang pasti, hal itu bukan merupakan suatu masalah yang besar bagi saya!
Sebagai seorang anak yang masih berjiwa polos, setiap hari Jum"at saya terus mendengarkan kisah-kisah yang diceriterakan olehnya dengan penuh perhatian, disertai rasa keingin-tahuan yang berkobar-kobar. Kisah-kisah yang membuat saya selalu tidak sabar untuk mengetahui kelanjutan dan akhirnya. Saya masih ingat akan kekecewaan yang saya rasakan, jika kisah tersebut ternyata harus dihentikan setengah jalan, disebabkan oleh karena jam pelajaran agama sudah berakhir.
Selain peristiwa ajaib Natal yang mengawali kisah kelahiran Tuhan Yesus, yang paling membekas di dalam hati saya, adalah kisah klasik pengalaman Yusuf dan kesepuluh kakak-kakaknya. Dan di samping kejadian termasyhur tentang peristiwa pembakaran Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari Kitab Daniel, yang sampai saat ini tidak pernah saya lupakan, adalah kisah raja Belsyazar, seputar kalimat "Mene, mene, tekel ufarsin". (Daniel 5:25)
Sering kali saya bertanya-tanya mengenai segala kemungkinan yang menyebabkan saya merasa begitu tertarik pada ceritera-ceritera kristiani tersebut, melalui pelajaran agama yang ditawarkan oleh Pak Paliyama.
Apakah karena pada saat itu, seperti umumnya anak-anak yang masih kecil, saya gemar mendengarkan kisah-kisah yang diceriterakan oleh orang lain, seperti yang dilakukannya dari depan kelas? Atau, ... apakah karena kepribadian saya yang selalu mengikuti perkembangan buku-buku ceritera dongeng, buku-buku komik, buku-buku silat, bahkan cerpen-cerpen yang ditawarkan oleh koran-koran dan majalah-majalah di Indonesia?
Atau, ... apakah karena sedari kecil saya selalu suka mempelajari irama musik-musik populer, sehingga saya menjadi tertarik pada lagu-lagu rohani yang diajarkan olehnya di sekolah? Atau, ... apakah karena di dalam persepsi kanak-kanak saya, Pak Paliyama adalah seorang (Kristen) yang baik, yang menyebabkan saya mengagumi pribadinya?
Atau kemungkinan yang lain, ... apakah semua itu terjadi, karena firman Tuhan harus digenapi? Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus: "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." (Efesus 1:4)
Taburan benih-benih firman melalui lirik lagu-lagu berdasarkan ayat-ayat Alkitab, dan kisah-kisah menarik yang diambil langsung dari sana, ternyata telah tergores dalam hati. Sekarang sesudah saya lahir baru, pengalaman-pengalaman yang mengawalinya di sekolah tersebut, membawa kembali semua kenangan sangat manis yang terjadi dalam jam-jam pelajaran agama di sana. Bagaimana kami berdoa, bagaimana kami bersama-sama menyanyikan lagu-lagu rohani, dan bagaimana kami sekelas asyik mendengarkan Pak Paliyama berceritera di dalam kelas, ... semua itu tampak amat jelas dalam ingatan saya!
"demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan padanya." (Yesaya 55:11) Firman Allah, yang diluar pengetahuan saya sendiri, sudah menerobos masuk ke dalam hati saya melalui pelayanannya yang amat sederhana, ternyata telah berhasil "menghidupkan" roh saya kembali berpuluh-puluh tahun kemudian, karena semenjak saat benih-benih firman tersebut ditaburkan, mereka tidak pernah meninggalkan saya lagi! Itulah bukti kebenaran kasih karunia Tuhan!
Alhasil, ayat termasyhur ini digenapi dalam kehidupan saya! Dan semua itu terjadi hanya oleh karena jasa bantuan seorang guru, yang bersedia membagikan "Kabar Baik" firman Tuhan kepada murid-murid di sekolah secara amat sederhana, dengan membagikannya seperti apa adanya, seperti yang tertulis di dalamnya.
Semenjak kami sekeluarga memutuskan untuk "memeluk" agama Kristen tidak lama sesudahnya, saya yang masih berusia amat muda, tidak pernah mendapatkan kesempatan seindah itu lagi. Karena itu saya sadar akan pentingnya pelayanan-pelayanan yang tampak sangat tidak berarti pada saat dilakukan, tetapi dapat mempengaruhi dan mengubah kehidupan orang-orang yang terlibat di dalamnya bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin beratus-ratus tahun kemudian!
Pelayanan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan apa-apa yang dapat menguntungkan diri pribadi! Tuhan Yesus mengatakan dalam Injil Yohanes: "Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka." (Yohanes 4:36-38)
Sebelum saya meninggalkan sekolah tersebut, saya sempat menjadi salah seorang dari murid-murid kelas 6 SD yang berada di bawah pengawasan Pak Paliyama.
Saya harus mengakui, bahwa dari semua guru yang ikut mengambil bagian dalam pendidikan saya di sekolah dasar tersebut, hanya dia seorang saja yang telah meninggalkan suatu kenangan manis yang tak terlupakan. Apakah karena ia seorang Kristen yang transparan? Saya tidak bisa menjawabnya! Yang pasti, ia sudah mempengaruhi masa kanak-kanak saya dengan memperkenalkan Tuhan Yesus Kristus sebagai awal persiapan kelahiran baru yang saya alami beberapa tahun yang lalu.
Saya percaya, bahwa pelayanannya yang amat sederhana tersebut juga sudah mempengaruhi kehidupan anak-anak yang lain. Saya mengetahui kenyataan ini, karena kakak-kakak saya, yang pernah menjadi murid-muridnya, menyetujui pendapat saya mengenai guru teladan ini!
Biarlah Tuhan saja yang memberkati Pak Paliyama selalu, dimanapun ia berada. Haleluya!

Belajar Hidup dalam Kerendahan Hati

Penulis : sunanto choa
Mat 11:29 "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan."

Belum lama ini saya membaca sebuah buku tentang kerendahan hati karangan Adrew Murray, seorang hamba Tuhan besar di abad lalu.
Winkie Pratney dalam kata sambutannya untuk buku itu mengatakan bahwa kerendahan hati masih merupakan salah satu kebutuhan terbesar dalam zaman kita.
Begitu banyak buku yang membahas tentang kunci hidup sukses dan diberkati, tapi hanya sedikit yang menempatkan kerendahan hati sebagai syarat untuk mencapai kesuksesan sejati. Kerendahan hati seharusnya menjadi tujuan dan sasaran dalam hidup kekristenan kita sebab itulah kunci untuk menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati.
Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata "praios" ( terjemahan b.Ingris : meek ) yang mana berarti juga lemah lembut. Kata praios juga dipakai dalam salah satu tema kotbah Yesus di bukit ( beatitudes ) yaitu berbahagialah orang yang lemah lembut ( praios) , karena mereka akan memiliki bumi. Para teolog yang ahli bahasa aram ( bahasa yang Yesus gunakan ) memperkirakan maksud Yesus dengan lemah lembut ( meek ) di sini adalah seseorang yang menyerah kepada Allah. Kerendahan hati memang erat kaitannya dengan peyerahan dan ketergantungan total kepada Allah. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus menuliskan tentang buah Roh yang salah satunya adalah kerendahan hati/kelemahlembutan ( praios, praiotes ). Jadi ternyata kerendahan hati juga merupakan salah satu bagian dari buah Roh. Salah satu tanda kedewasaan rohani adalah memiliki buah Roh termasuk salah satunya buah kerendahan hati/kelemahlembutan.
Yesus merupakan tedadan utama kita dalam mempelajari hidup dalam kerendahan hati. Selama hidupNya di dunia ini, Yesus selalu berjalan dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa. Oleh karena itu pelayananNya membawa pengaruh yang begitu besar dan tidak dapat tertandingi oleh siapapun manusia yang pernah hidup di dunia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka dunia ini sudah dikuasai oleh kesombongan dan keangkuhan hidup. Yesus datang dengan bersenjatakan kerendahan hati untuk mengalahkan dan menaklukkan kesombongan tersebut. Kesombongan hanya dapat dikalahkan oleh kerendahan hati.
Walaupun Yesus merupakan anak Raja dari segala Raja namun Ia memilih untuk lahir di kandang yang hina. Lalu Ia juga memilih untuk dilahirkan sebagai anak tukang kayu yang mana bukan pekerjaan terhormat. Selama 30 tahun, Ia juga bekerja sebagai tukang kayu walaupun sebenarnya Ia bisa saja melayani sejak remaja sebab kemampuan dan hikmatNya sudah memungkinkan untuk itu. Namun dengan sabar Yesus menunggu dalam kerendahan hati sampai waktunya (kairos) telah tiba bagi Dia untuk melayani sebagai anak Allah. Salah satu definisi dari kerendahan hati adalah kerelaan untuk mengalami hinaan dan tidak dikenal.
Pada masa-masa terakhir hidupNya di dunia ini, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai lambang kerelaanNya untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Yesus mengatakan kepada para muridNya sebagaimana Aku membasuh kakimu maka kamu wajib saling membasuh kaki yang mana berarti harus saling melayani dan merendahkan diri. Selain berarti kerelaan untuk tidak dikenal, kerendahan hati juga berarti kerelaan untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Kita wajib saling melayani satu dengan yang lain dalam kerelaan bila ingin hidup dalam kerendahan hati. Salah satu bentuk saling melayani tersebut adalah dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.
Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya ( I Ptr 5:6 ). Syarat untuk mendapatkan promosi/peninggian dari Allah adalah hidup dalam kerendahan hati. Bila kita hidup dalam kerelaan untuk tidak dikenal dan melayani orang lain maka Tuhan akan meninggikan kita pada waktunya. Promosi yang sejati datang dari Tuhan bukan dari manusia. Bila Tuhan sendiri yang mempromosikan kita maka tidak ada satupun manusia yang dapat menghalangiNya.
Selain itu hidup dalam kerendahan hati juga akan membuat hidup kita berhasil dan dipenuhi berkat. Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah ( Mzm 37:11). Walaupun bangsa kita sedang dirundung krisis yang sepertinya tiada berujung namun bila kita hidup dalam kerendahan hati maka kita akan mewarisi negeri ini dan menikmati kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Jaminan kita bukan datang dari manusia tetapi datang dari Allah. Tuhan tidak akan pernah gagal menepati janjiNya sebab Ia tidak bisa gagal.
Bill Gothard mengatakan setiap pagi ia membiasakan diri merendahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan. Setiap pagi ia mengakui kelemahan dan ketidaklayakannya kepada Tuhan. Bill berkata, "Bila Saya tidak merendahkan diri maka akan ada orang yang dengan senang hati akan merendahkan saya ". Daripada direndahkan lebih baik kita merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Segala sesutu yang kita lakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan kita. Kebiasaan-kebiasaan dalam hidup kita itulah yang disebut karakter kita. Bila kita membiasakan diri untuk hidup dalam kerendahan hati maka lambat laun kita akan memiliki karakter kerendahan hati. Kerendahan hati bukanlah sebuah karunia Roh melainkan karakter yang harus terus dilatih.
Beberapa waktu belakangan ini saya mulai membiasakan diri merendahkan diri setiap pagi dihadapan Tuhan. Setiap pagi saya mengakui kepada Tuhan semua kelemahan dan ketidakberdayaan saya. Saya mengakui dalam doa betapa saya ini lemah dan rentan terhadap dosa karena masih tersusun dari darah dan daging. Saya memohon kasih karunia dan kekuatan kepada Tuhan agar sepanjang hari bisa hidup dalam kekudusan dan kebenaran. Setelah melakukan kebiasaan itu, saya merasakan adanya sebuah kemenangan dan lebih mudah untuk hidup dalam kekudusan sepanjang hari. Bukan berarti setelah itu tidak ada lagi pencobaan dan godaan tetapi tersedia anugerahNya yang memberikan kekuatan untuk mengatasi setiap pencobaan yang datang.
Kita semua sebenarnya layak binasa karena dosa namun oleh anugerahNya saja kita dibenarkan dan diselamatkan. Semuanya memang hanya karena anugerahNya bukan karena kuat kita. Marilah kita hidup dalam kerendahan hati seperti Tuhan kita, Yesus Kristus !

Bencana dan Waktu

Di hari minggu sore, saya sering berkunjung untung menonton televisi di rumah sepupu saya yang berlangganan TV kabel. Discovery adalah salah satu saluran favorit saya. Kemarin, saya menonton sebuah acara yang sebelumnya juga sudah saya tonton tapi saya tonton lagi dengan seksama karena mempesona, yaitu tentang meletusnya gunung Vesuvius tahun 79 A.D, memusnahkan daerah-daerah di sekitarnya, termasuk kota Pompeii dan Herculaneum.

Gunung dan kota-kota ini berada di kawasan yang sekarang adalah negara Italia. Kota Pompeii yang pada saat itu dikuasai Romawi, dihuni oleh sebagian orang Romawi dan sebagian Yunani dengan populasi sekitar 20 ribu orang. Beberapa hari sebelum Vesuvius meletus, Pompeii seperti layaknya sebuah kota, dipadati rumah-rumah, toko, kuil, hotel, lapangan, serta ramai dengan manusia lalu lalang, berdagang, mengobrol, menonton pertunjukan gladiator, musik, dan sebagainya, bahkan juga segala aktivitas dosa: bertaruh, berselingkuh, dan membunuh. Tak ada yang menduga bahwa beberapa saat dalam waktu sangat singkat mereka semua binasa, orang merdeka maupun budak. Hampir sama dengan warga Aceh beberapa waktu sebelum gelombang Tsunami datang. Tak ada yang menduga bahwa usianya hanya tingal beberapa hari. ("Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh..." Mazmur 90:5) Mereka, warga Pompeii, binasa dalam sekejap dan kerangka serta fosil mereka tersisa sebagai monumen sejarah bagi kita yang hidup. Sehari sebelumnya, seorang wanita cant ik dengan perhiasan dan jubah yang indah, pahlawan yang gagah, pada tanggal 26 Agustus 79, semua menjadi patung batu dan tengkorak. Historia vitae magistra, sejarah adalah guru kehidupan.
Yang saya renungkan adalah, bagaimana rasanya jika di depan mata kita, hujan batu dan lava yang mengalir deras menuju ke arah kita? Atau seperti seorang di Aceh, Thailand atau Sri Lanka yang menatap ombak bergulung menuju ke arah kita? Saat itu deposito, emas dan perak, jabatan dan gelar kita tak ada artinya, tak akan mampu menyelamatkan. Apa yang akan ada di benak saudara? Yang jelas momen itu bukan untuk membahas "Being and Time"-nya Heidegger, bukan pula "The Origin of Species"-nya Charles Darwin, buku-bukunya Karen Amstrong, segala debat teologis, indeks harga saham gabungan hari ini, atau menyesal bahwa kita kemarin lupa membayar perpuluhan.
Apakah yang terjadi pada warga kota Pompeii dan Aceh tak mungkin terjadi pada kita? Saya sadar betul, kalau saya ada di tengah momen dahsyat yang sungguh mengerikan itu, saya tak akan lagi menginginkan gelar akademik impian saya, rumah dengan kebun yang saya dambakan...hanya satu nama saya ingat, Yesus Kristus, karena hanya Dia yang mengatakan "Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tak seorang pun akan sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku." dan satu harapan, namaku ada di Kitab Kehidupan.
Segala produk-produk fashion dan kosmetik mahal yang kita lihat di etalase toko, mobil-mobil mewah di showroom, tak lagi punya makna. Warga Pompeii yang kaya akhirnya harus bernasib sama dengan para budak maupun ternak. "Tetapi dalam segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan, ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan." (Mazmur 49:13)
Kita mungkin sedang tidak mengalami bencana. Tapi bagi tiap orang, hari terakhirnya di dunia ini pasti tiba. Entah kapan. Waktu terus berlalu dan alangkah mengerikannya kalau kita binasa dalam kekekalan!
"Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir." (Yakobus 5:3).
Adakah kita selalu sibuk dengan diri kita sendiri di hari-hari akhir? kita tak tahu kapan Yesus datang tetapi perlu kita sadari, waktunya sudah singkat. Di sekeliling Vesuvius kini, tinggal ribuan warga Italia. Gunung itu tak bisa dikatakan sudah mati. Demikian pula banyak gunung vulkanik di negara kita. Kita tak tahu apakah tsunami tak akan datang lagi. Tapi kita perlu tahu, bahwa kalau kita hidup di dalam Kristus, maka hidup kita untuk Dia dan menjadi bermakna, dan kematian adalah pintu kita untuk selamanya hidup dalam damai sejahtera bersamaNya. Dalam hidup ini, kita tak perlu ketakutan menghadapi hari esok, karena Allah ada bersama dengan kita. "Sungguh hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku," (Mazmur 91:14). Dalam Yesus, hidup jadi punya arti, dan mati pun adalah keuntungan karena kita pulang ke tempat yang terang. Tuhan memberkati.
Sumber: iseloadji

Benih

Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya yang berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon yang besar itu.
Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang.
"Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota?"
"Sepertinya", lanjut sang bocah, "Aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini."
Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah.
Lalu, ia kembali melanjutkan, "Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?"
Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.
"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama."
Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya menjadi mahluk yang sabar."
"Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."
Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.
Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan karena Allah, memang menyiapkan kita menjadi mahluk dengan berbagai kelebihan.
Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil?
Kapankah saat itu akan datang?
Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?
Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan?
Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"?
Tidak Teman. Karena Allah Maha Tahu, bahwa setiap hambaNya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah akan tak pernah lupa dengan itu semua.
Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu.

Berapa Nilainya Jiwa Anda?

Oleh: Mang Ucup
Cobalah renungkan oleh akal sehat anda, apakah anda bersedia sekedar hanya untuk melindungi dua ekor ayam, tetapi dilain pihak harus mengorbankan ribuan ekor ayam-ayam lainnya. Secara itung-itungan matematika ini sudah tidak logis dan tidak masuk diakal, tetapi hal inilah yang terjadi dan dilakukan oleh pihak Israel. Israel ingin melindungi dua jiwa warganya untuk ini mereka tanpa ragu-ragu bersedia mengorbankan ribuan jiwa lainnya dalam perang Libanon. Kebalikannya ketika jaman Hitler jiwa orang Yahudi itu tidak bernilai sama sekali, bahkan jutaan jiwa mereka diambil dengan cara begitu saja seperti layaknya membabat rumput.
Begitu juga untuk hilangnya satu jiwa tentara Amerika entah itu di Vietnam,Irak ataupun Afganistan mereka akan menagih puluhan sampai ribuan jiwa lain sebagai penggantinya. Oleh sebab itulah apakah salah apabila saya mengambil kesimpulan seakan-akan jiwa dari orang Amerika atau Israel itu ada jauh lebih berharga daripada jiwa-jiwa manusia lainnya? Rupanya dimata mereka itu, kalau dibandingkan dengan jiwa bangsa lainnya, tidak ada nilainya, sama seperti juga jiwa nyamuk atau laler begitu.
Jiwa siapa yang lebih bernilai jiwanya Amrozi ataukah jiwanya Tibo. Jiwanya Paus ataukah jiwanya Osama bin Laden. Kalau dilihat dari segi nilai uangnya, maka jiwanya Osama Bin Laden jauh lebih bernilai, buktinya Amerika bersedia untuk membayar puluhan juta AS Dollar untuk mendapatkan jiwanya dari Osama bin Laden.
Seperti juga pepatah: "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya atau lain negara lain pula nilai jiwanya." Lihat saja di Indonesia sekarang ini jiwa rakyatnya itu hampir tidak ada nilainya, sebab dalam kebanyakan kasus nilai jiwa rakyat Indonesia itu dianggap hanya sekedar angka atau nomor saja. Entah rakyatnya meninggal ratusan atau ribuan pemerintah tidak pernah mau gubris atau ambil pusing, misalnya dalam kasus Lapindo maupun dalam kasus-kasus pencemaran lingkungan lainnya. Mereka lebih mementingkan jiwa dari seorang menteri atau konglomerat daripada puluh ribu jiwa rakyatnya.
Bagaimana caranya menilai jiwa seseorang? Jelas jiwa wong cilik itu nilainya sangat murah sekali, masalahnya mana yang mau mengeluarkan uang puluhan sampai ratusan juta khusus untuk melindungi atau mempertahan jiwa dari wong cilik. Beda dengan jiwa dari pejabat ataupun para wong sugih. Lihat saja jiwa Soeharto berapapun biayanya mereka akan usahakan; agar tetap bisa dipertahankan terus.
Ketika Ibu Tien jiwanya melayang, seluruh rakyat Indonesia berkabung selama tujuh hari tujuh malam, apakah hal yang sama akan terjadi apabila Soeharto meninggal belum tentu?
Apakah jiwa seorang itu dinilai berdasarkan status, jabatan maupun kekayaan dari si pemilik jiwa? Saya yakin demikian, sebab berapa banyak dana, waktu maupun personal yang disediakan untuk melindungi jiwanya dari President Bush, beda dengan jiwanya mang Ucup yang nilainya tidak lebih daripada nilainya jiwa si Bleki anjing tetangga, kojor tidak kojor ya podo wae begitu.
Menurut segi pandangan agama jiwa setiap orang itu sangat berharga dipandangan Sang Pencipta, tetapi kebalikannya apabila jiwa manusia itu begitu berharga, kenapa Ia mengirim bencana alam untuk mencabut jutaan jiwa umat-Nya?
Setiap orang dapat menentukan nilai jiwanya melalui usuransi jiwa. Siapa saja berhak dan boleh menilai, bahwa jiwanya itu jauh lebih tinggi maupun lebih berharga daripada jiwa yang lain. Hanya sayangnya satu kenyataan pahit yang kita harus terima entah itu si Bush atau si Ucup jiwa kita itu tidak bernilai sama sekali, karena pada suatu saat akan ia akan pergi menghilang wuuu.usss-Gone with the wind en never kam bek, alias minggat buron begitu saja meninggalkan jasad kita.
Kita tidak akan bisa menilai jiwa kita, sebab jiwa ini bukannya milik kita, melainkan hanya sekedar pinjaman saja dari sang Pencipta
Pada saat jiwa anda meninggalkan tubuh anda, anda ini tidak akan ada nilainya lagi; selain "seonggok daging". Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk terakhir kalinya. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut. Manusia yang tadinya wong cantik, wong pinter, wong kaya akhirnya menjadi "seonggokkan daging busuk dan tulang" yang tak dapat dikenali lagi. Ia akan mengalami akhir yang menjijikkan. Itulah nilainya diri anda dan saya.
Banyak orang yang ngotot pada saat jiwanya mo diambil oleh Sang Pemiliki,kita ngambek, bahkan berusaha dengan berbagai macam cara untuk mempertahankannya, entah melelalui dukun, mukjizat ataupun pergi ke spesialist yang paling canggih di luar negeri. Ini sama seperti kalau kita pinjam buku dari taman bacaan, pada saat waktunya sudah usai maka wajarlah kalau ditagih oleh sipemilik. Kalau tidak mau mengembalikannya dengan alasan apapun juga otomatis kita harus bayar bute. Begitu juga dengan jiwa kita, kalau kita tidak mau mengembalikannya, mungkin kita akan dikenakan sangsi, dimana badan kita jadi lumpuh, alias mati tidak hidup pun tidak.
Apakah anda mempunyai pandangan beda dari mang Ucup ?

Berbagi Ketegaran

Penulis : Lesminingtyas
Ketika komunitas kami mengadakan retret di sebuah villa, seperti biasa teman-teman berubah layaknya celebrities yang suka potret sana potret sini. Seorang teman dengan kamera digital barunya sangat bersemangat memotret setiap polah tingkah temannya. Sangatlah manusiawi jika seseorang senang dengan foto-foto yang menampilkan gambar dirinya dalam pose yang menawan. Namun apa jadinya ketika teman laki-laki kami yang itu diambil gambarnya ketika ia sedang tidur dengan sarungnya yang terbuka, sehingga CDnya yang berwarna abu-abu tampak close up? Tentu saja ia akan sangat malu. Lebih malu lagi, ketika foto itu menjadi konsumsi umum.

Teman saya yang berwajah tampan mirip Delon dan menjadi idola teman-teman perempuan itu tidak hanya malu, tetapi menjadi marah ketika beberapa "fans" menggodanya dengan panggilan seronok "Sexy nih ye!" atau "Mulus nih ye" atau "Hallo abu-abu!" Saya sangat mengerti ketika Delon itu bermuka masam dan berusaha menyembunyikan wajahnya. Sayang sekali, walaupun ia telah menunjukkan sikap tidak senang, namun tidak seorang pun mempedulikan perasaannya.
Ketika semakin banyak orang mentertawakan fotonya, ia pun menjadi sangat marah. Ia kemudian menegur Didi; teman kami yang memotret dan mempertontonkan foto seronoknya. Melalui SMS Delon merasa keberatan kalau foto seronoknya dipertontonkan untuk umum. Sikap tersebut rasanya tidak berlebihan karena tindakan Didi memang telah melecehkannya.
Sayang sekali si pemotret yang ditegur itu tidak mau mengakui kesalahannya. Ia justru menarik tangan dan memaksa saya untuk membaca SMS dari Delon. Untuk tidak memperpanjang masalah, saya menyarankan si pemotret untuk meminta maaf. Saya yakin, hanya "permintaan maaf" yang bisa menghentikan ketegangan. Namun karena si pemotret tidak merasa bersalah, ia pun merasa gengsi untuk menuliskan kata maaf. Si pemotret itu justru membalas SMS yang berisi pembelaan diri. Saya kembali mengingatkan bahwa Didi boleh saja membela diri, tapi setidaknya tetap meminta maaf dan secara santun terlebih dahulu, baru kemudian mengemukakan alasan tindakannya. Saya menyarankan Didi untuk membalas SMS Delon dengan menuliskan "Maaf, bukan maksud saya.."
Didi yang kebetulan bukan saudara seiman saya itu meremehkan sikap saya yang menurutnya terlalu mudah untuk meminta maaf. Didi mengecam saya sebagai pengecut. Iapun dengan emosi membalas SMS Delon dengan kata-kata "Kayak anak kecil aja lu! Dasar perempuan, beraninya cuma SMS. Maumu apa sih?"
Sekali itu Delon kecewa. Delon yang mengharapkan kata maaf dari Didi, malah menerima kata-kata yang tidak mengenakkan. Delon pun kembali membalas SMS Didi "Maaf, saya hanya mengingatkan bahwa kita tidak boleh melecehkan dan merendahkan martabat sesama. Semoga bapak mengerti"
Didi kembali berang dan membalas SMS Delon "Kalau kamu laki-laki, hadapi saya!" Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Didi yang juga mendapat dukungan dari beberapa teman. Karena provokasi Didi, situasi justru semakin tidak menguntungkan bagi Delon.
Sebagai teman seiman, saya pun menghampiri Delon. Delon pun hanya menunduk malu karena ia tahu bahwa saya sudah melihat posenya yang seronok. Saya yang sudah sering menerima perlakukan tidak adil dan pelecehan dari teman-teman, berusaha menghibur Delon. "Saya tahu Delon tidak salah menegur Didi karena Delon berhak membela diri ketika dilecehkan. Saya kira yang penting kita sudah menyampaikan yang seharusnya kita sampaikan. Soal orang lain mau menerima atau defensive, itu bukan urusan kita. Saat ini Delon masih sakit hati dan marah karena Didi tidak mau minta maaf khan? Kenapa Delon harus menunggu orang lain meminta maaf? Kalau mau survive di komunitas kita, jangan sekali-sekali berharap orang lain mau mengakui kesalahan dan datang kepada kita untuk meminta maaf. Di sini, permintaan maaf sangatlah mahal. Untuk kebaikan kita sendiri, kita sebaiknya proaktif untuk mengampuni tanpa menunggu permintaan maaf orang lain" saya menasehati.
"Tapi dalam kasus ini saya sangat sakit hati Mbak" jawab Delon. "Sakit hati itu manusiawi, tapi jangan pernah berharap orang lain mengerti perasaan kita dan mau datang untuk menyembuhkan luka hati kita. Semakin kita memikirkan sikap teman yang menyakiti kita, luka hati kita justru semakin dalam" kata saya lagi. "Terus apa yang harus saya lakukan?" tanya Delon polos. "Ampuni dan lupakan kesalahan mereka. Kalau perlu kita yang datang kepada mereka untuk meminta maaf sekaligus memberi tahu bahwa kita sudah mengampuninya" saya menyarankan. "Ya, saya tahu itu memang sikap yang paling bijaksana. Tapi mereka juga perlu dididik supaya menjadi baik" Delon masih belum menerima sepenuhnya. "Kenapa harus menuntut orang lain untuk berbuat baik? Tugas kita hanya mengingatkan kesalahan mereka, soal mereka mau mengakui atau mengukuhinya, bukan urusan kita" kata saya. "Uh, benci dech kalau hidup sama orang yang sama-sama sudah dewasa tapi tingkahnya childish seperti itu!" keluh Delon. "Ngapain juga kita memikirkan sikap mereka, sedangkan mereka sendiri tidak pernah mempedulikan perasaan kita. Lagi pula, buat apa kita membenci kalau kita punya Amsal 10:12. yang mengajarkan bahwa kebencian menimblukan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran"
Delon memang bukan orang yang bebal. Ia mudah sekali mendengarkan didikan. Hari berikutnya Delon mendatangi Didi untuk meminta maaf. Delon juga meminta kepada Didi untuk menganggap bahwa tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka. Saya senang sekali melihat Delon yang bersikap ksatria.
Saya pikir sikap Delon yang merendah itu akan membuat Didi menyadari kesalahannya. Sayang sekali, di belakang Delon, Didi masih saja menepuk dada dan tertawa bangga "Akhirnya, anak kemarin sore itu bertekuk lutut juga! Aku kok dilawan!" Saya pun diam tak bersemangat "Oh.dunia! Berapa lama lagi Kasih akan menakhlukkanmu?" desah saya.

Berbuat Baik

Oleh: Yoseph Heriyanto
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." Efesus 2:10
Sering kita mendengar pernyataan bahwa perbuatan baik itu belum tentu dibalas dengan kebaikan pula. Pertanyaannya adalah apakah lantas kita memilih untuk tidak berbuat baik kepada orang lain? Tentu jawabannya adalah tidak.
Perbuatan baik adalah kewajiban bagi semua orang tanpa harus mempertimbangkan alasannya apa, kalau berbuat baik itu memiliki alasan tertentu berarti perbuatan baik yang kita lalukan tersebut bukanlah perbuatan yang tulus. Jika perbuatan baik itu diikuti dengan “pamrih”, maka perbuatan baik itu bukanlah tindakan yang utuh.
Seperti kata pepatah di atas, ketika kita akan melakukan perbuatan yang baik kepada orang lain tetapi di sertai dengan pemikiran bahwa apakah nanti kebaikan saya juga akan mendapatkan balasan yang baik? Apakah ada keuntungannya buat saya ketika saya melakukan kebaikan bagi orang lain? dan apakah orang lain tersebut mau menerima kebaikan saya? Jika kita berpikir demikian, maka selamanya kita tidak bisa melakukan hal yang baik kepada orang lain.
Melalui Efesus 2:10 kita diingatkan kembali bahwa kita diselamatkan Tuhan bukan untuk menjadi orang yang pasif, melainkan kita dituntut untuk menjadi orang yang aktif. Aktif dalam hal apa? Aktif dalam hal melakukan pekerjaan baik. Melakukan perbuatan yang baik kepada orang lain adalah perwujudan iman yang aktif seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.
Yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana dengan tindakan kita di dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang yang sudah diselamatkan Tuhan?
Sudahkah kita melakukan tindakan atau perbuatan yang baik? Ataukah sebaliknya, kita seringkali menjadi batu sandungan dan tidak menjadi berkat bagi orang lain.
Marilah kita senantiasa melakukan perbuatan yang baik bagi kehidupan orang lain dengan terus mengingat bahwa Tuhan telah terlebih dahulu melakukan kebaikan dalam hidup kita dan telah menyelamatkan kita. Dimanapun kita berada, baik di lingkungan tempat kita belajar, tempat kita bekerja, dan bahkan di manapun tempat kita bersosialisasi/berkomunikasi dengan orang lain, tebarkanlah benih-benih perbuatan yang baik. Sehingga dengan kehadiran kita di manapun, dalam situasi apapun, orang lain diberkati.
Amin.
Bersikaplah ramah dan berbuat baik kepada semua orang. Sebab, barangkali di balik pakaiannya yang sederhana mereka menyimpan sayapnya yang perkasa.

Berkat Sejati

Oleh:Sion Antonius
Pada waktu berdoa kita sering berkata, Tuhan berkatilah hidup kami, Tuhan berkatilah pekerjaan kami, Tuhan berkatilah gereja kami dan seterusnya. Kata berkat itu menjadi sangat penting dan ketika diucapkan dalam kegiatan yang bersifat rohani maka menjadikan situasi menjadi sangat religius dan agung. Banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi orang yang diberkati. Namun pernahkah kita berdiam diri dan merenungkan arti kata berkat dengan sangat mendalam?
Pengertian kita tentang konsep berkat pada umumnya adalah sangat dangkal bahkan cenderung hanya merupakan ungkapan nafsu serakah akan materi. Orang Kristen ketika berpikir untuk meminta berkat kepada Tuhan, maka berkat yang diharapkan adalah curahan materi yang berkelimpahan. Saat kita berdoa Tuhan berkatilah hidup kami maka yang diharapkan adalah adanya curahan materi yang banyak berupa uang. Jika setelah berdoa dan kemudian ada curahan uang yang banyak pada rekening, maka saat itulah kita merasa mendapat berkat. Demikian pula dengan pekerjaan, kita merasa mendapat berkat apabila pekerjaan itu menghasilkan uang yang banyak. Gereja kita mendapat berkat tatkala bisa memperluas gedung dan membeli tanah karena banyaknya uang yang ada pada kas. Pikiran seperti inilah yang saya maksud dengan dangkal dan ungkapan nafsu serakah. Pandangan orang mengenai berkat semata-mata hanyalah mengenai berapa banyak uang yang bisa saya peroleh. Jika kita mendapat berkat materi maka ada fenomena yaitu itulah orang yang diperkenan oleh Tuhan. Semakin seseorang menjadi kaya maka semakin orang lain dan dirinya sendiri merasa sebagai orang yang baik dihadapan Tuhan.
Istilah orang baik di sini merujuk pada satu kondisi yaitu sebagai orang yang saleh di bandingkan orang yang lebih miskin materi. Kita harus mengerti berkat itu tidak identik dengan uang atau kekayaan. Namun pandangan ini tidak banyak yang bisa mengertinya, karena pandangan orang pada umumnya adalah seperti fenomena yang sudah saya sebutkan, jika kaya maka dia adalah orang yang diberkati oleh Tuhan. Dan kita juga kemudian terjebak pada pemikiran jika seseorang miskin pasti tidak diberkati Tuhan. Mengapa orang pada umumnya dapat setuju pada fenomena seperti ini? Saya beri 2 alasan yang sederhana, pertama: ketika ada yang diminta untuk memberikan kesaksian, maka seringkali adalah mereka yang memiliki keberhasilan di bidang bisnis, keberhasilan orang ini membuat orang yang menyaksikan digiring untuk berkesimpulan itulah orang yang diberkati Tuhan. Dari kesimpulan ini menimbulkan kesimpulan lain yaitu di dalam gereja orang miskin posisinya sangat kurang dihargai. Alasan kedua: coba lihat daftar pemberi persembahan, maka pada umumnya diurut dari pemberi yang terbesar hingga yang terkecil. Mungkin ada yang beralasan itu hanya untuk memudahkan saja dalam menyusun laporan. Saya pikir alasan ini tidak cukup kuat untuk mendukung pendapat tersebut. Alasan yang sesungguhnya adalah karena mereka yang memberi persembahan dengan angka besar adalah orang-orang yang dipandang penting dalam gereja, mereka dipandang sebagai kelompok orang yang diberkati, sehingga dihormati, oleh karenanya mereka harus berada dalam daftar paling depan.
Saya pikir 2 alasan tersebut sudah bisa menggambarkan betapa terhormatnya menjadi orang kaya. Dua alasan sederhana yang sudah saya sebutkan ini sudah bisa cukup untuk memicu orang-orang Kristen juga untuk berlomba-lomba menjadi orang kaya secara materi. Untuk mendukung fenomena tersebut masih banyak alasan yang lainnya, saya tidak akan menuliskannya lebih banyak. Jika sudah tahu fenomenanya bagaimana dengan faktanya? Faktanya adalah justru seringkali orang kaya itu mempunyai moralitas dan etika yang amburadul. Moralitas dan etika dalam menjalankan bisnisnya ketika ditelusuri banyak yang tidak sesuai dengan ajaran dalam Alkitab. Dengan fakta seperti ini apakah bisa ditarik kesimpulan bahwa orang kaya adalah orang yang lebih istimewa di hadapan Tuhan? Di hadapan Tuhan belum tentu, tapi dihadapan manusia adalah ya. Ayub kaya dan dia istimewa di hadapan Tuhan, tapi tidak berarti setiap orang kaya istimewa dihadapan Tuhan. Janda miskin bisa lebih berharga di hadapan Tuhan.
Nafsu serakah manusia ini sulit dibuat menjadi lebih benar, karena dasar pemikirannya yang sudah keliru yaitu banyaknya materi sebagai bukti akan begitu baiknya hubungan dengan Tuhan. Nafsu yang serakah ini semakin mendapat dukungan oleh karena adanya kesaksian dari orang-orang yang menjadi kaya karena ikut Tuhan. Mereka menebarkan pesona betapa indahnya menjadi kaya dan disayang Tuhan. Padahal Alkitab mencatat ketika seorang muda yang kaya datang kepada Yesus, dia disuruh menjual seluruh hartanya dan mengikut Dia. Bukan orang kaya yang disayang Tuhan, tetapi mereka yang taat kepada kehendaknya. Konsep berkat bagi orang Kristen harus lebih mulia, lebih agung daripada hanya sekedar uang. Seandainya kita berdoa berkatilah hidup kami, maka kalaupun tidak ada curahan materi yang berkelimpahan, tapi memiliki istri/suami yang mengasihi keluarganya, bukankah ini juga berkat? Sebagai orang tua yang anaknya mau belajar dengan sungguh-sungguh di sekolah tanpa menghamburkan biaya, apakah itu bukan berkat? Dianugerahi kesehatan yang baik sehingga tidak pernah berobat ke dokter, masihkah tidak merasakan ini sebagai sebuah berkat? Istri/suami yang baik, anak yang baik, kesehatan yang baik itu adalah berkat yang seharusnya diterima dengan rasa syukur kepada Tuhan.
Manusia pada umumnya, termasuk orang Kristen juga terkadang tidak menyadari bahwa setiap detik dalam kehidupan manusia adalah berkat. Manusia diciptakan Tuhan dan diberi tempat dalam dunia ini pada saat Dia sudah menyelesaikan penciptaan alam semesta. Manusia adalah ciptaan yang paling terakhir, hal ini supaya ciptaan ini bisa melangsungkan kehidupan dengan kondisi alam yang mendukung mereka dapat bertahan hidup. Jadi ketika manusia dapat hidup di dunia, dia hidup berdasarkan berkat-berkat dari Tuhan. Jikalau Tuhan tidak mengatur kondisi planet bumi sedemikian rupa, maka manusia tidak dapat hidup di dalamnya. Celakanya manusia seringkali tidak menyadari adanya berkat ini, kehidupan di dunia ini dipandang sebagai sebuah keadaan yang biasa saja. Ketika menghirup oksigen tidak dirasakan sebagai berkat. Baru ketika sakit dan harus membeli oksigen supaya dapat bernapas dengan lancar dan memerlukan biaya yang sangat mahal, kita menyadari oksigen adalah berkat. Betapa sempitnya pikiran kita dalam memandang berkat dari Tuhan, sehingga banyak hal yang berseliweran dalam kehidupan yang harusnya diakui sebagai berkat tapi kita tidak merasakan itu sebagai berkat.
Berkat dari Tuhan itu bukan semata-mata kekayaan materi saja. Berkat Tuhan itu luas dan dalam tidak dapat diukur dan dibatasi oleh pemikiran manusia. Bahkan ada sebuah berkat yang jarang dirasakan sebagai berkat, bahkan oleh orang Kristen sekalipun, berkat itu adalah pemulihan hubungan antara manusia dengan Allah, itu adalah BERKAT SEJATI yang seharusnya paling dikejar oleh umat manusia. Berkat itu adalah Yesus Kristus sendiri. Berkat ini ironisnya adalah yang paling dihinakan bahkan dianggap tidak bernilai dan tidak berguna oleh banyak orang. Mengapa orang tidak menghargai berkat yang berupa pemulihan hubungan antara Allah dan manusia? Ini karena perbedaan pandangan antara Allah dan manusia terhadap dosa. Manusia memandang dosa bukan hal yang fatal dalam hubungan dengan Allah. Manusia mengira dosa seperti sebuah kesalahan biasa yang bisa mudah diperbaiki.
Ilustrasinya seperti ini, dalam sebuah ulangan matematika seseorang mendapat nilai ulangan 80, dia salah dalam 2 soal, kesalahan pengerjaan ini membuat dia berpikir lain kali dia tidak akan mengulang kesalahan itu, dan di sisi lain dia berpikir toh nilainya masih cukup untuk lulus ujian. Cara berpikir seperti ini dijadikan sama untuk masalah dosa, manusia berpikir jika saya berdosa dan bisa memperbaikinya (dengan cara mohon pengampunan dan tidak mengulanginya) maka dosa bisa diselesaikan. Penyelesaian masalah dosa dianggap seperti soal keliru biasa dalam perbuatan kemudian diperbaiki dengan gampang. Pengampunan dosa selalu Tuhan sediakan namun akibat dosa selalu harus ada pertanggungan jawabnya, contohnya adalah dosa yang dibuat oleh Daud, dia mendapat pengampunan, namun ada akibat yang harus ditanggungnya.
Konsep tanggung jawab terhadap dosa ini sering dilupakan orang. Kemudian manusia juga berpikir, jika saya dosanya cuma 2 dan yang benarnya 8, bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk dikategorikan sebagai orang benar? Manusia memandang dirinya masih cukup baik dihadapan Allah, yang jahat adalah pembunuh, pencuri, penipu, penzinah, pemerkosa dan kejahatan lainnya, apabila tidak melakukan kejahatan tersebut maka dia merasa sebagai orang baik. Membuat sederhana masalah dosa juga terjadi pada Adam dan Hawa, saat mereka berdosa Alkitab hanya mencatat mereka malu, tapi tidak dicatat mereka berupaya mencari jalan untuk menyelesaikan dosanya, mereka hanya bisa diam dan solah-olah berkata, ya sudahlah, wong sudah terjadi. Sedangkan di pihak Allah, dosa itu sangat fatal dan Dia jijik karenanya. Saya mencoba menggambarkan jijiknya dosa. Pernah menonton acara Fear Factor? Dalam acara itu seringkali peserta yang ikut harus makan makanan yang menjijikkan. Ketika peserta memakannya ada yang muntah dan jijik. Seperti itulah Allah memandang dosa kita yang menjijikkan. Dia ingin memuntahkan kita, karena kita begitu menjijikkan dihadapanNya. Dosa sedemikian najis dihadapan Allah, maka Dia tidak bisa kompromi dengan dosa. Perbedaan pandangan ini membuat adanya jurang yang sangat dalam antara manusia dan Allah dalam memandang dosa.
Perbedaan ini membawa perbedaan juga ketika melihat berkat Allah dalam penebusan dosa. Banyak orang Kristen yang juga salah menilai tentang masalah dosa. Tidak sedikit orang Kristen merasa Allah terlalu berlebihan dalam penebusan dosa, mereka merasa tidak terlalu jahat dalam dunia ini. Sehingga penebusan Yesus di kayu salib membawa akibat yang biasa saja bagi banyak orang Kristen. Jika diadakan survey maka dapat dipastikan sangat sedikit orang Kristen yang bersyukur karena sudah di tebus dosanya. Mereka juga seringkali sangat puas dan bangga dengan pelayanannya, seolah-olah Tuhan pasti berkenan, mengganti kekudusan dengan pelayanan, yang pelayanannya banyak pasti lebih kudus dihadapan Tuhan. Jadi ketika sudah menjadi orang baik, maka orang Kristen merasa pantas kalau Tuhan memberkati mereka dengan materi yang berkelimpahan. Orang Kristen tidak merasa puas akan berkat penebusan dosa tapi minta lebih banyak berkat lagi yang lain, karena apa? Sebab orang Kristen merasa layak dihadapan Tuhan.
Segala hal yang dianggap perbuatan baik oleh manusia adalah sampah dihadapan Allah. Banyak upaya manusia dilakukan untuk memperkenan hati Allah. Manusia mencari kebenaran akan tetapi selalu tidak memperoleh kesimpulan akhir yang memuaskan. Jika akhirnya manusia berkesimpulan sudah menemukan kebenaran, sebenarnya itu adalah kesimpulan yang salah, karena ketika manusia berkesimpulan mereka tidak berdasarkan nilai-nilai yang ditetapkan oleh Allah. Kesimpulan itu dibuat berdasarkan apa yang dipandang benar oleh manusia tentang apa yang dikehendaki oleh Allah.
Saya ingin memberikan ilustrasi yang sederhana, seorang ayah pergi ke sebuah rumah makan, kemudian anaknya memberikan mie bakso si ayah tidak memakannya, memberikan lagi ayam goreng, lagi-lagi tidak dimakan, diberikan lagi gado-gado, ayahnya semakin tidak mau makan, akhirnya ayahnya bicara dia mau bubur polos saja, anaknya protes, makan bubur kurang kenyang, ayahnya lalu berkata bahwa gigi palsunya tertinggal, jadi kalau mau makan hanya bisa bubur polos saja yang tinggal di telan beres. Dari ilustrasi ini kita melihat bahwa upaya anaknya adalah sia-sia, karena yang menentukan standar bisa dimakan atau tidak adalah si ayah. Ilustrasi ini tidak bisa menggambarkan hubungan manusia dan Allah, tetapi saya ingin mengilustrasikan bahwa kehendak Allah itu tidak bisa diselami oleh manusia, karena untuk memahami manusia lainnya saja kita sudah tidak mampu apalagi memahami jalan pikiran Allah. Upaya manusia memperkenan hati Dia hanyalah kesia-siaan, karena standarnya hanya milik Allah. Allah sendiri yang menentukan bagaimana manusia berdosa dapat diselamatkan. Manusia tidak bisa menebak-nebak apa kira-kira yang Allah suka supaya mereka diperkenan. Allah tidak sama dengan manusia, sehingga Dia bisa ditawari sesuatu oleh manusia supaya manusia mendapat belas kasihan. Manusia masih beranggapan dapat mengalahkan iblis, namun Allah menentukan bahwa yang dapat mengalahkan iblis hanyalah Dia sendiri.
Jika Allah tidak berinkarnasi menjadi manusia maka persoalan dosa itu tidak dapat selesai. Standar ukuran keberhasilan penyelesaian masalah dosa adalah ditentukan oleh Allah bukan oleh manusia.. Allah berkata Aku adalah Aku apa maksudnya? Ini berarti Allah yang berdaulat dan sebagai standar yang tertinggi, keputusannya adalah mutlak, kehendaknya bebas dari intervensi siapapun. Allah hanya tunduk pada diriNya sendiri. Jadi kematian Yesus Kristus di atas kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga itu adalah standar yang telah Allah tentukan supaya manusia ditebus dari dosa, itu artinya BERKAT SEJATI untuk umat manusia. Manusia boleh untuk tidak mendapat berkat yang lainnya, namun mereka tidak boleh kehilangan berkat yang satu ini. Berpikir untuk mengerti Yesus Kristus sebagai berkat harus dimulai pada saat manusia jatuh ke dalam dosa. Ketika manusia berdosa maka Allah pencipta bisa saja menghancurkan Adam dan Hawa, lalu menciptakan manusia yang baru. Bagi Allah tindakan ini sah-sah saja, karena Dia adalah yang memiliki kedaulatan. Ciptaannya mau diapakan, itu adalah hak Allah. Namun Allah tidak bertindak seperti itu, tetapi membiarkan kisah manusia itu berlanjut. Adam dan Hawa dibiarkan hidup bahkan berkembang biak sesuai dengan perintahnya. Bahkan Allah memberi kejutan yaitu pada saat Adam dan Hawa berdosa, Dia membuat sebuah janji yaitu ada penebusan dosa, iblis akan dikalahkan, ini dimeteraikan melalui janji sulung. Saya sudah menuliskan bahwa berkat Tuhan itu luas dan dalam tidak dapat kita selami.
Bagaimana kita bisa mengerti, manusia yang gagal tapi Allah masih merencanakan karya yang agung? Ketika Allah berjanji untuk menyelesaikan masalah dosa manusia, maka itu membawa sebuah akibat yaitu hanya Allah sendiri yang dapat memenuhi janjinya. Manusia tidak dapat menyelesaikan masalah dosa, karena mereka sudah kalah, sudah berada dalam kekuasaan iblis. Allah sendiri yang harus merebut manusia dari kuasa iblis. Allah harus pergi untuk mengalahkan maut. Untuk mengalahkan maut maka Allah harus menjadi manusia yang tidak berdosa dan mati di salib. Inilah yang dimaksud dengan rencana Allah yang luas dan dalam tak terselami oleh akal manusia. Namun Yesus Kristus yang sudah mengalahkan maut ini, tetaplah dipandang sebelah mata, banyak manusia yang menghinakan karya keselamatannya. Manusia tetap lebih suka mencari jalan sendiri untuk mendapat belas kasihan dari Allah. Pengorbanan Yesus Kristus untuk menjadi penyelesai masalah dosa dianggap terlalu gampang dan murah. Padahal Yesus melakukan karya keselamatan ini bukan karena gampang dan murah, akan tetapi karena terlalu sulit dan mahalnya penebusan dosa ini sehingga Allah sendiri yang harus berinkarnasi menjadi manusia.
Allah yang sedemikian otonom, juga dikatakan Maha Adil, oleh karenanya Dia mempunyai standar dimana semua orang dapat kesempatan yang sama untuk memperoleh penyelesaian dalam masalah dosa. Penyelesaian itu oleh Allah di cantumkan dalam Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Undangan dari Allah ini ditanggapi oleh banyak manusia dengan tawar hati dan sinis, mereka tidak percaya bahwa dosa dapat diselesaikan dengan cara yang sangat mudah, yaitu percaya kepada Yesus. Mudahnya cara penyelesaian dosa bukan berarti Allah bertindak dengan cara murahan, tetapi sekali lagi harus dingat, hal ini karena terlalu mahalnya upaya penyelesaian dosa, sehingga Allah harus memberikannya dengan cuma-cuma. Bagi manusia mungkin terlalu mudah tapi tidak bagi Allah. Bagi Allah itu adalah tindakan yang sangat sulit, sehingga Yesus di taman getsemani, berdoa hingga keringatnya seperti darah. Apa yang dialami Yesus ini dikarenakan pecahnya pembuluh darah oleh karena pergumulan yang sedemikian beratnya, sehingga pada butiran keringat juga ada darah, secara medis disebut hemohidrosis. Jika penebusan adalah perkara yang gampang maka tidak mungkin Yesus mengalami keadaan ini.
Berikut saya akan menggambarkan betapa sakitnya pada waktu puncak Allah menebus dosa manusia melalui penyaliban. Kita mulai dahulu dengan hukuman salib. Penyaliban adalah salah satu jenis hukuman mati untuk kejahatan yang berat dan bagi warganegara bukan Romawi. Hukuman salib itu bukan hanya untuk membuat seseorang menjadi mati, tetapi melalui hukuman salib itu seseorang yang dihukum mati juga di inginkan supaya mengalami penderitaan yang sangat hebat. Semakin orang yang disalib mengalami penderitaan maka tujuan hukuman itu menjadi semakin tercapai. Jadi tujuan utama salib adalah membuat seseorang sangat menderita sebelum mengalami kematian.
Penderitaan untuk yang mendapat hukuman karena di salib adalah karena keluarnya darah secara sedikit demi sedikit sehingga membuat suplai oksigen menjadi tidak maksimal, akibatnya orang yang di salib harus mengerahkan segenap daya untuk bisa bernapas. Upaya ini membuat paru-paru dan jantung bekerja dengan keras dan mengalami sakit yang luar biasa pada saat mengambil napas. Jika sudah sampai pada puncaknya diharapkan orang yang di salib itu mati karena kekurangan oksigen yang berakibat gagal jantung. Penderitaan lainnya adalah tangan dan kaki yang dipaku. Apakah kita pernah tertusuk sesuatu hingga berdarah? Saya pernah disuntik vaksin dimana akibatnya selama 1 minggu tangan menjadi bengkak dan sakit sekali. Dalam penyaliban paku yang di tusukkan pada tangan (banyak yang menganalisa pada pergelangan) adalah berukuran sangat besar supaya bisa mengakibatkan pendarahan dan dapat menyangga tubuh. Dengan paku yang besar seperti itu maka sakit yang ditimbulkan pastilah sangat luar biasa. Rasa sakit semakin bertambah disebabkan Tuhan Yesus yang sedang di salib tidak bisa diam begitu saja, karena untuk bernapas Dia harus menggerakkan seluruh tubuhnya, bergeraknya tubuh ini mengakibatnya sakit yang semakin timbul pada tangan dan kaki yang di paku. Tubuh yang harus bergerak ketika mengambil napas itu, juga membuat punggung yang penuh luka bekas dicambuk memakai paku kecil pada ujungnya, mengalami gesekan, punggung inipun mengalami sakit amat sangat yang tak terbayangkan. Yesus yang di salibkan sungguh-sungguh mengalami penderitaan yang sangat….sangat…. tak tertahankan. Pada saat menonton visualisasi penderitaan Yesus dalam film The Passion of The Christ, saya membutuhkan waktu jeda hingga beberapa minggu untuk dapat menonton dari awal hingga akhir, saya tidak sanggup menonton penderitaan yang sedemikian hebat.
Jika kita sudah memahami penderitaan yang begitu hebat dari Tuhan Yesus supaya kita dapat ditebus dari dosa. Jika kita tahu bahwa menebus manusia dari dosa adalah sedemikian mahalnya karena harus ditebus oleh nyawa. Jika kita tahu bahwa pemulihan hubungan manusia dan Allah adalah berkat yang paling agung. Apa respon kita?
PERTAMA: penebusan dosa bukanlah untuk orang lain, pada waktu Yesus disalib itu adalah untuk saya, bukan untuk dia, bukan untuk mereka. Manusia berdosa yang menjijikkan dihadapan Allah adalah saya. Setelah ditebus dari dosa maka saya adalah orang yang diberkati Tuhan. Berkat ini yang utama maka jika saya tidak mendapatkan berkat yang lainnya, saya tetap bersyukur kepada Tuhan.
KEDUA: bersyukurlah senantiasa, apapun keadaan kita. Baik ketika banyak berkat materi maupun jika tidak memiliki materi yang banyak.
KETIGA: sebagai orang Kristen hendaknya bertobat dan menjadi orang-orang yang memandang hidup bukanlah untuk mencari keberhasilan secara materi. Kekayaan itu ada gunanya untuk hidup kita, tapi biarlah itu bukan menjadi tujuan utama hidup selama berada di dalam dunia. Konsentrasi orang Kristen bukanlah untuk mendapatkan berkat materi lagi, karena bagi setiap orang percaya Allah tidak akan lalai menjaga kita. Orang Kristen sudah mendapat berkat yang terbesar, oleh karenanya ambisi kita di dunia hendaknya tidak berfokus pada mencari kesenangan duniawi. Berkat materi haruslah menjadi urusan yang tidak kita pentingkan lagi. Tujuan mengikut Tuhan Yesus hendaknya bukan lagi supaya menjadi orang kaya, ini karena adanya konsep berpikir Dia adalah Raja dan kita anaknya pasti juga seperti raja.
KEEMPAT: pengorbanan Yesus di kayu salib adalah berkat yang mahal oleh karenanya kita harus menjadikan diri kita sebagai berkat untuk orang lain. Jadikan diri kita menjadi tempat dimana orang lain bisa merasakan berkat dari Tuhan. Jikalau kita diberi berkat materi, cobalah untuk membagi berkat itu melalui pelayanan yang bersifat menolong orang lain, jangan hanya memakai materi untuk kepuasan diri sendiri. Dalam merayakan JUMAT AGUNG dan PASKAH, seharusnya kita bisa lebih memahami kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus. Dan dengan meneladani kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus maka konsentrasi utama dari orang percaya adalah bagaimana mengupayakan orang lain yang belum mendapatkan BERKAT SEJATI yaitu Yesus Kristus, bisa juga memperolehnya. Hidup bukan hanya untuk diri sendiri atau untuk keluarga sendiri atau gereja kita saja, tapi bagaimana menjadi saksi-saksi Kristus kepada dunia.

Berpikir Negatif Tidak Menguntungkan

Penulis : Andrew Ho
"No empowerment is so effective as self-empowerment. In this world, the optimists have it, not because they are always right, but because they are positive. Even when wrong, they are positive, and that is the way of achievement. - Tidak ada kekuatan yang paling efektif dibandingkan kekuatan dari dalam diri sendiri. Di dunia ini, hanya orang-orang optimis yang mempunyai kekuatan besar. Bahkan ketika segalanya berjalan keliru, mereka tetap positif dan itulah jalan menuju prestasi." (David Landes - California)

Berdasarkan beberapa penelitian ilmiah disimpulkan bahwa berpikir negatif memberikan pengaruh buruk yang lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. Salah satu pengaruh berpikir negatif adalah melemahkan sistem kekebalan tubuh. Berpikir negatif juga menyebabkan seseorang tertekan dan kehilangan banyak energi. Dampak yang lebih buruk dari berpikir negatif adalah mengakibatkan seseorang tidak mampu lagi berbuat sesuatu untuk menciptakan prestasi maupun kebahagiaan.
Kisah asmara sepasang muda-mudi berikut ini menjelaskan bagaimana pikiran yang negatif menyebabkan kisah asmara itu kandas begitu saja.
Tragedi itu bermula ketika pemuda tersebut harus pergi berjuang ke medan perang. Pada saat menghadapi peperangan, kaki kanannya putus terkena bom. Ia merasa tidak lagi pantas memiliki gadis pujaan hati karena cacat kaki.
Terpaksa ia meminta bantuan temannya agar memberitahu kekasihnya itu bahwa ia sudah gugur di medan peperangan. Pasca kejadian itu, ia justru melalui hari-hari dengan keputusasaan, karena ia masih sangat mencintai wanita itu. Hingga suatu ketika ia mendengar bahwa mantan kekasihnya akan segera menikah.
Pemuda tersebut merasa senang bercampur sedih. Di satu sisi ia senang kekasih hatinya sudah dapat menemukan pengganti, tetapi ia sedih karena kekasihnya akan segera menjadi milik orang lain. Pemuda tersebut ingin melihat mantan kekasihnya tersenyum bahagia. Ia sengaja datang pada acara pernikahan dan terus memperhatikan wanita itu secara diam-diam.
Tetapi ia sangat terperanjat ketika melihat calon suami kekasihnya itu. Sebab pria itu adalah teman seperjuangan yang terputus kedua kakinya akibat perang. Pemuda tersebut sangat menyesal mengapa dulu ia berpikir negatif dan terburu-buru memutuskan untuk mengundurkan diri karena kakinya terputus satu. Mengapa ia tidak menemui kekasihnya terlebih dahulu dan menanyakan secara langsung? Tetapi semua sudah terlambat, pemikiran negatif hanya meninggalkan penyesalan.
Kisah tersebut sebenarnya menegaskan bahwa kita seharusnya memikirkan kemungkinan terbaik terlebih dahulu, sebelum memikirkan kemungkinan terburuk. Sebab apa yang terjadi di depan nanti mungkin jauh lebih baik dari apa yang kita pikirkan. Semoga kita mempunyai satu kesamaan pendapat bahwa berpikir positif itu jauh lebih menguntungkan.
Karena itu budayakan berpikir positif dalam hidup Anda. Kemampuan berpikir positif terbentuk oleh kebiasaan-kebiasaan yang positif pula.
Berikut ini merupakan tips mengkondisikan diri agar setiap saat berpikir positif.
Tips yang pertama adalah mengurangi informasi negatif.
Mungkin Anda cenderung lebih sering mendengar berita tentang tragedi maupun tindak kejahatan, penindasan, penyelewengan dan lain sebagainya. Tetapi berita tentang keharmonisan, kepedulian, kejujuran dan cinta kasih seringkali luput dari perhatian. Maka mulai saat ini kurangi informasi tentang hal-hal yang negatif. Pada saat yang sama, konsumsi berita-berita yang membangkitkan optimisme. Ada baiknya jika Anda berusaha bergaul hanya dengan orang-orang yang secara pasti memberikan masukan positif terhadap cara berpikir. Brian Tracy mengatakan, "Get around the right people. Associate with positive, goal-oriented people who encourage and inspire you. - Bergaulah dengan orang yang tepat. Bekerjasamalah dengan orang yang positif, yang berorientasi kepada hasil, mereka yang membangkitkan semangat dan menginspirasikan banyak hal kepadamu." Dengan demikian, lambat laun cara berpikir Anda akan lebih positif.
Tips yang kedua adalah memfokuskan diri hanya kepada hal-hal yang positif.
Dalam hal ini Anda dituntut untuk lebih mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa. Daripada memikirkan tentang sesuatu yang hilang dalam hidup, akan lebih baik bila Anda membuat daftar anugrah Tuhan YME yang membuat Anda merasa lebih bersyukur.
Contohnya jika Anda sedang kesal atas kemalangan yang menimpa, mungkin berupa ban kempes, macet, pekerjaan belum beres, kehilangan dan lain sebagainya. Daripada terus memikirkan kemalangan itu, apakah tidak sebaiknya Anda merenungkan betapa besar anugrah Tuhan Yang Maha Esa, karena keajaiban kerja milyaran sel dalam tubuh Anda. Anugerah itu memungkinkan Anda tetap bernafas, melihat, mendengar, dan lain sebagainya. Pada saat itulah, Anda akan dapat merasakan bahwa kemalangan yang sedang Anda alami tidaklah seberapa dibandingkan anugrah Tuhan YME. Sehingga Anda dapat berpikir positif lagi dan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Tips selanjutnya adalah menerima kejadian apa adanya dan menghilangkan kesan negatif atau trauma.
Namun jika trauma itu benar- benar sulit dihilangkan, bukan berarti itu merupakan tanda-tanda kelemahan Anda. Cobalah sekali lagi memikirkan solusi-solusi konstruktif dan melakukan sesuatu yang memudahkan usaha Anda melupakan segala trauma atau kesan negatif.
Sebaiknya praktekkan beberapa tips tersebut minimal dalam kurun waktu satu bulan. Pada saat itu Anda dapat menilai bahwa cara berpikir sangat menentukan apakah Anda mampu memperoleh hasil negatif ataukah positif. Kata Zig Ziglar, "It"s not the situation, but wheather we react (negative) or respond (positive) to the situation that"s important. - Bukan persoalan situasinya yang tidak tepat, yang terpenting adalah bagaimana kita mereaksi atau merespon situasi tersebut." Pada saat yang sama Anda akan dapat menilai apakah benar berpikir positif sangat memudahkan Anda menjalani kehidupan ini?
Setelah itu barulah Anda boleh memutuskan untuk berpikir negatif ataukah berpikir positif saja. Saya sangat yakin Anda mengerti mana yang harus dipilih!

Berpikir Sederhana

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, "untuk ada merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?"
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, "Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia." Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh, tetapi ternyata, ah... kijang.
Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, "Rusa!!!" sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.
Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga.
Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Demikian juga dengan seseorang yang bergumul dengan pasangan hidup yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.
Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat. Kita tentunya perlu mempunyai harapan dan idealisme supaya tidak asal tabrak. Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar manusia dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara besar dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect yang memenuhi semua idealisme kita. Berpikirlah sederhana.

Bersepeda Bersama Yesus

Penulis : Deisy
Pada awalnya, aku memandangTuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.

Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.
Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi ? biasanya, hal itu tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya!
Terkadang rasanya seperti sesuatu yang "gila", tetapi Ia berkata, "Ayo, kayuh terus pedalnya!"
Aku takut, khawatir dan bertanya, "Aku mau dibawa ke mana?" Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan.Dan ketika aku berkata, "Aku takut!" Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.
Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan ? orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan ? Perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.
Kemudian, Yesus berkata, "Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita. "Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.
Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung ditikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh ? menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.
Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata ? "Mengayuhlah terus, Aku bersamamu."

Berserah kepada Rancangan Tuhan

Oleh: Agung
"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN."Yesaya 55:8.
Ayat diatas dengan tegas menjelaskan bahwa rancangan Allah tidak sama dengan rancangan manusia. Bagi orang Kristen ayat ini pasti sudah tidak asing lagi. Tanpa dihafalpun sudah terhafal sendiri karena terlalu sering di dengar. Dikatakan memang mudah tapi dipraktekkan sangat sulit. Saya jadi teringat apa yang ditulis Yohanes ketika di pulau Patmos. Wahyu 10:10, "Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya. Firman Tuhan itu mudah sekali diperkatakan, bahkan cukup enak untuk disampaikan namun pada prakteknya sangat susah, dengan kata lain terasa pahit."
Pada umumnya manusia lebih memilih rancangannya sendiri dari pada rancangan Tuhan. Karena rancangan manusia lebih terfokus kepada hal-hal duniawi sementara rancangan Tuhan lebih terfokus kepada hal-hal rohani. Manusia lebih memilih mengembangkan kehidupan jasmani dari pada kehidupan rohani. Contohnya dalam memilih pasangan hidup, manusia lebih cenderung memilih pasangan yang cantik/ganteng, sementara rancangan Tuhan lebih terfokus kepada kecantikan rohaniah.
Karena rancangan Tuhan lebih tertuju kepada hal-hal yang bersifat rohani maka orang yang hidup dalam keinginan daging akan sangat sulit mengikutinya. Itulah sebabnya mereka lebih cenderung memilih rancangan sendiri karena rancangan Tuhan sangat menyakitkan dan melelahkan.
Ada satu tokoh di Alkitab yang lebih memilih mengikuti rancangan Tuhan walaupun karena itu dia harus sangat menderita. Namanya Yusuf. Yusuf adalah anak yang paling dikasihi Yakub. Dalam kehidupan sehari-hari Yakub senatiasa memberikan yang terbaik kepadanya. Bahkan ia mendapatkan jubah maha indah yang tidak di dapatkan oleh saudara-saudaranya yang lain. Tuhan mempunyai rencana yang besar buat Yusuf dan Yusuf tahu akan hal itu karena Tuhan menyatakannya melalui mimpi-mimpi. Namun untuk rencana besar itu Yusuf harus mengalami proses yang sangat menderita. Dia harus meninggalkan zona nyaman dan turun ke dalam zona penderitaan. Pertama ia dijual menjadi budak, Setelah menjadi budak Yusuf harus turun lagi kepada penderitaan yang lebih dalam yaitu menjadi tahanan, ia ditahan karena suatu kesalahan yang tidak dilakukannya. Yusuf tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia tidak menyalahkan saudara-saudaranya apalagi menyalahkan Tuhan. Yusuf bisa berbuat begitu karena ia menyadari bahwa ia sedang berada dalam rencana Tuhan dan Tuhan sedang mempersiapkan dia untuk suatu rencana yang besar yaitu menyelamatkan keturunan Israel. Memang benar ia berada dalam rencana Tuhan, karena setelah itu ia diangkat menjadi penguasa atas Mesir dan dengan demikian ia dapat menyelamatkan kaum keturunan ayahnya dari bahaya kelaparan yang sedang melanda dunia. Kejadian 50:19-20, "Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." Ayat ini menguatkan keyakinan saya bahwa Yusuf menyadari sejak awal bahwa Tuhan punya rancangan besar dalam hidupnya dan ia memilih rancangan Tuhan itu. Bagaimana dengan kita, apakah kita mau memilih rancangan Tuhan? Atau memilih rancangan kita sendiri?
Saudaraku, Tuhan punya rencana yang indah buat kehidupan kita. Saya tidak tahu apa rencana Tuhan untuk saudara namun satu hal yang pasti bahwa rencana Tuhan tidak merancangkan rancangan kecelakaan melainkan rancangan yang damai sejahtera yaitu masa depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Amin.

Bersikap Jujur

Oleh: Sujud Prasetio
Baca: Mazmur 25:1-22
"Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau." Mazmur 25:21
Beberapa tahun yang lalu, saya melakukan kesalahan yang fatal. Karena dengki, saya mencuri uang bulek (tante). Ketika saya didakwa, saya mengelak dengan 1001 alasan. Dua tahun kemudian saya pun mengakuinya. Bagi saya mengakui kesalahan tidak membuat harga diri saya rendah. Justru inilah sikap yang seharusnya di lakukan. Bersikap jujur. Oleh karena itu saya tidak malu menyaksikan ini.
Banyak orang sulit untuk jujur, bahkan terhadap dirinya sendiri. Keteledoran atau kesalahan apa pun selalu ada dalih untuk menyalahkan orang lain atau pun menyalahkan keadaan. Apa pun alasannya adalah dalih untuk membenarkan diri. Matius 25 menceritakan seseorang yang menerima satu talenta menyalahkan tuan yang empunya talenta. Ironis bukan! Koq tidak langsung berkata: "maaf, aku salah!" Begini kan urusannya cepat selesai. Sekali pun sikap ini sepele, tidak semua orang dapat melakukannya. Hanya orang- orang yang berjiwa besarlah yang mampu melakukannya.
Pergumulan Daud di dalam doa mengingatkan perjalanan hidupnya. Daud mengintrospeksi dirinya di hadapan Tuhan. "kiranya ketulusan dan kejujuran mengawal aku . . ." (Mazmur 25:21). Daud menyadari sikap hidup jujur adalah hal yang prinsip di hadapan Tuhan. Maka, tidak heran jika Allah mendaftarkan Hukum Taurat yang ke-9 "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu." (Keluaran 20:16). Hukum ini mengemukakan bahwa Tuhan begitu menghargai kebenaran. Ketika orang bersikap tidak jujur, yang terjadi bukannya saling menolong, tetapi merongrong. Bukan memberdayakan, tetapi memperdayakan. Ketidakjujuran hanya dapat di lunasi dengan kejujuran. Bukannya menutupi ketidakjujuran dengan kebohongan. Beranikah Anda jujur terhadap Allah, manusia, dan diri sendiri?

Bersyukur...

Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan. Kata-Kata Diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan
....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu...
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar...
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit...
Di masa itulah kamu tumbuh...
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu...
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang ...
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga ...
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih ...
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan ...
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut...
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif ...
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu ...

Bertahan dalam Pelayanan

Oleh: Maslin Tumanggor Simbolon
Dari kitab 2 Korintus 4:17
Rasul Paulus menyuruh kita untuk tetap bertahan dalam pelayanan karena begitu banyak hal yang indah kita dapatkan saat kita terus bertahan dan melayani di mana kita ditempatkan oleh ALLAH kita. Sedikitnya ada 4 hal yang sangat penting yang harus saudara ketahui yaitu :
1. Kita dipanggil, dipilih, dan setia itu semua hanya oleh karena Kasih karunia BAPA bukan dgn kekuatan kita atau lebih tepatnya karena kemurahan ALLAH semata. (2 Korintus 4:1). Sebagai mantan penganiaya orang-orang Kristen, Paulus sadar betul bahwa dia tidak layak untuk menerima kasih karunia ALLAH tersebut.
2. Karena ketaatan kita kepada YESUS KRISTUS maka kita pun harus melayani orang lain (2 Korintus 4:5). Jadi heran kalo ada anak-anak TUHAN yang sudah bertobat bertahun-tahun namun tidak mau melayani, itu menjadi suatu tanda tanya "bagaimana dasar pertobatanya dan apa yang ia cari dalam pelayanan tersebut".
3. Karena orang yang melayani ALLAH mengalami pembaharuan-pembaharuan batiniah walaupun fisiknya merosot karena usia tapi dia semakin bijaksana dan berhikmat dalam pengenalan FIRMAN TUHAN. (2 Korintus 4:16). Paulus juga mengingatkan kita bahwa bersama ALLAH ada pembaharuan yang tidak dapat dibandingkan dengan hal-hal dunia ini.
4. Karena ada upah kekal yang BAPA sediakan bagi anak-anak-Nya yaitu Hidup kekal bersama DIA di sorga yang baru.( 2 Korintus 4:18).
Jadi Saudaraku yang terkasih janganlah pergi dari pelayanan karena ditolak oleh wanita atau pria yang kita sukai karena ALLAH lebih utama dari hal-hal tersebut. ALLAH sampai hari ini mengerjakan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Kata mengerjakan dalam bahasa aslinya adalah "KATERGAZOMAI" yang artinya ALAH mengerjakan dengan kekuatannya untuk membentuk anak-naknya yang kuat dan pasti mencapai tujuanya. Jadi saudaraku maju terus karena ALLAH bekerja sampai hari ini untuk kebaikanmu. Tinggal manusia tersebut mau tidak dibentuk oleh ALLAH??? Apakah saudara mau menikah sama anak kecil? Atau mempelai yang tidak punya tujuan??? Atau... banyak lagi. Memang pembentukkan ALLAH itu sangat sakit tapi kita akan menjadi anak-anak-Nya yang perkasa. apakah saudara mau menjadi orang biasa-biasa saja???? semuanya terserah kita sebagai anak-anaknya.

Betapa Lucunya, Tapi Nyata...

Kadang terasa berat nya apabila dibawa ke gereja untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan! Betapa lamanya melayani Allah selama satu jam; namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa(spontan); namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan basketball diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di gereja lebih lama sedikit daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu perikop dari Kitab Suci; namun betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang duduk di bangku paling belakang di gereja.
Betapa sulitnya untuk menyesuaikan jadwal waktu kita, 2 atau 3 minggu sebelumnya untuk suatu acara gerejani; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari suatu bab sederhana dari Injil untuk di sharingkan dengan orang lain; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain itu.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran; namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci.
Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.
Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada mail yang isinya tentang Kerajaan Allah; betapa seringnya kita ragu-rag u, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.
ANDA TERTAWA ...? ANDA BERPIKIR-PIKIR?
Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlah kepada TUHAN,DIA BAIK,PENGASIH DAN PENYAYANG.

Bila Orang Benar Harus Menderita

Oleh: Sunanto
Ayb 42:5 “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Saya sendiri banyak mengalami penderitaan dan juga banyak melihat orang lain yang menderita namun saya belum pernah melihat ada orang yang mengalami penderitaan seberat Ayub.
Satu hal yang pasti, sumber penderitaan yang kita alami bukanlah dari Tuhan tetapi Tuhan mengijinkannya terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi hidup kita. Iblis memang sangat suka membuat kita menderita tetapi sebenarnya dia bukan merupakan sumber penderitaan itu. Kita semua merupakan orang yang lahir dalam keadaan sakit jiwanya akibat natur dosa yang kita bawa, ditambah lagi dengan pengaruh lingkungan dan salah asuh dari orang tua yang membuat penyakit itu semakin parah. Kita mengasihi orang lain karena kita membutuhkan mereka untuk memuaskan keakuan kita. Hal ini bukan kasih melainkan manipulasi sebab kasih yang sejati itu tanpa syarat. Kasih yang sejati tidak dipengaruhi oleh kondisi objek yang dikasihi. Allah tetap mengasihi kita sekalipun kita hidup dalam dosa sebab Allah adalah kasih sehingga Dia tidak bisa tidak mengasihi. Sebenarnya kita semua merupakan pecandu-pecandu dimana kita mencandui dukungan, penghargaan dan perasaan dibutuhkan dari orang lain. Kisah Yakub mengambarkan bagaimana seseorang yang mencari identitas akibat tidak menerima pengakuan dari seorang Ayah. Sebenarnya yang dibutuhkan oleh Yakub bukanlah hak kesulungan melainkan yang ia butuhkan adalah sebuah pengakuan. Sumber penderitaan Yakub bukanlah Esau melainkan dirinya sendiri yang sakit.
Setelah Yakub dipulihkan dan memperoleh indentitas dari Allah ketika ia bergumul di sungai Yabok maka dengan sendirinya ia bisa berdamai dengan Esau. Tatkala sumber masalah Yakub yang sebenarnya selesai maka masalahnya dengan Esau juga selesai. Jika kita ingin mengubah orang lain maka hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengubah diri kita dulu. Jangan bermimpi untuk dapat mengubah dunia bila anda belum mengubah diri anda.
Setelah kita selesai dalam menjalani proses pendewasaan seperti yang dialami Ayub maka kita akan mengalami Allah bukan hanya sekedar mengetahui. Kita akan mengalami sebuah tingkat keintiman dan pengenalan akan Allah dalam sebuah dimensi yang baru. Selain itu kita juga akan bisa melihat kemuliaan Allah dalam diri orang lain sama seperti Yakub bisa melihat kemuliaan Allah di wajah Esau setelah ia dipulihkan ( Kej 33:10). Kita tidak akan meletakkan orang lain lebih tinggi atau lebih rendah sebab posisi semua orang sama dihadapan kita. Kita akan memperlakukan seorang Presiden sama seperti memperlakukan seorang pengemis di jalanan sebab pada keduanya kita dapat melihat kemuliaan Allah.
Kita tidak akan lebih mengasihi orang yang menguntungkan kita atau lebih tidak mengasihi orang yang merugikan kita. Yang ada pada kita hanyalah cinta yang sejati yaitu kasih yang tanpa syarat. Inilah tujuan akhir dari semua krisis dan penderitaan yang Tuhan ijinkan menimpa hidup kita yaitu agar kasihNya dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita !

Bolehkah Aku Bicara?

Oleh: Herwin
Apakah anda mengenalku? Seharusnyalah demikian, karena aku adalah komoditi yang paling banyak dicari di muka bumi. Aku dapat dikenali di hampir seluruh bagian dari dunia, tidak soal apa bahasanya. Jarang ada orang dari negeri manapun yang pergi ke suatu tempat tanpa membawaku serta. Peperangan dan lamanya peperangan sering kali juga ditentukan oleh banyaknya dan adanya aku.
Anak-anak direnggut dari orangtua demi tebusan yang aku bayar. Aku dirampas dengan todongan senjata atau dengan rela diberikan kepada orang-orang yang membuat janji-janji palsu. Ada wanita-wanita yang menikah karena aku, yang lain bercerai karena aku pula. Aku dapat membuat keluarga-keluarga berantakan dan mendatangkan banyak sekali kesengsaraan atas orang-orang yang mencintaiku. Pernah aku melihat seseorang menghianati teman terbaik yang pernah ia miliki demi 30 keping dari padaku. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh seorang pengajar pada abad ke I, yang mengatakan bahwa "Cinta kepadaku merupakan akar segala kejahatan" (1 Timotius 6: 10)
Ya, aku adalah uang. Aku lahir pertama kali pada zaman Mesopotamia Purba (abad 18-16 SM). Aku dibuat dari perak dan digunakan secara reguler dalam transaksi bisnis waktu itu. Kemudian di Mesir aku dibuat dari tembaga, perak, dan emas. Aku pun mulai dikembangkan dalam bentuk kertas pada tahun 1024 di China sewaktu ekspansi perdagangan untuk pertama kalinya menyebabkan kehabisan koin.
Sepanjang sejarah sejak aku dilahirkan, aku begitu disanjung dan dipuja oleh banyak orang, sehingga seorang penulis Amerika, Washington Irvin pernah menggambarkan diriku sebagai dollar yang mahakuasa, objek besar kesayangan universal di seluruh negeri. Akan tetapi di negeri anda mungkin aku dikenal dengan sebutan Peso, Pound, Franc, Gulden, dan Rupiah. Apapun sebutan bagiku, aku tetap dicari secara gila-gilaan dan dapat dikatakan dengan sangat memuakkan. Bahkan bukan oleh orang biasa, dalam kitab Mika 3: 11 dikatakan "Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberikan pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang."
Sebutanku pun segera berubah sesuai dengan caranya aku dipergunakan. Ada yang menyebutku uang registrasi, uang administrasi, uang damai, ataupun uang suap. Ada lagi yang menyebutku uang kopi, uang rokok, uang tunjangan, dsb. Bagi beberapa orang aku adalah uang biaya hidup sehari-hari yang penting, namun sangat susah untuk dicari, sehingga ada yang menuduhku seakan-akan aku memiliki sayap lalu terbang. Mereka yang tak habis-habisnya mencintaiku merangsang diri sendiri dengan impian yang berkilauan untuk kekayaan dan kebahagiaan. Namun sayang, meskipun ada yang sudah menimbun aku dalam jumlah besar, ternyata mereka mendapati bahwa aku masih belum mendatangkan kebahagiaan sejati yang mereka bayangkan. Dalam keadaan ini aku jadi ingat kepada kata-kata orang yang berhikmat dan yang paling kaya yang hidup pada tahun 1000 SM. Dia pernah mengatakan bahwa "Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak, tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur" (Pengkotbah 5: 11)
Maka carilah aku dengan bijaksana, pergunakanlah aku dengan bersahaja, pasti engkau akan bahagia. Akan tetapi bila engkau mencariku dengan membabi-buta, berhati-hatilah engkau pasti akan celaka. Karena Raja Salomo yang sangat berhikmat pada zamannya pernah mencoba membandingkan aku dengan hikmat yang dapat dimiliki oleh orang-orang. Tapi pada akhirnya ia pun mengatakan bahwa "Bila dibandingkan dengan hikmat, aku adalah sama-sama sebagai perlindungan akan tetapi hikmat memiliki kelebihan tertentu yaitu dapat memberikan kehidupan kepada yang memilikinya" (Pengkotbah 7: 12)
Dan aku sadar akan kelemahanku ini. Bukti-bukti sejarah telah menunjukkan bahwa aku tidak akan bermanfaat kalau orang yang mengelolaku tidak berhikmat. Maka benar pula yang dikatakan oleh orang-orang yang rendah hati, bahwa aku bukanlah segala-galanya, sebab ada hal-hal yang jelas-jelas tidak dapat aku lakukan, seperti yang dikatakan oleh pepatah lama yang telah berkali-kali kubaca dan sangat menyakitkan hatiku, karena memperlihatkan kelemahanku :
What money can buy

A bed but no sleep

computer but not brains

food but not appetites

finery but not beauty

a house but not a home

medicine but not health

luxuries but not culture

amusement but not happines

sex but not love. 
Maaf aku tidak sanggup menerjemahkannya ke dalam bahasa ibuku, karena aku hanya bisa meniru. Akan tetapi yang jelas, carilah aku dengan bijaksana, pergunakanlah aku dengan bersahaja dan berpadalah pada apa yang ada, maka pasti engkau akan bahagia. Aku rasa sekian dulu saja, aku tidak akan sanggup untuk membuka kelemahanku lebih banyak lagi.

Cerdik Seperti Ular Tulus Seperti Merpati

Oleh:Yogi Triyuniardi
"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." Matius 10:16 . Banyak orang tahu pepatah alkitab yang satu ini, yaitu: hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. kita bahkan seringkali menggunakan pepatah ini sebagai suatu alasan untuk membenarkan suatu tindakan yang kita lakukan. Apa sih artinya, menjadi cerdik seperti ular, dan menjadi tulus seperti merpati? nah, mari, kita bahas bersama-sama.

Ular, sebenarnya tidak dikategorikan sebagai hewan yang cerdik. Seringkali justru dikaitkan sebagai binatang yang licik. Bisanya yang mematikan, dan pagutannya yang secepat kilat ketika menyergap mangsa yang tak siap, menunjukkan sikap ke "licik" an dari ular. Lalu, mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita harus cerdik seperti ular?
Merpati, adalah sejenis burung yang mampu terbang berkilo-kilometer jauhnya, kembali ke tempat asalnya. Oleh karena itu, merpati dipakai sebagai lambang pt pos, yang mengantarkan surat ke tempat tujuannya, walaupun jaraknya jauh. Lalu, dimana letak ketulusannya? banyak orang menganggap, merpati putih, lambang perdamaian, karena sifatnya yang elok dan bulunya yang melambangkan kesucian. namun, tak sedikit pula merpati yang berbulu abu2, coklat, belang2, bintik2 dll.
Dalam penerapan di kehidupan kekristenan, pepatah ini biasa ditafsirkan bahwa kita harus memiliki hati yang tulus seperti merpati, tetapi juga harus bertindak cerdik, seperti ular. Rasanya tidak salah. Ketulusan hati dan kecerdikan dalam bertindak sepertinya memang harus kita miliki. Istilah kerennya, "pake hikmat" dalam segala hal.
Namun banyak orang lupa, bahwa konteks ayatnya adalah mengenai "domba di tengah serigala". Kita, orang Kristen, digambarkan sebagai domba, binatang yang patuh namun tak berdaya. Serigala, adalah segala bentuk kejahatan yang menguasai dunia ini. Kita, yang adalah domba, yang telah dikuduskan dari dosa, diperhadapkan kembali kepada dunia fana ini, yang sarat dengan cobaan, godaan, hawa nafsu, dan segala kejahatan lainnya.
Banyak orang juga lupa, bahwa yang mengutus kita, sang domba, adalah Tuhan Yesus sendiri, Allah yang hidup, sang Gembala yang baik. Sang Gembala mengutus Domba ke tengah kawanan serigala, tentunya bukan untuk mati konyol diterkam serigala. Lalu bagaimana? untuk itulah kita perlu perhatikan pepatah yang terkenal itu: hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Ular, adalah hewan melata yang tak berkaki dan tak punya sayap. kelihatannya lemah. salah satu sifat ular yang jarang orang ketahui adalah: karena kondisi tubuhnya, ular biasanya cenderung untuk menjauh dari bahaya yang mengancam. Ular tahu tempat2 aman yang jauh dari gangguan musuh.
Merpati, adalah burung yang pada umumnya hafal jalan pulang ke tempat asalnya. Walaupun ia dilepas di tempat yang jauh, ia sanggup untuk kembali ke rumah tempat ia dibesarkan.
Apakah artinya, cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati? Dalam konteks Yesus sebagai Gembala, mengutus kita sebagai domba ke tengah serigala, pahamilah:
  1. Domba tidak diutus sendirian, tetapi berjalan bersama Gembalanya.
  2. Ketika kawanan serigala datang mengancam, kita sebagai domba harus cerdik seperti ular, yaitu berlindung pada Sang Gembala. lawanlah kejahatan dengan kebaikan. kita tidak boleh membalas kejahatan, melainkan datang kepada Yesus, mengasihi sesama dan mengampuni musuh. Datanglah kepada Tuhan dengan ketulusan seperti merpati, yang tahu jalan kembali kepada tempat asalnya, dalam hal ini adalah Yesus, Yang Empunya Kerajaan Sorga. Kita datang kepada Yesus bukan dengan hati sombong, angkuh, atau pun tidak percaya, melainkan dengan menaruh percaya sepenuhnya kepadaNya, bahwa hanya Dialah yang sanggup melindungi kita dari segala kejahatan.

Semoga renungan ini dapat membangun kita semua.
Tuhan Yesus memberkati.

Dalam Kelemahan, Aku Kuat

Oleh: Margareth Linandi
Ketika kita melihat orang sakit keras, apa pandangan kita? Mungkin ada pandangan positif atau ada juga pandangan negatif mengapa orang bisa mengalami sakit keras.
Adapun pandangan negatifnya:
1. Orang itu sakit karena dosanya. Karena selama hidupnya berbuat jahat, makanya dia sakit.
2. Orang itu sakit karena dia tidak bisa menjaga diri. Dia selalu tidur pagi dan tidak pernah makan yang bergizi, tidak pernah makan buah dan lain sebagainya.
3. Orang itu sakit karena banyak menyimpan akar pahit atau kebencian terhadap seseorang.
Adapun pandangan positifnya:
1. Allah punya rencana indah buat hidupnya (Roma 8:28).
2. Penyakit itu diberikan supaya orang dapat melihat kemuliaan Tuhan lewat itu semua.
3. Penyakit itu diberikan sebagai ujian untuk bertumbuh imannya pada Tuhan.
Apapun pandangan orang baik positif atau negatif, mari kita lihat jawaban Alkitab tentang orang yang sakit keras dan tidak disembuhkan, bukan berarti Tuhan jahat tapi Tuhan punya rencana untuk orang tersebut.
Siapa yang tidak mengenal tokoh-tokoh ini, mereka sakit tetapi Tuhan tidak memberi kesembuhan full kepada mereka karena Tuhan ada sesuatu rencana untuk mereka.
1. Fanny Crosby, penulis lagu-lagu hymn, bagaimana keadaannya saat menulis lagu-lagu itu -- salah satu lagu yang terkenal adalah Amazing Grace? Fanny Crosby adalah seorang wanita Kristen yang tangguh, betapa tidak, pada awal kelahirannya Fanny lahir dengan keadaan sehat, tidak buta, dan tidak cacat. Tapi apa yang terjadi kemudian, Fanny sakit demam dan dokter memberikan obat yang salah padanya sehingga mengakibatkan kebutaan pada matanya. Apakah Fanny beranggapan Tuhan jahat? Tidak, justru Tuhan baik dan sayang padanya, makanya dia bisa menuliskan lagu ini. Di tengah kelemahannya Fanny menyatakan kemuliaan Allah.
2. Nick Vuljnick, dia adalah seorang motivator yang sangat luar biasa. Siapa dia? Nick adalah seorang anak yang lahir dari keluarga Kristen. Saat lahir, sang ibu harus mengalami kesakithatian yang sangat dalam karena menyadari bahwa anaknya cacat.
Nick lahir dengan kedua tangan buntung, dan kakinya pendek sebelah. Secara manusia, Nick merasa sangat sedih, tapi apakah Nick menyalahkan Tuhan? Tidak, dia bisa menerima kenyataan walaupun dia cacat dan kecacatannya dipakai oleh Tuhan, untuk menjadikannya mandiri dan dipakai Tuhan untuk memberkati banyak orang melalui kesaksiannya.
3. Ralph Tan, seorang Singapura. Dia adalah seorang yang sehat, dia menikah dengan Alice, di Hongkong. Setelah umur pernikahannya yang baru seumur jagung, Ralph harus mendapat vonis di mana dia menderita kanker telinga, dan tidak ada kesembuhan. Makin menjalani pengobatan, kondisi Ralph makin menyedihkan. Dia tidak bisa makan, minum, dan semuanya sakit, akan tetapi Tuhan memakai kesakitannya untuk menjadi kemuliaan Tuhan. Dalam keadaan seperti itu, Ralph tidak menyalahkan Tuhan dan justru ia masih sempat memberitakan Injil kepada keluarganya. Walaupun pada akhirnya, Ralph mati karena penyakitnya, tapi nama Tuhan dimuliakan.
Dari begitu banyak contoh-contoh yang penulis kemukakan, mereka adalah orang yang mengalami keterbatasan fisik, tapi justru dalam hal itu Tuhan memakai untuk menjadi alat kemuliaan-Nya.
Siapa yang tidak mengenal Paulus? Paulus (nama awalnya adalah Saulus) awalnya adalah seorang murid dari guru besar Gamaliel dan ia adalah seorang penganiaya murid Kristus. Pada satu kali Saulus ditangkap oleh Tuhan di Ddamsyik dan apa yang terjadi? Ada suara dari langit mengatakan, "Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?" dan cahaya begitu hebat sampai Saulus mengalami kebutaan selama 3 hari. (Kis.9:1-9).
Setelah itu Saulus bertobat dan menjadi anak Tuhan. Sejak saat itu Saulus mengganti namanya dengan Paulus. Setelah ditangkap oleh Tuhan, Paulus (nama pertobatannya) mengalami perubahan yang luar biasa. Dia menjadi pekerja Tuhan memberitakan Injil.
Dalam pelayanannya sebagai pemberita Injil, Paulus banyak kali mengalami kesusahan dan penderitaan. Dia juga pernah mengalami karam kapal, dipenjara, dan lainnya hanya karena memberitakan Injil Kristus, bahkan dia sempat mengalami "duri dalam daging". Alkitab mencatat duri dalam daging dalam 2 Kor. 12 adalah utusan Iblis yang mengecohnya, dia meminta Tuhan agar utusan Iblis itu mundur tetapi jawaban Tuhan sangat menyedihkan. Mengapa? Karena dikatakan, "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu…" tapi kalimat itu tidak sampai di situ, dilanjutkan dalam ayat 9b "justru dalam kelemahanlah kuasaku menjadi sempurna."
Paulus memohon kepada Tuhan supaya Tuhan mencabut duri dalam dagingnya, tapi Tuhan tidak mencabutnya, bukan karena Tuhan jahat akan tetapi justru dalam kelemahanlah, kuasa Tuhan menjadi sempurna. Dalam kelemahanlah, aku kuat karena Tuhan memampukan kita melewati semua itu.
Saat ini, apa duri dalam daging yang kita alami? Kesedihan? Sakit? Susah? Jangan kuatir, ingat mungkin Tuhan tidak menyembuhkan kita sampai saat ini, bukan karna Tuhan jahat melainkan ada rencana Tuhan yang ingin Tuhan tunjukkan kepada kita. Dan justru dalam kelemahan itulah kita menjadi kuat karena Tuhan menopang kita. Amin.

Dari Ulat Menjadi Kupu-Kupu

Oleh: Sunanto
Rom 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.“

Sebagai seorang pecinta keindahan, saya sangat menyukai kupu-kupu sebab serangga ini mempunyai sayap yang sangat indah. Selain itu setiap kupu-kupu memiliki corak dan warna yang berbeda sehingga sulit menemukan kupu-kupu yang sama persis. Namun kupu-kupu yang indah tersebut sebenarnya berasal dari ulat kepompong yang mana sama sekali tidak menarik untuk dipandang bahkan bagi beberapa orang agak menjijikkan. Untuk menjadi kupu-kupu yang indah dan dapat terbang, ulat kepompong harus mengalami sebuah perubahan (transformasi) yang disebut juga proses metamorfosis.
Kata berubahlah pada ayat diatas berasal dari kata ‘metamorphoo’ yang artinya diubah, ditrasformasikan atau berubah bentuk. Oleh karena itu proses perubahan (transformasi) yang kita alami dapat digambarkan seperti proses yang dialami oleh ulat kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu.
Satu waktu ada seseorang menemukan ulat kepompong di sebuah pohon yang ada dipekarangan rumahnya. Karena tidak dapat terbang akhirnya sang kupu-kupu tersebut menjadi mati. Orang yang berniat untuk membantu sang kupu-kupu malah tanpa disengaja telah membuat kupu-kupu tersebut mati muda.
Proses perubahan (transformasi) dalam kerohanian kita menuntut penderitaan dan perjuangan sebab itu merupakan peraturan Allah. Kunci kemenangan Yesus adalah penyerahan hidupNya yang total kepada Bapa. Jika kita ingin mengalami kemenangan dalam setiap ujian dan tantangan yang melanda hidup kita maka kita juga harus berani menyerahkan hidup kita sepenuhNya kepada kehendak Allah. Semakin cepat kita menyerah semakin cepat kemenangan itu dapat kita raih.
Beberapa tahun belakangan ini kata transformasi menjadi kata yangsangat populer di kalangan kristiani Indonesia. Saya agak terkejut ketika beberapa waktu yang lalu seseorang bertanya kepada saya kapankah akan terjadi transformasi di Indonesia sebab sudah doa begitu lama kok sepertinya tidak terjadi apa-apa. Saya percaya bahwa Tuhan ingin mentransformasi bangsa ini tetapi saya percaya hal itu hanya akan terjadi bila sudah cukup banyak jumlah orang Kristen di Indonesia yang sudah ditransformasikan hidupnya. Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi jika kita sebagai gereja tidak terlebih dahulu mengalami transformasi tersebut. Saya percaya, hari-hari ini Roh Kudus sedang bekerja di setiap denominasi gereja yang ada di negeri ini untuk mencari orang-orang yang bersedia Dia pakai untuk mengubah negeri ini. Dengan mata iman, saya telah melihat datangnya sebuah pasukan besar dari berbagai denominasi gereja yang akan dipakai oleh Tuhan untuk mengubah dan membawa negeri masuk ke dalam tujuannya. Semoga anda termasuk salah satu anggota pasukan yang dipilih oleh Allah tersebut !

Di Sebuah Toko Serba Ada

Oleh: Puji R.
Di sebuah kota yang tidak terlalu ramai terdapat Toko Serba Ada yang dikelola oleh seorang yang dermawan. Kali ini ia mengadakan sebuah sayembara. Sayembara ini menyediakan berbagai hadiah menarik dengan hadiah utama sebuah sepeda motor. Syaratnya mudah, namun penuh rahasia, karena Ia hanya menuliskan, "Belanjalah di toko kami dan dapatkan hadiahnya."
Sampai pada batas hari yang telah ditentukan, pengunjung toko tersebut masih tetap ramai, namun tak satu pun pengunjung yang mengetahui rencana Sang Pemilik Toko untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan hadiahnya.
Pada hari terakhir nampaklah antrean yang cukup panjang di kasir. Terlihat seorang gadis sedang menunggu untuk membayar belanjaannya, namun hal yang tidak menyenangkan terjadi pada gadis itu. Pada waktu ia hendak melangkah maju ke depan kasir, tiba-tiba seorang gadis kecil ditemani ayahnya menyerobot antreannya, pantas saja kalau si gadis ini geram sekali dan mulai berkata, "Pak, antre donk, yang lain juga antre." Tetapi bapak dari gadis itu menjawab dengan nada yang sedikit keras, "Kenapa Mbak?" sambil bertolak pinggang, lanjutnya, "dia anak kecil dan lagi belanjaannya cuma satu barang!", Begitu katanya, sambil terus bertolak pinggang. Gadis itu terdiam dengan muka yang sangat kesal (dia terdiam karena tidak mau ada keributan). Kemudian Ibu si gadis itu mencoba untuk menenangkan anaknya dengan berkata, "Udah biar aja, toh ga juga terlalu lama. (mungkin Ibunya bisa saja mempermasalahkan persoalan itu.) Diantrean belakang ada seorang ibu nyeletuk, "Gimana negara ini mau maju, orang anak kecil aja sudah di ajar untuk mengambil hak orang lain."
Tanpa disadari oleh seluruh pengunjung dan pegawai toko itu, ternyata Sang Pemilik Toko telah memasang kamera model CCTV untuk merekam seluruh kejadian yang terjadi dari hari ke hari termasuk kejadian tersebut.
Hari berikutnya tibalah saatnya Sang Pemilik mengumumkan sipa yang berhak menerima hadiah utama itu, dan ternyata hadiah itu jatuh pada gadis yang diserobot anak kecil itu. Rupanya untuk menentukan pemenangnya, Sang Pemilik menentukannya dengan memakai urutan antrean bayar di kasir, urutannya dikaitkan dengan ulang tahun Sang Pemilik yang pada hari itu berusia 70 tahun, jadi Gadis itu ada pada urutan antrean yang ke-70.
Alkisah kasir yang melayani hari itu dipecat, kenapa??? Karena dari rekaman CCTV itu nampak bahwa si kasir tetap melayani orang yang nyerobot dari belakang, bukannya menegurnya.
Bapak dan Ibu, kita pernah juga melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak harus kita lakukan atau melegalkan cara-cara tertentu untuk mendapatkan sesuatu, padahal cara-cara itu dilarang. Memang sepintas cara-cara ilegal itu nampak bisa menyelesaikan masalah, namun sebenarnya mengundang masalah bahkan menambah masalah yang dapat merugikan kita di kemudian hari. Jadi tetaplah lakukan sesuatu sesuai dengan prosedurnya.

Diusir

Diusir kalau dalam terminologi yang kita pikirkan memang bukan sesuatu hal yang menyenangkan. Namun diusir dalam cerita ini merupakan sesuatu hal yang menyenangkan. Adam dan Hawa diusir dari taman eden bukan karena berbuat dosa melainkan memang dia diciptakan untuk cultivate (menatalayani) bumi. Mereka tidak boleh berlama-lama di tempat training centrenya (di taman eden) melainkan harus keluar dari taman itu dan mulai berkarya di luar eden. Pengusiran yang menyenangkan. Ketika Tuhan Yesus disalib, Maria dan Yohanes berdiri di bawah salib melihat Dia. Seorang ibu yang pernah melahirkan anaknya yang sekarang tergantung di kayu salib, pasti lah sedih dan ingin berlama-lama di situ. Anak yang dulu dia lahirkan di kandang domba, dia besarkan, dia beri makan, dan bercanda dengan anak itu (di film passion of the Christ ada sedikit digambarkan adegan mereka berbincang-bincang tentang meja, tapi begitulah sedikit penggambarannya), bagaimana perasaan si ibu melihat anaknya sekarang begini, pasti sedih luar biasa.
Tapi apa kata Tuhan Yesus? "Ibu, ini anakmu. Anak, ini ibumu". Maria pulang ke rumah Yohanes, Yohanes mengurus Maria. Pulanglah kalian, begitu lah kira-kira maksudnya. Ini beban ku, bukan beban kalian. beban kalian adalah melanjutkan tugas yang telah kuperintah kan. Diusir...
Matius 28: 18-20, murid-murid disuruh pergilah dan beritakan Injil kepada seluruh makhluk. Diusir...
Setiap hari minggu, jemaat di seluruh gereja diusir ketika habis kebaktian. Pulanglah, dan terimalah berkat Tuhan! Ada berkat Tuhan ketika kita diusir.
Kita diusir tapi ada penyertaan Tuhan. Ketahuilah Aku menyertai mu sampai akhir jaman. Kita diusir untuk melakukan kehendak Tuhan. Jangan berlama-lama, taat dan setia melakukan kehendak Tuhan. Mari kawan-kawan kita bekerja lebih giat lagi. Ada Tuhan menyertai kita. Immanuel.

Doa Mengubah Segala Sesuatu

Oleh: Margareth Linandi
Setiap orang di dunia pasti menginginkan adanya mujizat yang datang dari atas. Banyak contoh misalnya orang yang sakit keras dan hampir tidak bisa disembuhkan (sudah mencapai kanker stadium lanjut) selalu mengharapkan mujizat terjadi, di lain sisi, seseorang yang kondisi ekonominya hampir bangkrut berharap ada mujizat dari Tuhan dan ekonomi kembali pulih. Seseorang yang keluarganya broken home juga menginginkan adanya mujizat yang nyata dalam kehidupan keluarga.
Apakah mujizat masih terjadi? Kalau kita melihat banyak tokoh gereja yang juga mengalami mujizat; contoh: Abraham. Abraham adalah pahlawan iman yang mengalami mujizat dari Tuhan buktinya adalah Sara yang umurnya telah tua dan mandul, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan mujizat terjadi; di mana waktu Sara umur 90 tahun, ia dapat hamil. Ini menunjukkan mujizat masih nyata (Kejadian). Bukan hanya itu saja, kita juga melihat contoh tokoh lain yang mengalami mujizat yaitu Hana. Hana adalah ibu Samuel; seorang wanita yang dimadu oleh suaminya dan istri keduanya selalu mengolok-olok dan mengatakan mandul pada Hana, ia sangat sedih tapi ia percaya mujizat masih terjadi, dia berdoa dengan sungguh-sungguh dan hasilnya ia mendapat anak dan menepati janjinya untuk memberikan anaknya pada Tuhan.(1 Samuel 1) Di samping itu banyak tokoh-tokoh Alkitab lainnya yang mengalami mujizat diantaranya Rahel, Ribka, dan lainnya.
Bicara tentang mujizat, mujizat adalah campur tangan Tuhan dan jawaban yang indah dari doa yang kita naikkan. Yakobus 5:16 berkata” Doa orang benar bila didoakan akan sangat besar kuasanya…” Ini adalah satu janji dari Tuhan, apabila kita berdoa dengan sungguh kepada Tuhan maka mujizat akan terjadi, pemulihan akan terjadi.
Akan tetapi mujizat tidak selalu diartikan kesembuhan atau kesuksesan, mujizat adalah jawaban Tuhan yang terindah yang Tuhan berikan walau tidak sesuai dengan harapan kita. Tidak semua doa kita dijawab sesuai keinginan kita, akan tetapi doa orang benar bila didoakan akan sangat besar kuasanya.
Ada kalanya kita tidak mendapat jawaban doa dikarenakan ada beberapa faktor:
1. Ada kebencian atau dendam dalam hati kita pada orang lain.
Kalau kita berdoa, meminta sesuatu tapi masih ada dendam maka tentulah Tuhan tidak akan menjawab karena Tuhan tidak mau kita ada menyimpan sesuatu yang buruk pada orang lain.
2. Karena kita masih ragu akan pertolongan Tuhan dan kuasa Tuhan.
Sering kali kita berpikir apa iya Tuhan bisa menyelesaikan masalah kita... sedang masalah kita berat dan sepertinya Tuhan tidak mampu menyelesaikan masalah kita sehingga yang muncul adalah doa kita tidak dijawab oleh Tuhan... Dalam Injil, dikatakan jika kita punya iman sebesar biji sesawi saja kita bisa memindahkan gunung…. Maksud dari kalimat ini adalah kalau kita mau berdoa, doakan dengan penuh iman dan keyakinan, walaupun itu berat percayalah bahwa Tuhan akan menyelesaikan untuk kita dan mujizat pasti terjadi.
3. Kita tidak menyerahkan beban kita pada Tuhan.
Matius 11:28 mengatakan ”Marilah kepadaku, hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan memberi kelegaan kepadamu” Ketika masalah berat, datanglah pada Tuhan serahkan semua pergumulan kita pada Tuhan dan Tuhan akan menjawab doa kita.
Doa dapat mengubah segala sesuatu dan mujizat pasti terjadi jika kita selalu bersandar pada Tuhan dan berserah pada-Nya, jangan pernah ragu dan yakinlah mujizat akan terjadi dan itu akan terjadi.
Segala kemuliaan bagi Allah. Amin.

Gembala-Gembala di Padang

Oleh: Yosi Rorimpandei
“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.”
Cerita mengenai para gembala di padang menjadi salah satu peristiwa yang selalu mewarnai perayaan Natal di berbagai gereja. Lukas memang menyajikan cerita ini dengan sangat baik. Namun, harus kita ingat bahwa Lukas tidak pernah menuliskan suatu cerita yang lepas dari tujuan penulisan kitabnya.

Cerita ini, di samping memberi kita data tambahan untuk kelengkapan historis, khususnya mengenai kapan Yesus lahir, juga menambah narasi doksologi dengan kelahiran Sang Juruselamat. Lukas, tanpa kehilangan karakteristiknya, berusaha menggambarkan bagaimana Allah menyapa realitas sosial yang sebelumnya tidak disapa lagi oleh agama, khususnya orang-orang yang merasa beragama.
Dalam narasi ini, Lukas menampilkan bagaimana para gembala yang selama ini menggembalakan hewan-hewan kurban, kini menerima kabar gembira atas lahirnya Gembala Agung, sekaligus Kurban Suci itu sendiri. Di Daerah Itu...
“En te khora te aute” bisa juga diartikan “di daerah atau wilayah yang sama”, yaitu di daerah atau wilayah Yudea, di sekitar Betlehem (Luk. 2:4). Betlehem disebut “Kota Daud”, sebab Daud berasal dari sana (1Sam. 17:12). Dalam Bahasa Ibrani, kata “Betlehem” (Beth Lekhem) berarti “Rumah Roti” dan merupakan salah satu kota tua di Palestina.
Meskipun Daud berasal dari Betlehem dan sangat mengasihi kota itu (2Sam. 23:15), namun Daud tidak melakukan apa-apa terhadap kota itu. Betlehem sendiri termasuk kota yang tidak begitu diperhitungkan di kalangan umat Yahudi pada zaman Perjanjian Lama. Meski demikian, Nabi Mikha menubuatkan kelahiran Mesias dari kota kecil itu (Mi. 5:2).
Betlehem adalah kota yang subur. Di sana terdapat padang rumput, sehingga memungkinkan para gembala untuk menggembalakan ternak mereka. Di sana juga terdapat padang Yaar (Mzm. 132:6) yang kaya akan pepohonan, serta menara Edar (Migdal-Edar) sebagai bukti bahwa di sana merupakan tempat yang baik untuk menggembalakan ternak (Kej. 35:21). Di kota inilah Daud menggembalakan domba ayahnya (1Sam. 17:15).
Gembala-gembala di Padang...
Di dalam Mishna disebutkan bahwa domba-domba dari Betlehem diperuntukkan sebagai kurban dalam ibadah-ibadah di Bait Allah. Karena itu, para gembala (poimenes) yang menjaga kawanan domba di sana bukanlah gembala biasa. Mereka bukanlah gembala-gembala yang dianggap sebagai masyarakat kelas dua dalam struktur sosial Yahudi pada waktu itu. Mereka adalah gembala-gembala yang dihormati.
Memang dalam tradisi Yahudi kemudian, mereka termasuk dalam kelompok yang disingkirkan dalam tradisi keagamaan Yahudi oleh para Rabbi. Mereka disingkirkan lantaran sikap mereka yang cenderung mengasingkan diri dari peraturan-peraturan agama.
Beberapa seniman sering menggambarkan gembala-gembala itu di tengah padang di malam hari hanya dilindungi dengan pakaian mereka. Namun, dalam masyarakat Yudea pada waktu itu, biasanya gembala-gembala tinggal di kemah-kemah atau pondok-pondok selama mereka menjaga kawanan domba. Sesekali mereka keluar untuk memastikan bahwa kawanan domba mereka dalam keadaan baik.
Dari Mishna yang sama dikatakan bahwa kawanan domba itu mulai berada di sana tiga puluh hari sebelum Paskah Yahudi, yaitu pada bulan Adar menurut kalender Ibrani (sekitar bulan Maret dalam kelender Masehi). Pada waktu itu, Palestina mulai memasuki musim penghujan.
Pada bulan Kheshwan (sekitar bulan November), kawanan domba itu dibawa pulang dari padang. Artinya, para gembala dan kawanan domba itu berada di padang antara bulan Adar sampai Kheshwan atau sekitar bulan Maret sampai November. Clement dari Aleksandria mengatakan bahwa kelahiran Yesus (Natal) terjadi pada tanggal 21 April, sementara pendapat lain mengatakan 22 April. Ada juga yang mengatakan bahwa Natal seharusnya dirayakan pada 20 Mei.
Gereja Katolik, Protestan, dan beberapa Gereja Ortodoks merayakan Natal pada 25 Desember, sedangkan Gereja Ortodoks Koptik, Yerusalem, Rusia, Serbia, dan Georgia, merayakan Natal pada 7 Januari. Gereja Armenia justru lebih menekankan pada peristiwa Epifania (kedatangan orang majus) ketimbang Natal.
Banyak upaya untuk mempertahankan agar Natal tetap diperingati pada tanggal 25 Desember, termasuk oleh Hippolytus yang mendasarkan perhitungannya pada masa pemerintahan kaisar Augustus.
Namun, tanggal 25 Desember, dalam kalender Ibrani bertepatan dengan bulan Kislew dan Teveth dalam kelender Ibrani. Pada bulan ini, Palestina berada pada musim dingin. Tidak ada bukti historis yang mendukung bahwa para gembala tetap berada di padang pada musim dingin, apalagi di malam hari.
Adanya upaya di kalangan gereja tertentu untuk mencari tanggal yang lebih tepat untuk merayakan Natal dapat diterima sebagai suatu kewajaran. Namun, upaya-upaya itu pun hanya akan memunculkan kebingungan dan polemik yang tidak esensial. Pada kenyataannya, perhitungan kalender Masehi mengalami masalah sehingga mengharuskan ditambahkannya satu hari untuk bulan Februari setiap empat tahun (kabisat).
Setelah diperhitungkan kembali, para ahli akhirnya menyimpulkan bahwa Yesus lahir sebelum tahun Masehi. Dengan demikian, sia-sialah mencocok-cocokkan kalender Masehi dengan tanggal kelahiran Yesus yang sebenarnya. Masalah yang sama terjadi dalam penanggalan Ibrani.
Kelender Ibrani berdasar pada tiga fenomena astronomi: rotasi bumi (sehari), revolusi bulan atas bumi (sebulan), dan revolusi bumi atas matahari (setahun). Ketiganya tidak saling berhubungan. Rata-rata bulan berputar mengitari bumi dalam 29½ hari, sedangkan bumi mengitari matahari sekitar 365¼ hari atau 12,4 bulan lunar. Karenanya, untuk mendapatkan jumlah yang tepat, maka jumlah hari dalam sebulan kalender Ibrani adalah 29 atau 30 hari sesuai perputaran bulan, sedangkan jumlah bulan dalam setahun kalender Ibrani adalah 12 atau 13 bulan sesuai perputaran matahari, dimana tahun dengan jumlah bulan 13, disebut Shana Me’ubereth (Tahun Hamil) atau kabisat dalam istilah Indonesia.
Masalah utama dalam kalender Ibrani adalah perhitungan 12,4 bulan dalam satu tahun matahari. Artinya, jika setahun dihitung 12 bulan, kalender mengalami kekurangan sekitar 11 hari setiap tahunnya, sedangkan jika dihitung 13 bulan, maka kalender akan mengalami kelebihan 19 hari dalam setahun. Akibatnya, bulan yang seharusnya jatuh pada musim semi, karena kesalahan perhitungan dapat jatuh pada musim dingin.
Menghadapi problem ini, pada zaman dahulu, Sanhedrin menetapkan bahwa Paskah Yahudi jatuh pada musim semi. Artinya, jika dalam setahun, Paskah tidak jatuh pada musim semi, maka Sanhedrin akan menambahkan satu bulan dalam setahun. Model perhitungan ini bertahan sampai abad keempat masehi. Dengan demikian, kita tetap akan menemukan kesulitan melacak kelahiran Yesus berdasarkan kalender Ibrani.
Kalender Ibrani baru menemukan bentuknya yang tepat pada abad keempat, ketika Hillel II menetapkan kalender Ibrani berdasakan perhitungan matematika dan astronomi. Perhitungan Hillel II adalah dengan menambahkan bulan Adar menjadi dua, yaitu I Adar dan II Adar. Penambahan satu bulan dilakukan pada tahun ke-3, 6, 8, 11, 14, 17, dan 19 dalam satu putaran (19 tahun).
Pada Waktu Malam...
Yesus lahir pada waktu malam. Puncak karya penebusan pun terjadi pada waktu malam. Berdasarkan tradisi Yahudi, Mesias datang di tengah malam. Dengan demikian, narasi ini menggenapi setiap nubuatan dalam Perjanjian Lama, bahwa Mesias akan lahir di Betlehem Efrata, Kota Daud, di malam hari [oyr79].

Gempa di Nias

Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! KataKu kepadamu. Tetapi jika kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." (Lukas 13:2-4) Salam damai sejahtera dalam Kristus, Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus,
Kalau sehari sesudah hari Natal kita dikejutkan oleh badai tsunami yang telah meluluh lantakkan aceh dan sekitarnya, maka sehari sesudah hari Paskah (Kebangkitan Yesus Kristus) kita kembali dikejutkan. Kali ini Gempa berkekuatan 8.7 skala richter yang menggoncang pulau Nias dan pulau simeulue. Lalu mulai banyak spekulasi di kalangan Kristen yang beredar. Apa yang akan terjadi sehari setelah hari kenaikan Tuhan Yesus ke surga? Akankah pulau jawa dan benua australia tinggal separuh saja? nggak usah panik. tinggal tunggu aja tanggal mainnya.
Apapun bencana yang masih terjadi, siapapun yang terkena bencana, firman Tuhan tetap sama, tidak berobah, dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Ayat yang saya kutipkan ala hamburger juga sama dengan tulisan saya mengenai tsunami. Orang manapun tidak lebih besar dosanya, sehingga mereka tertimpa musibah/bencana. Tetapi orang yang tidak mau bertobat, siap-siaplah untuk terima bencana.
Beberapa hari ini saya banyak merenung dan bertanya pada Yesus, kalau aceh terkena musibah, itu wajar aja. mereka kan nggak kenal Tuhan yang benar. mereka menolak Yesus sebagai Tuhan, dan Firman Tuhan katakan bahwa orang seperti itu sudah dibawah hukuman. Tetapi mengapa, orang nias yang kebanyakan kristen, juga ikut-ikutan tertimpa musibah? lewat berita kita bisa melihat, lebih dari 100 bangunan gereja roboh.
Alkitab mencatat bahwa ketika Yesus memasuki kota Yerusalem dengan naik keledai, semua orang memuji Dia. Hosana! Diberkatilah Raja yang datang dalam nama Tuhan! Tapi sehari kemudian, mereka pula yang berkata: Salibkan Dia! Salibkan Dia! Menjadi orang Kristen bukan jaminan bahwa orang itu mengakui Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Banyak dari kita (introspeksi diri sendiri yach) yang setelah menjadi Kristen, masih punya sesembahan dan jimat-jimat, masih terikat dengan tradisi dan adat istiadat suku yang sebenarnya diluar ajaran Yesus. Juga, setelah menjadi Kristen, cara hidup lama nggak berobah, masih tetap mencintai dosa.
Pertobatan bagi orang yang belum mengenal Yesus, cobalah untuk mengaca pada hukum Taurat. sudahkah kalian melakukannya? tidak bohong, tidak mencuri, tidak membunuh, tidak berzinah, hormati orang tua, jangan mengingini kepunyaan orang lain? kalau sadar bahwa kalian tidak bisa hidup secara demikian, artinya kalian adalah orang berdosa, dan orang berdosa tidak layak masuk sorga, karena sorga cuma untuk orang-orang yang kudus. Kalian butuh korban yang sempurna, yang darahNya mampu menyucikan kalian dari segala dosa.
Pertobatan bagi orang yang sudah percaya Yesus adalah taati perintahNya. Yesus adalah Tuhan (Lord), artinya kita adalah hambaNya. Yesus memerintahkan supaya kita dibabtis (ditenggelamkan) air, ya kita taat aja. Yesus minta kita mengasihi dan mengampuni orang lain. Just do it (bukan iklan lho). Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengutamakan perintah Allah ketimbang adat istiadat manusia.
Luk 19:40 berkata: JawabNya: "Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak".
Ketika gempa terjadi, adakah orang yang berseru menyebut nama Tuhan? Yesus, Yesus, tolonglah aku! Adakah? atau hanya ketakutan dan lari kesana-kemari. Yah, kembali ke introspeksi diri. apa yang akan kita lakukan jika bencana itu datang kepada kita. Pesan Tuhan sudah jelas. Barangsiapa yang berseru menyebut nama Tuhan (Yesus) akan diselamatkan. Amien!
Tuhan Yesus memberkati.
"Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang yang diam di Yerusalem? Tidak! KataKu kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." (Lukas 13:4-5)

Generasi yang Berbeda

Oleh: Sujud Prasetio
Di pemandangan orang bukan percaya, orang Kristen hampir tidak ada perbedaan yang begitu menonjol. Zaenal Mahmud Abidin naik motor ngebut jatuh babak belur kemudian masuk rumah sakit. Begitu juga dengan Yohanes Lukas Handianto naik motor, truk berhenti ditubruk babak belur juga, bahkan pingsan kemudian masuk rumah sakit juga. Kecuali ko Achong kecelakaan lima kali tidak apa-apa. Sebelum percaya makan nasi, ketika sudah percaya tetap makan nasi. Orang yang tidak mengenal Kristus pun bisa sukses. Agama pun begitu, hampir isinya tidak ada yang beda, setiap agama menyajikan yang baik, sebagian ajaran tentang kebaikan yang ada di Kristen juga ada di kepercayaan lain. Bahkan orang yang tidak beragama pun tahu berbuat baik, seperti yang diajarkan oleh orang beragama. Apalagi saudara, di televisi kita disajikan acara dari CBN Solusi maupun Obat Malam. Tayangan Kristen yang menceritakan kisah-kisah yang dialami orang percaya yang menerima mujizat Tuhan. tetapi ada juga tayangan dari agama lain yang juga berisi tentang orang-orang yang mengalami mujizat. Sekalipun kita tahu sumber mujizatnya berbeda. Toh yang penting kan menerima mujizat. Apa yang dirindukan tercapai. Tak peduli dari setan atau Tuhan. Seperti itulah gambaran iman orang-orang yang tidak mengenal Kristus.
Saudara kepercayaan lain mengajarkan tentang pertobatan, mereka juga mengajarkan tentang iman. Jadi soal pertobatan dan bahkan soal iman tidak hanya saudara dapatkan di dalam iman Kristen, tetapi agama lain kepercayaan lain juga mengajarkan hal yang sama. Orang harus bertobat, orang harus beriman. Lalu apa bedanya?
Kesempatan ini saya akan sampaikan tentang perbedaan orang percaya dan bukan percaya dari sisi teologis maupun dalam kehidupan praktis. Saya melihat banyak orang tidak menyadari berkat yang luar biasa yang Tuhan sudah berikan bagi kita yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.
Lalu apa yang tidak diajarkan oleh kepercayaan lain? Ya ini, kelahiran baru, lahir baru. Kelahiran baru di dalam kekristenan itu penting. Orang bisa saja berkata aku sudah bertobat, bahkan lebih lagi orang bisa berkata aku orang yang beriman, aku sudah dibaptis. Tetapi Alkitab mengajarkan hanya melalui Kelahiran baru kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, kelahiran baru adalah pintu masuk Kerajaan Allah, dengan kata lain tidak ada cara lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kecuali ia dilahirkan kembali.
BACA ALKITAB YOHANES 3:1-13
Yohanes 3:1-13 menceritakan pertemuan seorang pria anggota Sanhedrin datang kepada Tuhan Yesus. Pria tersebut adalah seorang guru Yahudi bernama Nikodemus. Nikodemus sendiri memanggil Yesus sebagai Guru. Dalam hal ini, ada Seorang Guru yang berasal dari Sorga dan seorang lagi seorang guru yang berasal dari Yahudi. Nikodemus mengakui Tuhan Yesus sebagai Guru yang diutus oleh Allah, sedangkan Nikodemus sendiri menyandang gelar guru karena belajar. Nikodemus kagum melihat tanda-tanda ajaib yang telah ditunjukkan Tuhan Yesus. Kepada Nikodemus, Tuhan Yesus menyatakan : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Guru Yahudi itu tidak mengerti dengan maksud pernyataan Tuhan Yesus tersebut. Pikirnya, mana mungkin seorang dilahirkan kembali kalau ia sudah tua. Dalam hal ini, Nikodemus menggunakan akal kekuatan pikirannya sendiri untuk memahami pernyataan yang telah dinyatakan oleh Tuhan Yesus. Selanjutnya Tuhan Yesus menambahkan, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sekali lagi, Nikodemus bertambah bingung dengan pernyataan Tuhan Yesus, sebab segala sesuatu yang dipelajarinya selama ini tidak dapat mencerna pernyataan yang diungkapkan Tuhan Yesus kepadanya.
KENAPA HARUS LAHIR BARU?
Kepercayaan lain mengajarkan ketika orang lahir dari kandungan seorang ibu, ia adalah manusia suci, ia manusia tidak berdosa. Berbeda dengan ajaran kekristenan, setiap manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Artinya siapan pun itu termasuk bayi yang baru lahir, ia adalah manusia berdosa. Memang ia belum melakukan perbuatan dosa mungkin, tetapi jangan lupa ia juga adalah keturunan Adam dan Hawa, sekalipun bayi tidak melakukan tindakan yang mendatang dosa, tetapi jangan lupa bayi tersebut gennya adalah dari Adam yang berdosa. Untuk itulah Tuhan Yesus berkata "jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3:3). Manusia harus dilahirkan kembali oleh sebab manusia Adam dan Hawa telah jatuh ke dalam dosa, demikian juga keturunannya. Jadi apa yang dilahirkan oleh daging adalah daging. Jadi lahir baru bukanlah suatu pilihan malainkan suatu keharusan. Kelahiran kembali tidak dapat digantikan dengan perbuatan baik, dengan amal, dengan menjadi orang yang beragama, bahkan lahir baru tidak dapat digantikan dengan baptisan (lahir baru bukanlah baptisan). Rasul Paulus dalam Galatia 6:15 berkata: "Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya."
Kenapa mesti lahir baru? Karena kegagalan Agama. Perbuatan manusia tidak membawa orang kepada Kerajaan Allah.
Matius 23:14-15 Tuhan mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Tuhan berkata celakalah kamu! Karena orang-orang Yahudi menobatkan orang untuk masuk agama Yahudi, kamu menjadikan dia ke neraka. Bahkan Yesaya berkata kesalehan kita seperti kain kotor di hadapan Tuhan (Yesaya 64:6). Ketika seseorang mencoba untuk datang kepada Allah dengan kebenarannya sendiri, di hadapan Allah orang itu tidak lain selain seperti kain kotor yang tidak layak di hadapan-Nya: "Sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali tidak diubahkan ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Tidak akan pernah ada peraturan baru atau kultur baru atau situs baru atau bangsa yang baru tanpa manusia yang baru. Kita tidak akan pernah melihat perubahan terjadi sebelum perubahan pada setiap individu terjadi, entah itu di dalam pemerintahan ataupun di sekolah ataupun di negara ataupun dalam satu konsili ataupun di dalam keluarga ataupun di dalam jemaat.
APAKAH KELAHIRAN BARU ITU?
Nikodemus berfikir bahwa ia sudah layak untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Secara logika Nikodemus tidak salah kalau ia berkata bahwa ia sudah layak masuk surga. Ia berpikir bahwa ia diselamatkan oleh karena: "Ia adalah anak Abraham, ia adalah orang Yahudi dan oleh sebab itu dia adalah anggota Kerajaan Allah." Itulah yang dipikirkan oleh Nikodemus dan itu jugalah yang dipikirkan semua orang Israel bahkan orang-orang Israel pada zaman ini. Yohanes Pembaptis pernah menegur orang Israel dengan keras, ia berkata: "siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan dan janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu Abraham adalah Bapa kami! Karena aku berkata kepadamu Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!" (Matius 3: 7-9). Dengan kata lain Yesus sedang berkata: "Nikodemus, sekalipun kamu orang Yahudi, sekalipun kamu bagian dari umat pilihan Allah, meskipun kamu keturunan Abraham, tetapi jika kamu tidak dilahirkan kembali, kamu tidak ada bedanya dengan mereka yang tidak mengenal Allah. Inilah yang membuat kita berbeda dengan orang lain.
Dilahirkan kembali berarti Allah mengaruniakan hidup baru di dalam Kristus oleh pekerjaan Roh Kudus dengan perantaraan Firman Allah. Kelahiran baru berarti menerima kodrat ilahi oleh pekerjaan Roh Kudus dengan perantaraan Firman (II Petrus 1:4). Dan jawaban Yesus atas pertanyaan Nikodemus perihal kelahiran baru terdapat di dalam Yohanes 1:12, dikatakan begini: "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah." Dalam Alkitab BIS dikatakan begini: "Namun ada juga orang yang menerima Dia dan percaya kepada-Nya; mereka diberi-Nya hak menjadi anak Allah, yang dilahirkan bukan dari manusia, sebab hidup baru itu dari Allah asalnya." Jadi lahir baru bukan usaha dari manusia melainkan anugerah Allah bagi setiap orang yang percaya. Allahlah yang mengerjakan kelahiran kembali. Tepat sekali jika Paulus berkata: "Sebab oleh karena kasih karunia kamu diselamatkan karena iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9). Kemudian perhatikan kalimat berikutnya "karena kita ini buatan Allah diciptakan dalam Kristus Yesus." Artinya apa saudara, Tuhan sedang mengerjakan setiap orang percaya dari dalamnya. Dari dasarnya dulu. Mustahil orang akan berubah jika yang di dalam ini tidak diubah dulu.
TANDA-TANDA DAN HASIL KELAHIRAN KEMBALI
Hidup di dalam Kristus itu luar biasa. Ketika kita menerima Kristus, pada saat itulah Tuhan mulai mengerjakan hidup kita. hal inilah yang tidak dimiliki oleh ajaran mana pun, kecuali ajaran Kristus. Dan luar biasa adalah, Tuhan mengerjakan hidup kita dari dalam. Tuhan sedang mengerjakan perubahan yang dari dalam keluar. Bukan hanya hidup kekal yang akan kita dapatkan, tetapi kita pun yang masih di dunia ini juga menikmati berkat-berkatNya. Dan kuncinya hanya satu kita berserah dan menbiarkan Tuhan mengerjakan hidup kita untuk serupa dengan-Nya. Tujuan Bapa dalam hidup kita hanya satu, menjadikan kita serupa denganNya. Tidak ada jalan lain kecuali Allah sendiri yang mengerjakannya.
Ketika orang dilahirkan kembali: hatinya mengalami perubahan. Yang tidak mengasihi Tuhan menjadi mengasihi. Dari yang tidak pernah merindukan Tuhan, begitu merindukan Tuhan. Ingatkah ketika Anda bertobat pertama kali? Apakah yang Anda rasakan? Anda begitu tidak layak di hadapanNya, kemudian ketika saudara merasakan kasih Tuhan, saudara mulai menangis dan tiba-tiba saudara begitu mengasihi Tuhan. saudara mempunyai kerinduan yang dalam kepada Tuhan. Itulah saat-saat saudara dijamah Tuhan dan Tuhan mulai melahirkan kembali saudara. Kenapa orang bisa gampang melakukan dosa? Jawabannya simpel, karena tidak mengasihi Tuhan.
Ketika orang dilahirkan kembali, Ia mengalami perubahan dalam karakternya. Ketika yang di dalam ini sudah dibentuk, maka yang di luar pasti mengikuti. Orang yang dilahirkan kembali mengalami perubahan dalam hidupnya. Bukan pribadinya yang berubah, orangnya tetap sama. Tetapi sekarang ia secara berbeda dikendalikan. Orang yang lahir baru berjalan menurut Roh, dan diperintah oleh Roh Kudus. Saudara tidak sejahtera lagi jika berbuat dosa, saudara tidak nyaman jika melakukan dosa.
Jadi orang yang lahir baru pasti mengalami perubahan kelakuan. I Yohanes 3:9: "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah." Alkitab BIS berkata: "Orang yang sudah menjadi Anak Allah, tidak terus-menerus berbuat dosa, sebab sifat Allah sendiri ada padanya. Dan karena Allah itu Bapanya, maka ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa." Orang yang dilahirkan baru adalah orang yang sama, namun mempunyai karakter yang berbeda dari manusia yang lama.
Ada pertanyaan seperti ini: "Bila aku adalah seseorang yang dilahirkan kembali, mengapa aku begitu sering jatuh bangun dalam dosa?" Max Lucado memberikan gambaran yang menjelaskan kepada kita semua tentang hal ini, demikian: Menurut Anda, kenapa Anda sangat sering jatuh pada awal-awal kelahiranmu? Apa Anda langsung berjalan dengan dua kaki ketika lahir? Tentu tidak. Dan ketika kamu mulai untuk berjalan, kamu lebih sering jatuh ketimbang berdiri. Apakah kita akan mengharapkan hal yang berbeda dalam perjalanan kehidupan rohani kita? "Tapi aku terlalu sering jatuh, sehingga aku mempertanyakan apakah aku sudah benar-benar selamat atau tidak." Kembali ke kelahiran jasmanimu. Bukankah dulu Anda juga sering terjatuh ketika kamu belajar berjalan? Dan ketika Anda jatuh, apakah Anda mempertanyakan kevali dan kelahiranmu? Apakah kamu, sebagai seorang balita yang berumur satu tahun, ketika jatuh ke lantai, menggeleng-gelengkan kepalamu dan berpikir bahwa mungkin kamu bukan manusia? Tentu tidak. Proses jatuh dari seorang anak kecil tidak dapat membatalkan kenyataan bahwa dia dilahirkan, sebagai manusia. Dan begitu pula, proses jatuh dari seorang Kristen tidak membatalkan kelahiran spiritualnya. Karena Allah sudah menanamkan benih Illahi di dalam hidup kita. Saat benih itu bertumbuh kita akan berubah.
Paulus pernah berkata bahwa ada bayi rohani yang membutuhkan susu bukan makanan keras. Hal ini seolah-olah Paulus sedang menunjukkan ada level-level tertentu yang berhubungan dengan hal rohani. Kita juga pernah mendengar istilah dewasa rohani. Orang yang lahir baru tidak bararti bahwa ia tidak dapat jatuh dalam dosa. Tetapi sekalipun ia jatuh, dosa tersebut tidak menguasainya. Bukan berarti dosa tidak ada lagi dalam hidup kita, tetapi dosa tidak punya kuasa lagi atas hidup kita. Godaan akan menggoda kita, tapi tidak akan menguasai kita. Betapa luar biasa harapan ini!Sehingga kita akan bangkit dan tidak berusaha untuk kembali ke lobang dosa yang sama.
Ketika orang dilahirkan kembali, orang tersebut akan menerima kuasa sebagai anak-anak Allah. Yoh. 1:12 mengatakan kita akan menerima kuasa jika kita percaya kepadaNya. Roma 8:14 Setiap orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. I Yoh. 5:4 Kita menerima kuasa untuk mengalahkan dunia dan kuasa untuk bebas dari dosa-dosa kita. Artinya kita sebagai orang percaya mempunyai potensi. Potensi untuk menjadi baik, potensi untuk melakukan apa saja bersama dengan Tuhan. Tidak ada alasan untuk minder, tidak ada alasan untuk takut, tidak ada alasan untuk kuatir, karena kita mempunyai kuasa.
Dunia mengajarkan tentang kekuatan yang ada dalam diri manusia. Banyak buku-buku dan bahkan di televisi tidak sedikit yang mengajarkan tentang kekuatan pikiran, sugesti, pemikiran positif. Dan saya pun mengakui kalau hal-hal tersebut bisa membuat hidup kita berubah. Orang bisa sukses dengan itu. Tetapi saudara hal tersebut sebenarnya itu hal yang natural, hal yang wajar, semua manusia mempunyainya. Tetapi apa yang dimiliki oleh orang percaya tidak dimiliki oleh orang lain. Tuhan tidak ingin kekuatan natural kita yang menonjol dalam hidup kita, tetapi lebih lagi Tuhan rindu yang supranatural yang ada dalam hidup kita menonjol. Bisa tidak saudara? Bisa! Kita punya Roh Kudus yang menyertai kita.
Ini bedanya saya dan saudara adalah anak-anak Allah, untuk itu kita hidup selayakanya sebagai anak-anak Allah. Kita adalah orang-orang Kerajaan Allah. Untuk itu kita pun harus hidup dengan mental anak-anak Tuhan, mental orang-orang Kerajaan Allah.
Sekali lagi Saudara, bahwa saya dan Anda adalah orang-orang yang berbeda dan luar biasa. Yang sedang berjalan bersama Anda adalah Pribadi yang Mahakuasa. Kita yang terbatas sedang berjalan dengan Pribadi yang tiada batas. Jadi, tidak ada alasan untuk takut dan minder. Bersama Tuhan kita dapat melakukan perkara-perkara besar. Haleluya!

Gifts From the Heart for Women

Penulis : Kingsbury
Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun Melakukan Yang Terbaik Untuk .......
Tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.
Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari. "Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."
Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.
Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?" Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini. "Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu." Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?" Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,......Ibuku meninggal." Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata "Hari ini,.......hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak. Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak..... Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya............Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya........ Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya...............
Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN :
Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar.
Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ? Berapakah usia Anda saat ini ?
Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hilang untuk selamanya.........?

Hal Kekuatiran

Oleh: Fidiakris
Saat Teduh pagi ini saya buka Matius 6:25-34 mengenai hal kekuatiran. Dalam perikop ini firman Tuhan berkata, "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai."
Ini adalah janji Tuhan buat umat-Nya. Lalu bagaimana dengan orang-orang dunia, apakah janji ini juga berlaku? Ya. Janji ini juga berlaku buat orang-orang dunia. Namun ada perbedaannya. Orang dunia hidup dalam kekuatiran mereka, sedangkan kita hidup dalam janji Tuhan. Dan bagaimana kita meraih janji Tuhan itu? Apakah kita menunggu saja sampai sesuatu jatuh dari langit (baca : tanpa melakukan sesuatu)? Atau kita menghabiskan waktu kita dalam khayalan dan impian kita terhadap janji Tuhan itu?
Tidak. Kita perlu melakukan bagian kita yaitu berusaha, misalnya bekerja atau berkarya. Tanpa bermaksud menghakimi; kita sering melihat tayangan-tayangan reality show dimana sebuah keluarga atau seseorang yang miskin yang ditolong dengan sejumlah uang atau harta benda oleh program acara tersebut. Kalo kita simak baik-baik, anggota keluarga tersebut anak-anaknya telah berusia produktif namun tidak bekerja. Yah tidak heran kalo mereka jarang bisa makan atau bahkan harus puasa dan hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka telah menyia-nyiakan hidup mereka dengan hanya berpangku tangan.
Dalam penciptaan langit dan bumi, Tuhan bekerja selama 6 hari. Tuhan tidak berpangku tangan, masakan kita berpangku tangan? Lalu, bagaimana dengan kita yang adalah ciptaan Nya yang sempurna? Tuhan ingin kita berkarya baik dalam pekerjaan kita atau pelayanan kita, di mana Tuhan telah memberikan tempat yang Dia inginkan kita berada. Berkarya /bekerja adalah sesuatu yang Tuhan inginkan dari kita. Berusahalah dan bertekun didalamnya, maka janji Tuhan akan digenapi. Amin.

Hanya Dekat Allah Saja Aku Tenang

Oleh: Sunanto
Mzm 62:2-3 “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.”
Tepat pada hari pertama tahun 2007, kita dikejutkan dengan menghilangnya sebuah pesawat milik Adam Air yang sampai hari ini masih belum terungkap penyebab kecelakaan tersebut. Belum lagi pesawat tersebut diketemukan, sebuah kapal motor tenggelam yang mengakibatkan hilangnya ratusan nyawa manusia.Beberapa hari yang lalu kembali lagi terjadi kecelakaan yang kali ini menimpa angkutan yang katanya paling aman yaitu kereta api. Sepertinya tidak ada lagi transportasi yang terjamin keamanannya di negeri ini, baik angkutan udara, laut dan darat mengalami kecelakaan. Memasuki tahun 2007 ini kita juga dibayang-bayangi oleh ancaman wabah flu burung yang dikuatirkan akan bermutasi sehingga bisa menular antar manusia sebab ternyata ditemukan kucing dan anjing juga sudah tertular oleh virus ini.
Akibatnya banyak orang yang saat ini diserang oleh ketakutan dan kekuatiran, terutama mereka yang akan berpergian jauh. Tetapi sebagai orang beriman kita tidak boleh takut menghadapi situasi ini. Ketakutan bukanlah datang dari Tuhan sebab Tuhan tidak memberikan roh ketakutan kepada kita melaink an Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan kedamaian.Kita harus melawan rasa takut tersebut dengan datang ke hadiratNya. HadiratNya merupakan tempat teraman yang ada di dunia ini.
Saya percaya bila Tuhan mengijinkan malapetaka-malapetaka tersebut terjadi pasti ada tujuannya. Tuhan mengijinkan situasi yang tidak nyaman ini agar kita terdorong untuk mendekat kepadaNya dan menemukan rasa aman yang sejati yang hanya dapat diperoleh di hadiratNya. Saya sendiri sering diijinkan oleh Tuhan mengalami situasi yang tidak aman dan kadang juga mengancam keselamatan hidup saya. Terus terang kalau boleh, saya tidak ingin melalui jalan yang tidak nyaman tersebut. Tetapi saya harus melewatinya sebab itu merupakan cara Tuhan untuk melatih iman saya agar bertumbuh semakin kuat. Ketegangan hidup merupakan salah satu cara untuk menguatkan otot-otot manusia batiniah kita. Dua tahun belakangan ini hidup saya diwarnai dengan ketegangan demi ketegangan tetapi justru dalam masa yang tegang ini saya merasa kerohanian saya bertumbuh paling pesat dibanding masa-masa yang tidak banyak ada ketegangan.
Tujuan utama Tuhan menciptakan manusia adalah agar mereka bisa saling bersekutu dan bersahabat. Tetapi sejak manusia jatuh ke dalam dosa, persekutuan tersebut menjadi terganggu. Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia tidak lagi memiliki rasa aman yang datang dari persekutuan dengan Allah sebab dosa memisahkan mereka dari Allah. Lalu manusia mengalihkan pencarian rasa aman (identitas) mereka pada pekerjaan, jabatan, popularitas dan hubungan dengan orang lain. Tetapi semuanya tidaklah dapat memberikan rasa aman yang sejati kepada manusia. Tidak ada orang kaya yang tidak takut hartanya akan hilang, tidak ada orang terkenal yang tidak takut satu saat ketenarannya akan sirna, tidak ada orang yang memiliki jabatan yang tidak takut kehilangan jabatan tersebut. Hanya hubungan dengan Allah melalui Kristus Yesus yang dapat memberikan rasa aman yang sejati kepada kita !

Hari Tuhan

Oleh: Berea Indonesia
Mengapa kita harus berkumpul?
Yesus memanggil kita "gereja" yaitu tubuh-Nya. Oleh karena itu gereja bukanlah berarti gedung atau bangunan, tetapi "Ekklesia". Dengan kata lain, perkumpulan atau persekutuan orang-orang percaya "di dalam" Yesus sebagai tubuh-Nya.
Orang-orang Kristen selalu menghadiri Ibadah pada Hari Tuhan. Pada Hari Tuhan, orang-orang Kristen datang dari daerah tempat tinggal mereka masing-masing untuk beribadah kepada Tuhan dan dipersatukan dengan Dia.
Pada hari ini, kita beribadah, mengucap syukur kepada Allah yang memberikan kita hidup melalui Yesus, dan yang juga menguduskan tubuh kita oleh Roh Kudus, sebagai bait-bait kudus Allah.
Pada malam Ia dikhianati, Yesus membagikan cawan dan roti kepada murid-murid-Nya dan memerintahkan mereka untuk melakukan hal ini sebagai peringatan akan Dia. (Lukas 22:19-20, 1 Korintus 11:23-25). Jadi murid-murid biasanya berkumpul bersama pada Hari Tuhan untuk memecahkan roti (Kisah Para Rasul 20:7).
Tuhan kita dibangkitkan dari kematian pada hari pertama minggu itu. Setelah Dia diangkat ke surga, Dia sudah mengutus Roh Kudus kepada kita sesuai dengan janji-Nya untuk menyaksikan fakta bahwa Dia dibangkitkan dan bahwa Dia juga sedang membela kita di sebelah kanan Allah (Roma 8:34).
Oleh karena itu, kita harus berkumpul pada Hari Tuhan, tidak seperti mereka yang tidak rindu untuk beribadah, dan giat menantikan menjelang tibanya Hari itu (Ibrani 10:25) untuk memperingati dan memberitakan kematian dan kebangkitan Yesus dan turunnya Roh Kudus.
Mengapa "Hari Tuhan"?
Karena itu adalah harinya Tuhan (Wahyu 1:10). Yesus dibangkitkan dari kubur pagi-pagi sekali pada hari pertama minggu itu (Markus 16:1-7) dan menjadi buah sulung kebangkitan, harapan dari semua umat manusia (1 Korintus 15:20). Turunnya Roh Kudus -- yang Yesus sudah janjikan -- terjadi pada hari Pantekosta, Hari Tuhan (Kisah Para Rasul 2:1-4). Sejak hari itu, orang-orang percaya mulai bersaksi tentang Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 1:8). Oleh karena itu Hari Tuhan menjadi peringatan lahirnya Gereja Kristus.
Hari Tuhan adalah hari pertama dari tiap-tiap minggu (1 Korintus 16:2), hari yang penuh dengan hidup dan berkat bagi enam hari yang berikut. Yesus mati satu hari sebelum hari Sabat, dibaringkan di kubur pada hari Sabat dan dibangkitkan dari kematian pada Hari Tuhan. Melalui kebangkitan-Nya, Dia menghancurkan kuasa maut dan memastikan keselamatan kita. Pada Hari Tuhan dua ribu tahun silam, orang-orang Kristen dibebaskan dari maut dan kutuk. Jadi sekarang ini pada Hari Tuhan, kita menghargai benar harapan akan kebangkitan dan kehidupan kekal.
Roh Kudus mendiami orang-orang Kristen yang telah disucikan oleh darah Yesus, dan memberikan kesaksian atas kebangkitan Yesus.
Hari Sabat tidak mampu memberi kebebasan sejati bagi roh jiwa kita. Yesus Kristus menyempurnakan hari Sabat dan memberi kebebasan sejati kepada roh jiwa manusia. Yesus Kristus lebih besar daripada hari Sabat dan Dialah Tuhan atas hari Sabat (Matius 12:8). Marilah kita menghadiri ibadah dengan setia untuk mematuhi perintah-Nya.
Ucapan Syukur untuk Keselamatan Kita, Inspirasi untuk Kebangkitan Kita
Pada Hari Tuhan, kita dipenuhi dengan ucapan syukur atas penebusan dan keselamatan. Hari Tuhan adalah hari sukacita, hari satu-satunya yang adalah milik kasih karunia dan kebenaran. Pada Hari Tuhan ini, orang-orang Kristen bertemu dan saling membagi pengharapan mereka atas kebangkitan. Jika tidak ada kebangkitan, iman kita mejadi sia-sia (1 Korintus 15:12-20). Tujuan akhir iman bagi kita orang-orang Kristen adalah kebangkitan (Filipi 3:10-14).
Kristus dibangkitkan dari kematian, menjadi buah sulung kebangkitan diantara mereka yang tertidur dan terangkat ke sorga.
Ketika Dia datang kembali, mereka yang menjadi milik-Nya pertama-tama akan dibangkitkan (1 Korintus 15:20-23), dan sisanya akan ikut dalam kebangkitan yang berikut (1 Korintus 15:24). Jika tidak ada kebangkitan orang mati maka tidak ada harapan untuk kehidupan kekal. Untuk dibangkitkan dari kematian sebagai yang tidak bisa binasa lagi adalah bagian inti dari iman kita dan suatu janji penting dari Allah untuk Gereja Kristen masa kini.
Diberkatilah mereka yang akan termasuk dalam kebangkitan pertama (Wahyu 20:4-6). Pada Hari Tuhan, kita memperbaharui kepastian kita akan kebenaran dan janji mengenai kebangkitan pertama. Selama kita menerima kesaksian Tuhan melalui Firman-Nya. Kita juga dapat mengalami sebelumnya sejenis kehidupan yang kita akan miliki di surga ketika kita memerintah untuk selama-lamanya.
Oleh karena itu, kita harus mengakhiri kebiasaan kita yang bermalas-malasan dan berpartisipasi dalam pekerjaaan melayani Gereja untuk kemuliaan Kristus. Kita harus hidup sebagai imamat yang rajani (1 Petrus 2:9) dan berjaga-jaga dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus yang kedua.
Beberapa Kebiasaan-kebiasaan yang Baik dalam Beribadah pada Hari Tuhan
  1. Pada hari-hari kerja:
  2. Tetap berjaga-jaga dan mempersiapkan diri untuk menghadiri Ibadah pada Hari Tuhan. Pada hari Sabtu malam, persiapkan uang persembahan dan perlengkapan yang diperlukan seperti Alkitab, Kidung Pujian, alat tulis dan lain-lain.
  3. Pada Hari Tuhan:
  4. Bangun lebih pagi dan mempersiapkan diri. Tiba di gereja dua puluh menit sebelum ibadah dimulai. Beribadah dengan kepenuhan Roh Kudus (Yohanes 4:24). Ambil bagian dalam pekerjaan pelayanan (Efesus 4:12). Jauhkan diri dari melakukan kesenangan, dan keinganan duniawi dan dari amarah. Gunakan kata-kata berkat. Layani sesama. Jangan membuat janji untuk tujuan keduniawian dan rencana apapun untuk mengadakan perjalanan.

Hasil Percakapan Goa dan Matahari

Penulis : Manati I. Zega
Belum lama ini, saya membaca beberapa buku tentang dongeng anak-anak. Dalam sebuah buku disebutkan demikian. Suatu hari terjadi percakapan saling menyombongkan diri di antara Goa dan Matahari. Goa berkata: "akulah sumber kegelapan. Barangsiapa yang mendekat kepadaku pasti akan mengalami kegelapan yang luar biasa. Tidak ada alasan baginya untuk lepas dariku. Pasti tidak ada yang mampu mengalahkan aku di dalam dunia ini. Akulah raja di atas segala raja, yakni raja kegelapan. Karena itu, jika seseorang berani mencoba masuk, pasti akan tersesat di dalamku."

Selesai mengatakan demikian. Sekaranglah giliran matahari menyatakan siapa dirinya yang sesungguhnya. "Akulah sumber terang, tegas matahari meyakinkan. Barangsiapa yang mendekat kepadaku pasti akan mengalami terang. Tidak ada yang mampu mengalahkan terangku."
Mendengar pernyataan tersebut, goa ternyata tidak mau kalah dan sangat keberatan menerima pernyataan yang disampaikan matahari tersebut. Karena itulah mereka memutuskan untuk saling mengundang dan adu kekuatan.
Kali ini, yang pertama mendapat undangan adalah goa. Dalam undangan istimewa ini, matahari diundang datang ke tempatnya. Dengan senang hati, goa menerima tawaran ini. Tidak lama menunggu, goapun mulai beraksi dan langsung terbang menuju ke matahari. Ketika terbang, semakin dekat dengan matahari semakin teranglah goa yang tadinya gelap gulita. Bahkan, ketika tiba di tempat matahari, goa yang tadinya begitu gelap, berubah menjadi terang benderang. Gelap yang tadinya pekat, berubah menjadi terang yang sungguh luar biasa.
Setelah kejadian itu, goa yang tadinya mengaku sumber kegelapan protes luar biasa. Pikirnya, mungkin karena sayalah yang ke matahari. Coba jika dia yang datang ke tempatku, gelapku kan tidak mungkin lenyap.
Karena itu, untuk langkah berikutnya, sekarang gilirannya goa mengundang matahari datang ke bumi. Undangan itupun diterima dengan senang hati. Mataharipun langsung meluncur dari tempat yang tinggi dan menuju ke tempat dimana goa berada.
Begitu sampai di bumi, matahari langsung ke tempat goa. Begitu sampai di tempat tersebut, goa yang tadinya gelap gulita, berubah menjadi terang benderang.
Saudara, cerita di atas menjadi sumber inspirasi bagi kita: di mana ada terang, di situ kegelapan lenyap. Terang sekecil apapun dapat mengusir kegelapan yang paling pekat.
Siapakah terang yang sebenarnya? Yesus berkata : AKULAH TERANG DUNIA. Sumber terang yang sesungguhnya adalah Yesus Kristus. Barangsiapa yang dengan rendah hati datang kepada-Nya, kegelapan hatinya akibat dosa diterangi oleh kasih abadi. Kasih yang kekal, kasih yang sempurna. Itulah kasih Allah yang menjelma menjadi manusia melalui peristiwa NATAL.

Hati Nurani dan Moral

Penulis : Dr. R.C. Sproul
Ketika kita harus memilih di dalam bidang moral maka nyatalah fungsi hati nurani sangat rumit. Hukum Allah memang tidak berubah untuk selamanya. Namun disamping taat kepada hukum-hukum ini kita juga perlu mengusahakan agar hukum-hukum ini mencapai keharmonisan dalam hati kita.

Standar dari organ intern ini disebut "hati nurani". Ada orang melukiskan suara intern yang samar-samar ini sebagai suara Allah di dalam diri manusia. Di dalam hati nurani manusia, yaitu tempat yang sangat tersembunyi terdapat keberadaan pribadi, karena ini bersifat tersembunyi sehingga kita sangat sulit mengenal fungsinya. Freud telah memasukkan psikologi ke dalam istana ilmiah sehingga manusia mulai menyelidiki alam bawah sadar, menggali lubang-lubang yang paling dalam di dalam pribadi manusia.
Sehingga manusia takut dan kagum waktu menghadapi hati nurani. Apa yang dinyatakan oleh suara intern ini mungkin seperti komentar seorang psikolog sebagai "menemukan neraka." Namun kita harus memandang hati nurani sebagai sesuatu yang bersifat surgawi, sesuatu yang berhubungan dengan Allah dan bukanlah organ yang berasal dari neraka. Mari kita membayangkan tokoh di dalam film karton, pada waktu ia diperhadapkan untuk memilih dalam bidang moral maka ada malaikat dan setan, yang masing-masing hinggap di kiri kanan bahunya. Keduanya berusaha manarik dia seperti menarik gergaji untuk memperoleh otak manusia yang malang ini. Hati nurani dapat merupakan suara dari surga dan juga dapat berasal dari neraka. Dia mungkin berbohong, juga mungkin mendorong kita mencapai kebenaran. Dua macam hal yang dapat keluar dari satu mulut. Jika bukan melakukan tuduhan maka ia melakukan pengampunan. Slogan Walt Disney yang terkenal: "Biarlah hati nuranimu memimpin engkau" sangat populer.
Namun ini paling banyak hanya bisa dipandang sebagai teologi untuk anak kecil. Sedangkan terhadap orang Kristen hati nurani bukanlah pengadilan tertinggi untuk memutuskan kelakukan yang benar. Hati nurani sangat penting tetapi tidak cukup sebagai standar, dia selalu berkemungkinan untuk menjadi bengkok dan salah memimpin. Di dalam Perjanjian Baru 31 kali menyebut tentang hati nurani sepenuhnya menyatakan kemungkinan terjadi perubahan hati nurani. Hati nurani juga mungkin telah digerogoti menjadi keropos atau karena kerap kali berdosa sehingga kebal. Yeremia melukiskan orang Israel dengan istilah "bermuka pelacur." Ini disebabkan orang Israel terus menerus berdosa sehingga kehilangan perasaan malu di dalam hatinya. Mereka menegarkan tengkuk, membekukan hati, sehingga hati nurani mereka tidak berfungsi lagi. Demikian juga orang-orang yang anti masyarakat mungkin setelah membunuh manusia tetap tidak merasa menyesal dan hilanglah fungsi teguran hati nurani yang normal.
Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya. Ingatlah pada waktu Martin Luther di dalam sidang Worms menghadapi tekanan moral yang luar biasa besarnya dan gentar di tengah kepahitan yang optimal itu. Ada orang menganjurkan untuk menyerahkan iman, maka di antara jawabannya terdapat, "Hati nuraniku telah ditawan oleh Firman Allah." Melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani adalah tidak benar dan merupakan hal yang tidak aman dan berbahaya sekali. Begitu hidup Luther melukiskan dinamika emosi semacam ini pada waktu ia mempergunakan istilah "ditawan." Hati nurani dapat bekerja secara penuh di dalam diri manusia. Pada saat manusia dipegang oleh suara hati nurani sehingga menghasilkan kekuatan maka dengan sendirinya timbul keberanian yang luarbiasa. Hati nurani yang ditawan oleh Firman Allah adalah hati nurani yang anggun dan berdinamika. "Bertindak melanggar hati nurani adalah tidak benar dan bahaya." Benarkah kalimat Luther ini? Kita harus berhati-hati menjelajahinya sehingga dapat mencegah langkah-langkah yang dapat melukai jari kaki kita yang berjalan di tepi pisau cukur kriteria moral ini. Jikalau hati nurani mungkin disalahtafsirkan atau salah arah mengapa kita harus tidak berani bertindak melanggarnya? Apakah kita harus masuk ke dalam dosa karena mengikuti hati nurani? Kita berada di tengah-tengah kedua bahaya ini sehingga bergerak, maju maupun mundur. Jikalau kita dikatakan berdosa menurut hati nurani, perlu diingat meskipun sudah bertobat hati nurani tetap memerlukan Firman Tuhan untuk memberikan pimpinan yang benar. Namun jikalau kita bertindak melanggar hati nurani kita tetap telah melakukan dosa. Dosa ini mungkin tidak tergantung apa yang sudah kita perbuat tetapi tergantung fakta bahwa kita yang sudah mengetahui dengan jelas sesuatu yang jahat tetap terjun ke dalamnya, ini menyangkut prinsip Alkitab yang menyatakann "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa." Misalnya (sekali lagi misalnya) ada orang diajar dan percaya bahwa memakai lipstick adalah berdosa tetapi ia tetap memakainya maka orang ini sudah berbuat dosa. Sebenarnya dosa bukan tergantung pada lipstick itu tetapi tergantung pada usahanya untuk melanggar perintah Allah.
Penguasaan terhadap hati nurani merupakan semacam kekuatan dengan daya pemusnahan di dalam gereja. Orang legalis selalu menitikberatkan penguasaan dosa, sedangkan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Hati nurani adalah semacam alat yang rumit yang harus kita hargai. Jikalau seseorang mau mempengaruhi hati nurani orang lain maka ia menghadapi tugas berat, ia harus memelihara kepribadian orang lain menjadi sempurna seperti pada saat diciptakan Allah. Jikalau kita mempersalahkan orang lain dengan penghakiman yang bersifat memaksa dan tidak benar maka kita mengakibatkan tetangga kita terikat kaki tangannya berarti kita memberikan rantai kepada mereka yang sudah dibebaskan Allah. Tetapi jikalau kita secara paksa mengakibatkan orang berdosa, menganggap diri tidak bersalah maka kita akan mendorong mereka lebih terjerumus ke dalam dosa. Dan akan menerima hukum Allah yang seharusnya dapat dihindarkan.

Hati Terpikat dan Terjerat

Oleh: Yon Maryono
Wanita mana yang hatinya tidak suka dengan kata-kata rayuan? Pernyataan itu tidak hanya relevan jaman sekarang, tetapi pada awal mula penciptaan. Perempuan telah terpikat rayuan ular untuk makan buah pohon pengetahuan yang dilarang Tuhan. Demikianlah perintah Tuhan kepada manusia: Semua pohon dalam Taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati. Hal ini bermakna, kebebasan itu dengan syarat, manusia harus menahan diri dari apa yang sudah ditetapkan Allah agar tidak dilakukan manusia (Kejadian 2:15-17). Ternyata, manusia tidak peduli terhadap perintah Tuhan. Sosok Ular, sebagai figure iblis memikat manusia, untuk memanjakan keinginan dirinya, sehingga manusia menolak bergantung pada Sang Pencipta. Tanggung jawab kesalahan atas pilihan itu bukan terutama pada ular melainkan pada diri manusia itu sendiri sehingga merusak keharmonisan hubungan antara manusia dan Allah. Itulah yang terjadi dalam diri manusia sehingga jatuh dalam dosa. Akibatnya, Tuhan menghalau mereka dalam kehidupan yang harus dihadapi dengan susah payah, manusia keluar dari hadirat Tuhan. Murid Yesus, seperti Yudas pun terpikat dan tidak dapat lepas dari pengaruh Iblis. Pengaruh itu ada sejak mula, jaman Kristus bahkan sampai sekarang atau akhir jaman. Mengapa? Firman Tuhan: Aku (Tuhan) akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini antara keturunanmu dan keturunannya (Kej. 3:15).
Dengan jujur renungkanlah, adakah perbuatan ini selalu kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Markus 7:21-22). Yakobus menuliskan: Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan (Yakobus 3:14-15). Oleh karena itu: Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: Percobaan ini datang dari Allah. Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut (Yakobus 1:13-15).
Karakter jahat atau kegelapan itu sudah menguasai manusia, sehingga manusia tidak dapat lagi mengenali atau mencari kebenaran atas usahanya sendiri. Paulus menuliskan: Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik (Roma 7:18). Jika kita telah memahami hal ini maka dengan sendirinya kita mengetahui bahwa tanpa Anugerah dari Allah maka manusia tidak akan pernah bisa kembali kepada Kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga apa yang dipilih manusia tidak berpusat lagi kepada Allah.
Jagalah hati
Dalam psikologi, ego manusia terkait dengan badan, otak, dan hati. Jika badan diasosiasikan dengan eksistensi fisik, otak dengan pikiran, hati dengan intelektual, maka intelektual dalam hal ini sangat penting karena otak dan badan di bawah kendali dan berasal dari intelektual. Intelektual adalah pusat manusia (the centre of human being), yang bersemayam di dalam hati. Dalam ilmu psikologi, kualifikasi intelektual harus didampingi dengan kualifikasi moral. Jika tidak didampingi spiritual, intelektual tidak akan berfungsi. Secara psikologis, intelektualitas menjadi spiritualitas ketika manusia sepenuhnya hidup di dalam kebenaran.
Alkibab adalah sumber segala pengetahuan. Oleh karena itu, narasi dalam psikologi sudah sepenuhnya tertuang di Alkitab. Narasi dalam Alkitab sering mengidentifikasi bahwa pusat perintah keinginan manusia tergantung dari sikap hati, atau Levav (bahasa ibrani). Kecenderungan manusia untuk bersikap atau bertindak ditentukan oleh Hati, dan dari hati cenderung selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kej 6:5). Hati adalah tempat berfikir (Markus 2:6-8) dan tempat perasaan (Lukas 24:32). Demikian pula, dosa timbul dari hati dan pikiran; sebab dari dalam, dari hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Markus 7:21-22). Oleh karena itu, hati inilah yang dipengaruhi iblis, sehingga liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu (Yer.17:9). Dalam Alkitab, hakekat hati manusia dimanifestasikan dengan segala sifat, jasmani, intelektual, dan jiwa sebagai suatu kesatuan, sehingga hati adalah sebuah sinergi antara jiwa, akal budi, dan kekuatan.
Oleh karena itu, sejak kita belajar dan mengetahui kebenaran firman Tuhan, tetapi kita memberi waktu diskusi dengan diri sendiri untuk mempertimbangkan melakukan atau tidak melakukan kebenaran itu, saat itulah iblis masuk dalam hati kita untuk memutar balikan kebenaran firman Tuhan. Hati menjadi tujuan utama yang diserang iblis. Hati juga menjadi tujuan utama yang dibentuk Tuhan. Tuhan menyelidiki hati, menguji batin dan menjadikannya hati kita bersih melalui penyerahan diri dan ketaatan kita sebagai pelaku kebenaran firman Tuhan. Jagalah hati, jangan sampai terpikat dan terjerat rayuan iblis. Percayalah janji Tuhan: orang yang suci hatinya akan melihat Allah, dan dapat memahami kasih Allah (Mat.5:8Efesus 3:17).
Tuhan memberkati.

Hendaklah Perkataanmu Menjadi Berkat Bagi Orang Lain.

Sumber: Daniel Alamsjah / Borobudur.
Hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung pujian-pujian dan nyanyian rohani. Hendaklah Perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya diantara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan pujian-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah didalam hatimu.

Mulutku mengucapkan pujian-pujian kepada Tuhan dan biarlah segala makhluk memuji namaNyayang kudus untuk seterusnya dan selamanya.
Haleluyah! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu. Bernyanyilah bagi Tuhan dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!
Dan aku mengdengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dasyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. 1 Kort. 14:15, Efes. 5:18-19, Kolose 3:16, Mazm. 145:21; 147:1,7; Wah 14:2.
Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku kepada raja, lidahku ialah pena seorang juru-tulis yang mahir (Mazm. 45 :2)
Setiap orang percaya setiap perkataannya/perbuataannya harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan , makanya Tuhan memberikan mulut kita satu, supaya kita jangan banyak berkata-kata saja, setiap perkataan yg keluar dari mulut berasal dari hati kita, karena dari hati dan mulut, kita bisa mengaku Yesus adalah Tuhan (Roma 10 : 8). Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran (Amsal 21: 23), maka perkataan orang2 percaya Jangan ada perkataan kotor keluar dari mulut mu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun dimana perlu supaya mereka yang mendengar beroleh kasih karunia (Efes.4: 29)
Tuhan Yesus berkata kepada kita semua Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya (Lukas 6 : 45)
Oleh sebab itu setiap orang percaya biarlah apa yg diucapkannya, dan ditulis di setiap millis ini membawa berkat bagi banyak orang dan penuh kasih. ( Efesus 4 : 6) .
Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah tetapi tidak mengekang lidahnya ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya (Yohanes 1 : 26)Tuhan memberkati.

Hendaklah Kamu Penuh dengan Roh

Oleh: Ev.sudiana
Teks yang kita baca pagi ini memberi satu instruksi/perintah kepada kita: “Hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:18). Apabila kita meneliti nats tersebut, maka ayat ini terdapat 2 macam interpretasi.
1. Kita dipenuhi oleh Roh Kudus, sehingga kehidupan kita menyatakan suatu kemenangan akan kuasa keselamatan Allah, yang Ia berikan kepada kita dalam Tuhan Yesus Kristus.
2. Sebagai pengikut Kristus kita hendaklah terus mengalami anugerah Tuhan, senantiasa hidup dalam kemenangan kehidupan yang dikontrol oleh Roh Kudus.
Marilah kita terus telusuri makna pengajaran perikop yang kita baca ini.
Kita memunyai hidup baru.
Pengertian yang pertama dari ayat 18 ialah, saat kita bertobat, percaya dan menerima Tuhan Yesus, maka kita dimeteraikan dengan Roh Kudus: ini adalah permulaan hidup baru kita di dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu kehidupan kita hendaknya sesuai dengan status kita selaku anak-anak Allah. Karena kita juga disebut sebagai terang dunia, hendaklah kita hidup sebagai anak-anak terang. Ayat 1-5. Firman Tuhan mengajarkan bahwa “percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebutpun jangan di antara kamu … Demikian juga perkataan yang kosong atau yang sembrono … ” ayat 3 - 4. Hidup kita bukan lagi sebagai orang yang bebal, tetapi sebagai orang arif. Dengan perkataan lain, pola hidup baru kita harus bertolak belakang dengan pola kehidupan yang lama.
Kita terus hidup dalam kemenangan.
Sebagai pengikut Kristus, kita hendaklah terus mengalami anugerah Tuhan. Sehingga kita dapat senantiasa hidup dalam kekayaan kehidupan rohani yang dikontrol oleh Roh Kudus. Paulus menggunakan suatu perumpamaan untuk membandingkan pola kehidupan yang lama seperti orang yang mabuk karena anggur. Alkohol membuat orang mabuk. Kemabukan sebenarnya berarti bahwa seseorang sudah kehilangan kekuatan mengontrol prilakunya. Karena dalam keadaan mabuk, seseorang akan melakukan tindakan yang tak senonoh dengan tatanan kesusilaan. Perkataan dan kelakuannya tidak ditAndai dengan kesopan-santunan. Sebaliknya orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus setiap sendi kehidupan dan prilakunya dikontrol oleh Roh Kudus. Paulus menulis inilah pola kehidupan yang harus kita pelihara senantiasa.
Hidup kita adalah untuk Kristus dan misi-Nya.
Pada Kisah Para Rasul 1: 4-5 dan ayat 8, kita mengetahui kalau karya Roh Kudus adalah untuk memberitakan Injil Kristus serta memasyhurkan nama-Nya. DalamKolose 3:17 Paulus menulis: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah Bapa kita.” Ini adalah sesuatu pengajaran yang paralel dengan Efesus 5:18-21. Dengan demikian maka kehidupan pengikut Tuhan Yesus akan membawa segala puji syukur oleh Dia kepada Allah Bapa. Nah, adakah kehidupan kita menyatakan Keagungan Tuhan? Kemuliaan Tuhan? Kekudusan Tuhan? Kasih dan keadilan Tuhan? Hanya kehidupan kita yang dipenuhi oleh Roh Kudus yang dapat melakukannya.

Hukum Kelimpahan

Oleh: Asty Bortan
Suatu hari yang indah, seorang kakek tua hendak menaiki bus. Pada saat dia hendak menginjakkan kakinya ke anak tangga bus, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Seketika bus tertutup dan bergerak dengan cepat, sehingga dia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si kakek yang tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela bus sambil tersenyum.
Seorang pemuda yang duduk di sebelahnya dan melihat kejadian itu keheranan, dan bertanya kepada si kakek tua, "saya memerhatikan apa yang kakek lakukan. Mengapa kakek melempar sepatu yang sebelah juga?"
Si kakek menjawab "Supaya siapa yang menemukan sepatu saya bisa memanfaatkannya."
Ternyata si kakek itu memahami filosofi dasar dalam hidup.
JANGAN MEMPERTAHANKAN SESUATU HANYA KARENA KAMU INGIN MEMILIKINYA ATAU KARENA KAMU TIDAK INGIN ORANG LAIN MEMILIKINYA.
Karena kelekatan akan sesuatu (benda, materi,peristiwa ataupun seseorang) membuat hidup kita terbatas.
Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.
Seperti si kakek dalam cerita itu mengajarkan kepada kita untuk belajar dengan rela melepaskan sesuatu.
Tuhan sudah menentukan bahwa, memang itulah saatnya si kakek tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja si kakek itu kehilangan sepatu supaya nanti dia bisa mendapatkan sepasang sepatu baru yang lebih baik. Satu sepatu hilang, dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan bernilai banyak bagi si kakek. Tapi dengan melemparkan keluar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandagan yang membutuhkannya.
BERSIKERAS MEMPERTAHANKANNYA TIDAK MEMBUAT KITA ATAU DUNIA AKAN MENJADI LEBIH BAIK.
Kita semua harus memutuskan kapan sesuatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.
KERELAAN KITA AKAN MEMBERIKAN RUANG PERTUMBUHAN BAGI HIDUP KITA SENDIRI.
Memang tidak mudah bagi kita melepaskan sesuatu yang telah menjadi milik kita. Namun, Tuhan telah menjanjikan bahwa segala sesuatunya telah dia sediakan bagi semua yang percaya akan rancangan-Nya.

Ia Telah Bangkit

Penulis : Herlianto
"Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.." (Matius 6:19-21)

Yesus yang bangkit memang menjadi sandungan bagi mereka yang menolak Dia, dan untuk meredam fakta historis para saksi mata yang bersaksi tentang kebangkitan itu, Makamah Agama Yahudi menebarkan dusta yang menyebut bahwa "mayat Yesus dicuri para muridnya" (Matius 6:11-15). Dusta-dusta ini terus berkembang dengan berjalannya waktu.
Sepanjang sejarah banyak usaha dilakukan orang untuk mengubah fakta historis ini, ada yang menyebut bukan Yesus yang disalib tetapi Yudas. Dalam film Jesus Christ Superstar (1973) disebutkan Yesus mati frustrasi dalam kegagalan dan Yudas dijadikan pahlawan yang dikorbankan Tuhan. Film yang lain The Last Temptation of Christ (1988) menggambarkan Yesus di atas kayu salib, dalam frustrasinya sebelum mati ia membayangkan menikah dengan Maria Magdalena.
Sebuah buku best seller berjudul Holy Blood Holy Grail (1982) menyebut Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan keturunannya tinggal di Perancis Selatan, demikian juga buku best seller lainnya Jesus The Man menyebut Yesus tidak mati di salib tetapi hanya pingsan dan disembuhkan oleh Simon Magus dan lari melalui lorong-lorong gua Qumran. Dusta terakhir disebarkan oleh buku best seller The Da Vinci Code yang menyebut Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan sekarang keturunannya tinggal di Inggeris. Tidak kurang ada dusta lainnya yang menyebut bahwa Yesus kabur ke Timur dan mati di Kashmir.
Fakta menunjukkan bahwa setelah Perjamuan Malam dan kemudian Yesus mati di salib, murid-murid menjadi ketakutan dan frustrasi sehingga mereka tidak berani keluar dan tinggal merenung di ruang yang terkunci dan kembali dalam pekerjaan asal mereka, tetapi peristiwa kebangkitan ternyata mengubah segala sesuatu secara radikal.
Petrus yang pengecut dan menyangkal kenal dengan Yesus yang diadili dan akan disalib menjadi pemberani yang berani berbicara lantang bersaksi akan iman kebangkitan yang dipercayainya di depan mahkamah agama. Para Rasul lainnya juga menjadi bergairah mengabarkan Injil kemana-mana, bahkan Thomas yang pernah meragukan kebangkitan Yesus akhirnya menjadi perintis gereja Mar Thoma di India. Perbahan psikologis dalam diri para Rasul ini juga dialami Rasul Paulus, seorang farisi fanatik yang biasa mengejar dan membunuh murid-murid Yesus. Setelah pertemuannya dengan Yesus yang telah bangkit dalam perjalanannya ke Damsyik, ia menjadi rasul kabangkitan yang rela mati demi Nama yang pengikutnya pernah diburu-buru untuk dibunuh olehnya.
Peristiwa sejarah juga menunjukkan adanya ledakan agama besar setelah kebangkitan. Josephus ahli sejarah Yahudi juga menyebut soal kebangkitan agama itu, dan ledakan para pengikut Yesus dengan cepat berlipat ganda dan menakutkan banyak politisi Romawi sehingga mereka mengejar para pengikut Yesus, menjadikannya makanan para singa di Koloseum Roma, dan bahkan menyalibkan mereka di jalan-jalan. Namun iman kebangkitan terus mendorong umat menyebarkan kabar baik kebangkitan itu.
Fakta sejarah lainnya adalah adanya kubur yang kosong dan para pemuka agama Yahudi dan tentara Romawi yang ganas itu tidak bisa menunjukkan dimana mayat Yesus diletakkan atau disembunyikan kalau memang Yesus tidak bangkit. Yesus yang bangkit dilihat oleh banyak sekali orang sehingga mustahillah kalau semuanya itu hasil halusinasi mereka yang sudah terlanjur percaya.
Petunjuk menarik sebagai bukti Yesus bangkit pada hari minggu adalah perubahan Paskah Perjanjian Lama (Tuhan membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir) yang dirayakan pada hari Sabat Sabtu yang begitu ketat dilaksanakan sebagai ritus agama oleh umat Yahudi, dengan bangkitnya Yesus pada hari pertama dalam minggu mendorong umat Kristen tidak lagi merayakan Sabat Sabtu tetapi melaksanakan ibadat di hari Minggu sebagai peringatan mingguan akan Yesus yang telah bangkit pada hari itu. Perubahan melawan tradisi agama yang ketat ini tentu disebabkan peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi. Paskah sekarang berarti Tuhan menang atas maut dan Tuhan membebaskan umat manusia dari dosa.
Yesus yang bangkit telah mendorong banyak penginjil untuk memberitakan kabar baik itu ke seluruh dunia dan banyak orang rela sekalipun harus mati sebagai martir karena kesaksian mereka. Polycarpus ketika akan dibakar kecuali kalau ia mau menyangkali Yesus dan menyembah kaisar, berseru: "70 tahun Ia (yang telah bangkit itu) tidak pernah mengecewakan saya, bagaimana saya harus mengecewakan Dia pada hari ini?", ia mati dibakar. Iman Kristen tidak didasarkan pada penderitaan Yesus atau penyaliban-Nya, tetapi iman Kristen didasarkan kebangkitan Yesus dari kematian yang menunjukkan kemenangan-Nya atas maut dan bahwa Ia adalah Tuhan atas kehidupan ini.
Berita Yesus yang telah bangkit tetap diberitakan sampai sekarang, dan bukan sekedar sebagai fakta historis tetapi sebagai janji bahwa Tuhan Yesus akan membangkitkan umat yang percaya. Bagi pengikut Tuhan Yesus, Ia adalah Kristus, sang juruselamat, yang membebaskan umatnya dari perhambaan dosa dan membawa kepada keselamatan dan kebangkitan tubuh bila telah mati.
Peringatan Paskah bukan sekedar ritual agama, tetapi merupakan momentum bagi manusia untuk menyadari bahwa hidup manusia itu harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah pada saat mereka meninggal atau belum meninggal saat kedatangan-Nya kedua kali kelak. Namun, bagi mereka yang mau menerimanya sebagai juruselamat dan mengakui dosa-dosa mereka dan tidak berbuat lagi dan melakukan kehendak Allah, maka kebangkitan menjadi jaminan bila nanti mati meninggalkan dunia yang fana ini.
Berita Ia telah bangkit bukan sekedar catatan Alkitab yang terjadi 2000 tahun yang lalu, melainkan kabar baik yang tetap diberitakan sampai sekarang, bahwa Ia menjanjikan kebangkitan juga bagi orang yang percaya dan diperkenan-Nya, dan menjadi pengharapan hidup bagi semua orang yang membuka diri kepada-Nya.
Selamat Hari Paskah, Amin!

Iblis Bahagia

Jika si Iblis menulis ucapan bahagianya, maka bunyinya mungkin akan seperti ini:

  • Berbahagialah orang yang terlalu capek, sibuk sehingga tidak punya waktu untuk bersekutu satu jam saja dengan TUHAN. Mereka adalah rekan kerjaku yang paling hebat.

  • Berbahagialah orang yang menunggu ditegur dan mengharapkan pujian. Aku bisa memperalat mereka.


  • Berbahagialah mereka yang terlalu sensitif. Dengan sedikit sentilan saja, mereka pasti tidak mau lagi bekerja dengan semangat Mereka ini adalah "fans-ku".

  • Berbahagialah mereka pembuat masalah. Mereka akan disebut anak-anakku. Berbahagialah orang tukang mengeluh. Aku senang mendengarkan mereka.

  • Berbahagialah mereka yang sudah bosan dengan gaya dan kekeliruan bossnya, karena mereka tidak mendapat apa-apa dari pekerjaannya.

  • Berbahagialah setiap karyawan yang berharap dibujuk-bujuk untuk disiplin kerja. Orang seperti ini hanya menambah masalah baru.

  • Berbahagialah mereka yang suka gossip, karena mereka akan menimbulkan pertengkaran dan perpecahan. Ini sungguh menyenangkan saya.

  • Berbahagialah mereka yang gampang tersinggung, karena mereka akan cepat marah dan pindah pekerjaan lain.

  • Berbahagialah mereka yang egois dan mementingkan diri sendiri, merekapenolong saya.

  • Berbahagialah orang yang mengaku mengasihi Tuhan tetapi membenci saudaranya karena mereka akan bersama saya selamanya.

  • Berbahagialah kamu yang membaca tulisan ini dan merasa ini cocok untuk orang lain dan bukan diri sendiri. Kamu sudah dalam tangan saya.

Iblis Menggugat

Oleh: Hwian Christianto
(percakapan imajiner antara Allah dan Iblis tentang tanggung jawab)
Iblis: Baiklah, disini dan saat ini aku ingin meluruskan beberapa hal yang selama ini sangat merugikan aku. Pertama, hai Raja, lihatlah manusia itu, makhluk yang Kau cipta dengan penuh keistimewaan itu dan Kau kasihi dengan nyawa-Mu itu selalu saja tidak mau bertanggung jawab atas segala dosanya.
Allah (Raja): Mengapa kau katakan begitu?
Iblis: Engkau sendiri sebenarnya sudah tau ketika dia melakukan segala kebusukan hatinya. Pastilah Engkau tahu ketika dia dengan sengaja mengatupkan mulutnya di Gereja saat memuji-Mu, ketika dia begitu malas untuk berdoa, ketika dia bermalas- malasan di tempat tidurnya bahkan ketika dia mulai berjalan mengandalkan dirinya sendiri. Semua itu jelas-jelas, salah manusia, makhluk yang Kau sayangi itu. Benar bukan?!
Allah: Apakah yang kau maksudkan iblis?
Iblis: Aku hanya menuntut keadilan dari semua yang dituduhkan kepadaku. Coba saja lihat, betapa aku seringkali dan malah selalu menjadi kambing hitam dari semua dosa yang manusia lakukan itu. Coba lihat, dalam kasus seorang Kristen yang tidak sungguh-sungguh bernyanyi memuji-Mu di Gereja, selalu saja aku yang di salahkan. Yang karena intimidasi-lah sehingga membuat mereka malas, yang karena pencobaan-lah sehingga mereka merasa tertarik pada lagu- lagu pop dan rock dunia ketimbang lagu-lagu-Mu.
Allah : Benarkah engkau tidak bertanggung jawab apa-apa atas semua kejatuhan manusia itu, hai iblis?
Iblis: Ya, kalo dibilang sama sekali tidak bertanggung jawab ya tidak juga, namun Raja, Engkau sendiri yang menetapkan peperangan ini, jadi bukan salah aku dan para serdadu ku semata jika manusia itu jatuh ke dalam dosa.
Allah: Namun engkau berperan di dalamnya bukan?
Iblis: Nah, itu aku akui, tetapi manusia sendirilah yang membuahkan keinginan berdosa itu dengan kehendaknya yang rakus sehingga memberontak melawan Engkau. Sungguh, ini semua bukan 100% kesalahanku
Allah: Hai iblis, ketahuilah, Aku ini Allah, Raja atas semua yang ada, termasuk atas kamu. Akulah Allah yang tetap menyatakan kebenaran dan keadilan tidak ada yang terjadi tanpa seijin Aku. Untuk keluhan dan gugatanmu itu, bukankah dari sejak awal Aku sudah menghukum dengan adil atas semua pihak yang bertanggung jawab. Manusia, memang Aku kasihi namun tidak dengan memanjakan mereka, Aku tahu dengan benar sebesar apa dosa mereka dan siapa yang harus bertanggung jawab atasnya. Kepada manusia, Aku hukum mereka terpisah dari hubungan yang kekal dan indah dengan Aku. Mereka akan merasakan hidup tanpa Allah sebagai akibat dosa mereka sendiri. Dan untukmu, engkau akan menjadi musuh dan seteru manusia di dalam pergumulannya melawan dosa dan kembali kepada-KU.
Iblis: Oke, oke aku paham mengenai hal itu, tetapi jangan selalu menyalahkan aku dong. Semua dosa yang di perbuat manusia sekali lagi, mereka-lah yang seharusnya bertanggung jawab bukanlah aku. Aku kan hanya melakukan bagianku untuk menggoda mereka, menipu mereka dan membujuk mereka agar jauh dari-Mu. Nah, soal mereka akhirnya menjauh dari-Mu itukan tergantung mereka sendiri bukan aku yang salah.
Allah: Hai iblis, sangkamu Aku tidak mengetahui semua maksud dan tipu dayamu! Lihatlah apa yang Aku lakukan kepadamu, ketika engkau masih menjadi malaikat kesayangan-Ku, engkau Ku puji sebagai pelayan-Ku yang setia namun apa yang Ku peroleh darimu, pujian tidak kau berikan, malahan engkau iri kepada kemuliaan- Ku dan mengingini takhta-Ku. Itulah kenapa engkau, menjadi bapa penipu. Dan untukmu Aku sudah mempersiapkan satu hukuman yang kekal bagimu, itulah keadilan-Ku bagimu.
Iblis:bagimana dengan manusia?
Allah: Aku-lah Allah yang menyatakan kehendak-Ku, didalam otoritas-Ku, Aku nyatakan segala kasih dan anugerahKu kepada mereka. Jika mereka berdosa, Aku tetap menuntut mereka untuk bertanggung jawab atas dosa mereka. Mereka tetap harus berlutut di hadapan-Ku, dan bertobat atas semua perbuatan jijik yang mereka lakukan. Aku yang menuntut semua orang yang berdosa kepada- Ku.
Iblis: Wah, maaf aku tidak akan biarkan itu terjadi Raja, selama hari penghukuman itu belum tiba, aku tetap akan mengerjakan peperangan ini, membawa sebanyak mungkin orang-orang yang Kau kasihi itu pelan namun pasti segera menjauh dari-Mu. Akan ku buat mereka terlena dengan zona kenyamanan mereka, bersukacita atas keberhasilan mereka sehingga lupa kepadaMu, mengorek luka hati mereka kepada setiap orang yang mereka kasihi sehingga nanti aku tidak akan sendirian di Neraka.
Allah: di bawah kuasa dan anugerah-Ku, semua manusia yang percaya kepadaKu akan tetap Ku pelihara dan bertekuk lutut kepadaKu. Mereka akan setia dan melayani Aku. Mereka akan terus bertumbuh dan semakin membenci dosa dan takut akan Aku. Itulah janjiKu atas mereka.
Iblis: Huahahahahahaa, lihat saja nanti!!

Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku...

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.
Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.
Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."
Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan- pelan...kita mesti lihat apa yang akan terjadi..."
Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya...
Dia tidak melihat sehelai pita kuning...
Tidak ada sehelai pita kuning....
Tidak ada sehelai......
Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....bergantungan di pohon beringin itu...Ooh...seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...!!!
Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.
*) Dalam kisah "Anak yang Hilang", diceritakan Sang Bapa melihat si anak murtad dari kejauhan. Berarti dia telah berdiri menanti di pinggir jalan. Selama bertahun-tahun. Terus, tak pernah menyerah. Tetangganya mungkin mengejek dia setiap hari.
Dia tidak menghukum si anak murtad. Melainkan lari cepat tanpa memperdulikan kehormatannya memeluk dia, dan menghujaninya dengan ciuman.
Jika ada pohon beringin di sorga, tentulah pohon itu akan dipenuhi ribuan, jutaan, ...tak terhitung...pita-pita kuning....
Allah yang seperti itu yang kita miliki sebagai Bapa...
Uh, adakah yang lebih berharga dalam hidup?

Iman dan Perkataan Yesus

Oleh: Andy
Ada banyak lagu dan pujian yang kita naikkan untuk menyatakan isi hati kita kepada Tuhan. Beberapa di antaranya merupakan ungkapan pernyataan iman tentang kepedulian Allah terhadap hidup kita. Tentu saja Tuhan senang dengan iman yang dinyatakan lewat pujian kepada Dia.
Demonstrasi iman yang dinyatakan seorang perwira di Kapernaum kepada Yesus bahkan membuat Yesus heran akan dia dan berkata “..Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai sekalipun di antara orang israel” (Lukas 7:1-10). Pernyataan Yesus tentang keheranan-Nya akan iman seorang perwira Yahudi jelas merupakan suatu pujian yang tulus dan tidak mengandung kepentingan apapun juga. Bukan karena iman ini lahir dari seorang perwira Kerajaan Romawi yang disegani dan dihormati. Bukan juga karena Yesus bermaksud memperoleh “posisi aman” karena berkenalan dengan seorang perwira tinggi Romawi. Pujian yang Yesus nyatakan dalam bentuk keheranan-Nya lebih disebabkan beberapa hal berikut ini.
1. Sebagai seorang Perwira tinggi Kerajaan Romawi, dia bisa saja memanfaatkan kedudukannya untuk memerintahkan Yesus supaya datang dan menyembuhkan hambanya yang sedang sakit. Tetapi yang terjadi adalah dia mengirimkan beberapa orang tua-tua Yahudi untuk memohon pertolongan Yesus.
2. Perwira tinggi Romawi ini bukan mengirimkan sembarang orang untuk menemui Yesus. Dia mengirimkan tua-tua Yahudi yang sangat dihormati dalam pelayanan rumah Ibadah orang Yahudi. Ini merupakan pernyataan iman yang sangat dalam yaitu bahwa dia mengakui Yesus lebih tinggi daripada imam-imam orang Yahudi.
3. Perwira ini bersusah payah untuk mendapatkan Yesus hanya karena kepeduliannya terhadap bawahannya yang sakit lumpuh. Dia tidak sedang bersusah payah untuk memperoleh kesembuhan bagi dirinya sendiri atau keluarganya. Tetapi sebagai seorang perwira tinggi yang memiliki banyak bawahan, dia bahkan peduli terhadap salah seorang bawahannya yang sakit.
4. Perwira ini dengan segala kenyamanan, kehormatan, kekayaan dan fasilitas yang dimilikinya sebenarnya sangat memungkinkan baginya untuk masuk dalam perangkap kenikmatan seorang penguasa dan melupakan sisi lain dari kehidupan agamawinya. Tetapi Alkitab mencatat perwira ini merupakan seorang yang sangat peduli terhadap pembangunan rumah ibadah orang Yahudi.
5. Perwira ini tidak mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tidak juga meragukan kemampuan Yesus, tidak menaruh curiga kepada Yesus dan tidak menginginkan apapun dari Yesus selain kesembuhan bawahannya. Sebaliknya Perwira ini justru mengungkapkan keyakinannya kepada Yesus dalam satu perkataan fenomenal yang penuh kuasa, ....”tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh ”
Alkitab tidak mencatat kejadian ini sebagai perumpamaan, tetapi sejarah perjalanan Yesus ketika memasuki kota kecil Kapernaum. Yesus tentu saja tahu bahwa DIA akan bertemu seorang perwira di kota ini. Tetapi Yesus tidak pernah menyangka kalau seorang perwira tinggi yang hanya sebatas pernah mendengar tentang mujijat yang Dia (Yesus) lakukan ini, menaruh kepercayaan yang sangat tinggi kepada-Nya. Itu sebabnya Yesus berkata ...”Ia heran akan dia”
Seringkali dalam hidup kekristenan, kita dihadapkan pada suatu pilihan untuk mempercayai Yesus sepenuhnya atau tidak. Lihatlah perkembangan teknologi dan kemampuan intelegensia manusia yang semakin menakjubkan. Apakah kita masih sungguh-sungguh perlu Tuhan dalam abad modern yang diberi label “Tuhan sudah mati” ? Manusia sekarang tidak lagi takut akan Tuhan.
Keberadaan Tuhan merupakan ejekan di dunia internet. Manusia hidup dalam kesombongan dan kebodohan terbesar sepanjang sejarah. Manusia masuk dalam perlombaan untuk menyamai Tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh Lucifer dan Nimrod dalam pembangunan menara babel. Babel yang merupakan lambang dari kebejatan moral, kerajaan ego, penyembahan berhala dan nafsu percabulan dengan dunia pada akhirnya akan dihancurkan (Wahyu 14:8).
Perkataan Yesus banyak kita jumpai di mana-mana. Sebagian menggunakan perkataan Yesus untuk mencari keuntungan dengan mendramatisasi jemaat lewat kotbah-kotbah di atas mimbar, yang lain menghiasi perkataan Yesus dalam bingkai-bingkai indah untuk dijual sebagai pajangan semata, beberapa sekolah Kristen menawarkan sensasi pendidikan karakter serupa Kristus dalam mata program tahunannya dengan biaya sekolah yang sangat mahal, hamba-hamba Tuhan berlomba-lomba mengutip perkataan Yesus untuk memotivasi jemaat membangun gedung gereja yang lebih besar sementara melupakan hakekat dasar jemaat sebagai tubuh Kristus yang utama, dan masih banyak lagi lainnya.
Perkataan Yesus tidak lagi memiliki kuasa karena dimanfaatkan untuk tujuan lain yang tidak sesuai dengan karakter Ilahi. Perkataan Yesus hanya serupa mantera untuk menghalau kesialan hidup. Perkataan Yesus tidak lagi termanifestasi menjadi seperti aliran sungai yang memuaskan orang yang mendengarnya tetapi sebaliknya menjadi perdebatan bahkan di antara sesama orang yang mengaku dirinya percaya kepada Yesus. Ironis.
Itu sebabnya ketika kita mengusir setan, setan tidak pergi. Ketika kita berdoa mencurahkan berkat, berkat tidak datang. Dan saat kita mencari kesembuhan dalam nama Yesus, yang kita dapati hanyalah kekecewaan belaka. Iman kita membeku dalam jerat waktu. Iman kita mati dalam pengharapan dan keniscayaan. Iman kita tidak bertransformasi menjadi kenyataan.
Iman seorang perwira Romawi merupakan refleksi atas kondisi iman yang Yesus harapkan kita miliki. Gaya hidup perwira Romawi yang menaruh kepedulian atas rumah Allah dan sesamanya merupakan sinkronisasi yang harmonis dan sesuai dengan perintah-Nya dalam Ulangan 6:5, dan Imamat 19:18, Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu,.. dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Kepedulian terhadap sesama akan menggerakkan hati Yesus untuk bertindak dalam hidup kita, sehingga ketika kita menyatakan perkataan Yesus, perkataan Yesus tidak akan kembali dengan sia-sia. Hukum kasih melebihi semua yang mampu kita kerjakan, lebih berharga daripada jika kita memberi diri untuk dibakar (1 Kor. 13:3). Dan ketika kita melakukannya, pujian yang Yesus berikan kepada sang perwira, tidak mustahil juga akan diberikan kepada kita. Biarkan Yesus terheran-heran dengan iman yang kita miliki saat ini.
Tuhan memberkati.

Iman yang Baru

Penulis : Diana Sihotang
Roma 8:35
Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
Sementara aku bersiap-siap melanjutkan pendidikan di luar negeri, aku khawatir dan cemas sebab aku belum pernah pergi jauh dari rumah. Imanku masih baru, dan aku takut kalau terpisah dari komunitas imanku, aku akan kembali ke dosa-dosa lamaku. Aku merasa masih terlampau muda dalam iman untuk menghadapi dunia luar seorang diri. Namun, melanjutkan pendidikan sangat penting bagiku.

Saat aku bergumul apakah aku harus berangkat atau tidak, aku terus dihibur dan diingatkan akan kasih Allah. Ia menolongku menyadari bahwa tidak ada satu pun, bahkan kelemahanku, yang mampu memisahkan diriku dari kasih Allah [Roma 8:38-39 - 38 Sebab aku yakin, baik maut mau pun hidup, baik malaikat-malaikat, mau pun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, mau pun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, mau pun yang di bawah, atau pun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.].
Hari ini aku merupakan bagian dari suatu komunitas iman yang baru di mana aku bisa lebih melayani Allah dan bahkan terus bertumbuh di dalam iman. Doa harian dan pemahaman Alkitab membantuku agar imanku tetap teguh. Dan bila aku mulai mengkhawatirkan hubunganku dengan Allah, aku teringat akan Yeremia 29:11 - "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."
Tidak ada sesuatu apa pun yang mampu memisahkan kita dari kasih Allah.

Indahnya Kekudusan

Oleh:Sunanto
Pada tanggal 31 Desember 1999, saya dengan beberapa orang teman pergi ke Opera House untuk menikmati malam pergantian menuju milenium baru sebab di tempat itu akan ada fire work yang katanya sangat indah dan fantastik. Kabarnya tradisi perayaan tahun baru di Sydney merupakan yang termahal di dunia. Sejak siang hari kami sudah berangkat ke sana sebab sangat banyak orang yang ingin menyaksikan momen tersebut. Penantian kami ternyata tidak sia-sia, fire work yang berlangsung hampir satu jam itu dan diakhiri dengan tulisan eternity di Harbour Bridge sungguh sangat menakjubkan.

Tepat pada detik pergantian menuju milenium baru, kembang api raksasa itu keluar secara bersamaan dari Opera House, Harbour Bridge, Darling Harbour, Centre Point dan beberapa gedung tinggi lainnya.Wow, itu merupakan pemandangan terindah yang pernah saya lihat dalam hidup ini. Bila anda menyaksikan sendiri momen itu saya jamin pasti anda akan terpesona oleh keindahan pemandangan tersebut. Namun setelah saya mengalami indahnya hidup dalam hadirat Allah maka saya merasa keindahan pemandangan pada malam pergantian milenium itu masih kalah indah.
Bagi anda yang pernah merasakan jatuh cinta pasti akan mengenang masa-masa indah tersebut. Beberapa kali saya pernah merasakan indahnya saat sedang jatuh cinta dengan seorang wanita tetapi masih lebih indah saat menikmati curahan kasihNya. Seperti kata Benny Hinn, sangat sulit untuk mendefinisikan keindahan kasih Allah yang dicurahkan dalam hati manusia. Hidup dalam kekudusan bukanlah hal yang membosankan melainkan hal yang paling membahagiakan dalam hidup ini. Saat kita telah mengecap keindahan sukacita sorgawi itu maka seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, semua kenikmatan yang dunia dapat berikan bagaikan sampah dibandingkan dengan keindahan tersebut. Orang-orang yang telah mengalami kasih Allah tidak akan takut mati lagi bahkan mati dianggap keuntungan.
Katekismus Westminster mengatakan tujuan akhir manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya. Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa yang Tuhan inginkan dari hidupnya adalah pelayanan. Tujuan hidup kita adalah menikmati persekutuan dengan Allah dan dari persekutuan terjadi pembuahan yang akan melahirkan pelayanan. Pelayanan bukanlah tujuan melainkan hasil dari persekutuan dengan Allah. Orang yang giat melayani belum tentu mengasihi Tuhan tetapi orang yang mengasihiNya pasti akan melayani Tuhan dan sesama.
Hanya orang yang bersih tangan dan murni hatinya yang boleh naik ke gunung Tuhan. Kesucian merupakan syarat utama untuk bisa mengalami persekutuan yang intim dengan Allah. Sebelum kita masuk ke dalam realitas keindahan kasih Allah itu maka terlebih dahulu akan ada proses pengudusan. Sama seperti emas dimurnikan dengan api, hati manusia dimurnikan oleh panasnya api pengujian. Kitab Petrus berkata “janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” Bersabarlah bila saat ini anda sedang diproses dan diuji oleh Tuhan sebab sukacita, kasih dan kuasa yang baru menanti di ujung proses itu. Satu hari nanti pasti anda akan mengalami keindahan dari pelangi kasihNya!

Iri Hati

Oleh: Marolop Simatupang
Iri hati didefenisikan sebagai suatu "perasaan tidak senang atas keunggulan atau keberuntungan orang lain. Dalam Alkitab sering disebut dengan kedengkian, atau dendam." (Cruden’s Complete Corcordance)
Iri hati harus dibedakan dari kecemburuan. Kita cemburu atas kepunyaan kita; kita iri kepada kepunyaan orang lain. Cemburu ialah takut kehilangan apa yang dimilikinya; iri hati adalah sakit hati melihat orang lain punya. (Crabb’s English Synonymus).
Alkitab menempatkan iri hati ke dalam daftar "perbuatan daging." "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (Galatia 5:19-21). Kontras sekali dengan daftar "buah-buah Roh." (Galatia 5:22, 23). Iri hati merupakan sifat asli Iblis, akar kejahatan.
Dalam kitab Roma pasal 1, iri hati digolongkan dengan keserakahan, kebencian, perselisihan, tipu muslihat, fitnah dan pembunuhan, menjadi salah satu dari dosa-dosa yang membawa pada maut. Dosa-dosa tersebut dikecam oleh Alkitab.
Iri hati sangat merusak kehidupan. Seorang yang iri, akan berusaha merusak kebaikan-kebaikan yang nampak dalam diri orang lain. Iri hati membuat orang "merendahkan reputasi baik orang dan memutar-balikkannya ke dalam nama yang buruk."
Alkitab mengecam sifat iri hati. Salomo mengatakan, "Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang." (Amsal 14:30). Iri hati itu seperti penyakit kanker, menggerogoti vitalitas hidup dan jiwa manusia.
Karena iri hati banyak orang melakukan kejahatan besar. Iri hati menyebabkan Kain membunuh Habel, adiknya (Kejadian 4:1-8). Karena iri hati sekarang ini beberapa orang berusaha membunuh reputasi atau kebaikan orang lain. Karena iri hati orang Yahudi menyerahkan Yesus agar disalibkan. Pilatus "memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki." (Matius 27:18).
Karena iri hati-lah sehingga Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya ke perhambaan. (Kejadian 34). "... Dan saudara-saudaranya iri hati kepadanya." (Kejadian 34:11). Iri hati membawa orang kepada tindak kriminal, berbuat dosa.
Sifat iri hati harus disingkirkan dari karakter hidup kita. Iri hati akan membuat orang berpusat pada diri sendiri. Iri hati dan sifat mementingkan diri sendiri itu berdekatan. Sebab iri hati merupakan manifestasi sifat mementingkan diri sendiri. Iri hati akan membawa dosa-dosa mendasar lainnya, yang menularkan kejahatan. Contoh, Kain membunuh Habel, adiknya, awalnya karena iri hati.
Rasul Petrus menasihatkan, "Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah." (1 Petrus 2:1). Jangan beri tempat iri hati di hatimu. Tapi milikilah kasih yang sejati. Sebab "kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri." (1 Korintus 13:5).

Jadilah Pelita

Oleh: William Wiguna
Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok." Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.... Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang "buta", saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak... secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya...," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat. Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu. Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.
Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Jangan Berhenti Pada Jembatan Saja

Ibrani 4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. Sudahkah kita mendapat pertolongan pada waktunya? Saat Saudara menempatkan Yesus pada posisinya yang tepat, yaitu sebagai Tuhan, pada saat itu juga kita menerima sebuah hak yang istimewa. Hak ini adalah hak untuk masuk ke tahta karunia-Nya setiap saat. Bukankah ini suatu yang sangat luar biasa ! Suatu kehormatan bagi kita untuk dapat masuk dengan penuh keberanian masuk ke ruangan tahta kerajaan-Nya yang luar biasa. Tapi bukan ini saja, kita dapat mendekati Dia dan meminta apa saja yang kita mau. Itu hak kita!

Kalau Alkitab bahkan sampai sejelas ini menyatakannya, masih juga banyak orang tidak mau masuk dengan penuh keberanian ke tahta Allah. Mereka berpikir "saya tidak akan pernah bisa masuk dalam kediaman Allah, maka saya hanya akan berdiri di luar sini dan berteriak dan berharap Dia mendengarnya. Saya teringat akan kejadian suatu hari ketika saya berada dalam suasana doa saya, merengek-rengek, memohon-mohon, dan mem-bombardir pintu sorga untuk sebuah pemulihan. Setelah saya berada dalam situasi tersebut beberapa saat, Tuhan bertanya kepada saya tentang apa yang saya lakukan?
Jawab saya : "sedang mem-bombardir pintu sorga untuk sebuah pemulihan."
"Kenenth, berapa besar kota kudusku?" Tanya Tuhan.
"Sebesar yang Alkitab katakan, sekitar 1200 kubik atau luasnya sekitar 1500 mil persegi dan 1500 mil tingginya."
"Lalu kenapa kamu mem-bombardir pintu sorga? Bayangkan saja kalau tahtaku tepat berada di tengah kota itu, paling tidak ada jarak 750 mil dari pintu ini bukan? Dan lagi, pintu ini tidak dikunci. Mengapa kamu tidak berhenti saja mem-bombardir pintu sorga dan masuk?
Setelah saya menyesal akan memakai metode doa saya yang lama tanpa berpikir. Sekarang saya menyadari bahwa Alkitab berkata "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" dan sejak itu saya berani mengunjunginya setiap waktu.
Apakah saudara memerlukan sesuatu dari Tuhan? Jangan buang waktu untuk hanya berdiri di depan pintu gerbang sorga. Melalui Yesus, kita memiliki setiap ruangan tahta Allah. Maka masuklah. Pintu-Nya selalu terbuka untuk saudara.
Pelajaran Alkitab :"Ibrani 4:14-16, Ibrani 5:1-9"

Jangan Menunda Kesempatan!

Ada seorang pengusaha muda yang pagi itu terburu-buru berangkat kantor karena ia bangun rada kesiangan. Sementara pagi itu ia ada meeting dengan rekan bisnis-nya. Karena terburu-buru, ia tidak sempat menikmati sarapan pagi buatan isterinya. Ia lalu memutuskan untuk mampir ke sebuah toko untuk membeli roti sebagai ganti sarapan pagi. Pikirnya, "nanti roti ini dimakan di kantor saja". Ketika ia sedang memilih roti yang hendak dibelinya, matanya tertarik mengamati seorang anak kecil berusia kira-kira sepuluh tahun yang sedang memilih bunga di toko sebelah. Anak kecil ini terlihat sedang tawar menawar harga bunga dengan pelayan toko tersebut.

"Mbak, harga bunga ini berapa?" tanyanya kepada pelayan toko. "Lima puluh ribu rupiah", jawab sang pelayan. Kemudian ia memilih bunga yang lain dan bertanya kembali,
"Kalau bunga yang ini berapa?".
"Ini lebih mahal lagi, seratus lima puluh ribu rupiah!" jawab sang pelayan. "Kalau yang ini berapa?" tanyanya sambil menunjukkan bunga yang lebih bagus lagi. "Ini harganya dua ratus lima puluh ribu, nak!" jawab sang pelayan. Anak ini terlihat bingung karena harga bunganya bertambah tinggi, sementara ia tidak menyadari bahwa bunga yang ia tunjuk itu bunga yang paling bagus. Dengan sedih ia bertanya, "Adakah bunga yang harganya lima ribu?" .
Anak ini ternyata hanya memiliki uang lima ribu rupiah walau keinginannya untuk mendapatkan bunga itu sangat besar. Belum sempat pelayan toko itu menjawab, pengusaha muda ini segera bertanya kepada sang anak, "Nak, kamu mau beli bunga buat siapa?"
Kemudian anak ini menjawab, "Saya mau beli bunga buat mama, karena hari ini mama ulang tahun!" Pengusaha muda ini tersentak, dalam hatinya ia berkata, "Wah... mati aku, aku lupa! Hari ini isteriku ulang tahun. Aku belum mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Kalau sampai aku lupa, ia bisa marah!"
Segera ia berkata kepada pelayan toko, "Mbak, saya beli bunga ini. Saya beli 2 ikat. Satunya buat anak ini. Tolong nanti antar bunga ini ke alamat rumah saya," katanya sambil memberikan kartu namanya. Kemudian pengusaha muda itu memberikan bunga tersebut kepada sang anak dan mengucapkan terima kasih sudah mengingatkannya bahwa hari ini ternyata isterinya juga berulang tahun. Anak itu kemudian pergi.
Pengusaha ini segera bergegas ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan ke kantor. Ketika ia sedang mengendarai mobil, ia melewati anak kecil tadi sedang berjalan. Iapun berhenti dan bertanya apakah ia satu jurusan dengannya. Anak kecil itu mengiyakan dan kemudian masuk ke dalam mobilnya. Sampai di suatu tempat yang agak sepi anak ini minta turun. Pengusaha muda tersebut heran melihat anak kecil ini masuk melewati sebuah lorong kecil.
Karena penasaran, ia mengikuti sang anak dari belakang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat anak kecil ini menaruh bunganya di sebuah gundukan tanah kuning yang masih basah.
Kemudian ia bertanya, " Nak, ini kuburan siapa? " Anak kecil itu kemudian menjawab, " Oom, hari ini mama ulang tahun. Tetapi sayang, mama baru saja meninggal dua hari yang lalu. Oleh sebab itu saya datang ke tempat ini untuk membawakan mama bunga dan mengucapkan selamat ulang tahun." Pengusaha muda begitu tersentak dengan perkataan anak ini.
"Apakah isteriku masih hidup saat ini? " tanyanya dalam hati. Segeralah ia berlari masuk ke mobil, mengendarainya dengan kecepatan tinggi dan menuju ke toko tadi. Dengan terengah-engah ia berkata kepada pelayan toko, "Mana bunga yang tadi saya beli? Bunganya tidak usah dikirim, biar saya saja yang langsung memberikannya ke tangan isteri saya. " Dengan cepat ia menyambar bunga tersebut dan menyetir pulang.Sampai di rumah, ia segera berlari mendapatkan isterinya. "Puji Tuhan! Isteriku masih hidup! " Sambil memberikan bunga ia berkata, " Isteriku, selamat ulang tahun". Kemudian ia mencium dan memeluk isterinya kuat-kuat sambil mengucap syukur kepada Tuhan. Sambil menangis ia berkata, " Terima kasih, Tuhan.Engkau masih memberikan kesempatan kedua kepadaku. "
Banyak diantara kita terlalu sibuk dengan aktifitas sehari-hari. Aktifitas dan rutinitas ternyata sudah � membunuh � perhatian dan momen-momen penting yang harus dinikmati bersama orang-orang yang kita kasihi; orang tua, suami, isteri, anak-anak, dan saudara-saudara kita. Demi mengejar karier, uang dan jabatan bahkan pelayanan banyak orang melupakan keluarga.
Seorang businessman hanya berpikir bahwa memenuhi kebutuhan materi isteri dan anak-anak sudah membuatnya merasa menjadi ayah yang baik. Seorang pelayan Tuhan berpikir bahwa dengan sibuk dalam pelayanan dan dikenal di mana-mana sudah membuatnya merasa menjadi orang yang benar di dalam keluarganya.
Kita tidak sadar, kita sudah salah jika berpikir demikian. Hari ini, kalau kita masih diberi kesempatan untuk hidup semua hanyalah kasih karunia Tuhan. Oleh sebab itu, jangan tunggu sampai besok untuk menunjukkan kasih dan sayang kita kepada orang-orang disekitar kita, terutama orang-orang yang paling dekat dengan kita. Jangan tunggu mereka mati kita baru menyadarinya. Jangan tunggu sampai besok!
Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok. Jika kita masih hidup pada hari ini berarti ini kesempatan kedua buat kita. Ambil kesempatan kedua yang Tuhan anugrahkan buat kita hari ini.

Jangan Pisahkan

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. -- Kolose 3:16
Saya menyumbangkan lagu secara spontanitas dalam resepsi pernikahan seorang sahabat. Terbawa oleh suasana nostalgia, saya memilih Biru, yang pernah dipopulerkan oleh Vina Panduwinata. Lagu yang mendayu tersebut diakhiri dengan suatu permohonan, "Tuhan, jangan Kaupisahkan apa pun yang terjadi. Kuingin slalu dekat kekasihku." Hm, romantis nian.

Namun, sesampainya di rumah, dan setelah memikirkan lirik lagu itu lebih jauh, saya jadi malu sendiri. Bukannya karena suara saya fals, melainkan karena kata-kata permohonan tersebut terasa tidak pas, dan malah berlawanan dengan berkat pernikahan.
Yang jelas, permohonan tersebut salah arah. Dalam pernikahan Kristen, Tuhan adalah pihak yang mempersatukan, memberkati dan meneguhkan. Ide tentang kemungkinan perpisahan atau perceraian bagi pasangan yang telah menikah tidaklah bersumber dari hati Allah.
Permohonan itu lebih tepat bila ditujukan kepada manusia, khususnya pasangan yang telah mengikat janji untuk memadu kasih mereka dalam sebuah pernikahan. Seperti yang diingatkan oleh Tuhan Yesus, kelonggaran perceraian dalam hukum Musa diberikan justru karena ketegaran hati manusia. Peringatan itu mengisyaratkan bahwa kesatuan dan keutuhan rumah tangga bukanlah karunia yang jatuh dari langit. Suami-istrilah yang bertanggung jawab untuk memelihara, memupuk dan menyiram kasih di antara mereka, agar jangan sampai "beku dan membiru".
Dan ingat, bila ingin beromantis ria, jangan salah pilih lagu!
Sumber: Renungan Malam, April 2005

Jangan Takut Menjadi Anak Raja

Penulis : Kristian.N
"Jangan takut menjadi anak Raja". Sebuah kalimat yang terdengar aneh di telinga kita. Jika dipikir, apa yang perlu ditakutkan jika kita menjadi seorang anak raja? bukankah sebagai anak raja berarti kita dekat dengan sumber kekuasaan. Kita tidak perlu takut dengan apapun. bahkan kita bisa melakukan apapun yang kita mau? lalu kenapa kita harus takut? Tidak, tidak demikian. Kalimat di atas sebenarnya cukup beralasan, dan benar. Setidaknya jika kita memandang dari sisi kita sebagai orang percaya. Sebagai orang percaya, Allah tidak hanya memulihkan kita, tapi juga telah mengangkat kita dan melayakkan kita menjadi anak-anakNya. Lalu apa sebenarnya yang akan kita alami sebagai anak Raja, sehingga kita dinasihati untuk tidak perlu menjadi takut?

Kita memang memiliki alasan untuk takut, sebab sebagai anak Raja, kita ternyata harus mau mengikuti jejak Kristus sebagai yang Sulung diantara kita. Sama seperti Kristus menjalanai jalan penderitaan, menyangkal diri dan memikul salibNya, untuk memuntaskan tugas yang diberikan Allah, seperti itu jugalah kita.
Beberapa waktu yang lalu mungkin kita sempat mengenal pengajaran teologi kemakmuran yang mengajarkan bahwa sebagai anak Raja kita berhak dan akan mendapatkan warisan kemakmuran, kekayaan dan kesuksesan dari Allah. Benarkah demikian, jika itu benar, mengapa Kristus sebagai yang Sulung di antara kita justru memilih jalan yang jauh dari itu semua? Jauh dari kemakmuran dan popularitas sebagai Anak Raja. Sebaliknya selama hidupnya Kristus diwarnai dengan kesederhanaan, pengorbanan dan penyangkalan diri. mahkota yang Dia pakai tidak terbuat dari emas tapi dari anyaman semak belukar. Bukan mahkota yang bertatahkan berlian tapi bertaburan duri tajam. Penderitaan dan pengorbanan Kristus bukanlah tanpa alasan. Jalan yang Dia pilih bukan tanpa tujuan. Melalui hidupnya Kristus ingin menunjukan jalan yang harus kita lalui jika kita ingin disebut sebagai anak Raja yang layak menjadi ahli waris kerajaan Allah bersama dengan Dia.
Kekristenan bukanlah jalan yang menjanjikan kemakmuran, kemapanan dan kepenuhan materi seperti yang dimiliki oleh anak-anak raja dunia. Kekristenan adalah jalan terjal sarat dengan pengorbanan dan penyangkalan diri yang didasari oleh semangat cinta kasih dan kerendahan hati. Kita akan sering dihadapkan pada berbagai batu ujian. Tuhan sengaja meletakkan batu-batu ujian di sepanjang jalan yang kita lalui, menjadi pijakan kaki kita untuk naik ke atas setapak demi setapak, hingga mencapai puncak kemenangan, kedewasaan karakter menjadi sempurna.
"karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. (Ibrani 12:6-8)
Karena itulah kita sebenarnya memiliki alasan untuk takut disebut sebagai anak Raja. Siapa yang tidak takut hidup menderita? siapa tidak takut ditolak dan diremehkan? Siapa yang siap berkorban dan tidak mendapatkan apa-apa? Mengikut jejak Kristus berarti kita harus siap untuk ditolak dan dipinggirkan. Tapi Allah akan selalu melihat perjuangan kita. Penderitaan yang kita alamai adalah sarana untuk mengasah karakter kita sehingga layak untuk disebut anak-anak Raja. Tidak ada seorangpun yang berhak duduk bersama dengan Kristus tanpa harus memikul salib.
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24)
Tapi sekali lagi meskipun kita memiliki alasan untuk menjadi takut, kita tidak perlu takut. Kristus sudah memenangkan kita. Dia yang sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Dia sendiri yang akan memampukan kita untuk memikul salib yang dibebankan kepada setiap kita selama kita masih di hidup di dunia. Sekarang kita sadar bahwa kita tidak berjuang sendiri, ada Kristus yang siap memikul beban kita. Tinggal apakah kita mau memberikan beban kita untuk kita pikul bersama-sama denganNya.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:9-10)
Kristus telah meninggalkan jejak kakinya supaya kita bisa ikuti. Sebagai pedoman untuk kita melangkahkan kaki, agar tidak tersesat.
Meskipun kita diremehkan karena kelemah lembutan kita, tapi tetaplah berbuat baik.
Jadi meskipun kita diolok-olok karena dianggap naif, tapi mari kita tetap hidup jujur.
Meskipun dimusuhi karena kita tidak mau berkompromi dengan ketidak adilan, tetapi tetaplah berpegang pada kebenaran.
Meskipun kita dimusuhi tetapi tetaplah mengasihi.
adalah wajar jika dunia tidak mengerti kita dan bahkan menolak kita. Sebab kita bukan berasal dari dunia. Jika dunia bangkit melawan kita, sebenarnya bukan kita yang mereka munsuhi tapi Kristus yang panjinya kita bawa. Yang melalui kita dunia mengenalNya
Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat. (Yohanes 7:7)
"Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia." (Wahyu 17:14)
Sebab hanya dengan inilah dunia akhirnya akan mengakui bahwa kita layak disebut anak-anak Raja, Allah yang maha tinggi. Mari kita dengan suka cita memikul salib kita. Melalui cahaya kemuliaan Tuhan yang bersinar dalam diri kita, melalui kualitas hidup kita, mari beritakan kepada setiap orang bahwa Allah mengasihi mereka, dan bahwa mereka juga layak disebut sebagai anak-anak Allah, sama seperti kita, yang layak menjadi ahli waris kerajaan sorga bersama dengan Kristus sebagai Yang Sulung di antara kita.
Inilah semangat pembebasan, semangat Paskah yang sebenarnya. Selamat Paskah.
Sumber: http://noviz.melesat.com/

Jonathan Brown

Sumber: Speakers Source Book
Di kota Vanastorbil, tinggallah seorang yang sangat kaya bernama Jonathan Brown. Ia mempunyai banyak uang, tanah, rumah dan pabrik. Suatu saat ia berkata: "Segala yang aku miliki, akan menjadi milik Tuhan saat aku meninggal dunia." Kemudian ia membuat surat wasiat yang terinci.

Untuk sebuah gereja kecil di dekat rumahnya, ia merencanakan untuk membangunkan sebuah bangunan besar lengkap dengan menara yang tinggi. Untuk gembalanya, sebuah rumah baru dengan kamar yang luas dan nyaman. Sebuah perpustakaan di desa akan mendapat bagian pula. Ia teringat untuk membantu sebuah sekolah di mana anak-anak muda belajar dan mendalami pengetahuannya. Anak sahabatnya dipersiapkan untuk dikirim ke sekolah misi. Semua biaya akan ditanggungnya.
Ketika gembalanya menyarankan agar tuan Brown memberikan sebagian hartanya lebih dahulu, ia menggumam: "Aku akan menjadi miskin bila aku berikan hartaku sebelum aku meninggal."
Sang setan yang mendengar gumaman tuan Brown, nyeletuk: "Ahem, saya tahu bahwa orang ini akan berumur panjang." Kemudian sang setan ini melalukan semua penyakit dari tuan Brown. Pada usia enampuluh tahun, ia masih sangat sehat dan kuat. Umur tujuhpuluh tahun, ia terlihat tidak pernah loyo. Ketika umur delapan puluh, ia masih berjalan tegap bagaikan anak muda. Ketika usianya menginjak sembilanpuluh, keponakannya sempat berujar: "Kapankah dia akan mati?"
Akhirnya, meninggalah tuan Jonathan Brown ini pada usia seratusdua tahun. Semua kenalannya berkumpul dan pengacaranya membacakan surat wasiat. Tetapi tidak ada penerima waris yang ditemukan. Gereja kecil dekat rumahnya sudah tutup dan tidak terdengar lagi kebenaran diberitakan. Gembalanya sudah meninggal dalam kemiskinannya. Perpustakaan di desa sudah tidak ada lagi. Sekolah yang ingin dibantunya, sudah ditutup dengan meninggalkan banyak hutang. Sementara itu, anak yang akan dibiayai sekolahnya, tetap dalam kebodohannya, mempunyai tujuh orang anak dan duabelas cucu. Semuanya tidak lebih baik dari dirinya.
Kemudian, setiap kenalannya, mengambil sebagian hartanya. Pengacaranya bahkan lupa bahwa ia mendapatkan bayaran dua kali. Tidak ada sahabat. Tidak ada ratap tangis. Bahkan tidak ada seorang anak pun yang menunggu di sudut ruangan itu. Sementara itu, sang setan tersenyum dan berbalik mencari mangsa baru.
Saudaraku, biarlah kisah ini menjadi pelajaran buat kita semua. Apa yang ada pada kita hari ini adalah milik Tuhan. Apa yang bisa dilakukanlah hari ini, lakukanlah, karena mungkin besok sudah terlambat.

Kado Terindah

Oleh: Mang Ucup
Sering tersirat di dalam pikiran kita: "Wah kalau saya hidup ketika jaman Tuhan Yesus masih hidup, pasti akan saya berikan seluruh kasih sayang saya kepada Dia, bahkan kalau perlu jiwa dan raga sayapun bersedia saya korbankan untuk-Nya!" Tetapi seperti juga yang tercantum di Matius 25:40 "Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!"
Artaban adalah orang Majus yang ke empat yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa bertemu dengan Tuhan Yesus ketika Ia dilahirkan di Bethlehem. Bahkan sebelumnya Artaban telah menjual seluruh harta kekayaannya agar ia bisa mempersembahkannya untuk Raja yang akan dilahirkan. Dari hasil uang tersebut ia membeli tiga buah batu permata yang sangat berharga sekali ialah batu permata saphir biru, ruby merah dan mutiara putih. Ia telah berjanji untuk bertemu di satu tempat khusus dengan ketiga orang Majus lainnya ialah Caspar, Melchior dan Balthasar, karena waktu sudah sangat mendesak sekali, jadi apabila Artaban terlambat maka ia akan ditinggal oleh mereka. Dalam
perjalanan ia melihat orang berbaring ditengah jalan, rupanya orang tersebut sedang menderita sakit berat dan sangat membutuhkan sekali pertolongannya. Apabila ia tidak menolong orang tersebut, pasti orang tersebut akan meninggal dunia, sebab mereka berada disatu tempat yang sepi dan jauh dari penduduk.

Tetapi kalau ia menolongnya pasti ia akan terlambat dan akan di tinggal pergi oleh kawan-kawan yang lainnya. Walaupun demikian karena ia mengetahui menolong jiwa orang ada jauh lebih penting dari segala-galanya, maka ia rela di tinggalkan oleh kawan-kawannya. Akibatnya cukup fatal bagi Artaban, ia harus menjual batu permata sapir yang seyogianya untuk Raja tersebut, sebab ia harus membiayai seluruh biaya karavan mulai dari onta-onta, makanan, minuman dan pemandu jalan untuk melampaui padang pasir sekali lagi. Disamping itu ia juga merasa sedih, sebab sang Raja tidak akan mendapatkan batu spahir nya tersebut.
Walaupun ia berusaha untuk mengejar kawan-kawannya secepat mungkin, ternyata setibanya di Bethlehem pun ia terlambat lagi, karena Jusuf & Maria berikut Bayi nya sudah tidak ada disana lagi. Pada saat Artabhan tiba di Bethlehem, perajurit-perajuritnya Raja Herodes sedang dengan ganasnya menjalankan perintah Herodes untuk membunuh para bayi. Ditempat ia menginap bayi putera pemilik penginapannya hendak dibunuh pula oleh seorang komandan dari Herodes. Artabhan melihat dan mendengar ratapan tangis dari ibu bayi tersebut dan ia merasa tidak tega dan merasa terpanggil untuk menolongnya. Oleh sebab itulah ia rela menukar jiwa dari bayi tersebut dengan batu permata ruby yang dibawanya. Hal ini membuat Arthaban bertambah sedih, karena batu permatanya untuk sang Raja semakin berkurang, bahkan hanya tinggal satu batu mutiara saja sisanya. Sebelum ia tiba di Yerusalem, tigapuluh tahun lebih ia mencari sang Raja dimana-mana dan ia merasa
tercenggang mendengar bahwa Raja yang dicarinya bertahun-tahun akan di salib di Golghata.

Walaupun demikian ia merasa terhibur sebab ia masih memiliki batu permata terakhir ialah batu mutiara yang bisa ia gunakan untuk menebus hidup-Nya Raja, agar Ia tidak disalib. Seperti halnya ketika ia menebus hidupnya seorang bayi ketika ia berada di Bethlehem. Dalam perjalanan menuju ke Golgatha ia melihat seorang anak perempuan menangis dan meratap meminta tolong kepadanya: "Tuan tolonglah saya, para perajurit akan menjual diri saya sebagai budak, karena ayah saya mempunyai hutang banyak. Ayah saya tidak mampu melunasi hutang tersebut, oleh sebab itulah sebagai gantinya ia mengambil diri saya untuk dijual. Tolong tuan!" Walaupun betapa sedihnya hati Arthaban, tetapi ia melihat keadaan sangat mendesak sekali, sebelum anak ini dijual dan dijadikan budak untuk seumur hidupnya, lebih baik ia menukar batu mutiaranya untuk menebus anak tersebut dan menyelamatkannya.
Setelah itu langit menjadi gelap gulita dan terjadi gempa bumi, sehingga ia jatuh terbaring dan gadis tersebut jatuh pula terbaring diatas pundaknya. Tiba-tiba secara tidak sadar ia mengerakkan bibirnya dan berbicara: "Tuhan, kapan kami pernah melihat Tuhan lapar lalu kami memberi Tuhan makan, atau haus lalu kami memberi Tuhan minum? Kapan kami pernah melihat Tuhan sebagai orang asing, lalu kami menyambut Tuhan ke dalam rumah kami? Kapan Tuhan pernah tidak berpakaian, lalu kami memberi Tuhan pakaian? Kapan kami pernah melihat Tuhan sakit atau dipenjarakan, lalu kami menolong Tuhan?"
Dan dari jauh terdengar suara sayup-sayup yang sangat lembut menjawab:
"Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!" Setelah itu meninggalah Arthaban. Ia meninggal dengan mulut penuh senyuman, karena ia mengetahui bahwa semua jerih payahnya dan semua hadiah untuk Raja telah diterima oleh Raja dengan baik.

Kapten Kapal

Oleh: Michael
Sebuah kapal laut akan terus berputar-putar di tengah laut jika tidak ada tujuannya. Dan ia akan menjadi kapal yang berguna jika kapal tersebut ada tujuannya, entah ia akan ke pulau Kalimantan, Sulawesi atau menuju pulau Jawa. Dan bagaimana kapal tersebut dapat memiliki tujuan, maka dalam kapal tersebut harus ada yang mengendalikannya. Atau yang biasa kita kenal dengan seorang awak kapal atau kapten kapal.
Ketika kapal tersebut telah memiliki kapten kapal, maka ia akan di bawa ke tempat tujuan yang pasti, entahkah akan ke Pulau Jawa, Kalimantan, Bali, yang jelas ketika ia memiliki Kapten kapal, maka ia akan di bawa ke tempat tujuan yang pasti. Misalkan ia akan menuju ke Pulau Bali, maka kapal tersebut akan terus berfokus kepada jalur menuju pulau Bali. Hingga akhirnya tiba di tempat tujuan dan Kapal ini menjadi berarti.
Itulah kehidupan kita manusia. Setiap orang akan menjawab bahwa tujuan hidup mereka hanyalah, dilahirkan, bertumbuh dewasa, bersekolah dngan baik, setelah itu bekerja, dan menghasilkan uang dan lalu menikah, memiliki anak, membesarkan anak, dan kemudian menjadi tua dan mati. Demikian pula anaknya, akan kembali melakukan hal yang sama, bersekolah, bekerja, memiliki keluarga, mejadi tua dan mati. Sebagian besar orang akan menjawab hal serupa. Yang mereka tau itulah mengapa mereka dilahirkan. Mereka akan seperti kapal tadi, yang hanya berputar-putar di tengah laut, tidak tahu tujuan sebenarnya.
Secanggihnya sebuah kapal, dan semodernnya sebuah kapal, dia sendiri tidak tahu bagaimana dia dipergunakan dengan baik dan berarti. Sehebatnya dan sepintarnya kita manusia, kita tidak pernah tahu apa tujuan kita dilahirkan di dunia ini. Pertanyaannya, sudakah kita memiliki Nahkoda, seorang Kapten dalam hidup kita, Yang mengatur dan mengarahkan hidup kita, memberikan arti tujan hidup yang sebenarnya? Sehingga kita dapat berkata, "Hidup saya memang berarti", kita bisa tahu tujuan hidp kita yang sebenarnya jika ada seorang yang mengarahkannya. Kapten itu berarti, sebuah pegangan, keyakinanan, pengharapan yang pasti! Dia bukan hanya akan mengarahkan kehidupan kita selama di bumi ini. Namun Dia juga memberikan sebuah pengharapan yang kekal dan tidak mengecewakan. Bahkan jaminan setelah kematian diberikan-Nya pada kita.
Siapakah Dia? YESUS...... Dia telah membuktikan dengan memberikan Nyawa-Nya ada kita hingga mati di kayu salib. Dia paling tahu siapa kita. Dia paling tahu harus diperlakukan seperti apa hidup kita ini. Datanglah pada-Nya, Dia akan mebawamu kepada hidup dan tujuan yang pasti, hingga engkau akan berkata "Hidupku berarti...." "Yesus mengasihi semua orang......."

Kasih

Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya. Kata kuda itu : "Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya, sebab saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya." ujarnya dengan sinis.

Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi, lalu dia mendengar seekor sapi di kandang sebelah berkata : "Saya adalah binatang yang paling terhormat di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini." dengan nada mencemooh.
Teriak seekor domba : "Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya, saya memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal anjing kecil itu, sepertinya kamu memang benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini."
Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam percakapan itu, sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun berkata bagaimana dia telah memberikan telur, kucing bangga bagaimana dia telah mengenyahkan tikus-tikus pengerat dari ladang itu. Semua binatang sepakat kalau si anjing kecil itu adalah makhluk tak berguna dan tidak sanggup memberikan kontribusi apapun kepada keluarga itu.
Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing kecil itu pergi ke tempat sepi dan mulai menangis menyesali nasibnya, sedih rasanya sudah yatim piatu, dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan lagi.
Ada seekor anjing tua di situ mendengar tangisan tersebut, lalu menyimak keluh kesah si anjing kecil itu. "Saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada keluarga di sini, sayalah hewan yang paling tidak berguna di sini."
Kata anjing tua itu : "Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik pedati, kamu tidak bisa memberikan telur, susu ataupun bulu, tetapi bodoh sekali jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan."
Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan tampak amat lelah karena perjalanan jauh di panas terik matahari, anjing kecil itu lari menghampirinya, menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang dan anjing kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa ria. Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat- erat dan mengelus-elus kepalanya, serta berkata, "Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini, kamu sungguh yang paling berharga di antara semua binatang di ladang ini, kecil kecil kamu telah mengerti artinya kasih.........
Catatan: Jangan sedih karena kamu tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain karena memang tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi apa yang kamu dapat lakukan, lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya. Dan jangan sombong jika kamu merasa banyak melakukan beberapa hal pada orang lain, karena orang yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang rendah hati akan ditinggikan.

Kasih: I Want to Know what Love is

Penulis : John Adisubroto
ADA APA DENGAN CINTA?
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai KASIH, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. (1 Korintus 13:1)

Isi : Dari masa ke masa di setiap bagian penjuru bumi selalu tercipta lagu-lagu baru dengan tema klasik mengenai cinta, lagu-lagu yang sering kali menggambarkan kerinduan seseorang untuk mengutarakan isi hatinya kepada seorang kekasih idamannya. Tidak jarang lagu-lagu tersebut juga dibubuhi syair-syair berbau cengeng, yang melukiskan penderitaan-penderitaan yang harus dilalui seseorang oleh karena: tertolaknya cinta, rasa duka gara-gara cinta yang bertepuk sebelah tangan, retaknya hubungan kasih yang mengakibatkan perpisahan, bahkan perceraian di dalam keluarga.
Di Amerika Serikat syair lagu-lagu semacam itu mudah sekali ditemukan melalui musik-musik berirama Country Western, yang sering kali menjadi bahan tertawaan para penolaknya. Di Jerman lagu-lagu tersebut dijuluki dengan suatu nama ejekan: Die Schnulze.
Yang paling menakjubkan, hingga sekarang lagu-lagu cengeng seperti itu masih mempunyai banyak penggemar di Indonesia. Pada zaman penjajahan pra-1945 lagu-lagu tersebut biasanya hanya diwakili oleh musik yang berirama Keroncong. Tetapi semenjak dasawarsa ke-70 mereka juga melanda dunia musik Indonesia melalui lagu-lagu yang berirama populer lainnya.
Apakah lagu-lagu bernada dan bersyair cengeng mengenai cinta, bahkan mengenai segala masalah yang dimulai oleh cinta, sebenarnya menjadi sukses oleh karena para penggemarnya bisa menghayati kesejajaran syair-syairnya dengan pengalaman-pengalaman atau masalah-masalah hidup mereka sendiri?
Pernahkah Anda mendengar dan memperhatikan syair sebuah lagu rock berjudul I Want to Know What Love is (Aku Ingin Mengetahui Arti Kasih) yang sangat ngetop kurang-lebih pertengahan dasawarsa ke-80 yang lalu? Lagu tersebut memperdengarkan irama sangat manis dengan nada-nada minor, diiringi kata-kata lirih yang dengan jitu sekali dapat menyentuh dan menyayat-nyayat hati para pendengarnya.
Apakah lagu I Want to Know What Love is sebenarnya melukiskan kehidupan seseorang yang sedang dilanda kesepian, lalu berupaya untuk menemukan MAKNA KASIH yang sejati dari seorang kekasih idamannya? Atau, apakah syair lagu sangat catchy tersebut mempunyai suatu arti yang jauh lebih dalam lagi, sehingga dapat membongkar rahasia kerinduan hati manusia akan MAKNA HIDUP yang lebih berarti, di tengah-tengah arus gelombang kehidupan yang bergejolak tak menentu ini?
Yang pasti irama refrein lagu ballad ciptaan Mick Jones, pemain gitar utama rock group Foreigner, telah mengungkapkan suatu syair yang berulang kali memaparkan kerinduan hatinya untuk mengetahui kebenaran makna kasih yang sejati. Perhatikanlah dengan seksama arti sebenarnya yang tersembunyi di balik setiap kata kasih di dalam refrein lagu yang ditulis oleh pena pemusik berbakat ini:
I want to know what love is (Aku ingin mengetahui arti kasih)
I want you to show me (Aku ingin agar engkau menunjukkannya kepadaku)
I want to feel what love is (Aku ingin merasakan kebenaran kasih)
I know you can show me (Aku tahu engkau sanggup menunjukkannya kepadaku)
Perhatikanlah juga syair yang dipergunakan di dalam bridge lagu tersebut, yang meneriakkan rasa putus asa yang diderita olehnya:
In my life there"s been heartache and pain (Di dalam hidupku ada kepiluan dan derita)
I don´t know if I can face it again (Ku tak tahu apakah aku mampu menghadapinya lagi)
Can´t stop now, I´ve travelled too far (Tak bisa berhenti sekarang, ku tlah berkelana terlampau jauh)
To change this lonely life (Tuk mengubah hidup yang kosong/sepi ini)
Tak dapat dibantah, lagu tersebut telah mengemukakan suatu kenyataan hidup masyarakat dunia pada masa itu. Bahkan yang pasti, inti syairnya masih tetap relevan sampai sekarang untuk menyingkapkan rahasia kehampaan hidup yang diam-diam selalu tersembunyi di dalam hati para penggemarnya!
Amsal raja Salomo yang menyinggung masalah ini, mengatakan: Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka. (Amsal 25:20)
Setiap generasi, baik yang sudah berlalu maupun masakini, pasti akan melewati masa-masa genting, di mana mereka terus berusaha untuk menelusuri di dalam kehidupan mereka arti kasih yang sesungguhnya. Kendatipun di luar kesadaran mereka sendiri, yang sebenarnya amat mereka dambakan adalah makna dan tujuan hidup itu sendiri!
Melalui media dunia, masyarakat mengajarkan kepada umat manusia untuk mencari makna hidup sesuai dengan standar-standar yang sudah ditentukan olehnya, yaitu: mendahulukan kepentingan diri sendiri, mengabaikan moral hidup, penampilan yang sempurna, harta kekayaan yang berlebih-lebihan, kedudukan karir yang dapat meningkatkan status di mata masyarakat, kekuasaan yang semena-mena, penghargaan dan sanjungan manusia, serta segala sesuatu yang dapat menaikkan harga diri sendiri. Semua itu merupakan syarat-syarat utama di dalam kesemuan arti makna hidup yang diajarkan oleh masyarakat dunia kepada para penduduknya. Jadi makna hidup yang bersifat egosentris sekali!
Lagu ballada yang dialunkan oleh suara khas penyanyi tenar Lou Gramm, pelopor rock group Foreigner, telah jitu mengemukakan secara terbuka sekali kondisi hati manusia yang sebenarnya, yang terus-menerus berusaha menemukan sesuatu untuk memenuhi kekosongan hidup mereka yang tak pernah terpuaskan. Kehidupan hampa yang mengakibatkan rasa pilu dan sedih, yang tidak jarang memaksa mereka untuk bertindak nekat, mengambil jalan pintas sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi, atau mengakhiri kepedihan hati mereka.
Berbeda sekali dengan lagu-lagu cengeng mengenai cinta yang sering kali menimbulkan rasa jemu di dalam hati kala mendengarkannya berulang-ulang kali, lagu I Want to Know What Love is mampu memberikan suatu message yang amat relevan, dengan menuding secara jitu sekali masalah kehidupan umat manusia sepanjang masa. Terutama bagi kaum muda-mudi yang sedang memburu makna kasih yang murni, yang menurut dugaan mereka, adalah jawaban mutlak bagi kebahagiaan hidup yang sejati.
Oleh karena itu, pada saat diluncurkan untuk pertama kali di bulan Januari 1985, lagu I Want to Know What Love is dapat segera menjamah hati setiap pendengarnya secara masal, yang mengakibatkan lagu tersebut dengan mudah serentak menduduki tingkat penjualan single per keping tertinggi music charts (No 1) di seluruh dunia. Selain meraih kedudukan itu di Australia, lagu tersebut juga berhasil melanda tangga lagu-lagu ARIA (Australian Record Industry Association) - Top 50 selama berpuluh-puluh minggu!
Sebuah lagu yang jelas dapat mengemukakan rahasia isi hati para pendengarnya, yang selalu merindukan KASIH yang dapat memuaskan serta membebaskan diri mereka dari rasa takut atau kuatir akan masa depan yang tidak terduga. Tetapi kenyataan yang harus diakui, usaha untuk menemukannya menggunakan standar-standar yang sudah ditentukan oleh masyarakat dunia sambil mengandalkan kekuatan diri sendiri, akan selalu berakhir dengan kekecewaan, karena semua itu sia-sia belaka.
Jadi, ada apa sebenarnya dengan CINTA?
Salah satu dari tulisan-tulisan rasul Petrus yang dicatat di dalam firman Tuhan mengenai kesia-siaan dan kekosongan hidup manusia, mengatakan: Sebab: Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu. (1 Petrus 1:24-25)
sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (Yakobus 4:14)
MEMBURU KASIH
Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas. (Amsal 27:20)
Di dalam video berseri The Alpha Course, sebuah acara penginjilan populer yang paling modern dewasa ini di negara-negara barat, Rev Nicky Gumbel, seorang pendeta gereja Anglican di Inggris yang masih muda, menarik dan penuh karisma, berusaha mempelajari dan membahas sebab-musabab ketidak-puasan hidup yang selalu dialami oleh umat manusia pada umumnya.
Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia mengisahkan segala kesia-siaan tingkat-tingkat hidup yang harus didaki olehnya guna menemukan makna hidupnya. Suatu pengalaman yang pasti sudah dilalui oleh semua orang pra-kelahiran-baru mereka!
Rev Nicky Gumbel menceriterakan bagaimana cepat rasa jemu yang timbul di dalam hatinya, tatkala ia berhasil meraih sesuatu yang sudah lama diidam-idamkan olehnya.
Ia menyinggung peristiwa yang terjadi di masa kanak-kanaknya, ketika ia terpaksa harus terus-menerus bermain di halaman atau di dalam rumahnya, yang membuat dirinya selalu berkhayal: Andaikan saja aku sudah mulai masuk sekolah dasar . Ketika masa tersebut tiba, dan ia memulai pendidikannya di sana, dalam jangka waktu yang amat singkat ia menjadi bosan, dan berpikir: Pasti ada sesuatu lain yang jauh lebih berarti dari pada ini .
Ia mulai berharap, agar secepatnya ia bisa meraih usia belasan tahun! Dugaannya, masa yang diidam-idamkan itu tentu akan menjadi suatu masa yang lebih mengesankan dari pada masa yang sedang dilalui olehnya. Tetapi ternyata, ketika baru saja beberapa minggu berlalu semenjak ia mencapai usia tersebut, ia menjadi jemu lagi, dan mulai menggerutu tidak puas: Tentu ada sesuatu lain yang jauh lebih berguna dari pada ini .
Kemudian ia menjadi tidak sabar dengan pendidikan sekolah menengahnya, karena ingin cepat selesai agar bisa memasuki masa remajanya di perguruan tinggi, yang menurut dugaannya tentu akan membuat dirinya merasa puas. Tetapi setelah beberapa minggu berlalu semenjak kakinya menginjak kampus-kampus universitas, kembali ia menjadi bosan dengan status hidup yang baru saja diraih olehnya!
Benak pikirannya dipenuhi oleh pelbagai pertanyaan tak terjawabkan, yang membuat pemuda yang baru saja menginjak usia dewasa tersebut menjadi bertambah penasaran serta menuntut: Pasti ada sesuatu lain yang jauh lebih mengesankan lagi dari pada ini .
Ia mengira, bahwa mungkin dengan berpesta-pora setiap akhir pekan, berdansa dan bersosialisasi bersama sahabat-sahabat karibnya, ia bisa menemukan solusi bagi masalahnya. Tetapi ternyata setelah mengalaminya selama beberapa minggu berturut-turut, kembali ia merasa bosan dan tidak puas dengan hidupnya! Terpana hatinya bertanya-tanya: Apakah mungkin kehadiran seorang gadis idaman di dalam hidupku dapat melengkapi perasaanku yang hampa ini?
Di luar dugaannya, bahkan sesuai dengan harapannya, pemuda berwajah tampan tersebut berhasil menemukan seorang gadis yang seketika itu juga bersedia menjadi teman kencannya. Tetapi ternyata setelah beberapa minggu berlalu, penuh keheranan ia harus mengakui lagi, bahwa gadis cantik itu pun tidak dapat menghapus rasa bosan dan jemu yang terus menghantui dirinya!
Amsal Salomo mencatat: Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik akan menjadi sia-sia. (Amsal 10:28)
Ia bertanya-tanya tentang makna hidup yang tak henti-henti dikejar olehnya, melalui tingkat-tingkat hidup yang telah, sedang dan akan dilaluinya. Mengapa ia tidak bisa sekali pun merasa puas atau lengkap, dan hatinya selalu merasa terdorong oleh keinginan-keinginan untuk mencari sesuatu yang baru? Apakah yang menyebabkannya?
Tentu saja dengan mudah kita dapat menghayati dan memahami frustrasi perjuangan hidup yang diuraikan oleh Rev Nicky Gumbel, karena setiap orang yang belum berhasil menemukan makna hidupnya, bersedia ataupun tidak, pasti harus melalui masa-masa yang serupa.
Semua insan di dunia mengalami masa-masa kritis seperti itu, karena mereka akan terus berusaha mengejar cinta atau kebahagiaan semu, sesuai dengan standar-standar yang ditentukan oleh masyarakat dunia, yang terbukti tidak akan pernah dapat memenuhi kekosongan hidup manusia!
Sebelum ia lahir baru dan menyadari panggilan hidupnya, yaitu untuk melayani Tuhan di ladang-Nya (Church of England), Rev Nicky Gumbel yang pernah bekerja sebagai seorang hakim yang berhasil, mengakui dengan terus terang, bahwa ia adalah seorang penentang agama Kristen yang tergigih. Bahkan ia mengakui gemar menyakiti hati teman-temannya, dengan mencemoohkan mereka yang menjadi pengikut-pengikut Kristus.
Berulang kali tanpa tedeng aling-aling ia mengutarakan rasa tidak senang akan acara-acara ibadah gereja yang pernah diikuti olehnya. Ia menyetarakan kedinginan ibadah-ibadah tersebut dengan suatu upacara penguburan, disebabkan oleh karena kekakuan program dan keseriusan para pembawa khotbah yang sering kali memberikan kesan buruk kepadanya, seakan-akan mereka adalah para undertakers (orang-orang yang mengurus pemakaman).
Menurut dia, agama Kristen adalah sebuah agama yang tidak relevan lagi dengan keadaan dunia masakini, amat membosankan, dan yang diciptakan khusus untuk orang-orang yang berjiwa lemah, karena mereka tidak bisa menerima kenyataan hidup yang sesungguhnya.
Tanpa disadari olehnya, justru ia sendiri yang sedang berkelana, berputar-putar bagaikan seorang yang terjebak di dalam sebuah labyrinth kehidupan, terus-menerus berusaha mencari jalan keluar, tetapi PINTU yang diperlukan untuk membebaskan dirinya masih belum ditemukan!
Nabi Yesaya melukiskan sebab-sebab kesia-siaan hidup umat Israel pada waktu itu seperti ini: Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, . (Yesaya 53:6a)
Diam-diam pemuda itu terus mempertanyakan di dalam hatinya: Mengapa aku tidak pernah merasa puas dengan segala sesuatu yang sudah berhasil kudapatkan, tetapi selalu mengharapkan sesuatu yang lebih, yang belum aku miliki? Apakah yang menyebabkannya?
TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka. (Mazmur 94:11)
KASIH TAK SAMPAI
Janganlah menyimpang untuk mengejar dewa kesia-siaan yang tidak berguna dan tidak dapat menolong karena semuanya itu adalah kesia-siaan belaka. (1 Samuel 12:21)
Suatu pengalaman mengenai perjalanan hidup yang tak terpuaskan juga pernah dikisahkan oleh Count Leo Tolstoy, bangsawan Rusia abad ke-19 yang amat termasyhur di seluruh dunia sebagai seorang pengarang buku-buku kesusasteraan yang berbobot sekali. Di antaranya yang paling dikenal adalah: War and Peace dan Anna Karenina. Sesuai dengan catatan Encyclopedia Britanica, kedua buku tersebut diakui oleh badan-badan sastera dunia sebagai buku-buku Rusia yang paling penting di dunia sepanjang masa.
Tolstoy melukiskan perjalanan hidupnya guna menemukan makna kasih di dalam sebuah buku filosofi yang berjudul A Confession and What I Believe (Sebuah Pengakuan dan Apa yang Kuyakini). Buku autobiographical tersebut tercatat di dalam sejarah benua Eropah, sebagai salah satu dari buku-buku kontroversiil, yang pada pertengahan tahun 1880-an telah dilarang beredar oleh pemerintah negaranya, karena dikuatirkan dapat mempengaruhi serta meracuni pikiran dan hidup para pembacanya.
Di dalam buku tersebut Tolstoy memulai kisah hidupnya dengan berterus-terang mengakui, bahwa semenjak kecil ia menolak dan menentang secara tegas pengaruh-pengaruh agama Kristen yang diberikan oleh kedua orang tua dan keluarganya.
Sebagai seorang pemuda intelektuil dengan harta warisan yang berkelimpahan, ia menyangka, bahwa makna hidupnya dapat ditemukan di tengah-tengah tempat mesum kota Moscow. Setiap malam ia mencari dan membeli di sana kenikmatan-kenikmatan insani melalui pelayanan para pelacur, disertai usaha untuk memabukkan dirinya sendiri melalui konsumsi minuman-minuman alkohol secara berlebih-lebihan. Dugaannya, tindakan-tindakan tersebut akan memberi kepuasan pada hidupnya yang terasa hampa. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu!
Lalu Tolstoy berusaha mencari makna hidup di tempat-tempat perjudian elite kota tersebut. Dengan mempertaruhkan kekayaannya di atas meja judi, ia berusaha membangkitkan gairah hidupnya lagi. Kembali ia harus mengakui, bahwa segala usaha untuk menemukan damai sejahtera di dalam hidupnya di tempat-tempat maksiat tersebut juga berakhir dengan sia-sia belaka. Tolstoy tetap merasa hidupnya amat kosong!
Semenjak kanak-kanak Tolstoy dan keluarganya selalu menyadari ketrampilannya di sekolah di bidang seni menulis dan kesusasteraan. Oleh karena itu, ia mengharapkan, agar melalui kesibukan-kesibukan yang akan dilakukan setiap hari dengan mengarang buku-buku ceritera fiksi, rasa hampa yang memilukan hatinya bisa teratasi.
Ternyata buku-buku hasil karya penanya mendapat sambutan sangat hangat dari masyarakat Rusia pada masa itu, bahkan diakui sampai sekarang sebagai buku-buku kesusasteraan yang paling berarti di dunia, karena sekaligus dapat melukiskan sejarah negara komunis tersebut dengan akurat sekali. Semenjak diluncurkan untuk pertama kali, mereka terjual dengan laris sekali di negaranya. Bahkan beberapa dari buku-buku hasil karyanya berhasil menerima Awards penghargaan yang amat tinggi dari negara-negara lain di dunia.
Melalui kesuksesan penjualan buku-bukunya secara antarbangsa, harta kekayaan yang dimiliki oleh Tolstoy menjadi semakin bertambah. Tetapi di balik kenyataan, bahwa ia sukses, kaya dan termasyhur di Rusia, bahkan di seluruh dunia, Tolstoy juga harus menerima kenyataan yang lain, bahwa hidupnya tetap terasa kosong dan tak terpuaskan.
Lalu Tolstoy menduga, bahwa jawaban bagi semua kekecewaan yang tak henti-henti dialami olehnya, terletak pada pembinaan sebuah rumah tangga yang harmonis. Pada tahun 1862 ia menikahi gadis idamannya, dan mereka dikaruniai 13 orang anak. Tolstoy sangat mengasihi keluarganya. Ia melimpahi seluruh kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Kesibukan sehari-hari yang dilewatkan bersama isteri dan anak-anaknya, ternyata berhasil mengalihkan perhatiannya dari masalah-masalah ketidak-puasan hidup yang diderita olehnya, kendatipun HANYA untuk sekejab saja!
Di mata para penggemarnya, yang mengenal dia sebagai seorang bangsawan Rusia yang amat kaya dan termasyhur di dunia, Tolstoy sudah berhasil meraih taraf hidup yang tinggi sekali, yang sempurna. Padahal kenyataan yang sebenarnya sungguh berbeda, karena hanya dia saja yang mengetahui keaslian keadaan dirinya. Tolstoy tetap merasa, bahwa SESUATU yang dibutuhkan untuk memenuhi kekosongan hidup dan menghibur kepiluan hatinya tidak pernah berhasil ditemukan olehnya. Ia merasa dirinya bagaikan sebutir debu tak berarti yang sedang melayang-layang di tengah-tengah kebesaran dan keluar-biasaan alam semesta. Sepanjang hidupnya sebuah pertanyaan selalu terngiang-ngiang di dalam hatinya: Apakah sebenarnya tujuan hidupku, yang oleh karena kematian tubuhku tidak dapat dimusnahkan?
Pertanyaan tersebut terus-menerus menghantui batin Tolstoy, sehingga akhirnya hampir saja dia tertipu oleh Iblis untuk membunuh dirinya sendiri, seperti yang dipaparkan olehnya di dalam buku: A Confession and What I Believe dengan terus terang sekali!
Nabi Yesaya pernah menegur bangsa Israel karena kebodohan mereka yang telah meninggalkan TUHAN, Allah mereka, dengan menyembah berhala buatan tangan-tangan mereka sendiri: Orang yang sibuk dengan abu belaka, disesatkan oleh hatinya yang tertipu; ia tidak dapat menyelamatkan jiwanya atau mengatakan: Bukankah dusta yang menjadi peganganku? (Yesaya 44:20)
Rasul Yohanes juga memperingati orang-orang percaya di dalam suratnya: Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. (1Yohanes 2:16)
Sepanjang akhir perjalanan hidup Tolstoy, tak henti-hentinya ia bertanya: Mengapa hatiku terus-menerus terasa pilu? Apakah sebenarnya tujuan hidupku? Apakah makna kehadiranku di dunia?
Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. (Pengkhotbah 5:9)
BILIK KASIH
Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. (Pengkhotbah 1:8)
Kalimat yang dipergunakan oleh rock group Foreigner sebagai judul lagu mereka I Want to Know What Love is, ternyata bukan merupakan sebuah pernyataan ingin tahu yang tak terjawabkan bagi Rev Nicky Gumbel atau Count Leo Tolstoy saja, tetapi juga bagi banyak orang-orang lain pada umumnya.
Mereka semua mempertanyakan sebab-musabab ketidak-puasan hati, dan kesia-siaan segala sesuatu yang sudah berhasil dicapai sepanjang hidup mereka. Seperti yang dicatat oleh penulis kitab Pengkhotbah mengenai semua yang diperhatikan olehnya di dunia: Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia belaka. (Pengkhotbah 1:1-2)
Suatu analogi yang sederhana sekali bisa menjelaskan catatan Pengkhotbah tersebut, dan sekaligus memberikan pengertian secara gamblang sekali mengenai misteri kekosongan hidup yang tak terpecahkan, disertai solusinya. Setiap orang yang sudah pernah mengalaminya, pasti dengan mudah dapat menghayati analogi ini.
Bagi mereka yang dilahirkan di negara-negara barat, dan dibesarkan dengan makanan-makanan pokok tradisi mereka sendiri, seperti roti, kentang, pasta dan lain sebagainya, tetapi bermukim di salah satu negara di benua Asia, mereka tentu memahami masalah yang akan mereka hadapi, jika setiap hari diharuskan menelan nasi sebagai penggantinya.
Schapelle Corby, seorang narapidana muda berwajah cantik, berasal dari daerah Gold Coast, Australia, yang awal tahun 2005 telah dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun di pulau Bali, pernah mengeluh mengenai masalah yang sama, ketika ia diwawancarai oleh seorang wartawan dari negaranya. Schapelle diadili dan dinyatakan bersalah, karena ia terlibat di dalam usaha penyelundupan 4 kilogram ganja masuk ke Indonesia melalui bandar udara pulau Bali hampir 2 tahun sebelumnya.
Karena wajahnya yang menarik, dan juga proses pengadilannya di kota Denpasar yang menyebabkan terbongkarnya beberapa hal-hal menghebohkan yang diduga terjadi di dalam lapangan udara kota-kota besar Australia, berita mengenai dirinya pada saat itu menjadi berita sensasi terhangat di sana. Dan oleh karena cara-cara penyampaian berita yang menunjukkan rasa simpati berlebih-lebihan dan yang amat memihak kepadanya, banyak sekali penduduk negara itu merasa yakin, bahwa ia tidak bersalah dalam kasus penyelundupan ganja tersebut.
Semenjak saat itu status diri Schapelle di mata masyarakat Australia menjadi berubah sekali. Ia bukan seorang narapidana yang bersalah lagi, tetapi seorang celebrity yang amat disayangi media dan masyarakat negaranya. Oleh karena itu banyak sekali orang-orang yang tergerak hatinya untuk menolong wanita muda ini dengan bantuan moril maupun materiil, agar ia dapat membuktikan di hadapan para penegak hukum di Indonesia, bahwa ia tidak bersalah.
Melalui suatu wawancara singkat ia mengungkapkan rasa tidak senang akan jenis-jenis makanan yang setiap hari harus disantap olehnya di penjara. Selama ia terkurung di sana, dari hari ke hari nasi putih selalu menjadi makanan pokoknya, baik untuk sarapan pagi, makan siang, bahkan untuk makan malam. Schapelle mengatakan, bahwa ia sudah merasa muak menyaksikan nasi yang sama dihidangkan kepadanya di atas piring aluminium penjara! Ia rindu akan makanan pokok negaranya sendiri, yaitu: roti, yang menurut dia merupakan satu-satunya bahan makanan yang bisa membuat dirinya merasa puas!
Bagi orang-orang barat lainnya yang selalu berkelana di dunia, ungkapannya bukan merupakan sesuatu hal yang aneh, karena tentu saja sesuai dengan pengalaman yang mereka lalui sendiri, mereka dapat menghayati rasa jengkel yang diutarakan oleh Schapelle Corby.
Begitu juga kebalikannya, setiap orang yang berasal dari salah satu negara di benua Asia, yang sebelum pergi merantau, sepanjang hidupnya memakan nasi putih pagi, siang dan malam, tentu akan mengalami kesulitan yang sama, jika sepanjang hari perut mereka tidak dipuaskan oleh makanan pokok tersebut.
Berdasarkan hasil percakapan-percakapan dan diskusi-diskusi mengenai pengalaman banyak orang dari pelbagai negara di Asia, yang sedang hidup dirantau orang di negara-negara barat, dapat disimpulkan suatu persamaan pendapat yang amat menakjubkan. Dengan penuh keseragaman mereka mengakui, bahwa seolah-olah di dalam tubuh mereka terdapat dua perut yang terletak berdampingan.
Perut yang pertama bisa menerima berbagai jenis santapan, yang seketika itu juga dapat memuaskan diri mereka, meskipun untuk jangka waktu sekejab saja. Tetapi perut mereka yang kedua, yang terpenting, hanya dapat dipuaskan oleh makanan pokok mereka sendiri, yaitu nasi putih. Setiap kali mereka merebahkan diri untuk beristirahat di waktu malam, tubuh mereka akan selalu merasa tidak lengkap, jika hanya perut yang pertama saja yang terisi oleh sayur, daging, roti, kentang, pasta, atau bahan-bahan makanan lainnya. Karena perut yang kedua masih tetap menunggu kehadiran nasi putih di dalamnya!
Melalui keselarasannya, analogi sederhana tersebut tampak sangat mudah untuk dipakai sebagai suatu landasan guna menjelaskan sebab-sebab ketidak-puasan hidup umat manusia. Karena bagaikan kiasan dua bagian perut yang berada di dalam tubuh orang-orang Asia, ditinjau secara rohani, seolah-olah di dalam diri setiap orang juga terdapat dua ruang kehidupan yang terletak berdampingan, yang selalu rindu untuk diperhatikan.
Ruang kehidupan yang pertama adalah sebuah ruang yang mudah sekali dipuaskan oleh segala sesuatu yang telah dicapai seseorang, diukur dari standar-standar yang sudah ditentukan oleh masyarakat dunia, seperti: kesibukan atau kesuksesan karir pekerjaan, persahabatan yang sejati, perkawinan yang berbahagia, kemakmuran dan kesejahteraan hidup berkeluarga yang patut dijadikan teladan orang-orang lain, kekuasaan dan pengaruh di dalam masyarakat, harta kekayaan yang berkelimpahan, melakukan tindakan amal, penampilan yang sempurna, dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang ruang tersebut dijejali dengan kepuasan-kepuasan semu yang didapatkan melalui penyalah-gunaan obat-obat bius atau dari hubungan-hubungan tanpa moral yang sudah direstui oleh umum.
Semua itu dapat segera memenuhi dan memuaskan ruang kehidupan yang pertama. Tetapi rasa puas tersebut akan menjadi luntur, dan berlalu secepat berubahnya pendapat atau sikap manusia! Mereka akan merasa bosan, dan menuntut kesempatan-kesempatan lain yang belum terjangkau, seperti yang sudah diuraikan oleh Rev Nicky Gumbel dan Count Leo Tolstoy sebelumnya.
Tanpa sadar, mereka terus berusaha melengkapi hidup dengan memenuhi dan mengisi ruang yang pertama saja! Padahal ruang kehidupan mereka yang kedua tetap kosong, terbengkalai dan tak terpuaskan, karena ruang itu masih terus menantikan SESUATU yang paling penting, yang dapat mengubah sikap hidup mereka!
Apakah atau SIAPAKAH, yang satu-satunya dapat mengisi dan memuaskan ruang kehidupan yang kedua? Apakah ruang tersebut terus menanti-nantikan kehadiran KASIH sejati, yang dapat memenuhi dan memuaskannya, seperti teriakan memilukan syair lagu I Want to Know What Love is?
Sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan. (Mazmur 107:9)
SANTAPAN KASIH
Mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air. (Yeremia 2:13)
Sebelum peristiwa kecelakaan lalu lintas yang terjadi pertengahan tahun 1997 di kota Paris, Perancis, yang mengakibatkan kematiannya yang menggemparkan berbagai media di seluruh dunia, almarhumah Lady Di (Puteri Diana) pernah mengutarakan kepedihan hatinya di depan umum: Ada suatu perasaan tidak berdaya, dan terasingkan, yang mencekam diri setiap orang, yang mengakibatkan mereka merasa tidak mampu untuk mengarungi arus kehidupan modern yang kompleks ini. Pada akhirnya mereka harus mengakui, bahwa di dalam diri mereka ada sesuatu yang kurang, yang menyebabkan hidup mereka terasa hampa dan tidak lengkap.
Puteri yang sepanjang hidup mudanya selalu dirundung malang tersebut akhirnya bercerai dari calon raja Inggris, Pangeran Charles. Ia merasa gagal setelah berkali-kali berusaha untuk memenangkan kembali cinta kasih suaminya, yang ternyata lebih mengutamakan isteri orang lain dari pada isteri sendiri. Oleh karena itu, di samping kesibukan sehari-hari sebagai seorang celebrity yang mempromosikan perbuatan-perbuatan amal di dunia, ia terus berusaha untuk menemukan KASIH di tempat-tempat yang keliru, yang akhirnya mengakibatkan kematiannya yang tragis tersebut. Sampai sekarang peristiwa kecelakaan fatal yang menghebohkan itu terus mengolah spekulasi-spekulasi baru mengenai sebab-musababnya, yang selalu diikuti oleh pelbagai teori isapan jempol.
Yang amat menakjubkan, sebelum perceraian mereka berdua resmi dilaksanakan, pada suatu kesempatan lain bekas suaminya juga mengungkapkan di depan umum perasaan hampa di dalam hidupnya yang senada sekali dengan ucapan Lady Di: Di tengah-tengah kemajuan pesat ilmu pengetahuan dunia, terasa ada suatu tekanan yang memilukan jiwa, yang terus-menerus mengingatkan, bahwa di dalam hidup ini ada sesuatu yang kurang. Sesuatu amat berarti, yang dapat memberi makna bagi hidup ini.
Bagaikan Count Leo Tolstoy dan celebrities lainnya, yang ternama dan amat kaya di dunia, taraf kebahagiaan hidup kedua bangsawan Inggris ini sudah mencapai suatu tingkat yang selalu menjadi idaman setiap orang. Mereka termasyhur, dikagumi, dielu-elukan, kaya dan berkuasa, bahkan pada waktu itu Lady Di diakui oleh masyarakat dunia sebagai salah seorang puteri bangsawan yang cantik dan paling menarik. Karena asal-usul, pengaruh dan kedudukan mereka yang tinggi, selama hidup mereka tidak akan pernah kekurangan. Tetapi semua yang sudah berhasil mereka raih sesuai dengan standar kebahagiaan hidup yang ditentukan oleh masyarakat dunia, tidak bisa menggantikan SESUATU sangat berarti yang masih KURANG di dalam hidup mereka.
Bernard Levine, salah seorang kolumnis yang diakui termahir di dunia masakini, sering kali menyatakan keinginan hatinya untuk memahami misteri kehidupan umat manusia melalui karya-karya penanya. Suatu teka-teki hidup yang biasanya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan spontan di dalam benak pikiran setiap orang: Apakah yang kita lakukan di dunia ini? Kita berasal dari mana? Ke manakah kita akan pergi? Siapakah sebenarnya kita? Apakah guna hidup ini? Beberapa waktu yang lalu ia mengakui dengan terus terang, bahwa ia belum berhasil memecahkannya.
Sebuah kolom surat kabar pernah menampilkan salah satu komentarnya yang terkenal: Negara-negara seperti negara kita (Inggris) dipenuhi oleh penduduk yang memiliki segala kebutuhan materi yang mereka inginkan. Sebagai keluarga-keluarga berbahagia terkadang mereka berdiam diri saja, tetapi tidak jarang mereka juga mengeluh penuh keputus-asaan, karena menyadari, bahwa ada sebuah lubang yang besar di dalam hidup mereka. Betapa pun banyaknya makanan dan minuman yang mereka tuangkan ke dalamnya, betapa pun banyaknya kendaraan-kendaraan mewah dan set-set televisi baru yang mereka sumbatkan di dalamnya, bahkan berapa pun banyaknya anak-anak yang patut dibanggakan disertai sahabat-sahabat setia yang mereka paradakan di tepi-tepinya, semua itu memilukan.
Jelas sekali, kolumnis yang mengaku bahwa ia bukan seorang pengikut Kristus ini, sedang memperbincangkan ruang yang kedua, ruang kehidupan manusia yang tak terpuaskan. Laksana perut kedua yang terus menantikan kehadiran makanan pokok yang dirindukan oleh setiap orang, yaitu satu-satunya bahan makanan yang dapat mengisi kekosongannya, serta memuaskan kebutuhan diri mereka.
Bukankah Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sendiri sebagai ROTI HIDUP yang dapat memuaskan rasa lapar yang diderita oleh setiap orang? Bahkan Ia berkata, bahwa semua orang yang percaya kepada-Nya tidak akan pernah merasa haus lagi. Injil Yohanes pasal yang ke-6 ayat 25-59 membahas secara detil pernyataan Yesus mengenai tema Roti Hidup tersebut.
Kata Yesus kepada mereka: Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. (Yohanes 6:35)
Seandainya perkataan Tuhan Yesus tersebut ditujukan kepada orang-orang Asia, tentu Ia akan mengumpamakan diri-Nya sendiri sebagai NASI HIDUP, satu-satunya makanan pokok yang mampu memuaskan kebutuhan diri mereka.
Juga di dalam Injil yang sama pasal 4, dikisahkan pertemuan Tuhan Yesus dengan seorang wanita Samaria di kota Sikhar. Suatu pertemuan yang telah mengubah hidup perempuan yang mempunyai 5 suami dan sedang hidup di dalam dosa perzinahan dengan seorang laki-laki bukan suaminya. Pada waktu ia menimba air dari dalam perigi Yakub, Tuhan Yesus menyapa dan menawarkan kepadanya AIR HIDUP, yang akan menjadi mata air di dalam dirinya dan terus-menerus memancar keluar sampai kepada hidup yang kekal.
Melalui ayat-ayat termashyur yang mengibaratkan diri-Nya sebagai Roti Hidup atau Pemberi Air Hidup, Tuhan Yesus memberi jaminan kepada kita, bahwa Ia-lah satu-satunya KASIH yang selalu dicari-cari oleh setiap orang. Ia menjamin akan memenuhi dan memuaskan ruang kehidupan mereka yang kedua, bagaikan analogi makanan pokok yang dibutuhkan oleh perut kedua setiap orang. Satu-satunya pernyataan paling berani, yang tidak pernah diucapkan oleh para pemimpin agama-agama lainnya sepanjang masa!
Dengan kata lain Tuhan Yesus memproklamirkan, bahwa Dia saja yang mampu memuaskan rasa lapar dan dahaga yang diderita oleh setiap orang! Karena sesuai dengan isi firman Allah, dan terbukti sampai detik ini melalui kesaksian-kesaksian mereka yang sudah lahir baru, hanya Tuhan Yesus Kristus yang mampu memberi makna dan tujuan hidup yang berarti kepada umat manusia.
Jadi, apakah sebenarnya makna dan tujuan hidup setiap insan di dalam dunia ini? Apakah guna hidup umat manusia?
Jawab Yesus kepadanya: Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. (Yohanes 4:13-14)
ALLAH ADALAH KASIH
Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. (1 Yohanes 4:10)
Jika ditinjau dari asal-usulnya, kata Love (Kasih/Cinta) di dalam bahasa Yunani mempunyai arti yang berbeda-beda. Berdasarkan dongeng kuno kebudayaan negara tersebut, Eros, si dewa Cinta, telah menjadi penyebab awal pengertian kata cinta/kasih (eros) yang bersifat seksuil.
Sedangkan Philia, yang berasal dari kata philos, memberi pengertian cinta/kasih yang lebih merujuk pada sifat-sifat menggemari, menyukai atau mengasihi dengan mesra. Jadi kasih yang mempunyai arti lebih dalam dari pada kasih yang hanya berkisar pada hasrat tubuh belaka.
Tetapi sebuah kata Yunani lain: Agape, yang tertera di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, telah memberikan kepada kata cinta/kasih arti yang paling berbeda. Kasih agape di situ berarti: kasih Allah Bapa, kasih Tuhan Yesus Kristus yang sejati, kasih kristiani, kasih yang murni, kasih tanpa syarat atau batas, kasih tanpa mengharapkan balasan, kasih yang mau berkorban, kasih yang memberi bukan meminta, kasih sorgawi! Inilah kasih abadi yang dapat menembus hati setiap insan di dunia serta mengubah kehidupan mereka.
Kasih agape adalah satu-satunya kasih yang memberikan makna bagi hidup, yang selalu dirindukan oleh setiap orang, yaitu mereka yang tak henti-hentinya mengalami rasa hampa di dalam hidup, seperti yang sudah diulas sebelumnya oleh Rev Nicky Gumbel, Count Leo Tolstoy, Lady Di, Prince Charles, Bernard Levine, Mick Jones, atau oleh para celebrities termasyhur lainnya. Bahkan kasih agape adalah kasih yang dialunkan oleh suara lantang penyanyi tenar Lou Gramm di dalam syair lagu: I Want to Know What Love is, suatu jeritan pilu yang mewakili kerinduan hati setiap orang guna mengetahui rahasia makna hidup mereka di dunia.
Pada masa pelayanan-Nya, Tuhan Yesus menjelaskan melalui kiasan roti (atau nasi), yang merupakan satu-satunya makanan pokok manusia bagi perut mereka yang kedua, bahwa Ia adalah Kasih itu sendiri, satu-satunya Firman Allah, makanan pokok (rohani) manusia bagi ruang kehidupan mereka yang kedua, yang dapat memenuhinya, serta memuaskan diri mereka.
Semenjak kehadiran dosa di dalam hidup umat manusia, semua orang menjadi SANGAT tidak kudus di hadapan Pencipta mereka, Allah Bapa Yang Mahakudus. Dosa-dosa itu menghalangi hak mereka untuk bisa langsung menghadap kepada-Nya. Tanpa kehadiran Tuhan Yesus Kristus sebagai Perantara (Firman/Kasih) di dalam ruang kehidupan yang kedua, semua orang akan selalu merasa tidak puas, karena mereka tidak pernah bisa mengetahui, atau mengerti makna dan tujuan kehadiran mereka di dunia.
Makna dan tujuan hidup umat manusia adalah untuk mengenal secara pribadi Allah Bapa di sorga, sebab Ia rindu untuk mengaruniakan kasih agape kepada umat-Nya melalui persekutuan yang intim dengan mereka, seperti persekutuan mula-mula dengan umat ciptaan-Nya yang pertama, Adam dan Hawa, sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu tanpa kehadiran Tuhan Yesus Kristus melalui Roh Kudus, yaitu KASIH itu sendiri, guna melayakkan dan menguduskan diri mereka, semua orang tidak akan pernah bisa menghadap Pencipta mereka. Karena makna dan tujuan hidup umat manusia adalah untuk mengetahui kehendak Tuhan, serta melakukannya, seperti contoh yang sudah diperlihatkan oleh Yesus kepada para pengikut-Nya.
Suatu hal yang paling menyedihkan bagi mereka yang sudah menyelesaikan masa hidup di dunia adalah kenyataan, bahwa mereka telah melalui semua itu tanpa mengetahui atau mengerti makna dan tujuan hidup mereka.
Helmut Thielicke, seorang ahli ilmu agama Kristen, pernah menyinggung masalah tersebut dengan menulis: Tuhan telah menentukan di akhir kehidupan setiap orang suatu peran gilang-gemilang di dalam pertunjukan yang disutradarai oleh-Nya, tetapi mereka mengabaikannya, karena melewatkan semua kesempatan-kesempatan indah yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada mereka sebelumnya.
Semenjak hadirnya dosa di dunia, dengan licin sekali Iblis berusaha mengelabui mata umat manusia untuk mengalihkan fokus tujuan utama hidup mereka. Tipuannya mengiming-imingkan kepada mereka kasih eros yang bersifat sementara, supaya mereka gagal menemukan KASIH agape, kasih yang abadi. Mereka terjebak oleh kenikmatan sejenak yang sering kali justru mengakibatkan hati terasa pilu, sedih, hampa dan putus asa, bahkan tidak jarang disusul oleh tindakan-tindakan nekat membabi-buta yang biasanya berakhir di alam maut. Karena Iblis, bapa segala dusta, mempunyai rancangan-rancangan yang berlawanan sekali dengan rencana kasih agape Allah Bapa, yaitu hidup yang kekal.
Tuhan Yesus mengatakan: Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. (Yohanes 8:44)
Ps Rick Warren, seorang pendeta senior sebuah gereja Baptis di Amerika Serikat, serta penulis buku kristiani terlaris di dunia masakini: The Purpose Driven Life, telah menamai bab pertama buku tersebut dengan judul: Semuanya Dimulai dengan Allah.
Kalimat-kalimat yang mengawali isi buku luar biasa tersebut berbunyi: Semua itu bukan mengenai engkau. Makna hidupmu jauh lebih besar dari pada segala sesuatu yang telah engkau capai, damai sejahteramu, atau kebahagiaanmu. Semua itu jauh lebih besar dari pada keluargamu, karirmu, bahkan impian-impianmu yang paling mustahil dan ambisi-ambisimu. Jika engkau ingin tahu, mengapa engkau ditempatkan di atas planet ini, engkau harus memulainya dengan Allah. Engkau dilahirkan oleh kehendak-Nya dan untuk kehendak-Nya.
Suatu kutipan yang menyimpulkan segala-galanya bagi setiap orang yang sedang menelusuri makna hidup mereka di dunia, karena kenyataannya tidak dapat disangkal lagi: Bukan kita atau kepentingan diri kita sendiri yang seharusnya menjadi pusat kehidupan, tetapi Allah! Dia-lah pusat hidup segenap umat manusia, karena semua yang diciptakan diawali dengan Dia, yang adalah Kasih itu sendiri!
Selain di dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pertama, yang membahas tema KASIH, yaitu pribadi Allah (1 Korintus 13:1-13), rasul Yohanes juga menulis mengenai tema yang sama di dalam suratnya yang pertama: Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. (1 Yohanes 4:16)
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai KASIH, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. (1 Korintus 13:3)
KASIH YANG MEMUASKAN
Kata Yesus kepadanya: Akulah JALAN dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)
Count Leo Tolstoy nyaris tersesat seperti yang telah diuraikan oleh Helmut Thielicke, karena kesalahan-kesalahan penerapan upayanya yang selalu berkisar sekitar kepentingan dirinya sendiri, dan bukan berpusat pada Tuhan seperti anjuran Ps Rick Warren di awal bukunya, The Purpose Driven Life.
Menjelang usianya yang lanjut, Tolstoy memutuskan untuk mengundurkan diri dari tekanan hidup yang hectic di tengah-tengah kebisingan kota metropolitan, dan membawa keluarganya pindah dari sana untuk bermukim di desa. Di luar kesadarannya sendiri, ia hidup dikelilingi oleh para petani yang beriman pada Kristus, yang kemudian berhasil membimbing dia untuk mengetahui makna hidupnya. Akhirnya Tolstoy berhasil menemukan KASIH abadi, yang semenjak saat itu selalu menjadi pusat kehidupannya.
Membaur bersama para petani kristiani yang hidup sederhana, tetapi penuh sukacita, ia menyadari kesia-siaan harta kekayaannya, kemasyhuran namanya, bahkan segala sesuatu yang sudah berhasil diraih olehnya. Semua detil mengenai kesaksian pertobatan hidupnya yang amat kompleks tersebut dapat ditemukan di dalam buku klasik tulisannya: A Confession and What I Believe.
Raja Salomo menulis: Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? (Pengkhotbah 2:25) Di situ ia ingin mengajarkan, bahwa kehidupan yang tidak berpusat pada Tuhan adalah kehidupan yang tidak berarti, tidak memuaskan, dan tidak bermakna.
Di dalam semua Injil Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menyatakan di depan umum asal-usul kedatangan-Nya di dunia. Dan kepada murid-murid-Nya Ia memberitahukan, bahwa tidak lama lagi Ia akan kembali ke tempat itu. Suatu pernyataan kontroversiil yang pada masa itu tidak mudah untuk dapat dicernakan begitu saja oleh daya pikiran mereka yang amat terbatas. Menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tuduhan-tuduhan orang-orang Yahudi yang memendam rasa benci terhadap diri-Nya, Yesus berkata kepada mereka, bahwa Ia sudah ada jauh sebelum Abraham ada.
Kata Yesus kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. (Yohanes 8:58) Di dalam bahasa Inggris (NKJV), ayat tersebut memberikan suatu pengertian yang jauh lebih dalam lagi: Jesus said to them, Most assuredly, I say to you, before Abraham was, I AM.
Selain pernyataan mengenai asal mula Tuhan Yesus yang diterangkan dengan jelas sekali di awal Injil Yohanes: Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yohanes 1:1), rasul Yohanes juga menambahkan: Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yohanes 1:18)
Pada malam perjamuan terakhir, sebelum Tuhan Yesus menubuatkan tindakan rasul Petrus yang akan menyangkal diri-Nya 3 kali, Ia menyatakan kepadanya: Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku. (Yohanes 13:36)
Yesus juga berusaha menghibur murid-murid-Nya pada malam yang sama: Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (Yohanes 14:1-2) Suatu pernyataan disertai janji luar biasa, yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri dengan penuh ketegasan kepada mereka!
Bahkan ketaatan hidup-Nya juga direkam di dalam Injil tersebut: Kata Yesus kepada mereka: Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. (Yohanes 4:34)
Pernyataan-pernyataan Tuhan Yesus tersebut membuktikan, bahwa selama Ia melayani di dunia, Ia adalah satu-satunya orang yang mengetahui makna dan tujuan hidup-Nya. Karena Ia mengetahui asal-usul-Nya, apa yang harus dilakukan oleh-Nya di dunia, dan akhirnya, ke mana Ia akan pergi. Berbeda sekali dengan mereka yang selalu mempertanyakan: Kita berasal dari mana? Siapakah sebenarnya kita? Apakah yang kita lakukan di dunia? Apakah guna hidup ini? Ke manakah kita akan pergi?
Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa. (Yohanes 16:28)
Yang paling menakjubkan, kejadian-kejadian luar biasa sekitar kelahiran, pelayanan, kematian, penguburan dan kebangkitan-Nya, telah diberitakan oleh para nabi Allah beribu-ribu tahun sebelumnya. Begitu pula kedatangan-Nya kembali ke dunia di akhir zaman. Tidak ada seorang pun yang (pernah) hidup di atas planet ini, baik orang-orang biasa, maupun pelopor-pelopor (agama) terpenting di dalam sejarah dunia, yang dinubuatkan dengan begitu detilnya oleh banyak orang dari berbagai masa, dan yang kemudian digenapi secara akurat sekali seperti semua peristiwa yang terjadi di dalam hidup Tuhan Yesus Kristus.
Berlainan dengan ajaran para pelopor agama-agama lain, yang menawarkan pelbagai-macam anjuran, wejangan, serta bimbingan-bimbingan penuh kebijaksanaan kepada pengikut-pengikut mereka untuk menemukan solusi bagi teka-teki hidup tak terpecahkan, Tuhan Yesus adalah satu-satunya pelopor agama yang berani mengikrarkan dengan tegas sekali kepada para pengikut-Nya, dan kepada umum, bahwa Ia adalah JAWABAN bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Selain Ia adalah KASIH itu sendiri, Tuhan Yesus juga tidak pernah membantah orang-orang di sekeliling-Nya yang menjuluki Dia sebagai: Nabi, Raja, Mesias, Anak Allah, Tuhan atau Allah. Bahkan Ia mengibaratkan diri-Nya sendiri sebagai JALAN KEHIDUPAN, satu-satunya jalan yang menghubungkan umat manusia kepada Allah Bapa di sorga, atau sebagai PINTU yang bisa membawa mereka kepada keselamatan hidup.
Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. (Yohanes 10:9)
Mengakui Yesus di dalam hidup kita sebagai Tuhan, Mesias, Anak Allah, bahkan Allah, adalah kunci terpenting bagi kita untuk bisa bersekutu secara intim dengan Allah Bapa di sorga. Melalui pengakuan kita yang tulus dari hati nurani yang terdalam, dengan segera Ia menyatakan makna dan tujuan hidup kita bagi kemuliaan nama dan kerajaan-Nya. Perhatikanlah apa yang terjadi setelah rasul Petrus dengan tulus mengakui Yesus sebagai Juruselamatnya.
Maka jawab Simon Petrus: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup! Kata Yesus kepadanya: Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. (Matius 16:16-19)
Tuhan Yesus Kristus adalah KASIH yang dapat memberi kepuasan kepada mereka yang mencari makna dan tujuan hidup di dunia. Karena hanya melalui Dia yang bersemayan di dalam ruang kehidupan yang kedua setiap orang, asal-usul mereka, apa yang harus dilakukan di dunia, dan ke mana mereka akan pergi bukan merupakan suatu teka-teki hidup tak terpecahkan lagi. Tuhan Yesus sendiri yang akan membuka mata hati mereka, serta memuaskannya!
Nabi Yeremia menyampaikan pesan TUHAN kepada kaum Yehuda: Sebab Aku akan membuat segar orang yang lelah, dan setiap orang yang merana akan Kubuat puas. (Yeremia 31:25)
Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. (Matius 11:27)
KASIH YANG MEMBENARKAN
Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan KEBENARAN dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)
Banyak orang mempertanyakan arti kebenaran, bagaikan Pontius Pilatus, gubernur Romawi atas Yudea, yang bertanya langsung kepada Tuhan Yesus di gedung pengadilan, sebelum Ia dijatuhi hukuman mati atas paksaan permintaan orang-orang Yahudi: Apakah kebenaran itu? (Yohanes 18:38a)
Pertanyaan tersebut dilontarkan olehnya sebagai suatu tanggapan atas pernyataan Yesus: Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku. (Yohanes 18:37b)
Kebenaran kristiani adalah kebenaran umum! Jika benar, itu adalah kebenaran bagi semua orang. Tetapi jika tidak benar, maka itu sama sekali bukan kebenaran bagi mereka! Karena kepercayaan kristiani hanya dilandaskan pada kebenaran Injil tentang kelahiran, kehidupan, pelayanan, penyaliban, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, begitu juga kedatangan-Nya kembali ke dunia. Oleh karena itu, jika kekristenan terbukti benar, takdir kehidupan abadi setiap orang setelah meninggalkan dunia, sangat tergantung pada sikap mereka di dalam menanggapi kebenaran tersebut. Suatu peringatan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri melalui Injil Yohanes 14 ayat 6!
Kebenaran firman Tuhan harus diterima seluruhnya, bukan hanya sebagian kecil atau sebagian besar saja. Karena Alkitab adalah kebenaran bersejarah yang dicatat oleh orang-orang yang mengenal Dia dengan akrab, dan juga oleh mereka yang dipanggil untuk menjadi saksi-saksi bagi kerajaan Allah setelah kenaikan-Nya ke sorga.
Rasul Petrus menulis tentang kebenaran yang dialami olehnya sendiri: Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. (2 Petrus 1:16-18)
Begitu pula rasul Yohanes yang menulis pengalamannya di dalam Injil ke-4: Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. (Yohanes 19:35)
Sekali lagi, kebenaran kristiani adalah kebenaran umum! Tidak ada kebenaran yang hanya berlaku bagi sebagian orang saja, tetapi tidak berlaku bagi orang-orang lain. Kebenaran bagi seseorang adalah kebenaran bagi semua orang! Oleh karena itu, kebenaran bukan hanya berguna untuk sekelompok orang yang memerlukannya, yang mau menjadi pengikut-pengikut Kristus, tetapi juga untuk orang-orang lain yang belum mengetahuinya, bahkan untuk mereka yang menolaknya!
C S Lewis, salah seorang ahli ilmu agama Kristen yang sangat termasyhur di dunia, pernah mengutarakan pendapatnya: Agama Kristen adalah suatu pernyataan, yang jika salah, tidak mempunyai arti penting sama sekali, tetapi jika benar, adalah suatu kepentingan yang tidak ada batasnya! Satu hal yang tidak mungkin, adalah kepentingan yang asal-asalan saja.
Apakah Alkitab memberitakan Injil yang benar-benar terjadi? Apakah Yesus, yang tercatat di situ telah melakukan begitu banyak mujizat-mujizat luar biasa 2000 tahun yang lalu, bukan seorang tokoh khayalan? Apakah pernyataan para pengikut Kristus mengenai KASIH yang mereka beritakan dapat dipertanggung-jawabkan? Dan oleh karena itu, apakah kebenaran agama Kristen merupakan suatu kepentingan yang tidak ada batasnya, seperti salah satu kemungkinan yang sudah dikatakan oleh C S Lewis?
Para ahli ilmu pengetahuan yang amat termasyhur sepanjang masa, yang direkam di dalam sejarah sebagai penemu-penemu pelbagai-macam ilmu-ilmu baru yang berguna bagi segenap umat manusia di dunia, mengakui kekompleksan misteri alam semesta yang tidak dapat dipecahkan begitu saja dengan menggunakan tingkat kecerdasan (IQ) mereka yang sangat tinggi.
Banyak di antara para cendekiawan tersebut juga menolak mempercayai isi Alkitab. Keinginan mereka untuk melakukan penelitian pribadi guna membuktikan ketidak-benaran berita Injil, justru mengakibatkan banyak di antara orang-orang termasyhur itu akhirnya menyerahkan diri mereka kepada Tuhan, dan menjadi hamba-hamba-Nya (pendeta).
Tokoh-tokoh PALING cerdas di dunia sepanjang masa seperti Boyle, Calvin, Faraday, Galileo, Kepler, Koch, Lister, Lodge, Maxwell, Mendel, Newton, Pasteur, Simpson dan banyak scientists lainnya mengakui kenyataan penemuan mereka sendiri, bahwa kebangkitan Yesus 2000 tahun yang lalu benar-benar terjadi!
Kebenaran tidak dapat diterima mempergunakan kecerdasan akal pikiran manusia saja, tetapi hanya bisa diakui sebagai suatu kebenaran, jika lubuk hati mereka yang paling dalam bisa melihat-nya melalui mata KASIH di dalam hidup mereka. Karena kebenaran bukan monopoli orang-orang berotak saja, melainkan berlaku bagi semua orang dari berbagai-macam lapisan masyarakat, dengan latar belakang yang beraneka-ragam, dari orang-orang biasa sampai yang paling intelek. Kebenaran tidak pernah memandang bulu!
Rasul Paulus menulis di dalam suratnya kepada jemaat di Roma: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah sudah membangkitkan Dia dari antar orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. (Roma 10:9-10)
Dan kepada jemaat di Korintus ia juga memperingatkan: Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa ... tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus. (1 Korintus 12:3)
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. (Matius 5:6)
KASIH (Kristus) adalah pokok seluruh kebenaran, yang dipakai sebagai standar untuk mengukur dan membandingkan bukti-bukti kebenaran-kebenaran lainnya di dunia. Menurut pengertian orang-orang Yahudi pada masa pelayanan Yesus, kebenaran bukan merupakan pengetahuan yang tertanam di dalam otak saja, tetapi yang ada dan yang dapat dirasakan di dalam hati. Ketika Yesus berkata: Akulah KEBENARAN, Ia mempunyai maksud untuk mengajar para pengikut-Nya, bahwa mereka bisa mengalami kebenaran melalui persekutuan yang intim dengan diri-Nya. Ternyata pernyataan Yesus tersebut terbukti sampai sekarang!
Untuk bisa memahaminya lebih dalam, sebuah kiasan yang amat sederhana menyimpulkannya secara gamblang sekali.
Akhir-akhir ini di Australia Internet Dating merupakan salah satu industri yang paling menguntungkan para pengelolanya. Situs-situs semacam itu tumbuh pesat bagaikan jamur-jamur liar di kota-kota besar, untuk melayani kebutuhan orang-orang yang terlampau sibuk dengan karir mereka. Tidak jarang situasi tersebut menyebabkan mereka kehilangan waktu lenggang guna menemukan pasangan hidup secara tradisionil, baik bagi mereka yang sudah terlambat usianya, maupun yang masih muda belia.
Bagi kasus-kasus perkenalan yang jujur dan berhasil, berkencan melalui surat-surat elektronik dunia sibernetika, melukiskan dengan kata-kata raut muka masing-masing, bentuk tubuh, pendidikan, tabiat, minat, kegemaran dan lain sebagainya, biasanya oleh karena rasa cocok yang timbal-balik, berakhir dengan terjalinnya tali persahabatan. Pada saat itu sikap saling menyukai karena merasa cocok hanya tertanam di dalam benak pikiran mereka saja, berdasarkan semua data yang telah mereka baca!
Tetapi ketika mereka bertemu muka, dan menjalin persekutuan pribadi untuk pertama kalinya, rasa suka berdasarkan pengetahuan, yang awalnya berada di dalam benak pikiran mereka, langsung bersemi di dalam hati. Karena segala data mengenai kawan kencan yang telah mereka ketahui lewat layar komputer, dibuktikan kebenarannya melalui pengalaman yang mereka lalui bersama! Mengakui kebenaran adalah seperti memindahkan semua data yang kita ketahui dari dalam otak, melalui suatu pengalaman pribadi, ke dalam hati.
Jawaban Tuhan Yesus atas pertanyaan Pontius Pilatus mengenai kebenaran kedudukan-Nya sebagai Raja orang-orang Yahudi menegaskan penjelasan di atas: Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku? (Yohanes 18:34)
Analogi Internet Dating sejati yang berakhir dengan berhasil, melukiskan pengalaman orang-orang kristiani yang mau menjalin persekutuan intim dengan Allah Bapa di sorga. Melalui pengalaman itu, pengetahuan firman Tuhan yang sebelumnya tertanam di dalam otak, dipindahkan dan diukir di dalam hati sebagai suatu kebenaran yang mutlak! Tuhan Yesus saja, melalui kuasa Roh Kudus, memungkinkan proses itu terjadi!
Agama Kristen tidak hanya menyatakan, bahwa Yesus sudah bangkit 2000 tahun yang lalu, karena kejadian tersebut dicatat oleh para saksi matanya di dalam Alkitab, tetapi kekristenan adalah suatu pernyataan di mana kebenaran kebangkitan-Nya dibuktikan melalui kesaksian-kesaksian para pengikut-Nya, yang hingga saat ini tanpa ragu-ragu mengatakan, bahwa mereka TAHU Yesus hidup! Mereka berani mengikrarkan kebenaran tersebut, karena mereka selalu bertemu dan bercakap-cakap dengan Dia!
Alkitab mengibaratkan hubungan Allah Bapa dengan umat-Nya laksana persekutuan intim dua insan yang saling mengasihi. Di dalam Perjanjian Lama, Ia memulainya dengan umat pilihan-Nya yang pertama, bangsa Israel, yang sering kali dikiaskan di sana sebagai seorang istri yang tidak setia. Tetapi ... kendatipun perbuatan mereka jahat, dan sering kali menyakitkan hati-Nya, TUHAN tetap mengasihi mereka tanpa syarat, dengan kasih agape.
Di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru hubungan Tuhan dengan umat-Nya (gereja Tuhan atau mempelai wanita) diakhiri dengan klimaks KISAH CINTA tersebut, yaitu perkawinan yang akan mengikat persekutuan mereka secara abadi. Firman Tuhan di Wahyu 19:6-10 melukiskan peristiwa itu sebagai perjamuan kawin Anak Domba. Sepanjang sejarah dunia dari awal sampai akhir (nanti), KASIH dan hubungan kasih agape telah menjadi dasar pokok seluruh kebenaran firman Allah. Tuhan Yesus menyatakan melalui e-mail kepada jemaat di Laodikia, bahwa Ia-lah yang dari semula memprakarsai persekutuan intim dengan umat-Nya di sana.
Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wahyu 3:20)
Tantangan serupa juga ditujukan kepada umat-Nya sekarang. Apakah kita bersedia menyambut tawaran e-mail Tuhan Yesus, membuka pintu hati kita, dan menerima Dia sebagai kebenaran KASIH di dalamnya?
Pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus melalui Roh Kudus, yang disebut Lahir Baru, akan membuka semua kebenaran Injil kepada kita mengenai kelahiran, kehidupan, pelayanan, penyaliban, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Bahkan kedatangan-Nya kembali ke dunia untuk kedua kalinya, terasa bagaikan suatu janji pribadi (perseorangan) kepada kita yang amat nyata! Karena Ia sendiri yang menjamin kebenaran tersebut kepada kita!
Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. (Matius 24:30)
Tuhan Yesus tidak hanya membenarkan kita di hadapan Allah Bapa, tetapi juga membukakan segala kebenaran yang tidak kita sadari sebelumnya! Yesus berkata: , tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. (Yohanes 14:26)
Tuhan Yesus Kristus sudah bangkit 2000 tahun yang lalu! Saat ini Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa di sorga, tetapi melalui Roh Kudus, Ia bekerja di tengah-tengah umat-Nya, bahkan di dalam hati setiap orang yang mengasihi-Nya.
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)
KASIH YANG MEMBEBASKAN
Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan HIDUP. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)
Tuhan Yesus tidak hanya memberi kepuasan hidup, serta menjamin kebenaran setiap orang yang mau menerima Dia di hadapan Allah Bapa, Ia juga mengaruniakan kepada kita kebebasan HIDUP yang sejati. Hidup di dalam kebenaran KASIH, yang menghalau rasa takut, kuatir, duka, sesal dan lain-lainnya, semua yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan dosa yang pernah kita lakukan. Inilah kebebasan terpenting yang sangat diperlukan oleh setiap insan di dunia.
Rasul Yohanes yang membahas mengenai KASIH, menulis: Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1 Yohanes 4:18)
KASIH membebaskan kita dari rasa menyesal, rasa bersalah, kecanduan, keinginan untuk melakukan dosa-dosa yang sama, bahkan rasa takut akan konsekuensi-konsekuensinya. Setiap orang selalu menyadari perbuatan-perbuatan dosa yang pernah mereka lakukan, meskipun tidak jarang ada di antara mereka yang sengaja berusaha meniadakannya, dengan berpura-pura seolah-olah mereka tidak pernah menyadarinya!
Melakukan kesalahan-kesalahan yang diketahui sebagai dosa berbeda dengan kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan oleh karena keteledoran para pelakunya. Kekeliruan bisa terjadi di dalam bank - ketika menghitung uang tunai, di dalam dapur - ketika memasak santapan makan malam, di dalam kantor - ketika mengetik tuts-tuts keyboard komputer, di dalam gereja - ketika menyanyikan lagu-lagu pujian dengan nada yang sumbang, dan lain sebagainya. Melakukan hal-hal yang keliru tidak membuat hati nurani kita tertekan atau merasa tertuduh, karena kekeliruan adalah bagian dari hidup, itu bukan dosa!
Tetapi melakukan kesalahan-kesalahan dosa dan akibat-akibatnya, akan selalu menghantui diri setiap orang. Kendatipun kita berusaha untuk meniadakannya, perbuatan-perbuatan dosa akan tetap tertanam di dalam benak pikiran kita, yang mau tidak mau mempengaruhi hati nurani dan sikap hidup para pemiliknya.
Iblis, yang dijuluki di Wahyu 12:10 sebagai pendakwa umat Tuhan, akan selalu berusaha untuk memastikan, bahwa kita tidak pernah melupakan tindakan-tindakan dosa yang jahat dan memalukan tersebut. Pada setiap kesempatan yang kita berikan kepadanya, dosa-dosa itu dan seluruh konsekuensinya akan diparadakan di depan kita.
Perasaan bersalah dan hal-hal serupa lainnya yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan dosa, seperti takut akan hukuman, takut mati, takut miskin, takut kehilangan orang-orang yang kita kasihi, takut kesepian dan lain sebagainya, pasti akan menimbulkan fobi di dalam hati setiap orang sepanjang masa, yang menyebabkan hidup mereka selalu merasa tertekan oleh beban-beban yang berat!
Perasaan-perasaan itulah yang sering kali menjadi penyebab utama kekosongan atau ketidak-puasan hidup setiap orang. Jika kita perhatikan sebab-sebabnya dengan lebih teliti, bukan merupakan sesuatu hal yang mengherankan, bahwa mereka harus menanggung penderitaan itu, karena alasan-alasan terjangkitnya rasa-rasa takut tersebut selalu berkisar sekitar kepentingan diri mereka sendiri. Ironis sekali, karena tidak jarang justru perasaan takut mati yang diderita oleh seseorang, adalah pendorong utama tindakan-tindakan nekat mereka untuk membunuh diri!
Iblislah yang menjadi provokator segala rasa bersalah atau takut yang dialami oleh setiap orang, karena berlawanan dengan kehendak Allah Bapa, tujuan utamanya adalah untuk membinasakan hidup kita! Firman Tuhan memperingatkan, bahwa hidup di dalam dosa adalah seperti bekerja full-time untuk sebuah perusahaan milik Iblis, karena sebagai budak-budaknya lambat laun mereka semua akan di-gaji dengan maut. Berbeda sekali dengan tawaran kasih karunia Allah Bapa yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita, melalui pengorbanan Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus. Kita tidak perlu mengerjakannya lagi, karena semua sudah ditanggung dan dibayar oleh-Nya sendiri.
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 6:23)
Tujuan kedatangan Kristus di dunia, selain untuk memberi hidup yang kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, adalah untuk membebaskan kita dari belenggu-belenggu dosa yang pernah, sedang, bahkan yang akan kita lakukan. Itulah yang dimaksudkan dengan Yesus sudah mati untuk menebus dosa-dosa kita, agar kita mempunyai hidup!
Mungkin berkali-kali sebelumnya kita berusaha untuk memahami arti pengorbanan Yesus di kayu salib 2000 tahun yang lalu, tetapi selalu gagal untuk memahami maknanya, karena kita tidak bisa melihat sangkut-paut pengorbanan tersebut dengan masa sekarang! Rasul Paulus menjelaskannya dengan indah sekali kepada jemaat di Roma: Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8) Inilah yang dimaksudkan dengan keajaiban kasih karunia Tuhan: kita menerima KASIH, pada saat kita tidak berhak untuk mendapatkannya!
Pengorbanan Yesus di bukit Golgota baru tampak jelas, dan menjadi relevan, ketika Ia membuka mata hati nurani kita dari dalam. Pada saat Ia menyatakan diri-Nya secara pribadi kepada kita, makna pengorbanan-Nya di kayu salib menjadi nyata, seperti yang dicatat oleh rasul Yohanes: Dan kamu tahu, bahwa Ia sudah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. (1 Yohanes 3:5)
Melalui pengorbanan-Nya, Yesus mengutarakan kepada umat yang mau menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, bahwa segenap dosa kita telah ditanggung oleh-Nya di kayu salib 2000 tahun yang lalu, sekali dan untuk selama-lamanya!
Itulah yang dimaksudkan oleh Injil, ketika Yesus menyerukan kata-kata memilukan ini: Eloi, Eloi, lama sabakhtani? - Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Markus 15:34), yang menggambarkan pada saat itu terputusnya hubungan Yesus dengan Allah Bapa untuk menggantikan kedudukan kita. Dan ucapan terakhir di atas kayu salib: Sudah selesai. (Yohanes 19:30), yang berarti, bahwa makna dan tujuan hidup-Nya di dunia, yaitu untuk menyelamatkan umat manusia dari segala dosa mereka dan konsekuensi-konsekuensinya, yaitu maut, sudah diambil alih oleh Dia sekali dan untuk selama-lamanya!
Dengan kata lain, pengorbanan-Nya untuk segenap umat manusia pada saat itu sudah rampung! Tidak ada seorangpun setelah itu yang mempunyai hak untuk mengatakan, bahwa mereka akan atau harus meneruskan tugas Yesus untuk menggenapi rencana Allah bagi keselamatan hidup manusia, karena Ia gagal menyelesaikannya! Yesus sudah menggenapi seluruhnya, bahkan Ia memproklamirkannya sendiri di depan umum pada saat kematian-Nya!
Selain itu, ucapan terakhir Tuhan Yesus tersebut juga meneguhkan, bahwa semenjak pengorbanan-Nya di kayu salib berakhir, Ia tidak ingin melihat umat-Nya menderita lagi, karena Ia sudah menanggung seluruhnya, yaitu semua penderitaan mengerikan akibat dosa-dosa kita!
Tuhan Yesus bisa menghayati perasaan-perasaan kita, karena Ia pernah mengalaminya sendiri. Ia pernah hidup di tengah-tengah umat ciptaan-Nya, sebagai manusia sepenuhnya, hanya tanpa dosa. Kitab Ibrani mencatat: Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. (Ibrani 2:18)
Lagipula kebenaran janji Tuhan tidak pernah berubah, karena firman-Nya berkata: Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (Ibrani 13:8)
Percayakah Anda, bahwa kebenaran KASIH yang telah membebaskan umat manusia 2000 tahun yang lalu, masih tetap berlaku sampai sekarang? Perhatikanlah pengikut-pengikut Kristus di sekeliling Anda, mereka yang sedang mempraktekkan kasih (Kristus) sekarang, karena mereka adalah saksi-saksi-Nya yang hidup di akhir zaman. Haleluya!
Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. (1 Korintus 3:3)
EPILOKASIH
Sebab: Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia? Tetapi kami memiliki pikiran Kristus. (1 Korintus 2:16)
Kekosongan hidup yang dilukiskan oleh rock group Foreigner di dalam lagu I Want to Know What Love is mengemukakan kerinduan hati setiap orang untuk mengetahui makna dan tujuan hidup mereka di dunia. Mencapai standar-standar yang ditentukan oleh masyarakat umum tidak akan pernah bisa memenuhi kehampaan hidup yang mereka derita.
Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, harta kekayaan yang berkelimpahan, kemasyhuran nama, penampilan yang sempurna, keberhasilan karir pekerjaan, persahabatan yang sejati, perkawinan yang berbahagia, kemakmuran dan kesejahteraan hidup berkeluarga, kekuasaan dan pengaruh di dalam masyarakat, melakukan tindakan amal, dan lain sebagainya, hanya mampu untuk memuaskan ruang kehidupan manusia yang pertama secara sementara.
Tetapi ruang kehidupan yang kedua akan terus mendambakan makanan atau minuman pokok rohani yang ditawarkan dari sorga. Tuhan Yesus Kristus mengibaratkan diri-Nya sendiri sebagai Roti (Nasi) Hidup - bagi setiap orang yang selalu merasa lapar, atau Air Hidup - bagi mereka yang selalu merasa haus, karena Ia-lah satu-satunya KASIH agape yang mampu memuaskan kebutuhan mereka untuk selama-lamanya.
Yesus adalah JALAN kehidupan yang menghubungkan diri kita kepada Allah Bapa di sorga. Hanya Dia yang dapat memberi kepuasan kepada setiap orang yang sedang menelusuri makna dan tujuan hidup mereka di dunia. Melalui persekutuan yang intim dengan Bapa, asal-usul kita, tindakan-tindakan yang harus kita lakukan di dunia, dan akhirnya ke mana kita akan pergi bukan merupakan suatu teka-teki hidup yang tak terpecahkan lagi!
Yesus adalah KEBENARAN hidup yang bukan hanya membenarkan diri kita di hadapan Allah Bapa saja, tetapi juga memberi kemampuan pada kita untuk memahami isi firman Tuhan. Catatan-catatan bersejarah di dalam Injil mengenai kelahiran, kehidupan, pelayanan, penyaliban, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, bahkan kedatangan-Nya kembali ke dunia untuk kedua kalinya, menjadi suatu pengertian yang amat nyata bagi mereka yang mengasihi-Nya! Karena Ia sendiri yang akan menjamin seluruh kebenaran tersebut!
Yesus adalah HIDUP yang dapat membebaskan kita dari belenggu-belenggu dosa yang pernah, sedang, dan akan kita lakukan. Ia juga membebaskan umat-Nya dari rasa menyesal, rasa bersalah, kecanduan, hasrat untuk melakukan dosa-dosa yang sama, bahkan rasa takut akan konsekuensi-konsekuensinya. Ia tidak ingin melihat kita tertekan oleh beban-beban tersebut lagi, sebab Ia sudah menanggung semuanya untuk kita di kayu salib, sekali dan untuk selama-lamanya! Rasul Yohanes mengatakan: Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. (Yohanes 8:36)
Karena inti seluruh kebenaran KASIH agape yang ditawarkan oleh Injil Tuhan Yesus Kristus kepada mereka yang merindukannya, disimpulkan di dalam sebuah ayat sederhana yang mempunyai arti luar biasa: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)
Keinginan Allah Bapa bagi umat-Nya adalah kekudusan yang mutlak, yang hanya dapat dipenuhi syaratnya melalui kehadiran Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, di dalam hidup mereka. Karena Ia rindu untuk selalu bersekutu dengan kita (gereja-Nya), laksana persekutuan dua insan yang sedang dimabuk cinta, setia dan saling mengasihi dengan kasih yang murni. Suatu persekutuan yang begitu intim, sehingga tidak memungkinkan menyusupnya pihak ketiga di dalamnya.
Kasih Bapa sudah dibuktikan melalui pengorbanan dan penderitaan Anak-Nya di kayu salib bagi keselamatan hidup kita. Yesus bersedia menjalani semuanya dengan sukarela, karena Ia sangat mengasihi Anda dan saya! Terbukti dari segala usaha yang sudah direncanakan dan dilakukan oleh-Nya semenjak dahulu kala untuk memprakarsai pemulihan hubungan akrab dengan umat-Nya yang telah terhalang, oleh karena perbuatan dosa Adam dan Hawa. Nabi Yesaya menyampaikan pesan kasih TUHAN kepada bangsa Israel untuk meneguhkan janji, yang sudah diberikan melalui Yakub: Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. (Yesaya 43:1b)
Imbalan dari kita yang diharapkan oleh-Nya hanya ... percaya dan mengaku, bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita (Roma 10:9-10). Kita harus mengundang Dia untuk masuk ke dalam hidup kita, menjadikan Dia pusat kehidupan, serta penolong di dalam setiap langkah yang akan kita lakukan. Oleh karena kepribadian Roh Kudus yang amat lembut dan penuh KASIH, Ia tidak akan mengharuskan kita untuk menerima tawaran-Nya tersebut. Mau ataupun tidak, keputusan yang terakhir selalu berada di tangan Anda dan saya!
Kehadiran KASIH di dalam hidup setiap orang pasti akan mentransformasi pribadi mereka. Secara supranatural Ia akan mengarahkan fokus hidup kita kepada hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan-kebiasaan yang selalu kita lakukan sebelumnya.
Menyadari kehadiran KASIH di dalam hati kita, adalah bagaikan harapan yang diutarakan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Efesus: Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. (Efesus 3:18-19)
Sedikit demi sedikit kita diubahkan oleh-Nya menjadi orang-orang yang selalu kita inginkan, yang mengetahui makna dan tujuan hidup kita, merasa puas dengan segala yang tersedia, bersyukur dan menyadari karunia-karunia yang kita miliki. Bahkan yang terpenting, kita akan menjadi berkat bagi mereka yang memerlukannya! Pada saat kita merasa lemah, Ia akan menguatkan diri kita. Pada saat hati kita merasa bimbang, Ia-lah Pendorong dan Penghibur kita. Pada saat kita merasa gagal dan tidak layak sama sekali, Ia akan mengingatkan, bahwa kita adalah biji-biji mata-Nya yang paling berharga!
Dengan bantuan Roh Kudus, kita dapat melihat penyebab-penyebab kehampaan hidup yang pernah kita alami sebelumnya, atau yang sedang dialami oleh orang-orang lain. KASIH-Nya (bukan kasih kita) yang akan memampukan segalanya. Karena kehendak Allah Bapa di sorga adalah, untuk melihat diri kita diubahkan selalu, dan akhirnya ... menjadi sama seperti Anak-Nya, kudus dan tidak bercela di hadapan hadirat-Nya! Itulah sebenarnya makna dan tujuan utama hidup segenap umat manusia!
Jawaban bagi orang-orang yang sedang mencari atau mempertanyakan makna dan tujuan hidup mereka, seperti yang sudah diutarakan oleh rock group Foreigner di dalam syair lagu: I Want to Know What Love is, adalah syair dari sebuah lagu kristiani terkenal karya Andrae Crouch: Jesus is THE ANSWER (Yesus-lah JAWABANNYA)! Karena Yesus, Nama di atas segala nama, sanggup menjawab semua pertanyaan yang ada, dan akan memecahkan segenap teka-teki hidup manusia di dunia, bagi mereka yang mempunyai hasrat untuk menelusurinya.
Jesus is THE ANSWER, for the world today (Yesus-lah JAWABANNYA, bagi keadaan dunia masakini)
Above Him theres no other, Jesus is THE WAY (Di atas Dia tidak ada yang lain, Yesus-lah JALANNYA)
Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. (Yohanes 14:20)
Jika Anda merasa tertarik pada artikel Kasih: I Want to Know What Love is, dan oleh karena itu, bersedia mengorbankan waktu Anda untuk mengikutinya dengan penuh kesabaran sampai bab yang terakhir ini, lalu merasa, bahwa beberapa di antara tema-tema yang saya uraikan di atas bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup yang sedang membebani diri Anda, saya yakin hal itu bukan kebetulan.
Apabila Anda membaca ayat ini: Jawab Yesus: Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini? (Yohanes 11:25-26), dan ... Anda menjawab: PERCAYA!, maka Anda telah menerima kebenaran yang ditawarkan oleh firman Tuhan. Ingatlah akan uraian sebelumnya, bahwa kebenaran kristiani adalah kebenaran umum, dan kebenaran firman Tuhan tidak bisa diterima hanya sebagian kecil saja, melainkan harus diterima keseluruhannya.
Perhatikanlah poin-poin yang terdaftar di bawah ini. Kendatipun tidak lengkap mewakili semua perubahan yang akan terjadi di dalam hidup setiap orang yang mengenal Dia secara intim, perhatikanlah, apakah ada beberapa di antaranya yang bisa merangsang hasrat Anda untuk menemui KASIH secara pribadi?
Jika Anda memiliki DIA (KASIH) di dalam hidup Anda:
  • Anda akan merasa gentar terhadap Tuhan dan kedahsyatan Nama-Nya yang penuh kuasa
  • Anda akan mengasihi Dia melebihi segala-galanya, baik orang-orang yang Anda kenal maupun harta yang Anda miliki
  • Anda akan menjadi haus untuk mengetahui lebih lanjut makna dan tujuan hidup Anda, dengan terus mempelajari firman-Nya yang hidup, bersama dengan Dia
  • Anda akan selalu berdialog dengan Tuhan melalui doa, mengungkapkan isi hati Anda, dan kemudian sabar menantikan jawaban-Nya
  • Anda akan menyadari, bahwa segala penderitaan dan pengorbanan Yesus di kayu salib, dilalui khusus untuk menyelamatkan diri Anda
  • Anda akan berhenti berbuat dosa
  • Anda akan membenci dosa, dan bukan para pelakunya
  • Anda akan menghormati orang tua dan mengasihi keluarga Anda, lebih dari sebelumnya
  • Anda akan merasa yakin, bahwa Ia selalu menyertai, menghibur dan menjaga Anda, bahkan mengirimkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi diri Anda
  • Anda akan selalu rindu untuk memuji dan menyembah Dia melalui dendang lagu-lagu yang mendadak muncul dari dalam hati Anda
  • Anda akan selalu bersyukur kepada-Nya di dalam segala perkara
  • Anda akan memuja Tuhan, oleh karena kedahsyatan ciptaan-Nya, dan bukan kebalikannya
  • Anda akan mempunyai kerinduan yang besar untuk melihat orang-orang lain di sekitar Anda juga diselamatkan
  • Anda akan menyadari, bahwa semua yang Anda miliki adalah milik Tuhan
  • Anda akan ikut bekerja di ladang-Nya dengan sukarela, dan bukan untuk mencari keuntungan
  • Anda akan menyadari, bahwa Tuhan-lah yang mempromosikan diri Anda, itu bukan usaha manusia, atau usaha Anda sendiri
  • Anda akan selalu bersedia untuk mendukung pekerjaan gereja Tuhan, moril maupun materiil, tanpa ragu-ragu atau merasa sayang untuk melakukannya
  • Anda akan memberkati sesama manusia secara tersembunyi, karena merasa takut, bahwa Anda akan mencuri kemuliaan-Nya
  • Anda akan menyadari, bahwa segala perbuatan baik Anda bukan untuk dikagumi manusia
  • Anda akan menghargai dan menghormati authority, meskipun tindakan-tindakan mereka menurut Anda keliru
  • Anda akan mengasihi saudara-saudara seiman Anda yang mengasihi Kristus, meskipun mereka berasal dari denominasi yang lain
  • Anda akan mengakui, bahwa kekurangan-kekurangan saudara-saudara seiman kita tidak berbeda jauh dengan kekurangan-kekurangan Anda sendiri
  • Anda akan menyetujui, bahwa hanya Tuhan Yesus Kristus saja yang sempurna!
Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, perubahan-perubahan hidup di dalam KASIH selalu terjadi secara bertahap, tergantung pada kedewasaan iman kita. Jika Anda merasa, bahwa salah satu (atau beberapa) dari poin-poin yang terdaftar di atas sudah terjadi setelah Anda menerima Dia sebagai Juruselamat Anda, itulah tanda mula-mula kehidupan di dalam KASIH yang sangat mengesankan dan relevan sekali dengan keadaan dunia masakini, karena Anda sedang dipersiapkan oleh Tuhan untuk menghadapinya. Ingatlah selalu, hanya KASIH-Nya (bukan kasih kita) yang memampukan diri Anda dan saya.
Apabila Anda mempunyai DIA (KASIH), semua peristiwa dan kejadian-kejadian yang menguasai media dunia dewasa ini tidak akan menyebabkan hati Anda merasa resah! Peperangan antar suku/bangsa, kekejaman terorisme yang semakin menggila, bencana-bencana alam dahsyat yang mengerikan, tindakan-tindakan kriminil yang membabi-buta, timbulnya berbagai-macam penyakit-penyakit baru di dunia yang mengherankan, penyembahan-penyembahan berhala (mencintai diri sendiri, uang, kekayaan, materialisme), sikap yang suka memberontak terhadap authority - terutama terhadap Tuhan, toleransi akan perbuatan-perbuatan dosa yang sudah direstui oleh masyarakat, dan lain sebagainya, peristiwa-peristiwa seperti itu tidak akan membuat hati Anda merasa takut atau gelisah!
Karena Anda tahu dengan pasti, bahwa DIA (KASIH) yang berdiam di dalam diri Anda, berkuasa di atas segala-galanya. Bahkan Anda bisa memahami masalah-masalah tersebut sebagai sebagian kecil saja dari pelbagai tanda akhir zaman yang harus terjadi. Ia akan menjelaskannya secara pribadi kepada Anda, membuka mata hati nurani Anda, karena semua itu sudah dinubuatkan oleh Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu, dengan detil sekali.
Jawab Yesus kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah, jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru. Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, ... . (Matius 24:4-9)
Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. (Yohanes 16:2)
Jika Anda mempunyai hasrat untuk hidup selama-lamanya di dalam kasih Tuhan, mengetahui dengan pasti makna dan tujuan hidup Anda, maka Anda harus membuka pintu hati, mengundang dan menerima Dia yang sedari awalnya telah memprakarsai pemulihan hubungan intim dengan diri Anda. Ketahuilah, bahwa pada saat Anda merasa tertarik untuk mengikuti kesudahan ulasan artikel: Kasih: I Want to Know What Love is ini, Yesus sedang berdiri di depan pintu hati nurani Anda, dan ... Ia sedang mengetuknya! (Wahyu 3:20)
Apabila Anda mempunyai keinginan untuk hidup di dalam kasih karunia Tuhan yang dipenuhi oleh sukacita, hidup mengesankan yang sangat relevan dengan keadaan dunia masakini, ucapkanlah dari lubuk hati Anda yang terdalam doa di bawah ini:
Bapa di sorga, aku mengakui, bahwa aku orang berdosa. Ampunilah aku dari segala dosa-dosaku. Aku percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan Ia sudah membayar lunas semua dosaku melalui curahan darah-Nya di kayu salib. Saat ini aku memanggil nama Yesus untuk keselamatanku. Dengan iman aku percaya, bahwa aku sudah menerima karunia hidup-Nya, Yesus berada di dalam hidupku, dan dosa-dosaku telah Kau ampuni. Aku percaya, bahwa sekarang aku sudah menjadi pengikut Kristus. Dan setelah kematianku, aku akan hidup bersama Dia untuk selama-lamanya. Terima kasih Bapa atas keselamatan yang telah Engkau karuniakan kepadaku. Di dalam nama Yesus Kristus, Juruselamatku. Amin!
Jika Anda mengucapkan doa tersebut dari dalam lubuk hati Anda, maka Anda baru saja Lahir Baru. (Yohanes 3:3-8) Bersyukurlah, karena sekarang KASIH sudah bersemayan di dalam hidup Anda. Oleh karena itu, secara bertahap Anda akan menyaksikan sendiri perubahan-perubahan yang drastis pada gaya hidup Anda!
Selamat datang di dalam keluarga Kerajaan Allah! Marilah mulai sekarang kita bersama-sama ikut mengambil bagian di dalam pertumbuhan tubuh Kristus di akhir zaman, setia melayani di ladang-Nya sesuai panggilan hidup kita, rajin bersekutu dengan umat Tuhan yang lain, dan menjaga kekudusan hidup masing-masing sambil terus bersiap-siap, menantikan saat kedatangan untuk kedua kalinya Tuhan dan Raja kita, Yesus Kristus, Hakim Yang Maha-adil!
Datanglah segera, ya Tuhan Yesus! (Wahyu 22:20)
Haleluya, sebab Dia hidup! Saya berani mengatakannya, karena saya baru saja bertemu dan bercakap-cakap dengan Dia, ke-KASIH jiwa saya!
Amin!

Kasihilah Musuhmu

Oleh: Imelda Seloadji
Dia mendapat cuti sampai empat bulan. Tiga bulan cuti melahirkan, satu bulan cuti liburan. Dia suka datang terlambat, dan di jam kerja kadang-kadang menghilang untuk berenang di club atau minum kopi. Dia membuat anak buahnya menangis karena tertekan. Dia dinilai tidak punya kemampuan oleh koleganya. Masih banyak lagi alasan untuk tidak menyukai orang ini.
Saya yakin kita semua pernah menghadapi orang yang tidak menyenangkan di sekeliling kita. Mungkin sebagian Anda adalah orang yang cuek, sehingga pemandangan tidak menyenangkan bisa tidak Anda gubris, yang penting Anda pribadi tidak diganggu. Anda mungkin tipe orang yang bisa tersenyum ke semua orang meski hati Anda sedang jengkel. Saya bukanlah orang yang seperti itu. Seorang yang tiga kali mengikuti test DISC dan hasilnya selalu sama: dominan dan cermat mentok, alias choleric-melancholic sejati. Saya tidak bisa tenang kalau orang diperlakukan tidak adil. Saya tidak bisa cuek habis jika orang mengakui pekerjaan saya sebagai prestasinya dan berkata kepada rekan dan diri sendiri: "yang penting tanggal 25 gue kagak diganggu..". Saya tidak nyaman jika orang yang tidak kompeten menempati posisi penting. Yang telah terjadi pada diri saya, saya tidak bisa tidur dua malam karena hal itu. Saya orang yang apa adanya, wajah saya merefleksikan suasana hati saya. Sulit bagi saya memberi senyum yang tulus pada orang yang saya tidak sukai, tapi saya orang yang berani mengambil resiko demi mereka yang saya sebut sahabat. Itulah diri saya. Saya bukan Bunda Theresa. Hanya, betapapun saya berusaha mencari pembenaran, kalimat pendek Firman Tuhan ini tidak pernah ada tapinya. "Kasihilah musuhmu." Di suatu malam saya berdebat dengan Tuhan: "tapi bukankah Yesus pernah mengatakan bahwa Herodes adalah serigala setelah ia memenggal saudara sepupu-Nya Yohanes Pembaptis? Yesus saja bisa emosi" Well, saya berusaha menarik Dia ke tempat saya, Dia perlu merasakan apa yang saya rasakan.
Kasihilah musuhmu. Kasih itu perintah, bukan perasaan, kata Pak Eddy Leo. Kalau saya menyebut diri saya Kristen, ini adalah identitas saya. Saya menjerit dalam hati, Tuhan sungguh saya tidak mampu. Namun sungguh satu hal saya tahu, Dia mengasihi saya. Dia tahu semua pergumulan hati saya, sakit hati saya. Dia Allah yang peduli. Dia tidak memberi perintah tanpa memberi saya kemampuan dari Dia untuk melakukannya. Namanya saja musuh, bagaimana mengasihi? Tapi Dia ada untuk memampukan saya. Saudaraku, musuh Anda tidak peduli dan tidak merasakan kemarahan di dalam hati Anda. Anda rugi sendiri jika menyimpan kekesalan dan dendam. Datanglah kepada Yesus dan letakkan beban pergumulan Anda. Dia ada untuk menjadi pendengar Anda yang baik dan Dia adalah sahabat yang sejati. He is really "A shoulder to cry on.".
Kasih itu perintah, bukan perasaan. Saya suka pernyataan itu. Saya harus berjuang. Tapi saya tahu saya tidak sendiri. Ada Immanuel yang bersama saya. Dia adalah Kasih, dan kalau Dia di dalam saya, saya pasti bisa mengasihi. Juga Anda yang mungkin membaca sharing singkat ini yang mau berdoa bersama saya. Jika Anda memiliki luka, kekecewaan, sakit hati, kemarahan, atau dendam, saya juga mau berdoa untuk Anda. Jika Anda tidak mampu mengatasi sendiri sakit hati Anda, tetaplah berdoa, baca Firman, dan berbagilah dengan saudara seiman yang dapat Anda percaya. Bukan untuk gosip, tapi untuk menopang Anda. Jangan berusaha menutupi keadaan Anda supaya Anda terlihat baik. Jangan menyimpan ranjau dalam diri Anda yang akan meledak di kemudian hari. Kasihilah musuhmu. YA! BISA! BERJUANG!!!!! Tuhan memberkati.

Kata-kata yang Ramah

Bacaan : Efesus 4:29-32
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun (Efesus 4:29) Salah satu kehormatan paling besar yang pernah ditawarkan kepada saya datang di tengah salah satu peristiwa hidup yang paling menyedihkan.

Tahun lalu hati saya hancur ketika teman baik dan rekan sekerja saya, Kurt De Haan, meninggal secara tiba-tiba saat ia sedang keluar untuk lari-lari pada jam makan siang seperti biasanya. Kurt adalah redaktur pelaksana Our Daily Bread sejak tahun 1989 sampai ia meninggal. Kepergiannya merupakan pukulan hebat bagi kami masing-masing di RBC Ministries. Namun, Mary istrinya dan keempat anak mereka mengalami duka yang jauh lebih dalam.
Beberapa hari sebelum pemakaman, Mary menelepon dan meminta saya untuk menyampaikan pidato tentang Kurt. Saya terharu mendapat hak istimewa ini.
Ketika saya merenungkan kehidupan Kurt, ada salah satu sifat yang terus-menerus muncul ke permukaan. Sifat itu merupakan karakteristik yang luar biasa, dan itu menjadi inti dari kata-kata penghormatan saya bagi almarhum. Selama 22 tahun saya mengenal, bekerja bersama, dan bercakap-cakap dengannya, saya tidak pernah sekalipun mendengar Kurt mengatakan sesuatu yang negatif tentang orang lain.
Benar-benar warisan luar biasa dari hati seorang kristiani yang sejati! Kurt telah hidup sesuai dengan standar Efesus 4:29-32. Ia selalu berusaha untuk membangun orang lain, dengan menunjukkan keramahan serta kasih mesra, bukannya kepahitan atau kejahatan.
Apakah orang lain juga akan dapat mengatakan hal yang sama tentang kita? --Dave Branon
PERKATAAN YANG RAMAH MENJADI MINYAK PELUMAS YANG MENGHILANGKAN GESEKAN DARI KEHIDUPAN

Kebahagiaan Ilahi

Oleh: Sunanto
Biasanya pada masa-masa awal hidup Kekristenan kita, Tuhan akan berinisiatif menyediakan berkat-berkatNya bagi kita sehingga kita berjalan lebih dengan pancaindera kita daripada dengan iman kita.Saya masih ingat pada tahun-tahun awal setelah bertobat sepertinya Tuhan menjawab doa-doa saya tanpa perlu banyak pergumulan.Saya berdoa minta komputer, beberapa hari kemudian sudah ada komputer di kamar saya.Saya berdoa minta pekerjaan yang terbaik sehabis lulus dari kuliah, Tuhan menjawabnya dengan memberikan pekerjaan yang baik, bahkan dengan pendapatan di atas rata-rata.
Hal yang sangat wajar bila seorang bayi disediakan semua kebutuhannya oleh orang tuanya. Mau makan disuapi, mau mandi dimandikan, mau jalan-jalan digendong.Tetapi bila bayi itu mulai bertumbuh menjadi remaja maka ia harus belajar untuk menjadi mandiri.Demikian juga cara Tuhan dalam melatih kita, Dia memperlakukan kita sesuai tingkat pertumbuhan rohani kita.
Saya pernah bertanya kepada Tuhan mengapa banyak sekali orang Kristen yang sepertinya hidupnya tidak pernah mengalami krisis.Mengapa saya harus mengalami krisis dan belajar hidup dalam iman, sementara banyak orang Kristen yang lain sepertinya tidak pernah mengalaminya ? Ternyata hal itu karena mereka memang tidak mengalami pertumbuhan rohani sehingga belum siap untuk dilatih hidup dalam iman oleh Tuhan.Jika ada orang Kristen yang tidak pernah dilatih Tuhan untuk hidup dalam iman maka itu artinya dia tidak mengalami pertumbuhan rohani yang berarti.Sebuah fakta yang sangat menyedihkan sebagian besar orang Kristen yang ada saat ini masihlah menjadi bayi-bayi rohani meskipun mereka sudah bertobat belasan bahkan puluhan tahun.Gereja dipenuhi oleh orang-orang Kristen duniawi yang lebih memfokuskan diri mereka mengejar berkat dan kenikmatan dari dunia ini daripada mengejar kebahagiaan ilahi.Seperti kata Billy Graham, dunia Kekristenan modern membutuhkan sekali lagi sebuah kebangunan rohani untuk mengubah keadaan ini.
Dalam perjalanan rohani menuju kedewasaan, Tuhan akan mengijinkan sebuah masa kegelapan menaungi hidup kita supaya kita belajar untuk membedakan hidup dalam naungan berkat Allah dan hidup dalam kebahagiaan ilahi. Melalui masa yang gelap tersebut, Tuhan sedang memindahkan jiwa kita dari daerah agamawi yang masih terpengaruh emosi ke daerah iman. Tujuan Tuhan mengijinkan krisis penyempurnaan itu adalah agar kita belajar untuk mengantungkan kebahagiaan kita hanya pada Dia bukan pada dunia ini.Setelah proses pengujian itu selesai kita akan mengalami bahwa hanya Tuhan satu-satunya pribadi yang dapat memuaskan dan membahagiakan jiwa kita. Kita akan mengalami kebahagiaan ilahi sehingga semua kenikmatan yang dapat dunia ini berikan bagaikan sampah jika dibandingkan dengan kenikmatan yang dapat kita peroleh dari hadiratNya. Oh, alangkah bahagianya hidup yang dilingkupi oleh hadiratNya !

Kecewa

Oleh: Herwin
Apakah saudara setuju dengan pernyataan ini, bahwa apa yang kita inginkan, bila tidak menjadi kenyataan akan mendatangkan kekecewaan? Ini merupakan keadaan yang sering kali kita alami, bukan? Kenapa ini selalu terjadi? Ya karena kita tidak sempurna sehingga Yeremia 10: 23 sangat tepat diterapkan untuk kita manusia yang berdosa ini, karena di sana dikatakan "Manusia tidak berkuasa menetapkan langkahnya". Dan dampaknya bagi kita, Amsal 13: 12 mengatakan bahwa "harapan yang tertunda menyedihkan hati."
Marilah Sekarang Kita Melihatnya dalam Kasus Anak Muda
Mungkin kita sudah menetapkan ingin menikah hanya dengan yang seiman, akan tetapi ternyata, orang yang mendekati kita bukan orang yang seiman. Atau mungkin kita sudah merasa cocok dengan sifat-sifat orang yang kita kasihi, satu iman pula. Akan tetapi ternyata orang itu lebih mengasihi orang lain daripada kita. Yang lebih ironis, kalau ternyata orang yang kita kasihi itu memperlakukan kita dengan cara yang tidak pengasih.
Maka Perasaan Apa yang Bisa Muncul dalam Diri Kita?
Mazmur 73: 12-13 dikatakan "Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah." (kita bisa seperti ini bukan? Merasa bahwa upaya kita selama ini untuk terus berjalan di jalan Allah sia-sia? Karena apa yang kita inginkan ternyata tidak terlaksana, sedangkan orang-orang lain selalu berhasil)
Akan tetapi menarik sekali, kalau kita membaca di ayat 16 dari pasal ini dikatakan, "Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku." (LAI) Di beberapa terjemahan istilah yang digunakan "I thought" (berfikir) seperti di:
(English Standard Version) 16) "But when I thought how to understand this, it seemed to me a wearisome task."
(New King James Version) 16) "When I thought how to understand this, It was too painful for me."
(Darby Translation) 16) "When I thought to be able to know this, it was a grievous task in mine eyes."
Yang dimaksud di ayat ini bukan hanya sekedar berpikir dalam arti menghayal, lamunan atau berupa penyesalan, akan tetapi ini merupakan pemikiran yang dalam dengan akal sehat dan renungan, sehingga kalau kita membaca pada ayat-ayat selanjutnya, raja Asaf dapat mengambil kesimpulan yang benar, bahwa orang-orang yang tadinya dibayangkan bahagia itu sebenarnya berada dalam suatu posisi yang sangat riskan dan berbahaya.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Dalam kasus anak muda, sering kali kalau dalam kondisi kasih tak sampai atau diperlakukan kurang baik dari sang kekasih akan membuat, rasanya menjadi hidup segan mati tak mau, bukan? Akan tetapi, ada satu syair lagu yang menarik bagi kaum muda dalam kondisi ini. Dari antara kata-katanya ada tersirat bagaimana perasaannya yang hancur, rasa takut ditinggalkan yang sangat besar sehingga ia menggunakan istilah petrified bukan terified. Akan tetapi ada yang menarik dari kata-kata syair itu, karena ia sama seperti raja Asaf, misalnya ia mengatakan :
I spent so many night, just thinking how you have done me wrong. (Kata memikirkan ini bukan berarti hanya suatu lamunan, khayalan yang disertai oleh tangisan bombay, akan tetapi ini berupa pemikiran yang dalam, menggunakan akal sehat, renungan dan penganalisaan) sehingga ia dapat menyimpulkan seperti dalam kata-kata syair selanjutnya
I am stronger, get along (ia menjadi lebih kuat dan dapat melewati masa sulit itu) Bahkan selanjutnya ia dapat mengatakan
"I used to cry, but now I can ...... my head high" (sehingga, ketika sang kekasih ingin mendekatinya kembali, ia memiliki keberanian untuk angkat kepala, dengan lain perkataan ia sudah sanggup untuk mengatakan "Siapa kau"; "Mau apa kau". Yang dulu tidak dapat dilakukannya) Bahkan ia juga dapat mengatakan :
I"m not a stupid little person, that still in love with you. You are not welcome any more. I will survive .... I will survive.
Apakah Ini Mungkin?
Ya, kalau kita mau merubah cara berpikir kita. Karena banyak orang yang mengatakan bahwa cinta itu buta, sehingga sulit bagi kita untuk mengatasi perasaan-perasaan itu. Maka, mari kita lihat di 1 Korintus 16: 13 dikatakan "Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!" Nah, kenapa ayat ini mengatakan untuk bersikap sebagai laki-laki bukan perempuan? Karena perempuan sering kali menggunakan perasaan sedangkan laki-laki menggunakan logika, sedangkan dalam keadaan jatuh cinta perasaanlah yang kacau, sehingga apapun yang dilakukan sang kekasih selalu benar saja dalam pandangan kita. Jadi kalau kita menggunakan akal sehat tentu kita dapat mengatasinya. Sebagai contoh saja. Apakah diantara teman-teman yang membaca artikel ini pernah dikecewakan oleh seseorang yang kita kasihi? Pasti pernah bukan? Coba renungkan, kenapa sekarang kita bisa mengatasinya, apakah kalau kita terus hanya berpegang pada perasaan, kita bisa mengatasinya? Bukankah, karena kita sadar bahwa hidup ini harus dilalui dan tangisan dan keputusasaan tidak akan dapat mengatasinya?
Jadi teman-teman kaum muda, kenyataan apapun yang kita alami, janganlah mundur, akan tetapi teruslah pakai akal sehat, pelajarilah Alkitab dan renungkanlah dan praktikkan. Maka pada akhirnya kita juga akan dapat mengatakan, "I will survive!!!!!"

Kehendak Tuhan atau Diizinkan Tuhan?

Saya baru pulang dari Gereja dan dapat kirim ceritra ini dan yang mau menafsirkannya? Salam tafsir-tafsiran 8-)) BJ Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya.

Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya., maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah,hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.
Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus.
Pada suatu hari, sang penjaga pintu berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.
Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun." Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.
Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.
Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh.Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.
Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak berbicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi.
Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.
Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara.
Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.
Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana." Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?" "Kamu itu tahu apa?", kata Yesus.
"Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut."
Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu
terkandung sebuah rahasia kehidupan...
Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.
Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.
Sebab kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita. ( Roma 8:28)

Kepedulian

Oleh: Yon Maryono
Ada dua narasi Alkitab tentang perilaku orang kaya terhadap sesamanya. Pertama, Lukas 16:19-31 yang melukiskan tingkah-laku orang kaya dengan gaya hidup yang ditandai oleh suasana pesta pora dan kemewahan setiap hari. Sementara di pintu gerbang rumahnya duduk seorang pengemis yang sangat miskin dan kelaparan bernama Lazarus. Lazarus hanya makan dari sisa-sisa roti yang dibuang di lantai. sebagai alat pembersih tangan bagi para tamu setelah acara pesta selesai. Apa orang kaya itu tidak pernah melihat dan mengenal Lazarus? Ia melihat dan mengenalnya, karena selalu duduk di depan rumahnya. Tetapi ia telah mengeraskan hatinya. Pesan utama dari kisah perumpamaan Tuhan Yesus ini, sebenarnya bukan menyalahkan seseorang sukses dan menjadi kaya. Sebab para bapa leluhur Israel juga merupakan orang-orang kaya seperti Abraham, Ishak, dan Yakub. Tetapi yang menjadi persoalan utama dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut adalah bagaimana seseorang menyikapi kekayaannya; dan bagaimana pula seseorang memperlakukan sesamanya yang sedang menderita.
Kedua, Markus: 10:17-31, ketika Yesus dalam hikmat-Nya memberikan ujian, yang memaksa pemuda kaya untuk memilih antara kekayaan dunia dan kekayaan sorgawi. "Juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (Markus 10: 21). Ternyata pemuda itu gagal menghadapi kemelut ini, membalikkan punggungnya dari Sang Guru, dan pergi dengan sedih. Pemimpin muda yang kaya ini sudah mendekati kerajaan, tetapi gagal memasukinya, karena dia tidak menempatkan Allah sebagai yang terutama, walupun harus menyerahkan harta benda yang mahal harganya. Pesan yang hendak disampaikan dalam ayat ini adalah: manusia diharapkan tidak diperhamba harta atau kekayaannya. Manusia seharusnya menghindarkan diri dari ketamakan dalam mencari harta dunia, tapi secara lebih serius harus lebih mementingkan pencarian harta sorgawi.
Firman Tuhan adalah pedang bermata dua. Saudaraku, mungkin ada orang Kristen yang mengaku "percaya" pada Yesus Kristus, menerima ajaran-Nya, penyembahan dan pujian di gereja, budaya spiritual, kelimpahan berkat dan urapan. Tetapi saudaraku, begitu bicara wawasan hidup sesuai ajaran Yesus Kristus yang meletakkan semua isu duniawi di dalam konteks kekekalan, "Juallah hartamu untuk orang miskin atau bantulah orang menderita" yakni perlakuan kasih kepada sesama sesuai ajaran Yesus... ya, saudaraku, mereka mengacuhkannya atau menolaknya. Pada saat ada bencana di mana-mana, kita melihat tayangannya, melihat penderitaanya, hati kita tersentuh. Cukupkah? Tuhan berfirman: "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi sedang yang diminta ada padamu." (Amsal 3:28)
Winston Churchill merumuskan ajaran tersebut dengan pernyataan: "We make a living by what we get, but we make a life by what we give." Kita hidup dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita menciptakan kehidupan dengan apa yang kita berikan (kepada orang lain).
Tuhan memberkati.

Kepiting

Anda suka kepiting ?? Atau tidak suka kepiting ?? Atau suka kepiting tetapi tidak mau makan kepiting ??? Cerita teman saya ini sebaiknya anda baca, karena cocok bagi yang suka kepiting maupun yang tidak suka kepiting termasuk juga cocok bagi yang tak mau kepiting...
Beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah tahun 1986, saya berkunjung ke kota Pontianak, teman saya disana mengajak saya memancing Kepiting. Bagaimana cara memancing Kepiting? Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, di ujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil.

Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju Kepiting yang kami incar, kami mengganggu Kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar Kepiting marah, dan kalau itu berhasil maka Kepiting itu akan ´menggigit´ tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah. Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala. Kami celupkan Kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati Kepiting Rebus yang sangat lezat.
Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.
Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena : MARAH . Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan anda.

Kerajaan yang di Dalam

Oleh: Irnawan Silitonga
“…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” (Lukas 17:21)
Banyak orang mengira bahwa penyebab timbulnya penderitaan dalam kehidupannya adalah sesuatu yang berada di luar dirinya, apakah itu kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan, orang-orang yang menimbulkan kesulitan, kondisi sekitar yang tidak mendukung, atau sesuatu dari luar yang mengancam kehidupannya. Karenanya, banyak orang terfokus pada hal-hal di luar dirinya, dan mencoba menyelesaikan persoalan-persoalan di luar dirinya dengan berbagai cara.
Hal yang telah kita sebutkan di atas juga terjadi pada orang-orang Yahudi di zaman Tuhan Yesus. Orang-orang Yahudi beranggapan bahwa penderitaan mereka disebabkan mereka dikuasai dan ditekan oleh bangsa Roma. Oleh sebab itu, mereka berharap datangnya seorang juruselamat yang akan melepaskan mereka dari perbudakan bangsa Roma. Ketika Tuhan Yesus datang dan memberitakan pada mereka kerajaan sorga, yaitu suatu kerajaan yang bukan "dari dunia ini", maka mereka menolak-Nya. Mereka berharap suatu kerajaan jasmani, seperti kerajaan Daud, yang akan mengusir semua musuh-musuh mereka, terutama bangsa Roma yang saat itu berkuasa.
Jika kita perhatikan lebih jauh, sebenarnya manusia menyukai dan terfokus pada hal-hal yang dapat dilihat oleh mata jasmani mereka. Memang manusia cenderung memperhatikan sesuatu yang terlihat oleh mata jasmani. Manusia tidak suka hal-hal yang tidak terlihat, sama seperti bangsa Israel di zaman nabi Samuel. Mereka meminta seorang raja manusia yang jelas terlihat oleh mata jasmani mereka, yang dapat memimpin mereka dalam peperangan dan membebaskan mereka dari segala persoalan mereka. Dengan permintaan ini, sesungguhnya mereka telah menolak Raja yang tidak terlihat yaitu Tuhan, Allah Israel sendiri.
Tetapi Tuhan Yesus datang dan membukakan pada kita bahwa baik persoalan kita yang sesungguhnya, maupun solusi atas persoalan kita itu, semuanya ada di dalam diri kita. Persoalan kita yang sesungguhnya adalah hati kita yang licik ini, bahkan dikatakan lebih licik dari segala sesuatu (Yeremia 17:9). Hati kita inilah yang menajiskan kita (Matius 15:19-20). Inilah yang merupakan persoalan kita sesungguhnya. Namun, Tuhan Yesus juga mengungkapkan bahwa jawaban atas persoalan kita itu ada di dalam diri kita juga. Jawaban atas persoalan kita adalah kerajaan sorga yang ada di dalam diri kita.
Lukas 17 yang telah kita kutip di atas menegaskan, “…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu”. Terjemahan bahasa Indonesia "di antara" ini, berasal dari kata Yunani "entos". Kata Yunani "entos" sebenarnya berarti "di dalam". Selain di dalam Lukas 17:21, kata Yunani "entos" ini hanya dipakai satu kali lagi yaitu di dalam Matius 23:26. Di dalam Matius 23:26, Tuhan Yesus menggunakan kata "entos" ketika Ia berkata, “Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam (entos) cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih”. Kita tahu bahwa arti suatu kata ditentukan oleh bagaimana ia digunakan, atau bagaimana penggunaannya. Di dalam Matius 23:26, "entos" digunakan sedemikian sehingga tidak mungkin seseorang menerjemahkannya menjadi "di antara", seperti yang terdapat dalam terjemahan bahasa Indonesia pada Lukas 17:21. Sesuai penggunaannya di dalam Matius 23:26, kita pasti menerjemahkan "entos" menjadi "di dalam". Oleh karena itu, terjemahan yang tepat dari Lukas 17:21 adalah, “…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di dalam kamu”.
Ketika Tuhan Yesus mengatakan, “…sesungguhnya Kerajaan Allah ada di dalam kamu", Ia katakan hal ini bukan kepada murid-murid-Nya atau kepada orang yang telah percaya pada-Nya. Namun, Ia mengatakannya kepada orang-orang Farisi, yang jelas-jelas menentang-Nya. Jadi, kita dapat simpulkan bahwa kerajaan Allah itu ada di dalam diri setiap orang, entah orang itu sudah percaya Tuhan atau belum. Tentu saja, bagi orang yang belum percaya Tuhan, kerajaan sorga yang di dalam mereka tidak memberi pengaruh apa-apa atas kehidupannya. Tetapi yang sedang kita permasalahkan di sini adalah bahwa jawaban dari persoalan setiap manusia, ada di dalam diri mereka sendiri.
Jika seseorang telah sungguh-sungguh percaya Tuhan Yesus dan mengalami lahir baru, serta menyadari bahwa kerajaan sorga itu ada di dalam dirinya, bahkan bertumbuh terus dalam pengenalannya akan kerajaan sorga, maka kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga itu akan membereskan kenajisan hatinya. Kerajaan sorga itu seperti ragi yang akan mengkhamirkan seluruh adonan. Artinya, kerajaan sorga itu pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh keberadaan orang tersebut. Jika seseorang telah dipenuhi dan dipengaruhi secara total oleh kerajaan sorga, maka persoalan orang tersebut sudah selesai. Demikianlah cara Tuhan menyelesaikan persoalan manusia. Ia menyelesaikannya dari dalam, oleh kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga.
Telah kita sebutkan di atas, bahwa persoalan manusia adalah hatinya yang licik, yang pada gilirannya menajiskan seluruh keberadaannya. Hati manusia yang licik ini tidak dapat diselesaikan dan dibereskan dengan melakukan rutinitas agamawi, dengan teori-teori atau doktrin-doktrin apapun juga, dengan pendidikan dan peraturan-peraturan apapun juga, bahkan penjara-penjara pun tidak mampu mengubah hati manusia. Hati manusia hanya dapat dibereskan oleh kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga. Dan kerajaan sorga itu ada di dalam diri setiap orang.
Siapakah raja di dalam kerajaan sorga ini? Ketika Pilatus bertanya pada Yesus, “... Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang kedalam dunia ini...". (Yohanes 18:37). Yesus adalah raja di dalam kerajaan sorga. Walaupun orang-orang Yahudi menolak-Nya, tetapi siapapun yang menerima-Nya, akan mengalami kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga itu. Kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga inilah yang akan menyelesaikan persoalan manusia. Datanglah kerajaan-Mu, Amin.
Blog penulis: Gema Sion Ministry

Kerja adalah Sebuah Kehormatan

Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak mau beli kue, Pak?" Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak, saya sedang makan". Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab: "Tidak dik saya sudah kenyang". Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang di rumah". Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini.

Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. "Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 2000,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja. "Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik". Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasihkan kepada orang lain. "Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?. Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama ibu di rumah,ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis".
Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja di hadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang. Suatu pantangan bagi ibunya,bila anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.
Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan", ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.
Makna yang bisa diambil :
Kerja bukanlah masalah uang semata, namun lebih mendalam mempunyai sesuatu arti bagi hidup kita. Kadang mata kita menjadi "hijau" melihat uang, sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yg kita miliki.
Bukan masalah tinggi rendah atau besar kecilnya suatu profesi, namun yang lebih penting adalah etos kerja, dalam arti penghargaan terhadap apa yang kita kerjakan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, sejauh itu memberikan rasa bangga di dalam diri, maka itu akan memberikan arti besar.
"IN MATTERS OF PRINCIPLE STANDS LIKE A ROCK, IN MATTERS OF TASTE SWIM WITH THE CURRENT"

Keselamatan adalah Kuasa Allah

Oleh: Leonardi Setiono
Saya terkadang merenungkan, mengapa saya bisa menjadi seorang Kristen. Mengapa saya begitu yakin bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kepada Allah Bapa di Surga, jalan kepada keselamatan dan kehidupan kekal. Kadang saya merenung mengapa saya begitu bodoh menolak sesuatu yang menyenangkan, hanya karena Alkitab melarangnya, hanya karena saya percaya Allah tidak menyukainya. Mengapa saya mempercayai cerita tentang keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus?
Sampai hari ini saya tetap percaya.
Kebetulan kemarin saya dan istri bercakap-cakap dan sedikit menyingung tentang mengapa Allah menciptakan manusia dan diakhiri dengan tawa bersama, seraya mengakui bahwa kita ini orang-orang bodoh yang coba memahami Allah dengan logika dan hikmat manusia. Kita menjadi beriman bukan karena kita memahami logika tentang Allah, atau telah mencerna masuk akalnya penebusan Kristus. Tidak, kita memang orang-orang bodoh yang mendapat kasih karunia Allah untuk percaya kepada berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2:8-9). Cobalah Anda membaca I Korintus 2:1-16, di sana kita akan melihat bahwa kita menjadi seorang yang beriman bukan karena telah mendengarkan presentasi yang luar biasa tentang teori keselamatan, tetapi karena kasih karunia Allah, karena ada kuasa Allah yang dinyatakan dalam hidup kita.
Sebab itu 1 Korintus 4:20 mengatakan, "Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." Kita mendengar dan menerima kabar baik di dalam Kristus bukan karena perkataan, bukan juga karena logika manusia, bukan karena telaah ilmiah, tetapi karena kuasa Allah. Tuhan Yesus waktu di dunia dan menyampaikan kabar baik kepada orang Israel, bukan dengan kata-kata indah dan ilmiah, tetapi Alkitab menuliskan bahwa Ia menyampaikan dengan kuasa (Matius 7:29, Lukas 4:32, Markus 1:22,27). Demikian juga dengan kita. Kita menerima perintah untuk menyampaikan kabar baik tersebut bukan dengan kata-kata hikmat, tetapi dengan disertai kuasa Allah.
Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20)
Bacalah juga dalam Lukas 24:49, jelas disebutkan bawah kita akan diperlengkapi dengan kuasa dari tempat yang tinggi untuk memberitakan kabar baik dan menjadi saksi Kristus. Juga dalam Kisah Para Rasul 1:8, bacalah dan Anda akan menemukan bahwa setelah kita menerima kuasa kita diutus untuk menjadi saksi Kristus ke seluruh dunia.
Berita tentang injil jika kita sampaikan dengan hikmat dunia, dengan logika, secara ilmiah, dan dengan kata-kata yang manis dan meyakinkan maka kita tidak akan melihat pertobatan, sebab mereka menjadi percaya bukan karena kata-kata kita, tetapi karena kuasa Allah. Bacalah Kisah Para Rasul, bagaimana injil mula-mula disebarkan mulai dari Yerusalem sampai ke seluruh dunia, semua dilakukan dengan kuasa Allah. Bahkan mereka berdoa memohon kuasa Allah sebelum mereka keluar dengan berani memberitakan kabar baik tersebut (Kisah Para Rasul 4:29:31). Setiap kesaksian, setiap berita, dan kabar baik tentang Kristus yang kita sampaikan, Allah berjanji akan meneguhkannya dengan kuasa-Nya (Ibrani 2:4, Markus 16:20).
Demikian juga dengan saya dan Anda, mengapa menjadi begitu bodoh mempercayai cerita tentang keselamatan, hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sebab kita bukan mendengar kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi karena kita telah dijamah oleh kuasa tersebut.
Mulai hari ini, marilah kita menjadi saksi-saksi Kristus yang disertai dengan kuasa dari tempat yang tinggi (berdoalah untuk itu). Terkadang tanpa berkata-kata pun kita dapat membuat seseorang bertobat dan menerima Kristus. Saya melihat sendiri kuasa Allah yang berkerja pada dua orang teman saya, satu di SMA dan satu lagi waktu kuliah.
Injil harus diberitakan dengan kuasa Allah, bukan dengan kata-kata hikmat (apalagi debat, stop bagi mereka yang berdebat antar agama, kebenaran tidak ditemukan dalam debat agama).

Ketika "Nenek Gila" itu Meneteskan Air Mata

Penulis : Gurgur Manurung
Beberapa bulan yang lalu saya menjaga ibuku di salah satu rumah sakit swasta di Balige. Pada pukul 2 pagi, datang pasien baru di kamar tempat ibu saya dirawat. Pasien baru itu berumur 50 tahun dan diantar seorang anak kecil berumur 10 tahun dan duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Sebelum pasien baru itu masuk, jumlah pasien di kamar itu 4 orang, setelah pasien baru masuk jumlahnya 5 orang dan semuanya perempuan dengan umur rata-rata 50 tahun.

Pasien baru itu hanya membawa tas kecil yang isinya sepasang baju, tanpa membawa persediaan tempat minum, selimut, sisir atau perlengkapan lainnya. Pada pukul 4 pagi dia menyanyikan lagu-lagu gereja dengan fasih tetapi fals. Tingkah lakunya itu mengusik pasien yang ada dikamar itu apalagi pasien yang dekat dengannya, kami agak jauh darinya. Sambil menyanyi, dia menggigil karena kedinginan dan memanggil-manggil nama Tuhan.
Melihat si pasien baru itu kedinginan, saya seorang yang masih sangat muda memberikan selimutku, walaupun ibuku tidak menyetujuinya dengan alasan supaya saya dapat merawat ibuku dengan baik, maklum udara Balige amat dingin saat itu. Ketika saya berikan selimutku, diapun memegang tanganku dan mencubit pipiku dengan gemas.
Pada pukul 5 pagi aku berdoa dan membaca Alkitab. Sampai pukul 5.30 setelah selesai aku berdoa semua pasien dan penjaga masih tertidur lelap. Aku melihat anak kecil yang membawa si nenek itu tidur meringkuk dilantai karena kedinginan. Saya sangat kasihan melihatnya dan akupun memberi baju hangatku yang masih kupakai, karena kupikir aku akan lari pagi yang nantinya akan hangat setelah berlari. Pada saat aku berlari, udara Balige teramat dingin dan akupun sempat menggigil karena dinginnya amat luar biasa. Ditengah jalan, aku minta dibuatkan air teh hangat di sebuah kantin.
Setelah aku pulang ke rumah sakit, para pasien, penjaga telah terbagun dan para mahasiswa perawat praktek sibuk membersihkan lantai. Aku duduk santai dipekarangan rumah sakit yang persis didepan kamar ibu saya dirawat. Si nenek itu menghampiri saya dan mengajakku bernyanyi lagu-lagu Gereja sambil tepuk tangan. Jujur saja, nenek itu jorok, bau dan rambutnya urakan, kakinya kotor dan kukunya panjang. Bapa Manurung (panggilan si nenek kepada saya), ayo kita menyanyi katanya. Hampir semua masyarakat yang melihat kami merasa jengkel. Anehnya, pasien yang dekat si nenek menuduh saya yang membuat semua itu terjadi. Manurung, semua itu karena kamu terlalu memanjakan sinenek gila itu, kata ibu itu. Ibuku menjadi marah padaku, karena ibuku menganggap aku batu sandungan.
Bagiku tidak masalah tudingan orang, pada dasarnya dimataku semua orang sama. Aku tidak lebih hormat kepada pejabat, pendeta, orang kaya atau siapapun jika dibandingkan rasa hormat dan sayangku terhadap orang gila, semua saudaraku dan ibuku tahu sifatku itu. Aku sering protes kepada Tuhan dan kukatakan, Tuhan, jika kamu sayang padaku, mengapa Engkau tidak sayang kepada orang gila itu?. Walaupun aku protes, dalam segala perilakuku aku harus hormat kepada keputusan Tuhan atas dunia ini.
Setelah tiga hari nenek itu diprotes oleh yang satu kamar dengan kami, akhirnya pihak rumah sakit memindahkannya ke ruangan khusus. Pada saat mau pergi ke ruang khusus, si nenek menanya, bapa Manurung, aku bawa selimutmu dan bajumu yang sangat bagus ini ya, katanya dengan penuh harap. Aku mengiyakan dengan rasa haru yang mendalam. Aku ikut mengantarnya sambil melipat selimut dan bajunya yang bau. Dalam hatiku, aku protes kepada perawat yang tidak membersihkan sinenek dengan baik. Perawat enggan merawat dengan alasan keluarganya saja tidak peduli dan banyak protes lagi katanya.
Setelah di ruang khusus, si nenek masih tetap berulah dan selalu keluar ruangan dan memanggilku kembali untuk menyanyikan lagu-lagu Gereja. Si nenek semakin bertingkah. Si nenek bilang, rumah sakit itu akan diajukan ke pengadilan karena tidak serius menanganinya. Makin hari si nenek makin suka berteriak dan membeberkan perilaku perawat terhadapanya selama di ruang khusus. Anehnya lagi, dia tidak mau diam jika bukan saya yang mendiamkanya dengan lembut dan tulus. Jika mau jujur, aku tulus memberi kasih sayang kepada nenek itu. Sementara perawat dan mahasiswa praktek itu sudah semakin jengkel melihat tingkah si nenek. Apalagi si nenek selalu teriak, bahwa dia akan mengajukan perilaku para perawat itu ke direktur rumah sakit.
Saya selalu berusaha menyadarkan para perawat dan mahasiswa praktek itu tidak perlu menanggapi teriakan si nenek. Kelihatan sekali mahasiswa akademi perawat itu mau menurutiku karena direktur mereka di kampus adalah sahabat karib saya pada waktu mahasiswa dulu. Saya agak ragu melihat ketulusan di hati mereka untuk merawat si nenek itu. Apalagi sudah 5 hari di rumah sakit, tak seorangpun keluarganya menjenguk. Pihak rumah sakitpun mulai curiga, bagaimana dan siapa yang menanggung biaya rumah sakit.
Melihat keadaan itu, pada hari ke enam aku mulai menanyakan anak kecil yang kelas 4 SD itu tentang perihal tempat tinggal dan latar belakang mereka. Ternyata mereka berasal dari desa Muara Kabupaten Tapanuli Utara (TAPUT). Menurut anak kecil itu, si nenek memiliki banyak pohon mangga, anak perempuanya masuk saksi Yehuva dan sedang sakit tumor ganas dan tergeletak di rumah, menantunya 3 bulan yang lalu meninggal bunuh diri karena ditinggal suaminya pergi ke Tanjung Pinang propinsi Riau. Aku sangat kaget mendengar cerita anak kecil itu. Setelah anak kecil itu bercerita, dia minta saya untuk mengantarnya ke pelabuhan danau Toba karena hari pekan di Balige, jadi masyarakat Muara datang ke Balige. Anak kecil itupun permisi kepada sinenek dan si nenek berpesan agar anak kecil itu menitipkan mangga kepada saya.
Ketika kami tiba di pelabuhan danau toba, masyarakat Muara yang hadir disitu menanyakan dengan siapa anak kecil itu berada di situ dan kaum bapak sangat curiga dengan keberadaan saya. Anak kecil itu menceritakan semuanya dan seorang perempuan separuh baya menanyakan siapa yang bertanggung jawab tentang hal biaya pengobatan kepada saya. Kebingungan menghantui pikiranku dan semakin tidak mengerti tentang keadaan yang sebenarnya. Anehnya, mereka sangat marah kepadaku dan akupun hanya berserah kepada Tuhan.
Saya menjelaskan keberadaanku dan meminta salah satu dari keluarga terdekat untuk membicarakan semuanya dengan pihak rumah sakit. Tetapi diantara mereka tidak ada yang mengaku keluarga dekat. Kapal sudah mulai berbunyi menandakan kapal menuju Muara akan segera berangkat. Tulang (panggilan anak kecil itu kepadaku) aku mau pulang supaya aku bisa sekolah besok. Saya melihat kesedihan di wajah anak kecil itu, akupun memeluknya dan mengatakan supaya rajin belajar. Aku melambaikan tanganku ke anak kecil itu sambil berdoa " Tuhan, pakailah anak itu menjadi berkat". Aku sangat sayang kepda anak kecil itu.
Pada hari ke 10, seorang perempuan separuh baya secara sembunyi-sembunyi mendekati nenek itu. Dia sangat terkejut ketika melihat aku tiba-tiba masuk kekamar si nenek. Mungkin pikirannya saya adalah pihak rumah sakit. Saya menerka bahwa perempuan separuh baya itu keluarganya yang ketakutan jika membicarakan biaya rumah sakit. Dengan lembut aku meminta supaya perempuan itu mau menemaniku untuk membicarakanya dengan pihak rumah sakit. Apalagi rumah sakit itu adalah milik intitusi Gereja Besar di Balige. Setelah pembicaraan yang amat panjang, perempuan itu bersedia membayar 25% dari keseluruhan biaya dan pihak rumah sakit milik yayasan Gereja itupun menyetujuinya.
Sebelum mereka akan pulang, aku meminta supaya kami berdoa dulu. Setelah berdoa aku mengantarkan mereka ke pintu rumah sakit dan nenek itu menanyakan bagaimana dengan selimut dan bajumu bapa Manurung?. Aku mengatakan, dengan ketulusan hatiku, bawalah dan buatlah itu sebagai kenangan yang indah. Nenek itu memmelukku dan meneteskan air matanya. Selamat jalan nek.
Saya menghampiri ibuku yang sakitnya 70% sembuh. Dia mengatakan, apanya kerjamu di Jakarta, pantaslah kamu anak perantau yang paling miskin. Padahal sekolahmu jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak di kampung kita. Aku menjawab dengan lembut, bukankah segala-galanya kutinggalkan demi merawat mama?. Bukankah banyak orang lebih mementingkan uang dari merawat ibunya?, Bukankah orang membagun kuburan yang mahal, padahal semasa hidupnya diabaikan?. Coba anak mama, tidak peduli segalanya demi merawat mama. Ibukupun memelukku dan menangis. Aku berkata dengan penuh kasih sayang, mama, mulai saat ini serahkanlah hidupmu sepenuhnya kepada Tuhan, sebab mama kemarin Haemoglobin (Hb) Cuma 2, Sekarang sudah sehat. Terpujilah nama Tuhan.
Gurgur Manurung adalah pemerhati sosial tinggal di Bogor.

Ketika Bencana Menimpa

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu. -- Mazmur 119:71
Ketika musibah gempa dan tsunami terjadi akhir tahun lalu, Tuhan mendadak muncul di mana-mana, di tempat-tempat yang tidak biasanya. Ia disebut-sebut dalam lagu, dalam puisi, dalam email di milis, dalam perbincangan antartetangga. Artikel-artikel opini di koran umum yang biasanya tabu menyinggung-nyinggung soal Tuhan, kini secara khusus mengusung wacana ketuhanan di tengah penderitaan. Ada yang bernada membela Tuhan, tidak kurang pula yang mempersalahkan Tuhan.

Di sini saya tidak hendak membela suatu pandangan teologis. Saya hanya ingin mengamati sebuah kecenderungan yang tampaknya universal. Kenapa ketika terjadi bencana mahadahsyat, kita baru berpaling pada Tuhan? Kenapa baru setelah ilmu pengetahuan, teknologi dan nalar manusia gagal menyodorkan penjelasan memuaskan, kita lalu teringat untuk melibatkan Tuhan?
Kita bisa menariknya ke dalam skala yang lebih kecil, ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Sewaktu keadaan berjalan mulus dan baik-baik saja, seberapa sering kita mengingat Tuhan? Pernahkah kita berpikir: Kenapa keberuntungan ini menimpa saya? Baru saat persoalan pelik terjadi, benak kita dipenuhi tanda tanya: Kenapa ini terjadi? Mengapa menimpa aku? Di mana Tuhan saat aku menderita? Adakah Ia peduli?
Penderitaan, seperti dikatakan Daud, adalah kesempatan baik untuk lebih mengenal jalan-jalan Tuhan. Namun, kalau kita tidak belajar untuk mengenal Dia pada saat kesenangan, kita cenderung akan kehilangan jejak-Nya pada saat penderitaan.
Sumber: Renungan Malam, April 2005

Ketika Hal Baik Terjadi Pada Orang Jahat

Oleh:Imelda Seloadji
Renungan: Mazmur 73
Mungkin beberapa dari kita pernah membaca buku karangan seorang rabbi Yahudi yang cukup populer, Harold Kushner, "When Bad Things Happen to Good People". Dari judulnya saja kita bisa memperkirakan isinya: buku ini bermaksud membantu orang untuk memahami mengapa hal-hal yang buruk atau negatif terjadi dalam hidupnya, sementara ia merasa dirinya tidak pernah melakukan kejahatan apapun. Saya rasa sudah banyak tulisan dan kotbah yang membantu menguatkan orang-orang yang mengalami musibah maupun tekanan, mencoba menjelaskan mengapa penderitaan tetap harus dialami oleh "orang baik", itulah sebabnya judul ini saya angkat, karena ini adalah sebuah tema pergumulan hidup yang lain, yaitu: bagaimana jika hal baik terjadi pada orang jahat?
Banyak orang mungkin bertanya, mengapa masih banyak koruptor yang hidup enak? Mereka bahkan bisa melakukan ibadah keagamaan tanpa rasa bersalah. Mengapa para pengusaha yang melakukan kecurangan bisnis sepertinya menikmati segalanya, dan bisa tetap rajin beribadah sesuai keyakinan mereka masing-masing, bahkan terlihat begitu saleh di depan banyak orang. Kita persempit lagi contohnya. Di sekitar kita, mungkin ada tetangga yang suka gosip, tapi hidupnya nyaman. Di kantor, ada orang yang sebenarnya tidak punya kemampuan, tidak bijaksana, tidak menjadi teladan karena suka datang terlambat padahal rumah dekat, pandai memainkan jurus kodok (jilat atas, injak bawah, sepak kiri-kanan) tapi mendapatkan promosi untuk menduduki jabatan yang tinggi. Sementara kita melihat orang yang idealis, berpegang pada nilai dan prinsip, karirnya tidak secepat para "kodok" tersebut dan mungkin bahkan dizalimi oleh mereka.
Tema tulisan ini adalah sebuah pengakuan jujur akan suatu hal yang seharusnya tidak boleh ada di hati kita: sikap iri hati. "Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain...(Mazmur 73:2-5)" Dalam benak kita sudah terpola suatu konsep yaitu bahwa orang baik seharusnya bernasib baik dan orang jahat bernasib buruk. Maka jika kemalangan menimpa orang-orang yang kita pandang baik kita akan sangat bersimpati dan jika menimpa pada orang jahat, kita akan berkata, "sudah karmanya", atau "menuai apa yang dia tabur.". Nah, ketika ternyata keberuntungan dialami orang yang jahat, "rasa keadilan" kita mulai terganggu.
Apakah Anda mengalaminya? Saya mengalaminya dan karena itulah saya ingin berbagi. Mazmur 73 menunjukkan bagaimana Asaf dengan jujur juga mengemukakan isi hatinya, dengan kesadaran bahwa nyaris ia tergelincir, yaitu jatuh ke dalam dosa iri hati, akibat rasa tidak terima melihat orang jahat menikmati kebahagiaan, dan Allah sepertinya tidak bertindak apa-apa. Kita marah, sakit hati, dan orang yang membuat kita kepahitan toh tenang-tenang saja dan kita rugi sendiri. Mazmur 73 yang luar biasa memberitahukan kepada kita bahwa Tuhan tahu isi hati kita, Tuhan juga tahu bagaimana kita terluka dengan semua ketidakadilan yang kita alami. Lalu bagaimana kita bisa pulih? Mazmur 73 memberikan jawabannya:
"Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. (Mazmur 73: 21-26)
Dengan selalu tinggal di hadirat Tuhan, kita akan sadar bahwa di luar sana semua kesia-siaan. Ingatlah bahwa kebahagiaan orang fasik semu. Memang dengan kemampuan sendiri kita tidak bisa menghibur diri. Kita perlu Roh Kudus untuk menuntun kita sampai kita bisa melihat segala sesuatu dengan kaca mata Tuhan. Nah ketika cara pandang kita berubah, kita akan bisa menjadi pribadi yang bahagia dan bersyukur. Makin kita masuk ke hadirat Tuhan, makin kita hidup dalam pimpinan Roh, makin dunia tidak lagi menjadi fokus kita (Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan). Ijinkan Allah memproses kita untuk membawa kita ke tingkat kerohanian yang selanjutnya. Maka, dalam kondisi emosi seperti apapun, jangan Anda merasa terdakwa, tetapi apapun suasana hati Anda tetap datang kepada Tuhan, tetap setia membaca Firman dan berdoa. Jujurlah dengan keadaan kita tetapi jangan bersembunyi seperti Adam setelah berbuat dosa, karena bukan kebaikan yang melayakkan kita datang ke hadirat-Nya tetapi melalui darah Anak Domba.
Makin kita mengenal kemuliaan Allah, dunia makin tidak bermakna. Ketika obsesi kita tidak lagi pada jabatan, kekayaan dan sebagainya, kita bisa berseru, "Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya." Kita akan sadar, tanpa memiliki Allah di dalam hidup mereka, orang-orang fasik meski nampaknya memiliki seluruh dunia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang sesungguhnya. Tidak ada yang lebih mahal selain memiliki dan dimiliki oleh Allah, dan bukankah hal itu adalah hak istimewa mereka yang telah ditebus oleh Kristus?

Kisah Dua Orang Raja

Kali ini kita akan mencoba membandingkan kedua raja itu: baik karakternya maupun tujuan hidupnya! Lalu kita akan mengambil keputusan: raja mana yang akan kita ikuti?
HERODES AGUNG
Raja Herodes yang memerintah sewaktu Yesus lahir adalah Herodes Agung. Berikut ini resume dari hidup Herodes Agung:
(a) Ia memerintah sekitar tahun 74 Sebelum Masehi sampai 4 Masehi
(b) Ia anak dari Herodes Antipater dan Kupros (seorang wanita keturunan Arab)
(c) Ia adalah bangsa Idumea (yang merupakan keturunan Edom)
(d) Ia menjadi raja ketika orang Persia menguasai Yerusalem
(e) Semasa memerintah ia membangun kembali Bait Allah diYerusalem untuk mengambil hati orang Yahudi
(f) Ia menganut paham Pluralis -- semua agama sama saja
(g) Secara kejiwaan, ia adalah orang yang sangat tidak aman (ia nantinya memerintahkan agar bayi berusia dibawah 2 tahun dibunuh, hanya takut akan raja yang baru lahir)
(h) Ia bahkan membunuh beberapa saudaranya yang mengancam tahtanya
(i) Saking kejamnya Herodes sampai-sampai Kaisar Agustus menyindirnya :” Lebih baik menjadi babinya Herodes daripada jadi anaknya!”
(j) Setelah mati kerajaannya dibagi menjadi 4 -- untuk anak-anaknya yang berjumlah 4 orang.
YESUS KRISTUS
Yesus Kristus adalah sang Raja Mesias yang dijanjikan Allah untuk manusia. Inilah resume hidupnya:
(a) Ia telah menjadi raja bahkan sebelum kelahirannya ke dunia (karena Ia adalah raja atas alam semesta ini).
(b) Tapi Ia menyerahkan tahtanya dan berinkarnasi menjadi seperti kita
(c) Ia lahir dari ke dua orang tua yang sederhana (orang desa biasa)
(d) Tempat tidur pertamanya adalah sebuah palungan (tempat makan ternak)
(e) Yang pertama kali menyapanya adalah para gembala dan ternaknya
(f) Sebelum berusia dua tahun ia harus melarikan diri karena terancam dibunuh
(g) Oleh para pemimpn agama Yahudi ia dituduh sebagai penipu, orang yang dirasuk setan dan gila
(h) Ia dicari para pemimpin agama Yahudi untuk dibunuh
(i) Akhirnya Ia memberikan nyawanya di atas kayu salib untuk keselamatan kita
(j) Kerajaan-Nya kekal, tidak pernah berakhir
Nah, kalau disuruh memilih dari 2 raja itu mana yang kita akan ikuti, kita tentu memilih Yesus Kristus, raja diatas segala raja. Kenapa kita memilih Yesus. Karena ada 3 hal besar yang dilakukan Yesus Kristus untuk kita!
3 Hal Besar yang Dilakukan Yesus untuk Kita
1. Cradle= Bayi kecil -- Ia menjadi manusia sama seperti kita -- (Filipi 2:6-7)
Dalam sejarah dunia tidak ada Allah manapun yang ”berani” dan rela menjadi sama dengan manusia yang ingin diselamatkannya. Tapi Yesus berani melakukannya!
Ini menunjukkan empati Yesus yang dalam kepada manusia berdosa. Karena ia pernah menjadi manusia maka Ia bisa merasakan semua kepedihan hidup, hanya Dia tidak menjadi berdosa.
a) Ia pernah merasakan sakitnya dikhianati -- oleh Petrus
b) Ia pernah merasakan sakitnya dipaku dan dicambuk tentara Roma -- ketika di salib
c) Ia merasakan perihnya diolok dan dihina -- ketika dalam perjalanan menuju salib
d) Ia pernah merasakan lapar seperti kita -- setelah habis berpuasa di padang gurun dsb.
Nah, karena Dia sudah pernah merasakan semua perasaan manusiawi kita yang terburuk, maka Ia bisa menolong kita dalam keadaan kita yang paling buruk sekalipun.
Anda yang hari ini merasa dikhianati, sakit, menderita, kelaparan – Anda boleh datang kepadaNya. Dia akan menolong Anda. Karena Dia adalah juru selamat yang penuh empati!
2. Cross= Salib -- Ia memberikan hidupnya untuk kita di kayu salib (Efesus 2:15-16)
Salib adalah lambang pengorbanan paling dahsyat yang dilakukan oleh Kristus. Disalib adalah cara mati yang paling hina. Bagi orang Romawi hanya penjahat besar, para budak dan pembunuh kelas kakap yang dihukum salib!
Ia yang tidak berdosa bersedia menjadi dosa agar bisa menanggung beban dosa kita lewat kematiannya di atas kayu salib. Semua itu Ia lakukan semata-mata demi cinta-Nya yang besar kepada kita!
Dalam kekristenan salib menjadi lambang beberapa hal :
(a) Penderitaan, kesakitan dan beban berat (Matius 10:38 dan Matius 16:24). Anda yang merasa berbeban berat dan menderita, peganglah salib Kristus agar memperoleh kelepasan.
(b) Dalam Tulisan Paulus salib adalah lambang penebusan (1 Korintus 1:18Galatia 6:14Filipi 3:18). Anda yang berbeban berat dengan dosa, datanglah pada salib Kristus, maka Anda akan memperoleh pengampunan!
(c) Salib juga merupakan lambang pengudusan (Galatia 5:24). Kita menjadi kudus kalau kita beriman pada ”sosok” yang mati di atas kayu salib itu!
3. Crown= mahkota -- Ia akan memberi kita mahkota (Wahyu 2:10)
Bagi kita yang setia mengikut Dia sampai akhir hidup kita akan diberi mahkota oleh-Nya. Mahkota itu merupakan lambang dari 2 hal:
(a) Pemerintahan/kekuasaan. Raja pada masa lalu selalu mengenakan mahkota pada saat pelantikannya.
(b) Hadiah dari sebuah perlombaan. Juara Olympiade Yunani kuno dimahkotai dengan daun Zaitun.
Kita yang percaya kepadaNya sampai akhir akan memperoleh mahkota agar bisa memerintah bersama Dia dan memperoleh hadiah hidup kekal dari-Nya.

Sungguh, Dia raja yang layak kita sembah sujudi dan ikuti!
Kesimpulannya: Natal adalah berita tentang kelahiran raja segala raja yang rela menjadi hina seperti kita manusia agar kita bisa memperoleh kemuliaan seperti diri-Nya! Ia layak kita ikuti di sepanjang hidup kita!

Kisah George

Oleh: PD Immanuel
Aku dilahirkan dengan sifat mirip dengan papaku. Papaku, orangnya sangat keras tapi berhati lembut. Diam-diam aku mulai membandingkan sifat-sifatku dengannya. Dia orangnya cepat marah dan kalau marah dia bisa diam seribu bahasa. Jika ada orang yang menghinanya atau menyinggung perasaannya tak segan dia pasti membalasnya dengan lebih kasar dengan apa yang diperbuat orang tersebut. Jika dia sudah berlaku baik terhadap sahabatnya, dan sahabatnya itu berlaku sebaliknya tidak segan-segan orang tersebut di musuhinya alias kita tidak bisa bersahabat lagi. Sifat itu persis sama dengan yang aku punya. Mungkinkah itu genetic namanya? Atau apalah namanya, aku pikir kesamaan kelemahan itulah yang membuat aku merasa menjadi kembaran papaku.

Tidak gampang mengakui kelemahan itu pikirku. Aku sudah terbentuk seperti ini di dalam keluargaku. Karakterku tidak bisa berubah begitu saja. Dan aku tidak pernah merugikan orang lain pikirku. Jika ada orang yang baik kepadaku, aku pasti baik tapi jika orang berbuat jahat kepadaku, aku tidak perduli dan mau tahu tentang orang tersebut. Istilahnya dalam kamusku mengampuni adalah kata langka dalam kamus hidupku.Satu kali aku membaca sebuah artikel yang sangat menyentuh hatiku dan membuatku berubah.
Pada suatu hari, hari itu begitu cerah sebab george, 15 thn diajak mamanya pergi ke stasiun untuk menjemput pamannya yang baru tiba dari Los Angeles. George dengan senang hati memakai bajunya yang terbaik, tidak lupa dia menyemir sepatunya supaya mengkilat. Paman John, selalu membawa buku kesukaan George. Itu yang di tunggu-tunggu oleh George. Setelah mereka siap mamanya mulai menyetir mobil butut mereka dan berkata George sesampainya di stasiun bisakah kamu menunggu di ruang tunggu dan jangan jauh-jauh dari tempat itu. Karena mama sering melihat anak-anak sebayamu suka berkelahi antar gang di stasiun. Jadi hati-hatilah.
George tahu mamanya sangat kuatir karena memang akhir-akhir ini di televisi diberitakan bahwa ada perkelahian antar gang. Gang orang putih dan gang orang hitam. George sendiri tidak tahu pasti apa pokok masalah gang-gang itu sehingga mereka sering berkelahi. Tapi yang pasti George berdoa kepada Tuhan karena dia percaya Tuhan selalu menjaganya kemanapun dia dan mamanya pergi. Sejak papanya meninggal mamanya selalu pergi bersamanya. Walaupun mamanya Cuma seorang perawat di sebuah rumah sakit yang tidak terlalu terkenal tapi George merasa keluarga mereka selalu bahagia. George punya suatu keinginan jika dia sudah lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan dengan gaji yang baik, dia akan membelikan mamanya rumah. Karena sekarang mereka hanya tinggal di sebuah apartemen kecil.
George, George, kita sudah sampai panggil mamanya membuyarkan lamunannya tentang masa depan. Mereka bergegas masuk ke stasiun. Orang-orang sudah mulai berdatangan untuk menjemput sanak-saudara mereka. Kurang 20 menit lagi kereta yang ditumpangi pamannya akan tiba. Mamanya tiba-tiba menitipkan tas tangan berwarna hitam kepada George, sambil berkata George mama mau ke toilet sebentar. Bisakah kamu duduk disini sampai mama kembali? George mengganggukan kepalanya tanda mengiyakan karena di dalam kepalanya dia masih penasaran serta menerka-nerka buku apakah gerangan yang akan dia dapatkan dari paman John.
Di toilet, Ross mengucap syukur kepada Tuhan, karena ada George permata hatinya.George adalah penghiburannya. Ross mencuci tangannya sambil tersenyum memandangi dirinya di depan cermin. Rambutnya sudah ada ubannya. Walaupun kulitmu hitam tapi senyummu manis. Itu kalimat yang sering diucapkan oleh papanya George. Jika Ross melihat wajah George dia selalu teringat akan almarhum, Mark. Mmm, Mark meninggal saat George berumur 8 thn. Mark ditembak oleh orang yang tidak dikenal. Sampai sekarang si penembak belum tertangkap. Ross tidak mau mengingat hal itu lagi karena dengan mengingat kejadian itu lagi berarti dia tidak mengampuni orang yang telah menembak Mark suaminya.
Ross bergegas keluar dari toilet dan menuju tempat dimana George duduk. Sampai di tempat ruang tunggu, tidak didapatinya george. Kemana George, pikirnya sudah diperingatkan jangan kemana-mana masih saja anak itu tidak mendengarkan nasehatnya. Tak berapa jauh dari tempatnya berdiri, Ross melihat ada anak-anak seusia George kira-kira 5 orang sedang di borgol polisi. Mereka adalah anak-anak kulit putih, astaga ditangan mereka ada yang membawa senjata laras panjang serta pistol betulan. Tiba-tiba Ross mulai pusing melihat begitu banyak kerumunan orang. Dan tiba-tiba dia melihat ada ambulance datang, dan ada sebuah tandu diturunkan, dan orang yang terbaring di atas tandu tersebut? Sepertinya ada orang yang mengalami kecelakaan pikirnya. Ross tidak jelas mengenalnya karena semakin banyak orang yang ada di sekitar tempat itu untuk melihat kejadian tersebut dari jarak dekat. Ross berlari kearah kerumunan orang-orang, dia berpikir pasti George ada di sekitar kerumunan orang-orang itu.Waktu dia mendekat jaraknya hanya 25 meter, Ross bisa melihat dengan jelas diatas tandu tersebut George, anak satu-satunya, terbujur kaku bermandikan darah. Yang diingatnya hanya dia pingsan setelah itu.
Tiba-tiba Ross terbangun di sebuah ruangan yang semuanya berwarna putih yang dia tahu pasti tempat ini adalah rumah sakit. Ada seorang polisi perempuan mendekatinya dan mengulurkan segelas air putih kepadanya. Hi, saya Maria, dia memperkenalkan dirinya. George,George bisik Ross dengan pelan kepada polisi tersebut. Dia menggenggam tangan Ross dengan lembut sambil mengatakan Maafkan aku anak ibu tidak bisa diselamatkan lagi. Dia mendapat 3 tembakan. Waktu kami bawa ke rumah sakit, dia masih sadar tapi setelah itu dia meninggal karena kehabisan darah. Ross tidak bisa berkata apa-apa lagi selain air matanya yang terus mengalir. Dalam diam Ross hanya berdoa meminta kekuatan kepada Tuhan. Ross harus belajar menerima kenyataan pahit. Ya, sangat Pahit suami dan anaknya meninggal dengan cara yang sama yaitu dengan di tembak. Polisi mengindifikasi bahwa gang anak putihlah yang telah menembak George. Anak-anak tersebut mengira George adalah musuhnya karena George berkulit hitam.
Satu bulan kemudian Ross diperkenankan bertemu dengan anak-anak yang telah menembak George dan setelah itu dia mengadakan press conference. Bapak-ibu sekalian saya berdiri disini sebagai seorang ibu yang sangat mengasihi anak saya satu-satunya. Saya mendedikasikan hidup saya untuk anak saya. Berat ketika saya tahu dia telah pergi meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Tapi di tempat saya berdiri, saya mau tegaskan, jangan ada lagi pertumpahan darah. Kehilangan orang yang paling kita kasihi itu sangat menyakitkan. Kepada orang yang telah menembak George dan semua keluarganya saya mau mengatakan bahwa saya tidak memiliki dendam sedikitpun. Saya telah mengampuni mereka. Seperti Yesus telah mengampuni dosa-dosa saya, demikian juga saya telah mengampuni kalian. Ross merelakan kematian George karena dia tahu George sudah ada di tempat yang nyaman bersama Bapa di Surga.
Kisah diatas mengubah cara berpikirku seratus persen tentang hal mengampuni. Jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita, tetaplah mengasihi mereka. Karena kasih Allah tidak terbatas.
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.(Matius 6:14-15) (Mazmur 8)
  1. Mengapa Tuhan menciptakan manusia ?
    • Untuk menyaksikan kemuliaan-Nya
    • Untuk menjadi saksi antara Allah dan Iblis (1 Korintus 6 : 3)
    • Untuk menjadi objek kasih-Nya
    • Untuk memelihara dan menguasai alam ciptaan Tuhan (Kejadian 2 : 15)
  2. Bagaimanakah cara Tuhan menciptakan manusia ? Tuhan menciptakan manusia dari tanah liat dan menghembuskan nafas hidup ke dalam mulutnya. Demikianlah Tuhan menciptakan laki-laki (Adam). Namun manusia itu tidak mempunyai kawan yang sepadan dengannya dan Tuhan mengambil tulang rusuknya dan menciptakan seorang wanita sebagai istrinya.
  3. Terdiri dari unsur apakah manusia ? Manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh
  4. Adam dan Hawa yang berbuat dosa, tapi mengapakah seluruh umat manusia yang menanggung dosanya ?
    • Sanksi dan hukum dosa sudah diberitahukan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. (Kejadian 2 : 16-17)
  5. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa mereka sebelum mereka mempunyai keturunan. Sebab itu seluruh keberadaan manusia yang ada di dalam Adam itu turut jatuh ke dalam dosa.
  6. Apakah arti berdosa itu ?
    • Tidak mencapai sasaran yang Tuhan inginkan.
    • Tidak sempurna.
    • Tidak mau mengenal Allah dengan benar (Roma 1 : 32)
    • Pelanggaran terhadap perintah atau hukum Allah
  7. Apakah akibat dosa yg telah diperbuat oleh Adam dan Hawa ?
    • Manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3 : 23)
    • Adam harus bekerja keras untuk mendapatkan rejekinya (Kejadian 3 : 17)
    • Manusia diusir dari hadapan Allah (Kejadian 3 : 23)
    • Manusia mengalami kemunduran fisik (Kejadian 3 : 16-19)
  8. Apakah yang menjadi standar hukum bagi umat manusia ?
    • Hukum Taurat (Kejadian 20 : 1-17)
    • Hati nurani manusia (Roma 2 : 12-16)
    • Hukum Kasih (Matius 22 : 37-40)
  9. Apakah yang dimaksud dengan dosa asal dan siapa sajakah yang tidak berdosa asal ? Status berdosa dimiliki oleh semua manusia sebagai sanksi dan hukum dosa. Hanya satu yang tidak berdosa asal yaitu Yesus, karena Dia adalah Allah yang telah menjelma menjadi manusia.
  10. Apakah sifat dari dosa itu ?
    • Membuat manusia berani melawan Allah
    • Universal, tidak pandang bulu, siapapun bisa berbuat dosa
  11. Dapatkah manusia melepaskan diri dari dosa ? Dosa adalah pelanggaran terhadap sanksi dan hukuman/perintah Tuhan. Manusia hanya mampu mengekang diri supaya tidak terlalu banyak melakukan perbuatan dosa, namun usaha untuk mengurangi dosa yang sudah diperbuat adalah sia-sia. Tidak ada seorangpun yang berkurang jumlah dosanya.

Kompas Hidup (Ibrani 12:2)

Oleh: Suardin Gaurifa
"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan..."
Pernahkah saudara bertanya, mengapa kapal yang berlayar di kegelapan pun bisa sampai ke tujuannya dengan tepat? Mengapa pesawat yang apabila sudah mengudara hingga melampaui awan-awan dan daratan tak kelihatan setitik pun dapat sampai ke kota yang dituju dengan tepat? Itu bukan karena ada kacamata yang tembus pAndang hingga kiloan meter, atau ada malaikat pengawal perjalananya. Tetapi hanya oleh karena satu alat yang tidak terlalu besar yang namanya kompas dan radar bagi pesawat. Tanpa kompas dalam sebuah kapal sama dengan kegelapan yang paling gelap, sebab akan terombang-ambing oleh gelombang tanpa arah yang jelas dan tanpa radar bagi sebuah pesawat sama dengan kesesatan.
Setiap manusia yang lahir di dunia ini bukan karena kebetulan. Ada tujuan dibalik kehadirannya di permukaan bumi ini. Allah punya tujuan yang unik dan khusus bagi setiap kita dan tujuan itu adalah untuk mempermuliakan Dia, Yesaya menulis demikian “Semua orang yang disebutkan dalam nama-Ku yang kuciptakan untuk kemuliaan-Ku yang ku bentuk dan juga kujadikan.”(Yes. 43:7).
Namun hidup dalam memuliakan Tuhan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai tantangan awan dan kegelapan kehidupan menguji kesetiaan kita untuk tetap ada dalam koridor yang benar sesuai keinginan Tuhan. Tetapi jangan pernah putus asa dan mundur dari perlombaan hidup yang sedang dijalani sebab Yesus sudah memberi teladan yang baik dengan kesetiaan-Nya menjalani penderitaan sampai akhir tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini. Jadikan Kristus sebagai kompas hidupmu supaya sampai pada tujuan yang Allah kehendaki dalam hidupmu. Biar badai kesulitan, amukkan penderitaan, medan persoalan, hujan krisis, terpaan penyakit, silih berganti jangan pernah berpaling tetapi tetap melangkah sesuai kompas hidup kita, jalani dengan mata yang tertuju kepada Yesus.

Konsekuensi Sebuah Pilihan

Oleh: Leonard Bengs
Ulangan 30:19-20 "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini:kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihanlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka"
Siapapun orangnya, jika diperhadapkan dengan pilihan seperti diatas, pasti akan memilih kehidupan bukan kematian dan memilih berkat dari pada kutuk. Namun kita harus tahu jika kita memilih kehidupan dan berkat, maka ada hal-hal yang harus kita lakukan, yaitu :
  1. Mengasihi Tuhan Allah (termasuk menyenangkan hati-Nya)
  2. Mendengarkan suara-Nya (termasuk melakukan firman-Nya)
  3. Berpaut pada Tuhan (selalu rindu untuk selalu bersama Tuhan)
Bila kita melakukan hal-hal di atas, maka Tuhan sendiri yang akan memberikan tanah perjanjian dan umur yang panjang kepada kita.

Kontraktor

Oleh: Herwin
Bagaimana perasaan kita jika kita baru saja kita memasuki rumah yang baru direnovasi, akan tetapi ternyata banyak yang retak-retak dan rusak? Apakah kita akan memanggil kontraktor yang merenovasi rumah kita tersebut, ataukah kita akan mencari saja kontraktor yang lain untuk memperbaiki rumah kita? Tentu kita akan mengambil opsi yang pertama, bukan? Kita akan memanggil kontraktor yang telah merenovasi rumah kita dan meminta pertanggungjawabannya atas kerusakan rumah yang baru direnovasinya itu. Apakah pola berpikir seperti ini masuk akal bagi kita? Apakah kita sendiri mau bila diminta untuk mempertanggungjawabkan sesuatu yang bukan kita perbuat?
Hal yang sama telah dilakukan oleh Allah. Pada waktu umat manusia jatuh dalam dosa, Allah mengutus Yesus Kristus untuk mengatasinya. Mengapa bukan malaikat-malaikat yang lain? Ada beberapa alasan yang masuk akal dalam hal ini.
Pertama: Karena Yesus Kristus yang telah membentuk kita. Marilah kita lihat buktinya berdasarkan ayat-ayat dari Alkitab.
Kolose 1:16 berkata, "karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia."
Siapa yang dimaksudkan oleh ayat ini? Kalau kita perhatikan konteksnya di ayat 13, jelas ini menunjuk kepada Kristus. Jadi, rupanya melalui Kristuslah segala sesuatunya telah diciptakan.
Apakah ada dasar alkitabiah yang menunjukkan bahwa dalam hal penciptaan Allah tidak melakukannya sendiri?
Kejadian 1: 26, Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi"
Mengapa ayat ini menggunakan kata ganti "Kita"? Bukankah kalau Allah sedang berbicara kepada diri-Nya sendiri, maka kata gantinya tentu "Aku"? Bukankah kata ganti "Kita" menunjukkan Allah sedang mengajak pribadi yang lain untuk memulai penciptaan manusia? Kalau demikian, siapa yang diajak oleh Allah?
Dalam terjemahan Alkitab Dunia Baru di Amsal 8:30 Yesus digambarkan sebagai pekerja Ahli. Dalam terjemahan "English Standard Version" Amsal 8:30 menggunakan istilah "Seperti Seorang Pekerja Ahli" (like a master workman) sedangkan dalam "New American Standard Bible" menggunakan istilah "sebagai seorang pekerja ahli" (as a master workman).
Dari terjemahan ini jelas mendukung bahwa Yesus Kristus juga berperan dalam penciptaan. sehingga kata-kata di Kolose 1:16 yang sedang menceritakan tentang keutamaan Kristus, yang secara eksplisit mengatakan bahwa Yesus yang mencipta, bukanlah suatu pengakuan yang sembrono.
  • Untuk alasan mengapa Amsal 8:30 menunjuk kepada Yesus, lihat artikel "Kontraktor II".

Jadi, apakah adil bila ketika terjadi pemberontakan umat manusia, Allah kemudian menyuruh malaikat yang lain untuk menyelesaikannya? (Kalau mungkin, tentu malaikat itu akan mengatakan "Lho yang buat Yesus kok aku yang harus mati untuk hasil karyanya yang jelek?" atau "karena Yesus yang buat, Yesuslah yang harus memperbaikinya").
Kedua: Yesus sangat menyayangi umat manusia.
Amsal 8:31, Aku bermain-main di atas muka bumi-Nya, dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.
Coba renungkan ilustrasi ini:
Kalau kita memiliki anjing, dan kita sangat menyayangi anjing itu, maka ketika suatu hari kita akan ditugaskan ke luar kota selama 1 bulan, kepada siapa kita akan menitipkan anjing tersebut? Apakah kepada orang-orang yang kita ketahui tidak begitu suka anjing, atau kepada orang-orang yang memang sangat suka anjing? Tentu kepada orang yang suka anjing, bukan? Mereka akan merawatnya, memandikannya, memberinya makan, dan mengajaknya berjalan-jalan.
Begitu juga dengan Allah. Ketika ada masalah dengan umat manusia, maka Allah memberikan tugas ini kepada Yesus, karena sudah jelas bahwa Yesus sangat menyayangi umat manusia, sehingga Allah yakin bahwa umat manusia tentu mendapat perlakuan yang terbaik. Bahkan kalau kita perhatikan pada ayat di Efesus 5:2, "dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah"
Yesus rela mati untuk kita semua, apakah hanya untuk murid-murid-Nya Yesus rela mati? Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
Matius 20:28, "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
1 Timotius 2:6, "yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia; itu kesaksian pada waktu yang ditentukan."
Kedua ayat ini menunjukkan bahwa tebusan Yesus diperuntukkan untuk semua orang, bukan hanya untuk murid-murid-Nya saja, bahkan Yesus juga memerintahkan murid-murid-Nya untuk mengasihi yang lain.
Yohanes 13:34, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."
Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya bisa memberikan perintah untuk saling mengasihi, akan tetapi Yesus bahkan rela mati untuk kita dan telah memberikan teladan-Nya. Bukankah ini menunjukkan bahwa Allah tidak salah pilih, dengan mengutus putra-Nya ke bumi?
Jadi, jika kita dapat melihat dari peristiwa ini, kita dapat mengetahui bahwa ada dua kasih terbesar yang telah dinyatakan kepada kita, yaitu kasih terbesar dari Allah dan juga putra-Nya, Yesus Kristus. Marilah kita praktikkan apa yang telah Yesus perintahkan di Yohanes 13:34 yaitu untuk saling mengasihi satu sama lain.

Kontraktor II

Oleh: Herwin
Bahan renungan ini, sebagai lanjutan dari bahan renungan "Kontraktor", mencoba menjelaskan mengapa Amsal 8:22-36 menunjuk kepada Yesus.
Perhatikan ayat 22 yang mengatakan "TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala."
Kata "aku" dalam ayat ini tidak menunjuk kepada Salomo sebagai penggubah kitab Amsal, karena Salomo baru lahir kira-kira 1067 S.M. Sedangkan di ayat ke 23 dikatakan "sudah sejak purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada."
Kalau kita melihat kepada ayat-ayat sebelumnya, kata "aku" juga tidak menunjuk kepada hikmat sebagai permulaan ciptaan Allah, karena Roma 16:27 dikatakan "bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin." Sejak Allah ada, hikmat juga sudah ada; dan hikmat tidak diciptakan, karena hikmat merupakan pengetahuan yang dipraktikkan. Apakah kita akan menyebut seseorang sebagai seorang yang berhikmat kalau sudah tahu bahwa kompor itu panas dan masih dipegang juga olehnya, tanpa alat bantu? Tidak bukan?
Kalau begitu, kalimat "TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya" menunjuk kepada siapa? Ini menunjuk kepada Yesus Kristus, coba perhatikan ayat-ayat berikut ini:
Kolose 1:15 mengatakan, "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan."
Siapa yang dimaksud dengan ayat ini yang mengatakan "Ia ..., lebih utama dari segala yang diciptakan"?
Wahyu 3:14 mengatakan, "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah."
Siapa yang dikatakan sebagai permulaan dari ciptaan Allah? Untuk mendapat jawabannya coba kita jawab pertanyaan berikut, siapa yang menyampaikan wahyu kepada Rasul Yohanes? Di Wahyu 1:1 dikatakan, "Inilah wahyu Yesus Kristus ........" Jadi cocok bukan kalau Amsal 8:22 menunjuk kepada Yesus?
Perhatikan ayat ke 30 dikatakan "aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya."
Kata sebagai "anak kesayangan", menunjuk kepada siapa? Mari kita perhatikan ayat-ayat ini:
Matius 3: 17 dikatakan, "lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah aku berkenan" ( Yesus dibabtis)
Matius 17: 5 dikatakan, "Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia (Yesus transfigurasi)
Dari dua ayat ini, jelas membantu kita mengerti bahwa yang dimaksud Amsal 8:30 "sebagai anak kesayangan" menunjuk kepada Yesus. Karena hanya kepada Yesuslah dua kali dikatakan sebagai anak yang kukasihi/kusayangi tidak ada pribadi lain yang dikatakan demikian oleh Allah.
Perhatikan ayat ke 35 dikatakan "Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan Tuhan berkenan akan dia."
Siapakah di dalam alkitab yang pernah mengatakan kata-kata yang seperti ini? Mari kita perhatikan ayat dibawah ini :
Yohanes 14: 6 dikatakan, "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."
Roma 6: 23 dikatakan "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Krisus Yesus, Tuhan kita."
Jadi jelas dari ketiga ayat di Amsal 8: 22; 30 dan 35 ini, Yesuslah yang dimaksudkan, bukan?

Kuat Versus Lemah

Oleh: Sujud Prasetio
Ada seorang anak kecil yang membutuhkan uang Rp. 300.000 untuk membeli sepeda baru. Ia sudah berhari-hari berdoa, tetapi belum ada jawaban. Akhirnya, dia memutuskan untuk menulis surat permintaan dan mengirimkannya kepada Tuhan. Pada sampul surat dia menuliskan "Kepada Yth. TUHAN di sorga." Tentu saja alamat ini membingungkan Pak Pos. Akhirnya, Pak Pos memutuskan untuk meneruskan surat itu kepada Presiden. Saat membaca surat itu, Presiden merasa terharu. Dia lalu memerintahkan stafnya untuk memenuhi permintaan itu. Tetapi staf Presiden memutuskan hanya akan memberi uang Rp. 100.000, mereka menilai bahwa uang sejumlah itu sudah cukup banyak untuk ukuran anak kecil.
Seminggu kemudian, Presiden kembali menerima surat dari anak itu yang juga di tujukan kepada TUHAN di sorga. Surat itu berbunyi, "Terima kasih Tuhan karena sudah mengabulkan doaku. Tetapi, lain kali kalau mengirimkan uang, jangan lewat pemerintah, ya. Seperti biasa, mereka mengkorupsi uang. Saya yakin bahwa engkau mengirim uang Rp. 300.000, tetapi saya hanya menerima Rp. 100.000. (di sadur dari Purnawan Kristanto.)
Kisah di atas hanya cerita fiksi, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran yang berharga bagi kita. Kecenderungan orang ketika ia mulai berkuasa, itulah kesempatan untuk berbuat seenaknya tanpa memikirkan kesusahan orang lain. Hukum alam mengajar siapa yang kuat itulah yang akan menjadi penguasa. Dan tidak sedikit orang yang bertindak dengan semena-mena terhadap orang-orang yang lemah. Bahkan lebih lagi ada yang berusaha mengambil keuntungan dari orang-orang yang lemah. Mungkin ada yang tidak memanfaatkan orang lemah untuk kepentingannya sendiri, tetapi memandang rendah dan lebih memilih untuk menghakimi dan merendahkan orang lemah dari pada menolong dan memberkati. Sikap-sikap seperti ini bertolak belakang dengan ajaran Tuhan Yesus, siapa yang ingin menjadi pemimpin harus mau menjadi pelayan.
Paulus menasihatkan suatu pelajaran yang mulia bagi kita semua. "Kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." (Rm. 15:1-2). Hal ini mengingatkan kita pada ajaran Tuhan Yesus yang berkata: "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Bagian ayat yang di sampaikan oleh Paulus memberi pelajaran kepada kita mengenai dua hal. Pertama kita jangan menutup mata dengan kesusahan orang lain. Ada banyak orang bersikap acuh tak acuh dengan penderitaan orang lain. Tidak peduli terhadap orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan. Bahkan kadang dengan teman dan saudara sendiri pun tidak mau tahu. Apakah ini menjadi sikap orang percaya? Betapa sedihnya Tuhan Yesus ketika Ia melihat kita sebagai anak-anakNya menutup mata dengan kesusahan orang lain. Amsal menasihatkan demikian: "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu:"pergilah dan kembalilah, besok akan ku beri," sedangkan yang di minta ada padamu." (Ams. 3:27-28).
Tuhan sudah memberkati kita dengan kekayaan, ketrampilan, karunia-karunia. Jikalau kita mau membagikan anugerah yang sudah Tuhan berikan kepada orang lain yang membuat orang di bangun, bukankah hal itu perbuatan mulia? Tidak ada sesuatu yang berarti, kecuali kita menjadi sebab baik bagi orang lain. Dengan tegas Yakubus juga berkata: "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." (Yak. 4:17). Marilah kita peka dengan kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan orang lain. Berbuat baik adalah merupakan kesempatan. Saya percaya akan ada saatnya kita ingin berbuat baik, tetapi sudah tidak ada waktu lagi. Untuk itu marilah kita gunakan kesempatan-kesempatan yang ada untuk berbuat baik dengan sungguh-sungguh dan segenap hati.
Yang kedua kita belajar agar tidak mementingkan diri sendiri. Senangkah kita jika ada orang berkata kepada kita seperti ini:"dasar orang egois?" Tentunya kita akan tersinggung dan mungkin bisa marah. Predikat "egois" hanya pantas di berikan kepada orang yang tidak peduli terhadap kesusahan orang lain, orang yang pelit, orang yang mencari keuntungannya sendiri, orang yang mementingkan diri sendiri, orang yang selalu ingin menang sendiri, orang yang ingin mendapatkan apa yang di inginkannya dengan menghalalkan segala cara, orang yang tidak mau berkorban, orang yang tidak mau di rugikan. Dan intinya adalah orang yang memusatkan hidupnya kepada dirinya sendiri itulah orang yang "egois."
Saya tertarik dengan filosofi hidup orang Jawa. Menurut falsafah hidup orang Jawa, seseorang akan di sebut lengkap/sempurna hidupnya, jika sudah memiliki lima hal. Lima hal tersebut jika di singkat dan di terjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah seperti ini:
  1. Memiliki pasangan hidup
  2. Mempunyai rumah/tempat tinggal
  3. Mendapatkan intelektual;
  4. Mempunyai Kekuasaan; dan yang terakhir adalah
  5. harus bisa membagikan pengalaman hidup kepada orang lain.
Pelajaran yang sungguh berharga jika kita mau menerapkan bagian yang terakhir dari filosofi orang Jawa. Kalau saudara tidak ingin mendapat predikat sebagai "orang segois" bagikanlah apa yang saudara miliki. Tidak harus uang. Tetapi ketrampilan-ketrampilan yang ada, agar orang-orang yang saudara bagi dapat dibangun, dan akhirnya dapat bertumbuh bersama-sama. Jadi pada dasarnya adalah marilah kita belajar untuk memikirkan kesenangan orang lain, agar kita menjadi berkat bagi sesama. Jika saudara merasa orang yang kuat, maka itu adalah kesempatan untuk menolong yang lemah. Tuhan Yesus memberkati!!

Lawan Iblis

Oleh: Pdp. Jafar Thamrin, S.Th
Bacaan: Efesus 6:10-19
Mungkin Anda akan bertanya, bagaimana mungkin melawan iblis. Bukankah iblis itu adalah roh, sehingga dalam hal ini iblis tidak bisa dilawan?! Namun kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya, maka saya akan menjawab, “Bisa”. Iblis biasanya membutuhkan wadah untuk dia pakai melawan manusia. Jadi benar kata Kitab Suci: “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Dalam hal ini yang kita lawan bukan darah dan daging, tapi apa yang ada di balik darah dan daging itu. Sebagai contoh, nabi Elia menantang nabi-nabi baal di gunung Karmel. Kelihatannya nabi Elia melawan darah dan daging, namun pada dasarnya tidak. Nabi Elia melawan iblis yang menumpangi para nabi baal. Iblis harus dilawan. Kita tidak bisa hanya mempunyai sikap untuk bertahan dari serangan iblis.
Suatu hari waktu saya menunggu untuk naik pesawat, ada dua hal yang menarik perhatian saya di lapangan bandara. Pertama, bendera merah yang berfungsi menunjukkan arah angin. Kedua, kendaraan berat yang berfungsi mendorong mundur pesawat. Kedua hal ini menyadarkan saya bahwa sebuah pesawat dapat terbang karena dua hal. Ia harus melawan arus angin agar dapat terbang. Kedua, ia harus maju terus agar sampai ke tujuan. Bila sudah terbang, maka sebuah pesawat tidak dapat dan tidak mungkin mundur; berhenti sedetik saja ia akan jatuh. Demikian juga dengan kehidupan iman orang kristiani. Pertama, seorang anak Tuhan harus berani melawan arus dunia yang tidak benar. Kedua, sebagai anak Allah ia tidak boleh mundur, imannya tidak boleh mudah kendur dan putus asa karena adanya tantangan dan hambatan yang dibuat oleh kuasa kegelapan.
Menjadi pertanyaan buat kita orang percaya, bagaimana supaya kita bisa menang melawan iblis seperti nabi Elia yang menang saat menantang para nabi baal atau apa rahasia yang membuat nabi Elia menang? Inilah rahasia kemenangan Elia, yaitu “Doa dan Firman Allah”. Doa merupakan senjata yang ampuh untuk melawan iblis. Tidak ada senjata yang lain yang akan digunakan selain doa dan Firman Allah (Efesus 6:17). Pedang Roh yaitu “Firman Allah, dalam segala doa dan permohonan”. Mungkin kita sebagai orang percaya mengeluh dan berkata: “doa lagi... doa lagi, firman lagi... firman lagi.” Tapi hanya itu senjata kita orang percaya untuk melawan iblis. Karena dengan doa dan Firman Allah akan membuat kita menang waktu ada serangan, bahkan pada waktu kita menantang iblis.
Jadi, senjata untuk menyerang balik iblis adalah firman TUHAN dan doa. “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh”. Setiap waktu? Apa artinya selalu? Ya. Tentu saja. Iblis selalu menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Kalau kita tidak selalu siap, pasti mudah untuk diserang. Akhirnya, serahkanlah hidupmu dalam doa dan dalam tuntunan Firman Allah.

Lima Keberanian yang Harus Kita Miliki

Oleh: Philip Kuncoro
Salah satu karakter yang dimiliki oleh orang-orang besar adalah memiliki keberanian. Beberapa tahun lalu diadakan penelitian terhadap 200 orang yang dianggap sangat sukses. Setelah diselidiki ada satu kesamaaan karakter pada semua orang tersebut, yaitu: Mereka adalah orang-orang yang berani bermimpi besar, memiliki tujuan yang jelas dan bertindak untuk mencapai tujuan tersebut.
Tidak mungkin ada prestasi hebat dan spektakuler kalau tidak ada keberanian!
(a) Daud bisa menang terhadap Goliat karena dia berani menantang Goliat itu.
(b) Yosua berhasil menaklukkan Kanaan, karena ia berani menyeberangi sungai Yordan dan menyerbu Kanaan.
(c) Gideon berhasil menaklukkan Amalek, karena ia berani menaati perintah Tuhan yang aneh (pasukannya disuruh dikurangi hingga tinggal 300 orang).
Pokoknya, di sepanjang sejarah kita melihat bahwa orang-orang pemberani sering kali akan menghasilkan karya atau prestasi yang hebat. Bahasan kali ini kita akan melihat 5 jenis keberanian yang akan mengubah hidup kita!
5 Keberanian yang Harus Kita Miliki
1. Berani bermimpi dan melakukan hal yang besar – Kej.7:5-9
Berani bermimpi adalah sebuah keberanian yang sangat besar. Jika bermimpi besar saja seseorang sudah tidak berani, mana mungkin orang tersebut bisa menghasilkan hal-hal yang spektakuler.
Tetapi setelah memiliki mimpi yang besar, seseorang harus berani melakukan hal-hal yang besar pula untuk mewujudkan mimpinya tersebut.
Sebagai contoh:
(a) Walt Disney – memiliki mimpi untuk membuat taman bermain yang komplit, yang bisa buat main anak-anak maupun orang tuanya. Maka ia mulai bertindak dan jadilah Disney land (semacam dufan di Amerika, yang kemudian di tiru di seluruh dunia, termasuk dufan).
(b) Ir. Ciputra – memiliki mimpi membangun sebuah tempat hiburan rakyat, yang komplet dan menyenangkan. Maka ia mulai bertindak dan dibangunnyalah Ancol, sebagai tempat hiburan rakyat yang indah di Jakarta Utara.
2. Berani berubah – Roma 12:2
Berubah, itu mudah dikatakan tetapi sulit dilakukan. Sebab sudah kodratnya manusia selalu senang berada di zona nyaman. Tapi kalau Anda ingin maju dan berprestasi besar, maka Anda harus berani berubah meninggalkan zona nyaman Anda.
Kata berubah dalam Roma 12:2 berasal dari kata Yun. Metamorphoo = berubah, menjelma (transmutasi).

Contoh nyata:

(a) Ulat tidak akan bisa kemana-mana (hanya di daun saja) kalau ia tidak berani berubah jadi kupu-kupu (bisa terbang bebas ke mana-mana)
(b) Kecebong hanya akan bisa hidup di air saja, kalau ia tidak berubah jadi katak (bisa hidup di dua alam air dan tanah)
(c) Murid-murid Yesus hanya akan menjadi penjala ikan (fisherman) selamanya, kalau mereka tidak berani berubah menjadi penjala manusia (fisher of man) - Markus 1:16-17.
3. Berani fokus pada keyakinan – Mat.9:28-30
Mungkin lingkungan atau teman-teman memandang Anda secara negatif, tapi satu hal yang tidak boleh hilang pada diri Anda adalah keyakinan pada diri sendiri.
Kalau Anda tetap fokus pada keyakinan Anda bahwa Anda bisa meraih sesuatu yang hebat, apapun hambatannya tidak akan bisa menghalangi Anda.
Berikut ini ada beberapa contoh:
(a) Thomas Alfa Edison baru bisa menciptakan bola lampu listrik setelah melakukan 10.000 kali percobaan. Setiap kali gagal ia tidak menyerah dan tidak pernah hilang keyakinan bahwa bola lampu bisa diciptakannya. Akhirnya ia berhasil juga menciptakannya!
(b) Bartimeus tetap yakin bahwa Yesus mendengar teriakannya dan bersedia menyembuhkannya, meskipun murid-murid Yesus menyuruhnya diam. Hasilnya, Yesus memintanya mendekat dan mencelikkan matanya.
(c) Perempuan Kanaan yakin benar bahwa Yesus mau menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan. Maka ia terus meminta kepada Yesus. Sekalipun ditolak berkali-kali, ia akhirnya mendapatkan apa yang diyakininya itu. Anaknya disembuhkan oleh Yesus!
4. Berani mengambil resiko
Kalau Anda ingin berprestasi hebat, kalau Anda ingin mengukir sejarah, Anda harus menjadi pribadi yang berani mengambil resiko.
Ada banyak tokoh Alkitab yang mengukir prestasi hebat karena berani mengambil resiko:
(a) Esther berani mengambil resiko kehilangan nyawanya dengan menghadap raja. Tapi hasilnya, tindakannya itu berhasil menyelamatkan bangsanya (Ester 4:8)
(b) Nehemia berani mengambil resiko membangun kembali tembok Yerusalem yang runtuh. Sekalipun menerima banyak tentangan akhirnya ia berhasil menyelesaikan juga!
(c) Paulus berani mengambil resiko menyeberang lautan dan samudera untuk mengabarkan injil. Hasilnya, ia tercatat sebagai orang yang paling sukses dalam hal pekabaran injil!
5. Berani menang – Roma 8:37
Ada manusia yang tidak hanya takut gagal, tetapi juga takut menang. Ciri-ciri mereka adalah sebagai berikut :
(a) Mereka tidak berani mengambil tantangan
(b) Mereka tidak berani mengambil peluang yang muncul
(c) Mereka merasa tidak mampu
(d) Mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai orang yang tidak layak!
Padahal untuk menang atau mengukir prestasi besar kita harus punya keberanian untuk menang. David Ambrose berkata: "Jika Anda memiliki keinginan untuk menang, Anda telah mencapai setengah kemenangan Anda. Jika tidak, Anda telah mencapai setengah kegagalan Anda!"
Menyimpulkan pembahasan hari ini: para pemenang adalah para pemberani. Kalau Anda berani, maka Anda membuka peluang Anda untuk menjadi pemenang dan peraih prestasi!

Madu dan Racun Sama Hebatnya di Tangan Tuhan

Oleh: Yon Maryono
Kata Madu banyak dikaitkan dengan situasi sukacita, seperti diterapkan dalam istilah Bulan Madu bagi pengantin, demikian sebaliknya kata Racun. Oxford English Dictionary tidak memberikan etimologi sama sekali, tetapi menyebutkan bahwa kata Bulan Madu ini berasal dari abad ke-16: "Bulan pertama setelah pernikahan, ketika yang ada hanyalah kelembutan dan sukacita”. Salah satu kutipan tertua dalam Oxford English Dictionary menunjukkan bahwa, meskipun di masa kini bulan madu mempunyai arti positif, kata ini sesungguhnya merupakan rujukan mengejek kepada memudarnya cinta yang niscaya terjadi seperti tahap-tahap peredaran bulan. Istilah Racun, Beracun digunakan untuk segala sesuatu yang dapat berakibat fatal atau berbahaya apabila dimasukkan dalam jumlah tertentu ke makhluk hidup. Tapi kedua istilah itu dalam pengalaman penulis sama hebatnya di tangan Tuhan.
Suasana bulan Madu dengan Tuhan tidak jauh beda maknanya. Banyak orang percaya mengalami hidup dalam suasana sukacita dalam Tuhan, karena mereka kelimpahan berkat jasmani dan rohani. Tetapi umumnya penilaian itu diukur dari: harta, kekayaan, jabatan dan kekuasaan serta aktivitas mereka dalam pelayanan Gereja dan sesama. Tuhan telah memberikan berkat, itulah pandangan orang umumnya. Suatu pandangan didasarkan penampilan fisik , bahwa ia memasuki masa sukacita yang dapat disebut masa kehidupan berbulan madu dengan Tuhan, karena Tuhan seolah memberikan segala apa yang diminta. Kata “seolah” perlu digaris bawahi karena iblis juga bisa.
Bila kita mencoba memahami pengalaman hidup ini, banyak keberhasilan seseorang atas kenikmatan dunia: Karier, Kekuasaan, Kekayaan ternyata berjalan di luar kemampuan dirinya, tapi ia mengklaim itu upaya sendiri. Iblis tertawa. Manusia dijebak rasa percaya diri yang berlebihan. Keberhasilan itu dianggap semata-mata hasil kekuatan sendiri, seakan-akan manusia tidak memerlukan kekuatan dan kuasa Tuhan. Tanpa disadari, situasi ini telah membentuk bangunan tembok penghalang yang menyekat mata hati dan rohani manusia akan karya Tuhan. Suasana sukacita itu hanya semu, sukacita dalam pujian orang, sukacita dalam kesombongan jasmani maupun rohani. Pujian dan kesombongan itu telah membawa ke dalam alam keserakahan. Dengan mengejar kekayaan, dan kekuasaan kehidupan rohani tercekik (Lukas 8:14), dan dibawa ke dalam pencobaan dan keinginan yang mencelakakan (1 Tim 6:9). Akibatnya, ada di antara kita menghadapi persoalan dalam kehidupan yang berkelanjutan disebabkan ulah sendiri. Seolah luka yang menimpa sangat payah dan sukar disembuhkan bagaikan keracunan yang akut, akibatnya ada yang berkeinginan mau bunuh diri. Ya, masa bulan madu itu telah berlalu, dan masuk dalam suasana kesesakan karena duka dan derita menghadang, ibarat tubuh kemasukan racun dalam jumlah yang berbahaya.
Pada situasi kesesakan, manusia yang sadar akan dirinya akan merasakan bahwa segala kenikmatan yang diperoleh sebelumnya hanyalah sia-sia. Lenyap tanpa bekas. Hidup yang tidak dilandasi rasa syukur dalam segala hal kepada Tuhan akan sangat dirasakan akibatnya. Pada saat inilah, manusia akan dapat merasakan doa adalah bagian pergumulan. Seluruh keluarga bahkan Pendeta membantu berdoa siang dan malam dengan tidak jemu-jemu atas pergumulan hidup yang sedang menghadang. Sehari bagaikan sebulan, tidak sabar menunggu waktu Tuhan sangat dirasakan dalam kungkungan pergumulan. Ketekunan dan penuh berharap bagian pergumulan, tidak seperti masa-masa bulan madu yang penuh sukacita, berkat, berkat, dan berkat datang tanpa diundang.
Kemampuan untuk menyingkapkan tembok penghalang bagi mata hati seseorang adalah Rahasia Tuhan. Tetapi banyak dilihat orang bersaksi bahwa ia terlepas dari situasi kesesakan hanya karena pertolongan Tuhan. Situasi kesesakan yang dianggap racun itu ternyata telah mengubah seseorang untuk berbalik kepada Tuhan. Bahkan berdampak luar biasa, mula-mula maksud dan tujuan doa untuk kepentingan hadapi pergumulan, namun semua itu sekarang lebih suatu kebutuhan untuk memuji dan menyembah Tuhan. Itukah cara Tuhan bekerja untuk menegur umat-Nya? Tuhan bekerja di mana sikap iman ada, sebagaimana Mazmur 37:5-6: Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, Ia akan bertindak, Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang. Tuhan tidak lalai janji-Nya, tetapi Ia sabar supaya manusia berbalik dan bertobat (2 Petrus 3:8-9).
Di mana letak masalahnya? Madu dan racun itu pada hakekatnya terbentuk oleh karena perbuatan kita sendiri. Apabila kita mengakui hidup dalam Kristus, seharusnya naluri intim dengan Tuhan dan selalu ucap syukur dalam pertobatan kepada Tuhan adalah kebutuhan. Kenyataannya itu semua sering hanya dalam ucapan di bibir tanpa hati. Naluri manusia selama ini terhalang dengan kemauan daging yang lebih besar sehingga naluri itu tertutup dan tertekan. Inilah kebebalan rohani yang mengakibatkan seseorang menghadapi pergumulan hidup yang disebabkan ulah sendiri. Sehingga, manusia telah gagal mencapai bahkan mendekati kesempurnaan sebagaimana amanat Tuhan Yesus hendaknya kamu sempurna sama seperti Bapa-Mu yang di surga adalah sempurna (Matius 5:48).
Rasul Paulus menyampaikan pesan Tuhan. Tetaplah berdoa, mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.(1 Tesalonika 5:17-18). Inilah makna pesan Tuhan: Percayakah engkau bahwa Aku butuh persembahanmu dari hati yang bersalah? Apa artinya uang atau harta dari bibirmu yang tak pernah ucap syukur dan berdoa. Bagi-Ku cukup setetes air mata dari hati yang siap dibentuk.
Tuhan memberkati kita semua.

Makna Murah Hati

Oleh: Yon Maryono

Murah hati, kemurah hatian, kemurahan hati, dan kemurahan hanyalah sebuah kata atau kata majemuk yang tidak berarti kalau hanya disebut dan diuraikan maknanya dalam Kamus Bahasa. Kemurahan dalam bahasa Yunani disebut chrestotes, bahasa Latin disebut benignitas, dan bahasa Inggris disebut kindnessBenignity artinya perbuatan baik yang nyata, kelembutan dalam berlaku terhadap sesama dan bersikap penuh rahmat. Alkitab menulis kata terkait murah hati ini cukup sering, seperti dalam kitab Rut 2:2Nehemia 2:8Yeremia 3:12Mazmur 30:5 (30-6); Matius 5:7Matius 20:15Lukas 6:36Yakobus 1:51 Korintus 13:4. Penulisan murah hati dalam Alkitab intinya perbuatan murah hati dilakukan oleh Tuhan dan maunusia. Lukas 6:36 menuliskan: Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.
Pesan alkitab sangat jelas. Ada beberapa perbuatan dan sikap yang mencerminkan murah hati yang terakumulasi dalam sebuah tindakan nyata, yaitu :
- Murah hati adalah respos atas anugerah keselamatan dari Tuhan
- Murah hati tak berdiam diri saat melihat orang yang membutuhkan.
- Murah hati berarti mau terlibat dalam penderitaan orang lain karena tak kuasa meninggalkannya.
- Murah hati itu kesediaan untuk menerima dan memaafkan dan memulai dengan sebuah relasi yang baru dengan tidak memperhatikan latar belakang yang dibayangi dendam, sakit hati atau luka batin lainnya. Inilah yang dimaknai bahwa murah hati selalu ada unsur pengampunan
- Murah hati adalah kasih yang ditunjukan dalam perbuatan
- Murah hati tindakan tulus, tidak mengungkit-ungkit atas tindakan yang telah dilakukan untuk kepentingan sesama.
- Murah hati adalah tindakan yang tidak didasari perbedaan ras, suku, agama bahkan politik atau kepentingan pribadi lainnya

Pada saat orang Kristen setiap hari baca Alkitab, pergi ke Gereja, dan berdoa tetapi tidak peduli terhadap orang yang membutuhkan di sekitarnya, yakni uluran kasih, pengharapan dan kebenaran Firman Allah, apakah mereka Pelaku kebenaran firman Tuhan dalam perbuatan murah hati seperti teteladan Kristus? Jawabanya: mereka termasuk saya bukan pelaku kebenaran firman Tuhan. Kita mengenal Allah tetapi tidak menuruti perintah-Nya. Kita telah berbuat dosa, Ini jawaban yang jujur. Namun, jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa yaitu Yesus Kristus yang adil. Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita. Selanjutnya: Barang siapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (bdk 1 Yohanes 2 ayat 1).

Anda dan saya wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Paulus selalu mengibaratkan dirinya seorang atlet oleh raga yang harus selalu berlatih. Wajib hidup seperti Kristus diperlukan latihan yang terus menerus, demikian pula perbuatan murah hati. Kita mungkin tak punya banyak uang, tetapi kita dapat memberi diri kita dalam tenaga, pikiran, waktu, dan hal-hal lainnya yang dapat meringankan beban penderitaan sesama. Selamat berlatih. Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Tuhan memberkati.

Mawar Berduri

Suatu ketika, ada seseorang pemuda yang mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas, disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna. Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang menganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Pemuda ini pun senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil.

Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar miliknya.
Sang pemuda tampak bergumam dalam hati, "Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri penganggu ini."
Lama kelamaan, pemuda ini tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga itu pun meranggas dan layu.
Teman, kisah tadi memang sudah selesai. Tapi, ada ada satu pesan moral yang bisa kita raih didalamnya. Jiwa manusia, adalah juga seperti kisah tadi. Di dalam setiap jiwa, selalu ada "mawar" yang tertanam. ALLAH yang menitipkannya kepada kita untuk dirawat. ALLAH lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Layaknya taman-taman berbunga, sesungguhnya di dalam jiwa kita, juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah.
Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat "duri" yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk dari kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita kerap kecewa dengan diri kita dan tak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk "menyirami" hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa, kita tak pernah memahami potensi yang kita miliki.
Banyak orang yang tak menyangka, mereka juga sebenarnya memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tak menyadari, adanya mawar itu. Kita, kerap disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan onak-onak kepesimisan dalam hati ini. Orang lain lah yang kadang harus menunjukannya.
Teman, jika kita bisa menemukan "mawar-mawar" indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita, akan terpacu untuk membuatnya merekah, dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu, akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu, dan mengabaikan duri-duri yang muncul.
Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya, adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Mari, kita temukan "mawar-mawar" ketenangan, kebahagiaan, kedamaian itu dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin, ya, mungkin, kita akan juga berjumpa dengan onak dan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin, tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih nestapa.
Teman, biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hatimu. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu, agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang, dan menumbuh-kembangkannya di dalam taman-taman hati kita.
GOD Bless Us

Melayani Dengan Cinta

Oleh: Sunanto
Yoh 13:14-15 “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Di dalam natur kita sebagai manusia, kita cenderung lebih suka untuk dilayani daripada melayani. Sama seperti murid-murid Yesus, kita lebih suka menjadi yang terbesar daripada menjadi yang terkecil. Hal ini disebabkan karena manusia sejak kejatuhannya dalam dosa telah dipenuhi oleh kesombongan. Yesus datang ke dunia ini dengan bersenjatakan kerendahan hati untuk mengalahkan dunia yang dipenuhi oleh kesombongan. Walaupun Dia merupakan anak Allah, Raja dari segala Raja tetapi Dia rela dilahirkan di kandang domba yang hina dan mati disalib laksana seorang penjahat. Yesus memberikan teladan sebagai seorang pemimpin sejati yang lebih suka melayani daripada dilayani.
Memikul salib dan penyangkalan diri (kehendak) akan menghasilkan kematian terhadap diri sendiri. Bukti nyata dari seseorang yang telah mengalam i kematian terhadap diri sendiri adalah timbulnya kerinduan untuk melayani orang lain. Semakin seseorang mati terhadap dirinya maka ia semakin rindu untuk melayani orang lain. Dr. Ravi Zacharias berkata “ Kita begitu mudah mengklaim hak-hak kita sampai-sampai kita mengubur tuntutan yang memanggil kita untuk melayani ”. Konflik yang terjadi dalam sebuah rumah tangga umumnya ditimbulkan karena masing-masing pihak lebih menuntut haknya untuk dilayani daripada melayani. Suami dan isteri masing-masing maunya menang sendiri dan tidak mau mengalah. Jika keduanya terus bertahan dengan keegoannya maka konflik tidak akan bisa diselesaikan dengan baik. Lalu komunikasi menjadi terganggu dan bila tidak terjadi pemberesan maka bisa mengarah kepada perceraian.
Bila hubungan kita dengan orang lain tidak di dalam Tuhan pasti akan berakhir dengan kekecewaan. Hal ini disebabkan setiap manusia memiliki naluri untuk mencari kepuasan melalui hubungan dengan sesamanya. Padahal tidak ada seorangpun manusia yang dapat memberikan kepuasan penuh kepada orang lain. Hanya hubungan dengan Tuhan yang dapat memberikan kepuasan sejati kepada manusia. Hanya orang yang telah menemukan kepuasan sejati melalui hubungan dengan Kristus mampu melayani dengan cinta yang sejati.
Oleh karena itu hal utama yang perlu kita kejar dalam hidup ini adalah mengalami kepenuhan Allah sehingga lewat itu hidup kita akan benar-benar dipuaskan. Dari kepuasan itu akan lahir sebuah pelayanan yang dilandasi oleh cinta bukan kewajiban. Yesus berkata “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Hanya manusia yang telah menerima kasih dari Kristus yang mampu memberikan kasih yang tanpa syarat itu. Terimalah cintaNya dan layanilah orang lain dengan cinta itu !

Memberikan Pujian

Oleh: Marinus Waruwu
Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy, penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."
Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi saya."
Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.
Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.
Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus.
Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah. Jauh lebih mudah mengritik orang lain.
Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk." "Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya. "Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!"
Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?
Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.
  1. Kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.
    Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.
    Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmat-Nya tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda mengingkari nikmat-Nya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.
  2. Kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!" Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, "Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!"
    Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain. Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.
  3. Paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar dan baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.
Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.
Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.
Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko, maupun petugas di jalan tol.
Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya dengan doa, "Hati-hati di jalan, Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.
Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa dimanusiakan.
Sumber: Indonesia Business Online, Penulis: Arvan Pradiansyah

Mempersiapkan Natal

Penulis : Herlianto
"Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di atas palungun, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan." (Lukas 2:6-7).

Hari Natal yang di kenang di seluruh dunia dipenghujung tahun sudah makin jauh dari Natal pertama yang syahdu dan sederhana seperti gambaran dalam ayat di atas. Hari Natal pertama diisi dengan kesederhanaan dimana di samping orang-orang Majus yang kaya hadir juga para gembala yang sederhana untuk menyambut kelahiran bayi Yesus, kelahiran-Nya yang tidak dirayakan di penginapan atau di istana, tetapi di sebuah palungan di kota Betlehem. Inilah makna Natal sebenarnya dimana damai Allah menyertai semua manusia, damai di hati tanpa dekorasi yang berarti.
Masakini, memasuki bulan Desember, kita dapat menyaksikan di mana-mana, terutama restoran, mal dan hotel, dan di siaran TV, banyak dikumandangkan persiapan menyambut hari Natal dengan belanja akhir tahunnya, apakah masih ada yang tersisa dari Natal Betlehem di balik hiruk-pikuk perayaan Natal di masa kini?
Pohon Natal adalah gambaran yang indah di Eropah di musim salju ketika salju memenuhi permukaan bumi dan pohon-pohon berguguran daunnya, di situ kita melihat pohon-pohon den yang tegap berdiri dengan kehijauan daunnya yang tetap memberikan harapan segar. Di malam hari, di balik pohon ini kita dapat melihat kerlap-kerlip lampu-lampu rumah di sela-sela daun-daunnya. Apalagi kesan indah ini diiringi lagu ´Malam Kudus´ memberi rasa syahdu dan damai bagi mereka yang melihat pohon itu dan mendengar lagu itu. Pohon yang kemudian dijadikan lambang pohon terang itu sekarang sudah meluas menjadi hiasan di toko-toko serba ada di seluruh dunia, namun apakah makna sebenarnya Natal yaitu ´kelahiran Juruselamat manusia´ itu masih bisa dilihat di balik kemeriahan belanja akhir tahun itu?
Sebenarnya Franciscus dari Assisilah yang pertama kali memperkenalkan replika kandang dengan ternak dengan patung-patung kecil Yusuf, Maria dan bayi dalam palungan dan para majus dan gembala disekitarnya, yang sering kita lihat sebagai hiasan Natal baik di gereja maupun di rumah. Replika inilah yang menjadi hiasan sejak abad-13 sebelum pohon Natal diperkenalkan, dan diiringi Christmas Carol yang dinyanyikan sekelompok orang dari rumah ke rumah. Pohon Den dengan kerlap-kerlip kemudian dijadikan lambang kekekalan dan dijadikan pohon Natal seperti yang kita kenal sekarang.
Pohon Natal yang sederhana itu kemudian di abad-18 berkembang dengan adanya penambahan dekorasi hiasan-hiasan Natal, dan lama kelamaan dekorasi itu begitu lebatnya sehingga lambang pohon dan sinarnya yang menjadi simbol kekekalan dan kesyahduan menjadi terkubur oleh hiruk pikuk dan kemeriahan hiasannya. Suasana Natal untuk mengenang kesederhanaan kelahiran Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia kini banyak tertutup oleh pesta pora dengan segala hiasan yang mewah dan bukan lagi dirayakan oleh umat Kristiani saja tetapi meluas oleh umum. Perayaan Natal perlu kembali mengalami ´de-sekularisasi´.
Pada abad-11, Nicholas seorang uskup yang baik hati yang suka membagi-bagikan hadiah pada anak-anak dirayakan pada tengah malam tanggal 5 Desember, namun lama-lama legenda ´Santo´ Nicholas ini di adopsi di negeri Belanda dan dirayakan sebagai ´Sinter-Klaas´ dan kemudian di Amerika dirayakan sebagai ´Santa Calus´ yang sekarang dimasukkan ke dalam rangkaian perayaan Natal dan sambil menaiki kereta salju ditarik rusa kutup terbang di atas rumah-rumah penduduk sambil membagi-bagikan hadiah di rayakan di malam Natal.
Figur Santa Claus ini merupakan campuran figur Santo Nicholas dan Odin, dewa yang disembah orang Norwegia. Gambaran mitologi Odin ini lebih-lagi pada masakini diisi dengan berbagai pertunjukan gaib dengan peri-peri yang membawa tongkat berujung bintang mendatangkan mujizat-mujizat. Masa kini beberapa supermal menghadirkan ´magic´ Christmas dengan gambaran peri bertongkat-bintang gaib ini. Gambaran Natal yang serba wah ini kemudian makin rusak karena sudah menjadi hiasan umum baik di daerah lampu merah di New York, London maupun Paris, dan di Ginza di Tokyo yang mayoritas penduduknya bukan Kristen suasana Natal juga di rayakan dengan meriah. Natal bukanlagi merupakan moral-force yang menobatkan tetapi sekedar perayaan.
Benar-benar kemeriahan perayaan Natal masakini perlu di de-mitologisasikan, agar kita dapat mengenal benar-benar berita kesukaan akan kelahiran juruselamat yang mendatangkan damai sejahtera bagi semua manusia di dunia. Perayaan yang meriah di gedung gereja yang tertutup, dan lebih lagi di ballroom hotel yang eksklusif sudah jauh berbeda dengan kondisi palungan di malam Natal pertama yang dihadiri para gembala yang sederhana.
Umat Kristen sedang menyiapkan hari Natal di akhir tahun ini, dan sudah tiba saatnya umat Kristen mengembalikan hakekat Natal kepada artinya semula dan tidak terkecoh oleh gemerlapannya kerlap-kerlip lampu listrik dan dekorasi yang wah. Umat Kristen perlu men de-sekularisasi-kan dan de-mitologisasi-kan perayaan-perayaan natal yang sudah melenceng jauh dari makna asalinya.
Di tengah kepedihan yang dialami ribuah keluarga yang menghadapi PHK di PT-DI, dan begitu banyaknya keluarga digusur dari rumah kumuh mereka atau tempat jualan mereka di kaki lima dan tidak memperoleh tempat membaringkan kepala, dan palunganpun tidak, umat Kristiani dipanggil untuk menghadirkan Natal terutama bagi mereka yang tersingkir, yang terpinggirkan, dan yang dilupakan. Setidaknya dengan menjalankan upacara dengan sederhana, apalagi kalau disertai dengan kasih yang meluap keluar ke jalan-jalan yang dingin, setidaknya umat manusia benar-benar lebih bisa merasakan bahwa Natal itu memang mendatangkan damai sejahtera bagi manusia di bumi dan bukan sebaliknya.
Selamat mempersiapkan Natal mendatang dan menyatakan kasih dan damai sejahtera Allah bagi umat di sekeliling kita. Amin!

Mencari Tahu Maksud Tuhan

Penulis : Lesminingtyas
Beberapa waktu yang lalu saya menuliskan tentang "Apa Kehendak Tuhan di Balik Kenaikan Harga BBM". Beberapa orang dengan cepat bereaksi dengan mengatakan bahwa kenaikan harga BBM adalah murni kehendak pemerintah, bukan kehendak Tuhan. Memang betul, sesesuatu bisa terjadi pada diri kita karena ulah pemerintah atau gara-gara orang lain.

Sebagai orang percaya, seharusnya kita tidak boleh berhenti menyalahkan keadaan dan mencari kambing hitam. Kita juga tidak perlu mempertanyakan mengapa begini, mengapa begitu. Kita harus memaknai setiap peristiwa, baik suka maupun duka dengan mencari tahu apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Buat apa kita buang-buang waktu untuk bertanya mengapa begini mengapa begitu, kalau kita tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti. Kalaupun kita bisa mereka-reka jawaban, buat apa kalau jawaban tersebut tidak bisa merubah keadaan menjadi lebih baik?
Sebagai orang yang hidup berpengharapan di dalam Tuhan, kita harus selalu memandang bahwa Tuhan mengijinkan segala sesuatu terjadi pada diri kita, supaya hidup kita lebih baik lagi. Kita harus percaya bahwa baik suka maupun duka, dipakai Tuhan untuk kebaikan kita. Melalui kesulitan-kesulitan hidup, Tuhan ingin membentuk supaya kita benar-benar kuat, tegar, memiliki kemampuan untuk recovery atau bahkan memiliki resilience yang tinggi.
Ada juga orang yang berpendapat bawa segala sesuatu yang membuat kita takut, kuatir dan meresahkan, termasuk kenaikan harga BBM merupakan pekerjaan iblis. Tapi tunggu dulu, bukankah Ayub yang hidup saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan tetap diijinkan hidup menderita dalam kesengsaraan yang begitu panjang? Kalau waktu itu Ayub bersungut-sungut atau marah dan mempertanyakan sikap Tuhan yang dipandang begitu tega terhadap dirinya, mungkin saja ia akan mati dalam keputusasaan. Namun dengan kesetiaannya, Ayup bisa recovery dan memiliki resilience yang sangat bagus.
Pada akhir kisah Ayup baru kita menyadari bahwa rencana Tuhan memang indah pada waktuNya. Ternyata Tuhan memulihkan dan memberkati kehidupan Ayub selanjutnya, lebih dari kehidupan yang sebelumnya (Bandingkan Ayub 1 dan 2 dengan Ayub 42 : 10-17).
Belajar dari kisah Ayup, kita menjadi tahu bahwa melalui setiap kejadian, Tuhan tidak ingin kita terbujuk oleh iblis sehingga kita bersungut-sungut, marah, putus asa dan tak berpengharapan. Sesulit apapun keadaan yang kita hadapai, kita tetap harus berpengharapan di dalam Tuhan. Kesetiaan hidup di dalam Tuhan hendaknya kita pancarkan dalam menghadapi setiap peristiwa, di mana kita harus selalu bertanya "Apa yang Tuhan kehendaki di balik peristiwa ini?"
Dengan bertanya seperti itu, secara psikis kita telah menemukan 50% solusi dari setiap peristiwa yang terjadi. Selebihnya kita bisa berserah diri dan percaya bahwa Tuhan jugalah yang akan memampukan kita untuk menghadapi setiap kesulitan.
Suatu kali, saya hampir tidak bisa menerima kenyataan hidup ini. Saya yang berprofesi sebagai sekreatis di sebuah organisasi internasional, masih muda, ramah, baik hati, suka menolong dan aktif melayani Tuhan dan sesama, tiba-tiba menderita sakit TBC. Apakah penyakit yang menakutkan, menjijikkan dan bisa mematikan itu datangnya dari iblis? Lalu mengapa saya yang setia melayani Tuhan, masih bisa "dikutuk" oleh iblis? Mengapa Tuhan membiarkan penyakit itu membuat saya dikucilkan oleh lingkungan, sedangkan sebelumnya saya gemar melayani dan mengasihi sesama? Apakah kuasa Tuhan kalah hebatnya dari kuasa iblis? Kalau penyakit itu bukan dari iblis, tetapi dari Tuhan, apakah Tuhan saya sudah buta dan tidak tahu kebaikan yang harus diberikan kepada umatNya yang telah setia melayaniNya?
Saya pantas bersyukur kalau waktu itu saya tidak marah atau bertanya seperti di atas. Kalau saja, saya terus larut mempertanyakan keadaan saya, mungkin saya sudah mati karena putus asa. Ketika saya mencoba bertanya "Apa yang Tuhan kehendaki di balik penyakit yang menjijikkan itu?". Ternyata saya menjadi semakin yakin bahwa Tuhan adalah mentor terbaik dalam kehidupan saya. Sepanjang jalan kehidupan saya, saya baru mengerti arti pentingnya kesehatan setelah Tuhan mengijinkan saya sakit. Setelah Tuhan memulihkan saya, saya pun mengerti bahwa kesehatan lebih berharga dari pada materi.
Dengan merasakan betapa pahit dan sakitnya ketika menderita sakit TBC, saya pun bisa berempati dan peduli terhadap penderita TBC yang tersisih dan tercecer. Dengan merasakan betapa sepinya hidup dikucilkan karena penyakit TBC, saya pun menjadi semakin bijaksana untuk memanusiakan penderita TBC. Ketika dunia ini meninggalkan saya, kemudian Tuhan mengirimkan anak-anakNya untuk menolong dan menguatkan saya, saya semakin yakin hakul yakin bahwa kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup saya tidak pernah berkesudahan.
Suatu ketika, seseorang yang sangat saya cintai pergi meninggalkan saya. Pantaskan saya mempertanyakan kepada Tuhan, mengapa semua itu bisa terjadi? Layakkah saya bertanya "Mengapa orang yang tidak mengenal Kristus bisa hidup bahagia, sedangkan saya yang setia mengikutNya, Tuhan biarkan hidup merana?" Mungkin kalau saya tak henti-hentinya bertanya mengapa begini mengapa begitu, saya pun akan mati karena kesepian.
Saya bersyukur karena jauh-jauh hari sebelum saya ditinggalkan orang yang sangat saya cintai, sudah ada Ayup yang kehilangan tujuh anak laki-laki, tiga anak perempuan, ribuan ternak serta harta bendanya. Saya sadar betul bahwa penderitaan saya belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan Ayup. Kalau Tuhan sanggup memulihkan Ayup yang remuk redam, maka hati saya yang tergores sedikit pasti lebih gampang dipulih oleh jamahan kasih Tuhan. Saya pun akhirnya menyadari bahwa dengan hidup ditinggalkan kekasih, justru membuat saya bisa merasakan dan menikmati cinta kasih Tuhan yang melampaui segala cinta manusia. Dengan kesendirian dan kelemahan saya, tangan Tuhan yang kuat dan penuh kasih sungguh sangat terasa.
Ketika kenaikan gaji saya tidak sebesar rekan kerja yang lain, apakah saya layak besungut-sungut, marah, sirik, kecewa atau berprasangka buruk bahwa pimpinan saya tidak bijaksana dan pilih kasih? Tentunya Tuhan tidak menghendaki demikian. Yang bisa saya lakukan adalah mensyukuri keadaan sambil mencari tahu apa maksud Tuhan di balik peristiwa tersebut. Bisa jadi, Tuhan mengijinkan saya untuk mendapatkan kenaikan gaji yang lebih kecil, karena rekan kerja yang lain lebih banyak membutuhkan uang. Tuhan juga menghendaki supaya saya pandai bersukur bukan hanya pada saat berkelimpahan, tetapi dalam kondisi pas-pasan pun saya harus tetap bersukur. Melalui peristiwa itu Tuhan juga ingin membentuk saya menjadi pribadi yang murah hati walaupun harus dengan berhemat diri. Tentunya Tuhan tidak membiarkan saya kelimpungan, dengan penghasilan kecil tetapi tetap harus berbagi kepada orang lain. Tuhan memperlengkapi saya dengan kemampuan mengendalikan pengeluaran secara bijaksana. Tuhan juga mencukupi kebutuhan saya bukan hanya dari gaji, supaya saya selalu sadar bahwa Tuhan Yesus lah Sumber Berkat yang sejati.
Ketika saya tahu banyak gereja ditutup, dirusak, dibakar serta dibom dan orang-orang Kristen hidup tertindas di negeri ini, layakkah saya resah, takut, marah, mendendam dan menuntut balas? Saya yakin Tuhan tidak menghendaki demikian, karena Ia telah berfirman bahwa pembalasan adalah hakNya. Melalui peristiwa itu Tuhan ingin supaya saya menjadi pengikutNya yang sunggung-sungguh militant dan selalu berjaga-jaga menunggu hariNya tiba. Tuhan memberi kita kekuatan sehingga walau kita ditindas, namun tidak terjepit; walau habis akal namun tidak putus asa, walau dianiaya namun tidak ditinggal sendirian, walau dihempaskan namun tidak binasa (II Kor 4 : 8).
Roma 12 : 14 juga mengajarkan kepada kita untuk memberkati orang-orang yang menganiaya kita. Dengan kita mengampuni, mengasihi dan memberkati para perusak rumah Tuhan dan penindas umat Kristen itu, saya yakin suatu saat nanti dunia ini tahu bahwa orang Kristen itu baik karena Yesus adalah Baik. Suatu saat nanti mata dunia akan dicelikkan bahwa orang Kristen cinta damai karena Tuhan Yesus lah Raja Damai.
Kembali ke persoalan awal tentang kenaikan harga BBM, pantaskah kita bersungut-sungut, menggerutu, marah, kuatir, berteriak-teriak menuding bahwa kebijakan pemerintah tidak adil dan tidak berpihak pada rakyat kecil? Jawabannya sangat sederhana : Buat apa kuatir, kalau kekuatiran itu tidak menyelesaikan masalah. Buat apa marah atau berteriak-teriak kalau toh tidak bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Saya setuju jika kita bisa menggunakan cara-cara yang kristiani untuk mempengaruhi pemerintah supaya bisa menghasilkan kebijakan yang benar-benar bijaksana. Namun bila memang keadaan sudah tidak bisa kita ubah, dan kenaikan harga BBM sudah tidak bisa kita tawar, paling bijaksana adalah menerima keadaan dengan legowo. Marilah kita bertanya "Apa yang Tuhan kehendaki dari keputusan pemerintah yang gila-gilaan menaikkan harga BBM itu?"
Setidaknya Tuhan menghendaki kita untuk tetap tenang dan tidak kuatir. Seperti tertulis dalam Matius 6 : 21 "Siapakah di antara kamu yang karena keku165rannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?"
Lalu bagaimana dengan kenaikan harga BBM yang pasti akan berimbas pada kenaikan harga semua bahan pokok dan biaya hidup lainnya? Apapun yang terjadi, kita tetap berpegang pada Firman Tuhan, seperti tertulis yang dalam Mat 6 : 25 "Karena itu Aku berkata kepadamu : Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang henak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh lebih penting dari pada pakaiaan?"
Lalu bagaimana dengan orang-orang miskin dan kaum marginal yang sebelum kenaikan harga BBM saja hidupnya sudah kembang kempis, makannya pun Senin Kamis (hanya makan di hari Senin dan Kamis)? Apakah Tuhan begitu tega membiarkan orang-orang miskin yang sebagian besar belum menerima Kristus itu menderita kelaparan?
Tuhan akan dipandang tega, pelit dan tak berperasaan kalau kita; anak-anakNya tidak menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang menderita. Kasih Kristus akan dipandang oleh dunia sebagai bualan murahan kalau kita; anak-anakNya tidak mewujudnyatakan kasih melalui pelayanan kepada sesama. Injil Kristus juga dianggap tidak lebih baik dari komik Doraemon jika kita sebagai Alkitab terbuka tidak memancarkan Kasih Kristus. Sekarang, kita bisa bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi Alkitab yang terbuka bagi orang lain? Apakah orang lain bisa menyaksikan bahwa hidup kita benar-benar penuh pengharapan? Apakah orang lain bisa membaca dan melihat kebaikan dan kasih Kristus di dalam kita?
Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menolong korban terparah dari kenaikan harga BBM, khususnya anak-anak dan perempuan miskin dan masyarakat marginal pada umumnya, sedangkan keadaan perekonomian kita sendiri ikut gonjang-ganjing? Bagaimanapun sulitnya hidup kita, Tuhan ingin kita memberi makan kepada orang yang kelaparan, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada mereka yang tak berdangau, memberi pakaian kepada yang telanjang dan melawat orang yang sakit dan kesepian. Itu semua harus kita lakukan bukan hanya sebagai tugas sosial, tetapi lebih merupakan pelaksanaan dari Amanat Agung yang Tuhan mandatkan dalam Matius 25: 31-46.
Mungkin para pembaca akan bertanya "Lho, sekarang ini kita sendiri sedang berada pada posisi yang sama sebagai korban kenaikan harga BBM? Kalau korban diharuskan menolong korban lain, apakah tidak sama dengan jeruk menolong jeruk? Mana mungkin!". Jawabannya adalah : "Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan!"
Sebagian orang mungkin akan mengeluh betapa sulitnya menjadi pengikut Kristus. Kalau kita berpikir bahwa itu sulit, maka segala sesuatu akan benar-benar sulit. Namun kalau kita mau membuka diri dan menyatakan iman, pengharapan dan kasih dalam kehidupan sehari-hari, maka Tuhan pasti akan menolong kita.
Dengan kerinduan untuk menolong orang-orang miskin yang putus asa dan tak berpengharapan gara-gara kenaikan harga BBM, maka Tuhan akan memperlengkapi kita dengan ketrampilan hidup berhemat dan kemampuan untuk hidup sederhana. Bisa jadi Tuhan tidak menambahkan berkat materi untuk mengejar kenaikan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari. Tetapi Tuhan akan memperlengkapi kita dengan kreativitas untuk menikmati hidup dalam suasana yang pas-pasan. Bisa jadi, dengan kenaikan harga BBM ini kita terlatih untuk mengganti daging sapi, ayam, lobster, cumi-cumi, keju dan makanan mewah lain dengan tempe, tahu, ikan asin, telor dan kacang merah yang tak kalah nilai gizinya.
Bisa jadi, dengan semakin meroketnya harga-harga kebutuhan pokok, kita bisa lebih selektif untuk memilih makanan yang tidak terlalu mahal tetapi sehat, bergizi, tetapi non kolestrol dan non fat. Bisa jadi dengan semakin mahalnya beras, kita bisa lebih kearif memanfaatkan singkong, ubi, kentang, talas atau ganyong sebagai sumber karbohidrat. Atau jangan-jangan inilah saatnya bagi kita yang sudah over weight untuk mengurangi asupan karbohidrat dan protein, sehingga badan lebih ramping, sehat dan menarik.
Bagaimana dengan biaya transport yang sebentar lagi akan naik? Kita bisa tetap berpikir positif tentang hal tersebut. Mungkin sudah waktunya kita memutuskan untuk bepergian untuk hal-hal yang penting saja. Untuk menuju tempat yang berjarak kurang lebih 1 km, mungkin ada baiknya kita membiasakan diri untuk berjalan kaki. Selain menghemat uang, cara ini tentu sangat baik untuk kesehatan. Siapa tahu dengan semakin sering kita berjalan kaki, kita pun bisa saling menyapa dengan tetangga atau bahkan bisa mendapat kenalan baru.
Bisa jadi, dengan semakin mahalnya biaya transport, kita terpaksa menghentikan kegiatan di luar rumah yang tidak mendatangkan kemuliaan Tuhan dan tidak membawa kebaikan untuk diri sendiri dan sesama. Shopping yang bersifat hura-hura atau sekedar cuci mata di mall, dugem ke diskotik atau tempat hiburan malam sudah pasti lebih baik dihentikan demi kemuliaan Tuhan dan demi menyelamatkan kantong.
Marilah kita syukuri dan maknai setiap peristiwa yang terjadi, sambil mencari tahu apa maksud Tuhan di balik itu. Satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa Tuhan telah memiliki master plan yaitu Rencana dan Karya Penyelamatan yang begitu indah dan sangat baik untuk kita. Dengan memohon berkat dan kekuatan dariNya, kita bisa memaknai setiap peristiwa, memandang hidup ke depan dan berkontribusi secara positif dalam master plan yang telah Tuhan siapkan.

Menciptakan

Oleh: Yosi Rorimpandei
Kata “menciptakan” adalah kata kedua dalam Kejadian 1:1. Namun, karena menyesuaikan dengan aturan Bahasa Indonesia, maka dalam alkitab terjemahan Bahasa Indonesia, kata “menciptakan” di tempatkan sesudah kata Allah.
Dalam naskah Ibraninya, kata “menciptakan” menggunakan kata BARA. Kata BARA dalam pengertian "mencipta" hanya dikenakan kepada TUHAN. Artinya, tidak ada aktivitas "mencipta" lainnya yang dapat disetarakan dengan aktivitas "mencipta"-nya TUHAN.
Bagaimanapun kemampuan manusia, termasuk kemampuan menghasilkan individu baru melalui teknologi yang kini disebut kloning, tidak akan mampu menyamai kemampuan "mencipta"-nya TUHAN.
Dalam alkitab berbahasa Latin, yaitu yang disebut Vulgata, kata BARA diterjemahkan dengan kata CREATIO, yaitu suatu istilah yang menjadi akar dari istilah yang kini kita kenal dengan sebutan "kreativitas."
Para ahli psikologi modern, selama bertahun-tahun pernah mengusulkan adanya Creativity Quotient (CQ) untuk melengkapi IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). Namun, hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tingkatan kreativitas manusia tidak dapat diukur dengan standard tertentu, seperti ketika kita mengukur IQ. Karenanya, CQ pun batal dijadikan standard baru.
Dari sini jelas, bahwa tingkatan kreativitas adalah suatu tingkatan yang tak terukur dengan berbagai pendekatan psikologis modern. Apalagi, ketika kita berbicara tentang kreativitas TUHAN. Suatu tingkatan kreativitas tertinggi yang tidak mungkin dijangkau oleh manusia.
Dengan kreativitas yang Maha Sempurna itulah, TUHAN menciptakan alam semesta ini, dan karena itulah juga kita berkewajiban untuk memelihara hasil kreativitas TUHAN.
Ada banyak hasil kreativitas TUHAN di sekitar kita. Mulai dari diri kita sendiri sampai alam semesta dimana kita tinggal, semuanya dihasilkan oleh kreativitas itu.
Kini, sebagai mahluk ciptaan TUHAN, sudah sepantasnya kita melakukan segala upaya kita untuk menjaga ciptaan-ciptaan TUHAN itu. Sebab, salah satu wujud kecintaan kita kepada TUHAN adalah bagaimana kita mencintai ciptaan TUHAN lainnya.
Saya teringat, ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya memiliki kegemaran membuat cerita bergambar (komik). Salah satu komik saya yang paling disenangi oleh teman-teman saya bercerita tentang petualangan seorang pahlawan cilik yang berjuang membela kebenaran dan keadilan.
Karena komik itu sangat disukai oleh teman-teman saya, mereka pun sering meminjamnya dan membawanya ke rumah meskipun komik itu belum selesai. Saya akan melanjutkan komik itu setelah mereka selesai membacanya.
Suatu ketika, komik itu rusak gara-gara teman-teman saya berebutan membacanya. Mereka dengan sangat menyesal mengembalikan komik itu kepada saya dan memohon maaf. Sebagai gantinya, mereka memberikan kepada saya buku kosong untuk saya menggambarkan edisi lanjutan komik itu.
Saya memaafkan mereka dan saya pun memutuskan untuk menggambar kembali komik yang sudah saya buat. Meski demikian, rasa kecewa dan rasa tidak percaya muncul dalam diri saya terhadap mereka. Sejak itu, saya tidak lagi mengizinkan komik itu dibawa pulang atau diperebutkan. Mereka pun nampaknya memahami keputusan saya itu.
Kejadian itu membuat saya berpikir bahwa betapa seringnya kita menyakiti hati TUHAN. Ketika kita dengan “tanpa rasa bersalah” merusakkan segala hasil kreativitas TUHAN. Merusak keseimbangan alam, membakar hutan, membuat berbagai bentuk polusi bagi lingkungan, hingga tindakan-tindakan yang mungkin kita anggap sepeleh, seperti membuang sampah sembarangan atau mencemari lingkungan dengan bahan-bahan berbahaya.
TUHAN memang mengampuni. Ia sanggup mengembalikan segala kerusakan itu dengan Kemahakuasaan-NYA. Namun, bukankah TUHAN tidak pernah kompromi dengan kesalahan yang berulang-ulang?
Bencana alam yang kini banyak kita tanggung hendaknya menyadarkan kita betapa kita telah berkali-kali merusak kreativitas TUHAN, sementara kita hanya sanggup mengembalikan “buku kosong” kepada-NYA untuk meminta DIA “melukiskan kembali” setiap kerusakan yang kita buat. Inikah wujud kecintaan kita kepada-NYA?

Mengakui Kuasa Allah dalam Doa

Oleh: Puji R.
Matius 6:8

"Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya."
Perkataan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ini hendak mengajarkan kepada kita tentang bagaimana caranya berdoa. Kalimat ini juga mau menyatakan tentang Kuasa Allah. Kuasa Allah yang menembus batas sampai kedalaman hati dan pikiran manusia.
Ketika kita sakit secara jasmani atau sakit secara rohani, seringkali kita bawa dalam doa-doa kita, bahkan orang sering mengatakan bahwa kalau kita sakit atau sedang dirundung masalah datanglah kepada Tuhan dalam doa. Kita menyadari bahwa ada suatu Kuasa yang mampu melepaskan kita dari belenggu yang mengikat kita yaitu Allah. Namun dari kebanyakan orang yang mengaku sudah berdoa untuk sakitnya atau untuk masalahnya, tetapi kesembuhan atau jalan keluarnya tidak mereka temukan, lantas apa yang menjadi penyebabnya??? Ada dua hal yang harus kita lakukan untuk memperoleh kemenangan, sembuh dari sakit penyakit dan keluar dari masalah melalui doa-doa kita:
  1. Mengakui Kuasa Allah.
  2. Fokuskan diri kita pada Kuasa Allah dan akui dengan sungguh bahwa Kuasa Allah saja yang mampu menyembuhkan kita dari sakit penyakit. Jangan fokuskan pikiran kita pada penyakit yang sedang kita derita. Kita tidak perlu menceritakan lagi penyakit yang sedang kita derita, karena sebenarnya Allah telah mengetahui apa yang akan kita sampaikan kepada Allah sebelum kita mengucapkannya. Daripada berkata, "Ya Tuhan, aku sakit", lebih baik kita berkata, "Ya Tuhan, Engkaulah sumber kekuatanku dan keselamatanku".
  3. Hikmat Allah
  4. Allah memiliki hikmat untuk memecahkan setiap masalah, Ia memiliki kuasa untuk meraih setiap kemenangan. Untuk hal ini kita dapat belajar dari Nabi Daud yang selalu bersikap positif dalam doanya, sehingga ia mampu berkata pada akhir doanya dalam Mazmur 23:6, "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa".

Mengapa Persembahan Tidak Diterima

Oleh: Yoanna Greissia
Sudah waktunya memberi persembahan untuk Tuhan

Korban penghapusan dosa...Pencurahan darah

Kedua pemuda itu bersiap-siap

Memberikan yang seharusnya diberikan...
Si sulung, petani yang rajin, hasil tanahnya baik

Si bungsu, peternak yang ulet, kambing dombanya gemuk
Sudah waktunya memberi persembahan untuk Tuhan

Korban penghapusan dosa...pencurahan darah
Si bungsu memilih ternak terbaik

dicurahkan darah, diambil lemak-lemaknya

dibakarnya sebagai korban persembahan untuk Tuhan

Penghapusan dosa...
Si sulung berpikir

"Ah, mengapa harus mencurahkan darah,

mengapa banyak sekali aturan

Aku punya hasil tanahku

Ku rasa aku dapat memberikannya untuk Tuhan

Aku tetap memberikan yang terbaik"
Kayu disiapkan, korban disiapkan

dari mezbah yang satu darah tercurah

lemak-lemak terbakar...
dari mezbah yang lain dedaunan disimpan

dan dibakar...
Tuhan melihat... Tuhan memilih...
Si sulung berteriak dalam hati...

"mengapa persembahanku tidak diterima?"

"aku rasa sudah memberikan yang terbaik"

"Apa yang salah?"
Si sulung tak mengerti
Persembahan...

Seharusnya menyukakan hati Tuhan

Seharusnya sesuai dengan yang Tuhan mau

dan bukan apa yang kita mau....
Saat Tuhan menjadi fokus...

kita memberikan persembahan

Saat diri kita menjadi fokus...

kita memberikan diri kita hiburan
Persembahan, adalah tentang memberi, bukan menonjolkan diri

Persembahan, adalah tentang kerendahan hati, bukan kesombongan

Persembahan, adalah tentang yang terbaik menurut Tuhan, bukan menurut kita...
Persembahan adalah soal hati...dan bukan sekedar harta
More poems: greissia.wordpress.com

Mengasihi Tuhan Melebihi Segalanya

Penulis : Sunanto
Lukas 14:26 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Menurut saya, perkataan Yesus pada ayat ini merupakan pernyataan terkeras diantara pernyataan-pernyataan keras lainnya yang pernah Ia ucapkan. Yang dimaksud Yesus dengan membenci ini bukan dalam arti sebenarnya melainkan merupakan ungkapan kiasan. Maksud perkataan ini adalah apabila kita tidak mengasihi Yesus melebihi mengasihi orang tua, anak, saudara dan nyawa sendiri maka kita tidak dapat menjadi muridNya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku ( Mat 10:37 ). Untuk mengikut Yesus kita harus melepaskan dan menyerahkan semua hal yang kita kasihi termasuk juga nyawa kita.

Yesus itu memang tokoh yang penuh kontroversial dan berbeda dengan kebanyakan tokoh yang pernah hidup di dunia ini. Biasanya seorang tokoh akan mencari pengikut sebanyak mungkin dengan cara merayu dan mengiming-imingi orang untuk mengikuti dia. Tetapi Yesus malah memberikan syarat yang sulit bagi orang yang ingin mengikutiNya. Bahkan Ia mengusir orang banyak yang mengikutiNya karena mereka mengikutiNya hanya untuk mendapatkan makanan ( berkat ). Seorang kaya bertanya kepadaNya hal apakah yang harus ia lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal ? Orang kaya ini adalah orang yang taat melakukan segala perintah Allah ( hukum taurat ). Tapi Yesus berkata kepada orang kaya tersebut agar ia menjual semua hartanya dan membagikan kepada orang miskin, lalu kemudian baru mengikut Yesus. Yesus menuntut penyerahan total bagi setiap orang yang ingin menjadi muridNya.
Saya percaya salah satu penyebab mengapa saat ini begitu banyak terdapat orang Kristen suam-suam yang sangat tidak efektif bagi kerajaan Allah adalah karena mereka telah menerima injil yang tidak seutuhnya. Saat ini banyak penginjil/pengkotbah modern yang memberitakan injil murahan tanpa disertai tanggung jawab untuk memikul salib. Mereka merayu dan mendorong orang untuk mau percaya dan menerima Kristus tanpa mengajarkan konsekuensi yang harus diterima untuk menjadi murid Kristus. Malah sebaliknya mereka diajar tentang hal-hal indah dan enak yang akan diperoleh bila mereka mau menerima Kristus. Padahal dalam kenyataannya justru dalam mengikut Kristus, kita akan mengalami penderitaan dan kesulitan yang bisa jadi melebihi sebelum kita mengenalNya. Orang Kristen yang bertobat melalui injil murahan ( tanpa salib ) akan sulit bertahan saat menghadapi goncangan dan kesulitan hidup yang harus dihadapi sebagai murid Kristus. Itulah sebabnya mengapa ditemukan hanya sebagian kecil ( kurang dari 5 persen ) para petobat baru yang dihasilkan dari kebaktian kebangunan Rohani ( KKR ) yang dapat bertahan dan bertumbuh menjadi orang Kristen sejati.
Penginjil besar Charles Finney sering berkotbah selam empat atau lima hari sebelum memberikan sebuah panggilan mimbar ( altar call ). Finney bahkan menyuruh duduk kembali orang-orang yang sambil menangis maju ke mimbar selama ia berkotbah dan berkata " Tolong kembali ke tempat duduk anda sebab anda belum siap ". Itulah sebabnya pengijilannya begitu efektif sehingga 97 persen dari para petobat yang dihasilkannya menjadi pengikut Kristus sejati. Pertobatan bukanlah sekedar ungkapan emosi melainkan sebuah proses perubahan pikiran.
Mengapa saya menghubungkan tentang mengasihi Tuhan ( Kekristenan sejati ) dengan proses pertobatan ? Sebab bagaimana cara seseorang bertobat dan dilahirkan baru sangat menentukan kualitas rohaninya Secara ilmiah dan ilmu pengetahuan ditemukan bahwa para ibu yang dibius ( agar tidak merasakan sakit ) saat melahirkan bayi dengan metoda biuslah dan tariklah maka anak-anak yang dilahirkan akan lebih mudah tercandu obat-obat terlarang. Demikian juga secara rohani maka mutu pertobatan dan kelahiran baru seseorang sangat mempengaruhi kualitas kehidupan rohaninya. Seseorang yang mengalami pertobatan sejati melalui injil sejati biasanya akan tumbuh menjadi orang Kristen radikal yang mengasihi Tuhan. Sebaliknya seseorang yang bertobat melalui injil murahan yang penuh kemudahan akan menjadi orang Kristen suam-suam yang tidak akan bertahan menghadapi kesulitan dan badai kehidupan.
Tujuan saya menulis artikel ini bukan untuk melemahkan iman anda kepada Tuhan tetapi justru untuk menguatkannya. Saya berdoa melalui tulisan ini agar bagi anda yang belum mengalami pertobatan sejati bisa mengalami pertobatan tersebut sehingga anda bertumbuh menjadi orang Kristen sejati yang radikal dan mengasihi Tuhan melebihi segalanya. Saya percaya saat ini Roh Tuhan sedang dicurahkan dan bekerja di bangsa ini. Mari datanglah Roh Kudus dan bakar kami dengan api kekudusanMu !

Mengenakan Manusia Baru

Oleh:Sunanto
Ef 4:22-24 “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”.
Menurut C.S. Lewis, jika kita mau mengijinkan Allah untuk bekerja dalam hidup kita maka Ia akan membuat orang-orang yang paling lemah dan paling kotor di antara kita untuk menjadi seorang pria atau wanita yang mulia, makhluk abadi yang menyenangkan, berseri-seri yang senantiasa memancarkan energi, sukacita, hikmat dan kasih yang begitu rupa.
Proses untuk berubah menjadi manusia baru ini memang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama serta kadang bisa sangat menyakitkan. Tetapi bila kita telah berhasil mencapainya maka kita akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini. Inilah jenis kehidupan yang dijalani oleh Yesus Kristus ketika Dia menjalani hidup sebagai manusia di dunia ini. Dan tujuan utama Yesus datang ke dunia ini adalah untuk menularkan kehidupan baru ini kepada setiap orang yang bersedia untuk menjadi muridNya.
Kata Kristen sendiri berarti Kristus kecil sehingga seharusnya setiap orang Kristen memiliki tujuan untuk berubah menjadi serupa dengan Kristus.
Untuk dapat mengenakan manusia baru ini terlebih dahulu kita harus mengalami proses kematian terhadap manusia lama kita.Proses kematian terhadap manusia lama inilah yang membutuhkan waktu dan melibatkan rasa sakit. Kita mungkin tidak dapat mempercepat waktu dari proses tersebut tetapi kita bisa memperlamanya. Oleh karena itu kita harus memiliki respon yang benar dalam menghadapi setiap ujian dan pencobaan yang Tuhan ijinkan untuk mentransformasi hidup kita menjadi manusia baru yang berkarakter. Kita harus memiliki hati yang taat dan mau berubah sehingga tidak mempersulit pekerjaan Roh Kudus untuk menyempurnakan diri kita.
Lewis mengatakan jika anda ingin hangat maka anda harus dekat dengan api, jika anda ingin basah maka anda harus masuk ke dalam air. Jika anda menginginkan sukacita, kedamaian dan kuasa maka anda harus mendekat atau bahkan masuk ke dalam sesuatu yang memilikiNya. Salah satu tujuan Tuhan mengijinkan krisis terjadi dalam hidup kita adalah supaya kita mendekat kepadaNya. Tuhan bukannya senang melihat anak-anakNya menderita tetapi seringkali sebagai manusia kita cenderung menjauh dariNya saat semuanya terasa nyaman. Kenyamanan hidup biasanya akan mendorong kita menjauh dari Allah tetapi krisis hampir pasti membuat kita mencari Allah. Oleh sebab itu Yesus mengatakan sangat sukar bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah sebab orang yang memiliki kekayaan materi cenderung untuk mengandalkan kekayaannya sehingga mereka sulit untuk belajar bergantung kepada Tuhan.
Mungkin ada diantara anda yang membaca tulisan ini sedang mengalami kebosanan dalam menjalani hidup anda sebagai orang Kristen. Saya juga pernah mengalami perasaan jenuh tersebut dimana doa dan pembacaan Firman rasanya menjadi hambar. Saya berdoa agar melalui tulisan ini Tuhan memberikan kerinduan di hati anda untuk berubah menjadi manusia baru sehingga hidup Kekristenan anda tidak akan sama lagi. Sekali lagi, untuk memperoleh kehidupan baru yang dipenuhi sukacita dan damai sejahtera itu tidaklah mudah dan instan. Hanya orang-orang yang bersedia membayar harga dan bertekad untuk tidak mundur sesulit apapun rintangan yang harus dihadapi dalam perjalananlah yang akan berhasil masuk ke dalam tanah perjanjian. Kita tidak dipanggil untuk mati di padang gurun melainkan untuk masuk ke tanah perjanjian dan menikm ati hidup yang berkelimpahan !

Menghakimi

Oleh: Frank Malingkas
Matius 7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Ayat diatas mungkin sudah lengket diotak kita, tapi sangat sukar bagi kita untuk menerapkannya. Ternyata ada kelompok-kelompok dilingkungan anak-anak Tuhan pengikut Yesus saling menghakimi satu sama lain contohnya :
  1. Kelompok Adventis pemuja hari sabtu (sabat) merasa lebih benar dan merasa lebih layak masuk sorga karena mereka menguduskan hari sabtu dan tidak makan daging babi atau makanan haram lainnya sementara kelompok anak-anak Tuhan lainnya akan masuk neraka karena tidak menguduskan hari sabtu dan segala makanan (haram/halal) disikat.
  2. Kelompok Pemuja nama Tuhan adalah Yahwe dan kelompok pemuja nama Tuhan adalah Yesus mengecam kelompok lain sebagai sesat karena menyebut nama Tuhan tidak seperti mereka, ada yang menyebut nama Tuhan adalah Allah ada yang menyebut Debata (orang batak) dll, padahal katanya nama Allah dan Debata itu nama dewa yaitu sesembahannya orang kafir dan katanya lagi bagi Tuhan nama itu sangat menjijikkan.
  3. Kelompok baptis selam merasa lebih berhak masuk sorga karena batisannya diselam dibandingkan kelompok lain yang dibabtis hanya dengan percikan.

Mungkin masih banyak lagi kelompok-kelompok seperti diatas yang merasa diri lebih benar dibanding orang lain yang belum di sebutkan disini (kalau ada tolong tambahkan). Kelompok tersebut merasa lebih taat Firman Tuhan dengan menujukkan referensi ayat-ayat dari alkitab yang ditafsirkan sendiri agar sesuai dengan keinginannya agar lebih yakin dalam menyalahkan bahwa kelompok lain itu salah dan mereka yang benar.
Betulkah perbuatan manusia dapat membuat perjalanan kita kesorga lebih layak? Mari kita simak dan artikan sendiri ayat alkitab berikut ini (Efesus 2 : 8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.)
Kelompok Adventis dan kelompok sejenisnya, umumnya terbentuk dan didirikan pada kira-kira tahun seribu delapan ratusan, dan sepertinya mereka ingin membawa missi untuk meluruskan ajaran Kristen yang katanya sudah tersesat/disesatkan. Tersesat karena hari pengudusan sabtu sudah menjadi hari minggu ditambah penyimpangan-penyimpangan lainnya.
Benarkah orang-orang Kristen yang menyebut dirinya anak-anak Tuhan Yesus yang ada didunia ini sudah tersesat dan tidak sesuai lagi dengan alkitab sebagaimana yang diklaim oleh kelompok-kelompok tersebut. Alkitab berkata dalam Mazmur 14:2 (TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.) Kalau benar Tuhan memandang anak-anak manusia termasuk anak-anak yang tekun mencari Tuhan dan beribadah kepada Tuhan, tentunya tak akan dibiarkanNya anak-anakNya tersebut tersesat dan berbuat sesuatu yang salah sampai 1800 tahun baru mengutus kelompok adventis dan kelompok lainnya untuk meluruskan.
Sebagai ilustrasi : Saya mempunyai anak-anak saya sendiri dan sangat mengasihi mereka demikian pula mereka mengasihi saya, mereka tau nama saya karena saya memberitahukannya. Tetapi apabila mereka setiap hari memanggil saya dengan panggilan Anjing atau babi apakah saya akan berdiam diri dan membiarkannya terus demikian, tentu tidak. Saya mengajarkan mereka memanggil saya Papah dan itu enak buat saya. Demikian pula dalam tingkah laku sehari-hari apabila mereka selalu melakukan hal-hal yang tidak berkenan dihati apakah saya akan membiarkan, tentu saya akan mengajarkan hal-hal yang baik yang bermanfaat untuk mereka. Tentang nama Tuhan, bahasa adalah ciptaan Allah untuk digunakan oleh manusia jadi kalau kita memanggilnya dengan nama Allah atau Debata atau yang lainnya asal yang kita maksud adalah Tuhan Yesus Kristus tidak masalah buat Dia. Demikian pula Pengudusan hari sabtu atau minggu atau jumat atau hari apapun kalau kita maksudkan untuk memuliakan Allah tidak masalah.
Hari sabat dimata orang Yahudi sangat dikultuskan demikian juga bagi orang adventis, tetapi banyak kali Tuhan Yesus dan muridnya sengaja melanggar hari sabat : murid melanggar hari sabat (Mat 12:1-17); sabat dibuat untuk manusia dan tdk sebaliknya (Mark 2:27,28); Yesus menyembuhkan pada sabat (Mark 3:2) Perempuan Bungkuk disembuhkan pada sabat (Luk 13:11,12); orang lumpuh disembuhkan dikolam Betesda pada sabat (Yoh 5:8); orang buta disembuhkan dikolam siloam pada sabat (Yoh 9:14). Disini Yesus sengaja mengajarkan kepada kita untuk tidak mengkultuskan hari sabat, tapi agar kita muliakanlah Tuhan setiap hari.
Didalam hal usaha meluruskan. Hati-hati dengan tipu muslihat Iblis musuh kita yang sebenarnya, jangan sampai kita dengan tidak sadar diperalat karena dia selalu mempunyai maksud tersembunyi didalam setiap pekerjaan kita. Maksud kita memang baik, tetapi maksud siiblis selalu jahat siiblis ingin mengambil setiap kesempatan didalam usaha kita untuk meluruskan tersebut untuk memperlihatkan bahwa Allah tidak berdaya untuk mengajar, memelihara dan menyelamatkan anak-anakNya. Sampai-sampai dibiarkannya sekian generasi anak-anak tersebut yang dengan setia dan tekun berdoa kepada Tuhan terhilang dan tersesat selama 1800 tahun. Inilah missi iblis dibalik usaha manusia untuk meluruskan ajaran yang salah tersebut, Iblis ingin memperlihatkan bahwa selama 1800 tahun Allah telah tertidur artinya Allah tidak maha kuasa karena tidak kuasa menahan kantuknya artinya Allah itu lemah, dan tidak mampu melindungi anak-anakNya.
Marilah kita saling mengasihi dan saling mendoakan, jangan menghakimi satu sama lain. Bagi yang menguduskan hari sabtu/sabat jalankanlah untuk kemuliaan Tuhan tidak perlu menghakimi orang lain tersesat dan akan masuk neraka. Bagi yang tidak makan babi dan makanan haram lainnya lakukanlah bahwa itu baik untuk diri sendiri jangan beranggapan bahwa yang memakan babi dan makanan yang haram menurut mereka akan masuk neraka. Bagi yang menyembah Tuhan dengan nama Yahwe atau Yesus lakukanlah itu tetapi jangan beranggaapan orang yang memanggil Allah atau Debata atau yang lainnya masuk neraka. Bagi yang dibabtis selam lakukan lah itu tetapi jangan merasa lebih benar dibandingkan orang yang dibabtis percik.

Menjadi Kokoh dalam Tuhan

Oleh: Jafar Thamrin
Bacaan: Yeremia 17:7-8
Ada banyak orang membaca Yeremia 17:7-8, mereka langsung pada ayat 8, di mana orang tersebut langsung membahas akibatnya, bukan mencari sebabnya. Kenapa saya katakan begitu, karena mereka langsung menggambarkan atau beralegoris bahwa orang percaya harus menjadi pohon yang kokoh yang mampu bertahan pada musim kemarau dan merabatkan akar-akar ke ujung-ujung batang air serta menghasilkan buah pada musimnya. Benarkan demikian? Bagi saya, itu tidak salah hanya kurang pas saja. Saya memberikan contoh sebuah kalimat “Saya makan, maka saya kenyang” Kenapa saya kenyang, karena saya makan. Dari kalimat ini kita bisa melihat ada kata sebab dan ada kata akibat. Di mananya? Sebab ada di kata "makan" sedangkan akibat ada di kata "kenyang". Mungkin Anda akan bertanya, apa hubungannya dengan ayat di atas? Bagi saya ada hubungannya.
Yeremia 17:7-8 berbicara juga sebab–akibat. Ayat 8 berbicara akibat, sedangkan ayat 7 adalah sebabnya. Jadi untuk menjadi orang percaya yang kokoh bagaikan pohon setidaknya orang tersebut memiliki 2 hal yang terdapat pada ayat 7 yang merupakan sebab:
1. Mengandalkan Tuhan.
Mengandalkan kata dasarnya adalah Andal. Jadi semacam tempat untuk bergantung apapun bentuknya. Jadi orang tersebut tidak bisa apa-apa tanpa hal itu. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa orang percaya harus menggandalkan Tuhan, tanpa Tuhan atau di luar Tuhan ia tidak bisa apa-apa.
2. Menaruh Pengharapan kepada Tuhan.
Menaruh mempunyai pengertian adalah melepas atau memberi pada sesuatu yang kita percayai, dengan kata lain kalau kita Taruh sesuatu di situ kita percaya tidak akan hilang. Jadi orang percaya setidaknya sangat percaya atau amat percaya akan sesuatu yang akan datang. Pengharapan mampir sama dengan iman, bahwa percaya sekalipun belum melihat sesuatu. Karena bukan pengharapan kalau sesuatu itu sudah dapat atau sudah dilihat.
Kalau orang percaya sudah memiliki 2 hal tersebut di atas barulah akibatnya, ia diibaratkan pohon yang ditanam di tepi aliran air. Sehingga ia menjadi orang yang kokoh di dalam Tuhan serta menjadi kuat dalam menghadapi tantangan hidup.

Menjaga Kekudusan

Oleh: Daniel
1 Tesalonika 4:1-8
Nasihat supaya hidup kudus
4:1 Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. 4:2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. 4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4:4supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, 4:5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, 4:6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. 4:7Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 4:8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.
Ada 3 alasan penting mengapa kita harus hidup dalam kekudusan.
  1. Hidup dalam kekudusan menyenangkan Tuhan (ayat 1-2)
  2. Hidup dalam kekudusan adalah kehendak Tuhan (ayat 3-6)
  3. Hidup dalam kekudusan adalah panggilan Tuhan (ayat 7-8)
Matius 5:16 "Demikianlah hendaknya Terang-MU bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
GBU ALL..

Menyalahkan

Penulis : Diana Sihotang
1 Yohanes 1:9
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Di tahun terakhirku di Sekolah Menengah Atas, aku mengendarai mobil abangku. Suatu hari aku menabrak sebuah kotak pos. Aku tahu bahwa aku harus mengakuinya. Namun, aku justru menyalahkan ayahku karena tidak memperbaiki mobilku. Ketika aku sudah kuliah, aku menabrak mobil baru temanku saat mundur sehingga bagian bemper mobilnya penyok. Lagi-lagi aku bukannya mengaku, melainkan justru mempersalahkannya. Dan beberapa tahun lalu, aku berbohong demi kebanggaanku.
Aku bertekad untuk memperbaiki karakterku sesuai dengan gambar Kristus. Roh Kudus membantuku melihat bahwa ketidak-jujuranku adalah penghalang bagi pertumbuhan rohaniku, dan akhirnya aku mengakuinya. Menerima tanggung jawab atas perbuatanku memang sangat memelukan, merendahkan dan menakutkan. Dan itu benar.
Allah lebih mementingkan jiwa kekekalan kita dari pada kesenangan atau kebanggaan sementara. Aku melihat bahwa kesediaanku untuk bertanggung jawab adalah tanda pendewasaan iman. Kita selalu bisa menemukan dalih untuk membenarkan kekeliruan; tetapi bila kita menyalahkan orang lain karena tingkah laku kita sendiri, kita telah memindahkan damai Allah dari dalam hati kita.
Pengakuan membuka hati kita bagi damai Allah.

Menyerah di Sungai Yabok

Penulis : Sunanto Choa
Kej 32:28 Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang."
Kisah pergumulan Yakub melawan Allah di sungai Yabok merupakan salah satu kisah seru yang terdapat di Alkitab. Namun kisah ini juga mengandung sebuah pelajaran penting yang dapat diaplikasikan dalam hidup kekristenan kita. Sama seperti Yakub, kita semua satu waktu akan dibawa pada "Sungai Yabok" yang berarti tempat pengosongan/pelepasan.

Yabok juga melambangkan kematian terhadap diri sendiri dimana kita berhenti berusaha mengandalkan kekuatan diri kita. Allah ingin membawa kita ke sebuah tempat dimana kita akan mati terhadap diri sendiri dan mati terhadap cara lama kita yang mengandalkan kekuatan diri sendiri.
Beberapa tahun belakangan ini saya menemukan adanya sebuah trend pekerjaan baru dalam dunia bisnis yaitu pekerjaan motivator.
Hal ini juga ditandai dengan banyaknya terbit buku-buku motivasional yang kemudian menjadi best seller. Juga banyak bermunculan perusahaan-perusahaan baru yang bergerak di bidang pengembangan sumber daya manusia.
Saya tidak bermaksud mengatakan semua yang berkaitan dengan hal itu salah dan tidak berkenan kepada Tuhan tetapi kita harus waspada sebab bila tidak, kita bisa terjebak ke dalam pengajaran new age yang inti pengajarannya adalah meng-allahkan manusia.
Salah satu motivator terkenal di Indonesia mengajarkan sebuah prinsip tentang perlunya kerja keras dan ketekunan dengan memakai perumpamaan sebuah besi batangan bila diasah terus bisa menjadi sebuah jarum
Saya sangat setuju perlunya kerja keras dan ketekunan dalam hidup ini tetapi hal itu harus dilakukan dalam roh penyerahan kepada Allah bukan dengan memakai kekuatan sendiri.
Perbedaannya memang sangat tipis sehingga banyak anak Tuhan yang tidak menyadari bahwa bila tidak hati-hati memakai prinsip itu kita bisa keluar dari jalur yang berkenan kepada Allah.
Sekali lagi saya tidak ingin menghakimi mereka yang terlibat dalam dunia permotivatoran tetapi saya hanya ingin mengajak kita waspada untuk tidak menerima sebuah pengajaran tanpa mengujinya dengan kebenaran Alkitab.
Alkitab mengajarkan kita untuk tidak mengandalkan kekuatan diri kita sendiri melainkan harus mengandalkan Tuhan sepenuhnya.
Hidup kerohanian saya berubah 180 derajat di tahun 1998 saat Tuhan melawat saya lewat buku berjudul ´Roh Kudus´ karangan Billy Graham.
Salah satu prinsip yang mengubah hidup saya dari buku itu adalah prinsip penyerahan hidup kepada Tuhan. Oswald Chambers mengatakan salah satu hal yang paling sulit dilakukan orang Kristen adalah menyerah.
Natur dosa yang kita miliki membuat kita cenderung untuk memakai kekuatan sendiri daripada menyerah untuk mengandalkan Allah.
Oh mungkin di mulut kita bisa saja berkata "aku mengandalkan Tuhan" namun pada kenyataannya kita tetap saja berusaha memakai kekuatan sendiri sehingga Tuhan akan mengijinkan kita mengalami kegagalan demi kegagalan supaya dengan itu kita belajar untuk mengandalkanNya. Dibutuhkan waktu dan penderitaan untuk membuat kita benar-benar menyerah kepada Tuhan sepenuhnya.
Saya dengan yakin berani mengatakan pernyataan ini sebab saya sendiri mengalaminya secara nyata. Oleh karena itu sama seperti Yakub yang diijinkan mengalami krisis dan situasi terjepit baru bisa menyerah kepada Allah maka seringkali Tuhan juga memakai metoda yang sama.
Kadang tampaknya Tuhan seperti menjebak kita dalam situasi yang begitu terjepit sehingga kita tidak punya pilihan lain kecuali menyerah.
Pernahkah anda mengalami hal yang seperti itu ? Saya sering mengalaminya.
Penulis kitab Ibrani mengatakan karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya (Ibr 11:21).
Di akhir hidupnya Yakub memberkati keturunannya dan menyembah kepada Allah sebab orang ini yang dahulunya dikenal sebagai penipu telah diproses dan diremukkan sedemikian rupa oleh Allah. Inilah tujuan Tuhan memproses dan meremukkan hidup kita yaitu agar hidup kita dapat menjadi berkat dan memuliakan Tuhan.
Proses pengisian dalam diri kita selalu diawali terlebih dahulu dengan proses pengosongan.
Hanya melalui penyerahan hidup maka kita dapat memperoleh kehidupan yang sejati.
Prinsip ini mungkin berbeda dengan banyak prinsip yang pernah anda terima sebelumnya namun inilah prinsip yang Alkitabiah.
Berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan menyerah untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya itulah kunci untuk memperoleh kehidupan yang sejati !

Menyerah?? No!!

Oleh: Sujud Prasetio
Baca: Matius 8:1-4
Kita tahu bahwa semua orang mempunyai persoalan, terlepas dari persoalannya yang berbeda. Hal itu wajar dan tentunya kita semua setuju. Tetapi jika hal itu wajar, mengapa ending dari setiap persoalan yang dialami setiap orang berbeda? Ada orang merasakan sukacita karena telah menyelesaikan persoalan dengan baik. Tetapi ada juga orang yang mungkin sampai mati tidak dapat menyelesaikan persoalan, bahkan meninggalkan persoalan bagi anak cucunya.
Perikop yang kita baca menceritakan ada seorang yang sakit kusta, tetapi pada akhirnya ia disembuhkan dan terhindar dari ancaman kematian. Tetapi Alkitab menceritakan hanya satu orang saja yang sembuh. Saya percaya ada banyak orang kusta pada waktu itu. Tetapi kenapa hanya satu saja yang sembuh? Malam hari ini kita belajar dari si kusta yang mengalami kemenangan atas sakit penyakitnya. Apa yang dapat kita pelajari dari orang kusta ini.
  1. Punya pengharapan

Sakit kusta pada waktu itu merupakan sakit yang mengerikan. Umat Israel percaya sakit itu adalah sakit kutuk akibat dosa. Sakit yang tidak ada obatnya. Seperti mayat hidup. Tinggal tunggu waktu mati saja. Pada waktu saya percaya orang yang sakit kusta, bukan hanya rasa sakit fisik yang dirasakan. Secara fisik ya memang sakit. Mental pun juga sakit. Seorang yang sakit kusta harus dipisahkan, harus dijauhkan dari komunitas masyarakat yang ada, termasuk dijauhkan dari keluarganya. Saudara dapat bayangkan jika menemui orang-orang yang disisihkan, dianggap beban bagi keluarganya sendiri. Tetapi yang luar biasa orang ini tidak putus asa. Pada waktu itu Tuhan Yesus sudah ngetop sebagai seorang penyembuh. Saya percaya pengharapannya timbul oleh karena ia mendengar tentang Yesus. Sebuah ilustrasi yang saya kutip dari sebuah web, mungkin kita sering dengar. Dua ekor katak tak sengaja terjatuh ke dalam sebuah tong yang penuh dengan krim. Mereka berenang ke sana ke mari dengan panik dan berusaha melompat keluar dari tong itu. Akhirnya, ada seekor katak yang kelelahan dan menyerah. Dia mengeluh, "Tidak ada gunanya berenang ke sana ke mari!" Dia mengayunkan kakinya untuk terakhir kalinya, lalu tenggelam dalam keputusasaan. Dia gagal. Tinggal sang katak yang lainnya. Dia benar-benar berbeda. Dia tidak mau menyerah. Selalu ada jalan keluar, pikirnya. Dia terus berenang, mempertahankan hidupnya. Dan suatu kejutan baginya. Krim itu perlahan tapi pasti mulai berubah. Ya, berubah mengeras dan menjadi mentega. Akhirnya, dia mendapat pijakan yang kuat dan melompat keluar dari tong itu. Ah, jika saja Anda tidak menyerah dan terus berusaha, Anda pasti bisa menendang masalah itu keluar dari kehidupan Anda.
Pengharapan itu penting. Baik buruk perjalanan hidup seseorang ditentukan oleh keyakinan akan sebuah pengharapan. Pengharapan adalah keyakinan tentang apa yang belum ia lihat, tetapi yakin akan mendapatkannya. Ada pepatah berkata seperti ini: "di dalam kehidupan ini tidak ada yang pasti, tetapi kita harus bisa memastikan apa yang kita ingin raih atau kita rindukan." Pengharapan bicara tentang optimisme. Orang yang optimis menciptakan helikopter, tetapi orang yang pesimis menciptakan parasut. Bagaimana agar kita menjadi orang yang berpengharapan?
Tetap fokus, tetap yakin Tuhan tolong, tetap percaya bahwa ada sesuatu yang indah Tuhan sediakan bagi orang-orang yang mempunyai pengharapan. Ibrani 9:19a berkata: "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita ..."
  • Mau bayar harga

  • Orang ini berani bayar harga. Ada tantangan bagi orang kusta ini untuk mendekati Yesus (Baca Im. 13:45-46). Resiko yang harus dia terima. 1) Penolakan. 2) Dilempari batu. Dan itu sah-sah saja. Hukum Taurat mengajarkannya. Tetapi orang ini tidak mempedulikan apa yang dialaminya. Yang ia pikirkan "jika aku bertemu Yesus aku pasti sembuh." Saya percaya banyak orang kusta pada waktu itu penuh pertimbangan yang besar, jika harus datang ke kerumunan orang, dan akhirnya ia memilih untuk tetap berdiri di tempatnya. Dan hasilnya dia tidak mengalami perubahan. Dan menyerah dengan sakit kusta yang sedang mengancam hidupnya. Orang yang disembuhkan Yesus adalah orang yang mau bayar harga, agar hidunya mengalami perubahan yang lebih baik lagi. Grace Murray Hopper berkata: "Kapal akan aman bila berada di pelabuhan, tetapi kapal tidak diciptakan untuk itu."
    Banyak orang ingin mengalami perubahan hidup yang lebih baik lagi, tetapi takut bayar harga, tetap berdiri di tempat, tidak mau berubah, tidak mau mencoba, tidak mau bergerak. Jangan harap saudara akan diberkati lebih lagi. Saudara malas berdoa, malas baca firman, malas beribadah, gereja membutuhkan dana saudara pelitnya setengah mati, jangan harap Anda diberkati Tuhan. Tidak ada perubahan, kecuali Anda sendiri yang mengawali gerakan. Tuhan menghargai orang-orang yang berusaha.
  • Tidak menyia-nyiakan kesempatan berjumpa dengan Yesus

  • Ketika mendengar ada Yesus langsung datang menghampiri. Bagi dia itu adalah kesempatan untuk merubah nasib hidupnya. Ada berapa banyak di antara kita orang-orang percaya yang menyia-nyiakan saat-saat bersama dengan Tuhan. Waktu ibadah minggu jalan-jalan bersama keluarga hanya untuk refreshing. Hal yang prinsip dan penting bagi hidup ditinggalkan. Sementara ia ngotot berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan. Bukankah Tuhan akan memberkati orang-orang yang memprioritaskan Allah? Ada kesempatan berdoa tetapi tidak mau berdoa? Dapatkah saudara bayangkan ada berapa banyak orang percaya di dunia yang tidak dapat bebas memuji Tuhan, beribadah?
  • Berserah total

  • "Jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan Aku." Kata tahir. Benar-benar sembuh. Kalau luka kita obati sembuh tetapi ada bekasnya. Tetapi tahir yang disebut di dalam perikop ini adalah tahir yang sembuh total tanpa ada bekasnya, dibuat baru kembali. Begitu sempurna. Ada sikap hati yang luar biasa yang dipunyai orang ini. Dan Alkitab mencatat satu-satunya orang yang demikian. Saya akan tunjukkan buat kita semua. Kalau saudara perhatikan perjalanan Yesus di dunia yang dicatat dalam Injil, saudara akan menemukan begitu banyak orang yang sakit maupun kerasukan datang kepada Yesus meminta pertolonganNya. Semua mereka meminta dengan cara yang sama. Memuji Yesus Mesias, Yesus Anak Allah, Yesus Anak Daud, endingnya berkata sembuhkan aku, tolong aku, bahkan ada yang memaksa (Perempuan Siro-Fenisia). Saya tidak berkata itu salah. Saya hanya mau sampaikan sikap hatinya yang berbeda. Dia menyerah. Perhatikan kata-katanya yang disampaikan kepada Yesus. (di Taman Getsemani, Yesus pun berkata kepada Bapa-Nya, "kalau Bapa mau"). Tidak semua apa yang kita doakan Tuhan jawab. Tetapi itu adalah saat-saat Tuhan ingin kehendak-Nya yang jadi. Mari kita belajar berserah, karena hanya Tuhan yang tahu yang terbaik bagi kita. Tuhan memberkati.

    Mereka Perlu Kasihmu!

    Penulis : Andrias Hans
    Seekor gajah jantan yang dikenal jinak dan popular di Thailand yang bernama Ngathongthae, pada hari kasih sayang 14 Pebruari 2002 lalu, kawin berkali-kali. Gajah ini dikawinkan dengan gajah betina di kamp yang terletak 80 Km utara Bangkok. Pada hari yang sama, gajah ini dibawa ke kebun binatang untuk dikawinkan dengan tiga gajah betina. Kebetulan pada hari kasih sayang ini persis masa kawin gajah di Thailand.

    Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, ada serbaneka cara orang merayakan valentines day. Peristiwa gajah di atas menunjukkan bahwa kasih sayang digambarkan dengan cara kawin mawin. Apakah kasih sayang identik dengan perkawinan semacam itu? Atau kasih sayang harus dinyatakan dengan ciuman massal yang baru-baru ini berlangsung di sebuah kota di luar negeri? Tentu pertanyaan hakiki yang perlu ditanyakan dalam merayakan hari Valentine tahun 2004 ini adalah bagaimanakah kasih sayang yang sejati kepada sesama manusia? Mari kita menelusurinya lebih jauh.
    Asal-usul hari kasih sayang
    Dalam buku Selamat Umur panjang, Pdt. Andar Ismail menjelaskan tentang asal-usul hari kasih sayang. Ia menjadi Uskup di Terni, Italia yang menyayangi dan disayangi banyak orang. Khotbah-khotbahnya sering berpokok tentang kasih sayang Tuhan Yesus kepada semua orang tanpa membedakan kedudukan atau asal-usulnya.
    Ketika kaisar Claudius menghambat umat Kristen, Pastor Valentine ditangkap, namun dari dalam penjara di mana ia dianiaya, Pastor Valentine mengingat semua orang yang dicintainya. Dalam sel penjara tiap hari ia membuat kartu bergambar hati dengan ucapan aku cinta padamu. Kartu-kartu itu dikirim satu persatu kepada tiap orang yang dicintainya.
    Semua orang di dalam penjara itu juga merasakan kasih sayang Valentine. Mereka menempelkan kartu bergambar hati di sel mereka masing-masing. Setelah valentine dihukum mati, orang-orang di penjara itu melanjutkan kebiasaan membuat dan mengirimkan kartu bergambar hati.
    Kemudian hari gereja menyatakan Valentine sebagai seorang santo. Dan pada tanggal 14 Pebruari dirayakan sebagai hari Santo Valentine, sebab menurut tradisi yang dapat dipercaya, ia lahir pada tanggal 14 Pebruari tahun 270.
    Makna sejati kasih sayang
    Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah bagaimanakah kasih sayang sejati terhadap sesama manusia itu? Manifestasinya seperti apa?
    Bila seseorang telah memberikan pinjaman uang kepada sesamanya yang sedang terlilit hutang, apakah dapat dikatakan ia telah mengasihi dengan kasih yang sejati? Bila ia memberikan tumpangan kepada seorang pengemis tua, apakah ia telah memberikan kasih yang sejati kepada orang itu? Dan apakah boleh dikatakan seseorang telah berbuat kasih yang sejati ketika ia menyerahkan sebagian atau seluruh hartanya bahkan nyawanya kepada temannya?
    Tentu naif ketika kita menafikan begitu saja perbuatan-perbuatan di atas sebagai bukan tindakan kasih. Harus diakui, itu adalah perbuatan kasih yang layak dipuji dan diteladani. Namun demikian karya kasih tadi tak cukup disebut itu adalah kasih sejati. Karya kasih sejati terhadap sesama manusia tidaklah sekadar memberikan kepada seseorang materi atau mencukupkan kebutuhan-kebutuhan lahiriah belaka, sandang, pangan, dan papan, dan lain sebagainya bahkan termasuk pengorbanan nyawa sekalipun yang tidak jelas motivasi pengorbanan itu. Karena tak sedikit orang mengorbankan dirinya untuk orang lain dengan alasan yang sangat naif.
    Demikian kata firman Tuhan : Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (I Korintus 13:3).
    Kasih semacam apakah yang dimaksud oleh rasul Paulus dalam ayat ini? Tentu kita akan mengacu pada definisi kasih yang Paulus utarakan pada ayat 4 bahwa kasih itu sabar kasih itu murah hati dst
    Tetapi jika kita cermati lebih dalam maka kita menemukan makna kasih yang sesungguhnya. Kata kasih di sini dipakai kata Yunani Agape, sebuah kata yang Paulus gunakan dalam ayat 3 tadi. Agape berarti kasih yang paling tinggi dan paling mulia , yang melihat suatu nilai tak terbalas pada obyek kasihnya. Atau kasih Allah yang diberikan kepada manusia tanpa melihat apapun latar belakang orang yang menerima kasih itu. Agape berarti Allah menerima manusia yang penuh dosa itu menurut apa adanya dia.
    Benar sekali bahwa kasih Allah kepada manusia tidak pernah berkesudahan
    (I Korintus 13:8) bahkan sampai orang ke neraka sekalipun, Allah tetap kasih adanya.
    Kita dapat memahami bagaimana kasih Allah kepada manusia berdosa yang sengaja melanggar dan melawan DIA.
    Kejadian 3:6-9,21
    Apakah tindakan Allah terhadap manusia pertama yang telah jatuh ke dalam dosa?
    Setelah manusia berbuat dosa, mereka menjadi malu dan tertuduh karena mereka telanjang. Mereka berusaha sendiri untuk menutupi ketelanjangan mereka dengan membuat cawat dari daun pohon ara. Ini merupakan suatu usaha yang sama sekali tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk mereka, lalu mengenakannya kepada mereka.
    Jelas bahwa Allah memberikan pakaian kepada manusia pertama, itu menyatakan anugerah dan kasih sayang Tuhan kepada manusia yang terjatuh dalam dosa.
    Perhatikanlah bahwa upaya untuk menutupi rasa malu mereka akibat dosa, ada binatang yang harus disembelih, ada penumpahan darah, dan ada korban. Firman Tuhan berkata : Tanpa penumpahan darah ,tidak akan pernah ada keselamatan. Tindakan penyembelihan binatang menunjukkan pada korban yang akan digenapi kemudian oleh Yesus Kristus Anak Domba Allah yang disembelih di atas kayu salib demi menebus manusia dari pasar budak dosa sehingga mereka beroleh kebebasan dan keselamatan jiwa yang kekal.
    Yohanes 3:16 dan Roma 5:6,8,10
    Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita betapa besar kasih Allah terhadap manusia berdosa. Tidak ada kasih yang terlebih besar dari kasih Allah di dalam Yesus Kristus ini. Syair pujian yang sangat indah berkata : Sekalipun langit adalah kertas, samudera sebagai tinta, dan setiap pohon adalah batang pena, dan setiap orang adalah penulisnya, maka itu tidak mampu melukiskan betapa besar dan dalamnya kasih Allah kepada dunia ini
    Sesungguhnya saudara dan saya tidak pantas menerima kasih Allah sebab kondisi kita sangat tidak layak untuk dikasihi, kita penuh dosa dan berseteru dengan Allah. Namun itulah Allah yang penuh kasih. DIA mengasihi pada saat kita sebenarnya tidak layak untuk dikasihi. Dan kasih Allah kepada kita adalah kasih yang sejati sebab menyentuh hal yang paling hakiki dalam hidup manusia yaitu kasih yang menyelamatkan jiwa kita secara kekal.
    Dari sinilah saya memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa kasih yang sejati adalah kasih yang menyelamatkan jiwa manusia dari dapur api neraka yang mematikan.
    Suatu omong kosong belaka jikalau seseorang mengatakan, ia mengasihi sesamanya sementara ia sama sekali tidak menyentuh substansi hidup orang itu yakni keselamatan jiwanya.
    Karena itu apa yang dikemukakan oleh Rasul Paulus sangatlah tepat dan indah: Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, (yaitu kasih yang menyelamatkan jiwa seseorang di dalam Yesus Kritus) sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (I Korintus 13:3).
    Tuhan bersabda pula: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? (Markus 8:36). Tindakan memberikan materi kepada sesama kita yang membutuhkan adalah tindakan terpuji dan harus diapresiasikan. Seharusnyalah itu merupakan gaya hidup anak-anak. Namun jikalau pemberian itu hanya berhenti sebatas pemberian materi tanpa memberikan yang terbaik, memberikan kasih yang sejati yaitu Injil itu, maka sesungguhnya kita tidak mengasihi mereka dengan kasih yang sejati.
    Kenapa Injil itu harus diberikan kepada sesama , saudara, tetangga, keluarga, dan sahabat-sahabat kita? Karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman (Roma 1:16-17).
    Kini telah jelas kepada kita bahwa harta yang paling berharga dalam hidup manusia adalah nyawanya. Orang yang paling berbahagia dan paling berharga dalam hidupnya adalah orang yang nyawanya telah diselamatkan dari kebinasaan kekal oleh Tuhan Yesus Kristus. Sekali lagi kita diingatkan Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? (Markus 8:36).
    Tindakan kita selanjutnya?
    Kasih kita yang sejati kepada sesama kita, orang tua kita, saudara kandung kita, keluarga kita, rekan-rekan kita, dan tetangga kita, dan orang-orang lain yang berjumpa dengan kita setiap hari adalah dengan membagikan Injil keselamatan dalam Yesus Kristus sembari melayani kebutuhan mereka secara jasmani (Matius 9:35-38). Supaya mereka yang merasakan kasih Allah dalam hidup kita akan mendengar dan menerima-NYA serta mengalami keselamatan kekal.
    Banyak pendapat yang beredar saat ini yang mengatakan bahwa amanat agung Tuhan Yesus bukan yang tercatat dalam Matius 28: 18-20 melainkan Matius 22:37-39 yang menurut mereka ini adalah amanat cinta kasih yang lebih utama dari pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-KU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu
    Pemikiran ini timbul karena mereka mengidap obesitas toleransi terhadap Saudara-Saudari yang berbeda keyakinan, kalau tidak mau disebut ketakutan memikul salib. Perlu diingat bahwa memberitakan Injil adalah amanat Tuhan yang harus dijalankan dan pemberitaan Injil itu bukan dilakukan atas dasar paksaan atau dengan manuver-manuver yang arogan. Pewartaan kabar baik selalu didorong oleh kasih kepada Kristus yang telah berkorban bagi kita dan kasih terhadap sesama yang sedang menuju ke jurang kebinasaan abadi. Motivasi penginjilan seperti inilah yang membuat Tuhan Yesus tersenyum manis pada kita.
    Perbedaan pandangan di atas, mana yang merupakan amanat agung kiranya tidak dijadikan sumber polemik yang berkepanjangan, tanpa manfaat apa-apa. Kedua ayat Alkitab tadi tak pantas dipertentangkan, karena mereka saling melengkapi dan memiliki keutuhan yang sangat kokoh. Karena manifestasi kasih yang sejati kepada sesama manusia harus tercermin melalui tindakan pekabaran Injil yang membawa sesama kita kepada pengalaman keselamatan kekal di dalam Tuhan Yesus Kristus.
    Tugas kita sekarang adalah terus dan teruslah membagi kasih melalui pemberitaan Injil. Karena ada berita buruk bagi orang Kristen sejati bahwa setiap hari ada 48.000 jiwa yang meninggal dunia dalam suku-suku bangsa yang belum mengenal Yesus Kristus. Dan kita tahu bagaimana nasib orang yang mati di luar Kristus ; sangat mengerikan !
    Refleksi hidup kita kekinian!
    Pertanyaan yang sangat perlu kita renungkan saat ini adalah: Seandainya Bapa sorgawi segera akan menutup buku kehidupan Saudara dan saya satu jam ke depan dari saat ini, dan lonceng kematian akan didentangkan, sudah siapkah kita mempertanggungjawabkan hidup kita kepada-NYA? Apakah hidup kita sungguh berarti bagi-Nya?
    Sekali waktu kelak, pasti DIA akan meminta pertanggungjawaban Saudara dan saya berkaitan dengan amanat agung-NYA. Apakah yang telah kita lakukan terhadap sesama kita yang sedang menuju ke jurang kebinasaan kekal? Bermasabodohkah atau berpedulikah kita?
    Sebelum saya mengakhiri renungan ini, permisi tanya; masih adakah di antara Saudara yang masih gemar bernikmat ria dengan kasih yang murahan? Sudahkah Saudara menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu? Ingatlah, engkau tak boleh berlama-lama dalam kondisi mengerikan itu. Segeralah berdamai dengan Allah dengan mengakui segala dosa-dosamu. Lalu undanglah Yesus bertahkta di dalam hidupmu. Jadikanlah Dia Tuhan dan Juruselamatmu, maka kasih dan damai sejahtera yang sejati memenuhi hidupmu selamanya.
    Bagikanlah berita kasih di hari valentine ini karena itulah manifestasi kasihmu yang sejati kepada sesamamu. Mereka sangat memerlukan kasih Kristus yang kini ada padamu. Maukah engkau membagikannya?
    Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut (I Yohanes 3:14b).
    Selamat merayakan hari valentine dengan membagikan kasih sejati dari Kristus, amin!

    Meresponi Penderitaan

    Oleh: Sujud Prasetio
    Baca: 2 Timotius 2:1-13
    "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus." 2 Timotius 2:3
    Seorang dramawan Inggris berkata: "Hidup ini memang tidak berjalan seperti yang kita ingini, tetapi inilah satu-satunya hidup yang kita miliki." Dengan kata lain betapa pun hidup ini tidak menyenangkan, inilah kenyataan hidup yang manusia miliki. Bahkan Alkitab berkata bagi orang-orang percaya, kita bukan saja dikaruniakan untuk percaya, tetapi juga untuk menderita di dalam Dia (Filipi 1:29). Oleh karena itu Paulus berkata: "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit," (2 Timotius 2:3a). Ayat ini merupakan kata kunci dari bacaan kita hari ini.
    Paulus memberikan tiga profesi dan menghubungkannya dengan penderitaan. Jika di selidiki kita akan menemukan tiga bentuk sikap yang berbeda dari ketiga profesi tersebut. Yang pertama Paulus memberikan gambaran seperti seorang prajurit. Seorang prajurit dipersiapkan untuk menjaga keamanan negara. Harus siap siaga mempertahankan negara jika sedang terancam. Tidak ada jalan lain, kecuali menghadapinya. Dan yang terpenting adalah, seorang prajurit tidak akan bertindak sebelum mendapat aba-aba dari komandannya. Ketika penderitaan datang yang harus kita lakukan adalah menghadapinya. Bagaimana menghadapinya? Sebagai prajurit Kristus kita harus senantiasa patuh kepada Sang Komandan, yang tidak lain adalah Kristus.
    Pada prinsipnya Paulus menasihatkan ketika kita mengalami penderitaan hadapilah dengan bergantung kepada Tuhan. Tidak sedikit orang menjadi sakit jiwa karena penderitaan. Kenapa bisa sampai demikian? Persoalannya, orang-orang tersebut tidak siap terhadap penderitaan. Atau mungkin siap, tetapi tidak mampu menyelesaikannya, karena mencoba dengan kekuatannya sendiri. Oleh karena itu kita harus tetap fokus kepada Tuhan. Agar dalam keadaan apa pun, bersama dengan Tuhan kita siap menghadapinya. Benarkah Anda seorang prajurit Kristus?

    Meresponi Penderitaan (2)

    Oleh: Sujud Prasetio
    Baca: 2 Timotius 2:1-13
    "Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga." 2 Timotius 2:5
    Penderitaan merupakan bagian hidup manusia. Semua kita pernah mengalami penderitaan. Atau mungkin sementara Anda membaca renungan ini Anda sedang dalam penderitaan. Jika kedua-duanya tidak, pasti Anda akan mengalaminya. Kita sering kali mendengar jemaat Tuhan mengeluh ketika datang penderitaan. Atau mungkin kita pun mengalami hal yang sama. Apalagi merasa telah hidup benar di hadapan Tuhan. Pertanyaan yang hampir sama yang sering kita dengar adalah "mengapa?" dan "kenapa?" "Mengapa hal ini terjadi padaku? Kenapa bukan mereka yang jahat?" Barangkali kita tidak pernah mendapatkan jawabannya. Tetapi ada hal yang lebih penting untuk kita kerjakan, daripada sibuk dengan pertanyaan "mengapa?" maupun "kenapa?" Yaitu: menghadapinya, mengalahkannya dan mengatasinya.
    Tepatlah jika Paulus menggambarkan seorang olahragawan dan menghubungkannya dengan penderitaan. Seorang olahragawan bukan saja seorang yang hobi olah raga. Tetapi seorang olahragawan adalah seorang yang dipersiapkan sedemikian rupa untuk menjadi seorang atlet. Seorang atlet harus siap terjun di dalam perlombaan. Dan bukan sekedar ikut perlombaan, tetapi harus dapat memenangkannya. Agar tidak didiskualifikasi sebelum pertandingan selesai, seorang atlet harus mengikuti peraturan yang berlaku di dalam perlombaan tersebut. Oleh karena, itu Paulus berkata:". . . memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga." (2 Timotius 2:5).
    Pada prinsipnya Paulus sedang menasihatkan, ketika mengalami penderitaan, kita tidak cukup untuk menghadapinya seperti seorang prajurit. Tetapi harus terjun di dalam penderitaan tersebut dan kemudian mengalahkannya. Bagaimana caranya? Kita bergumul di dalamnya, tetapi tetap berpegang kepada kebenaran Firman Tuhan. Kenapa demikian? Penderitaan memberikan potensi untuk berbuat dosa. Bahkan penderitaan memberikan potensi untuk kemurtadan. Ada berapa banyak orang percaya meninggalkan imannya, ketika datang penderitaan. Penderitaan memberikan dua pilihan. Kita di kalahkannya atau kita mengalahkannya dan tampil sebagai pemenang. Bersama dengan Tuhan kita hadapi penderitaan. Kalahkan dengan berpegang teguh kepada Firman Tuhan. Maukah Anda menjadi seorang pemenang? Ikuti cara-Nya!

    Metamorfosis

    Oleh: Agung
    "Berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna." (Roma 12:2)
    Bacaan: Roma 12:1-8
    Proses metamorfosa yang mengubah ulat menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu, sungguh suatu perubahan yang mengagumkan. Dari arti katanya, metamorfosa berarti bentuk yang berubah. Namun, yang terjadi pada kupu-kupu bukan hanya perubahan bentuk, tetapi juga gaya hidup. Ulat merangkak, kupu terbang. Ulat makan daun, kupu mengisap madu. Ulat tampak rakus, kupu tampak anggun. Ulat bergerak lambat, kupu terbang cepat. Sungguh berubah total!
    Kata "metamorfosa" itu pulalah yang dipakai Paulus ketika menulis: "Berubahlah oleh pembaruan budimu ...". Paulus ingin jemaat di Roma benar-benar berubah, seperti perubahan yang dialami ulat hingga menjadi kupu-kupu. Gaya hidup, cara pAndang, dan cara jemaat menjalani hidup mesti berubah, sehingga mereka "dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna". Ya, reformasi sejati tidak hanya mengubah forma (bentuk), tetapi juga mengubah apa yang ada di dalam hidup seseorang.
    Hidup kita perlu terus mengalami reformasi. Harus terus bergerak dari ulat ke kepompong. Jadi tidak hanya diam, tetapi seperti pesan Paulus, kita perlu terus mempersembahkan diri sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (ayat 1). Artinya, kita selalu menyadari—dan kemudian membuktikannya pada dunia—bahwa atas kemurahan Allah dan kasih karunia-Nya, hidup kita ini adalah milik Allah.
    Mari terus berubah agar semakin matang di dalam Tuhan. Hingga pada saatnya kelak, kita sungguh berubah menjadi indah dan memberkati setiap orang yang melihatnya.

    Minggu Advent: Menanti dan Introspeksi

    Penulis : Weinata Sairin
    Keunikan dan kekayaan dari sebuah negara Indonesia adalah bahwa berbagai agama hidup dan tumbuh kembang dengan leluasa di dalamnya. Indonesia bukan negara agama yang mengakomodasi ketunggalan agama, tetapi sebuah negara Pancasila yang mengakomodasi kemajemukan agama. Bahkan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Dari pengalaman empirik, relasi antarumat beragama berlangsung dengan baik. Sikap saling menolong, saling respek, saling mengunjungi dan saling mengucapkan selamat pada hari-hari raya keagamaan terwujud dalam keseharian untuk melakukan hal-hal itu, mereka tidak diatur oleh ketentuan perundangan apapun juga; sebab realitas itu merupakan aktualisasi dari nilai-nilai luhur ajaran setiap agama. Bukan hanya lima agama yang hidup di Indonesia seperti yang acap diklaim pemerintah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha.

    Dalam Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 yang berdasarkan Undang-Undang No 3 Tahun 1969 telah ditetapkan berkekuatan hukum sebagai undang-undang, disebutkan bahwa di Indonesia terdapat enam agama yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khong Hu Cu. Penjelasan Penetapan Presiden itu menyatakan "Ini tidak berarti bahwa agama-agama lain seperti: Yahudi, Zararustrian, Shinto, Taoism dilarang di Indonesia, mereka mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat (2) dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau perundangan lain."
    Batas Kewenangan
    Sayang sekali pemikiran bahwa Negara Republik Indonesia hanya mengakui secara resmi lima agama yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha, masih tetap terjadi hingga era reformasi sekarang. Banyak rancangan perundangan yang mencantumkan bahwa hanya lima agama itu yang resmi diakui pemerintah. Pandangan ini bukan saja melampaui batas-batas kewenangan negara, tetapi mengarah kepada pelecehan terhadap agama sebagai institusi yang memiliki dimensi transenden.
    Keabsahan dan eksistensi sebuah agama tidak menjadi bagian dari wilayah kewenangan pemerintah/negara tetapi merupakan otoritas dari agama itu sendiri. Dalam konteks ini adalah amat bijaksana jika pemerintah tidak mengeluarkan ketentuan perundangan yang mengatur hari-hari raya keagamaan, mana yang ritual dan mana yang seremonial. Agama-agama itu sendiri melalui lembaga-lembaga yang mereka miliki yang mempunyai kewenangan dan otoritas tunggal untuk menetapkan hari-hari raya keagamaan mereka dan untuk mengembangkan sikap hidup rukun di antara umat beragama.
    Pancasila, UUD Negara RI 1945 dan ajaran agama telah cukup menjadi referensi utama. Agama telah cukup menjadi referensi utama. Pada waktu-waktu tiga bulan terakhir umat Islam dan Kristen menapaki hari-hari yang amat penting dalam kehidupan keberagamaan mereka. Umat Islam menjalani ibadah Puasa di bulan Ramadhan yang kemudian berpuncak pada Hari Raya Idul Fitri. Ibadah Puasa - seperti yang acap ditekankan Aa Gym tidak hanya menahan lapar dan haus tetapi juga menahan nafsu dari segala perbuatan munkar. Titik kulminasi dari ibadah Puasa adalah Hari Raya Idul Fitri, hari-hari tatkala manusia memenangkan perjuangan melawan nafsu, hari-hari tatkala manusia kembali ke fitrahnya yang suci, sebagai makhluk Allah.
    Umat Kristiani memasuki minggu-minggu Advent (Latin: Adventus= kedatangan), sejak 30 November hingga 21 Desember 2003 yang mencapai klimaks pada Hari Raya Natal 25 Desember 2003. Gereja-gereja di seluruh dunia menetapkan empat minggu sebelum hari Raya Natal sebagai minggu-minggu Advent untuk lebih mempersiapkan umat yang menyambut kedatangan Yesus Kristus. Hadirnya beberapa hari Raya keagamaan secara berangkai amat signifikan maknanya bagi pemantapan spritualitas umat sekaligus bagi penguatan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
    Suasana khusus memang acap mewarnai minggu-minggu Advent ini: suasana hening- reflektif yang dapat bangun karena gereja-gereja menyiapkan liturgi khusus dengan bacaan Alkitab yang secara spesifik mengacu pada pemaknaan Advent bagi pemantapan spritualitas umat.
    Istilah kedatangan pada kata Advent, tidak hanya berarti kedatangan Yesus Kristus pada hari Natal, tetapi sekaligus juga menunjuk pada kedatangan Yesus yang kedua kali (parousia) yang diyakini umat Kristen sebagai akhir dari sejarah. Itulah sebabnya hal mendasar yang tak bisa diabaikan dalam pemberitaan firman di minggu-minggu Advent adalah aspek ganda dari kedatangan Yesus Kristus: kedatangan dalam konteks Natal, dan kedatangan dalam konteks parousia. Ada perbedaan substansial dan diametral antara kedatangan Yesus yang pertama (Natal) dan kedatangan Yesus kedua (Parousia).
    Benang Merah
    Kesederhanaan, kehidupan, ketidakberdayaan, ketidakmampuan menjadi benang merah yang amat mewarnai kedatangan-Nya yang pertama. Minggu-minggu Advent yang diperingati selama empat minggu harus mampu menguak serta mendalami kedua aspek tersebut, sehingga warga gereja benar-benar dipersiapkan untuk memasuki hari Raya Natal dengan sebaik-baiknya.
    Yesus Kristus mendatangi ruang hidup manusia dengan segala kesederhanaan-Nya dan kehinaan-Nya, agar manusia yang arogan, tinggi hati, berlumur dosa menjadi luluh dan luruh dalam pelukan Yesus. Ia memanggil setiap manusia yang berbeban berat untuk bersimpuh di hadapan-Nya dan menerima pembebasan serta penyelamatan.
    Dalam parousia, Yesus datang dalam kemuliaan untuk menjadi Hakim yang Adil bagi seluruh umat manusia. Nada dasar dalam Minggu-minggu Advent sebab itu, adalah menanti dan introspeksi. Suara Yohanes Pembaptis yang lantang dalam mempersiapkan kedatangan Yesus patut didengar kembali: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat" (Matius 3:2). Bahkan Yohanes tanpa ragu berkata keras kepada publik sat itu: "Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan ba-gimu! Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Lukas 3: 13,14b)
    Sebenarnyalah Minggu-minggu Advent menjamah ramah relung-relung kehidupan kita, kita tidak sekadar menanti dan menanti. Tetapi juga introspeksi.dalam bahasa Yohanes Pembaptis: bertobat, jangan menagih lebih banyak dari yang seharusnya, jangan merampas dan memeras, cukupkanlah dengan gajimu!
    Selamat merengkuh minggu Advent !
    Sumber: Suara Pembaruan Daily

    Mumpung Sempat

    Oleh: Lukas Tjipto Hudianto

    Bacaan: Galatia 6:10

    Kehidupan di zaman modern ini membuat kita sukar menemukan orang yang punya kepedulian dengan orang lain. Semua orang punya "gaya bebek" (orang di kampung berkata: cuek bebek). Sifat bebek memang cuek. Salah satu, kalau lewat nyelonong aja, tidak memikirkan apa yang dilewatinya.
    Galatia 6:10 mengingatkan kita bahwa hidup ini singkat, dan dalam singkatnya hidup kita itu, gunakanlah untuk berbuat baik. Orang percaya harus menjadi Garam dan Terang bagi dunia. Jangan sampai kita sebagai orang Kristen, yang sudah percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi, malah kalah dengan orang yang tidak percaya. Bacaan dari Lukas 10:30-35 tentang Imam dan orang Lewi yang kalah telak dengan seorang Samaria akan menjelaskannya.

    Lukas 10:30-35
    [30] Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. [31] Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. [32] Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. [33] Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. [34] Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. [35] Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

    Mumpung sempat, mari kita berubah supaya seimbang. Selain itu, marilah kita berbuat baik bukan karena menginginkan pujian bagi diri sendiri saja, namun terlebih itu, memuliakan Bapa kita yang di Surga. Supaya nama Yesus semakin ditinggikan. Gbu.

    Nafsu

    Penulis : Otto
    Keutamaan manusia terletak dalam pengendalian nafsunya. Raja Solaiman berkata:"Mereka yang dapat mengendalikan nafsunya, lebih besar dari seorang pahlawan". Seorang pahlawan atau orang yang terkenal karena melakukan hal hal yang besar belum tentu dapat mengendalikan nafsunya. Nafsu merupakan bagian dari keinginan manusia. Keinginan yang berlebihan biasanya disebut nafsu. Pembunuhan, zinah, penyakit, korupsi, merupakan akibat nafsu. Nafsu amarah merupakan awal dari dendam dan pembunuhan, nafsu sex, merupakan awal dari perzinahan, nafsu makan, merupakan sumber penyakit, dan nafsu akan uang merupakan akar korupsi.

    Pada dasarnya nafsu yang ada dalam diri manusia merupakan bagian untuk memenuhi kehidupan. Nafsu makan baik untuk pertumbuhan anak-anak dan orang yang sakit, nafsu sex baik bagi kehidupan rumah tangga yang harmonis, nafsu amarah penting untuk memerangi hal yang tidak adil bagi masyarakat, nafsu akan uang baik supaya giat mencari napkah keluarga.
    Nafsu perlu dikuasai oleh manusia, seperti mulut kuda yang dikekang oleh besi. Nafsu yang tidak dapat dikuasai akan menghasilkan akibat-akibat yang negatip. Nafsu amarah yang bergejolak bebas, menghasilkan dendam kesumat dan berakhir pada pembunuhan. Nafsu makan yang gelojoh, menumpuk timbunan lemak dalam darah yang mengakibatkan peredaran darah tidak lancar, dan timbulah berbagai penyakit, jantung, strock, diabetes, dll. Nafsu sex yang tidak terkekang merusak kehidupan seseorang, merusak kehidupan keluarga, dan masyarakat, karena akan ada wanita/pria yang ditinggalkan, anak-anak yang terlantar, dan penyebaran AIDS dimasyarakat. Nafsu akan uang yang serakah, merupakan akar kejahatan. Orang menjadi gila harta dan kedudukan tanpa memikirkan cara mendapatkannya, dengan uang yang berlebih orang dapat membeli wanita, dan bahkan membunuh orang.
    Nafsu menguasai manusia sejak manusia jatuh dalam dosa, sampai saat ini jika kita melihat kehidupan sehari-hari dimana banyak terjadi tindakan kriminal, berbagai jenis penyakit, kehidupan kawin-cerai, dan korupsi merajarela, merupakan tanda bahwa manusia telah diperhamba oleh nafsunya. Nafsu yang berlebih merupakan perangkap iblis terhadap manusia, sejak semula iblis menginginkan kerusakan dan kejatuhan manusia. Hawa dibangkitkan keinginannya oleh iblis agar menjadi seperti Tuhan dengan memakan buah larangan. Daud dibangkitkan nafsu sexnya oleh iblis ketika melihat wanita telanjang yang bukan istrinya. Nafsu yang berlebihan merupakan jerat iblis yang harus diwaspadai.
    Karena keberadaan manusia yang berdosa dan lemah, manusia tidak dapat mengalahkan nafsunya, ia tidak dapat mengendalikan nafsunya, yang ada adalah pemanjaan nafsu. Sudah berharta cukup, manusia ingin memliki harta yang lebih, nafsunya membangkitkan sifat serakah. Sudah memiliki istri, ingin wanita yang lain, nafsunya mengumbar sex yang taktertahan. Sudah tahu makanan yang sehat untuk tubuh, masih saja memakan makanan yang lezat dan berlemak tinggi karena merasa mampu melakukannya. Nafsunya memanjakan kelezatan makanan sepanjang tenggorokannya yang akan menimbun penyakit dihari tua.
    Keutamaan manusia terletak dalam pengendalian nafsunya.Raja Solaiman berkata:"Mereka yang dapat mengendalikan nafsunya, lebih besar dari seorang pahlawan". Seorang pahlawan atau orang yang terkenal karena melakukan hal hal yang besar belum tentu dapat mengendalikan nafsunya. Penyakit Aids menandakan pelepasan nafsu sex yang tak tertahan, Peperangan memanjakan nafsu kekuasaan dengan membunuh banyak orang. Korupsi dimana-mana, menandakan nafsu uang yang tidak terkendali. Dan bila kita pergi ke rumah sakit, banyak yang masuk rumah sakit karena tidak dapat menahan selera makannya mengakibatkan diabetes, jantung, stroke, kanker.
    Dapatkah manusia menguasai nafsunya ? jawabanya terletak dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Sepanjang manusia menyerahkan keinginanya kepada Tuhan, maka manusia akan melahirkan perbuatan-perbuatan Roh, bukan perbuatan-perbuatanya sendiri. Roh senantiasa melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik, sabar, mengasihi, damai, sejahtera, yang merupakan sifat-sifat Roh, dan bukan sifat-sifat manusia. Roh akan mengendalikan nafsu kita, bukan iblis, Roh yang akan menunjukkan keinginan yang baik untuk kita lakukan, bukan keinginan yang tak terkendali. Keinginan-keinginan manusia senantiasa melahirkan nafsu-nafsu yang tidak terkendali yang akhirnya merusak. Keinginan-keinginan Roh melahirkan nafsu-nafsu yang membahagiakan manusia.

    Natal dan Gembala

     Oleh: Philip Kuncoro
    Bacaan: Lukas 2:8-20
    Berita natal pertama secara mengejutkan justru diberitakan kepada para gembala, Yunani= Poinmen, bukannya kepada para bangsawan. Siapa mereka itu?
    (a) Gembala domba di Palestina adalah kelompok masyarakat sederhana yang hidup terpencil (saat bertugas mereka tinggal di alam terbuka, terpisah dari komunitas), tetapi mereka dikenal sebagai orang-orang yang setia menjalankan tugasnya (perhatikan kalimat: ”...menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”) -- Lukas 2:8b
    (b) Tugas utama mereka antara lain:
    - Menjaga domba dari serangan pencuri dan binatang predator (pemangsa).
    - Selain itu juga merawat domba yang terluka.
    - Mencari domba kalau ada yang hilang atau tersesat.
    - Mencarikan padang rumput dan sumber air untuk makan-minum dombanya.
    Pertanyaan yang menarik untuk diajukan adalah kenapa berita natal diberitakan kepada mereka?
    (a) Ini menunjukkan bahwa kedatangan Kristus pertama-tama ditujukan pada mereka yang terpinggirkan dan terlupakan.
    (b) Natal adalah penghiburan. Jadi, mereka yang pekerjaannya: menghibur, merawat, mengasihi mahkluk lain sekarang diganjari Tuhan juga dengan penghiburan dan lawatan kasih.
    (c) Karena tuntutan tugas, gembala harus selalu berjaga-jaga. Natal adalah untuk mereka yang ”berjaga-jaga” dan bukan untuk yang berleha-leha.
    Berita yang Disampaikan Kepada Para Gembala
    Berita natal kepada para gembala begitu indah, apa saja itu:
    1. Kesukaan besar bagi semua bangsa -–ayat 10.
    Sukacita bahasa Yunaninya Chara= kegembiraan, sukacita karena mendapat sesuatu. Dan sukacita itu bukan sembarang sukacita, tetapi sukacita yang besar, Yunaninya Megas= agung, besar, luas. Natal selalu berbicara tentang sukacita, karena natal adalah bukti nyata kepedulian Allah kepada umat-Nya – band. Yohanes 3:16. Kalau anak atau istri kita mempedulikan kita saja pasti kita bersukacita. Apalagi ini Allah yang perduli kepada kita! Pasti sukacitanya besar sekali.
    2. Telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus (Mesias) -- ayat 11
    Bagi orang Israel, ini berita besar. Kedatangan Mesias adalah hal yang paling dinanti-nantikan oleh orang Yahudi. Ribuan tahun mereka menunggu sejak janji Tuhan yang pertama tentang Mesias dalam – kej.3:15 (ayat ini sering disebut injil yang pertama= proto evangelium)
    Sosok Mesias ini diyakini mereka akan memberikan 2 hal :
    (a) Pembebasan dari penjajahan.
    (b) Mengembalikan kejayaan Kerajaan Israel raya seperti zaman Daud.
    Kedua harapan di atas ternyata salah, karena Yesus bukan mesias politis tetapi Mesias rohani. Tapi Kristus memberi kita 2 hal juga:
    (a) Pembebasan dari semua dosa dan penyakit -- 1 Petrus 2:24
    (b) Menghadirkan kerajaan Allah (kuasa dan karya Allah) di dunia ini yang menghancurkan kuasa kerajaan iblis -- Matius 12:28; Lukas 11:20
    3. Damai sejahtera di bumi -- ayat 14
    Natal selalu menghadirkan damai sejahtera bagi yang mendengar dan menantikannya. Kata damai, Yunaninya Eirene= damai, tenang/teduh, keutuhan. Eirene meliputi berbagai bidang kehidupan:
    (a) Keadaan di mana tidak ada perang dan malapetaka.
    (b) Keadaan damai dan selaras antar individu.
    (c) Keadaan yang aman, selamat, makmur dan sejahtera.
    (d) Suatu keadaan ”nyaman”/damai yang akan dialami oleh orang benar dan tulus yang telah meninggal.
    Semua keadaan di atas disediakan Kristus dengan kedatangan-Nya di dunia ini.
    Tanggapan Para Gembala
    Tanggapan kita menentukan berarti atau tidaknya natal bagi kita. Apa tanggapan para gembala dengan berita natal itu?
    1. Mereka percaya -- ayat 15
    Natal hanya bermanfaat bagi mereka yang percaya pada pentingnya peristiwa itu bagi hidup mereka. Bagi yang tidak percaya, peristiwa itu ya seperti peristiwa biasa, ada seorang anak lahir ke dunia. Tidak kurang tidak lebih.
    Pertanyaannya: ”Apakah Anda percaya bahwa berita dan peristiwa natal mampu mengubah hidup Anda?”
    2. Mereka mencari ”bayi natal” -- ayat 16
    Percaya mereka diwujudkan dengan tindakan mencari di mana bayi itu berada!
    Ingat: iman tanpa perbuatan itu mati -- Yakobus 2:26
    Para gembala mencari dengan penuh semangat. Kalimat, ”lalu mereka cepat-cepat...” menunjukkan betapa semangatnya mereka itu. Orang yang tidak semangat tidak mungkin cepat-cepat, tetapi letoy-letoy.
    Winston Churchill (Mantan Perdana Mentri Inggris berkata: ”Succes is ability to go from failure to failure without loosing Your enthusiasm.” Artinya: sukses adalah kemampuan untuk melewati kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan antusiasme (semangat) Anda.
    Kesimpulannya: Natal adalah berita sukacita dan damai sejahtera bagi semua orang (terutama mereka yang terlupakan dan terpinggirkan). Namun tidak semua orang bisa menikmati natal. Tangapan kita terhadap berita dan peristiwa natal menentukan apakah natal itu berarti bagi kita atau tidak. Kalau ingin berarti, pelajarilah respon para gembala.

    Nikolaus dan Bileam

    Oleh: Andre Widodo
    Shalom,
    Dalam Wahyu 2:6 dan Wahyu 2:15, disebutkan tentang ajaran-ajaran Nikolaus. Wahyu 2:6. "Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci."
    Wahyu 2:15. "Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus."
    Wahyu 2:16. "Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini."
    Apakah ajaran Nikolaus itu? Mari kita bahas bersama.
    NIKOLAUS Berdasarkan Study Bible New American Standard Bible dijelaskan bahwa Nikolaus adalah salah seorang jemaat Tuhan pada gereja mula-mula. Alkitab menjelaskan di Kisah 6:5 bahwa Nikolaus adalah seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia, dan ia menjadi jemaat Kristus. Artinya Nikolaus adalah seorang pemeluk agama Yahudi yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan.
    AJARAN NIKOLAUS Sebagai salah satu jemaat yang ditugaskan untuk melayani, Nikolaus mengajarkan juga Firman Tuhan. Tetapi terbukti bahwa ajaran Nikolaus sangat dibenci oleh Tuhan Yesus.
    Wahyu 2:6. "Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci."
    Nikolaus ternyata adalah seorang penyesat! Ajaran Nikolaus adalah ajaran yang mentolerir budaya/tradisi/kebiasaan paganisme. Nikolaus mengajarkan tidak apa-apa beribadah kepada Yesus tetapi juga melakukan tradisi/praktek/budaya paganisme.
    Perlu diketahui bahwa salah satu budaya paganisme saat itu adalah seperti "makan persembahan berhala", "perzinahan","penyembahan kepada patung", dan hal-hal lainnya.
    Ajaran-ajaran Nikolaus ini, tanpa disadari oleh anak-anak Tuhan telah meracuni anak-anak Tuhan pada saat itu, bahkan praktek-praktek tersebut masih sering terlihat hingga saat sekarang ini.
    Contoh : Masih ada para pengikut Kristus yang pergi ke dukun, terlibat dalam perzinahan, percaya feng shui, percaya ramalan, terlibat dalam okultisme, terlibat dalam penyembahan kepada patung, penyembahan kepada manusia dan lain-lain.
    Kompromi-kompromi dengan budaya paganisme di dalam diri anak-anak Tuhan ini dimulai melalui Nikolaus. Anak-anak Tuhan menjadi penuh toleransi, bahkan yang lain tidak mau mendisiplinkan mereka yang berkompromi ini.
    Jemaat Efesus menolak mentah-mentah para pengikut Nikolaus ini. Hal ini ditulis di Wahyu 2:6. Tetapi pada jemaat Pergamus, jemaat ada yang bertoleransi dan menjadi pengikut-pengikut Nikolaus ini, Wahyu 2:15.
    AJARAN BILEAM Berdasarkan Study Bible New American Standard Bible dijelaskan bahwa Bileam adalah tukang tenung dari Mesopotamia yang diperintahkan oleh Balak, raja Moab, agar ia mengutuki bangsa Israel. Kisah tentang Bielam ini dapat dibaca di Bilangan 22 - 24, dan Ulangan 23:4.
    Ajaran Bileam adalah ajaran yang mengajarkan toleransi juga terhadap paganisme. Adalah hal yang biasa saja apabila anak-anak Tuhan melakukan perzinahan, karena bisa bertobat dan meminta pengampunan kembali.
    Bileam saat itu menyerukan kepada bangsa Israel adalah tidak apa-apa bagi mereka untuk memakan makanan persembahan berhala dan berzinah dengan bangsa-bangsa di Kanaan. Bileam adalah contoh dari seorang guru yang mempengaruhi orang untuk meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala.
    Berikut ini adalah ilustrasi Bileam ketika ia mengajarkan kesesatannya.
    RENUNGAN Arti kata Kristen adalah pengikut Kristus. Jika kita menyebut diri kita pengikut Kristus, maka sudah selayaknya kita meneladani apa yang Kristus ajarkan.
    1 Petrus 1:14-16. "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."
    Tuhan Yesus sendiri melalui wahyu yang diberikanNya kepada Yohanes di pulau Patmos mengatakan agar kita yang masih mempraktekkan ajaran Nikolaus dan ajaran Bileam ini utuk bertobat. Jika tidak Tuhan sendiri yang akan memerangi mereka.
    Wahyu 2:16. "Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini."
    Tuhan Yesus memberkati.

    Obrolan Dua Butir Telur

    Dua butir telur sedang berdiskusi mau jadi apa mereka kelak. Telur pertama berkata dia ingin menjadi tiram...dia hanya diam dalam air dan makanan akan datang dengan sendirinya seiring dengan arus laut. Dia tidak perlu bersusah payah mengambil keputusan dan inisiatif juga tidak perlu bertanggung jawab terhadap siapapun.
    Telur kedua tidak sependapat...dia ingin menjadi seekor elang dia bebas kemanapun dia ingin pergi dan bebas mengambil keputusan serta menentukan jalan hidupnya sendiri. Seekor elang tidak mengikuti arus lautan tapi bisa mengatur dan kadang kala melawan arus angin.
    Dari cerita dua butir telur tadi...kira2 mau jadi yang mana??? Tiram yang cuma pasrah dan merasa puas dengan keadaan sekarang...atau seekor elang yang bebas menentukan hidupnya dan pergi kemana saja dia suka.
    Seorang pemenang akan berkata "Memang tidak mudah...tapi BISA!!!" Tapi seorang pecundang akan berkata " Memang bisa...tapi tidak mudah"

    Ombak

    Oleh: Maghdalena
    Suatu hari saya ke sebuah pantai, di sana saya duduk di tepi karang. Saat itu saya sedang mengalami masalah dan mengalami pergumulan, di sanalah saya ingin menyendiri.
    Sewaktu saya duduk, datanglah deburan ombak, lalu memecahkan karang di hadapan saya.
    Karang itu mengalami pecahan sedikit demi sedikit. Lalu saya merenung, ombak itu hanyalah berupa kumpulan air laut yang bergerak, namun dia dapat menerjang apa pun di hadapannya, walaupun itu karang sekalipun, seolah dia mempunyai energi yang besar.
    Namun jika dia tidak ada angin, dia hanya aliran air laut biasa yang tidak mampu menerjang apa pun; dia dapat menerjang semuanya itu hanya jika angin membantunya.
    Lalu saya mendapati kesamaan kehidupan manusia dengan ombak tersebut.
    Setiap manusia dapat mengatasi masalah apa pun, namun itu hanya terjadi jika Tuhan mendukungnya.
    Sama seperti ombak yang dapat menerjang apapun jika angin membantu membuat gelombang yang besar dan kuat.
    Di situlah saya menyadari kekuatan saya sebagai manusia tidaklah ada apa-apanya jika tanpa dukungan Tuhan dalam membantu saya menghadapi masalah saya.
    Dalam kehidupan ini, kita tidak dapat mengatasi masalah jika kita tidak mengandalkan-Nya. Andalkan Tuhan, dan semuanya akan mengikuti dengan sendirinya.

    Orang Benar Akan Hidup Oleh Iman

    Penulis : Ev. Solomon Yo
    Pendahuluan
    Kita akan merenungkan tentang iman dalam kehidupan Kristen. Tetapi sebelumnya kita perlu diingatkan tentang dua ekstrem yang harus dihindari dalam kehidupan beriman, yaitu:
    • Iman yang penuh semangat, tetapi tanpa pengertian yang benar (iman yang salah). Saat ini Amrozi menjadi perhatian orang banyak. Saat dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan, ia mengacungkan jempol dan tersenyum dengan berani. Orang bertanya apakah itu hanya pura-pura dan ia tidak takut mati? Menurut saya, mungkin saja. Karena ia menganggap ia berkorban demi membela keyakinannya dan menganggap diri sebagai martir. Orang bisa memiliki iman yang salah dan dengan semangat melakukan pembunuhan yang keji, lalu merasa melayani Allah. Inilah yang dilakukan para pemimpin agama yang menyalibkan Yesus Kristus. Hanya ketika disadarkan akan kebenaran yang sebenarnya mereka baru akan terpukul. Tuhan Yesus sudah memperingati tentang orang-orang yang dengan semangat menganggap diri mereka melayani Allah dengan kuasa besar, tanpa sadar bahwa mereka sedang melawan Allah (Mat. 7:22-23). Semua pelayanan yang kita lakukan menjadi bernilai bila didasari akan obyek iman yang sejati.
    • Iman yang mati/mandul, yaitu iman yang tanpa perbuatan. Jika tidak waspada kita dapat terjebak dalam sikap hidup atheis praktis, kita mengakui percaya kepada Allah, tetapi dalam kehidupan nyata kita, Allah tidak pernah dihadirkan sebagai Tuhan yang berdaulat atas hidup kita.

    Dalam perenungan ini, kita akan membatasi pembahasan pada kehidupan iman orang Kristen yang telah percaya dan mengenal Allah dalam diri Yesus Kristus. Kita akan merenungkan implikasi dari iman seseorang terhadap kehidupannya. Kita akan merenungkan apa artinya ketika seorang Kristen mengaku bahwa ia beriman kepada Allah. Beriman kepada Allah berarti:
    I. Mengakui Allah sebagai Realitas yang paling riil
    Bagi orang Kristen realitas yang seutuhnya bukan hanya yang kelihatan namun juga hal yang tidak kelihatan. Bagi orang atheis hanya yang kelihatan itulah yang riil, seperti uang, kekuasaan, dsb. Tetapi orang Kristen melihat penyangkalan terhadap realitas yang tidak kelihatan merupakan kepicikan dan kebodohan. Siapakah yang dapat melihat kasih? Tetapi kita tidak dapat menyangkal keberadaan kasih, dan melihat perwujudannya yang membuat hidup manusia menjadi lebih indah.
    Walaupun Allah tidak kelihatan, tetapi Ia adalah realitas yang riil. Ini bukan hanya keyakinan orang percaya, tetapi sekaligus merupakan pengalaman mereka. Mereka adalah orang yang sedang berjalan bergandeng tangan bersama Tuhan menuju surga mulia dan kekal. Allah yang tidak kelihatan itulah yang memberikan kepada mereka makna, kekuatan, penghiburan dan pengharapan dalam menjalani kehidupan mereka. Bagi orang beriman realitas yang tidak kelihatan itu lebih berharga daripada yang kelihatan, "karena yang tidak kelihatan itu kekal dan yang kelihatan itu sementara" (2Kor. 4:18). Bahkan lebih dari itu, bagi orang Kristen, Allah adalah Realitas yang paling riil dari semuanya. Dunia dengan segala isinya akan berlalu; kekasih, orangtua atau anak, suami atau istri, saudara atau sahabat, dan semua yang kita banggakan akan berlalu dari kehidupan kita, tetapi Tuhan akan tetap selama-lamanya dan Dia tidak akan pernah berlalu. Camkanlah orang yang paling bodoh justru adalah mereka yang menolak Tuhan karena mereka tidak akan dapat merasakan pengalaman indah bersama Tuhan.
    Sungguh ironis, manusia cenderung merasa Tuhan dan pertolongan-Nya kurang riil karena Ia tidak kelihatan, sebaliknya menganggap manusia itu lebih riil. Manusia cenderung untuk menyembah sesuatu yang kelihatan dan mengabaikan Allah yang tidak kelihatan, seperti bangsa Israel yang ingin melihat Allah secara riil dalam rupa lembu emas. Dan masih banyak hal lain yang mereka lakukan demi membuat Allah riil. Manusia rohani atau orang beriman akan memandang Allah lebih besar daripada semua yang lain; ia akan lebih takut pada Allah daripada kepada manusia dan hal lain. Dengan demikian ia akan memiliki keteguhan dan tidak akan mudah digoyahkan; ia akan dapat melihat pelangi di balik awan yang kelabu, seperti Elisa yang melihat penyertaan Tuhan di tengah kepungan ribuan tentara Aram.
    II. Mengakui Allah sebagai Pribadi yang paling berdaulat dalam kehidupan kita
    Ketika kita berkata percaya kepada Allah [Trinitas], kita mempercayai Dia sebagai Pencipta alam semesta yang memiliki kedaulatan tertinggi atas segala sesuatu dan atas kehidupan kita. Dia satu-satunya Pribadi yang paling besar dalam kehidupan kita, tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Dia, karena itu, kita memberikan penghormatan tertinggi hanya kepada-Nya, dan tidak memberikan penghormatan seperti itu kepada yang lain. Zwingli mengatakan bahwa dosa terbesar manusia adalah memberikan tempat yang hanya diperuntukkan bagi Allah kepada sesuatu yang bukan Allah. Kebenaran ini terus bergema di dalam seluruh Kitab Suci, bahwa Allah harus menjadi yang terutama dalam hidup kita, lebih daripada orangtua, anak, kekasih, harta dan bahkan diri kita sendiri. Dan ingatlah, semua itu Tuhan maksudkan demi untuk kebaikan kita.
    Abraham lebih mengutamakan Tuhan daripada Ishak, anak yang perjanjian yang telah ia nantikan berpuluh-puluh tahun. Ketaatan iman Abraham ini sangat diperkenan oleh Allah, sehing2ga ia diberkati oleh Allah. Menjawab permasalahan rohani pemimpin muda kaya yang menanyakan apa yang harus ia lakukan untuk dapat masuk ke dalam sorga, Tuhan Yesus menantang dia untuk menyerahkan seluruh hartanya, yang telah menguasai hatinya. Setiap kita memiliki berhala yang berbeda, permasalahannya sudahkah kita mengutamakan Tuhan di atas semua yang lain? Ujian yang lain, yaitu apakah Tuhan sudah menjadi yang terutama atau tidak akan kelihatan waktu kita mengalami kesulitan. Jika kita menggerutu kepada Tuhan saat mengalami kesulitan dan penderitaan, berarti kenyamanan kita lebih penting dari pada Tuhan, dan kita belum menjadikan Dia lebih utama daripada apa pun. Ingat, setiap hajaran yang Dia berikan demi untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:10).
    III. Mengakui Allah sebagai satu-satunya sumber berkat dan anugerah yang sejati
    Percaya kepada Allah berarti mempercayai Dia sebagai sumber berkat sejati, bahwa "setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna" datang dari Tuhan (Yak. 1:17). Setan bukan sumber kebaikan, ia hanya memanfaatkan ciptaan Allah yang baik bagi tujuannya yang jahat. Allah adalah satu-satunya sumber berkat sejati. Karena itu, memiliki Tuhan berarti ia memiliki berkat terbesar. Orang demikian akan memiliki kelegaan terbesar karena Allah yang mengasihinya pasti akan mencukupi setiap kebutuhannya. Tuhan mengasihi setiap anak-Nya, setiap orang dikasihi-Nya secara khusus, walaupun setiap orang memiliki situasi hidup yang berbeda, tetapi setiap menerima kasih yang tidak kurang. Karena itu, kita tidak perlu iri hati pada orang lain yang memiliki situasi hidup yang berbeda darinya. Biarlah kita merespons setiap anugerah Tuhan bagi kita dengan sikap yang positif dan beriman.
    Karena Tuhan satu-satunya sumber berkat sejati, maka kita hanya bersandar kepada-Nya dan tidak bersandar pada yang lain. Manusia tidak pernah dapat menjadi tempat pesandaran kita, karena manusia itu rentan dan lemah, karena itu, kita hanya bersandar kepada Tuhan yang mahakuasa dan yang tidak berubah. Manusia dan apa saja dapat dipakai oleh Tuhan untuk memberkati kita. Ketika Allah mau memberkati kita Ia dapat mengutus malaikat untuk memberkati kita, mengirim orang baik untuk menolong kita, atau mengubah niat buruk orang jahat untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, dan ketika semua itu terjadi, kita tetap mengakui tangan Allah yang memberkati kita, dan tidak memberikan kemuliaan kepada yang lain atau memperhamba diri kepada yang lain. Itulah sebabnya firman Tuhan menegaskan, "terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan" (Yer. 17:5). Orang yang memiliki Allah sebagai Tuhannya adalah orang sangat kaya. Tuhan adalah gembalaku yang baik, itu cukup!
    Namun demikian, memiliki semua berkat Tuhan tanpa memiliki Tuhan sang Sumber berkat bagaikan menerima hadiah dari sang kekasih tanpa pernah mengalami persekutuan yang indah dengannya. Jangan merasa puas hanya karena berkat-berkat Tuhan yang telah kita terima, biarlah kita bersukacita hanya jika kita telah memiliki Tuhan sebagai berkat kita yang sejati. Orang yang telah menemukan kesukaan di dalam Tuhan akan mempunyai kerohanian yang stabil, dan tidak mudah diombang-ambingkan lagi oleh perubahan dalam hidupnya. Manusia baru menyadari sukacita memiliki Tuhan ketika segala sesuatu yang menjadi kesukaannya Dia hancurkan terlebih dahulu. Pelajaran ini sering kali terjadi bukan dari inisiatif kita, tetapi inisiatif Tuhan yang memaksa kita untuk mempelajarinya.
    IV. Mengakui Allah sebagai pemberi makna dan penentu arah hidup kita
    Ketika seorang berkata ia beriman kepada Allah berarti ia mempercayai kebenaran Allah dan menjalankan hidupnya sesuai dengan kebenaran yang ia yakini itu atau sesuai de300n imannya itu. Jadi iman bukan sekadar pengakuan di mulut, tetapi penerimaan akan kebenaran Allah yang dihidupi. Banyak orang mengaku percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan baginya (Rm. 8:28) tapi saat penderitaan dan kesulitan datang mereka berpaling dan melupakan Tuhan dan mulai berkompromi dengan dosa.
    Sikap nabi Habakuk patutlah kita teladani. Ia membuktikan imannya justru di tengah penderitaan dan kesulitan yang diungkapkan dalam kitab Habakuk 3. Habakuk bagaikan orangtua yang bersusah hati melihat kebobrokan dan kedegilan hati anaknya yang akan akan membawa mereka kepada kehancuran. Dan semua itu begitu m2enyusahkan hatinya. Tetapi realitas kesusahan yang ia lihat itu tidak menghempaskannya dalam keputusasaan, sebaliknya menantikan kasih setia Tuhan dan pemulihan- Nya setelah penghukuman-Nya, ia dikuatkan untuk menantikan kesulitan dengan sikap berkemenangan, sehingga muncullah ungkapan iman dalam puisi yang begitu indah dalam Habakuk 3., "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah,… namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan…. Allah Tuhanku itu kekuatanku" (Hab. 3:17-19).
    Di tengah dunia berdosa dan kacau ini orang beriman bukan hanya melihat kekacauan yang ada di mana-mana, sebaliknya ia juga melihat Allah yang bertakhta di sorga dan rencana Allah yang pasti berlaku dalam hidup anak-anak-Nya Orang beriman percaya pada providensia Allah, bahwa sejarah berada di dalam tangan Tuhan, dan bahwa Tuhan bekerja untuk mengubahkan air mata kita menjadi mutiara indah, kita dapat melihat di balik setiap kesulitan dalam kehidupan kita ada anugerah Tuhan yang baru setiap hari, kesulitan bukanlah batu sandungan tetapi batu loncatan yang memberi manfaat besar bagi kita.
    V. Orang beriman dikuatkan untuk menjadi alat transformasi di tangan Allah
    Orang yang beriman adalah orang yang mengarahkan pandangannya pada kekekalan, dan mereka bukanlah orang melarikan diri dunia (eskapis) seperti yang dituduhkan oleh Karl Max. Orang yang beriman kepada Tuhan adalah orang yang mendapatkan kekuatan yang besar dalam hidupnya, sehingga hidup mereka dipakai untuk menjadi berkat terbesar bagi umat manusia. Siapakah yang telah memberikan sumbangsih terbaik dan terbesar bagi umat manusia, kecuali mereka yang hidupnya telah diubah dan diberkati oleh Tuhan, sehingga dapat menjadi berkat bagi umat manusia pada umumnya, dan gereja pada khususnya? Orang beriman ialah orang yang menerima kehendak Allah di dalam hidupnya, dan di dalam ketaatan mereka kepada kehendak Allah, mereka mengalami transformasi yang luar biasa untuk mempersiapkan mereka dipakai oleh Allah untuk merubah dunia ini.
    Orang yang mampu untuk merubah dunia menjadi lebih baik adalah orang- orang yang beriman, salah satunya adalah William Wilberforce. Melalui pergumulan rohani yang penuh dengan kepahitan selama 52 tahun akhirnya ia telah berhasil menghapuskan perbudakan di Inggris dengan indah. Apakah kita telah merubah dunia di sekitar kita menjadi lebih baik? Sudahkah diri kita dipakai menjadi alat bagi Dia? Orang yang beriman bukanlah orang yang mudah berputus asa dan mudah menyerah saat melihat realita dunia yang hancur ini tapi mereka justru melihat ada rencana dan kehendak Tuhan yang akan tergenapi di dunia. Anak- anak Tuhan pasti dapat merubah dunia menjadi lebih baik oleh karena itu janganlah kita menjadi takut dan mudah berputus asa sebab Tuhan pasti akan memberikan kekuatan dan kemampuan pada kita. Amin..!!

    Pada Mulanya adalah Kegelisahan

    Yohanes 1:1-9
    • Pada mulanya adalah Kegelisahan; Kegelisahan itu bersama-sama dengan Manusia dan Kegelisahan itu adalah Manusia.
    • Ia pada mulanya bersama-sama dengan Manusia.
    • Segala sesuatu dijadikan oleh kegelisahan manusia dan tanpa kegelisahan tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
    • Dalam Kegelisahan ada hidup dan hidup itu menerangi manusia.
    • Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu berkecamuk utk menguasainya.
    • Datanglah berbagai utusan Manusia;
    • Mereka datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
    • Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
    • Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
    (1Kor 13:4-7).
    "Kegelisahan itu bukan penyabar; Kegelisahan itu tidak bermurah hati; ia pencemburu. Ia memegahkan diri dan cenderung sombong. Ia melakukan yang tidak sopan dan mencari keuntungan diri sendiri. Ia pemarah dan menyimpan kesalahan orang lain. Ia bersukacita karena ketidak-adilan, dan ketidakkebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu sampai kegelisahan tersebut terpuaskan".
    Yohanes 1:14
    Kegelisahan itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat perbuatannya, yaitu kemuliaan yang kita berikan kepadanya sebagai wakil tuhan di bumi, penuh kebaikan dan kebenaran menurut jalan kita.
    Pengkotbah 1:14
    Aku telah melihat segala perbuatan orang di dunia ini. Percayalah, semuanya itu sia-sia, seperti usaha mengejar angin.

    Pawang Ternalem: Kisah Orang Terbuang

    Penulis : Martin L. Peranginangin
    Banyak jalan menuju Roma. Itu ungkapan diketahui oleh banyak orang. Tapi tidak banyak yang tahu siapa yang mula-mula membangun kota Roma. Kisahnya, kira-kira tahun 753 SM, Romulus dan saudaranya Remus membangun permukiman Palatine di Italia. Dan itulah cikal bakal kota Romawi. Bila saja mereka hidup sekarang, pastilah mereka takjub melihat kemegahan kota Roma. Salah satu kota pusat peradaban dunia, pusat pemerintahan, dan belakangan menjadi pusat perhatian dunia berhubungan dengan Vatikan. Menurut sejarah Romulus dan saudaranya adalah orang buangan. Mereka dibuang ke hutan oleh ibunya, dan konon mereka disusui oleh serigala sehingga akhirnya ditemukan dan diasuh oleh Faustulus seorang penggembala sampai akhirnya mereka dewasa.

    Kisah ini hampir sama dengan Pawang Ternalem, kisah anak buangan yang kemudian menjadi pawang (orang hebat) versi drama Karo yang dikarang seniman besar Karo tahun 1980-an, Hendri Bangun. Cerita ini ternyata diangkat dari kisah nyata kehidupan masyarakat Karo tempo doeloe. Cerita itu mengisahkan seorang bayi yang dibuang karena ibunya meninggal ketika melahirkannya. Paradigma orang Karo kala itu, bayi itu harus dibuang, karena bila diasuh maka akan membawa sial bagi keluarganya. Seperti kisahnya Pawang Ternalem, kematian ibunya kemudian disusul oleh ayahnya. Yang akhirnya ia dibuang di bawah kolong rumah (teruh karang). Ia kemudian hidup dan menyusui pada anjing dan babi.
    Cerita rakyat Karo menunjukkan bahwa kelahiran bayi yang membawa kematian ibunya adalah bayi sial. Bayi ini dianggap pembawa malapetaka atau disebut `tendi nunda". Kebiasaan jaman dahulu, bayi- bayi seperti Pawang Ternalem ditaruh disisi mayat ibu nya seolah-olah menyusui pada ibunya kemudian ditelungkupkan sehingga mayat ibu menindih si bayi sehingga ia pun mati. Biasanya hal ini dilakukan secara diam-diam. Atau biasa juga di taruh di pintu gerbang kampung sehingga meninggal terinjak rubia-rubia. Bila pihak keluarga tidak tega melakukan hal yang tergolong `pelanggaran HAM" berat itu, paling- paling si bayi di taruh di teruh karang.
    Tragedi itu sudah berlalu ratusan tahun yang lalu, sebelum terjadi pencerahan yang dimotori oleh para Missionaris yang datang ke Tanah Karo. Suatu ketika, peristiwa ini dialami sendiri oleh Pendeta J.K. Wijngaarden di daerah pelayanannya sekitar tahun 1920-an. Selain sebagai seorang pendeta, ia juga seorang mantri yang sering mengobati orang. Keahlian di bidang kesehatan adalah entry point baginya untuk menarik minat masyarakat belajar tentang agama. Sebab dataran tinggi Karo waktu itu sering sekali diserang wabah kolera dan kusta yang tidak man jur diobati oleh Guru Mbelin. Dalam peristiwa itu, ia melihat bagaimana pihak keluarga tidak mengharapkan kehadiran bayi `sial" itu. Lantas, atas persetujuan semua pihak, Wijngaarden kemudian mengadopsi anak itu lalu ia beri nama Sangap. Akhirnya beberapa waktu kemudian Sangap pun dibabtis, dan terakhir ia kemudian menjadi guru agama. Untuk menanggulangi kasus seperti Sangap, tahun 1925 Rumah Sakit Zending mendirikan panti penitipan bayi. Pada tahun 1926 terdapat lebih 100 orang bayi dirawat ditempat ini. Artinya, banyak sekali terjadi kasus ibu yang meninggal di saat melahirkan.
    Ketika Sangap sang pawang ternalem menjadi guru agama, ia tidak menjadi berita besar seumpama Romulus dan adiknya. Tetapi ia telah menjadi icon perubahan besar bagi orang Karo. Perubahan paradigma! Bahwa ibu yang meninggal tidak ada hubungannya dengan takdir seseorang melainkan faktor kesehatan. Pergolakan itu sangatlah besar. Missionaris b erperang dengan roh-roh para dukun, dan gunjingan orang yang belum memahami tentang itu.
    Suatu kali dalam kehidupan kita, mungkin bertemu dengan situasi yang dialami Romulus atau Sangap dalam versi yang berbeda. Kita merasa terbuang. Diabaikan. Merasa ditentang dari semua penjuru. Seperti lagu Karo, layam-layam si tangke ndoli: "Naktak pe la lit si ngulihisa, mombak pe la lit si nangkapsa". Hidup sepertinya tanpa makna. Namun sebagai orang yang percaya, Tuhan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangannya. Kita ada di dunia karena Tuhan punya rencana yang besar. Bila kita memiliki iman, rancangan Tuhan tidak pernah meleset. Kini kita tidak mengerti, kelak kita disadarkan oleh kenyataan.

    Penderitaan

    Penulis : Dr. Eben Nuban Timo
    KITA semua tahu apa itu penderitaan. Kita bahkan mengalaminya. Orang biasa bilang bahwa penderitaan itu seperti bayangan yang selalu ada sepanjang badan. Kadang-kadang bayangan itu di belakang kita sehingga kita tidak menyadari keberadaannya. Tetapi sering juga bayangan itu membentang di depan. Penderitaan menjadi sangat jelas dan mencekam.
    Penyebab penderitaan juga macam-macam. Ia datang kepada kita dalam bentuk sakit, gagal dalam usaha, diperlakukan secara tidak adil, mengalami duka cita karena kematian orang yang kita kasihi, musibah seperti bencana alam. Singkatnya ada banyak penyebab penderitaan. Apa pun penyebabnya, penderitaan selalu ada. Ia seperti bayang-bayang yang selalu menyertai hidup. Hanya orang yang sudah meninggal saja yang tidak mengenal dan mengalami penderitaan. Atau mungkin juga orang mati menderita. Kita belum tahu itu, karena kita belum mengalami sendiri.
    Minggu-minggu ini umat kristen sedunia memasuki saat-saat perenungan akan penderitaan Kristus dan maknanya bagi mereka. Penderitaan selalu ada. Manusia tidak bisa berbuat lain kecuali menghadapinya. Itu sebabnya adalah penting untuk kita merenungkan makna penderitaan itu. Mungkin kita tidak suka melakukannya. Tetapi karena penderitaan itu merupakan fakta yang tidak terhindarkan, kita harus menerimanya dan menemukan maknanya. Inilah salah satu maksud penetapan perayaan minggu-minggu sengsara alam kalender gerejawi.
    Penderitaan perlu dihadapi dan direnungkan. Ini mengandaikan bahwa ada makna positif yang bisa kita petik dari pengalaman penderitaan. Ya, setidak-tidaknya itulah yang dikatakan oleh Henry Ward Becher. Menurut Becher "menangis itu adalah rahmat". Waktu anak kami lahir di negeri Belanda, seorang dokter datang membawa jarum suntik. Dia mengambil darah dari telapak kaki anak kami. Tentu saja si bayi kesakitan. Ia menangis dengan suara keras. Dokter yang merawat dia berkata: "Gooed..... Goed... doe maar" (Baik-baik. Menangislah). Sambil memandang kepada saya dia berkata: "Bayi yang menangis waktu disakiti adalah tanda bahwa bayi itu sehat. Menangis juga perlu agar paru-parunya berkembang".
    "Menangis adalah berkat." kata Henry Becher. Ini juga berlaku bagi orang dewasa. "Karena dengan air mata Allah membasuh mata kita agar melihat negeri yang tidak kelihatan, negeri yang tanpa air mata." Saya rasa pendapat ini ada benarnya. "Yesus ada bersama dua orang murid waktu mereka di dalam perjalanan ke Emaus. "Tetapi ada sesuatu yang menghalang mata mereka sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia" (Yoh. 24:16). Mereka sangat terpaku pada cara hidup yang lama, pendapat dan pengajaran yang lama tentang hidup, Allah dan kebenaran. Penghayatan mereka tentang hidup bersifat statis dan monoton.
    Sesuatu yang menutupi mata mereka itu terangkat, waktu Yesus berbicara kepada mereka begitu rupa sehingga hati mereka berkobar-kobar, mereka sangat tersentuh dan terharu dengan apa yang mereka dengar itu (Yoh. 24:32). Sangat biasa jadi perasaan berkobar-kobar itu membuat mata mereka basah karena air mata. Akibatnya mereka memperoleh pemahaman yang baru mengenai hidup, Allah dan kebenaran. Mereka memperoleh perspektif baru dalam memahami kitab suci. Mata mereka dapat melihat sesuatu yang baru pada apa yang selama ini sudah mereka lihat. Saya kira Becher benar saat ia berkata : "Menangis adalah berkat karena dengan air mata Allah membasuh mata kita agar melihat negeri yang tidak kelihatan, negeri yang tanpa air mata". Artinya dengan memahami penderitaan, pengharapan akan satu perubahan ke arah yang lebih baik makin dilihat sebagai sebuah kebutuhan. Pengharapan akan hidup yang lain dari keadaan sekarang (status quo) bertumbuh di dalam pengalaman penderitaan.
    Waktu pemerintah sekarang mengumumkan kenaikan harga BBM, reaksi muncul di mana-mana. Banyak orang yang meminta agar harta para koruptor besar disita oleh pemerintah untuk menanggulangi subsidi BBM, proses pengadilan yang adil kepada para koruptor harus menjadi prioritas pemerintah. Penderitaan ternyata mengajar orang untuk memperbaiki keadaan hidup.
    Penderitaan ada manfaatnya. Ia mendekatkan kita kepada Allah, kata seorang pemikir yang lain bernama Harlod A Bisley. "Penderitaan adalah kesempatan yang baik untuk berdoa. "Waktu hujan tidak turun dan tanaman di kebun mulai layu dan ada ancaman kegagalan panen, banyak orang berdoa. Kita cepat-cepat datang kepada Tuhan waktu pencobaan datang."
    Para awak kapal berseru masing-masing kepada Allahnya waktu badai dan angin sakal menghantam kapal mereka. Itu cerita yang kita baca dalam Kitab Yunus. Murid-murid Yesus juga berseru kepada sang guru waktu mereka diserang badai secara tiba-tiba saat mereka sedang berlayar. Bahkan Yesus sendiri juga mengambil waktu khusus untuk berdoa, waktu Dia berada pada situasi yang kritis menjelang kematiannya.
    Akh, bisa saja ada yang tidak setuju. Penderitaan tidak membawa manfaat apa pun bagi manusia. Ia malah membuat umur hidup seseorang menjadi lebih pendek. Lihat saja, gara-gara penderitaan ada banyak orang yang stres, lalu mengalami strok dan kemudian stop. Karena alasan-alasan ini ada ahli yang menolak untuk kita memuliakan penderitaan. Penderitaan harus dilawan sekuat tenaga. Manusia harus berjuang untuk menolak penderitaan yang ia alami.
    Fakta-fakta yang kita catat di atas membuat kita menjadi bijak. Penderitaan itu ada plusnya tetapi juga ada minusnya. Ini memang fakta yang tidak mungkin dipungkiri. Teori macam apa pun tidak akan mampu berkat yang kita peroleh dalam penderitaan menghilangkan sisi negatifnya. Ini kalau kita bicara tentang plus-minus dari penderitaan. Daripada terjerat dalam soal plus minus dan kita tidak pernah akan memperoleh kata sepakat penderitaan dapat juga dilihat dari sisi lain. Sisi lain adalah sebagai berikut.
    Fakta mengatakan bahwa manusia tidak pernah sendirian dalam menghadapi penderitaan. Dalam derita manusia kembali menjadi satu. Penderitaan membuat perbedaan-perbedaan pendapat, konflik, dan perpecahan mencair dengan sendirinya. Orang-orang yang hidup dalam permusuhan dan konflik bisa dengan mudah melupakan konflik dan perbedaan pendapat yang ada di antara mereka.
    Coba kita lihat pengalaman penderitaan yang kita alami sebagai satu bangsa karena bencana alam di Aceh. Belakangan ini Indonesia dikenal sebagai bangsa yang bersekutu dan persaudaraannya tercabik-cabik. Bangsa Indonesia yang satu mengelompok dalam sentimen agama dan suku yang sangat tinggi. Orang Islam menganggap orang Kristen sebagai ancaman. Mereka saling memandang dengan penuh curiga, yang satu menganggap yang lain sebagai kafir atau melakukan syirik.
    Pengelompokan manusia Indonesia menurut agama : Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, orang kafir dan orang bertaqwa hilang dengan begitu saja. Mereka yang berbeda-beda ini justru bergandengan tangan menanggulangi dan menghadapi penderitaan. Ini sungguh satu mujizat. Ya, kalau dalam keadaan suka cita kita cenderung terbelah-belah, maka dalam derita dan duka kita kembali menjadi satu.
    Pengalaman tidak sendiri dalam penderitaan tidak merupakan satu yang bersifat horizontal belaka. Yang tidak kalah penting untuk kita ketahui, juga di dalam minggu-minggu pra paskah ini, adalah kenyataan berikut. Allah juga ada bersama kita. Ia menjadi satu dengan kita yang menderita. Allah ternyata ikut ambil bagian dalam penderitaan manusia. Ia yang kudus dan agung berkenan menyatukan nasibNya dengan nasib manusia.
    Fakta ini kita alami di dalam Kristus. Paulus menulis: "Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-9)
    Penderitaan memang menyakitkan dan menimbulkan luka. Tetapi manusia tidak pernah sendiri menghadapinya. Selalu saja ada teman dan sahabat yang ikut berbela rasa dengan kita memikul duka cita itu. Bahkan Tuhan juga menjadi sahabat kita. Yesus kawan yang sejati, bagi kita yang lemah, tiap hal boleh dibawa dalam doa padaNya. Inilah penghiburan sejati bagi manusia. Ini sumber kekuatan kita menghadapi penderitaan dengan percaya bahwa penderitaan itu bersifat sementara saja. Habis gelap akan terbit terang. Penderitaan ternyata membangkitkan pengharapan.

    Pengampunan yang Sempurna

    Oleh: Fidiakris
    Matius 18:22 Yesus berkata padanya :"Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."
    Demikianlah Tuhan Yesus memberikan perintah kepada setiap umatNya. Karena Tuhan Yesus sudah memberikan teladan-Nya saat diatas kayu salib (Lukas 23: 34 Yesus berkata :"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."). Namun ada 2 hal yang harus kita lakukan dulu sebelum Bapa mengampuni dosa kita :
    1. 1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
    2. Matius 6: 14-15
    Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu. Kadang kita mengalami suatu hal yang membuat kita sulit mengampuni, misalnya orang yang selalu mencari masalah dengan diri kita, orang yang selalu menyakiti hati kita, dan lain-lain, atau orang yang memang sulit karakternya. Saat inilah kita harus mampu bersikap bijak dan meminta pada Roh Kudus untuk memberikan hikmat pada kita.
    Di tengah kesulitan dalam hubungan dengan orang lain, kita tetap harus memiliki integritas yang benar, yaitu tidak menyakiti hati orang tersebut dengan membalasnya oleh sikap/perbuatan/ucapan kita. Karena kalo kita melakukan balasan yang jahat padanya, apakah yang membedakan kita dengan dirinya? Tidak ada.
    Matius 5: 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Matius 5: 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.

    Pengantara

    Oleh: Jafar Thamrin
    Bacaan: Ibrani 7:25
    Kalau ditanya apakah Anda sudah diselamatkan, apa jawaban saudara? Apakah saudara menjawab dengan lantang “Ya saya sudah diselamatkan!”? Namun timbul pertanyaan selanjutnya, Kalau Anda meninggal dan berdiri di hadapan Allah dan Allah bertanya, “Dengan alasan apakah Aku mengizinkan engkau masuk ke Sorga-Ku?" Apakah jawaban saudara? Saya yakin saudara akan menjawab, “Saya sudah berbuat baik, sudah ke gereja, sudah memberi perpuluhan, dll." Tapi Anda pasti bingung kalau saya tanya lagi dengan pertanyaan “Sebaik apa?” Bukankah yang baik itu hanya Allah? Sekuat-kuatnya manusia berbuat baik, di hadapan Allah perbuatan baik kita seperti kain kotor!(Yesaya 64:6-8) Manusia tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri selain dari pada Allah sendiri yang memilih-Nya. Tidak heran ada firman Tuhan yang berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku, tapi Akulah yang memilih kamu.
    Jadi dalam hal ini, Allahlah yang berinisiatif untuk menolong dan menyelamatkan manusia. Dengan cara mengutus Anak-Nya yang tunggal supaya mereka percaya. Kalau orang itu sudah percaya kepada Yesus, maka orang tersebut memiliki yang namanya pembela atau pengantara antara Allah dan manusia. Tanpa Yesus manusia tidak bisa diselamatkan. Yesus sebagai pengantara telah menjadi korban untuk manusia sehingga manusia berlayak di hadapan Allah. Yesus berdiri di antara Allah dan manusia. Nah kalau saudara bertanya kepada saya, "Apakah saudara yakin diselamatkan”? Jawaban saya, ya! Karena saya percaya kepada Yesus yang menjadi pengantara antara saya dengan Allah. Jadi percayalah pada pengataramu yaitu Yesus Kristus.

    Pengharapan di Tengah-Tengah Pergumulan Hidup

    Oleh: Musa Karisoh
    Di jaman akhir saat ini, kebutuhan hidup manusia semakin meningkat. Banyak cara yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satunya adalah merampok. Hal ini tidak bisa dibendung lagi, karena manusia melakukannya mengatasnamakan kebutuhan. Sebagai orang percaya,pergumulan yang dihadapi tentu tidaklah mudah, karena pergumulan orang percaya, bukan hanya soal kebutuhan hidup saja, melainkan bagaimana orang percaya menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
    Dalam Yohanes 3:16, dikatakan karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, maka Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal agar setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal. Kalau Allah saja, bisa mengorbankan AnakNya bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, maka Allah pun sanggup menolong setiap anak-Nya yang dalam kesulitan. Caranya adalah dengan Allah menaruh pengharapan di dalam diri setiap anak-anak-Nya. Mengapa Allah melakukan hal ini? Karena Allah mengasihi umat-Nya, terlebih lagi manusia yang Ia ciptakan.
    Allah rela dari kaya menjadi miskin, agar supaya setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang tadinya miskin menjadi kaya dalam "ANUGERAH ALLAH. "
    Pengharapan adalah salah satu anugerah Allah. Dalam pergumulan hidup umat percaya ada anugerah pengharapan. Jangan mengeluh, bersungut-sungut ataupun mulai tidak percaya kepada Allah, disaat Allah belum lagi menjawab Doa kita, melainkan tetap berharap, bahwa Allah punya rencana yang terbaik dalam hidup umat percaya di tengah-tengah pergumulan hidup. Rencana Allah tidak dapat terselami, maka itu sebagai umat percaya, tetap berharap dan percaya kepada Allah, bahwa setiap orang yang berharap kepada Allah tidak akan dikecewakan-Nya. Di dalam pengharapan umat percaya terdapat makna yang luas. Makna pengharapan itu adalah:
    1. Allah tidak pernah berubah.
    2. Allah yang menciptakan umat Tuhan, dan yang menolong umat Tuhan adalah Allah yang tidak berubah, baik pertolongan maupun kasih-Nya, yang tidak dapat memisahkan umat Tuhan dengan Tuhan.
    3. Janji Allah tidak pernah berubah.
    4. Allah adalah Allah yang berjanji dan melaksanakan janji-Nya. Contoh:Abraham, akan mendapat anak janji Allah kepada Abraham. Usia tua Araham akan mendapat anak? tidak mungkin. Kalau diterima dengan akal tidak mungkin itu terjadi, tetapi kenyataannya adalah di usia tua pun Allah menggenapi janji-Nya, yaitu Abraham dan Sara mendapat seorang anak,yang bernama Ishak. Jadi, Allah tidak mungkin mengingkari janji-Nya. Bila Ia yang membuka pintu maka tidak ada yang dapat menutupnya. Janji Allah melalui Firman-Nya adalah kekal bagi umat-Nya.
    Tetap berharap dan percayalah kepada Tuhan setiap saat, jangan bimbang, ragu, ataupun tidak percaya kepada-Nya.

    Pensil

    Pembuat pensil itu menaruh pensil yang baru seleai dibuatnya ke samping sebentar, sebelum ia memasukkannya ke dalam kotak. Ada 5 hal yang perlu kau ketahui, katanya kepada pensil, sebelum kau kukirim ke seluruh dunia. Hendaknya kau ingat selalu pesanku berikut ini, dan jangan sampai lupa. Yakinlah kau bakal berhasil menjadi pensil yang terhebat.
    • SATU: Kau bakal bisa melakukan banyak hal besar, tetapi hanya bila kau mau membiarkan dirimu dipegang dalam tangan seseorang.

    • DUA: Kau akan menderita tiap kali engkau diruncingkan, tapi kau butuh itu agar bisa menjadi pensil yang lebih baik.

    • TIGA: Kau bakal bisa mengoreksi tiap kesalahan yang mungkin kau lakukan.

    • EMPAT: Bagian terpenting dari dirimu adalah apa yang ada di dalam.

    • dan LIMA: Pada tiap permukaan di mana kau dipakai, tinggalkanlah jejakmu. Apapun kondisinya, kau harus terus lanjutkan menulis.

    Pensil itu angguk mengerti dan berjanji akan mengingat nasihat tersebut. Dan memasuki kotak yang akan dieksport itu dengan suatu tekad kuat dalam hatinya.
    Bertukar tempatlah dengan pensil itu; ingatlah nasihat yang sama tadi dan yakinlah, kitapun pasti akan berhasil menjadi orang terbaik.

    • SATU: Kita bakal bisa berbuat banyak hal besar, tetapi hanya apabila kita membiarkan diri kita berada dan dipegang dalam tanganNya, serta mengizinkan orang lain mengakses talenta yang kita miliki.

    • DUA: Kitapun akan menderita saat diruncingkan, yaitu dalam proses melewati macam problema hidup, tapi kita butuh itu agar jadi lebih kuat.

    • TIGA: Kita bakal mampu memperbaiki kesalahan apapun yang mungkin kita lakukan.

    • EMPAT: Bagian terpenting dari diri kita adalah apa yang ada di dalam, yakni hati nurani kita.

    • dan LIMA: Dalam setiap peristiwa dan lembaran hidup yang kita jalani, kita harus meninggalkan jejak kita . Tak peduli bagaimanapun situasinya, kita harus tetap melanjutkan tugas kita. Jadi terang dan garam dunia.

    Good days give you HAPPINESS, bad days give you EXPERIENCE, but both are essential for life. All are God�s BLESSINGS. Enjoy your life & have a Happy EASTER day!!!

    Perasaan vs Firman Allah

    Oleh: Marolop Simatupang
    Naaman, panglima raja Aram, pada zaman Elisa, merupakan contoh orang yang tidak cerdas karena lebih memercayai perasaannya ketimbang firman Allah. Dalam Kitab Raja-raja 2, kita diperkenalkan dengan seorang pahlawan tentara. Ia seorang yang gagah perkasa, orang terpandang, sangat disayangi rajanya. Namun orang yang gagah perkasa ini menderita penyakit kusta.
    Dalam suatu pertempuran antara pasukan Aram dengan pasukan Israel, orang Aram menawan seorang perempuan dari negeri Israel dan menjadi pelayan pada isteri Naaman. Alkitab tidak menyebutkan nama perempuan itu.
    Suatu hari perempuan itu mengungkapkan rasa simpatinya terhadap tuannya yang sakit kusta itu. Ia mengatakan ada seorang nabi Allah di Israel yang dapat menyembuhkan tuannya. Perasaan Naaman pun tergerak. Lalu pergilah Naaman menemui nabi itu minta agar disembuhkan.
    Naaman sampai di tempat kediaman nabi itu. Alkitab mencatat, "Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir. Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir? Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati." (2 Raja-raja 5:9-12)
    Namun kemudian pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepada Naaman, "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir. Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir." (2 Raja-raja 5:13-14).
    Kalau saja Naaman mengabaikan nasihat pegawai-pegawainya, barangkali Naaman sudah pulang ke rumahnya tanpa hasil –- penyakitnya belum sembuh total -– itu karena ia lebih mengandalkan perasaan semata. Tetapi berkat dorongan dari para pegawainya, Naaman akhirnya mematuhi perintah nabi itu dan ia pun sembuh total dari penyakit kustanya. Pilihan yang sangat cerdas; ketaatan memberikan hasil –- sembuh, bukan perasaan-prasangka yang menyembuhkannya!
    Awalnya Naaman lebih memercayai perasaannya sendiri ketimbang perintah nabi itu –- perintah firman Allah. Perasaannya yang mengatakan air di sungai-sungai di Damsyik lebih baik, bahkan jauh lebih baik daripada air sungai Yordan itu tidak lantas membuat air sungai-sungai di Damsyik lebih baik daripada air sungai Yordan. Perasaan-prasangkanya itu harus dibuang. Perasaannya tidak dapat dipercaya. Hanya bila perasaannya berasal dari atau digerakkan oleh kebenaran ilahi maka perasaan tersebut dapat dipercaya.
    Mengandalkan perasaan semata ketimbang firman Allah saat ini tidak akan menyembuhkan seseorang dari "penyakit kusta rohani!" Perasaan yang dapat dipercaya, terjamin, dan benar harus lahir dari kebenaran. Dan Perjanjian Baru mengatakan bahwa kebenaran itu adalah firman Allah. "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran." (Yohanes 17:17).
    Sumber: GospelAdvocate Magazine

    Percaya Diri Vs Penyerahan Diri

    Oleh: Sunanto
    Seorang teman lama saya yang dulunya pemalu dan minder, tiba-tiba berubah menjadi seorang pribadi yang sangat percaya diri dan berani bicara di depan orang banyak. Rupanya pelatihan kepemimpinan yang diikutinya telah mengubahnya dari seseorang yang memiliki kepribadian minder menjadi pribadi yang berani memimpin dan berbicara di depan orang banyak. Dia memang berubah menjadi seorang yang percaya diri tetapi saya menemukan dia juga telah berubah menjadi seorang yang angkuh. Perubahan seperti ini bukanlah perubahan karakter yang dihasilkan oleh pekerjaan Roh Kudus. Perubahan sejati yang dihasilkan oleh karya Roh pasti akan membuat karakter kita semakin serupa Kristus.
    Cara manusia dan cara Tuhan dalam mentransformasi hidup seseorang sangatlah berbeda. Cara manusia mengubah kepribadian seseorang adalah dengan berusaha membangkitkan kepercayaan dirinya tetapi cara Tuhan justru dengan membuat kepercayaan kepada diri itu mati sehingga kita belajar bergantung kepadaNya. Dunia berkata “Kamu pasti bisa, berpikir positiflah” tetapi Tuhan berkata “Kamu tidak bisa mengandalkan kekuatanmu, menyerahlah dan bergantunglah kepadaKu.“ Bukti nyata dari karya Roh Kudus yang sejati dalam diri seseorang adalah perubahan karakter yang semakin rendah hati dan mengandalkan Tuhan.
    Kebanyakan orang Kristen saat ini hanya ingin hidup enak, diberkati dalam hal materi dan kesehatan, sambil menunggu ajal untuk masuk ke surga.
    Saya percaya saat ini merupakan waktunya bagi gereja Tuhan untuk berubah menjadi gereja yang memuridkan umat-Nya agar mereka berubah menjadi serupa karakter Kristus. Saya percaya saat ini Roh Kudus sedang bekerja untuk membawa kita kembali kepada kebenaran yang sejati. Gerejalah harapan satu-satunya agar bangsa ini bisa dipulihkan dari segala keterpurukan nya. Doa saya semoga sebuah kebangunan rohani yang sejati akan datang melawat kita semua sehingga kita berubah menjadi orang-orang Kristen yang sepenuhnya menyerah dan bergantung kepada Tuhan !

    Perempuan Itu

    Senja telah tiba, seorang perempuan tua tiba di halaman rumahku untuk "ngangsu" (mengambil) air seperti biasanya. Tubuhnya kurus kering, sekering tanah yang dipijaknya. Kulitnya hitam legam, sehitam perjuangan hidupnya yang seakan melulu gelap dan seakan tiada bertepikan temaram. Aku yang sedang asyik dengan kesibukan "ndangir" (menyiangi/membersihkan) rumput-rumput liar diseputar pepohonan, dibuatnya tertegun oleh suaranya yang serak, memanggil-manggil seseorang. Aku nggak mengerti apa yang telah diucapkannya, mungkin kurang lebih demikian, "Eeh" nak kemarilah, tolong aku dibantu!" Ia nampaknya memanggilku, tapi keraguan menyelimuti hatiku, "Ahk" masak ia memanggilku!" Sejenak kemudian ia memanggil-manggil lagi. Setelah kusadari bahwa tidak ada orang lain disekitarku, yakinlah aku bahwa ia memanggilku.

    Segera kudekati perempuan itu. Dengan bahasa tubuh, akhirnya kuketahui maksudnya. Ia bermaksud meminta tolong, supaya aku mengangkatkan "kuali" (ember) penuh air di atas kepalanya. Aku terperanjat!! Rupanya ibu kurus kering ini mau mengangkat air dua "kuali" sekaligus. Selain berat, rumahnya juga jauh. Aku tahu pasti bahwa bebannya cukup berat, karena ketika aku membantu mengangkatkan satu "kuali" saja, aku merasa keberatan.
    Setelah kubantu, ia segera berjalan merambat pelan sekali. Pastilah karena berat. Setapak demi setapak, langkah demi langkah, ia lalui dengan pelan dan pasti. Uhk" rasanya aku nggak tega. Kurang lebih 30 meter ia berjalan, aku berinisiatif mau membantunya, tapi ia menolaknya dengan alasan yang tidak kuketahui. Barangkali, ia mengatakan bahwa ia sudah biasa melakukan semuanya itu. Setiap hari ia mengerjakannya.
    Setiap hari ia melakukan semuanya itu. Itulah tugas kesehariannya, untuk menghidupi diri dan keluarganya. Inilah yang nyangkut dibenakku. Akankah aku menekuni keseharianku dengan kesetiaan, sebagaimana kisah hidup sang perempuan itu"!

    Pesta Paskah

    Oleh: Rizky Purukan
    Setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian-Nya, Ia menampakan diri kepada murid-murid-Nya. Tetapi kebangkitan-Nya itu belum membuat murid-murid Tuhan Yesus berpesta. Mereka tetap seperti biasa, bahkan kembali kepekerjaan mereka sehari-hari. Seakan-akan mereka tidak tahu apa yang harus di perbuat. Tetapi ketika Tuhan Yesus yang bangkit itu hadir ditengah-tengah pekerjaan mereka dan ikut campur dalam usaha mereka menagkap ikan sehingga setelah jala dilemparkan akhirnya mereka mendapatkan ikan sebanyak seratus lima puluh tiga ekor. Dan murid yang pertama menyadari bahwa itu Yesus adalah Yohanes. Yohanes menyadari bahwa yang telah memimpin mereka adalah Tuhan Yesus. Campur tangan Tuhan Yesus dalam pekerjaan mereka telah merubah keisengan mereka yang sia-sia menjadi suatu "Pesta".
    Kita semua sama seperti murid-murid Tuhan Yesus di atas perahu. Tuhan Yesus memperhatikan dan menolong kita dalam pekerjaan dan dalam pelayanan kita, tetapi tidak semua kita yang menyadari hal itu. Sering kali kita melihat keberhasilan dan kesuksesan kita itu hanya kebetulan semata. Kita lupa bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dan hidup bersama kita. Itu sebabnya kita tidak dapat menghayati bahwa pelayanan ini sebagai suatu pesta yang tak bekeputusan.
    Kita sering mengasosiasikan kata Pesta sebagai suasana makan dan minum. Gereja yang merayakan Paskah sering kali mengisi hari itu dengan acara yang gembira disertai makan dan minum. Jadi gerejalah yang mau menjadikan Paskah suatu sukacita. Padahal seharusnya Paskahlah yang menjadikan Gereja suatu pesta. Tuhan Yesus yang bangkit itulah yang merubah suasana muram dan lesu menjadi suatu pesta makan ikan bakar dan roti. Memang sih sederhana sekali. Namun jangan kita bandingkan sukacita yang ada di dalam hati murid-murid pada waktu itu, dengan pesta yang kita adakan dengan angaran yang cukup banyak itu. Sukacita murid-murid pada waktu itu tidak terletak pada makanannya tetapi pada ikatan persekutuan dan kasih dengan Tuhan Yesus yang telah bangkit. Ikatan kerja sebagai teman sekerja Allah bersama dengan Tuhan Yesus menjadikan hidup mereka selanjutnya penuh dengan sukacita. Walaupun tantangan murid-murid pada waktu itu tetap ada dan banyak tetapi secara keseluruhan hidup mereka disebut berbahagia. Oleh karena itu marilah kita perhatikan karya Tuhan Yesus di tengah-tengah kehidupan kita dan sadarilah akan pernyataan-Nya itu maka kita akan menjadi orang yang berbahagia.
    Selamat Merayakan Hari Raya Paskah Yesus Kristus.

    Piano

    Penulis : Suzianty Herawati
    Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukan putranya tersebut kesekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal. Selang beberapa waktu kemudian,di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu yang sangat singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya. Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser mulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada disampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak inipun tidak bisa betah duduk diam terlalu lama, tanpa pengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.
    Ketika lampu gedung mulai di redupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada disampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa rasa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, Twinkle2 Little Star.
    Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba2 lebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke arah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan seorang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis juga terkejut, bergegas naik keatas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata "Teruslah bermain", dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya.
    Sang pianis lalu duduk, disamping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.
    Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ketengah panggung. Sang anak jadi GR, pikirnya "Gila, baru belajar sebulan saja sudah hebat!". Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.
    Teman2, apa implikasinya dalam hidup kita??? Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan2 besar yang telah kita lakukan, tapi kita lupa...bahwa semua itu terjadi karena TUHAN ada disamping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada TUHAN disamping kita,KITA ADALAH SIA-SIA. tapi apabila TUHAN ada disamping kita....sesederhana apapun yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.
    Kiranya kita tidak pernah lupa bahwa ada TUHAN disamping kita. Amin.
    "If GOD fixes a fix to fix you, and you fix a fix before you are fixed, then HE will fix another fix to fix you."

    Ragi Orang Farisi

    Oleh: Sunanto
    Luk.12:1 Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun,sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama- tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”
    Salah satu kepercayaan salah yang dimiliki banyak orang Kristen adalah mengukur tingkat kerohanian seseorang dari banyaknya aktifitas pelayanan orang tersebut. Semakin sibuk seseorang melayani di gereja atau persekutuan maka mereka dianggap semakin rohani. Saya sendiri pernah mengalami hal ini sehingga saya berani mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang tanpa sadar juga melakukan hal itu.

    Saya tidak mengatakan melayani itu tidak perlu atau tidak penting tetapi perubahan karakter harus menjadi fokus utama kita. Kepercayaan salah yang lain adalah mengukur tingkat kerohanian seseorang dari banyaknya pengetahuan teologianya.Memahami teologia atau doktrin Kekristenan itu penting tetapi apa gunanya jika seseorang memiliki gelar teologia yang tinggi bila hidupnya tidak mencerminkan karakter Kristus. Orang-orang Kristen yang hanya memiliki pengetahuan teologia tanpa memiliki karakter akan lebih suka berdebat dibanding mencari kebenaran yang sejati. Mereka menggunakan pengetahuan itu untuk menunjukkan bahwa diri mereka lebih baik dibanding orang lain. Rasul Paulus mengatakan mereka seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
    Beberapa waktu yang lalu saya mendengar lewat radio seorang hamba Tuhan yang sedang berbicara dengan seorang pengusaha setengah baya yang belum lama bertobat. Lalu hamba Tuhan yang juga pengurus sebuah badan misi ini mengatakan kepada sang petobat baru ini bahwa hanya ada satu hal yang perlu dilakukannya setelah bertobat yaitu melayani. Apa yang dikatakan oleh hamba Tuhan ini kelihatannya sangat rohani tetapi sebenarnya menyesatkan. Sebuah hal yang tragis jika seseorang giat melayani pekerjaan Tuhan tetapi hidupnya tidak mengalami sebuah perubahan (transformasi) karakter. Tujuan Tuhan menyelamatkan hidup kita bukanlah untuk melayani melainkan supaya kita berubah menjadi serupa dengan karakter Kristus. Alkitab berkata kita dipanggil, dipilih dan ditentukan dari semula untuk menjadi serupa gambaran anakNya.
    Seringkali kita memandang rendah orang-orang Farisi, padahal tanpa sadar banyak diantara kita juga melakukan hal yang sama seperti mereka. Yesus mengecam orang-orang Farisi sebab mereka lebih mengutamakan penampilan yang diluar (aktifitas dan pengetahuan rohani) daripada yang di dalam. Dari luar kelihatannya sangat rohani tetapi di dalamnya penuh dengan kebusukan. Orang-orang Farisi bukanlah orang-orang yang jahat tetapi mereka hanyalah orang-orang munafik yang tidak memahami bahwa kemurnian karakter yang di dalam lebih penting daripada kebersihan penampilan luar. Bukankah saat ini banyak sekali orang-orang Farisi modern yang setiap hari minggunya rajin ke gereja ? Mereka aktif melayani, setia membayar perpuluhan bahkan berpuasa seperti yang dilakukan orang-orang Farisi. Dari luar kelihatannya sangat rohani tetapi di dalam hatinya penuh dengan kecemaran dan hawa nafsu keduniawian.
    Saya percaya bila kebangunan rohani yang sejati datang melanda negeri ini maka hal pertama yang akan terjadi adalah sebuah gerakan kekudusan (holiness movement). Setelah itu baru kita akan melihat sebuah penuaian jiwa besar-besaran yang belum pernah terjadi selama ini. Saya merasakan saat ini api penyucian itu sedang bekerja di tengah-tengah kita. Roh Kudus sedang bekerja untuk menyucikan gereja-Nya dari semua kecemaran dunia ini. Datanglah Roh Kudus, sucikanlah kami dengan api kekudusan-Mu!

    Refleksi Natal

    Penulis : EV. Robin A. Simanjuntak
    Saat ini natal/kekristenan telah menjadi industri yang menguntungkan bagi banyak orang. Banyak orang Kristen yang merayakan natal dan menyambut natal bukanlah menyambut bayi Yesus, menunggu-nunggu kedatangan Yesus, mempersiapkan kelahiran Yesus, melainkan orang hanya menyambut hari natalnya. Natal di sambut dengan gegap gempita dan komersialisasi natal di lakukan oleh banyak pengusaha (orang Kristen juga mungkin) dengan menjual banyak produk yang berkaitan dengan natal ini. Ada yang menjual mainan, pernik-pernik natal, lagu-lagu natal, kartu nalal dll. Itulah industri natal, itulah globalisasi natal. Apakah yang kita persiapkan menjelang natal tiba? Yah, kita cenderung mempersiapkan atribut-atribut natal, simbol-simbol natal, fenomena natal agar kelihatan fenomenal. Padahal, ada banyak orang Kristen merayakan natal tidak lagi menyanyikan lagu-lagu natal. Ada persekutuan atau gereja yang hanya menyanyikan lagu malam kudus sebagai lagu natal, namun sisanya lagu-lagu umum biasa. Ada gereja/persekutuan yang tidak lagi memberitakan Kristus dalam kotbah natal. Itukah natal?

    Natal 2000 tahun yang lalu dipersiapkan dengan sangat rapi, baik dan jauh-jauh hari. Ribuan tahun sebelum Yesus lahir para nabi telah bersiap-siap menyambut hari "H" itu tiba. Setahun sebelum natal malaikat Tuhan sudah di utus untuk mempersiapkan natal kepada Maria, Yusus, Elisabeth dll. Sebelum natal malaikat Tuhan datang kepada para gembala dan orang majus, mereka memyanyikan pujian natal.
    Natal 2000 tahun lalu bukanlah industri yang canggih dengan pameran lampu-lampu bagus, baju-baju indah, kembang api dan terompet yang semarak. Natal 2000 tahun lalu merupakan "pameran" kilauan sinar wajah para malaikat, dengan baju jelek dan bau para gembala, dan dengan sinar bintang yang bercahaya di langit.
    Natal berarti yang tidak terbatas rela menjadi terbatas, yang maha tinggi rela turun ke dunia, yang tidak berdosa rela dijadikan manusia yang menanggung dosa umatNya. Itulah Kristus. Natal berarti Kristus. Biarlah kita merayakan kehadiran Kristus ke dalam dunia, bukan sekedar merayakan hari natalnya. Natal bukanlah industri malainkan Kristology.

    Rendah Hati

    Oleh: Eullhenya Nabroza
    Kalau saya lihat, Mother Theresa adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Hampir semua kekayaan yang dia miliki dia pergunakan untuk membantu orang lain. Tetapi di mata saya, Mother Theresa adalah orang yang sangat kaya. Bagaimana tidak, ketika dia ingin berangkat ke satu negara atau satu tempat, tanpa pusing-pusing pesawat jet pribadi sudah ada yang menyiapkan. Sampai di satu negara, berebut orang yang ingin menjemputnya dengan mobil terbaiknya. Ketika dia berkata bahwa dia ingin membantu orang di tempat mana yang sedang kesulitan, seketika itu juga terkumpul dana dalam jumlah yang sangat besar.
    Mother Theresa tidak perlu memiliki mobil dan rumah mewah, tetapi hampir semua pemimpin negara mendengarkan apa yang dia ucapkan. Bahkan, tidak segan Mother Theresa menegur pemimpin negara yang menurut beliau sudah tidak mengindahkan etika dan moral. Theresa merasa tidak perlu untuk memiliki harta yang justru akan membuatnya tidak bebas.
    Alangkah senangnya memiliki hidup seperti itu. Mother Theresa memiliki kekayaan yang belum tentu dimiliki oleh orang lain, yang belum tentu dimiliki seorang oleh orang-orang kaya, yaitu memiliki kekayaan hati yang luar biasa. Rendah hati, peduli dengan sesama, tidak memandang rendah orang lain, adalah harta tak ternilai bagi seorang Mother Theresa. Mother Theresa tahu, bahwa pada saat Tuhan memanggilnya nanti, kekayaan tidak akan ikut dibawa mati. (http://love-tazmania.blog)
    Tuhan yesus menginginkan kita sebagai manusia untuk memiliki sikap rendah hati meneladani diri-Nya lihat firman Allah dalam Filipi 2:8 : " Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati bahkan sampai mati dikayu salib dan kita lihat apa yang dikerjakan Allah pada manusia (Yesus) dalam ayat 9 dikatakan itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya Nama diatas segala nama supaya dalam Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada diatas bumi dan yang ada dibawah bumi" dan segala lidah mengaku: "Yesus kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa! "
    Bayangkan dengan hanya merendahkan diri saja dan bukan karena kehebatan-Nya sebagai Allah/Tuhan, Ia amat sangat ditinggikan karena Allah amat sangat membenci manusia-manusia yang meninggikan diri/congkak dalam Yakobus 4:6b: "kerena itu Ia katakan "Allah menentang orang yang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Rendahkanlah dirimu dihadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. Jadi jelas disini dapat kita lihat bahwa bukan orang yang merasa dirinya hebat karena memang ia melakukan hal-hal yang hebat yang ditinggikan Allah tapi justru orang yang merendahkan dirilah yang berkenan dihadapan Allah. "
    Jadi intinya bila kita hidup merendahkan diri Allah bukannya diam saja tapi justru peninggian itu didapat dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang umat-Nya. Betapa bahagianya bagi kita umat-umat Allah, Ia memberi kemudahan pada kita dengan merendahkan diri saja kita mendapat penghormatan yang mulia dari pada-Nya. Amin.

    Renungan Awal Tahun: Pilihlah

    Penulis : Donny A. Wiguna
    Ayub 5:6-7 Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan; melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi. 

    JANGAN cepat-cepat mengatakan bahwa Allah menghukum manusia dengan bencana. Seperti kita ketahui, dalam waktu dua bulan terakhir ada bencana yang hebat menimpa Indonesia. Alor digoyang gempa, Nabire digoyang lebih keras, dan Aceh luluh lantak dalam tsunami. Lalu masih ada banjir dan tanah longsor di sana sini, yang sedemikian seringnya sehingga tidak lagi menarik perhatian kita.
    Tetapi, jangan cepat-cepat mengatakan bahwa semua ini adalah hukuman Allah. Sebaliknya sadarilah, bahwa inilah bumi di mana manusia tinggal.
    Dengan akal budinya, manusia menyelidiki bumi tempat tinggalnya ini dan menemukan bahwa yang disebut daratan adalah lempengan-lempengan yang bergerak di atas batuan cair panas jauh di dalam. Gerakannya perlahan, namun mengandung kekuatan yang amat besar, yang bila terlepas menjadi bencana gempa yang hebat. Tak ada yang aneh dengan gempa, bahkan dengan penelitian yang seksama kadang-kadang suatu peristiwa telah dapat diduga beberapa waktu sebelumnya. Bagi planet bumi, gempa adalah hal yang wajar. Akankah kita mengatakan bahwa gempa adalah hukuman Allah?
    Juga jangan cepat-cepat mengatakan bencana banjir dan tanah longsor adalah hukuman Allah. Manusia telah membabat banyak hutan, merusakkan struktur tanah, dan mengikis bagian yang seharusnya dipelihara. Akibatnya, saat hujan datang datanglah juga banjir dan tanah longsor sebagai konsekuensi dari kerusakan yang mereka buat sendiri. Juga ketika manusia menciptakan polusi yang merusakkan atmosfir sehingga terjadi pemanasan global dan perubahan iklim, jangan cepat-cepat bilang ini hukuman Allah bila terjadi angin topan dan badai yang menghancurkan.
    Sebaliknya sadarilah, bahwa manusia yang rapuh telah merusakkan tempat tinggalnya sendiri, mendatangkan bencana bagi dirinya sendiri.
    Bila kita melihat alam semesta yang luas ini, meneropong jauh ke kedalaman antariksa, mengintip bintang-bintang dan galaksi-galaksi, hingga hari ini belum pernah ada kehidupan yang dapat dijumpai. Dengan seluruh keindahannya, rupanya alam semesta bukanlah tempat yang baik untuk menopang kehidupan yang mampu mengapresiasi keindahan alam. Bintang-bintang menjadi sumber energi yang besar, yang pancarannya mematikan. Planet-planet bukanlah tempat yang mendukung kehidupan, karena atmosfirnya yang penuh badai dan komposisi gas amonia dan metan yang asam. Dan di antara benda-benda langit, ada amat sangat banyak batu-batuan yang melaju dengan kecepatan tinggi, yang kadang menumbuk planet dan menimbulkan goncangan hebat.
    Dengan semua keadaan itu, tidakkah kita heran bahwa ada kehidupan di atas planet bumi?
    Planet ini ukurannya tidak terlalu besar, sehingga gravitasinya tidak memberatkan. Tapi juga tidak terlalu kecil, sehingga gravitasinya masih tetap dapat menahan segala hal diatasnya. Bumi mengorbit pada matahari yang sedang, bukan matahari putih yang amat panas atau matahari merah yang tua dan besar, melainkan matahari kuning yang stabil. Jarak orbitnya sedemikian tepat, sehingga tidak terlalu panas seperti planet Venus atau terlalu dingin seperti planet Mars. Pada bumi juga ada atmosfir dengan komposisi nitrogen-oksigen-karbondioksida yang tidak korosif serta menjadi penyaring sinar matahari sehingga suhu di permukaan bumi tidak terlalu panas atau dingin. Keadaan ini juga mendukung keberadaan air serta siklus air yang menghidupkan. Daratannya juga mengandung komposisi yang kaya, yang menjadi sumber bagi segala kehidupan. Dan gempa serta gerakan bumi pun tidak terlalu sering, sehingga kehidupan dapat berlangsung.
    Pernahkah terpikir, bahwa ada begitu banyak hal yang tersedia di bumi sehingga ada kehidupan di atasnya? Dari antariksa hingga susunan sel, manusia dapat melihat pekerjaan Allah yang luar biasa untuk memberikan kehidupan. Tangan Allah yang memelihara hingga kehidupan bisa berlangsung sejahtera. Sadarkah bahwa semua ini adalah kebaikan Allah? Bahkan bagi mereka yang jahat pun, Allah memberikan kebaikan-Nya seperti dikatakan oleh Tuhan Yesus, "Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." (Mat 5:45) Jadi, Allah sendiri telah mengasihi dan memelihara dunia, sehingga manusia masih bisa hidup di atasnya.
    Tetapi, manusia telah berdosa kepada Allah. Sudah mati di hadapan Allah. Adakah manusia dapat menuntut bahwa Allah harus terus memelihara ciptaan yang telah memberontak, yang telah merusakkan sendiri gambaran kudus yang dimilikinya? Dapatkah manusia beranggapan, bahwa Allah tidak boleh murka atas kesalahan manusia dan harus terus menjaga kehidupan yang penuh cacat cela?
    Manusia justru hidup semakin menjauh dari Allah. Kehidupan manusia tidak lagi memikirkan Allah, menganggap-Nya telah mati dari segala urusan dunia. Kejahatan manusia semakin bebas dan terbuka, semakin tidak tahu malu sampai-sampai tidak lagi mempunyai kemaluan (yang tersisa hanyalah alat kelamin untuk berkelamin seperti kelinci). Juga kebuasannya menjadi semakin hebat, sehingga dengan sadar membinasakan anaknya sendiri dalam berjuta-juta tindakan aborsi yang dilakukan tiap tahun. Dan keberadaan Tuhan tidak lagi bermakna, karena para ahli (yang mengaku) teologia yang menyatakan bahwa Allah hanyalah hasil imajinasi dan kebijaksanaan manusia. Juga tak ada lagi Kitab (yang) Suci alias Alkitab adalah Firman Allah, karena yang tertulis di dalamnya dikatakan sama sekali bukan Firman Allah melainkan tulisan orang yang beriman dan berdongeng tentang imannya.
    Jika sedemikian rupa manusia hendak mengenyahkan Allah dari kehidupannya, salahkah bila Allah membiarkan mereka ada dalam kegelapannya? Jika mereka tidak bersedia percaya, tidakkah Tuhan Yesus sendiri telah menyatakan hukumannya? Seperti yang Yesus katakan, "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat." (Yoh 3:18-19). Inilah hukuman itu: manusia lebih menyukai kegelapan.
    Itu berarti, Allah tidak lagi memelihara. Allah berpangku tangan, membiarkan manusia berdosa merusakkan alam. Allah berdiam diri, tidak menahan-nahan alam bergerak sesuai dengan kewajarannya, memenuhi kutuk atas bumi karena dosa manusia, seperti yang telah dinyatakan-Nya kepada Adam, "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." (Kej 3:17-19).
    Apa yang masih ada di atas bumi ini, yang padanya manusia dapat berharap? Semua orang di atas bumi yang tua ini akan kembali menjadi debu, entah dengan cara yang mengenaskan seperti di dalam bencana hebat atau dengan cara tidur tenteram di atas ranjang di tengah keluarga. Lalu apa yang dapat dibawa oleh manusia?
    Tuhan sudah menyediakan diri-Nya sebagai jalan kehidupan, satu-satunya jalan untuk sampai kepada Bapa di Surga. Kehidupan di bumi ini pasti terhenti, tetapi Ia menyediakan kehidupan lain bersama-Nya, hidup kekal yang mulia dalam Tuhan. Jangan cepat-cepat mengatakan bahwa Allah menghukum dunia, karena saat ini Ia masih bersabar agar semua orang berkesempatan untuk bertobat dan mengaku percaya serta memperoleh hidup kekal yang disediakan-Nya. Allah tidak menghukum; yang Ia lakukan hanyalah tidak lagi menjaga dan memelihara karena manusia sendiri sudah menolak-Nya, menolak Anak-Nya yang Tunggal sebagai Tuhan dan Raja. Mereka yang tidak percaya berada dalam kegelapan; dan bencana itu adalah wujud kegelapan, dalam bentuk yang paling gelap menakutkan. Tetapi itu belum menjadi hukuman Allah.
    Pada hari-Nya, Allah menghentikan kesempatan yang diberikan. Pada saat itu, Allah menyatakan murka-Nya atas dosa. Dan saat itu mengerikan, sungguh menakutkan, karena yang dihadapi bukan lagi bencana alam yang sewajarnya, melainkan tangan Allah yang teracung melawan manusia. Pada hari hukuman itu tiba, bukan bencana tsunami yang menghantam dan memusnahkan, melainkan kuasa ilahi yang tiada tara. Jika baru bencana tsunami saja sudah begitu mengerikan, kengerian hukuman dari Allah sungguh tidak terbayangkan.
    Dan ini menjadi renungan di awal tahun: seperti apa kita hendak menjalani tahun ini? Kita telah memiliki Firman Allah, yang menubuatkan kengerian akhir jaman. Kita pun dapat melihat berbagai-bagai tanda-tanda jaman, tanda dekatnya kedatangan Tuhan Memang kita tidak mengetahui kapan persisnya Tuhan hadir kembali, tetapi kita tahu bahwa Ia pasti datang dan dapat membaca bahwa waktu-Nya sudah dekat. Sudah sepantasnya di awal tahun ini kita memikirkan kembali apa yang menjadi keyakinan dan keputusan kita. Sama seperti Yosua di hadapan Israel, di hari-hari awal mereka hidup di Tanah Perjanjian itu saat ia menyatakan segala karya Allah, berkat dan kutuk-Nya, bagi kita pun di awal tahun ini tantangan Yosua seperti terulang kembali:
    Yos 24:14-15 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!
    Apa jawab kita?

    Renungan di Hari-hari Pentakosta

    Penulis : Eddy TG
    Tidaklah cukup kita mengatakan : "Aku mencintai Allah." Aku juga harus mencintai sesamaku, dalam Kitab Suci, Santo Yohanes mengatakan, bahwa engkau adalah "PENIPU!", jika engkau mengatakan bahwa engkau mencintai Allah namun tidak mencintai sesamamu.
    Bagaimana engkau dapat mencintai Allah yang tidak terlihat, jika engkau tidak mencintai sesamamu yang dapat kau lihat, dapat kau sentuh dan tinggal diantara kamu?

    Dan dia menggunakan sebuah kata yang keras, : Engkau adalah "PENIPU!!!".
    Itu adalah satu kata dari begitu banyak kata yang menakutkan untuk dibaca dan itu sungguh-sungguh benar!
    Oleh karena itu sudah saatnya kita berkarya untuk membuat Yesus dikenal, dicintai, dilayani, diberi makan, diberi pakaian dan diberi naungan.
    Karya kita harus dimulai hari ini, kemarin telah berlalu dan esok belum datang juga. Esok tidak akan menjadi milik mereka, jika hari ini kita tidak memberi mereka makan.
    Janganlah kita berpikir bahwa kita telah bertindak begitu banyak bagi kaum papa, tetapi sesungguhnya merekalah yang membuat kita kaya. Kita berhutang kepada mereka. Akankah engkau melakukan sesuatu yang begitu indah bagi Allah? Disana ada seseorang yang sangat membutuhkanmu. Itulah kesempatanmu.

    Salib dan Si Aku

    Oleh: L.E Maxwell
    Gereja di dunia ini penuh dengan profesor-profesor Kristen, para pendeta, guru-guru Sekolah Minggu, pekerja-pekerja Tuhan, para penginjil dan Misionari. Mereka memiliki karunia-karunia Roh secara nyata dan membawa berkat bagi banyak orang. Tetapi apabila “dilihat lebih dekat” maka banyak di antara mereka yang penuh dengan si aku. Mungkin mereka telah rela “meninggalkan semuanya” demi Kristus, bersedia mengorbankan nyawa mereka seperti murid-murid pertama, tetapi di dalam lubuk hati mereka yang tersembunyi kuasa kegelapan si aku bercokol.
    Mungkin mereka heran, mengapa selama ini mereka tidak dapat meraih kemenangan atas sifat-sifat mereka yang terlalu sering dikuasai perasaan seperti “telah dilukai kehormatannya,” “mudah tersinggung” dan hal yang hanya mementingkan diri sendiri seperti “ketamakan” dan “tidak berbelas kasihan” - sehingga mereka terus gagal untuk mengalami apa yang Tuhan janjikan, “kamu akan menjadi seperti sungai air kehidupan.” Ah, apa yang menyebabkannya tidak perlu dicari jauh-jauh. Mereka biasa melakukan “pemujaan berhala” secara rahasia, yaitu memuja dirinya sendiri di “kuil si aku”. Kepadanyalah mereka bertekuk lutut dan bersujud setiap hari. Pada dasarnya, mereka memuliakan Salib Kristus secara lahiriah, tetapi dalam hati ada allah lain yang mereka sembah.
    Mereka menjunjung tinggi si aku yang mereka kasihi, manjakan, serta menimang-nimangnya. Secara lahiriah mereka tahu Salib sebagai pengganti hukuman dosa karena kematian Sang Penebus, dan bahwa hal itu merupakan “pekerjaan Kristus yang telah genap.” Tetapi mengenai rahasia Salib dan maknanya yang sedalam-dalamnya, mereka tidak mengerti apalagi dalam hal menerapkannya dalam kehidupan rohani mereka sendiri. “Jika Kristus belum mengerjakan suatu penyaliban dalam diri Saudara yang akan memisahkan Saudara dari pemujaan si aku dan mempersatukan Saudara dengan Allah di dalam persekutuan kasih-Nya; maka seribu suasana surga sekalipun tidak dapat memberi damai bagi Saudara” (F.J. Huegel dalam bukunya Salib Kristus).
    Dia pemburu senang, santai dan riang
    Si aku, pengkhianat utama terhadap diriku,
    Temanku yang paling tidak setia -
    Mengangkat beban beratku -
    Mematahkan belengguku,
    Syukur, lepas dan bebaslah aku
    Pada saat si aku ini hampir menjadi yang maha kuasa, dan berhasil menunrunkan El Shaddai dari takhta hati manusia serta melucuti-Nya, bagaimanakah tindakan Allah? Memang, Ia sama sekali tidak merasa heran. Tetapi bagaimana cara mengatasi peristiwa yang paling menyedihkan ini? Bagaimana cara melepaskan manusia dari kegila-gilaan si aku yang kotor dan palsu ini? Allah tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada manusia. Puncak kemuliaan-Nya terletak pada kesetiaan manusia untuk memyembah-Nya tanpa paksaan. Tidak mungkin Ia membiarkan kehendak-Nya sendiri gagal, karena di situlah terletak kemuliaan dan hikmat-Nya. Bahwa sesungguhnya, “Salib itu adalah kuasa dan hikmat Allah.” Golgota adalah kapak Allah yang tersedia di akar pohon yang pertama. Adam pertama ditumbangkan dan Adam kedua dinaikkan di atas takhta.
    Yesus datang sebagai kepala yang baru dari keluarga yang baru pula. Ia datang dengan kerelaan-Nya, di dalam rupa manusia yang penuh dosa (namun Dia tidak berdosa). Dengan tali kasih-Nya Ia mengikat kita dengan diri-Nya sendiri, lalu membawa kita ke jurang maut yang paling dalam, dengan tujuan untuk membebaskan kita dari hukuman dosa serta mengarahkan kita agar memilih kehendak Allah dan bukan kehendak si aku. Supaya Ia dapat melepaskan kita dari si aku yang penuh dosa itu, Yesus Kristus telah rela memilih untuk mati, mati karena dosa kita, mati sebagai pengganti kita, bahkan Ia telah menjalankan kematian kita sendiri - agar kita dapat dibebaskan dari si aku yang penuh dosa itu.
    Wahai Saudara-Saudara seiman, Anak Manusia telah dijadikan dosa dan kutuk karena kita. Ia telah ditinggikan di atas kayu salib seperti ular (Yoh.4:14). Karena itu berdirilah pada kaki Salib bersama dengan ibu Maria, yang pada saat itu mengalami kegenapan nubuat berikut : “dan suatu pedang yang menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (hati saya dan hati Saudara, Luk.2:35). Tetapi mungkin ada orang yang bertanya, “mengapa seekor ular dan bukan sekuntum bunga bakung atau bunga mawar? Mengapa tidak lambang lain saja yang cocok dengan jabatan seorang Raja dan pekerjaan sebagai Penebus?” Tetapi Allah tidak salah jika melambangkan si aku yang terkutuk dan penuh dosa itu dengan seekor ular. Karena hanya ularlah yang patut dijadikan lambangnya. Lambang itu memancarkan sinar terang yang langsung menembus ke dalam hati kita. Kita terpotret olehnya dan gambar kita tepat sekali; bukan hanya dosa kita yang kelihatan tetapi diri kita sendiri juga dapat terlihat dengan nyata. Segala tingkah laku itu timbul dari dalam hati, bukan? Suatu kenyataan yang berterus terang dan tidak dibuat-buat. Itulah lambang Saudara, dan saya sendiri. Mengapa kenyataan itu harus ditutup-tutupi, mengapa harus disembunyikan? Marilah kita memandang kepada Salib dengan sejujur-jujurnya. Marilah kita dengan rela menerima kenyataan yang mengerikan itu, tentang keadaan diri kita sendiri yang dilambangkan oleh Salib.
    Kunampak khalayak di depan Pilatus,
    Wajah merah, penuh marah,
    “Salibkanlah!” berang tercetus,
    Cerca dan hujat bertambah-tambah.
    Di tengah-tengah khalayak berteriak gaduh,
    “Kuhadir di antaranya,
    Sekitar Salib kulihat jelas,
    Orang mengolok, seru dan serak,
    Suaraku juga yang terkeras,
    Menyerang galak, membentak-bentak.
    (Horatius Bonar)
    Tidakkah Saudara merasa ngeri melihat kebenaran ini? Tidak inginkah Saudara menerimanya? Beranikah Saudara menolaknya? Memang kita harus menerima kebenaran ini. Dari atas takhta Salib yang terangkat tinggi, terlebih dahulu kita perlu untuk mengakui kejelekan si aku, kemudian kita harus menyangkalnya. Kita tidak akan mengatakan, “Sebagian diriku terdiri dari si aku dan sebagian dari Kristus.” Kita telah terkutuk, si aku kita telah dibekuk, dikerat seutuhnya, dan bukan sebagian saja. Ikatan kita dengan segala perkara masa lalu telah sama sekali diputuskan. Aku seluruhnya diserahkan kepada kutuk, lalu harus menjalani hukuman mati yang sah di dalam Pribadi Penebus, suatu kesudahan yang tercela, dengan akibat yang kekal.
    Keputusan pengadilan ini menuntut persetujuan kita sepenuhnya. Marilah kita menerimanya dan menjadi rela untuk menandatangani surat keputusan hukuman mati itu. Kita tidak disuruh untuk menyalibkan diri kita, karena tugas itu terlalu besar bagi kita; tugas itu adalah tugas Ilahi. Kita telah diserahkan kepada maut, yang berarti “Disalibkan bersama Kristus.” Hal itu sudah digenapi. Tetapi kita harus menandatangani keputusan hukuman mati itu. Kita harus menyetujui Penyerahan diri kita yang dilakukan oleh Allah. Kita harus memilih untuk menurunkan si aku dari takhtanya, dan menyangkal diri sendiri, di dalam kuasa kematian Kristus. Salib memang merupakan senjata Allah yang paling ampuh, tetapi kuasa pelepasan kematian Kristus hanya akan berlaku bagi kita apabila kita menjadi satu dengan kematian-Nya oleh iman. Kita harus memandang kematian ini sebagai kematian bagi kita sendiri.
    Menyangkal si aku bukanlah sekadar menjauhi kesenangan ini dan itu saja, tetapi kapak Salib harus diletakkan tepat pada akar pohon si aku. Allah berfirman, tebanglah pohon itu, jangan hanya dipangkas saja. Semua sifat yang membenarkan diri sendiri, memegahkan diri sendiri, membela diri sendiri, menyayangi diri sendiri dan seribu satu macam sifat yang terwujud dalam bentuk-bentuk yang lain, hanyalah merupakan ranting-ranting dan daun-daun yang berasal dari pohon diri sendiri yang akarnya dalam sekali. Apabila hanya dipangkas saja, yang terjadi adalah kehidupan si aku masih akan menyatu dengan akar-akarnya yang akan terus bertumbuh menjadi semakin besar dan kuat, sehingga menumbuhkan “pohon orang Farisi” yang jauh lebih besar pula. Di depan layar ia nampak indah sehingga menimbulkan pujian dari banyak orang, tetapi di belakang layar, orang-prang yang mengenal dia dari dekat dapat menyaksikan sambil mencucurkan air mata, kesengsaraan yang mereka alami yang diakibatkan dari buah kepahitan yang bertambah lebat di pohon si aku tadi.
    Tetapi syukurlah, masih ada banyak harapan. Kita sudah dicangkokkan pada Kristus yang tersalib, sudah mengambil bagian dalam sifat Ilahi. Hidup yang diberikan kepada kita adalah hidup yang tersalib terhadap si aku dengan seribu satu macam bentuknya. Diriku tidak akan pernah mengalahkan si aku. Tetapi puji Tuhan, karena kita telah menjadi milik Kristus. Dan jika kita menyerahkan segala-segalanya kepada Dia yang telah tersalib, maka kuasa kematian-Nya akan bekerja di dalam kita dan akan menyalibkan diri kita. Semakin penuh Kristus menguasai kita, semakin penuh pula kematian kita terhadap si aku.
    Seorang pernah bertanya kepada George Muller tentang rahasia pelayanannya, ia menjawab, “Pada suatu hari tertentu, aku mati,” dan sambil berkata ia membungkukkan badannya sampai kepalanya hampir menyentuh lantai. Kemudian ia melanjutkan, “mati terhadap George Muller, mati terhadap pendapat dan kegemarannya, mati terhadap perasaan dan kemauannya; mati terhadap dunia, terhadap sanjungan dan kecamannya; mati terhadap pujian dan celaan dari saudara-saudara dan sahabat-sahabatku; dan sejak saat itu aku hanya belajar untuk menjalani kehidupan yang berkenan kepada Allah.”
    Meskipun aku tanpa arti, "ku bersuka.
    Tinggal di dalam sempurna-Mu,
    Karena memperoleh segalanya dalam-Mu,
    Bukan aku, tetapi Kristus, selama-lamanya,
    Amin! Biarlah terjadi demikian!

    Sangat Mudah

    Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

    * Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.
    Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap.Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.
    * Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.
    Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik." Ibu menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."
    * Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.
    Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur." Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."
    * Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.
    Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh kedalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi."Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana."
    * Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.
    Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
    * Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.
    Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira.
    Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?"Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit."
    * Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah atau memiliki secukupnya saja

    Saya Melihat Harapan

    Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "Istri Anda dalam keadaan baik. Namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri Anda. Ada satu hal yang harus Anda putuskan, keselamatan istri Anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui Anda, sebab keputusan Anda amat menentukan. Jika Anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangani formulir ini", setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara. Sorot matanya di balik kaca mata yang tebal memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar.

    Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar setelah menerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya. Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga, lidahnya kelu. Matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata.
    "Dokkkkter, .....mmm. bbberi kesempatan saaaya untuk berdoa".
    Kepala dokter tersebut menggangguk, tanda setuju. Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar. Suasana saat itu bisu dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara berguman, tidak jelas. Suasa kembali sunyi . Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.
    "Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya. Saya telah melihat harapan."
    Suster itu hanya menggangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangani. Ia kembali menunggu.
    Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crot.., darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya keluar mengelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya, tubuh bayi yang mirip seonggok daging tersebut utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas.
    Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut di kirim ke ruang khusus.
    Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. Ia di beri nama William Cutts. Jika bayi normal, diusia sebelas tahun telah belajar berjalan, tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat. Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannya miring seperti tiang hampir roboh. Dan kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal.
    Sudut pandang dokter rupanya beda dengan kedua orang tuanya, mereka melihat harapan. Orangtuanya terus membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada", demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya. Tuhanpun mewujudkan harapan anak-anakNya.
    Tepat pada waktuNya, William Cutts bersimpuh di kaki- Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya, "Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna", II Korintus 12: 9. Inilah sumber pengharapan baginya.
    Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Tuhan pun membuktikan janjiNya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.
    Setelah menyelesaikan sarjananya di sekolah theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya, Indonesia. Tuhan meneguhkan janjiNya, dalam kelemahan kuasa-Nyata nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia.
    William Cutts telah menyaksikan apa makna hidup di dalam pengharapan yang berlimpah di dalam Kristus!
    Sesungguhnya harapan di dalam Kristus itu, adalah;
    - Harapan selalu memperlihatkan pada orang percaya bahwa di ujung jalan yang gelap ada terang.
    - Harapan selalu dapat menopang kehidupan orang percaya yang telah patah semangat dan tak berdaya.
    - Harapan selalu memberikan peluang, kemungkinan dan kepastian ada pemulihan kembali saat kehidupan dirasa seperti buluh yang patah atau sumbu hanya tinggal asap.
    Jadi harapan itu selalu memberikan kehidupan, semangat, gairah dan kesegaran baru. Dan ..
    Orang yang berharap kepada Tuhan tak pernah dibiarkan malu tersipu-sipu!
    Harapan yang Tuhan Yesus berikan bukan harapan seperti yang Anda dipikirkan atau dunia tawarkan. Harapan di dalam Kristus bukan harapan yang terbatas, tidak pasti dan bersifat temporer. Harapan di dalam Kristus adalah harapan yang melimpah, pasti, dan berlimpah bak sungai. Harapan yang demikian selalu ada di dalam diri orang percaya.
    Dan harapan itu amat nyata secara khusus bagi orang-orang percaya yang mengalami berbagai-bagai dukacita karena pencobaan (ay. 6).
    Jika demikian mengapa Anda berkata , "tidak ada harapan bagiku?" Ambillah selangkah lagi, lihat tangan-Nya terbuka siap memeluk Anda.
    Sumber: Gloria Ministry - YS

    Sebelum Hari Ini

    Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,

    Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
    Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,

    Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apa pun untuk dimakan
    Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa

    Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan
    Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,

    Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya
    Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri Anda,

    Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup
    Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,

    Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat
    Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,

    Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya tidak punya anak
    Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,

    Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan
    Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,

    Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan
    Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,

    Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti Anda
    Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,

    ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa
    Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
    Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,

    Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup!
    Life is a gift ...

    Live it ...

    Enjoy it ...

    Celebrate it ...

    And fulfill it ...
    Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu

    Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan

    Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,

    Mereka cantik/tampan karena Anda mencintainya,
    It"s true you don"t know what you"ve got until it"s gone, but it"s also true You don"t know what you"ve been missing until it arrives!!!

    Seberapa dalam Kita Mengasihi-Nya?

    Oleh: Denny Teguh Sutandio
    Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22:37)
    Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. (1Yoh. 5:2-4)
    1. Pendahuluan Dan Latar Belakang
      Apakah kasih itu? Dunia kita banyak memiliki definisi kasih. Mereka mengajarkan dan menilai kasih/cinta itu hanya sebatas hal-hal fenomenal. Misalnya, jika seseorang memberikan sesuatu kepada pasangan atau teman/rekannya, itulah cinta/kasih. Bahkan tidak sedikit orang Kristen masih memiliki pandangan serupa bahwa kasih/cinta itu adalah sesuatu yang fenomenal sifatnya. Bagaimana pandangan Alkitab sendiri mengenai kasih khususnya berkenaan dengan Allah adalah Kasih?
    2. Konsep Alkitab Mengenai Kasih: Allah Adalah Kasih
      Kasih pertama kali ditunjukkan oleh Allah yang adalah Kasih (1Yoh. 4:16). Kasih Allah ditunjukkan dengan menciptakan dunia dan manusia ini. Kasih-Nya juga ditunjukkan dengan memelihara ciptaan-Nya. Tetapi dosa mengakibatkan manusia tidak lagi melihat dan merasakan cinta kasih Allah. Dosa mengakibatkan manusia curiga kepada Allah, seolah-olah Allah itu tidak lagi mengasihi mereka dengan memberikan pengecualian untuk tidak makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Kecurigaan itu akhirnya berakhir dengan dikeluarkannya Adam dan Hawa dari Taman Eden. Dari Taman Eden, manusia terus berdosa dan makin tidak menghormati dan mengasihi-Nya. Mengapa? Karena di titik pertama, mereka sudah terlepas dari kasih-Nya.
      Semakin seseorang terlepas dari kasih Allah, maka orang tersebut tentu tidak mampu mengasihi Allah. Orang yang tidak mengasihi Allah tentu akan mengasihi diri dan hal-hal lain di luar Allah yang mengenakkan. Bagi orang ini, Allah hanyalah pengganggu bagi kebebasannya. Tidak heran juga, peristiwa Menara Babel adalah peristiwa di mana manusia mulai menyingkirkan Allah dengan mendirikan menara yang tingginya sampai ke langit (Kej. 11). Untuk menyadarkan manusia ini, Allah mengacaukan bahasa mereka, sehingga akhirnya mereka terserak. Karena manusia sudah tidak lagi mampu mengasihi Allah akibat dosa, maka tidak ada jalan lain bagi keselamatan manusia, kecuali satu-satunya jalan yang Allah sendiri sediakan, yaitu Allah mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa umat-Nya, sehingga mereka dapat mengasihi Allah kembali.
      Penebusan Kristus menjadi satu-satunya teladan penting bagi umat-Nya untuk memiliki Kasih sejati dan mengasihi Allah. Penebusan Kristus mengajarkan adanya kasih yang rela berkorban. Kristus yang adalah Putra Tunggal Allah (Pribadi kedua Allah Trinitas) rela merendahkan diri-Nya menjadi manusia (tanpa meninggalkan atribut Ilahi-Nya) untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa dan membawanya kepada kehidupan kekal (Y oh. 3:16). Kristus yang tidak berdosa rela membuat diri-Nya berdosa untuk menyelamatkan manusia berdosa. Kristus yang tidak seharusnya menanggung murka Allah rela menanggung murka Allah demi menyelamatkan manusia berdosa dari murka Allah. Kristus rela mendamaikan Allah yang Mahakudus dengan manusia yang berdosa. Semua itu dilakukan-Nya karena kasih-Nya kepada umat-Nya. Manusia yang sudah diselamatkan oleh penebusan Kristus dan mengalami penebusan itu pasti memiliki suatu kerinduan untuk mengasihi Allah lebih dalam lagi atas dorongan Roh Kudus di dalam hati umat-Nya.
    3. Seberapa Dalam Kita Mengasihi-Nya
      1. Mengasihi Allah
        Setelah kita mengetahui konsep Alkitab tentang kasih di mana Allah adalah Kasih, lalu, pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita mengasihi Allah?
        1. Kita mengasihi Allah dengan totalitas hidup kita
          Di dalam Matius 22:37, Tuhan Yesus mengajar bahwa kita harus mengasihi Allah dengan hati, jiwa, dan akal budi kita. Di sini, Ia menyebut: hati, jiwa, dan akal budi. Mengasihi Allah dimulai dari hati kita. Hati berbicara mengenai inti hidup kita. Tuhan Yesus mengajar bahwa segala sesuatu keluar dari hati (Mat. 15:18-19).
          Ketika hati kita busuk, maka kita berkata hal-hal yang busuk. Oleh karena itulah, di titik pertama, Ia mengajar kita bagaimana hati kita terlebih dahulu harus mengasihi-Nya. Percuma saja, seorang Kristen aktif pergi ke gereja, membaca Alkitab dan buku-buku theologi, berdoa, melayani Tuhan, dll, tetapi hatinya tidak lagi mengasihi Allah. Mereka melakukan syariat-syariat agama, tetapi hatinya menjauh dari Allah, persis seperti yang dilakukan oleh orang Israel. Bacalah peringatan Allah kepada umat-Nya di dalam Yesaya 29:13, Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya men jauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, Bagaimana kita bisa memiliki hati yang mengasihi Allah? Kita bisa memiliki hati yang mengasihi Allah ketika hati kita benar-benar diserahkan kepada Allah, sehingga hati kita sinkron dengan hati Allah. Ketika Allah sedih, kita ikut sedih. Ketika Allah bersukacita, kita pun ikut bersukacita. Konsep ini mirip seperti sebuah judul/kalimat lagu rohani kontemporer,Brikanku hati seperti hati-Mu.
          Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki hati seperti hati Allah yang mencintai: kebenaran, keadilan, kejujuran, kesucian, dan kemuliaan (dignitas)? Ataukah hati kita lebih condong kepada setan yang lebih mencintai diri, kejahatan, dusta, kenajisan, dll? Biarlah kita mengintrospeksi diri kita masing-masing.
          Kemudian, setelah hati kita mengasihi Allah, pikiran kita pun perlu mengasihi Allah. Caranya adalah mensinkronkan pikiran kita dengan pikiran Allah, sehingga kita memikirkan apa yang dipikirkan Allah, yaitu: yang baik, menyenangkan Allah (berkenan kepada Allah), dan sempurna (bdk. Rm. 12:1-2; Flp. 4:8).
        2. Kita mengasihi Allah dengan mengasihi firman-Nya
          Lalu, bagaimana kita mensinkronkan hati dan pikiran kita dengan hati dan pikiran Allah? Cara kedua kita mengasihi Allah adalah kita mengasihi firman-Nya. Firman-Nya menundukkan dan membawa hati dan pikiran kita kepada hati dan pikiran Allah. Dengan mengasihi firman-Nya dengan membacanya, kita beroleh hati dan pikiran yang bijaksana sesuai dengan hati dan pikiran Allah (meskipun tidak 100% sempurna). Pemazmur menyingkapkan bagi kita betapa agung firman-Nya di dalam Mazmur 119. Mari kita menyelidikinya.
          Mazmur 119:16, Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan.Di ayat 24, pemazmur mengatakan, Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku.Pemazmur bersukacita akan ketetapan-ketetapan-Nya dan bahkan ia tidak akan melupakan firman-Nya. Luapan sukacita ini bisa timbul karena ia mengasihi firman-Nya. Orang yang mengasihi firman-Nya tidak akan pernah melupakan firman-Nya. Ia bahkan menyimpan terus firman-Nya dan menggunakan firman-Nya untuk diaplikasikan di dalam kehidupannya sehari-hari. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengasihi firman-Nya seperti yang pemazmur inginkan dan lakukan ini?
          Di ayat 36, pemazmur berucap, Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba.Bukan hanya menjadi kegemaran pemazmur saja, firman-Nya juga menjadi tambatan hati pemazmur. Ia tidak mau dicondongkan hatinya kepada apa pun termasuk laba, sebaliknya ia hanya mau dicondongkan hatinya hanya kepada peringatan-peringatan-Nya. Firman-Nya menjadi satu-satunya pembimbing jalan hidup pemazmur. Bagaimana dengan kita? Benarkah firman Tuhan (Alkitab) menjadi satu-satunya sumber penuntun hidup kita (dan bukan uang, diri, dll)?
          Di ayat 66, pemazmur mengajarkan kepada kita, Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.Bagi pemazmur, firman Allah juga sebagai jalan untuk mendapatkan kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik (bdk. ay. 104). Pemazmur mengajarkan kepada kita bahwa kita percaya kepada firman-Nya baru setelah itu kita beroleh kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik (bdk. Ams. 1:7a). Mengapa ia bisa menyimpulkan bahwa firman-Nya adalah sumber bijaksana dan hikmat sejati? Karena ia tahu bahwa firman-Nya adalah firman Allah yang tidak bersalah (bdk. ay. 89).
          Sebagai kesimpulan, saya akan mengambil ayat 105 sebagai penutup kesimpulan pemazmur tentang betapa agung firman-Nya, yaitu, Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.Firman-Nya adalah pelita bagi kita kita dan terang yang menerangi jalan kita, sehingga setiap hidup kita mendapat penerangan dan pencerahan terus-menerus di dalam firman-Nya melalui Roh Kudus.
          Setelah kita menelusuri sekilas tentang ungkapan sukacita pemazmur akan agungnya firman-Nya, sekarang saya akan membahas tentang bagaimana kita mengasihi firman-Nya. Jangan pernah percaya kepada orang Kristen yang katanya dia mengasihi firman-Nya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, baik hati, pikiran, perkataan, tingkah laku, dan kelakuan mereka tidak sesuai dengan firman-Nya. Lalu, bagaimana kita tahu dan kita mengoreksi diri kita apakah kita benar-benar mengasihi firman-Nya? Ada beberapa prinsip:
          1. Mengasihi firman-Nya berarti percaya akan ketidakbersalahan Alkitab dan menjadikan firman-Nya sebagai satu-satunya standar mutlak kebenaran dan kehidupan.
            Pertama-tama, seorang yang mengasihi firman-Nya harus mengakui bahwa firman-Nya (Alkitab) itu tidak bersalah. Ini adalah presuposisi iman yang paling penting. Orang yang sudah percaya bahwa firman Tuhan itu tidak bersalah, maka tentu ia akan lebih mengasihi firman-Nya, karena ia percaya bahwa firman-Nya adalah kehendak-Nya baginya. Tidak mungkin ada orang yang berkoar-koar berkata bahwa ia mengasihi firman-Nya, tetapi ia adalah seorang yang curiga akan kebenaran Alkitab. Dengan demikian, jika kita katanya mengasihi firman-Nya, tetapi masih curiga akan kebenaran Alkitab, lebih baik bagi kita untuk membereskan presuposisi iman kita dahulu sebelum terlambat.
            Setelah kita percaya akan ketidakbersalahan Alkitab, kita juga perlu menjadikan firman-Nya sebagai satu-satunya standar mutlak kebenaran dan kehidupan. Prinsip Reformasi dari Dr. Martin Luther adalah Sola Scriptura (hanya Alkitab). Berarti, Alkitab adalah satu-satunya standar kebenaran dan kehidupan umat-Nya. Artinya, sebagai standar kebenaran, Alkitab menjadi patokan kita menguji segala doktrin Kristen dan dunia ini. Sebagai standar kehidupan, Alkitab menjadi satu-satunya patokan kita menapaki hidup kita baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pasangan hidup. Tetapi yang sering kali terjadi dengan banyak orang Kristen adalah mereka sangat memegang teguhprinsip Sola Scriptura tetapi hanya berlaku untuk masalah doktrin. Ketika sudah menyangkut masalah kehidupan sehari-hari, terutama panggilan Allah di dalam pendidikan, pekerjaan, dan pasangan hidup, mereka tidak lagi memegang Sola Scriptura, tetapi Sola Diri (hanya diri), Sola Orangtua (hanya orangtua), Sola Pacar (hanya pacar), dll. Kehidupan semacam ini adalah kehidupan yang terpecah (fragmented) dan Tuhan tidak suka hidup umat-Nya adalah hidup yang dualisme memisahkan sakral dan sekular. Tuhan menginginkan hidup umat-Nya adalah hidup yang terintegrasi memuliakan-Nya.
          2. Mengasihi firman-Nya berarti membaca, mempelajari, dan merenungkan firman-Nya.
            Adalah suatu ketidakmasukakalan (absurditas) jika katanya orang Kristen mengasihi firman-Nya, tetapi kita tidak suka menggali kelimpahan firman-Nya itu. Orang yang tidak suka menggali kelimpahan firman-Nya adalah orang yang sebenarnya tidak pernah mengasihi firman-Nya. Mereka hanya mengasihi firman-Nya yang cocok dengan pola pikir mereka yang humanis dan materialis. Sudah saatnya orang Kristen bertobat dan kembali kepada firman-Nya serta mengasihi firman-Nya. Mengasihi firman-Nya tahap kedua adalah dengan menggalinya. Menggali firman-Nya tentu dengan membaca, mempelajari, dan merenungkan firman-Nya.
            Tahap pertama menggali firman-Nya dengan membaca firman-Nya. Menggali firman Tuhan tidak mungkin bisa dilakukan jika tidak ada keinginan untuk membaca firman-Nya. Membaca firman-Nya bukan hanya di gereja saja, tetapi di dalam kehidupan kita yang rutin setiap hari. Ini adalah tindakan disiplin rohani kita sebagai umat-Nya. Sungguh suatu keanehan jika kita mengaku diri Kristen, tetapi tidak suka membaca Alkitab, melainkan lebih suka membaca koran, majalah, novel, dll. Sungguh suatu keanehan juga jika kita katanya Kristen, tetapi tidak mau meluang waktu untuk membaca Alkitab, sebaliknya selalu ada waktu untuk membaca koran, majalah, novel, dll. Bagaimana dengan kita? Seberapa rindu kita membaca firman-Nya? Kerinduan kita menandakan tingkat kematangan rohani kita. Semakin matang rohani kita, semakin kita rindu membaca firman-Nya.
            Tahap kedua menggali firman-Nya adalah mempelajari firman-Nya. Setelah kita membaca, hendaklah kita juga mempelajari firman-Nya. Mempelajari di sini bukan hanya sekadar membaca sambil lalu, tetapi membaca dengan teliti dengan memerhatikan segala aspek di dalam penafsiran Alkitab, misalnya memerhatikan: konteks, latar belakang, perbandingan terjemahan, dll. Di sini, kita membutuhkan studi intensif yang akurat memerhatikan satu ayat yang kita pelajari. Untuk studi ini, kita memerlukan berbagai peralatan (tools), seperti: Konkordansi Alkitab, variasi terjemahan Alkitab (Inggris, Indonesia, Mandarin, dll), Interlinear (Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani), Tafsiran Alkitab yang bertanggung jawab, dll.
            Semakin kita menggali kedalaman firman-Nya dengan mempelajari Alkitab, semakin kita menemukan banyak berkat yang terkandung di dalamnya. Ini bukan hanya sekadar teori kosong belaka. Saya sudah membuktikannya ketika saya sekali seminggu menggali kekayaan Surat Roma dan secara pribadi, saya menemukan banyak berkat yang indah dari penggalian Surat Roma itu yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita cukup hanya membaca Alkitab saja tanpa mau mempelajarinya secara mendalam? Hari ini, biarlah kita bertobat dari penyakit kemalasan kita mempelajari firman-Nya.
            Tahap terakhir menggali firman-Nya adalah dengan merenungkan firman-Nya. Mempelajari firman-Nya itu belum cukup, kita dituntut juga untuk merenungkan firman-Nya. Mengapa? Karena jika kita hanya berhenti pada aspek mempelajari firman-Nya, kita menjadikan firman Tuhan hanya sebagai objek penelitian kita, padahal sesungguhnya, firman Tuhan lah yang mengoreksi hidup kita (subjek). Itu sebabnya, mempelajari firman-Nya harus disertai dengan tindakan selanjutnya yaitu merenungkan firman-Nya.
            Merenungkan adalah tindakan reflektif yang korektif. Setelah kita mempelajari firman-Nya, kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah melakukan apa yang sudah kita pelajari tersebut? Jika kita pikir kita belum melakukannya, maka komitmen apa yang harus kita buat untuk melakukannya? Jika kita sudah melakukannya, biarlah kita pun mengintrospeksi diri kita, dengan motivasi kita melakukannya, apakah sungguh-sungguh memuliakan Tuhan atau hanya ingin menjalankan syariat agama tertentu supaya tidak dihukum? Semua ini kita lakukan sebagai langkah introspeksi reflektif sekaligus korektif yang mempertumbuhkan iman dan kerohanian kita. Spiritualitas yang dipisahkan dari merenungkan firman-Nya adalah spiritualitas yang berbahaya dan tidak ada bedanya dengan spiritisme ala Gerakan Zaman Baru (spiritualitas tanpa ikatan yang benar). Biarlah spiritualitas kita ditumbuhkan dengan mempelajari dan merenungkan firman-Nya, sehingga hidup kita makin memuliakan-Nya.
          3. Mengasihi firman-Nya berarti melaksanakan seluruh kebenaran firman.
            Bukan hanya membaca, mempelajari, dan merenungkan firman-Nya, sebagai orang Kristen, kita dituntut untuk melaksanakan seluruh kebenaran firman. Ini adalah tindakan dan bukti terakhir kita benar-benar mengasihi firman-Nya. Adalah suatu keanehan jika kita mengaku diri Kristen dan mengasihi firman-Nya, tetapi itu hanya kita imani dan pelajari saja, tanpa kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sini, wilayah prinsip Sola Scriptura lebih luas lagi. Sola Scriptura bukan hanya berlaku di wilayah doktrinal saja, tetapi di seluruh aspek kehidupan sehari-hari (ada kaitannya dengan poin a). Di poin a tadi kita membahas bahwa mengasihi firman-Nya berarti menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya fondasi bagi kehidupan kita sehari-hari. Maka di poin terakhir ini, kita mengimplementasikan konsep di poin a itu dengan segala konsekuensinya. Misalnya, jika firman Tuhan mengajarkan bahwa kita harus taat mutlak kepada pimpinan Allah di dalam segala sesuatu (bahkan di dalam memilih pekerjaan paruh waktu), tetapi orangtua, teman, pacar, saudara, dll menghalangi kita untuk menaati-Nya, maka kita harus berani TIDAK mematuhi halangan mereka dan kembali tetap taat mutlak kepada pimpinan Allah.
            Ini berarti Sola Scriptura bukan hanya berlaku di dalam kehidupan sehari-hari saja, tetapi kita aplikasikan dengan tegas tanpa kompromi, meskipun harus menerima aniaya dan tekanan dari pihak luar. Ingatlah, kita harus lebih taat kepada Sumber Otoritas, yaitu Allah dan bukan pada otoritas turunan, seperti: orangtua, pemerintah, guru, dll. Jika kita lebih menaati otoritas turunan ketimbang Sumber Otoritas, kita pun berdosa karena telah menggantikan Sumber Otoritas dengan otoritas turunan yang merupakan manusia yang dicipta, terbatas, dan berdosa (Pdt. Dr. Stephen Tong: created, limited, and polluted).
    4. Kerinduan Kita Mengasihi Allah Lebih Dalam Lagi
      Setelah kita membahas mengenai bagaimana kita mengasihi Allah, kita merenungkan terlebih dahulu seberapa dalam kita mengasihi-Nya. Seberapa dalammengindikasikan adanya ukuran/tingkat kita mengasihi-Nya. Kita tidak mengasihi-Nya dengan sembarangan, tetapi kita mengasihi-Nya lebih dalam lagi. Hal ini ibarat seorang pria mengasihi pasangan (pacar/istri)nya. Pria mengasihi pasangannya tentu bukan sebatas rutinitas, tetapi ada suatu hati yang ingin mengasihi pasangannya lebih dalam lagi. Artinya, si pria ini mau memberikan yang terbaik kepada pasangannya, misalnya, memberikan apa yang pasangannya sukai.
      Bagaimana kita bisa memiliki kerinduan untuk mengasihi Allah lebih dalam lagi?
      1. Kerinduan untuk mengenal Allah lebih dalam lagi
        Kita bisa memiliki kerinduan untuk mengasihi Allah lebih dalam lagi ketika kita memiliki kerinduan untuk mengenal-Nya lebih dalam lagi. Di sini, kasih dikaitkan dengan pengenalan. Di dalam dunia sekuler saja, kita mengetahui bahwa seorang cowok baru bisa mengasihi pasangan (pacar/istri)nya lebih dalam lagi tatkala pria tersebut mengenal pasangannya. Artinya, si cowok ini mengenal pasangannya secara keseluruhan. Misalnya, si cewek suka warna tertentu, maka tentu sebagai pasangannya, si cowok harus mengetahui favorit warna pasangannya. Begitu juga sebaliknya dengan si cewek juga harus mengenal warna favorit apa dari cowoknya. Bukan hanya di dalam hal itu, masing-masing pasangan juga harus mengenal karakter, iman, dll dari pasangannya. Misalnya, cowok pasti mengenal ceweknya yang agak sensitif (mudah marah), begitu juga sebaliknya, cewek pasti mengenal cowoknya yang mungkin penyabar.
        Itulah yang dinamakan pengenalan. Dunia kita mengenal hal ini dengan baik, tetapi anehnya, justr orang Kristen yang tidak mengenalnya dalam kaitan dengan hal-hal kerohanian. Di dalam hal rohani, kita katanya mengasihi Allah, tetapi ketika kita disuruh mengenal Allah, kita malas. Bagaimana kita mengenal Allah lebih dalam lagi? Ya, jelas, melalui Alkitab, kita mengenal Allah, karena di dalam Alkitab, firman Allah, kita mengenal banyak mengenai Allah yang adalah Mahakudus, Kasih, Mahaadil, Mahabijak, Mahaagung, dll. Nah, masalahnya adalah kita malas membaca Alkitab, sehingga kita tidak mengenal Allah secara penuh, tetapi hanya parsial. Bagaimana kita bisa mengasihi Allah jika kita tidak mengenal-Nya lebih dalam lagi? Kita kalau disuruh melayani Tuhan, kita giat sekali, tetapi kalau kita disuruh belajar firman-Nya, kita malasnya bukan main. Ini tanda kita sebenarnya tidak pernah mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, karena kita maunya melayani-Nya tanpa mau belajar Pribadi yang kita layani. Inilah kegagalan orang Kristen di zaman postmodern, suka menonjolkan diri, tetapi tidak mau belajar/merendah. Bagaimana dengan kita? Apakah kita lebih suka melayani Tuhan saja ataukah kita lebih suka mengenal Pribadi yang kita layani sambil melayani-Nya sebagai wujud kita mengasihi-Nya? Biarlah kita mengintrospeksi diri kita masing-masing.
      2. Kerinduan untuk menyenangkan hati Allah
        Kedua, setelah kita rindu mengenal Allah, selanjutnya kita dituntut untuk menyenangkan hati Allah. Saya akan memberikan ilustrasi. Setelah kita mengenal pasangan kita, kita tentu memiliki kerinduan untuk menyenangkan hatinya. Misalnya, jika pasangan kita menyukai makanan tertentu, kita berusaha menyenangkan hatinya, minimal ikut makan dengannya. Misalnya, jika iman pasangan kita lemah, kita harus menguatkannya. Bagaimana hubungan kita dengan Allah? Setelah kita mengenal Allah, apa yang kita lakukan kemudian? Pengenalan akan Allah tidak cukup hanya sebatas rasio yang mengerti theologi, tetapi pengenalan akan Allah mencakup tindakan bagaimana menyenangkan hati Allah. Kata berkenan kepada Allahdalam Roma 12:2 di dalam bahasa Yunani bisa diterjemahkan sebagai disenangi Allah.1 Uniknya, Roma 12:2 ini dikaitkan dengan ibadah sejati. Ibadah sejati adalah ibadah yang tidak dipengaruhi oleh dunia (secara pasif) dan mengubah pola pikir kita sesuai dengan kehendak Allah yang: baik, berkenan kepada Allah, dan yang sempurna (secara aktif).
        Dengan kata lain, bagaimana kita menyenangkan Allah? Kita menyenangkan hati Allah dengan terus berusaha melakukan apa yang Ia inginkan. Alkitab mengajar, Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.(1Yoh. 5:2) Dengan kata lain, kita dapat mengasihi Allah lebih dalam lagi tatkala kita menyenangkan hati-Nya dan kita bisa menyenangkan hati-Nya tatkala kita melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Bagaimana kita bisa melakukan apa yang diperintahkan-Nya?
        1. Kerelaan untuk taat mutlak.
          Kita bisa melakukan apa yang diperintahkan-Nya dengan pertama-tama kita rela untuk taat mutlak. Apa artinya taat mutlak? Berarti, kita menundukkan diri kita secara mutlak kepada Allah. Menundukkan diri berarti kita patuh dan tidak bertanya apa pun kepada Allah. Menundukkan diri juga berarti mengatakan TIDAK kepada kehendak diri yang bertentangan dengan kehendak Allah. Ketika Allah memanggil Abraham keluar dari Urkasdim, Abraham taat. Artinya adalah Abraham tidak bertanya apa pun kepada Allah tentang masa depannya ketika ia keluar dari Urkasdim. Mengapa Abraham tidak bertanya apa pun? Karena ia beriman pada dan di dalam Allah. Iman inilah yang mengakibatkan ia berkomitmen menjalankan perintah Allah dengan segala risiko yang harus ia tanggung. Iman yang sama juga terdapat di dalam diri Paulus. Karena iman, ia rela taat mutlak akan pimpinan Allah ke mana pun ia diutus. Paulus tak pernah bertanya risiko yang harus ia hadapi. Hanya satu yang ia lakukan yaitu TAAT.
          Mengapa para tokoh di Alkitab bisa memiliki ketaatan kepada Allah? Karena mereka yang sudah diselamatkan memiliki komitmen iman untuk terus menyenangkan Allah dengan melakukan perintah-Nya. Bagaimana dengan kita? Ketika firman Tuhan diberitakan baik melalui pembacaan Alkitab maupun di dalam khotbah, bagaimana reaksi kita? Ketika firman Tuhan mengajar kepada kita untuk menyangkal diri dan memikul salib, sudahkah kita siap untuk taat mutlak? Apakah kita masih bertanya dan menimbang untung ruginya kita ketika menyangkal diri? Mari kita introspeksi diri masing-masing: seberapa rindukah kita rela taat mutlak kepada perintah Allah?
        2. Kerelaan untuk ditegur dan ingin bertumbuh terus-menerus.
          Kita sudah taat mutlak, tetapi mungkin sekali di dalam proyek ketaatan kita, ada hal-hal yang belum kita jalankan atau kita belum taat 100%. Di sini, kita membutuhkan kerelaan untuk ditegur oleh saudara seiman kita dan ingin bertumbuh di dalam iman terus-menerus. Orang yang dewasa TIDAK diukur dari seberapa tinggi pendidikan akademis yang dia peroleh atau seberapa hebat dia menguasai segala sesuatu. Orang yang dewasa diukur dari seberapa dia mau DITEGUR. Orang dewasa yang ketika ditegur, langsung marah-marah, itu membuktikan orang itu sebenarnya masih kekanak-kanakan (childish behavior). Dewasa ini, teguran adalah sesuatu yang haram.Di dalam Kekristenan postmodern, ketika ada hamba Tuhan yang bertanggung jawab menegur dosa jemaat/gereja lain yang menyeleweng dari Alkitab, hamba Tuhan itu dicap kurang cinta kasih, menghakimi,dll, lalu memakai Matius 7:1 untuk mendukung argumentasinya yaitu perkataan Tuhan Yesus yang mengajarkan agar kita jangan menghakimi.
          Apakah benar Matius 7:1 mengajarkan agar kita jangan menghakimi? TIDAK! Matius 7:1 memang mengajar bahwa kita jangan menghakimi, tetapi jangan lupa, di ayat 2-5, Tuhan Yesus menajamkan makna di ayat 1 yaitu kita harus menghakimi dengan standar/ukuran yang benar. Artinya, kita jangan menghakimi kesalahan orang, jika kita sendiri memiliki kesalahan yang sama dengan kesalahan orang yang kita hakimi. Misalnya, kita adalah koruptor, lalu kita menghakimi koruptor lain. Itu adalah penghakiman yang tidak adil, karena kita menghakimi kesalahan orang lain, padahal kesalahan kita tidak berbeda dengan kesalahan orang yang kita hakimi. Jika memang benarbahwa di Matius 7:1, Tuhan Yesus menyuruh kita untuk tidak menghakimi, mengapa di ayat 15-23, Tuhan Yesus yang sama menghakimi siapa yang sesat dan tidak? Di sini, kita harus mengerti totalitas pengertian Alkitab tentang menghakimi yang benar, bukan dengan motivasi yang sembrono dan tidak bertanggung jawab. Kita menghakimi sesuai dengan u kuran yang benar yaitu Kebenaran Allah, selebihnya kita menyerahkannya kepada Allah (bdk. Rm. 12:19).
          Konsep teguran atau/dan penghakiman yang benar ini mengakibatkan kita semakin taat kepada Allah dan semakin rindu bertumbuh. Mengapa? Karena dengan teguran itu, kita disadarkan akan kekurangan kita di dalam proyek ketaatan kita, kemudian kita dibangkitkan kembali hasrat untuk terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus melalui karya Roh Kudus. Roh Kudus bisa memakai teguran dari saudara seiman kita untuk mempertumbuhkan iman kita. Oleh karena itu, jangan sepelekan teguran dari saudara seiman kita. Pikirkanlah baik-baik teguran itu dari perspektif kebenaran Allah. Jika teguran itu benar, terimalah dengan kerendahan hati dan ubahlah seluruh kekurangan kita dengan bantuan Roh Kudus. Sudahkah hati kita terbuka pada teguran Roh Kudus baik secara langsung maupun melalui saudara seiman kita untuk menjalankan perintah-Nya? Pertumbuhan iman dan karakter kita dimulai dari kerinduan kita ditegur.
        3. Kerelaan untuk saling menguatkan sesama umat Tuhan.
          Setelah kita rela ditegur, selanjutnya kita bukan hanya menerima teguran, tetapi kita pun dituntut untuk menguatkan sesama umat Tuhan lainnya. Di sini, kita membutuhkan satu komunitas hidup (istilah yang saya pinjam dari Pdt. Sutjipto Subeno ketika mengeksposisi Matius: life community “komunitas hidup). Komunitas hidup adalah komunitas yang saling menguatkan iman dan karakter satu sama lain. Komunitas yang saling menguatkan adalah komunitas yang ingin bertumbuh bersama untuk menjalankan perintah Tuhan. Misalnya, jika kita sudah menjalankan perintah Tuhan tertentu, kita bisa mengingatkan sesama kita yang belum menjalankannya, begitu juga sebaliknya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita sebagai anggota tubuh Kristus mengingatkandan menguatkan umat Tuhan lainnya ketika mereka berada di dalam jalan yang menyeleweng dari kebenaran?
          Setelah kita merenungkan seberapa dalam kita mengasihi-Nya, bagaimana respon kita? Sudahkah kita memiliki kerinduan yang dalam untuk lebih lagi mengasihi Allah dan firman-Nya dengan menaati apa yang difirmankan-Nya? Amin. Soli Deo Gloria.
    Catatan kaki:
    1 Hasan Sutanto, PBIK Jilid 1: Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2006), hlm. 862.

    Sebuah Perenungan

    Oleh: Ev.sudiana
    Rumah yang paling indah adalah yang di dalamnya ada cinta
    Makanan yang paling lezat adalah yang disantap dengan hati bersyukur
    Penyembahan paling tinggi adalah dengan segala kesungguhan dan ketulusan
    Kesuksesan sejati adalah ketika kita memunyai karakter Kristus
    Pencerahan sejati adalah ketika kita mampu berkata: "Semua kuanggap sampah, karena pengenalanku akan Kristus."
    Orang paling kaya adalah ketika kita selalu berdoa: "Tuhan Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya."
    Kemiskinan yang paling miskin adalah ketika kita tidak sanggup memberika sebuah pujian pada orang lain
    Pelayanan yang paling murni adalah ketika kita memberikan lebih dari apa yang kita dapatkan
    Hamba Tuhan sejati adalah mereka yang mampu berkata: "Kami hanya melakukan apa yang Tuhan suruh kami lakukan."
    Penghargaan sejati adalah ketika Tuhan Yesus berkata "ENGKAU HAMBAKU YANG BAIK."

    Seeking His WiLLing

    Oleh: Uchy Simanjuntak
    Terkadang ada hal-hal yang tak dapat didapat sejalan dengan kehendak kita walaupun kita telah memperjuangkannya dalam waktu dan pergumulan yang besar. Apakah sesungguhnya kita mengerti bahwa hidup kita adalah milik Allah, dan maka dari itu saat bukan kehendak kita yang terjadi, sesungguhnya itu adalah kehendak Tuhan. Sadarkah kita, seberapa terbatasnya kita dan sebaliknya betapa tak terjangkaunya Allah dan semua mujizat-mujizatNya. Atau?? Belumkah kita menyadari bahwa kita ada untuk sebuah karyaNya yang besar yang telah Ia rancangkan, bahkan saat ini sedang berlangsung dalam hidup kita?? Apa arti hidup kita yang sesunggunya???
    Betapa jiwaku haus akan Engkau, ya Allahku.. Terkadang sulit untuk memahami arti hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam Yeremia 29:11, jelas dikatakan bahwa: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan". Lalu, apakah kita akan tetap tinggal dan diam dengan semua keduniawian kita yang sekarang membungkus kita?? Atau, akankah kita berbalik memutar stir kehidupan ini ke arahNya, yang akhirnya akan membawa kita pada kehidupan kekal.
    Dan mencari apalagi benar-benar mendapatkan kehendak Allah yang sebenarnya atas hidup kita memang bukanlah hal yang mudah. Kita harus rela mengerutkan kening untuk berpikir terlebih rela menyatukan kedua telapak tangan lebih intensif lagi padanya. Lebih lagi menjalin komunikasi yang baik dengan Juruselamat kita itu. Percaya bahwa, hidup kita ada dalam genggaman kasihNya.
    Efesus 1:11 juga telah menjelaskan hal yang sama mengenai kehendak Tuhan atas kita, isinya : Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.
    Saya sendiri, menyadari hal ini bukan dalam waktu yang singkat, bahkan sampai saat ini pun, saya masih tetap belajar mendengar, melihat, mengetahui dan terlebih memahami kehendak Tuhan atas hidup saya. Bahkan bersyukurlah atas setiap pergumulan yang boleh terjadi dalam kehidupan Anda. Karena saat pergumula itu datang, saat itulah sesungguhnya Allah sedang bekerja membentuk pribadi Anda seturut dengan kehendakNya. Saat itulah Anda akan benar-benar merasakan tuntunan tangan Tuhan menuju sebuah kedewasaan iman. Lebih setia lagi terhadapNya adalah kuncinya. Dan saat ini, siapkah kita untuk dibentuk Allah?? Sudahkah kita membuka hati kita untuk dimasuki olehNya?? Bersediakah kita menyerahkan segala kehendak kita untuk diubahkan menjadi kehendak Tuhan??
    Masuklah ke dalam kamar Anda,mulailah berkomunikasi lagi denganNya. Berdoa dan serahkan segalanya pada kehendak Tuhan. Apapun itu! Pertanyaan pergumulan hidup, keluarga Anda, pendidikan atau pekerjaan Anda, pelayanan Anda, atau bahkan pasangan hidup Anda sekalipun. Kembali lihat dan rasakan kehadiran kehendak Allah dalam hidup Anda..
    Selamat berdoa..
    God bless you, all..
    ^^

    Sensitivitas Kepada Teguran

    Oleh: Francois M. Fenelon
    "Sensitivitas kepada Teguran adalah Tanda Pasti bahwa kita membutuhkannya"
    Saya tentu saja mau Anda memiliki ketenangan batin. Tetapi saya kira Anda tahu bahwa ketenangan ini tidak eksis melainkan bagi yang rendah hati. Dan tidak ada kerendah hatian yang sejati melainkan hal itu dihasilkan oleh Tuhan di dalam setiap situasi. Ini terutamanya benar dalam situasi-situasi dimana kita dipersalahkan karena sesuatu hal oleh orang yang tidak berkenan terhadap kita, dan juga saat kita menyadari kelemahan batin kita. Tetapi sebaiknya kita terbiasa menghadapi pencobaan-pencobaan ini karena kita akan berulang kali diperhadapkan dengan hal-hal ini.
    Tanda yang pasti bagi kerendahhatian yang dilahirkan dari Tuhan adalah saat kita tidak lagi dikagetkan dengan koreksi oleh orang lain, atau kaget karena hati kita menolaknya. Seperti anak-anak kecil, kita tahu dengan baik bahwa orang yang mengoreksi kita itu benar, tetapi kita juga harus dengan rendah hati mengakui fakta bahwa kita tidak dapat, oleh diri kita sendiri, membuat koreksi yang diperlukan itu. Kita tahu siapa kita, dan kita tidak punya pengharapan untuk menjadi lebih baik melainkan melalui rahmat Tuhan. Teguran-teguran dari orang lain, keras dan seolah-olah tidak berperasaan, sebenarnya kurang dari apa yang kita sesungguhnya layak terima. Jika kita menemukan diri kita memberontak dan marah, kita harus memahami bahwa sikap lekas marah pada saat dikoreksi itu jauh lebih parah dari semua kelemahan kita dijumlahkan. Dan jika demikian keadaannya, kita tahu bahwa koreksi itu tidak akan menjadikan kita lebih rendah hati. Jika kita menyimpan dendam karena ditegur itu justru menunjukkan betapa kita membutuhkan teguran itu. Pada kenyataannya, sengat teguran tidak akan dirasakan jika manusia lama kita sudah mati. Jadi, semakin teguran itu menyakitkan, semakin kita sebetulnya membutuhkannya.
    Saya mohon maaf jika saya sudah berkata terlalu keras. Tetapi tolonglah jangan meragukan kasih saya terhadap Anda. Ingatlah bahwa apa yang saya katakan itu tidaklah berasal dari saya. Hal itu dari Tuhan. Dan tangan Tuhanlah yang memakai saya untuk memberikan satu pukulan yang menyakitkan kepada “si aku” yang sedang memberikan Anda begitu banyak masalah. Jika saya telah menyebabkan Anda merasa sakit, ingatlah bahwa rasa sakit itu membuktikan bahwa saya telah menyentuhkan titik yang sensitif di dalam diri Anda. Jadi tunduklah kepada Tuhan dan terimalah semua penanganan-Nya terhadap diri Anda, dengan demikian Anda akan dengan segera memperoleh damai dan ketenangan di dalam jiwa Anda.
    Anda telah seringkali memberitahu orang lain tentang pentingnya penyerahan kepada Tuhan. Sekarang, sangatlah penting bagi Anda untuk mengambil nasihat Anda sendiri. Oh, betapa indahnya kasih karunia yang akan turun ke atas Anda jika Anda dapat seperti seorang anak kecil menerima semua koreksi dan teguran yang Tuhan pakai untuk membuat Anda rendah hati dan tunduk. Saya berdoa agar Dia akan sepenuhnya membinasakan kehidupan “si-aku” di dalam Anda agar “si aku” itu sama sekali tidak lagi ditemukan.

    Senyumlah Pada Tuhan

    Banyak orang tak mau banyak-banyak tersenyum karena hidup di kota besar bukan perlu senyum, tapi punya banyak uang baru bisa tersenyum. Walau uang bisa tersenyum pada orang, senyum perlu uang agar orang tetap bisa tersenyum pada kemiskinan. Maka di kota, orang tersenyum untuk dapat uang agar orang bisa punya uang dan kemiskinan tak lagi tersenyum padanya.

    "Tersenyumlah, Bu," begitu kata seorang ibu setengah baya pada seorang ibu yang lebih muda di sebelahnya, yang senyumnya belum datang seperti juga ibu di depannya, di belakangnya; seperti juga bapak-bapak di samping kiri, kanan bahkan seperti yang tua-tua yang duduk bersila, bersandar pada dinding joroknya; juga yang di sudut-sudut ruangan sempit dan pengap malam itu. Senyum semua orang seolah sembunyi pada gelapnya malam. Hanya beberapa anak kecil yang duduk dan tidur-tiduran di bagian depan, tertawa-tawa seolah tertawa pada miskinnya tempat itu, miskinnya mereka sendiri. Hujan sudah reda. Gerimis masih ada dari sisa deras hujan sebelumnya, tapi banyak air membasahi lantai yang terbawa dari baju lusuh basah orang-orang yang datang, duduk bersila di basahnya lantai di sesaknya ruangan itu.
    "Tersenyumlah, Bu," kata ibu setengah baya itu lagi. Ibu yang disapa belum juga tersenyum. Bau tak sedap bercampur pada lusuh wajah selusuh basah bajunya. Ibu muda itu, seperti orang lain di tempat itu adalah para pemulung. Kebaktian belum dimulai, namun sebagian dari mereka bukan datang untuk kebaktian, tapi untuk makan; kadang untuk uang walau sering tak ada makan dan tak ada uang di tempat sempit dan pengap itu. "Saya sudah sering senyum, pada pagi, pada kehidupan, pada kemiskinan, juga pada malam hujan seperti ini," katanya. Hujan memang selalu membuat, bukan saja diri dan bajunya menjadi basah selusuh-lusuhnya, tetapi juga rumah kardusnya di pinggir rel kereta di seberang sana itu, pastilah sudah menjadi rusak sebasah-basahnya; dan pastilah juga ia harus menatap langit tanpa bulan di atas sana pada tidur malamnya sehabis hujan malam itu.
    Dan siapakah yang berani berkata padanya, "Sudah, hujan sudah kehabisan airnya, jadi tidurlah saja dengan tenang di pinggir jalan sambil berharap-harap pada hujan, agar hujan tak lagi mendatangkan basah air hujannya." Biasanya hujan memang datang lagi tengah malamnya atau pagi-paginya. Sebelumnya atau sesudahnya, sama saja, basahlah pasti tidurnya.
    "Oh, kapan aku bisa berlindung dari basahnya hujan, atau berharap pada hujan agar tak hujan?" lanjutnya. "Tenang, Bu. Tuhan pasti mendengar kesusahan ibu karena Tuhan itu baik," kata ibu setengah baya yang penuh senyum tadi dengan sabar. "Yesus telah memberikan keselamatan kekal itu pada kita dengan rela mati di atas kayu salib. Pastilah Ia sangat mengasihi kita semua. Maka, tersenyumlah pada Tuhan," lanjutnya. "Bagaimana bisa? Aku hidup dalam lusuh basah bajuku, sementara banyak orang hanya senyum untuk uang. Dan sementara aku senyum untuk baju basah lusuhku, aku juga harus senyum bukan untuk uang tapi untuk Tuhan?" sergah ibu muda itu.
    Kebaktian hampir dimulai, percakapan masih jauh dari sepakat. Ibu muda itu semakin membatu sementara ibu setengah baya itu dengan sabar menjatuhkan setetes demi setetes air kerinduan akan Tuhan dalam bait-bait senyumnya. Ada kesedihan dalam getir gentar jiwanya melihat keras membatu hati di hadapan matanya, tetapi senyum itu tetap di jiwanya, mengalir dan mengalir tak habis-habis seolah-olah di sanalah tempatnya Sumber Kehidupan.
    Malam makin jauh malamnya. Gerimis belum berhenti gerimisnya. Masih basah baju mereka, hujan kecil-kecil menyanyikan pujian bagi Tuhan dalam rintik-rintiknya. Tuhan para pemulung di ruang sempit dan pengap. Tuhan atas ´senyum yang belum juga datang´.
    Kebaktian selesai. Percakapan dimulai lagi. Percakapan semakin jauh dari sepakat. Ibu muda itu kini benar-benar sudah membatu, meski baru saja ia menyanyi Haleluya. Ibu setengah baya itu akhirnya menghentikan kata-katanya demi kesabarannya dalam tetap senyumnya, "Andai suatu saat nanti ibu muda ini mau tersenyum untuk Tuhan dan bukan untuk malam, untuk hujan dan untuk uang...," pikirnya. Tetapi ibu muda itu tetap menggerutu pada basah lusuh bajunya, pada malam hujan basah rumah kardusnya, pada Tuhan atas hujan malam itu.
    Ibu setengah baya itu diam seperti malam, namun senyum masih ada di jiwanya dan mengalir di hatinya, terlihat di bibirnya dan terpancar di matanya. Namun angin malam itu telah membawa senyumnya pergi menjauh dari seorang ibu muda
    yang membatu, juga dari sebagian besar orang lusuh dalam lusuh basah baju mereka di tempat itu, yang hanya mau tersenyum pada uang tak juga pada Tuhan. Tak hanya orang yang banyak uang yang tak mau senyum pada Tuhan. Hanya
    sedikit yang tersenyum untuk Tuhan dan bukan untuk uang - senyum itu memang hanya hidup di sana, pada sedikitnya mereka yang senyum pada Tuhan.
    Sebelum ia tahu bahwa kanker tengah merongrong kesehatannya, sebelum semua tahu bahwa kanker itu bertahun-tahun telah ia bawa pergi sampai ke tempat sempit dan pengap, ibu setengah baya itu dulu pernah bilang, "Bukan aku yang tersenyum padamu, tapi Tuhan memang tersenyum padaku, padamu; maka tersenyumlah juga pada Tuhan."
    Dan ketika tahu bahwa kehidupan tak lagi berpihak padanya, ia tetap berkata, "Tersenyumlah selalu pada Tuhan, maka engkau akan tersenyum pada kematian."
    Ibu setengah baya itu, Ibu Mien, kukenal memang dengan senyumnya. Senyum yang datang dari Sumber Kehidupan. Senyum yang telah memberi terang pada malam. Ia baru saja pergi, meninggalkan sedih yang dalam di hatiku dan basah
    di mataku, tapi ia sendiri telah menyambut kematian itu dengan senyum sukacitanya. Bukan karena kematian itu diam-diam seperti diamnya malam, tapi karena sempat ia diberi waktu mengabarkan Injil, sampai hari di ujung hari-harinya, meski harus ke tempat sempit dan pengap.
    "Karena Tuhan itu baik," katanya.
    Masih dapat kuingat senyumnya, pada malam, pada kehidupan, pada kematian, pada Tuhan. Senyum dari Sumber Kehidupan yang dibawanya pergi, telah ditinggalkannya pula bagiku.

    Seorang Bayi Mungil ...

    Seorang Bayi Mungil Hanya Mampu Hidup Selama 6 Jam, Tetapi ...
    Penulis : Karen Kingsbury
    Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI, karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.

    Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili,teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya.Semua orang ikut bersukacita dengan mereka.
    Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya,seorang bayi laki2 dan perempuan. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya.
    Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. "Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak", kata sang ibu di sela tangisannya.
    Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.
    Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ?
    Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya, mereka memohon
    Keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.
    Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi.
    Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.
    Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya.
    Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka..
    Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam.....
    Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian.
    Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya...
    Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :

    • SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.
    • SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain.
    • Ibu Anne mengatakan "Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai
      bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga".

    Sumber: Gifts From The Heart for Women

    Seperti di Penjara

    Oleh: Sujud Prasetio
    Sewaktu saya tinggal di asrama, ada dua teman saya yang sedang bermasalah, padahal hanya persoalan sepele. Oleh karena tidak cepat di selesaikan akhirnya persoalannya menjadi bertambah-tambah dan panjang. Ternyata persoalan tersebut membawa permusuhan yang tidak mudah di carikan jalan damainya. Masing-masing bersikeras tidak mau mengalah. Akibatnya kedua teman saya menyimpan kepahitan satu dengan yang lain. Jika mereka tergabung di satu team, keduanya tidak mau tegur sapa seolah-olah tidak mengenal satu dengan yang lain dan mereka sering bersikap salah tingkah sendiri.
    Kebencian dan kepahitan yang di alami oleh kedua teman saya itu telah membuat mereka hidup dengan tidak bebas. Masalah ini pun mungkin kita pernah mengalami. Jika kita bertemu dengan orang yang tidak kita senangi, maka yang terjadi adalah kita tidak merasa tenang dan tidak bebas. Ketika kita tidak bisa mengampuni seseorang, maka kita telah memasukkan orang tersebut ke dalam penjara; dan ketika kita mengampuni seseorang berarti kita telah membebaskan orang tersebut dari dalam penjara. Siapakah orang tersebut? Tidak lain adalah diri kita sendiri. Jadi jika saat ini saudara masih menyimpan kepahitan, ampunilah dia, karena saudara sedang membebaskan anda sendiri. Tidak ada jalan lain untuk hal ini, kecuali melepaskan pengampunan.
    Memang tidak mudah untuk memberikan pengampunan, tetapi firman Tuhan mengajarkan agar kita jangan membenci saudara-saudara kita, Rasul Yohanes berkata, jika kita membenci saudara kita berarti kita adalah seorang pembunuh (I Yoh. 3:15), bahkan TuhanYesus sendiri mengajarkan, kalau kita membenci saudara kita berarti kita telah membunuhnya di dalam hati. Jika kita mengasihi Tuhan berarti kita juga mau melakukan perintah Tuhan. Mengampuni seseorang bukan masalah bisa atau tidak bisa, tetapi persoalannya adalah apakah kita mau. Keberanian tidak hanya di butuhkan untuk membela hak kita, tetapi keberanian juga di butuhkan untuk mengampuni. Bagaimana dengan Anda, apakah masih ada kebencian yang berakar di dalam hati Anda? Tidakkah Anda ingin hidup bebas? Ampunilah kepada orang yang telah menoreh luka di hati Anda dan biarkan damai sejahtera Tuhan memenuhi hati Anda.

    Siapakah Debata (Dewata) itu?

    Penulis : Rheinhard Sinaga
    Tuhan melarang penyembahan kepada ilah-ilah asing [Keluaran 20 ayat 3-5]. Penyembahan kepada ilah-ilah asing merupakan perzinahan rohani yang menduakan Tuhan [Imamat 20 ayat 6]. Siapakah yang termasuk ilah-ilah asing? Ilah-ilah asing adalah ilah, tuhan sembahan bangsa-bangsa [1 Tawarikh 16 ayat 26]. Hanya Tuhan yang telah datang sendiri ke dunia ini, Tuhan kita YESUS KRISTUS, sebagai satu-satunya TUHAN pencipta alam semesta yang patut disembah oleh seluruh ciptaan-Nya.

    Ilahnya orang di tanah kanaan yaitu ilahnya orang Amori, ilahnya orang Het, ilahnya orang Feris, ilahnya orang Kanaan, ilahnya orang Hewi, dan ilahnya orang Yebus adalah berhala. Alkitab mencatat dari berbagai suku bangsa mengenal dan menyembah ilah atau tuhan lokal. Perhatikanlah peta Alkitab pada Alkitab saudara, yaitu peta kerajaan Israel dan Yehuda. Buatlah catatan peta pada Alkitab saudara bahwa bangsa Moab menyembah dewa Kamos [1 Raja-raja 11 ayat 7], Baal Peor [Bilangan 25 ayat 23]. Bangsa Amon menyembah dewa Milkom dan dewa Molokh [1 Raja-raja 11 ayat 5], bangsa Filistin menyembah dewa Dagon [Hakim-hakim 16 ayat 23]. Di Koy Sidon orang menyembah Asytoret [1 Raja-raja 11 ayat 5]. Bukan hanya di tanah Kanaan tetapi juga di seluruh bangsa-bangsa di muka bumi ini masing-masing telah mengenal dan memuja ilah-ilah atau tuhan-tuhan lokal. Debata Mulajadinabolon adalah salah satu ilah lokal, berhala atau malaikat Iblis yang memperkenalkan dirinya sebagai “tuhanuntuk menipu orang Batak. Penyebutan Debata Mulajadinabolon biasanya disingkat dengan sebutan “Debatasaja.
    Di dalam sistem religi/agama/kepercayaan Batak Debata Mulajadinabolon adalah pencipta pulau Sumatera dengan segala isinya melalui tangan manusia-dewi Siborudeakparujar. Manusia pertama orang Batak yaitu si Raja Batak dipercayai sebagai keturunan Siraja Ihatmanisia dan Siboru Itammanisia. Kedua orang ini adalah hasil perkawinan Siborudeakparujar dengan Tuan Rumagorgarumauhir. Siborudeakparujar adalah anak Debata Bataraguru. Tuan Rumagorgarumauhir adalah anak Debata Balabulan. Debata Bataraguru dan Debata Balabulan adalah anak Debata Mulajadinabolon hasil perkawinan dengan Manuk Hulambujati.
    Manusia pertama atau leluhur orang Batak, si Raja Batak yang dipercayai tinggal di dolok Pusuk Buhit adalah keturunan Debata Mulajadinabolon. Kepercayaan ini menyangkali penciptaan manusia pertama di taman Eden juga memutuskan asal-usul orang Batak (sesungguhnya bermula dari Adam dan Hawa yang diciptakan oleh Tuhan dari debu tanah). Iblis telah menipu orang Batak dengan menyatakan diri sebagai asal mula atau pencipta manusia sehingga manusia (orang Batak) harus menyembah, memuja, dan menuruti setiap perintah/larangan Debata Mulajadinabolon.
    Dari sistem agama Batak, Debata Mulajadinabolon adalah nama sembahan. Roma 1 ayat 23 mencatat bahwa manusia telah menggantikan kemuliaan Tuhan yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana. Debata Mulajadinabolon digambarkan memiliki istri, berketurunan, memiliki cemburu, amarah. Anak-anak Debata Mulajadinabolon juga saling mengawini, berketurunan, saling jatuh cinta, saling bersaing, saling menipu dan dapat mati. Salah seorang anak Debata (Dewata) Balasori : Sirajaindainda bunuh diri karena takut cintanya ditolak Siborusorbajati anak Debata Bataraguru. Betapa jauhnya perbedaan antara Tuhan Yang Maha Mulia dengan berhala bangsa-bangsa [1 Tawarikh 16 ayat 26, “Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi TUHAN-lah yang menjadikan langit]. Orang yang percaya kepada TUHAN YESUS dilarang menyembah dan memuja Debata Mulajadinabolon, tetapi di dalam kehidupan orang Batak pemujaan terhadap Debata Mulajadinabolon masih kuat melalui pelaksanaan ADAT ISTIADAT yang akan diuraikan lebih lanjut.
    II. ADAT ISTIADAT SUKU-SUKU BANGSA ITU BERHALA !
    Kata “kebiasaan pada kalimat “...jangan kamu hidup menurut kebiasaan mereka...dapat diterjemahkan dengan kata “adat. Alkitab terjemahan lama kalimat pada Imamat 18 ayat 3 berbunyi sebagai berikut “...jangan kamu menurut adat-adat mereka itu. Alkitab bahasa Batak (Bibel) berbunyi “... djala ndang jadi ihutonmuna adat nasida i...
    Adat siapa yang tidak dapat diikuti? Adat bangsa-bangsa dan bukan hanya adat orang di tanah Mesir di mana orang Israel berdiam dan adat bangsa-bangsa di tanah Kanaan yaitu adat bangsa Amori, bangsa Het, adat bangsa Hewi dan sebagainya. Demikian juga terhadap adat-adat lain yang ada di dunia ini termasuk adat-adat istiadat yang ada di lingkungan kita. Adakah adat istiadat nenek moyang manusia yang diilhami oleh Iblis ini lebih luhur dari perintah Tuhan YESUS?
    Tuhan YESUS dengan jelas dan tegas mengatakan jangan pernah mematuhi adat istiadat manusia dalam rekaman Injil Markus 7 ayat 1-13. Bahkan Tuhan YESUS marah besar ketika manusia itu dengan dalihnya sendiri mengenyampingkan perintah Tuhan! Ironisnya yang terjadi pada saat ini banyak orang Batak yang lebih takut disebut tak beradat daripada tak ber-Tuhan! Mungkin orang-orang yang berasal dari suku-suka bangsa lain juga demikian! Benarlah apa yang dikatakan Tuhan YESUS dalam Markus 7 ayat 8-9; “Perintah Tuhan kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia. YESUS berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Tuhan, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat kamu sendiri.Tuhan YESUS akan merubah adat istiadat itu seturut dengan waktu dan cara-Nya sendiri! [Baca Kisah Para Rasul 16 ayat 14].
    Oleh karena itu janganlah menuruti kebiasaan atau adat orang Batak Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Angkola, Mandailing, Nias, Melayu, Jawa, Ambon, Minahasa, Tiong Hoa dan lain-lain. Upacara adat tidak terlepas dari agama suku bangsa. Sesungguhnya upacara adat adalah bagian dari bentuk pemujaan dan ketaatan kepada ilah-ilah lokal. Bahwa adat istiadat orang Batak yang dilaksanakan dengan patuh oleh orang Batak sekarang ini adalah agama BATAK PARMALIM yang diilhamkan oleh Iblis. Namun banyak orang Batak akan dengan cepat menyanggah bahwa Adat orang Batak bukanlah agama tapi kebudayaan. Saya membaca satu alinea dari buku acara dalam merayakan 100 tahun Sending HKBP [Huria Kristen Batak Protestan], isinya yaitu :
    Kondisi masyarakat Batak yang hidup di daerah pedalaman Sumatera Utara pada zaman dahulu amat memprihatinkan; jauh dari jangkauan kemajuan di dalam setiap aspek kehidupannya. Terbelakang dalam kehidupan sosialnya, hal ini ditandai dengan kehidupan yang amat miskin dan sederhana. Terbelakang dalam bidang pendidikan, hal ini ditandai dengan masyarakat yang buta huruf dan penuh dengan kebodohan. Mereka hidup dalam adat istiadat yang mengikat dan yang harus dilaksanakan supaya ilah yang disembah jangan marah. Peperangan antar kampung dan antar marga, saling bermusuhan dan mendengki merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-harinya. Agama suku yang bernama Parmalim menyembah Debata Mula jadi Na Bolon sebagai ilahnya. Ilah inilah yang merupakan agama asli orang Batak pra datangnya Injil.
    Berbicara tentang upacara adat Batak haruslah dihubungkan dengan agama suku bangsa Batak. Ada lima kategori yang bisa diambil pendekatannya untuk menunjukkan bahwa adat istiadat Batak tersebut merupakan agama.
    Pertama, pada umumnya setiap agama mempunyai Pemimpin atau Imam. Di dalam kegiatan adat istiadat Batak ada seorang Pemimpin yang disebut Raja Parhata atau seorang Datu, dialah yang memimpin ritual adat istiadat Batak.
    Kedua, umumnya setiap agama mempunyai Kitab, dalam agama Batak ada dua kitab yang disebut Pustaha Tumbaga dan Pustaha Laklak.
    Ketiga, adanya upacara-upacara atau ritual. Di dalam adat istiadat Batak ada banyak ritual-ritual yang dilaksanakan seperti upacara perkawinan (marhajabuan), kematian (hamatean), menggali tulang-belulang leluhur (mangongkal holi), kelahiran (mangharoan), kehamilan (mangganje), pemandian dan pemberian nama (martutu aek dan mampe goar), memasuki rumah (mangampoi jabu), menyulangi orang tua (manulangi). Di dalam pelaksanaan ritual ini dalam adat istiadat Batak ada alat penyembahan yang selalu harus dipakai untuk menyempurnakan ritual tersebut yaitu ULOS.
    Ulos adalah kain untuk upacara dengan berbagai fungsi dan tenunannya. Pada awal mulanya, Ulos Batak di zaman dahulu selalu diawali dengan permohonan kepada seorang ahli-tenun untuk membuatkan satu jenis ulos tertentu. Si pemesan harus menyediakan tiga lembar daun sirih serta tiga rupa “itak(tepung beras yang dikepal) yang tiga warna (putih, kuning, merah) ditempatkan dalam bakul kecil beserta uang enam rupiah batu. Sesajian (sesajen) ini didoakan secara animistis dengan kata-kata a.l.: “Ale ompung mulajadi na bolon...; barulah ditentukan hari yang baik untuk memulai menenun ulos itu. Cara ini masih dilakukan hingga masa kini, jika memesan ulos yang bertujuan khusus. Dapatlah disimpulkan bahwa “begu(setan-lah) yang “mengijinkanatau mensponsori ulos tadi.
    Menurut fungsinya, ulos dalam upacara adat Batak, dikenal (misalnya) berbagai ulos, dengan kegunaannya :
    • Ulos Tondi; Ulos yang diselubungkan kepada seorang calon ibu yang mengandung tujuh bulan bayi pertamanya! Dengan diselubungkannya ulos tondi (Indonesia : kain roh) ini, diharapkan bayi itu lahir dengan selamat. Ulos tondi adalah jaminan keselamatan ibu dan bayi, begitulah rupanya kepercayaan animistis di kala itu. Siapa yang menjamin keselamatan itu? Tentunya suatu “tondiatau roh, yang mampu melindungi ibu dan bayinya. Roh yang mana itu? Yang pasti bukan Roh Kudus!, sebab orang Batak telah mengenal ulos tondi ratusan tahun sebelum ke-kristen-an di tanah Batak! Setelah bayi lahir boleh jadi ia akan beroleh Ulos Parompa yakni ulos dengan kegunaan khusus: untuk menggendong bayi, sampai bayi pandai berjalan;
    • Ulos Parompa; diberikan oleh “tulang(paman) si bayi, khusus untuk menggendong bayi itu;
    • Ulos Sampetua; adalah ulos yang diberikan kepada seseorang yang baru saja mengalami musibah atau sakit berat, dengan harapan agar ia berusia lanjut;
    • Ulos Saput; adalah ulos yang diberikan khusus pada acara kematian, biasanya digunakan untuk menutupi peti mati;
    • Ulos Tujung; diberikan kepada seorang perempuan yang baru kematian suami untuk dikenakan selama jangka waktu tertentu;
    • Ulos Holong; diberikan pada waktu seorang bayi dibaptis secara Kristiani; juga biasa diberikan pada waktu seseorang lepas sidi (acara Kristiani).
    Perhatikan saudara, betapa acara animistis secara agresif telah merambah kekristenan, sehingga acara Gereja (Baptis dan Naik Sidi) jadi merosot sehingga harus “disempurnakandengan pemberian ulos, benda-benda dari zaman kegelapan! Kiranya Tuhan YESUS mengampuni kesesatan bangsa Batak!
    Keempat, adanya doa-doa. Di dalam adat istiadat Batak ada doa-doa yang dipanjatkan kepada sembahannya bahkan mantra-mantra juga disampaikan pada ritual adat Batak. Contohnya pada peresmian tugu marga leluhur yang dilakukan oleh seluruh keturunan marga, darimanapun mereka berasal, dipanjatkan beberapa “tonggo(mantra, Pen.) kepada Debata mulajadinabolon agar mendatangkan rohnya ke tugu tersebut, seperti:
    “Ditonggo asa diparo Mulajadinabolon, tondi ni ompu tu tuguna. Binahen saring-saring ni amanta on tu tambak na guminjang, tu ginjang ma parhorasan, asa tu ginjang ma panggabean, patumpahon ni ompunta martua Debata dohot tumpahon ni tondi ni angka raja di loloan
    Artinya: “Didoakan supaya didatangkan oleh Mulajadi nabolon rohnya ke tugu ini. Dengan ditaruhnya tulang belulang bapak ini, ke kuburan atau tugu yang tinggi, kiranya meningkatlah kemakmuran, keberhasilan dan kesejahteraan yang dikerjakan oleh Debata yang berbahagia, dan disokong oleh roh-roh para raja yang hadir si sini.
    Mantra ini secara langsung mengundang roh-roh setan untuk datang ke tempat itu dan “memberkatikegiatan dan seluruh keturunan marga leluhur! Betapa dalamnya penyesatan yang terjadi kepada orang Batak yang mengaku Kristen yang dilakukan oleh Iblis dan mau pula dipatuhi oleh orang Batak bahkan setia melakukannya!
    Berbelas kasihanlah Tuhan YESUS kepada orang Batak yang mengaku pengikut-Mu!
    Kelima, adanya umat. Umat dalam agama Batak tentunya orang Batak sendiri yang mau patuh dan setia melaksanakan adat istiadat agama suku bangsa Batak.
    Sistem religi Batak itu mengilhami peserta upacara adat, yaitu “dalihan natoludengan “suhi ampang na opatyaitu “hula-hula, “dongan tubu, “borudan yang digolongkan sebagai “sihal-sihal. Sistem religi ini juga mensyaratkan penentuan waktu pelaksanaan upacara, biasanya dilakukan dengan “maniti ariatau mencari hari-hari baik melalui “parhalaanatau kapan waktu “mangampehon tujung, kapan waktu “mangan indahan sibuha-buhai. Agama Batak ini juga mempergunakan benda-benda upacara adat yaitu “ulos. Dalam hal ini dipersiapkan secara cermat berapa jumlahnya, jenis ulos apa yang dipakai. Perlengkapan penyembahan lainnya adalah “tudu-tudu sipanganon, “ihan(dengke), “panjuhuti, “gondang sabangunandan sebagainya. Hal ini semuanya diatur menurut peraturan yang telah digariskan alam gaib oleh Dewata dengan demikian upacara adat Batak bukan sekedar yang disepakati bersama yang diterima, diwariskan dari nenek moyang belaka melainkan diatur oleh alam gaib.
    A. Sumber Upacara Adat Batak
    Agama Batak mempercayai alam gaib (alam tidak kasat mata, alam roh) mempengaruhi upacara adat. Upacara adat Batak merupakan serangkaian aktifitas bermakna yang diilhamkan oleh “rohyang menjadi sembahan leluhur Batak yaitu Siraja Batak yang disebut Debata Mulajadinabolon yang biasa dipanggil Debata. Pengilhaman itu dapat kita lihat dalam cerita lisan (turi-turian). Turi-turian itu bukan sekedar mitos seperti anggapan banyak orang yang rasionalistik. Turi-turian tersebut juga menyimpan beberapa fakta rohani dari asal-muasal kehidupan religius leluhur orang Batak. Melalui turi-turian kita dapat menelusuri sumber awal dari keberadaan adat Batak.
    Si Boru Deak Parujar dengan suaminya Tuan Ruma Gorga memiliki sepasang anak kembar yaitu Siraja ihatmanisia dan Siboru itammanisia. Ketika itu hubungan manusia dengan dengan para dewa harmonis di mana mereka sering berjumpa secara langsung di puncak Pusuk Buhit. Kedua anak itu melakukan hubungan sumbang sehingga para dewa marah. Debata Mulajadi Nabolon kemudian membawa kedua orang tua anak itu ke langit. Salah satu dewa yaitu Debata asi-asi diperintahkan oleh Debata Mulajadi Nabolon menemani ke dua anak kembar itu. Karena merasa kasihan, Debata asi-asi meminta supaya Debata Mulajadi Nabolon tetap membimbing ke dua anak itu. Debata Mulajadi Nabolon memberikan adat sebagai pembimbing mereka dengan cara mamemehon (menyuapkan) adat ke mulut keduanya. Setelah itu para dewa menjauh dan tidak mau berhubungan langsung dengan manusia. Supaya tetap mendapat perkenanan Debata Mulajadi Nabolon, ke dua anak kembar itu serta keturunannya harus memelihara adat yang diberikan oleh Debata Mulajadi Nabolon.
    Pengilhaman oleh roh sembahan leluhur dinyatakan secara implisit dalam istilah mamemehon (disuapkan). Jadi terlihat bahwa upacara adat Batak bukan merupakan hasil pemikiran dari leluhur semata tetapi merupakan konsep, ide, paradigma yang ditransferkan ke pikiran leluhur oleh roh sembahannya. Hal ini kemudian diajarkan secara lisan kepada keturunannya. Pemahaman yang diilhamkan inilah yang harus dilakukan terus menerus agar keturunannya mendapat berkat dari Debata Mulajadi Nabolon. Pantun yang berbunyi : “Tuatma nan dolok martungkat sialagundi, napinungka ni ompunta sijolo-jolo tubu diihutton naparpudiyang selalu mengingatkan orang Batak supaya tetap melaksanakan segala ketentuan adat dari leluhur. Apakah orang Batak pernah bertanya apa yang sudah dibuka dan dimulai oleh para leluhur, apa yang mengilhami mereka dan kenapa orang Batak harus patuh kepada apa yang sudah dilakukan leluhur yang adalah penyembah berhala!? Bukankah kita seharusnya mematuhi kebenaran Injil yang disabdakan YESUS, bahwa hanya Dia-lah jalan, kebenaran dan hidup? [Baca Yohanes 14:6 dan Yohanes 6:63]. Dengan perkataan lain, yang berasal dari Tuhan YESUS sajalah yang dipatuhi, yang bukan berasal dari Tuhan YESUS harus ditolak!
    Kita harus menyadari bahwa selain Tuhan, Iblis juga dapat memasukkan berbagai gagasan pikirannya ke hati dan pikiran manusia. Alkitab memberikan contoh yaitu ketika Petrus menegor YESUS berkaitan dengan pernyataan-Nya tentang rencana penyaliban, dan kemudian Petrus dimarahi YESUS. Pernyataan Petrus ini didorong oleh kehadiran Iblis yang kemudian menyuntikkan pikirannya ke dalam pikiran Petrus, yang tercetus pada ucapannya. Reaksi YESUS adalah:
    Maka berpalinglah YESUS dan sambil memandang murid-muridNya Ia memarahi Petrus, kataNya : “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Tuhan, melainkan apa yang dipikirkan manusia.[Markus 8 ayat 33]. Contoh lain, ketika Iblis memasukkan gagasannya ke dalam pikiran Daud untuk melakukan sensus penduduk, seperti tertulis pada 1 Tawarikh 21 ayat 1, 7; [1] “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel. [7] Tetapi hal itu jahat di mata Tuhan, sebab itu dihajarNya orang Israel.
    Bimbingan langsung Iblis secara gaib di dalam hati manusia pada saat ini, juga dapat kita lihat di dalam aktifitas para dukun di dalam memeriksa, menemukan penyakit dan mengobati para pasiennya.
    B. Implikasi Pelaksanaan Adat Istiadat Batak Dengan Kehidupan Gereja Batak
    Upacara penyembahan nenek moyang yang merupakan inti agama Batak pada masa kegelapan merebak dilakukan oleh masyarakat Batak Kristen sekarang. Kebangkitan penyembahan ini mengambil bentuk baru yang ditandai dengan menjamurnya pembangunan tugu-tugu marga Batak. Anda dapat melihat banyaknya tugu yang dibangun sepanjang jalan lintas antara kota Parapat dengan kota Tarutung. Tugu tersebut dibangun oleh keturunan marga yang berasal dari satu garis leluhur (ompu parsadaan). Pembangunan ini telah menghabiskan dana sangat besar, bahkan mendatangkan kemerosotan rohani yang dalam. Kalau dulu Nommensen mau dikorbankan oleh orang Batak kepada roh sembahan leluhur marganya di atas bukit Siatas Barita, maka sekarang yang terjadi sebaliknya. Banyak Pendeta maupun Penatua (Sintua) memimpin kebaktian pada acara pemujaan roh nenek moyang di tugu-tugu marga. Ironisnya lagi, pelaksanaan upacara di masa kegelapan itu dibungkus dengan kebaktian gerejawi yang dilaksanakan di lokasi pendirian tugu marga di mana tulang belulang leluhur marga itu dikubur kembali [Bandingkan Matius 23:29]. Proses pembangunan tugu juga banyak melibatkan kuasa setan melalui datu (spirit medium), misalnya untuk menentukan lokasi penggalian tulang-belulang leluhur marga.
    Sinkritisme orang Kristen Batak dapat kita lihat juga dalam pelaksanaan perkawinan. Perkawinan orang Kristen Batak dilakukan dengan dua jenis upacara: upacara kegerejaan yang biasanya dilanjutkan dengan upacara agama Batak. Pelaksanaan kedua upacara tersebut merupakan suatu keharusan, sekalipun tidak ada Firman Tuhan yang memerintahkannya. Pernikahan secara gerejani, tanpa diikuti dengan pelaksanaan upacara adat, sering menimbulkan konflik besar di dalam keluarga orang yang hendak menikah. Di gedung gereja, orang Batak melakukan upacara kekristenan, sedangkan di luar gedung gereja mereka melakukan upacara agama leluhur. Perbedaannya hanya pada orang yang memimpin upacara. Dulu dipimpin oleh Datu, sekarang digantikan oleh Pendeta. Peranan datu digantikan oleh pendeta, tetapi rangkaian upacara adat (agama leluhur) selanjutnya tetap sama. Berkat (pasu-pasu) dari Tuhan YESUS dianggap belum cukup, dan perlu disempurnakan dengan berkat dari hula-hula dan dan lainnya. Kesempurnaan dan kemutlakan karya YESUS KRISTUS telah disingkirkan demi mempertahankan upacara kegelapan warisan leluhur itu.
    Sinkritisme ini bukan hanya terjadi di kalangan gereja-gereja tradisional Batak saja tetapi juga telah merembes kepada orang-orang Kristen yang mengaku Injili, Alkitabiah, dan menjunjung tinggi keunikan Injil dan lebih giat melakukannya. Dari mimbar orang Kristen yang mengaku Injili yang ada di Sumatera Utara, bahkan yang ada di luar pulau Sumatera, sering disuarakan dukungan atas pelaksanaan upacara adat Batak. Merekapun banyak yang terlibat dalam pelaksanaan aktifitas itu. Tanpa disadari umat Kristen di tanah Batak (juga di luar tanah Batak) telah berubah menjadi umat yang mendua hati, satu sisi mencoba mengikuti ajaran YESUS KRISTUS, pada sisi yang lain giat melakukan ajaran agam nenek moyangnya. Dalam hidup keseharian telah terjadi pencampuran kedua ajaran, yaitu agama leluhur dan Injil YESUS KRISTUS. Akibatnya kekristenan orang Batak menjadi kompromistis, permisif dan kebenaran Injil menjadi relatif! Satu kaki berpijak pada Injil (?), dan kaki lainnya berpijak pada adat istiadat (agama hasipelebeguon). Satu sisi dalam terang, sisi lain dalam kegelapan. Ini tentunya bertentangan dengan Firman Tuhan YESUS yang tidak menginginkan adanya kompromi antara kebenaran YESUS KRISTUS dengan kegelapan Iblisi. Seperti yang tertulis di dalam rekaman Injil Matius 10 ayat 34; “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.... Tuhan YESUS akan tetap mempertentangkan antara kebenaran dengan kefasikan (truth encounter), dan selamanya tidak akan bisa kebenaran YESUS dengan kejahatan itu dicampuradukkan! [Bandingkan Lukas 12 ayat 51. Tidak mungkin hal yang buruk berasal dari sesuatu yang baik. Perhatikan apa yang tertulis dalam Yakobus 3-11-12: [11] Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? [12] Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar. Saya tegaskan, tidak ada satupun istiadat di dunia ini yang berasal dari kebenaran Injil! Sebab Injil tidak mengajarkan adat istiadat. Oleh karena itu, hal-hal yang ditentang Tuhan tentunya harus ditinggalkan [Bacalah Markus 7:8-9].
    Orang Batak telah melupakan prinsip rohani bahwa terang tidak dapat bersatu dengan gelap!. Dalam bahasa Tuhan YESUS :
    “Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Tuhan dan kepada Mamon.[Matius 6 ayat 24].
    III. DALIHAN NA TOLU DALAM PANDANGAN INJIL
    Upacara adat Batak merupakan upacara religius yang menggambarkan atau memetakan roh sembahan para leluhur. Peta ini dapat terlihat dalam struktur masyarakat Batak yang disusun dengan prinsip Dalihan Na Tolu yang arti hurufiahnya “tungku yang berkaki tiga. Prinsip ini membagi status dan peranan seseorang dalam tiga bagian, yaitu : Hula-hula (pihak pemberi gadis), Dongan Sabutuha (teman seperut/semarga), dan Boru (pihak penerima gadis). Pada masyarakat Karo disebut Kalimbubu, Senina, dan Beru. Hubungan dalam Dalihan Na Tolu ditata dalam suatu falsafah: “Somba marhulahula, elek marboru, manat mardongan tubu. (Bersembah kepada hula-hula, berhati-hati kepada teman semarga, membujuk boru).
    Melalui ketiga kategori ini, setiap orang yang terlibat dalam upacara adat akan dipisahkan duduknya (parhundulanna) berdasarkan hubungan kekerabatan (tutur) antara dia dengan Suhut, yaitu pihak yang mengadakan upacara. Pihak hula-hula duduk dalam suatu kelompok khusus, demikian juga pihak Boru dan Dongan sabutuha. Kehadiran mereka dalam upacara itu untuk melaksanakan segala kewajiban dan menerima segala hak yang telah ditentukan di dalam adat atau aturan hidup agama Batak. Setiap unsur dalam Dalihan Na Tolu memiliki hak dan kewajiban yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
    Pada tatanan sosial, Dalihan Na Tolu menata hak dan kewajiban antara seseorang atau sekelompok orang dengan orang atau kelompok lainnya. Setiap orang dalam masyarakat Batak harus menjalankan perannya sesuai statusnya dalam konteks upacara adat. Pada suatu acara adat dia bisa berperan sebagai hula-hula, sedangkan pada cara lain dia bisa berperan sebagai boru atau dongan sabutuha. Setiap orang Batak akan menduduki ketiga status itu pada saat dan hubungan kekerabatan yang berlainan. Misalkan si A, terhadap keluarga dari pihak istrinya dia berstatus sebagai Boru, terhadap keluarga dari pihak suami adik/kakak perempuannya (ito), dia berstatus sebagai Hula-hula. Sementara terhadap adik lelaki atau abangnya dia berstatus sebagai Dongan Sabutuha. Pada tatanan rohani, Dalihan Na Tolu menggambarkan relasi antara manusia dengan alam gaib, antara Banua Tonga dengan Banua Ginjang.
    Dr. Annicetus Sinaga menjelaskan struktur Dalihan Na Tolu menggambarkan hubungan 3 roh dewa sembahan leluhur yaitu Batara Guru, Mangala Sori (Bala Sori), dan Mangala Bulan (Bala Bulan). Dengan demikian, Dalihan Na Tolu merupakan tatanan rohani yang dimulai dari dunia atas (banua ginjang) dan harus dilakukan di bumi. Tiga roh dewa sembahan leluhur ini dikenal sebagai debata na tolu. Debata na tolu ini adalah Trinitas palsu!
    Hula-hula merupakan personifikasi dari Batara Guru, Dongan Sabutuha personifikasi dari Mangala Sori dan Boru merupakan personifikasi dari Mangala Bulan. Tiga dewa serangkai ini juga melahirkan pola berfikir triade dalam tenunan Ulos dengan representasi warna-warnanya yang disebut bonang manalu yaitu tiga warna magis; hitam putih merah. Warna hitam melambangkan dunia atas ? Bataraguru, warna putih melambangkan dunia tengah ? Balasori, warna merah melambangkan dunia bawah ? Balabulan.
    Struktur ini merupakan pola yang menata hubungan di dunia atas dan ditetapkan oleh Mulajadinabolon untuk juga diberlakukan di dunia manusia (banua tonga). Struktur ini dibangun dan dijamin keberadaannya oleh dewa tertinggi Batak, yaitu Debata Mulajadinabolon. Sehingga struktur itu merupakan kehendak Debata (malaikat Iblis sembahan leluhur Batak) bagi manusia, dalam hal ini bagi orang Batak.
    Pelanggaran struktur ini merupakan pelanggaran terhadap ketetapan Debata Mulajadinabolon, dan merusakkan keseimbangan antara alam makrokosmos dengan alam mikrokosmos. Karena itu, pelanggaran ini akan mendapatkan sanksi dari debata sendiri. Ketakutan akan hukuman Debata Mulajadinabolon ini tertanam di hati orang Batak sehingga mereka tetap berupaya mempertahankan keberadaan upacara adat Batak.
    Dalam struktur ini, eksistensi roh sembahan leluhur di alam gaib atau banua ginjang direfleksikan di alam fisik atau banua tonga di dalam ketiga unsur Dalihan Na Tolu yang membangun suatu upacara adat, yaitu Hula-hula, Dongan Sabutuha, dan Boru. Kehadiran ketiga roh sembahan leluhur dalam suatu upacara dinyatakan dalam kehadiran ketiga unsur Dalihan Na Tolu. Setiap upacara yang dilakukan harus dihadiri oleh ketiga unsur ini, kalau tidak, maka upacara adat tidak dapat dilaksanakan. Inilah ketetapan yang telah dibuat oleh Mulajadi nabolon.
    Jadi struktur Dalihan Na Tolu merupakan proyeksi dari eksistensi ketiga dewa sembahan leluhur Batak yang ada di dunia atas (banua ginjang). Manusia sebagai pelaku upacara adat adalah sarana yang dijadikan untuk memproyeksikan eksistensi dan peranan roh sembahannya. Selama upacara adat Batak dilakukan, ketiga dewa tersebut tetap mendapat tempat untuk diproyeksikan eksistensinya dalam kehidupan bangsa Batak, sekalipun mereka tercatat sebagai orang yang beragama Kristen. Hal ini terjadi karena banyak orang Batak Kristen tidak pernah mengetahui arti rohani yang sesungguhnya dari struktur Dalihan Na Tolu itu, dan menganggap Dalihan Na Tolu itu hanya sebagai pengklasifikasian dari status dan peranan sosial dari anggota masyarakat saja. Kita tidak pernah menyadari bahwa melalui struktur itu Iblis memanipulasi diri kita untuk kepentingan dirinya sendiri.
    Alkitab menegaskan bahwa setiap orang yang percaya kepada Tuhan YESUS adalah milik Tuhan. Tanda meterai kepemilikan Tuhan diberikan dalam bentuk kehadiran Roh Kudus di dalam hatinya. Efesus 1 ayat 13 mencatat;
    “Di dalam Dia (YESUS) kamu juga, karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus ituadalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Tuhan, untuk memuji kemuliaan-Nya.
    Tanpa disadari, keterlibatan seseorang Kristen dalam upacara adat akan membuka ruang hatinya bagi kehadiran para roh sembahan leluhur dahulu kala yang adalah roh setan. Penerimaan akan kehadiran roh sembahan leluhur akan membuat Roh Kudus mengundurkan diri dari dalam hidup orang itu karena Roh Kudus adalah lemah lembut dan tidak pernah mau memaksakan kehadiran dan keinginanNya kepada manusia. Pembentukan unsur Dalihan Na Tolu ini merupakan pelanggaran terhadap Hukum Taurat pertama :
    “Akulah Tuhanmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, tanah perbudakan. Jangan ada padamu ilah lain di hadapan-Ku.[Ulangan 5 ayat 6-7].
    Dengan melakukan upacara adat kita memberikan jalan masuk pada kehadiran roh sembahan leluhur di dalam kehidupan kita. Pelaksanaan upacara adat Batak juga membuat kita melanggar Hukum Taurat kedua, yaitu dalam Ulangan 5 ayat 8; “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit atas, atau yang ada di bumi di bawah.
    Dalam agama Batak personifikasi kehadiran roh sembahannya tidak dibuat dari patung batu, kayu, tembaga atau emas. Patung dalam agama Batak tidak terbuat dari benda mati, tetapi terbuat dari darah dan daging, yaitu tubuh manusia. Personifikasi dan gambaran dari kehadiran roh itu dinyatakan dalam diri orang Batak itu sendiri. Upacara adat adalah upacara yang menjadikan orang Batak sebagai patung-patung hidup dari ketiga roh sembahan yang merupakan pancaran dari Debata tertinggi Mulajadinabolon. Keterlibatan dalam suatu acara adat membuat seorang yang dicipta sebagai Peta Tuhan berubah menjadi “Peta Mulajadinabolonatau lebih jelas lagi “Peta Iblis. Sebagai Hula-hula dia merupakan patung hidup dari Batara Guru, sebagai Boru dia merupakan patung hidup dari Mangala Bulan, dan sebagai Dongan Tubu dia merupakan patung hidup dari Mangala Sori.
    Paulus menyebutkan bahwa tubuh kita adalah Bait Roh Kudus. 1 Korintus 6 ayat 19; “ Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah Bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu.
    Lagipula Tuhan YESUS tidak akan pernah berkenan hadir dalam suatu upacara adat, sekalipun dibungkus dengan doa kristiani dan memakai nama Tuhan YESUS. Karena Tuhan tidak akan pernah membagikan kemuliaan-Nya kepada yang lain. Bagaimana Tuhan YESUS berkenan hadir dalam suatu upacara adat yang Dia tahu untuk kemuliaan Iblis. Yesaya 42 ayat 8 menegaskan “Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.
    Ada sebagian orang yang membenarkan upacara itu dengan alasan bahwa mereka melakukan doa dan umpasa yang memakai nama YESUS. Apalagi kalau pendeta yang memimpin doa itu. Membungkus upacara adat dengan membawa nama YESUS sama dengan menghujat Tuhan dengan menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Ulangan 5 ayat 11;
    “Jangan menyebut nama TUHANmu dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
    Orang Batak juga menyangka bahwa dengan menyebut nama YESUS dalam acara adat istiadat (apalagi kalau yang memimpin doa itu seorang pendeta senior) maka “sah-lah acara adat istiadat itu. Waspadalah orang Batak! Jangan sampai Tuhan YESUS pada hari terakhir akan menyebut mereka pembuat kejahatan! Matius 7 ayat 21 dan 23 Tuhan YESUS dengan tegas mengatakan;
    “[21] Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. [23] Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!.
    Oleh karena itu perbuatan orang Batak yang sudah demikian melenceng bahkan merupakan kekejian di hadapan Tuhan YESUS harus diingatkan! Seperti yang tertulis dalam Titus 1 ayat 13-14; “Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, dan tidak mengindahkan dongeng-dongeng Yahudi dan hukum-hukum manusia yang berpaling dari kebenaran.
    Janganlah mulut kita mengatakan kita bahwa kita menyembah Tuhan YESUS namun perbuatan kita tidak menunjukkan sama sekali kalau kita menyembah satu-satunya Tuhan yaitu YESUS KRISTUS malah kita melakukan kekejian dihadapan-Nya. Titus 1 ayat 16; “Mereka mengaku mengenal Tuhan, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.
    Ibadah yang benar adalah yang menjadikan YESUS KRISTUS sebagai pusat penyembahan, bukan Debata Mulajadinabolon ataupun ketiga putranya. Kita juga dilarang menyembah hula-hula sebagai wakil Mulajadinabolon (debata na ni ida), Tuhan YESUS menegaskan; “Enyahlah iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah TUHANmu, dan hanya kepada Dialah kamu berbakti.[Matius 4 ayat 10].
    Tuhan YESUS juga menegaskan bahwa kita murid-Nya haruslah menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Yohanes 4 ayat 23-24; “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang demikian. Tuhan kita itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.
    III. PENUTUP
    Tuhan YESUS sangat merindukan saudara-saudara dikuduskan dari segala adat istiadat yang dibuat oleh Iblis yang mengambil rupa dan nama Debata Mulajadinabolon itu! Tuhan YESUS ingin menata kembali peta dan teladan Tuhan di dalam hidup saudara yang telah rusak dan tercemar akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa, untuk membentuk watak ilahi sehingga saudara dapat disebut sebagai anak-anak terang [Yohanes 12 ayat 36] yang memisahkan diri dari kegelapan. Sebagai anak-anak terang kita harus berpegang dan melakukan ketetapan dan peraturan Tuhan. Maukah saudara keluar dari adat istiadat atau kebiasaan bangsa-bangsa yang kafir sebagaimana Tuhan YESUS sudah perintahkan pada ayat-ayat Alkitab yang sudah kita baca sepanjang tulisan ini? Memang besar tantangannya, mungkin saudara akan dikucilkan, difitnah, dicemooh atau dianiaya. Janganlah saudara memandang pada beratnya penderitaan tapi pandanglah berkat-berkat yang Tuhan mau siapkan. Untuk menerima kemuliaan bukankah Tuhan YESUS harus menderita memikul salib?
    Penulis sendiri [Rheinhard Sinaga], mengalami hal yang sama ketika bersama istri memutuskan untuk patuh pada aturan Tuhan YESUS daripada adat istiadat manusia. Kami menikah tanpa adat istiadat, yang tentu saja memancing reaksi sebagian besar orang-orang yang merasa adat Batak itu harus dilaksanakan. Sebagian orang mungkin menyebut kami sesat! baik itu mereka sebutkan dalam hati maupun dengan ucapan mereka, namun kami tetap berjalan karena kami sangat takut kepada Tuhan YESUS dan tidak mau dibodohi oleh si Iblis yang sudah membodohi bangsa Batak sedemikian lamanya. Kami sudah membatalkan dan menyangkali semua kegiatan adat yang kami pernah terlibat di dalamnya secara sadar atau tidak sadar di masa lalu kami dan mohon ampun kepada Tuhan YESUS atas segala dosa-dosa itu dan mengundang Roh Tuhan YESUS untuk bekerja secara leluasa dalam hidup kami. Saudara ingatlah selalu firman Tuhan YESUS di dalam Matius 5 ayat 11-12; [11] “Diberkatilah kamu, jika oleh karena Aku kamu dicela, dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. [12] Bersuka cita dan bergembiralah karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.
    Matius 21 ayat 12-13;
    [12] “Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. [13] Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.
    Saudara pantas bermegah karena diperlayakkan mendapat bagian di dalam penderitaan Tuhan YESUS, sebgaimana yang tertulis di dalam Kisah Para Rasul 5 ayat 40-41;[40] Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. [41] Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.
    Dari uraian yang telah anda baca, selayaknyalah anda yang mengaku pengikut Tuhan YESUS, namun pelaku adat Batak, menginsyafi bahwa spiritualitas anda ini belum benar. Ibadah Kristiani anda ikuti, ritual animistis tidak ketinggalan. Maka sesungguhnya anda masih menyembah dua-ilah, menimbulkan kecemburuan Tuhan Maha Pencipta, yang memperkenalkan diriNya melalui Alkitab. Jika anda ingin sungguh-sungguh selamat, beroleh hidup kekal yang disediakan oleh YESUS KRISTUS, segeralah anda berdoa menurut doa berikut. Ucapkanlah saudara, dengan bersuara, sebab menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum [Matius 12 ayat 37]. Berdoalah sebagai berikut : [anda juga tidak dipaksa untuk mengucapkan doa ini, karena hal itu adalah kedaulatan anda sendiri] :
    Tuhan YESUS Raja dan Juruselamatku,
    Saya mengakui kelemahanku di hadapan Raja YESUS, bahwa selama ini saya belum meninggalkan tuntas kepercayaan Animistis leluhurku, bangsa Batak.
    Mampukanlah saya, ya Tuhan YESUS, meninggalkan kegelapan bangsa Batak, meninggalkan sembahan-leluhurku.
    Saya mengundang Tuhan YESUS KRISTUS masuk ke dalam hatiku, menguasai kehidupanku, mengajar saya dari dalam batin, dan kuasa Tuhan YESUS membebaskan saya dari ikatan-ikatan Iblis dalam berbagai bentuknya.
    Saya membatalkan semua perjanjian dengan Iblis yang dibentuk oleh leluhurku yang penyembah berhala. Kami seketurunan adalah pengikut Tuhan YESUS KRISTUS, terikat kepada Tuhan YESUS dalam bentuk perjanjian baru.
    Demi nama Tuhan YESUS enyahlah malaikat Iblis sembahan leluhurku: Debata Mulajadi Nabolon bersama rombongannya, enyah juga malaikat Iblis sponsor kesaktian leluhurku juga malaikat Iblis sponsor adat Batak. Semua setan harus menyingkir dari kehidupanku dan dari keturunanku.
    Mari, ya Tuhan YESUS, bersemayamlah Tuhan YESUS di dalam hatiku, memperbaiki watakku, agar saya menjadi peta Tuhan YESUS, bukan lagi peta Iblis seperti di masa laluku.
    Dalam nama Tuhan YESUS KRISTUS Raja Sorga, saya sudah berdoa. Amin.

    Simple

    Penulis : Deisy
    Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.
    Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.
    Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.
    Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.
    Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik." Ibu menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."
    Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.
    Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur." Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."
    Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.
    Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh kedalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi."Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana."
    Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.
    Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.
    Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.
    Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?"Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit."
    Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah atau memiliki secukupnya saja.

    Sukses Di Mata Allah

    Oleh: Sunanto
    Hampir setiap kali berkunjung ke toko buku saya menemukan sebuah buku baru yang berhubungan dengan bagaimana cara menjadi sukses atau kaya.
    Para penerbit memang sangat suka menebitkan buku-buku motivasional seperti ini sebab biasanya buku jenis ini akan laku dijual (best seller). Tidak semua isi buku-buku ‘sukses’ ini tidak benar atau tidak berguna tetapi saya menemukan ada satu hal yang salah dalam banyak buku jenis seperti ini. Salah satu hal salah yang dipesankan oleh banyak buku motivasional ini adalah untuk memperoleh kebahagiaan manusia harus mencapai atau memiliki sesuatu. Merupakan sebuah dusta jika seseorang berhasil mencapai posisi tinggi atau memiliki pendapatan sampingan (passive income) yang besar maka ia pasti akan memiliki kebahagiaan. Saya mengenal seseorang yang memiliki ‘passive income’ sangat besar tetapi saya tidak melihat kebahagiaan dalam dirinya melainkan yang saya lihat adalah kekosongan. Saya tidak bermaksud mengatakan kita tidak boleh memiliki jabatan yang tingggi atau memiliki passive income tetapi kita tidak boleh mengejar hal itu untuk memperoleh kebahagiaan atau kepuasan dalam hidup ini sebab tatkala anda memperolehnya maka anda pasti tidak akan berbahagia, malah sebaliknya mungkin anda akan semakin menderita.
    Sejak kejatuhannya, manusia memang berusaha untuk mencari sukses dalam ukuran dunia atau mengindentifikasikan dirinya dengan sesuatu sebab dosa telah membuat manusia kehilangan jati dirinya yang sejati sehingga tidak heran jenis buku-buku motivasional sangat disukai banyak orang. Akibat masuknya dosa, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (telanjang) sehingga kita tidak lagi memiliki jati diri yang sejati. Sejak itu manusia berusaha menutupi ketelanjangannya tersebut dengan mengindentifikasikan dirinya dengan sesuatu (memakai topeng).
    Alkitab mencatat bahwa manusia mulai mengindentifikasikan dirinya dengan kesuksesan secara dunia sejak dari mulai keturunan kain yaitu Yabal, Yubal dan Tubal–Kain yang dikenal karena keahlian mereka. Bila manusia ingin bahagia maka mereka tidak akan memilih memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Sebenarnya yang menginginkan manusia menjadi bahagia adalah Tuhan Allah sendiri sehingga Ia mencari manusia bukan manusia yang mencari Tuhan tatkala mereka jatuh ke dalam dosa. Tuhan Allah menginginkan manusia menjadi bahagia sehingga Ia mengaruniakan anakNya yang tunggal agar kita bisa kembali memiliki kemuliaan Allah. Oh betapa besar kasihNya kepada kita semua sehingga diberikanNya anakNya yang tunggal untuk mati disalib bagi kita semua. Semuanya hanya karena kasih karuniaNya saja bukan karena kita layak untuk menerimaNya. Kita semua sebenarnya layak untuk binasa karena telah memilih untuk jatuh ke dalam dosa tetapi karena kemurahanNya semata maka kita boleh diselamatkan. Allah mana yang seperti Allah kita, Dia begitu penuh kasih dan kemurahan kepada umatNya. Kita berusaha mencari gelar, kedudukan dan harta yang kita pikir akan membuat kita bahagia tetapi itu semua hanyalah tipuan belaka. Semuanya itu, yang dalam ukuran dunia artinya sukses hanyalah sebuah tipuan belaka yang mana bila kita memperolehnya tetap akan membuat kita tidak bahagia malah sebaliknya akan membuat kita semakin menderita. Yang kita butuhkan adalah memperoleh identitas atau jati diri kita yang sejati sehingga kita menjadi manusia yang seutuhnya. Hal itu hanya akan terjadi bila oleh kasih karuniaNya, kita ditransformasikan menjadi manusia baru yang dipenuhi oleh kemuliaan Allah yaitu posisi yang sama seperti sebelum dosa masuk ke dalam kehidupan manusia.
    Sukses di mata Allah artinya kita menjadi manusia seutuhnya yang dipenuhi oleh kemuliaan Allah. Yesus merupakan gambaran manusia yang dipenuhi oleh kemuliaan Allah sebab di dalam dirinya sama sekali tidak ada unsur dosa. Itulah sebabnya dapat dikatakan sukses di mata Allah artinya kita berubah menjadi serupa dengan Kristus. Yesus melakukan pekerjaan Bapa bukan untuk membuat dirinya menjadi bahagia melainkan karena Ia sendiri sudah memiliki kebahagiaan itu. Oleh karena itu pelayanan yang sejati tidak boleh lahir untuk memuaskan keakuan kita. Kita melayani bukan untuk mencari kebahagiaan melainkan karena kita sudah menemukan kebahagiaan (kepuasan) tersebut dari hubungan dengan Allah sehingga kita ingin orang lain boleh memikili kebahagiaan yang kita miliki itu. Salah satu tanda bahwa kita telah memperoleh kesuksesan yang sejati adalah kita memiliki kepuasan yang sejati yang diperoleh dari hubungan dengan Allah. Yesus juga tidak perlu mengidentifikasikan dirinya dengan kesuksesan secara dunia sebab Ia telah memiliki jati diri yang sejati. Bila diukur dalam ukuran dunia maka Yesus sama sekali tidak sukses sebab setelah tiga tahun melayani Ia tidak memiliki jabatan apapun bahkan para muridNya sendiri menyangkal dan menghianati Dia. Akan tetapi di mata Allah, Yesus sangat sukses sebab Ia taat melakukan kehendak Allah sampai mati.
    Seperti yang telah diungkapkan di atas bahwa natur kita sebagai manusia itu cenderung ingin hidup nyaman dan tidak ingin berubah. Oleh karena itu Tuhan akan mengijinkan penderitaan dan kekecewaan terjadi dalam hidup kita agar kita terdorong untuk berubah. Kadang kita merasa Tuhan seakan menjebak (tentunya dalam kasih) kita sehingga kita berada dalam posisi terjepit mirip seperti posisi Yakub di sungai Yabok. Memang seringkali kita tidak menyadari bahwa tangan Tuhanlah yang membawa kita dalam posisi terjepit tersebut. Bahkan kadangkala kita merasa itu merupakan pekerjaan musuh, padahal sebenarnya tangan Tuhan sendiri yang sedang membentuk dan menjunan diri kita menjadi bejana yang indah dan mulia. Dalam kamus Tuhan tidak ada yang namanya kebetulan, semuanya diijinkan untuk mendatangkan kebaikan bagi hidup kita. Oh semuanya baik, sungguh teramat baik apa yang telah Ia perbuat dalam hidupku.
    Percayalah, Tuhan sangat menginginkan anda menjadi sukses dan bahagia. Tuhan sangat peduli dengan kita sehingga Dia telah merancangkan sebuah masa depan yang penuh harapan bagi kita semua. Bila Tuhan tidak ingin anda menjadi bahagia dan sukses maka Ia tidak akan memberikan anakNya yang tunggal kepadamu. Namun ukuran sukses di mata Allah sangat berbeda dengan ukuran sukses di mata dunia. Sukses di mata Allah artinya kita berubah menjadi serupa dengan karakter Kristus yaitu menjadi seorang pribadi yang taat dan setia melakukan kehendak Allah. Kesuksesan sejati tidak diukur dari posisi, kekayaan dan ketenaran yang kita miliki melainkan diukur dari keberhasilan kita untuk taat kepada kehendak Bapa. Doa saya kiranya kita semua dapat menjadi orang-orang yang sukses di mata Allah !

    Sulapan Tangan Tuhan

    Oleh: Wiempy Wijaya
    Adakalanya kita sbg manusia sering merasa begitu superior, apakah itu dlm hal yg tdk mencerminkan adanya perubahan yg signifikan. Perlu adanya kearifan dan kesadaran dari dlm diri kita, agar kita dapat mengubah cara hidup yg hanya mementingkan uang dan kekuasaan. Tuhan Yesus berkata demikian dlm Matius 6 ayat 27: "Siapakah di antara kamu yg karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?"
    Tuhan dgn kuasanya yg besar sanggup membantu kita merubah kebiasaan2 hidup. Ingatlah apa yg tertulis dlm Matius 6:34 (MSG) yg berkata demikian: "Berikan seluruh perhatianmu kepada apa yang Allah lakukan sekarang, dan jangan resah mengenai apa yang mungkin akan atau mungkin tidak akan terjadi besok. Allah akan membantumu menghadapi hal2 sulit yg muncul apabila saatnya tiba"
    Janganlah kita memikirkan apa yg akan terjadi pada hari esok, tetapi pikirkanlah dan curahkanlah seluruh perhatian yg kita miliki untuk menghadapi hari ini. Janganlah menjadi cemas apabila pada hari ini kita tdk mendapatkan uang dlm jumlah yg besar dari hasil kerja keras yg telah kita jalani. Saya yakin bahwa yg namanya rejeki itu tdk akan lari menjauhi kita, jika kita selalu yakin bahwa Yesus akan selalu memelihara kehidupan kita saat ini. Tangan Tuhan yg ajaib akan selalu menuntun jalan hidup org yg selalu mengandalkan kekuatan-Nya dlm menjalani kehidupan pada hari ini. Mazmur 46:1 menulis demikian: "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sbg penolong dlm kesesakan sangat terbukti"
    Tuhan akan selalu bersedia untuk menolong dan membantu kita setiap kali kita mengalami kesusahan hidup. Tuhan ingin agar kita menunjukkan karakter yg sama seperti Dia. Jika kita ingin hidup kekal, hiduplah sesuai dgn ketetapan dan peraturan yg telah Tuhan sebutkan dlm Alkitab. Pertumbuhan rohani menjadi serupa dgn karakter Tuhan membutuhkan waktu yg lama. Jangan pernah menyerah di tengah jalan, yakinlah tangan Tuhan yg ajaib mampu menolong saudara semua menghadapi dilema hidup tamak dan khawatir akan hari esok.
    Marilah kita mulai merubah perilaku hidup kita yg selalu tdk sabar dlm menantikan janji Tuhan. Karena apabila saatnya tiba, Tuhan akan menyatakan keajaiban diri-Nya dlm hidup ini. Percayalah, untuk dapat menjadi serupa dgn karakter Kristus diperlukan waktu yg tdk sekejap saja. Dan juga diperlukan kemauan dan kerja keras, juga diperlukan keintiman yg mendalam sama Tuhan, agar kita semua mengerti apa yg Tuhan inginkan dlm kehidupan ini. Pada waktunya nanti, kita semua pasti mendapat hidup yg kekal di surga bersama Bapa Yg Maha Kudus.

    Surat Kasih dari Sang Bapa

    Oleh: Kristian Ari Prabowo
    Anak-Ku, mungkin engkau tidak mengenal-Ku, tetapi Aku mengenal segala sesuatu tentang dirimu. Aku tahu waktu engkau duduk atau berdiri. Aku mengerti segala jalanmu. (Mazmur 139:1-3)
    Bahkan setiap helai rambut kepalamu terhitung semuanya. (Matius 10:29-31)
    Karena engkau diciptakan menurut gambar-Ku. (Kejadian 1:27)
    Di dalam-Ku engkau hidup, engkau bergerak dan engkau ada, sebab engkau adalah keturunan-Ku (Kisah Para Rasul 17:28)
    Aku mengenalmu bahkan sebelum engkau ada dalam kandungan. (Yeremia 1:5)
    Aku memilihmu ketika Aku merencanakan penciptaan. (Efesus 1:11-12)
    Engkau bukanlah suatu kesalahan karena hari-harimu ada tertulis dalam kitab-Ku (Mazmur139:15-16)
    Aku menentukan waktu yang tepat untuk kelahiranmu dan dimana engkau akan hidup. (Kisah Para Rasul 17:26)
    Kejadianmu dahsyat dan ajaib. Aku menenun engkau dalam kandungan ibumu. (Mazmur 139:13-14)
    Dan mengeluarkan engkau pada hari engkau dilahirkan. (Mazmur 71:6)
    Aku selama ini disalahpahami oleh mereka yang tidak mengenal-Ku (Yohanes 8:41-44)
    Aku tidak menjauh dan marah karena Aku adalah kasih yang sempurna. (I Yohanes 4:16)
    Dan adalah kerinduan-Ku untuk mencurahkan kasih-Ku atasmu. Hanya karena engkau adalah anak-Ku dan Aku adalah Bapamu. (I Yohanes 3:1)
    Aku memberikan lebih dari yang dapat diberikan oleh bapamu yang di dunia. (Matius 7:11)
    Karena Aku adalah Bapa yang sempurna. (Matius 5:48)
    Setiap pemberian baik yang kau terima berasal dari tangan-Ku (Yakobus 1:17)
    Karena Aku adalah pemeliharamu dan Aku memenuhi semua kebutuhanmu. (Matius 6:31-33)
    Rancangan-Ku untuk masa depanmu selalu penuh dengan harapan. (Yeremia 29:11)
    Karena aku mengasihimu dengan kasih yang kekal. (Yeremia 31:3)
    Pikiran-Ku terhadapmu tidak terhitung seperti pasir di tepi pantai. (Mazmur 139:17-18)
    Dan Aku bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai. (Zefanya 3:17)
    Aku tidak pernah berhenti berbuat baik kepadamu. (Yeremia 32:40)
    Karena engkaulah harta kesayangan-Ku. (keluaran 19:5)
    Aku rindu untuk mengokohkanmu dengan segenap hati-Ku dan jiwa-Ku. (Yeremia 32:41)
    Aku akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami. (Yeremia 33:3)
    Jika engkau mencari Aku dengan segenap hatimu, engkau akan menemukan Aku. (Ulangan 4:29)
    Bergembiralah karena Aku, maka Aku akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. (Mazmur 37:4)
    Karena Akulah yang memberikan segala keinginan itu. (Filipi 2:13)
    Aku dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang engkau dapat pikirkan. (Efeseus 3:20)
    Karena Aku adalah Penghiburmu yang agung. (II Tesalonika 2:16-17)
    Akulah juga Bapa yang menghiburmu dalam segala penderitaanmu. (II Korintus 1:3-4)
    Ketika engkau patah hati Aku berada di dekatmu. (Mazmur 34:19)
    Seperti seorang gembala memangku dombanya, Aku memangku engkau dekat ke hati-Ku. (Yesaya 40:11)
    Suatu hari Aku akan menghapus semua air mata dari matamu dan Aku akan mengangkat semua kesusahan yang engkau derita di atas bumi. (Wahyu 21:3-4)
    Akulah bapamu dan Aku mengasihi engkau seperti Aku mengasihi Putra-Ku, Yesus. (Yohanes 17:23)
    Karena di dalam Yesus kasih-Ku kepadamu dinyatakan. (Yohanes 17:26)
    Dialah gambar wujud dari keberadaan-Ku. (Ibrani 1:3)
    Ia datang untuk menyatakan bahwa Aku di pihakmu dan bukan untuk melawanmu. (Roma 8:31)
    Dan untuk memberitahumu bahwa Aku tidak memperhitungkan pelanggaranmu. Yesus mati supaya engkau dan Aku dapat diperdamaikan. (II Korintus 5:18-19)
    Kematian-Nya adalah pernyataan terbesar dari kasih-Ku kepadamu. (I Yohanes 4:10)
    Aku menyerahkan semua yang Aku sayangi supaya Aku mendapatkan kasihmu. (Roma 8:32)
    Jika engkau menerima anak-Ku Yesus, engkau juga menerima-Ku. (I Yohanes 2:23)
    Dan tidak ada lagi yang akan memisahkan engkau dari kasih-Ku. (Roma 8:38-39)
    Kembalilah dan Aku akan mengadakan pesta terbesar yang pernah ada di sorga. (Lukas 15:7)
    Selamanya Aku adalah Bapa, dan selamanya Aku tetaplah Bapa. (Efesus 3:14-15)
    Pertanyaan-Ku ialah: Maukah engkau menjadi Anak-Ku? (Yohanes 1:12-13)
    Aku menanti-nantikan engkau. (Lukas 15:11-32)
    Salam kasih,

    Bapamu, Allah Yang Maha Kuasa
    Catatan: Ini adalah pesan tersirat dari BAPA berdasarkan Firman-Nya.
    Sumber: Renungan "Jamahan Kuasa-Nya"

    Take It Or Lose It

    Dalam sebuah kelas pelatihan, saya mengambil selembar kertas polos kemudian menggunting-guntingnya menjadi beberapa bagian. Ada guntingan besar ada juga yang kecil. Tapi jumlahnya sengaja saya buat tak sama dengan jumlah peserta dalam kelas itu, dua puluh orang. Kemudian saya meminta kepada peserta untuk mengambil masing-masing satu guntingan kertas yang tersedia di meja depan. "Silahkan ambil satu!" demikian instruksi yang saya berikan.

    Dapat diduga, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan. Dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh semuanya kebagian guntingan kertas tersebut.
    Hasilnya? Empat orang terakhir tak mendapatkan guntingan kertas. Delapan orang pertama ke depan mendapatkan guntingan besar-besar, yang berjalan santai dan yang meminta diambilkan harus rela mendapatkan yang kecil.
    Lalu saya katakana kepada mereka, "inilah hidup. Anda ambil kesempatan yang tersedia atau Anda akan kehilangan kesempatan itu. Anda tak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya".
    Pagi ini di kereta saya mendapati seorang wanita hamil yang berdiri agak jauh. Saya sempat berpikir bahwa orang yang paling dekat lah yang `wajib´ memberinya tempat duduk. Tapi sedetik kemudian saya bangun dan segera memanggil ibu itu untuk duduk. Ini perbuatan baik, jika saya tak mengambil kesempatan ini orang lainlah yang melakukannya. Dan belum tentu esok hari saya masih memiliki kesempatan seperti ini.
    Soal rezeki misalnya, saya percaya ia tak pernah datang sendiri menghampiri orang-orang yang lelap tertidur meski matahari sudah terik.
    "Bangun pagi, rezekinya dipatok ayam tuh!" Orang tua dulu sering berucap seperti itu. Dan entah ! kenapa hingga detik ini saya tak pernah bisa menyanggah ucapan orangtua perihal rezeki itu. Saya percaya bahwa orang-orang yang lebih cepat berupaya meraihnya lah yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Sementara mereka yang bersantai-santai atau bahkan bermalas-malasan, terdapat kemungkinan kehabisan rezeki.
    Contoh kecil, datanglah terlambat dari jam kantor Anda yang semestinya. Perusahaan tidak hanya akan mengurangi gaji Anda akibat keterlambatan Anda, bahkan kinerja Anda dianggap minus dan itu mempengaruhi penilaian perusahaan terhadap Anda. Bisa jadi Anda tidak mendapatkan promosi tahun ini, sementara rekan Anda yang tak pernah terlambat lebih berpeluang.
    Saya sering mendengar teman saya berkomentar negatif tentang apa yang dikerjakan orang lain, "Ah, kalau cuma tulisan begini sih saya juga bisa melakukannya" atau "Saya bisa melakukan yang lebih baik dari orang itu". Kepadanya saya katakan, ! saya yakin Anda bisa melakukannya. Masalahnya, sejak tadi saya hanya melihat Anda terus berbicara dan tak melakukan apa pun. Sementara orang-orang di luar sana langsung berbuat tanpa perlu banyak bicara. Buktikan, jika Anda sanggup! Terus berbicara dan mengomentari hasil kerja orang lain tidak akan membuat Anda diakui keberadaannya. Hanya orang-orang yang berbuatlah yang diakui keberadaannya.
    Kepada peserta di kelas pelatihan tersebut saya jelaskan, simulasi tadi juga berlaku untuk urusan ibadah. Saya tidak berhak mengatakan bahwa orang yang lebih tepat waktu akan mendapatkan pahala lebih besar, karena itu hak Allah dan juga tergantung dengan kualitas ibadahnya itu sendiri. Tapi bukankah setiap orang tua akan lebih menyukai anaknya yang tanggap dan cepat menghampiri ketika dipanggil ketimbang anak lainnya yang menunda-nunda?
    Jika demikian, buatlah Allah suka kepada Anda. Karena suka mungkin saja awal dari cinta. Semoga.

    Tangis dan Senyum Natal

    Penulis : Julius Kardinal Darmaatmadja
    TANGIS kelahiran Bayi Anak Maria di Bethlehem memecah kesunyian malam Natal. Bagi umat Kristiani, tangis ini menjadi lonceng yang menengarai peristiwa mahapenting dalam sejarah umat manusia. Allah yang amat prihatin terhadap situasi manusia yang dikuasai dosa datang sebagai Penyelamat.

    Tangis Bayi Anak Maria ini menjadi lonceng pembawa Kabar Gembira yang juga diwartakan oleh malaikat kepada para gembala, "Jangan takut sebab sebenarnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di Kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu. Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah. Katanya, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di Bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya" (Lk 2:8-14).
    BAYI Ilahi ini lahir di Bethlehem, Kota Daud, sesuai dengan Nubuat Nabi Micha. Hal ini diketahui para ahli Kitab dan dilaporkan juga kepada Raja Herodes yang lalu menjadi berang dan ingin membunuh Kanak-kanak Yesus. Allah yang mengatur sejarah, membuat Kaisar Agustus mengadakan sensus bagi semua penduduk yang ada di bawah kuasanya, justru saat kandungan Maria pada usia tua. Maria dan Yoseph bersama semua keturunan Daud lainnya pergi mencatatkan diri ke Kota Bethlehem.
    Ketika sampai di Bethlehem, sampai pula saat Maria melahirkan anaknya. Tiga peristiwa menyatu, dengan lahirnya Yesus sebagai pusat, yaitu Nabi Micha bernubuat, Maria melahirkan Anaknya, dan Kaisar Agustus mengadakan sensus. Bukti bahwa semuanya dalam rencana Ilahi.
    Kelahiran Bayi Ilahi itu sekaligus dikukuhkan dan dicatat dalam sejarah manusia. Allah menjadi manusia, memasuki sejarah umat manusia, menjadi satu di antara manusia, untuk menyelamatkan manusia.
    Natal adalah kepedulian Allah kepada manusia yang berdosa, peduli sampai solider ingin senasib sepenanggungan dengan manusia yang papa. Tangis Bayi Anak Maria membawa pesan agar yang kuat, kaya, dan yang lebih peduli dan solider dengan yang lemah, miskin, dan kurang mampu tanpa pandang bulu, tanpa pandang beda suku atau agama.
    Ungkapan solidaritas Yesus kepada kaum papa dengan lahir di goa tempat hewan berteduh, dibungkus lampin, dan dibaringkan di atas palungan, tempat makanan ternak. Meski lahir di tempat hewan, ia dilahirkan oleh ibu yang penuh kasih, dijaga oleh Yoseph yang penuh perhatian. Kehangatan cinta Maria dan Yoseph membuat tangis itu berhenti dan Bayi Ilahi itu tersenyum. Demikian pula ketika para gembala datang mengagumi-Nya dan memainkan seruling, juga saat para sarjana dari Timur datang menyembah dan membawa persembahan. Senyum- Nya meneguhkan tumbuhnya relasi persaudaraan dan kasih tidak hanya dalam Keluarga Kudus, tetapi juga di antara para gembala dan para sarjana dari Timur. Yesus datang di dunia untuk membangun kembali budaya kasih, membangun hidup dalam kebersamaan, saling peduli, dan dalam suasana persaudaraan.
    SOLIDARITAS Yesus dengan orang miskin dijalani dengan mengalami apa artinya menjadi miskin dan tak berkedudukan. Dia ditolak pemilik penginapan karena orangtuanya tampak tak dapat membayar, sementara banyak orang lain yang mau membayar mahal. Bagi orang yang hanya menginginkan keuntungan, tak ada hati untuk menolong sesama dengan cuma-cuma, apalagi dengan semangat berkorban.
    Sejak lahir, Yesus mengalami suasana hidup masyarakat yang diwarnai kecurigaan satu terhadap yang lain, penguasa takut kehilangan kedudukan. Bagi Raja Herodes, kelahiran Yesus merupakan ancaman, takut tersaingi kekuasaannya. Maka, "Herodes menyuruh membunuh semua anak di Bethlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah…" (Mt 2:16).
    Oleh Yoseph dan Maria, Yesus dibawa lari ke Mesir. Tetapi, operasi tentara Herodes mengakibatkan terbunuhnya banyak bayi tak bersalah. Tangis Yesus tidak hanya bagi anak-anak yang dibunuh saat itu, tetapi juga menyertai semua korban ketidakadilan dan kekejaman akibat dosa manusia sepanjang zaman. Tangis- Nya juga bagi sikap Herodes dan sikap siapa pun yang penuh iri dan dengki, tak mau disaingi, dan yang main kuasa demi kepentingan pribadi dari zaman ke zaman.
    Seandainya Kanak-kanak Yesus sudah dapat berbicara, pesan apakah kiranya yang disampaikan kepada gembala dan tiga sarjana dari Timur yang datang menyembah? Dia pasti mengatakan yang sama: "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mt 22:37-39).
    Kelahiran Yesus mengungkapkan kasih Allah tanpa pamrih, mengasihi dengan kesediaan mengampuni umat-Nya dan kesediaan untuk berkorban. Ini menunjukkan tanggung jawab yang tinggi terhadap manusia ciptaanNya. Meski manusia celaka karena ulahnya sendiri, ia tetap dicarikan jalan keluar, kendati harus ada korban dari Putra Allah sendiri.
    Kita diharapkan saling melindungi dan menyelamatkan. Ajaran kasih: mencintai dan menghormati Allah sekaligus mencakup keharusan saling mencintai dan menghormati sesama manusia, saling bertanggung jawab atas nasib sesama. Bahkan, untuk penilaian pada pengadilan terakhir, Yesus bersabda, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku" (Mt 25:40).
    Tangis pertama Yesus yang memecah kesunyian malam dan senyum pertama-Nya yang menghangatkan relasi telah membuat kita kini menyanyikan Malam Kudus dengan penuh haru. Tangis dan senyumNya telah menguduskan malam Natal dan menguduskan jagat raya. Tangis-Nya menyertai segala derita manusia, derita ketika lahir dan berkembang, derita saat dewasa dan tua, derita saat orang meninggal dunia. Derita manusia telah dijadikan derita-Nya. Seyum-Nya meneguhkan siapa pun yang menerima Dia, menerima ajaran dan karya penyelamatan-Nya.
    Meneguhkan kita yang dengan tak henti bertobat. Tangis-Nya sekaligus menjadi senyum-Nya. Karena derita orang yang disatukan dengan tangis, sengsara, dan wafat-Nya dapat menjadi sumber berkat. Memang tangis dan senyum Kanak-kanak Yesus membawa harapan bagi kita untuk masa depan yang bahagia. Selamat Natal, selamat menyambut tangis dan senyum Kanak-kanak Yesus dalam segala kedalaman maknanya.
    Sumber: Kompas

    Terus Menyesali

    Oleh: Eny Supiani Situmorang
    "Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (I Korintus 10:13b)
    Bacaan: I Korintus 10:1-33

    Dwayne Pingston lumpuh dari pinggangnya ke bawah. Pada tahun 1983, ketika ia baru berusia sembilan belas tahun, ia menghindari tabrakan dari depan dengan membanting setirnya ke kanan. Dalam peristiwa itu Dwayne menabrak bahu jalan dan terlempar dari mobilnya. Lehernya patah dan kaki-kakinya tak dapat digerakkan lagi.
    Bagi kebanyakan orang itu berarti berakhirnya segala pengharapan, impian, kegiatan, dan ambisi. Namun bagi Dwayne, hal itu hanyalah tantangan untuk memunculkan kemampuan yang masih dimiliki dengan sebaik-baiknya. Dwayne memiliki sikap yang luar biasa. Dia lebih aktif dari kebanyakan orang yang masih kuat kakinya. Ia adalah pemancing dan pemburu rusa yang antusias; pemain basket yang handal untuk Easter Seals All-American Team sekalipun harus bermain dengan menggunakan kursi roda; Ia adalah pembalap mobil di Milan Dragway, Ann Arbor, Michigan; awak perahu layar tiga puluh delapan kaki dalam perlombaan dari Port Huron ke Mackinac; anggota tim hoki es Michigan Sled Dogs; dan orang yang sangat aktif di banyak kegiatan kemanusiaan, khususnya yang menangani anak-anak pemukiman kumuh penderita cerebral palsy dan spina bifida (penyakit bengkok tulang belakang). Selain itu, -- meski cacat -- Dwayne tetap bekerja. Dia adalah kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Malah ia memiliki dua pekerjaan sekaligus; satu sebagai montir mobil-mobil tua, dan satunya lagi ia menjadi pengantar mobil-mobil seperti Jaguar hingga Troy, ke pelanggan-pelanggan di seluruh penjuru negara.
    Dwayne tidak pernah menyesali keadaannya, tapi justru sebaliknya, ia merasa sangat beruntung. Apakah ini berarti dia menyangkali hidup ? Tidak. Tetapi ini adalah penerimaan yang seutuhnya dan tulus pada keadaan tubuhnya yang cacat. Wanita Allah, jika kita semua mau bertindak seperti Dwayne, maka tidak mustahil kita juga akan merasakan kebahagiaan yang sama, karena masalah yang engkau alami saat ini tidak kekal. Engkau mampu untuk menanggungnya dan Allah selalu menyediakan jalan keluarnya bagimu. Percayalah, engkau bisa!!!
    Jangan menangisi kehilangan kita, bersukacitalah dengan apa yang masih kita miliki!

    Tiga Langkah

    Renungkan ilustrasi ini: Pada waktu terjadi pemberontakan di suatu daerah, sehingga daerah itu terisolasi dari pemerintah pusat, maka apa yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat? Ada tiga langkah biasanya yang akan dilakukannya :
    1. Mengirimkan orang-orang khusus untuk menyusup ke wilayah tersebut dan membuka komunikasi, sehingga pemerintah tahu kondisi setempat. Setelah data-data dan bukti-bukti lengkap antara siapa yang berpihak kepada pemerintah dan siapa yang berpihak pada pemberontak, maka langkah kedua dilakukan.
    2. Membasmi pemberontakan itu. Setelah pemberontakan dibasmi barulah langkah ke-3 dapat dilakukan tanpa gangguan.
    3. Memulihkan kehidupan masyarakat di tempat tersebut dengan pembangunan fisik (rumah, kesehatan, transportasi, dsb).
    Demikian pulalah yang dilakukan oleh Allah ketika terjadi pemberontakan oleh setan di bumi ini. Ada 3 langkah yang dilakukan Allah :
    Langkah Pertama: Mengirim putra-Nya ke bumi untuk membuka sarana komunikasi yang selama ini terhambat akibat dosa Adam. Apa prinsip ayatnya?
    • 2 Samuel 14:14, "Sebab kita pasti mati, kita seperti air yang tercurah ke bumi, yang tidak terkumpulkan. Tetapi Allah tidak mengambil nyawa orang, melainkan Ia merancang supaya seorang yang terbuang jangan tinggal terbuang dari pada-Nya."
    • Perhatikan!! Kata "Kita pasti mati (karena kita tidak sempurna); ... Ia merancang supaya seorang yang terbuang supaya jangan tinggal terbuang dari pada-Nya (kedudukan kita sebenarnya sudah terbuang/terputus dari Allah akibat dosa Adam akan tetapi apa yang Allah rencanakan agar kita tidak tinggal terbuang dari padanya? Yaitu dengan mengirim putra-Nya ke bumi agar kita bisa didapati layak di hadapannya melalui korban tebusan putra-Nya.)
    • Yohanes 14:6, "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."
    • Perhatikan!! Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan komunikasi kita dengan Allah telah terputus, akan tetapi dengan adanya Yesus Kristus, hubungan komunikasi kita dapat tersambung lagi. Kita dapat datang kepada Allah melalui Yesus.
      Dan bukan hanya membuka sarana komunikasi yang terputus, tapi Yesus juga akan melakukan pemisahan antara yang berpihak pada Allah dan Setan.
    • Matius 25: 31-32, "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas tahta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing."
    • Perhatikan!! Siapa yang dimaksud dengan anak manusia? Yesus bukan? Dan apa yang akan dilakukannya? Memisahkan orang-orang yang berpihak pada Allah (bersifat seperti domba) dan yang berpihak pada Setan (bersifat seperti kambing).
    Itulah sebabnya, walaupun Yesus telah menebus kita, kita masih dikungkung oleh ketidak sempurnaan dan lingkungan yang tidak mendukung. Karena saat ini, Yesus sedang melakukan langkah pertama, yaitu memulihkan hubungan kita dengan Allah dan injil kerajaan ini disampaikan kepada orang-orang untuk dapat menentukan siapa yang mau menerima atau tidak. Baru langkah ke-2 akan dilaksanakan.
    Langkah Kedua: Membinasakan Pemberontakan setan itu di Armagedon
    • Wahyu 16: 14&16, "Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapakan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa. Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani di sebut Harmagedon. (Atau dalam istilah yang lebih dikenal umum ialah "kiamat".) Siapa yang akan memimpin?
    • Wahyu 19: 13-14, "Dan ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah". Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa. Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: "Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan."
    • Perhatikan!! Kata "Nama-Nya ialah "Firman Allah" (Yohanes 1: 14 menunjuk kepada Yesus); "Raja segala raja dan Tuan di atas segala Tuan" (Wahyu 17: 14 menunjuk kepada "Anak Domba" dan ini tidak lain adalah Yesus Kristus); Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti dia (ini menunjukkan bahwa Yesuslah yang akan memimpin pemusnahan dari pemberontak setan)
    • Mazmur 37: 9, "Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.
    Langkah Ketiga
    Memulihkan kehidupan umatnya di bumi firdaus. Langkah ini baru dapat dilaksanakan secara fisik, karena Setan si Iblis dan pengikutnya telah dibinasakan sehingga tidak mengganggu lagi.
    • Matius 6: 9-10, "Kondisi di bumi akan sama seperti di sorga."
    • Yesaya 35: 5&6, "Orang buta dan timpang dapat melihat dan berjalan dengan normal."
    • Yesaya 33: 24, "tidak ada penghuni yang akan mengatakan aku sakit."
    • Yohanes 5: 28-29, "Adanya harapan kebangkitan bagi orang-orang yang kita kasihi."

    Tiga Macam Waktu Tuhan

    Penulis : Gideon Kristian
    Dalam membicarakan waktu Tuhan, kita bertemu dengan tiga istilah dalam Alkitab (bah. Aslinya)
    1. Waktu Kronos
    Yang dimaksud Kronos adalah waktu yang biasa, yang selalu ada. kronos menunjukan jangka waktu tertentu, entah itu waktu yang singkat (sekejap mata, Luk 4:5) Atau waktu yang lama (Luk 8:27; 20:9). Dengan demikian kita mengerti bahwa kata Yunani kronos dipakai berhubungan dengan jam, bulan, dan tahun. Waktu kronos adalah siklus waktu yang biasa.
    2. Waktu Aion:
    Kata Aion dipakai untuk menunjukan entah waktu yang lama sekali, atau waktu yang tanpa batas. Oleh sebab itu waktu aion dipakai tentang waktu ini yang mulai dengan penciptaan dan berakhir denga kedatangan Kristus yang kedua kali; atau juga tentang waktu kekekalan, yaitu waktu tanpa batas. (Matius 12:32 dunia inidan dunia yang akan datang. Yang diterjemahkan dengan kata dunia adalah aion (lih. Ef 1:21)
    3. Waktu Kairos :
    Kata kairos berbicara tentang periode tertentu. Kalau waktu itu sudah lewat, tidak akan kembali lagi (Roma 5:6) Oleh sebab itu waktu kairos berbicara tentang kesempatan dan momentum yang ada di waktu waktu tertentu.
    Galatia 6: 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman - artinya, kalau kesempatan tidak digunakan, maka waktu (kairos) akan hilang.
    Kalau kita tidak cermat kita akan kehilangan kesempatan. Sebab itu kita harus memperhatikan waktu pintu terbuka dan waktu pintu tertutup. Alkitab berkata, Apabila Ia (Yesus ) membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. (wahyu 3:7)
    Ada waktunya Tuhan membuka pintu masuk bagi kita dalam sebuah kesempatan. Bila mana kita tidak masuk, pintu akan tertutup. *Pintu itu bisa sebuah kesempatan kesempatan baik yang kita miliki. Yang mungkin Cuma sekali saja. Jadi perhatikan KAIROS yang Tuhan berikan. Jadilah peka, bijaksana, berani mengambil keputusan namun tidak terburuburu. Atau anda akan menyesalinya!

    Tinggal di dalam Kristus

    Oleh: Sunanto
    Yohanes 15:5 “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
    Sebuah ranting pohon anggur tidaklah memiliki kemampuan untuk berbuah. Yang perlu dilakukan ranting itu hanyalah tinggal di dalam pokok anggur sehingga dengan sendirinya ia akan menghasilkan buah. Kita tidaklah memiliki kemampuan untuk menghasilkan buah. Bagian kita hanyalah melekatkan diri pada Kristus maka dengan sendirinya hidup kita akan berbuah berlimpah-limpah.
    Banyak pekerja Kristen yang memusatkan diri pada pekerjaan mereka, padahal seharusnya mereka memusatkan perhatian pada Allah. Seorang pekerja Kristen yang tidak memusatkan diri pada Allah cenderung akan terlalu dibebani oleh pekerjaannya. Padahal sama seperti ranting pohon anggur, kita hanya perlu tinggal dalam pokok kita yaitu Kristus. Tanggung jawab kita hanyalah tetap melekat pada Kristus maka dengan sendirinya hidup kita akan berbuah. Bila kita telah menemukan rahasia tentang tinggal atau melekat dalam Kristus ini maka kita tidak lagi akan merasa terlalu dibebani oleh tugas-tugas pelayanan, sebaliknya justru hidup kita akan dipenuhi sukacita dan damai sejahtera oleh Roh Kudus.
    Banyak pekerja Kristen yang bermaksud melayani Allah dengan ketabahan yang besar dan motif yang benar tetapi tanpa memiliki persekutuan yang akrab dengan Allah, mereka akan segera dikalahkan. Pada awalnya pelayanan mereka mungkin kelihatan berhasil di mata manusia tetapi buah yang mereka hasilkan tidak akan bertahan lama. Pada akhirnya mereka akan mengalami kegagalan sebab mencoba menghasilkan buah dengan kekuatan sendiri. Yang lebih tragis lagi tidak sediki pelayan Tuhan yang keluarganya berantakan akibat mereka lebih memfokuskan diri pada pelayanan bukan pada Tuhan.
    Salah satu jerat yang menjerumuskan kita sebagai pekerja Kristen adalah hasrat untuk memperoleh keberhasilan rohani. Yesus mengingatkan para muridNya yang berhasil mengusir roh-roh jahat demi namaNya agar mereka jangan bersukacita karena roh-roh itu takluk kepada mereka, tetapi bersukacita karena nama mereka ada terdaftar di sorga. Seringkali yang membuat seorang hamba Tuhan mengalami kejatuhan bukanlah karena kegagalan melainkan karena keberhasilan. Ingatlah selalu bahwa kita ini hanyalah sepotong ranting yang tidak bisa berbuat apa-apa bila terpisah dari Kristus. Di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa sehingga jangan pernah membanggakan keberhasilan pelayanan/pekerjaan kita. Biarlah kita memberikan segala kemuliaan hanya bagi Allah sebab segala sesuatu itu dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia !

    Tinggal di dalam Kristus

    Oleh: Sunanto
    Yohanes 15:5 “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
    Sebuah ranting pohon anggur tidaklah memiliki kemampuan untuk berbuah. Yang perlu dilakukan ranting itu hanyalah tinggal di dalam pokok anggur sehingga dengan sendirinya ia akan menghasilkan buah. Kita tidaklah memiliki kemampuan untuk menghasilkan buah.Bagian kita hanyalah melekatkan diri pada Kristus maka dengan sendirinya hidup kita akan berbuah berlimpah-limpah.
    Banyak pekerja Kristen yang bermaksud melayani Allah dengan ketabahan yang besar dan motif yang benar tetapi tanpa memiliki persekutuan yang akrab dengan Allah, mereka akan segera dikalahkan.Pada awalnya pelayanan mereka mungkin kelihatan berhasil di mata manusia tetapi buah yang mereka hasilkan tidak akan bertahan lama.Pada akhirnya mereka akan mengalami kegagalan sebab mencoba menghasilkan buah dengan kekuatan sendiri. Yang lebih tragis lagi tidak sedikit pelayan Tuhan yang keluarganya berantakan akibat mereka lebih memfokuskan diri pada pelayanan bukan pada Tuhan.
    Salah satu jerat yang menjerumuskan kita sebagai pekerja Kristen adalah hasrat untuk memperoleh keberhasilan rohani.Yesus mengingatkan para muridNya yang berhasil mengusir roh-roh jahat demi namaNya agar mereka jangan bersukacita karena roh-roh itu takluk kepada mereka, tetapi bersukacita karena nama mereka ada terdaftar di sorga.
    Seringkali yang membuat seorang hamba Tuhan mengalami kejatuhan bukanlah karena kegagalan melainkan karena keberhasilan.Ingatlah selalu bahwa kita ini hanyalah sepotong ranting yang tidak bisa berbuat apa-apa bila terpisah dari Kristus.
    Di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa sehingga jangan pernah membanggakan keberhasilan pelayanan/pekerjaan kita.Biarlah kita memberikan segala kemuliaan hanya bagi Allah sebab segala sesuatu itu dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia !

    Tuhan Itu Ada...

    Seperti biasanya, seorang laki-laki, sebut saja Steve, datang ke sebuah salon untuk memotong rambut dan jenggotnya. Ia pun memulai pembicaraan yang hangat dengan tukang cukur yang melayaninya. Berbagai macam topik pun akhirnya jadi pilihan, hingga akhirnya Tuhan jadi subyek pembicaraan.

    "Hai Tuan, saya ini tidak percaya kalau Tuhan itu ada seperti yang anda katakan tadi," ujar si tukang cukur. Mendengar ungkapan itu, Steve terkejut dan bertanya, "Mengapa anda berkata demikian?".
    "Mudah saja, anda tinggal menengok ke luar jendela itu dan sadarlah bahwa Tuhan itu memang tidak ada. Tolong jelaskan pada saya, jika Tuhan itu ada, mengapa banyak orang yang sakit? mengapa banyak anak yang terlantar?. Jika Tuhan itu ada, tentu tidak ada sakit dan penderitaan. Tuhan apa yang mengijinkan semua itu terjadi..." ungkapnya dengan nada yang tinggi.
    Steve pun berpikir tentang apa yang baru saja dikatakan sang tukang cukur. Namun, ia sama sekali tidak memberi respon agar argumen tersebut tidak Lebih meluas lagi.
    Ketika sang tukang cukur selesai melakukan pekerjaannya, Steve pun Berjalan keluar dari salon. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan seorang laki-laki berambut panjang dan jenggotnya pun lebat.
    Sepertinya ia sudah lama tidak pergi ke tukang cukur dan itu membuatnya terlihat tidak rapi.
    Steve kembali masuk ke dalam salon dan kemudian berkata pada sang tukang cukur, "Tukang cukur itu tidak ada!"...
    Sang tukang cukur pun terkejut dengan perkataan Steve tersebut. "Bagaimana mungkin mereka tidak ada? Buktinya adalah saya. Saya ada di sini dan saya adalah seorang tukang cukur," sanggahnya.
    Steve kembali berkata tegas, "Tidak, mereka tidak ada. kalau mereka ada, tidak mungkin ada orang yang berambut panjang dan berjenggot lebat seperti contohnya pria di luar itu."
    "Ah, anda bisa saja...Tukang cukur itu selalu ada di mana-mana. Yang terjadi pada pria itu adalah bahwa dia tidak mau datang ke salon saya untuk dicukur," jawabnya tenang sambil tersenyum. "Tepat!" tegas Steve. "Itulah poinnya. Tuhan itu ada. Yang terjadi pada umat manusia itu adalah karena mereka tidak mau datang mencari dan menemui-Nya. Itulah sebabnya mengapa tampak begitu banyak penderitaan di seluruh dunia ini...."
    Warm regards,

    Tuhan dapat Dipercaya

    Oleh:Sunanto
    Tatkala saya merenungkan tahun-tahun perjalanan hidup Kekristenan saya bersama Kristus, saya sungguh kagum dengan cara Tuhan menuntun hidup saya sedemikian rupa sehingga tanpa saya sadari lambat laun perjalanan itu akhirnya membawa saya pada keutuhan. Bagi saya Tuhan itu bagaikan dokter bedah yang paling canggih di dunia ini. Dia sangat tahu bagian mana dari jiwa kita yang perlu dipulihkan dan Dia juga memiliki cara yang berbeda untuk menangani kelemahan-kelemahan kita. Bagian kita hanyalah taat dan bersedia untuk berubah sesuai perintahNya.
    Saya masih ingat ketika pertama kali belajar untuk bisa terapung di air. Kakak saya mengatakan untuk bisa terapung di air maka kaki saya harus digerakkan seperti orang yang sedang naik sepeda. Untuk bisa mempraktekkan apa yang kakak saya ajarkan, mau tidak mau saya harus mencobanya di tempat yang airnya dalam meskipun ada resiko untuk tenggelam. Tanpa berani mencobanya di tempat dalam sampai kapanpun saya tidak akan bisa terapung di air. Hanya ada satu cara untuk belajar percaya kepada Tuhan yaitu kita harus berani keluar dari zona kenyamanan. Iman yang tanpa melakukan tindakan ketataan bukanlah iman yang sejati.
    Merupakan sebuah kebohongan jika ada yang mengatakan Tuhan akan membuat semuanya mudah dan nyaman saat kita hidup dalam ketaatan. Memang ketaatan akan memberikan damai sejahtera di hati kita tetapi bukan berarti tidak ada lagi kesulitan yang harus kita hadapi. Semua tokoh-tokoh iman yang ada di Alkitab dan sejarah Kekristenan mengalami masa-masa sulit sebelum Tuhan memakai mereka sebagai berkat bagi dunia ini. Tokoh-tokoh reformasi seperti Marthin Luther, John Calvin dan John Knox mengalami banyak kesulitan sebelum akhirnya mereka keluar sebagai pemenang. Saya percaya kesulitan-kesulitan yang Tuhan ijinkan mereka hadapi sebenarnya merupakan cara Tuhan untuk mengajarkan mereka bergantung kepadaNya.
    Kalau begitu apakah lebih baik kita memilih ketidaktaatan sebab ketaatan kan tidak akan membuat hidup kita menjadi mudah ? Ketaatan memang tidak membuat hidup kita menjadi mudah tetapi tersedia kasih karunia dari Tuhan untuk mengatasi setiap kesulitan tersebut sehingga iman kita akan bertumbuh. Ketidaktaatan akan membuat hidup kita semakin sengsara dan kerohanian kita menjadi stagnasi. Orang yang taat dan tidak taat bisa sama-sama mengalami penderitaan tetapi penderitaan yang dialami oleh orang yang taat akan menjadikannya keluar sebagai pemenang, sedangkan penderitaan yang dialami oleh orang yang tidak taat akan menjadikannya sebagai seorang pecundang.
    Banyak orang Kristen yang takut untuk berjalan dalam ketaatan karena mereka tidak percaya terhadap pemeliharaan Tuhan. Mereka takut bila nanti hidup mereka tidak akan terjamin bila mereka memutuskan untuk taat keluar dari zona kenyamanan. Dia merupakan Bapa kita sehingga tidak mungkin Dia mengijinkan sesuatu yang bukan untuk mendatangkan kebaikan bagi diri kita. Bila bapa di dunia ini saja tahu memberi yang baik apalagi Bapa kita yang di sorga. Yesus berkata "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Salah satu ciri dari anak kecil adalah mudah untuk percaya, terutama kepada orang tuanya. Kita harus memiliki iman seperti anak kecil dalam arti percaya penuh kepada pemeliharaan Bapa yang di surga. Percayalah, Tuhan itu dapat dipercaya dan janjiNya bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah !

    Ucapan Selamat


    Salah satu kegiatan yang paling saya suka adalah mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman. Saya berusaha untuk selalu mengetahui kapan tanggal ulang tahun mereka. Untuk itu saya punya catatan tersendiri, dimana setiap awal bulan, saya bisa melihat siapa-2 yang akan berulang tahun pada bulan berjalan.

    Bahkan teman es de yang sudah puluhan tahun kami berteman, selalu saya beri ucapan selamat ulang tahun, setiap tahun, rutin ;), mulai dari kartu ucapan (belum ada hp), beralih ke sms, sekarang via email.
    Ada kepuasan tersendiri dihati saya melakukan itu. Mungkin itu hal yang sepele, hanya terima kartu ucapan atau terima sms, bukan hadiah (materi) yang mereka terima, tapi saya pernah tersentuh berapa tahun yang lalu, tepat jam 12.01 malam, saya terima sms dari seorang teman yang mengatakan : "indri, met ultah ya, aku tidak tidur, nunggu jam 12.01 untuk mengucapkan ini"
    Saya jadi ingat kalimat yang mengatakan: "berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian anda kepada orang lain, itulah satu-satunya cara yang saya ketahui untuk keluar dari kegelapan hidup"

    Ucapan Syukur

    Oleh:Alfred Monim
    Masmur 100:4, berkata demikian "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian (tehilah)".
    Dengan memberikan perhatian pada ayat di atas, maka ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian kita bersama: pertama, ketika seseorang sebelum melangkah masuk ke rumah Tuhan (ibadah), terlebih dahulu ia mengingat salah satu karakter Allah, dimana ia telah mengalaminya dari Tuhan, sehingga ketika ia masuk dalam ibadah tersebut penuh dengan nyanyian syukur kepada Allah. Ke dua, ketika di dalam ibadah tersebut, mereka yang bersyukur kepada Allah hendaknya mengekspresikan sukacitanya tersebut (tehilah) kepada Allah dalam ibadah tersebut. Dengan demikian, ibadah yang diselenggarakan itu sungguh memberikan dampak dan makna yang indah dan dalam atas hidup masing-masing.

    Waktu

    Oleh: Sulistijo
    Waktu, Siapakah Engkau ?
    Aku serasa mengenalmu tapi tak pernah melihatmu.
    Sang Nabi berkata di kitab Kejadian 1:14; demikianlah firman Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun.
    Waktu, apakah engkau hanya catatan hari berganti hari dan tahun berganti tahun?
    Bukankah setiap bangsa telah mencatat hari-hari, bulan-bulan dan tahun-tahun mereka. Dan setiap tahun mereka merayakan pergantian tahun.
    Aku pun telah mencatat hari lahirku dan pada waktu aku meninggal nanti seseorang akan mencatat hari kematian di batu nisanku.
    Waktu, engkau serasa ada tetapi manusia hanya mampu mencatat hari-hari, bulan-bulan, tahun-tahun dari benda-benda langit yang diciptakan Allah.
    Waktu milik siapakah engkau?
    Ketika aku berkata “waktuku”, apakah benar engkau milikku ?
    Aku dapat memberikan uang dan harta bendaku tetapi aku tidak dapat memberikan waktuku kepada orang lain.
    Ketika aku melihat orang yang sudah tidak dapat menghitung waktu ternyata aku masih dapat menghitung waktu.
    Demikian juga ketika aku dan kamu sudah tidak dapat menghitung waktu tetapi orang lain masih dapat menghitung waktu.
    Waktu ternyata engkau tetap ada baik ketika aku ada maupun ketika aku tiada.
    Waktu, ternyata engkau bukan milikku tetapi milik Penciptamu.
    Waktu, engkau hanya dipinjamkan oleh Pencipta mu kepada setiap orang, tanpa tahu berapa lama engkau dipinjamkan.
    Ketika fajar menyingsing, manusia bergegas ke sekolah, kuliah, bekerja, kemudian makan siang, makan malam dan ketika matahari tenggelam mereka beristirahat.
    Waktu, engkau bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
    Waktu, engkau sangat berkuasa sehingga mampu membelenggu setiap orang, dan mengatur seluruh kehidupan dan kegiatan manusia.
    Waktu, engkau adalah gambar dari seluruh kegiatan, perbuatan, ingatan akan hari-hari yang indah, maupun hari-hari yang menyedihkan.
    Waktu, setiap orang harus tunduk kepadamu,dan sesungguhnya, Pencipta mu Maha Besar dan berkuasa atas kehidupan manusia.
    Hamba bersyukur untuk waktu yang dipinjamkan dan hamba berserah mengikuti waktu yang Engkau ciptakan.
    Bimbing hambamu agar mengerti kehendakMu sehingga perbuatan yang merupakan gambar dari waktu dapat berkenan kepadaMu.
    Seperti sang Nabi memohon di Mazmur 90 :12: Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
    Diambil dari: www.secercahcahaya.com

    Warna Persahabatan

    Di suatu masa warna-warna dunia mulai bertengkar Semua menganggap dirinyalah yang terbaik yang paling penting yang paling bermanfaat yang paling disukai HIJAU berkata:"Jelas akulah yang terpenting. Aku adalah pertanda kehidupan dan harapan. Aku dipilih untuk mewarnai rerumputan, pepohonan dan dedaunan. Tanpa aku, semua hewan akan mati. Lihatlah ke pedesaan, aku adalah warna mayoritas..."

    BIRU menginterupsi: "Kamu hanya berpikir tentang bumi, pertimbangkanlah langit dan samudra luas. Airlah yang menjadi dasar kehidupan dan awan mengambil kekuatan dari kedalaman lautan. Langit memberikan ruang dan kedamaian dan ketenangan. Tanpa kedamaian, kamu semua tidak akan menjadi apa-apa"
    KUNING cekikikan: "Kalian semua serius amat sih? Aku membawa tawa, kesenangan dan kehangatan bagi dunia. Matahari berwarna kuning, dan bintang-bintang berwarna kuning. Setiap kali kau melihat bunga matahari, seluruh dunia mulai tersenyum. Tanpa aku, dunia tidak ada kesenangan."
    ORANYE menyusul dengan meniupkan trompetnya: "Aku adalah warna kesehatan dan kekuatan. Aku jarang, tetapi aku berharga karena aku mengisi kebutuhan kehidupan manusia. Aku membawa vitamin-vitamin terpenting. Pikirkanlah wortel, labu, jeruk, mangga dan pepaya. Aku tidak ada dimana-mana setiap saat, tetapi aku mengisi lazuardi saat fajar atau saat matahari terbenam. Keindahankubegitu menakjubkan hingga tak seorangpun dari kalian akan terbetik di pikiran orang."
    MERAH tidak bisa diam lebih lama dan berteriak: "Aku adalah Pemimpin kalian. Aku adalah darah - darah kehidupan! Aku adalah warna bahaya dan keberanian. Aku berani untuk bertempur demi suatu kausa. Aku membawa api ke dalam darah. Tanpa aku, bumi akan kosong laksana bulan. Aku adalah warna hasrat dan cinta, mawar merah, poinsentia dan bunga poppy."
    UNGU bangkit dan berdiri setinggi-tingginya ia mampu: Ia memang tinggi dan berbicara dengan keangkuhan. "Aku adalah warna kerajaan dan kekuasaan. Raja, Pemimpin dan para Uskup memilih aku sebagai pertanda otoritas dan kebijaksanaan. Tidak seorangpun menentangku. Mereka mendengarkan dan menuruti kehendakku." Akhirnya
    NILA berbicara lebih pelan dari yang lainnya, namun dengan kekuatan niat yang sama: "Pikirkanlah tentang aku. Aku warna diam. Kalian jarang memperhatikan daku, namun tanpaku kalian semua menjadi dangkal. Aku merepresentasikan pemikiran dan refleksi, matahari terbenam dan kedalaman laut. Kalian membutuhkan aku untuk keseimbangan dan kontras, untuk doa dan ketentraman batin."
    Jadi, semua warna terus menyombongkan diri, masing-masing yakin akan superioritas dirinya.
    Perdebatan mereka menjadi semakin keras. Tiba-tiba, sinar halilitar melintas membutakan.
    Guruh menggelegar. Hujan mulai turun tanpa ampun. Warna-warna bersedeku bersama ketakutan,
    berdekatan satu sama lain mencari ketenangan.
    Di tengah suara gemuruh, hujan berbicara:
    "WARNA-WARNA TOLOL, kalian bertengkar satu sama lain, masing-masing ingin mendominasi yang lain. Tidakkah kalian tahu bahwa kalian masing-masing diciptakan untuk tujuan khusus,
    unik dan berbeda? Berpegangan tanganlah dan mendekatlah kepadaku!" Menuruti perintah, warna-warna berpegangan tangan mendekati hujan, yang kemudian berkata:
    "Mulai sekarang, setiap kali hujan mengguyur, masing-masing dari kalian akan membusurkan diri sepanjang langit bagai busur warna sebagai pengingat bahwa kalian semua dapat hidup bersama dalam kedamaian.
    Pelangi adalah pertanda Harapan hari esok."
    Jadi, setiap kali HUJAN deras menotok membasahi dunia,
    dan saat Pelangi memunculkan diri di angkasa marilah kita
    MENGINGAT untuk selalu MENGHARGAI satu sama lain.
    MASING-MASING KITA MEMPUNYAI SESUATU YANG UNIK KITA SEMUA DIBERIKAN KELEBIHAN UNTUK MEMBUAT PERUBAHAN DI DUNIA DAN SAAT KITA MENYADARI PEMBERIAN ITU, LEWAT KEKUATAN VISI KITA,
    KITA MEMPEROLEH KEMAMPUAN UNTUK MEMBENTUK MASA DEPAN ....
    Persahabatan itu bagaikan pelangi:
    Merah bagaikan buah apel, terasa manis di dalamnya.
    Jingga bagaikan kobaran api yang tak akan pernah padam.
    Kuning bagaikan mentari yang menyinari hari-hari kita.
    Hijau bagaikan tanaman yang tumbuh subur.
    Biru bagaikan air jernih alami.
    Ungu bagaikan kuntum bunga yang merekah.
    Nila-lembayung bagaikan mimpi-mimpi yang mengisi kalbu

    Warna Persahabatan

    Oleh: Nyta Nienet Sadhega
    Di suatu masa warna-warna dunia mulai bertengkar. Semua menganggap dirinyalah yang terbaik yang paling penting yang paling bermanfaat yang paling disukai.
    HIJAU berkata, "Jelas akulah yang terpenting. Aku adalah pertanda kehidupan dan harapan. Aku dipilih untuk mewarnai rerumputan, pepohonan, dan dedaunan. Tanpa aku, semua hewan akan mati. Lihatlah ke pedesaan, aku adalah warna mayoritas..."
    BIRU menginterupsi, "Kamu hanya berpikir tentang bumi, pertimbangkanlah langit dan samudra luas. Airlah yang menjadi dasar kehidupan dan awan mengambil kekuatan dari kedalaman lautan. Langit memberikan ruang dan kedamaian dan ketenangan. Tanpa kedamaian, kamu semua tidak akan menjadi apa-apa!"
    KUNING cekikikan, "Kalian semua serius amat sih? Aku membawa tawa, kesenangan dan kehangatan bagi dunia. Matahari berwarna kuning, dan bintang-bintang berwarna kuning. Setiap kali kau melihat bunga matahari, seluruh dunia mulai tersenyum. Tanpa aku, dunia tidak ada kesenangan."
    ORANYE menyusul dengan meniupkan trompetnya, "Aku adalah warna kesehatan dan kekuatan. Aku jarang, tetapi aku berharga karena aku mengisi kebutuhan kehidupan manusia. Aku membawa vitamin-vitamin terpenting. Pikirkanlah wortel, labu, jeruk, mangga dan pepaya. Aku tidak ada dimana-mana setiap saat, tetapi aku mengisi lazuardi saat fajar atau saat matahari terbenam. Keindahanku begitu menakjubkan hingga tak seorang pun dari kalian akan terbetik di pikiran orang."
    MERAH tidak bisa diam lebih lama dan berteriak, "Aku adalah Pemimpin kalian. Aku adalah darah -- darah kehidupan! Aku adalah warna bahaya dan keberanian. Aku berani untuk bertempur demi suatu kausa. Aku membawa api ke dalam darah. Tanpa aku, bumi akan kosong laksana bulan. Aku adalah warna hasrat dan cinta, mawar merah, poinsentia dan bunga poppy."
    UNGU bangkit dan berdiri setinggi-tingginya ia mampu, ia memang tinggi dan berbicara dengan keangkuhan. "Aku adalah warna kerajaan dan kekuasaan. Raja, Pemimpin, dan para Uskup memilih aku sebagai pertanda otoritas dan kebijaksanaan. Tidak seorang pun menentangku. Mereka mendengarkan dan menuruti kehendakku."
    Akhirnya, NILA berbicara lebih pelan dari yang lainnya, namun dengan kekuatan niat yang sama, "Pikirkanlah tentang aku. Aku warna diam. Kalian jarang memperhatikan daku, namun tanpaku kalian semua menjadi dangkal. Aku merepresentasikan pemikiran dan refleksi, matahari terbenam dan kedalaman laut. Kalian membutuhkan aku untuk keseimbangan dan kontras, untuk doa dan ketentraman batin."
    Jadi, semua warna terus menyombongkan diri, masing-masing yakin akan superioritas dirinya. Perdebatan mereka menjadi semakin keras. Tiba-tiba, sinar halilitar melintas membutakan. Guruh menggelegar. Hujan mulai turun tanpa ampun. Warna-warna bersedeku bersama ketakutan, berdekatan satu sama lain mencari ketenangan.
    Di tengah suara gemuruh, hujan berbicara:
    "WARNA-WARNA TOLOL, kalian bertengkar satu sama lain, masing-masing ingin mendominasi yang lain. Tidakkah kalian tahu bahwa kalian masing-masing diciptakan oleh Allah Bapa untuk tujuan khusus, unik, dan berbeda? Berpegangan tanganlah dan mendekatlah kepadaku!"
    Menuruti perintah, warna-warna berpegangan tangan mendekati hujan, yang kemudian berkata:
    "Mulai sekarang, setiap kali hujan mengguyur, masing-masing dari kalian akan membusurkan diri sepanjang langit bagai busur warna sebagai pengingat bahwa kalian semua dapat hidup bersama dalam kedamaian. Pelangi adalah pertanda harapan hari esok."
    Jadi, setiap kali HUJAN deras menotok membasahi dunia, dan saat Pelangi memunculkan diri di angkasa, marilah kita MENGINGAT untuk selalu MENGHARGAI satu sama lain. Masing-masing kita mempunyai sesuatu yang unik kita semua diberikan kelebihan untuk membuat perubahan di dunia dan saat kita menyadari pemberian itu, lewat kekuatan visi kita, kita memperoleh kemampuan untuk membentuk masa depan ....
    Persahabatan itu bagaikan pelangi:
    Merah bagaikan buah apel, terasa manis di dalamnya.

    Jingga bagaikan kobaran api yang tak akan pernah padam.

    Kuning bagaikan mentari yang menyinari hari-hari kita.

    Hijau bagaikan tanaman yang tumbuh subur.

    Biru bagaikan air jernih alami.

    Ungu bagaikan kuntum bunga yang merekah.

    Nila-lembayung bagaikan mimpi-mimpi yang mengisi kalbu 

    Wong Sombong Rohani !

    Oleh: Mang Ucup
    Banyak manusia genit di dunia ini, kalho hanya sekedar genit-genit centil azah sih ora opo-opo, asal jangan kebangetan azah, sehingga akhir menjadi sombong rohani githu. Apa bedanya antara T-shirt cap Cabe ama T-Shirt Chanel, yang udah pasti merek Chanel harganya bisa 100 kali lipat lebih mahal daripada cap Cabe. Untuk kebutuhan jasmaniah T-shirt cap Cabe sudah cukup, tapi untuk kebutuhan rohaniah kudu yang bermerek.

    Begitu juga kenapa kudu membeli Jaguar XJ6 yang harganya 1,5 M kalau dengan kijang yang Rp 150 juta azah udah cukup, secara jasmaniah Kijang sebenarnya udah oce, tetapi untuk rohaniah kudu Jaguar, padahal untuk di Jkt entah itu Kijang, BMW, Mersi ato Jaguar kecepatannya sami mawon tidak bisa lebih cepat, tetapi untuk show "Nih Gue" kudu Jaguar.
    Kenapa mo pergi jauh-jauh ke Tanggulangin (Sidoarjo) untuk beli tas bermerek, walaupun itu hanya sekedar kloningan ato merek bajakan; tapi yang penting bisa pamer sebagai wong sugih. Apa bedanya sop buntut di Borobudur Hotel dengan di kaki lima, yang sudah pasti di Hotel Borobudur harganya 10 kali lipat lebih mahal dan disana kita bisa mejeng untuk meningkatkan nilai kesombongan rohani kita. Kenapa harus arloji Rolex kalho Seiko saja sudah oce?
    Sebenarnya Sang Pencipta telah memenuhi semua kebutuhan jasmaniah kita, sehingga sepatutnya kita kudu mensyukurinya, tetapi karena kerakusan dan ketamakan "rohani" inilah yang membuat kita akhirnya terjerumus ke dalam dosa. Berapa banyak keluarga hancur, karena suami/istri tidak puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka kerja sampai jauh malam, melupakan kesehatan maupun keluarga ini bukannya untuk kebutuhan jasmaniah kita melainkan untuk memuaskan kebutuhan rohani kita, agar bisa beli rumah segede istana, liburan ke luar negeri, menyekolahkan anak disekolahan yang bergengsi. Renungkanlah apa bedanya tidur ato duduk di korsi buatan Ligna ato Da Vinci? Apa bedanya rasa kopi di resto biasa dan di Star Buck ? Perlu diketahui bahwa kebanyakan orang terlilit oleh hutang, karena ingin memenuhi kesombongan rohaniahnya. Maka tidaklah salah apabila ada orang yang menilai bahwa iblis itu ada di dalam mata kita.
    Tanya saja kepada para koruptor, untuk kebutuhan jasmaniah sebenarnya merampok uang ratusan juta azah udah cukup, tetapi untuk kebutuhan rohani kudu ratusan M bahkan sampai triliun, sehingga untuk menghidupkan tujuh turunan pun sekalipun udah lebih dari cukup. Tetapi apakah mereka puas? Tidak ! Mereka itu bukannya Wong Sombong lagi melainkan udah meningkat menjadi Wong Gendheng!
    Para koruptor yang sombong rohani inilah yang sebenarnya menghancurkan negara kita, karena pangkat, gelar, kekuasaan maupun bank rekening itu adalah jubah rohani yang tidak terlihat, tetapi dapat dipakai untuk pamer menyombongkan diri kita. Jubah atau pakaian jasmani ada batasannya, sebab dalam waktu yang berasamaan tidak mungkin Anda bisa memakai pakaian lebih dari lima potong pakaian, tetapi untuk jubah rohani ini no limit dan tidak ada batasannya.
    Dan lihatlah di berbagai macam milis, dimana mereka saling berdebat kusir dengan mengeluarkan kata-kata jorok dan kasar, sehingga membuat muak para pembacanya, apakah ini untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah? Ataukah hanya sekedar untuk mendapatkan jubah agar bisa dinilai sebagai Wong Ngerti, Wong Pinter, Wong Suci, Wong Baik & Wong Bijaksana, selama tidak dinilai jadi Wong Kam Pung azah!
    Kesombongan rohaniah lainnya ialah dimana kita mulai menilai, bahwa umat agama lain itu lebih bejat, lebih brengsek dan lebih buruk daripada umat agamanya sendiri. Kristen yang jadi maling, pemerkosa maupun pembunuh pun berjibun, begitu juga di dalam agama lainnya seperti Islam, Buddha maupun Hindu.
    Apakah umat Kristen itu lebih baik daripada umat Islam, saya yakin tidak, begitu juga kebalikannya! Apakah wong agamais lebih baik daripada wong kapir? Tidak! Bahkan sudah terbuktikan; banyak orang kafir yang kelakuannya jauh lebih baik dan lebih sopan daripada para pemeluk agama. Dan jawablah sendiri: "Apakah penduduk negara yang beragama itu lebih baik daripada penduduk China yang notabene negara komunis dan atheist?"
    Begitu juga dengan menilai bahwa penganut agama lain itu sesat; ini juga bisa dinilai sebagai kesombongan rohani, sebab tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan umatnya untuk membunuh, berdusta, berzinah maupun untuk jadi maling! Jadi sebenarnya semua ajaran agama itu sama yang beda hanya illahnya saja yang berlainan, masing-masing illah menawarkan komoditi keselamatan agar bisa mendapatkan sepetak kapling di "Sorga Indah" dan para Nabi adalah salesmannya sedangkan Alkitab adalah brosurnya, sebab disitu tercantum dengan jelas semua persyaratan untuk bisa mendapatkan kapling tsb, hanya sayangnya disitu tidak turut dicantumkan berapa gedenya kapling tsb, dan rumahnya itu terdiri dari berapa kamar, dan apakah disana ada lapangan tenis ato swimingpoolnya? Coba kalho ada denah dan bistek banguannya pasti lebih afdol tuh!
    Pertama kali manusia jatuh ke dalam dosa, karena kesombongan rohani. Sang Pencipta telah menyediakan semua kebutuhan jasmaniah yang dibutuhkan oleh Adam dan Hawa di Taman Firdaus, tetapi karena kesombongan rohaniah, dimana mereka ingin menjadi seperti Allah hal inilah yang membuat mereka akhirnya jatuh ke dalam dosa! Dan percayalah lebih dari 90% kejahatan di dunia ini, bukannya karena didorong oleh kebutuhan jasmaniah, melainkan kerena kerakusan rohaniah untuk menyombongkan diri. Orang dibui bukannya karena nyolong nasi/roti, melainkan karena nyolong motor!
    Banyak rumah ibadah di Indonesia dari segi kemegahannya tidak kalah dari Ceasars Palace, tetapi ironisnya rumah penduduk di sekitarnya masih berupa gubuk. Yang jadi pertanyaan untuk siapa rumah ibadah itu dibangun? Apakah Sang Pencipta membutuhkan rumah ibadah yang super mewah dan super de lux? Apakah Sang Pencipta hanya mau hadir dirumah ibadah yang mewah saja?
    Kebalikannya apabila umatnya datang pakai Mercy/BMW; apakah mereka mau beribadah dirumah ibadah yang kecil dan sederhana? Apakah rumah ibadah tsb dikemudian hari bisa dijadikan bahan untuk barteran dengan rumah surgawi? Apakah ini untuk memenuhi kesombongan rohani dari umatnya ataukah dari pembimbing agamanya? Mohon peromaksnya.

    You Are Special

    Suatu hari seorang penceramah terkenal membuka seminarnya dengan cara yang unik. Sambil memegang uang pecahan Rp. 100.000,00.- ia bertanya kepada hadirin, "Siapa yang mau uang ini?" Tampak banyak tangan diacungkan. Pertanda banyak minat.

    "Saya akan berikan ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini."
    Ia berdiri mendekati hadirin. Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat2. Lalu bertanya lagi,"Siapa yang masih mau uang ini?"
    Jumlah tangan yang teracung tak berkurang. "Baiklah," jawabnya, "Apa jadinya bila saya melakukan ini?" ujarnya sambil menjatuhkan uang itu ke lantai dan menginjak2nya dengan sepatunya. Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.
    "Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?" Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.
    "Hadirin sekalian, Anda baru saja menghadapi sebuah pelajaran penting. Apapun yang terjadi dengan uang ini, anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biarpun lecek dan kotor, uang itu tetap bernilai Rp. 100.000,00.-
    Dalam kehidupan ini kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita. Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti.
    Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda, terlebih di mata Tuhan. Jangan pernah lupa - Anda spesial...!!!
    GOD bless you...

    Zona Nyaman

    Kisah Sedih Di Hari Minggu
    Hari minggu yang lalu kawan se-almamater saya menemui saya ketika saya berada di salah satu gereja untuk menyampaikan firman Tuhan. Dalam pertemuan itu ia memberikan sebuah surat yang isinya menyampaikan bahwa organisasi alumni kami telah membuka "Posko Peduli Nias", tujuannya sangat jelas yaitu untuk menyatakan solidaritas sesama kristiani secara nyata melalui bantuan-bantuan yang bisa diberikan, sebagaimana yang dikatakan Rasul Paulus dalam Galatia 6:2 dan 10: "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman." Ada satu hal yang menyentak dada saya, tatkala ia memberikan surat itu sambil berujar dengan nada kesal: "Wah pak, ada teman yang bilang pada saya memangnya kamu kurang kerjaan mau urusin yang gitu-gituan?" Saya terdiam sambil melongo bego padanya tak tahu mau bilang apa lagi. Untung saja teman saya ini minta pamit karena kebaktian segera akan dimulai. Saya pun akan segera menyampaikan firman Tuhan.
    Sekiranya omongan ini diucapkan oleh seorang anggota Dewan Preman Rakyat Republik Ingusan, atau itu diucapkan oleh seorang anggota Komisi Penyuap Uang, tentu saja saya tidak terkejut. Dada saya pun tak akan sesak, perih. Tapi yang mengatakan: "Memangnya kamu kurang kerjaan mau urusin yang gitu-gituan" adalah seorang hamba Tuhan yang telah bertahun-tahun belajar firman Tuhan di sekolah Alkitab, dan telah bertahun-tahun telah menyampaikan firman Tuhan di sana-sini. Apa mungkin kalimat sinis itu bisa muncrat dari mulut bibir seorang duta Allah di bumi ini? Ya mungkin saja. Buktinya? Ya itu tadi. Itukan sudah menjadi fakta.
    Pertanyaan yang tepat adalah "mengapa itu bisa terjadi?" Nah inilah yang perlu kita bahas bersama. Kita tahu bersama tak seorang pun di bola bumi ini yang mengharapkan Tsunami, gempa tektonik, dan bencana alam lainnya datang menimpa dirinya. Kalau boleh selama bola bumi ini masih berputar jangan pernah ada yang namanya b e n c a n a. Siapa sih yang mau itu? Bila itu menimpa Saudara-Saudari sesama anak bangsa, baik seiman maupun tak seiman, apakah itu harus memaksakan kita bersyukur pada Tuhan karena bukan kita yang terkena? Apakah sepicik dan senaif itu kita? Bagaimana perasaan dia, ketika bencana menimpa batok kepalanya, lalu seseorang mengatakan emangnya Anda kurang gawean mau ngurusin dia?
    Istilah Yang Pas
    Peristiwa ini mendorong saya mencari-cari istilah yang pas untuk orang Kristen tipe ini. Apa ya? "ORANG KRISTEN ZONA NYAMAN (OKZN)" barangkali merupakan istilah yang cukup tepat. Sebenarnya ribuan tahun sebelum ucapan "Memangnya kamu kurang kerjaan mau urusin yang gitu-gituan" terucap, Tuhan Yesus telah memberikan sebuah kisah tentang OKZN ini. Kalau nggak yakin, coba buku Injil10:25-37. Lebih baik Anda juga sudi membaca kisah ini:
    Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. De mikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"
    OKZN Atau OKSYMH ; Pilih Mana?
    Ada beberapa hal penting yang menjadi catatan saya terhadap OKZN bila kita mencermati cerita yang dikisahkan Tuhan Yesus ini. Sebenarnya cerita ini merupakan kritik pedas buat setiap insan yang menamakan dirinya pengikut Yesus alias orang Kristen dikekinian. Apa yang dibentangkan-Nya masih amat relevan dengan abad ini. Bahkan selama bola bumi ini masih berputar. Tidak sedikit orang Kristen bahkan para pendeta atau penginjil atau majelis atau aktivis gereja yang berstatus OKZN dan hidup dalam zona nyamannya.
    Catatan pertama saya, OKZN adalah orang Kristen yang jauh panggang dari api. Pernah Rasul Yakobus mengatakan: "jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa" (Yakobus 4:17). Coba kita amati perilaku Si Imam. "Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan." Ironis memang! Seharusnya ia tahu, mau, dan bisa berbuat baik. Sebagai seorang imam, ia hidup dalam lingkungan sehari-hari yang begitu kental nuansa rohani. Semestinya ia tahu kebenaran-kebenaran Allah. Imam adalah suatu jabatan yang penting peranannya dalam umat Israel. Tugasnya adalah mempersembahkan korban, mengadakan doa syafaat, dan memberi berkat. Tapi koq gitu sih? Di sinilah bahaya jadi orang Krsiten atau pemimpin rohani, bila jabatan pendeta, penginjil yang begitu mulia itu hanyalah sebagai pajangan belaka. Tidak fungsional. Hanya atribut semata. Jabatan dan perbuatan tidak ada koneksi. Jauh panggang dari api. Begitu juga dengan Si Lewi, setali tiga uang dengan si Imam tadi. Orang Lewi adalah anggota dari suku Lewi yang mempunyai tugas khusus dalam menyelenggarakan ibadah di Bait suci. Sangat erat dengan aktifitas-aktifitas rohani bukan? "Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan." OKZN pantas disebut orang Kristen masa bodoh. Lu. lu. gue. gue!!!
    Catatan kedua, OKZN adalah orang Kristen yang pelit. Tidak tahu dan tidak mau berbagi rasa, kata, dan harta. Konsep hidupnya terpusat semata-mata pada dirinya sendiri. Sayalah bukan kamu. Egoisme. Selain dirinya tidak ada yang lebih utama dan penting lagi. Orang ini dapat diketahui ketika kita mengamati bagaimana ia melihat foto bersama dengan rekan-rekannya. Yang dilihatnya hanyalah dirinya. Orang lain hanya penggembira mungkin dilihatnya sebagai bingkai saja. Dirinya sebagai aktor utama dalam foto bersama itu. Tipe OKZN bisa saja melakukan sesuatu kebaikan, namun bukan karena belas kasihan, tapi karena dia mau saja melakukannya. Bukan didorong oleh firman Tuhan, belas kasih, ucapan syukur atas kebaikan Tuhan padanya. Dia berbuat karena ia mau berbuat. Itu saja.
    Catatan ketiga, OKZN lebih banyak menggunakan matanya daripada mulut dan tangannya. Perhatikan bagaimana sikap dan tanggapan si Imam dan Lewi terhadap seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho itu; yang dirampok habis-habisan oleh para penyamun, dan dibiarkan setengah mati tergeletak tanpa daya? Ini sikap dan tanggapan mereka berdua: "Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan." Mereka adalah ahli-ahli teologi yang memiliki spesialisasi "melihat penderitaan orang". Mata kuliah yang mereka minati selama di Seminari bertahun-tahun adalah septic tank theology (teologi tangki kotoran). Kebenaran yang mereka peroleh hanya diendapkan dalam otak dan hati. Tak pernah berwujud dalam aksi. Otak besar bak kelapa, tangan dan kaki kerdil seperti sapu lidi. Mereka alergi dan tidak pernah tertarik dengan biogas theology (teologi biogas). Kebenaran-kebenaran yang diisi terus menerus dari sumber firman Tuhan, dari penyelidikan Alkitab, dari mimbar-mimbar khotbah akan dipakai terus dalam aksi nyata berkomunitas. Itulah Rasul Yakobus menantang Anda sebagai orang Kristen: ". Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, m196ah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? (Yakobus 2:18-20).
    Saya menjadi ngeri bila Anda dan saya sebagai orang Kristen apalagi sebagai pendeta atau penginjil disengat tuduhan Yakobus sebagai manusia yang tidak ada bedanya dengan setan. Ngeri! Dan catatan terakhir saya mengenai OKZN adalah orang Kristen yang anti berkorban. Anti berkorban? Apakah ciri-ciri OKZN itu? Orang Kristen Zona Nyaman adalah orang Kristen yang. ach mau tau aja! Baca aja terus kisah Si Orang Samaria itu. Saya mau makan dulu ach. laparrrrrrrrrrrrrr!!! Ech tunggu dulu. Anda termasuk OKZN atau OKSYMH? Apa itu OKSYMH? Orang Kristen Samaria Yang Murah Hati!

    Tidak ada komentar: