Senin, 29 Juli 2013

Pemimpin sejati seperti nehemia


Saat ini dalam kehidupan kita baik dalam berkeluarga, berjemaat, berbangsa dan bernegara kita diperhadapkan dengan  banyak masalah dan persoalan. Salah satu sumber masalah adalah kepemimpinan . Dalam keluarga masalah bisa muncul ketika orang tua sebagai pemimpin tidak lagi menjadi teladan, dalam kehidupan berjemaat persekutuan terganggu disebabkan masalah  kepemimpinan dan dalam kehidupan bermasyarakat  banyak pemimpin menyalagunakan kekuasaannya dan menindas rakyat yang lemah.
Pemimpin dihasilkan dari berbagai proses, salah satunya adalah melalui proses politik lewat pemilihan umum. Minggu ini GMIM mengangkat tema dalam MTPJ : Partisipasi warga gereja dalam politik.
 Jemaat adalah juga warga negara yang dijamin dalam undang undang untuk memiliki hak politik yaitu dipilih dan memilih. Proses dan siklus Politik lewat pemilihan umum terjadi berulang ulang dalam kehidupan kita sebagai warga masyarakat saat ini. Belum lama kita melaksanakan pemilihan kepala daerah Bupati dan Wakil Bupati, saat ini pun proses pemilihan anggota legislatif di tahun 2014 tahapannya sudah berjalan, diteruskan dengan pemilihan presiden tahun 2014, lanjut lagi dengan pemilihan gubernur tahun 2015. Ada pendapat mengatakan benarlah ungkapan yang berkata hidup adalah memilih.
Sebagai warga GMIM kita pun tidak lama lagi akan masuk pada pemilihan Pelayan Khusus di bulan Oktober dan Khusus untuk BIPRA sesuai juknis maka salah satu syarat utama adalah harus memiliki sertifikat kepemimpinan. Tetapi, apapun proses pemilihan tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah output atau hasil dari pemilihan itu sendiri, apakah menghasilkan pemimpin yang berkualitas ataukah pemimpin yang mengecewakan. Ketika pilihan masyarakat menghasilkan  pemimpin yang mengecewakan maka partisipasi warga gereja dalam proses politik pasti menurun, ini yang biasa disebut dengan golput atau golongan putih yaitu mereka yang tidak menyalurkan hak pilihnya.

Melihat perjalanan Nehemia sebagai pemimpin, kita bisa menyebut orang ini sebagai pemimpin yang peduli dan berkorban. Nehemia berasal dari suku Yehuda. Dibesarkan di Persia, ia dipilih raja sebagai juru minum, yang mengatur makan dan minum raja. Ia sangat dekat dengan raja, ketika ada pembangunan kembali kota Yerusalem, maka Nehemia ditunjuk sebagai Bupati. Sebagai orang besar, ia tidak kehilangan jati diri. Ia bisa menyombongkan dirinya karena jabatannya. Tapi tidak dengan nehemia. Baginya  Jabatan itu hanyalah kepercayaan dan bila ia menyalagunakannya maka jabatan itu bisa saja diambil darinya.




Ada sebuah kisah nyata tentang Mantan Presiden Amerika Serikat George Wasington. Suatu  ketika ia berkunjung untuk melihat pasukannya di medan tempur. Tanpa sengaja sebuah kereta jatuh di lubang. Sang Kopral marah besar dan memerintahkan dengan keras supaya anak buahnya segera mengangkat kereta itu . Kereta itu sulit untuk diangkat dan membutuhkan tambahan tenaga manusia . Tetapi sang kopral hanya berteriak teriak dan marah marah . George Washington turun dari kuda dan membantu tentara lain menarik kereta hingga bisa keluar dari lubang. Bukannya berterima kasih sang kopral terus memarahi anak buahnya. George Washington pun berkata : negeri ini sedang dilanda kesusahan dan sebagai pemimpin kita harus bersama dalam susah dan senang untuk mengapai kemenangan. Sang kopral malah membentak dan berkata kasar. Sampai kemudian sang ajudan menegurnya dan mengatakan bahwa yang berdiri didepannya adalah presiden amerika serikat.
Dalam bacaan kita saat ini , Alkitab  mencatat bahwa ada problema yang dihadapi masyarakat  dalam pembangunan tembok Yerusalem dan bagaimana sang pemimpin sejati hadir bertindak dan menyelesaikan masalah.

Problema yang dihadapi adalah Ada banyak orang Yahudi yang miskin dan dilanda  bahaya kelaparan . Dalam Neh 3-4 sudah kita membaca  bahwa bangsa itu bekerja mati-matian untuk membangun tembok Yerusalem. Pekerjaan ini pasti menyita begitu banyak waktu sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk bekerja mencari nafkah. Apalagi setelah dalam Nehemia  4 ada musuh yang mau menyerang mereka. Ini menyebabkan para pek­erja itu bahkan tidak bisa pulang ke rumah mereka masing-masing, dan mereka tidur di Yerusalem untuk berjaga-jaga terhadap serangan para musuh itu (Neh 4:22). Mereka terpaksa menggadaikan ladang atau kebun, bahkan rumah mereka (ay 3), dan mereka meminjam uang (ay 4). Semua ini juga menyebabkan mereka menjadi miskin / makin miskin.
Dalam keadaan demikian apakah tindakan para pemimpin  , ironis mereka justru menari nari, tertawa dan senang diatas penderitaan rakyat. Apa yang mereka lakukan : mereka menerima ladang, kebun, atau rumah yang digadaikan (ay 3,5,11a) meminjamkan uang dengan bunga (ay 7,11) dan mereka mengambil anak-anak lelaki dan perempuan dari orang-orang miskin itu untuk dijadikan budak (ay 5,8).
Hal-hal ini tentu tidak benar dalam keadaan darurat dan susah bagaimana mungkin mereka masih bisa memikir untuk memeras / memperbudak orang?
Dalam kondisi ini tampilah nehemia .Ia mau mendengar suara orang miskin! Ia marah karena segala kejahatan yang terjadi dan Ia bertindak menentang / melawan para penguasa / pemuka (ay 7).





Nehemia mengadakan sidang jemaah yang besar (ay 7).Ia mengajak para pemuka itu untuk sama-sama menghapuskan hutang orang-orang miskin itu (ay 10b). Dan  menyuruh mereka bersumpah untuk menepati janji, dan ia bahkan memberikan kutuk kepada orang-orang yang tidak menepati janjinya (ay 12b-13).
Kisah nehemia menampilkan sosok pemimpin yang sejati , peduli dan mau berkorban demi kesejahteraan orang lain Nehemia  berperan sebagai agen yang mendamaikan dan memberi kelepasan
Nehemia menampilkan sosok kepemimpanan dan menjadi gambaran yang diwujudkan dalam diri Yesus.
Dalam konteks Matius 22 :15-21 disana kita melihat kepemimpinan orang orang farisi  yang sangat  berambisi terhadap kekuasaan  dan jabatan sehingga ketika ada orang lain yang merebut simpati masyarakat mereka bertekad untuk menyingkirkannya dengan cara apapun .
Yesus mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Kebesaran seorang pemimpin Kristen tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya, tetapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Kebesaran seorang pemimpin Kristen terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang tersisih, kecil, marjinal, dan sering terlupakan.
Yesus membalikkan seratus delapan puluh derajat konsep kepemimpinan yang dimiliki kebanyakan orang, termasuk para murid-Nya. Alkitab menulis bahwa tak seorang pun yang kuasanya melebihi Dia (Yohanes 13:3). Keempat Injil mencatat segala perbuatan ajaib yang pernah dilakukan-Nya. Namun Yesus tidak pernah sekalipun menggunakan kuasa- Nya untuk kepentingan pribadi
Prinsip ini tidak dimengerti oleh orang farisi yang menginginkan mahkota namun menghindari salib, yang mengejar kemuliaan tapi menjauhkan penderitaan, yang berambisi menjadi tuan dan menolak disebut hamba.

Pemimpin sejati adalah mereka yang berhasil memberikan pengaruh positif, sehingga dengan sukarela banyak orang mengikutinya, bukan karena kedudukan atau imbalan yang akan didapatkan.
Saudaraku,  tidak semua orang dipanggil menjadi pemimpin.
namun mereka yang terpanggil menjadi pemimpin haruslah menjadi pemimpin-pelayan.
Kiranya Allah menolong Anda dan saya untuk melepaskan diri dari jerat kuasa, dan dalam anugerah-Nya dimampukan untuk menjadi pemimpin sejati dengan melayani sesama.

Tidak ada komentar: