Jumat, 09 Juni 2017

KHOTBAH 50 TAHUN EMAS

BAHAN BACAAN : KIDUNG AGUNG 8 :5-7
Hari ini kita berkumpul UNTUK KEMBALI bersyukur kepada Tuhan yang memberi cintaNya kepada kita semua , cinta Tuhan yang tak terbatas dan tak pernah menuntut balas. Cinta Tuhan adalah sumber inspirasi bagi kita manusia bagaimana mencintai sesama manusia apalagi mencintai keluarga, mencintai suami , mencintai istri dan mencintai anak anak.
Hidup ini memang terasa kosong dan hampa bila cinta menjauh dari hati manusia. Salomo berkata Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai sungai tak dapat menghanyutkannya. Itulah kekuatan cinta sejati yang kita saksikan saat ini dalam syukur pernikahan keluarga  yang ke 50 tahun. Saat ini saya dipercayakan memimpin Ibadah dan menyampaikan Khotbah tetapi keluarga , Bapak  yang Puji Tuhan masih kelihatan segar, kuat dan sehat demikian juga Ibu  masih kelihatan cantik dan menawan. Ini semua adalah berkat dan anugerah Tuhan yang memang harus disyukuri sebab bagaimanapun banyak keluarga merindukan kalau boleh Tuhan berkenan mereka dapat merayakan HUT Pernikahan yang ke 50 tetapi apa daya tangan tak sampai untuk meraih. Manusia berencana tapi Tuhan yang menetukan jalan hidup ini. Tidak semua memang diberi anugerah dan kesempatan boleh memasuki dan merayakan usia pernikahan yang ke 50 dan keluarga  patut bersyukur dan berbangga kepada Tuhan untuk pencapaian ini dalam keadaan sehat dan kuat. 50 tahun pernikahan yang dijalani itulah khotbah yang sebenarnya yang sudah disampaikan oleh keluarga  kepada kita semua jemaat dan masyarakat. Saya pun dalam menjalani hidup berumah tangga masih tergolong muda dan saya juga ingin mendapatkan masukan tentang bagaimana sesungguhnya rahasia sukses berumah tangga. Saya memang sebagai hamba Tuhan berkhotbah saat ini tentang pernikahan yang diberkati Tuhan tetapi khotbah yang nyata , khotbah yang hidup dapat disaksikan lewat perjalanan bahtera rumah tangga keluarga . Bahwa berumah tangga bukan hanya berbicara keinginan manusia tetapi berumah tangga memang adalah kehendak dan rencana Allah sebagaiman firmanNya tidak baik kalau manusia hanya seorang diri saja, aku akan menjadikan penolong yang sepadan dengannya. Ketika masih muda Bapak  dan Ibu  jatuh cinta pada tahun….yang saat itu kita tahu adalah tahun tahun yang sulit dalam kehidupan berbangsa. Mereka boleh mengikat janji pernikahan untuk sehidup dan semati melalui ikatan pernikahan yang kudus bahwa apa yang dipersatukan manusia jangan diceraikan oleh manusia “KECUALI” MAUT YANG MEMISAHKAN. Dan puji Tuhan komitmen ini mereka jaga dan sanggup bertahan dan dipertahankan sampai saat ini dan itulah teladan hidup, teladan iman yang berbicara kepada kita semua saat ini , yang kita lihat pada sosok orang tua kita yang menjadi pokok acara pada saat ini.
Bila bercerita dengan Bapak  dan Ibu  tentu membangun rumah tangga tidak semudah membalikkan telapak tangan, lebih banyak diisi dengan perjuangan dan perjuangan, harus diisi dengan kerja, kerja dan kerja untuk membangun rumah tangga. Tidak selamanya rumah tangga itu jalannya mulus seperti jalan tol, terkadang harus melewati jalan berbatu batu, jalan penuh hambatan dan tantangan namun itulah kekuatan cinta kasih yang sudah dikhotbahkan langsung oleh keluarga . Kalau saya bertanya kepada Bapak  dan Ibu  tentang perjalanan hidup mereka apakah lebih banyak susah atau senang mungkin akan dijawab lebih banyak susahnya , lebih banyak lika likunya , terkadang harus menangis, terkadang harus menderita, terkadang masalah datang  tetapi itulah keluarga tidak ada yang bebas dari ujian karena keluarga adalah sekolah kehidupan . Perjalanan hidup keluarga akan diuji dalam sekolah kehidupan oleh banyak mata pelajaran apakah akan lulus atau tidak, apakah akan naik kelas atau tidak, apakah akan sukses sampai garis akhir atau tidak
Dalam sekolah kehidupan keluarga akan diuji mata pelajaran agama, mata pelajaran ini paling penting apakah keluarga Takut akan Tuhan , apakah keluarga mengandalkan Tuhan , apakah keluarga mencari Tuhan atau tidak, sebagaimana kesaksian saya Baik bapak  dan Ibu  rajin dan aktif memberi diri dalam persekutuan beribadah .
Berikutnya  keluarga  juga akan diuji mata pelajaran matematika apakah tahu perkalian  1 kali 1 sama dengan satu,  Cuma tahu  TAMBAH satu tambah satu dua, Cuma tahu mo tambah berapa torang pe anak, mo tambah bagaimana torang pe pendapatan keluarga, mo tambah bagaimana torang punnya harta kekayaan,  ataukah juga lengkap  yaitu keluarga tahu PEMBAGIAN, tahu  untuk BERBAGI, tahu untuk peduli dengan orang lain, berbagi dengan sesama dan juga tahu KURANG bahwa hidup manusia tidak ada yang sempurna setiap kita punya kekurangan. Namun meskipun Ibu punya kekurangan dimata bapak agu tidak ada bidadari selain Ibu  sebaliknya meskipun Bapak  ada kekurangan namun dimata Ibu  tidak ada pangeran didunia yang seperti Bapak .
Selanjutnya keluarga juga diuji dalam sekolah kehidupan melalui pelajaran ILMU PENGETAHUAN SOSIAL  bahwa  manusia adalah makhluk sosial yang Tuhan tempatkan dalam kehidupan berjemaat dan bermasyarakat. Apa artinya sebuah keluarga dan bagaimana dia akan berhasil kalau hanya berpikir diri sendiri, berpikir keluarga sendiri, tidak bergaul, tidak bergereja dan tidak bermasyarakat. Keluarga akan diuji ILMU PENGETAHUAN SOSIAL apakah akan lulus atau tidak
Paling akhir  diuji ILMU PENGETAHUAN ALAM yaitu bagaimana mengelola alam ciptaan Tuhan melalui kerja , kerja dan kerja supaya sukses dan berhasil
Pada akhirnya apa yang kita buat dalam hidup ini, keutusan yang ambil, pilihan yang kita buat akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan yang memberi kesempatan hidup kepada kita semua dan satu keyakinan kita semua keluarga Kristen boleh lulus dan mendapatkan RAPORT yang SANGAT BAIK dari Tuhan Yesus Kristus.
Dalam perayaan ULANG TAHUN EMAS , ulang tahun yang ke 50 Tahun dalam keluarga  kiranya menjadi sumber insiprasi bagi kita semua untuk  setia pada komitmen dan janji pernikahan apapun dinamika hidup yang harus dialami
 Khusus bagi keluarga  selamat bersyukur dan berbahagia karena semuanya bukan karena kuat dan gagahnya kita , selamat atas keberhasilan perjuangan dalam pernikahan sampai usia yang ke 50 dan tentu menjadi teladan kepada anak anak untuk dapat mencontoh arti dan makna cinta yang tulus dan mendalam antar suami istri, komitmen suami isteri dan perjuangan papa dan mama.

Tuhan memberkati .AMIN

Senin, 29 Mei 2017

Kata kata sambutan kedukaan

Hari ini kita berkumpul disini menyaksikan kuasa Allah bagi manusia melalui peristiwa kematian manusia. Kematian memiliki kekuatan karena lewat peristiwa kematian dapat mengumpulkan manusia dari berbagai latar belakang, profesi , dan usia. Dari anak anak sampai orang tua lanjut usia hadir, penguasa dan rakyat biasa hadir, yang kaya dan yang berkekurangan juga hadir

Untuk melihat keindahan pagi hari dan terang matahari disiang hari maka harus melewati kegelapan malam, untuk melihat indahnya surga harus melewati gelapnya kematian

Mari kita lihat beberapa penghiburan, dimana penghiburan Tuhan datang pada kita.
Pertama, ada penghiburan Juruselamat
Melalui kematianNya, Kristus menyingkirkan hukuman dosa; melalui kebangkitanNya dari kematian Dia memberikan hidup kekal kepada setiap pribadi yang percaya padaNya; Melalui kenaikan dan kemuliaanNya pada Bapa dia menjadi pengantara kita
Kedua, ada penghiburan Roh Kudus
Ketiga, ada penghiburan Alkitab. Paulus menulis, Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci (Roma 15:4).
Kehidupan bukan bermula dari kelahiran, Tidak pula berakhir dengan kematian.. Sesungguhnya kehidupan bermula dan berakhir dari kehendak Mu Tuhan. dibalik semua hal yang menyangkut tentang Kehidupan pasti sudah diatur oleh-Nya, kita sebagai manusia hanyalah menjalankan semua perintahnya.. dan kematian merupakan bukan akhir dari segala-galanya..
Dilahirkan bukanlah kehendak kita. Kematian pula bukanlah pilihan kita. Tetapi kehidupan kita adalah pilihan kita.

Senin, 27 Maret 2017

KHOTBAH DARI LUKAS 22 :54-62

Khotbah :

Hari ini kita sudah berada dalam penghayatan di minggu sengsara ke-IV . Kita menghayati arti dan makna sengsara Tuhan Yesus yang mau berkorban untuk menebus dosa kita semua. Lewat MTPJ kita dihentar lewat pembacaan dalam Lukas 22 :54-62 yang diberi tema : KEMURNIAN IMAN DIUJI.
Dalam banyak hal kehidupan didunia ini banyak kali kita harus diperhadapkan pada ujian demi ujian. Contohnya ketika anak anak menempuh pendidikan di sekolah maka supaya boleh lulus harus melewati ujian demi ujian. Ketika mendaftar untuk mendapatkan pekerjaan juga harus melewati ujian. Ketika membangun bahtera rumah tangga  dalam rumah tangga sebagai suami istri juga harus mengalami ujian. Begitu juga dalam keyakinan iman dan pengiringan kepada Tuhan maka kita pasti akan diperhadapkan dengan ujian demi ujian untuk membuktikan kemurnian iman dan percaya kita.
Salah satu murid Tuhan Yesus adalah Petrus. Latar belakang Petrus adalah seorang nelayan. Namun Tuhan memanggil Petrus untuk menjadi muridNya.  Sebelum Yesus menuju Golgota, Petrus adalah salah satu murid yang  selalu tampil terdepan, banyak berbicara dibanding murid murid yang lain  dan siap mati bagi guru-Nya. Tetapi Tuhan melihat jauh kedalaman hati dan Tuhan tahu dengan pasti bahwa sikap dan ungkapan Petrus bertolak belakang dengan kenyataan, Petrus terkadang hanya mampu berbicara tapi tidak mampu mewujudkannya,  sehingga Tuhan Yesus harus mengingatkannya dalam perjamuan Paskah menjelang  jalan salib yang harus ditempuh Tuhan Yesus bahwa sebelum ayam berkokok tiga kali Petrus akan menyangkal Yesus.
Kemudian  Yesus ditangkap di taman Getsemani dan kembali  Petrus dengan gagah  perkasa menghunus pedang dan memarang telinga  seorang yang bernama Malkhus. Saat itu Petrus
begitu yakin, bahwa Yesus adalah Mesias yang tidak dapat dikalahkan oleh siapapun juga . Petrus tidak mengerti bahwa jalan Tuhan bukanlah jalan manusia , pikiran Tuhan bukanlah pikiran manusia yaitu sudah menjadi rencana Allah bahwa Yesus akan mengalami sengsara demi menebus dosa umat manusia.
Akhirnya tibalah kesempatan dimana kemurnian iman dari Petrus diuji apakah benar ia siap mati bagi Yesus ataukah menyangkal Tuhan Yesus.
Dalam ayat 54 sampai 55 Petrus mengalami ujian pertama yaitu ujian persahabatan
Yesus ditangkap dan digiring ke rumah Imam Besar. Biasanya Petrus begitu dekat dengan Yesus, kemanapun Yesus pergi, Petrus ada disana, tapi kini ada jarak, disaat Yesus ditangkap dan diadili, Petrus malahan  menjauh, padahal Yesus sedang membutuhkan seorang sahabat untuk mendukung dia menjalani beban yang cukup berat itu, tetapi tidak ada satu muridnya pun yang mendekati Dia untuk memberikan dukungan, termasuk Petrus.
Dalam ayat 55,  Petrus coba menyelamatkan diri dengan cara duduk bersama-sama dengan para ahli taurat dan juga orang-orang yang memusuhi Yesus malahan Petrus duduk di tengah tengah mereka. Strategi Petrus adalah strategi yang sampai saat ini selalu dipakai untuk membela dan melindungi diri. 
Petrus berpikir dengan duduk diantara kumpulan pencemooh dan orang orang yang sementara merancangkan kejahatan maka ia akan selamat, padahal petrus tidak sadar bahwa ketika ia duduk di tengah tengah mereka berarti sama saja ia menyetujui kejahatan yang mereka lakukan terhadap Yesus. 
Bayangkan saja jika ini terjadi dalam hidup kita, orang yang kita anggap sahabat, teman dekat, orang yang kita percayai ternyata hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri dan mengorbankan nilai persahabatan yang sudah lama dibangun. Rasanya seperti tubuh kita ditusuk dari belakang karena pengkhianatan.
ada ungkapan mengatakan  teman dan sahabat sejati akan dapat kita lihat bukan ketika berada dalam kesenangan tetapi sahabat sejati akan teruji lewat kesulitan. Sahabat sejati adalah sahabat yang selalu bersama  kita dalam kebahagiaan tetapi tidak meninggalkan kita dalam kesulitan.
Sifat Petrus, seringkali terulang dalam kehidupan kita yaitu kita meninggalkan sahabat kita, saudara kita yang sedang mengalami masalah besar, kita tahu pergumulan mereka dan kita bisa menolong mereka  tapi kita hanya melihat dari jauh, kita tidak mendekat untuk memberikan dukungan kepada dia. Tidak ada perasaan yang melebihi kesedihan ditinggalkan oleh seorang sahabat seperti yang dialami Tuhan Yesus. Kisah  ini tentu harus  menjadi pelajaran berharga sebagai orang beriman dalam membangun persahabatan untuk saling memperhatikan bukan saling melupakan ketika berada dalam kesulitan.
Ujian kedua yang dialami Petrus adalah ujian iman seperti kita baca dalam ayat 56-62
 Di ayat 56, ada seorang hamba perempuan yang menanyai dia, dia mengatakan, bukan,  aku tidak kenal dia, Petrus menyangkal Yesus dihadapan seorang perempuan, yang sebenarnya tidak terlalu susah untuk dihadapi, setelah itu di ayat 58, seorang lagi mengatakan kepada dia, bahwa kamu adalah seorang pengikut Yesus, dia kembali mengatakan hal yang sama, bukan aku tidak. Setelah satu jam dia berada di situ, ada lagi seorang yang berkata dengan tegas kepada dia, bahwa engkau adalah pengikut Yesus.
Jawaban demi jawaban Petrus  sangat menyakitkan dan menusuk hati Yesus,
Petrus telah menyangkal Gurunya sendiri. Setiap hari Yesus selalu bersama dengan mereka, makan dengan mereka, tidur dengan mereka, berjalan dengan mereka, mengajari mereka akan hal-hal yang baik, bahkan pada saat sedang mengalami bahaya, kesusahan, kesulitan, Yesus tetap bersama dengan mereka.
Namun kali ini Petrus menyangkal Dia, hanya oleh karena ingin menyelamatkan diri sendiri.
Pada saat ayam berkokok tiga kali mata Yesus mulai mencari dimana Petrus berdiri, Yesus melihat sekeliling ruangan itu, dan pada saat mata Yesus bertemu dengan mata Petrus, Petrus pun lari keluar meninggalkan ruangan itu, dan menangis memohon pengampunan.
Petrus telah gagal dalam membuktikan kualitas imannya. Petrus ternyata hanya mampu bicara tapi tidak mampu mewujudkan iman dalam tindakan nyata.


Diminggu sengsara ke IV ini kita merenungkan kehidupan kita dengan bertitik tolak dalam bacaan dan tema perenungan kita bahwa sebagai orang percaya kita tidak dapat menolak dan menghindar dari ujian kemurnian iman.
Banyak persoalan hidup yang harus dihadapi. Hidup ini adalah perjuangan , tetapi hidup juga adalah persaingan, terkadang terjadi gesekan demi merebut kebahagiaan namun hidup juga adalah pilihan apakah kita akan terjebak dalam cara cara dunia yang tidak berkenan kepada Tuhan  dan menolak mengakui Yesus hanya karna jabatan, popularitas, kekayaan, pacar dan berbagai kenikmatan sesaat dunia yang menarik kita sehingga menyangkal Tuhan Yesus. Sudah banyak contoh para artis, selebritis yang meninggalkan Yesus hanya karena keinginan menjadi yang terbaik dan sukses namun apa yang terjadi justru kesusahan dan penderitaan karena Tidak ada apapun yang dapat menggantikan Yesus dalam hidup ini.
Emas sangat mahal harganya, Emas disebut sebagai logam yang mulia namun untuk menjadi emas yang mahal dan mulia tidak datang dengan sendirinya, bukan langsung jatuh dari langit, bukan juga semudah membalikkan telapak tangan. Emas pada awalnya hanyalah bagian yang tersembunyi dalam tanah , namun harus melewati berbagai proses pembakaran dalam suhu tinggi berulang ulang sampai kemudian didapat kualitas terbaik dan disebut logam mulia.
Petrus sebagai murid Tuhan harus diuji kemurnian iman dalam penyaliban Yesus dan ia gagal, ia belum berhasil saat itu, tapi Tuhan memberi kesempatan dan anugerah kepadaNya  ketika Yesus bangkit  , Ia mencari salah satu muridNya yang ia cintai yaitu Petrus dan Tuhan mengubahkan Petrus  menjadi petrus yang baru, petrus yang telah diasah, petrus yang telah bertobat dan petrus yang kelak menjadi Rasul yang memberitakan firman Tuhan dalam Kisah para Rasul dan menulis surat surat penginjilan dengan gagah berani dan tidak takut mati.
Pada hari ini, saya dan saudara sama seperti Petrus yang telah menyangkal Yesus karena sikap dan cara hidup yang tidak berkenan kepadaNya, tetapi Yesus yang mengubah hidup Petrus adalah Yesus  yang penuh dengan cinta kasih, penuh dengan kasih karunia, penuh dengan pengampunan. Dia mau mengampuni kita dari segala kesalahan kita, Dia mau agar kita berbalik, dan DIA mau menguatkan iman kita melewati ujian demi ujian kehidupan supaya kita seperti emas yang berharga dan mulia dihadapan Tuhan. AMIN.


Jumat, 17 Februari 2017

KERJA YANG DIBERKATI

Syalom!
Tema perenungan kita sepanjang minggu yang berjalan ini adalah “KERJA YANG DIBERKATI”
Kerja adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidup kita. Tuhan memberi manusia 6 hari untuk bekerja  dan hari ketujuh adalah hari beristirahat yang bagi kita dimaknai sebagai hari beribadah di gereja. Hidup manusia  memang sebagian besar diisi dengan kerja, kerja dan kerja. Kalau masih anak anak sampai usia remaja tentu belum sepenuhnya dituntut untuk kerja , tugas mereka adalah sekolah. Namun meskipun mereka masih sekolah namun orang tua sudah mengajarkan mereka tentang kerja. Ketika menuju usia  pemuda apalagi sudah berkeluarga  maka tuntutan untuk kerja  adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan sebab mau makan apa dan mau jadi apa bila tidak bekerja.
Alkitab mencatat bahwa Allah kita adalah Allah yang bekerja. Dalam Kejadian pasal 1 kita membaca Allah bekerja menciptakan langit bumi dan segala isinya. Pada hari keenam Allah menciptakan manusia segambar dan serupa denganNya. Dalam Kejadian 1 ;28 Allah sudah memberi perintah pertama kepada manusia untuk bekerja melalui ungkapan penuhilah bumi dan taklukanlah itu. Allah menempatkan mereka di taman Eden untuk bekerja melalui mengusahakan dan memelihara taman itu.
Namun sejak kejatuhan manusia dalam dosa maka sejak itu makna kerja menjadi lebih BERAT , karena manusia harus bersusah payah mencari rezeki dari tanah seumur hidupnya dan dengan berpeluh atau berkeringat manusia akan mencari makanannya sampai manusia itu sendiri kembali menjadi tanah.
Meskipun manusia telah jatuh dalam dosa namun tentu tidak meniadakan atau menghilangkan kasih setia Allah bagi manusia ciptaannya.  Tuhan tetap setia dan mau menyelamatkan manusia dari hukuman dosa.  Itulah yang disebut ANUGERAH ALLAH semata mata.
Namun meskipun hidup ini adalah ANUGERAH  ALLAH dimana ALLAH berjanji menyelamatkan kita bukan berarti kita tinggal diam, berfoya foya, bermalas malasan, tidak mau bekerja dan tidak mau taat padaNya. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika dengan tegas mengatakan , jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Ini berarti Jika manusia tidak mau  bekerja itu berarti akan merugikan dan membahayakan dirinya  sendiri karena sama saja tidak menghargai anugerah ALLAH dan menentang firman TUHAN.
Kerja sebagai anugerah ALLAH berarti juga bahwa BERKAT yang didapat dari hasil kerja sesungguhnya bukan hanya karena usaha dan kerja keras kita, bukan karena kemampuan kita tetapi semuanya itu juga sesungguhnya hanyalah karena ANUGERAH ALLAH sehingga KERJA yang diberkati adalah kerja yang membawa dampak dalam kehidupan pribadi dan keluarga tetapi juga membawa dampak bagi orang lain dalam persekutuan jemaat dan masyarakat.
Dalam Injil LUKAS 5 :1-11 disana kita membaca sosok sosok yang sementara memaknai kerja dengan profesi dan  tujuan yang berbeda. Yesus Kristus bekerja untuk tujuan yang kekal yaitu hendak menyampaikan dan mengajarkan FIRMAN ALLAH. Disisi yang lain Simon Petrus dan nelayan yang lain bekerja untuk tujuan hidup didunia ini yaitu memenuhi kebutuhan hidup dan mendambakan kesuksesan serta keberhasilan dari pekerjaanNya. 
Namun meskipun profesi mereka berbeda namun satu hal yang pasti profesi mereka  adalah profesi yang benar sebab dalam kehidupan ini disadari banyak juga profesi yang tidak benar.  Kerja yang diberkati adalah kerja yang benar dan juga kerja yang dilakukan dengan benar.
Simon Petrus adalah nelayan yang ahli, ia juga adalah seorang pekerja keras dan yang utama profesi dan pekerjaannya adalah profesi yang benar dan baik namun ternyata ada masalah dan tantangan yang harus dihadapi yaitu malam itu ia sudah melakukan tugasnya dengan benar untuk menebarkan jala namun tetap tidak mendapatkan apa apa. Tentu kita dapat menyelami perasaannya keesokan harinya ketika kembali merapat di tepi pantai. Pasti ada rasa kecewa, perasaan gagal dan begitu banyak perasaan bergejolak.  Mungkin ia berpikir bagaimana hidupnya hari itu, darimana ia akan makan, bagaimana ia akan memenuhi kebutuhan hidupnya, atau mungkin kalau ada hutang bagaimana ia akan melunasinya. Pagi itu betapa berat beban hidup Simon Petrus.
Gambaran Simon Petrus terkadang adalah gambaran kita semua yang hidup saat ini. Kita sudah bekerja melalui pekerjaan yang baik dan benar, kita sudah berusaha, bekerja keras, sudah banyak yang dikorbankan, tetapi mengapa tidak ada hasil sementara begitu banyak tuntuan dan biaya hidup yang harus dipenuhi. Mungkin kita berdoa mengapa Tuhan?
Ketika perahu simon petrus merapat di tepi pantai, Tuhan Yesus ada disana dan Ia pasti mengetahui perasaan daripada Simon Petrus . Tetapi ada hal yang menarik karena  Tuhan Yesus belum langsung menyapa dan menjawab kegelisahan dan harapan daripada Petrus.  Yang dilakukan Tuhan Yesus adalah naik diperahu Simon Petrus lalu Ia mengajar orang banyak termasuk mengajar Simon Petrus.
Tentu ada makna dari tindakan Tuhan Yesus ini  yang hendak Ia sampaikan bahwa yang paling utama terlebih dahulu adalah carilah Tuhan. Tuhan Yesus hendak menyampaikan kepada Petrus bahwa bagaimana mungkin kerja Simon Petrus akan diberkati kalau Ia tidak mengandalkan Tuhan. Mungkin saja malam sebelumnya ia tidak berdoa, ia hanya mengandalkan pada kekuatannya sebagai manusia, ia hanya menyandarkan pekerjaannya kepada keahliannya  sebagai nelayan dan bukan pada kemahakuasaan Tuhan. Apa akibatnya? Ia tidak mendapatkan apa apa alias gagal. Disini Tuhan Yesus secara khusus memberi pesan ORA ET LABORA. Berdoa dan BEKERJA itulah rahasia Kerja yang diberkati.
Selesai mengajar Yesus memberi perintah supaya Simon Petrus kembali naik ke perahu bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala.  Pasti perasaan Simon Petrus saat itu adalah terpaksa melakukannya. Dalam pikirannya adalah mustahil, sebagai nelayan ia tahu bahwa bagaimana mungkin ini dilakukan sedangkan malam hari saja tidak mendapat ikan apalagi di pagi hari yang sudah terang dengan sinar matahari.  Namun Pasti Simon Petrus sudah mendengar pengajaran  firman yang disampaikan , ia sudah dijamah Tuhan  dan Ia sudah diubahkan sehingga  ia taat pada perintah Tuhan.
APa yang terjadi ? Ketaatan pada pendengaran akan Firman Tuhan membawa berkat. Mujizat terjadi. Dari yang tak mungkin ternyata bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Merka menangkap sejumlah ikan sehingga jala mulai koyak karena terlalu banyak yang ditangkap. Kita belajar dari Simon Petrus bahwa Kerja yang diberkati adalah kerja yang taat pada pendengaran akan firman Tuhan. Kerja yang diberkati adalah kerja yang taat pada perintah Tuhan.
Selanjutnya kita membaca bagaimana Kerja dari Simon Petrus adalah kerja bersama atau kerjasama dengan rekan rekannya. Begitu banyak berkat yang didapat Simon dengan ikan yang begitu banyak. Namun ternyata ia tidak mau mementingkan diri sendiri, ia tidak mau senang sendiri, ia tidak mau untung sendiri  tapi ia mau berbagi , ia mau menjadi berkat bagi  orang lain. Alkitab mencatat ia memanggil teman temannya dan mereka saling membantu dalam arti saling membagi berkat  satu sama yang lain. Disini kita belajar bahwa Kerja yang diberkati adalah kerja yang juga menjadi berkat bagi orang lain bukan hanya untuk dinikmati oleh diri sendiri.  Saling membagi berkat ternyata tidak membuat mereka akan kekurangan tapi justru semakin diberkati.
Itulah bukti anugerah dan kasih karunia Tuhan bagi Simon Petrus dan teman temannya yang boleh mereka rasakan dan alami pada saat itu.
Apa yang terjadi dalam kehidupan Simon Petrus yang dikerjakan Tuhan adalah pelajaran berarti bagi kita semua dalam memaknai kerja sebagai anugerah Tuhan bahwa Kerja yang diberkati adalah Kerja yang mengandalkan Tuhan, Kerja yang taat pada perintah Tuhan dan Kerja yang menjadi berkat bagi sesama.

Selamat bekerja, selamat berjuang .Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Sabtu, 18 Februari 2017

Rabu, 11 Mei 2016

KHOTBAH HARI KENAIKAN TUHAN YESUS , 5 MEI 2016

Dasar Firman : Kisah Para Rasul 1 :6-11


Hari ini seluruh umat Kristiani di seluruh penjuru dunia memperingati hari kenaikan Yesus Kristus ke Sorga. Perbedaannya adalah di negara kita pemerintah memberikan penghargaan khusus dengan menetapkan setiap hari Kenaikan Tuhan Yesus sebagai libur nasional melalui tanggal merah.  Peringatan Kenaikan Tuhan Yesus mungkin tidak dirayakan dengan penuh semarak oleh umat Kristiani, seperti Natal ataupun Paskah namun tentu bukanlah persoalan semarak atau tidaknya kita dalam memperingati suatu peristiwa, namun kesadaran akan pentingnya makna peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke Sorga bagi umat manusia.
Secara sinodal hari ini juga dijadikan sebagai Hari Persatuan Wanita Kaum Ibu GMIM menyampaikan syukur melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Namun rasa syukur ini bukan hanya dinampakkan melalui keikutsertaan dalam berbagai kegiatan tetapi juga bagaimana kita melakukan evaluasi bahkan introspeksi diri untuk memperkuat keutuhan persekutuan, kesaksian dan pelayanan gereja di tengah hempasan zaman yang penuh persoalan.
Faktanya, hidup kita sebagai orang Kristen masih diliputi berbagai persoalan baik persoalan pribadi, persoalan keluarga, persoalan jemaat dan persoalan masyarakat.
 Bacaan kita hari ini menjelang kenaikan Tuhan Yesus kesurga pun sangat jelas ada masalah dan persoalan yang terjadi. Pertanyaan para murid yang berkumpul dalam ayat 6 melalui ungkapan : Tuhan maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel? Sangat jelas menunjuk pada persoalan yang perlu dipulihkan dan dicarikan jalan keluar. Pertanyaan ini memberi tanda adanya keprihatinan terhadap situasi sosial dan pemerintahan yang tidak mendatangkan kesejahteraan dan damai sejahtera bagi masyarakat.
Bagi kita warga gereja saat ini , khususnya Wanita Kaum Ibu dan kaum perempuan juga tidak lepas dari berbagai persoalan dalam rumah tangga dan juga keprihatinan dengan realita kehidupan sekarang ini. Kekerasan dalam rumah tangga korbannya kebanyakan adalah perempuan, pelecehan seksual banyak menimpa kaum perempuan, persoalan ekonomi, kesulitan mendapatkan akses atau kehidupan yang layak, ketidakadilan, kenakalan anak, belum lagi persoalan kesehatan perempuan yang banyak mengalami gangguan dengan munculnya berbagai macam penyakit ganas seperti kanker menambah banyak daftar persoalan dewasa ini.
Seperti murid murid maka pertanyaan kita sekarang mungkin sama yaitu :Tuhan maukah engkau memulihkan kami?
Sikap murid murid untuk bertanya kepada Yesus memang sangat tepat dan tidak salah karena tidak ada jalan yang terbaik untuk keluar dari persoalan selain datang kepada Tuhan Yesus.  Tetapi bisa saja apa yang kita tanyakan , apa yang kita minta bukan itu yang dijawab oleh Tuhan. Karena memang firman Tuhan berkata : rancanganKU bukanlah rancanganMu, jalanKU bukanlah jalanMU.
Murid murid meminta pemulihan kerajaan Israel tapi Tuhan menjawab Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya.

Disini mengandung makna yang dalam bahwa kalau hanya memulihkan kerajaan Israel itu bukanlah perkara yang sulit bagi Tuhan. Menghancurkan belenggu dan penindasan kerajaan Romawi bukanlah persoalan sulit bagi Tuhan. Memulihkan harkat dan martabat kerajaan Israel mudah saja bagi Tuhan. Dalam sekejap mata saja dengan kemahakuasaan dan kebesaran Tuhan semuanya dapat dilakukan. Tapi Tuhan tidak mau seperti itu. Tuhan tidak mau membentuk umatnya menjadi umat yang gampangan, Cuma suka cari jalan pintas, umat yang pemalas, umat yang tidak berbuat apa apa Cuma tahu meminta dan meminta .
 Tuhan mau umatNya juga ada usaha untuk mengatasi dan keluar dari persoalan . Tuhan mau umatnya berusaha dan berbuat . Tuhan mau umatNya juga bukan hanya bisa meratapi persoalan dan masalah yang terjadi tapi bagaimana upaya dan usaha keluar dari berbagai persoalan dan problematika hidup. Tuhan mau umatnya menjadi umat yang kreatif yang tidak tinggal diam, tidak tenggelam , masa bodoh dan pasrah mengalami persoalan  tapi sebaliknya aktif berupaya untuk keluar dari kungkungan persoalan.
Satu hal yang luar biasa sebagaimana dalam ayat 8 bahwa dalam usaha dan upaya kita, dalam perjuangan kita Tuhan tidak akan membiarkan kita sendiri tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu. Tuhan bukanlah Allah yang hanya memberi perintah , Tuhan tahu apa kelemahan kita , Tuhan tahu kebutuhan kita dan Ia menyediakan penolong bagi kita yaitu Roh Kudus untuk melakukan apa yang dikehendakiNya.
Pada ayat 9 Yesus kemudian terangkat ke sorga dan pengalaman ini adalah pengalaman langkah yang dialami para murid, yang hanya bisa disaksikan oleh orang orang terpilih. Kejadian spektakuler dan sangat langkah ini dalam sekejap membuat murid murid terpesona, terkagum dan seolah tidak mau beranjak dari tempat berdiri. Sampai kemudian mereka harus diingatkan oleh dua orang yang berpakaian putih. Barangkali situasinya sama ketika kita terpesona dan terkagum dengan sesuatu tiba tiba seseorang mengagetkan kita dan kita kembali ke alam sadar begitulah yang terjadi pada para murid yang segera disadarkan oleh dua orang berpakaian putih bahwa Dia yang terangkat ke sorga akan datang kembali dengan cara yang sama. Yesus telah naik kesorga , tugas dan karyaNya di dunia telah selesai. Namun apakah dengan naiknya Tuhan Yesus dengan cara ajaib ke sorga berarti selesai sudah semuanya seperti film yang sudah selesai diputar episodenya. Tentu saja tidak. Tugas pelayanan, pemberitaan Injil , kesaksian kini dipercayakan  Tuhan kepada murid murid dan sekarang ini dilanjutkan oleh kita semua sebagai warga gereja yang bersaksi, bersekutu dan melayani Tuhan.
Menjadi saksi Kristus itulah perenungan kita di hari Kenaikan Tuhan Yesus ini. Dalam sebuah pengadilan kita tahu betapa pentingnya saksi saksi yang dihadirkan. Kehadiran saksi akan menjadi masukan penting bagi Hakim untuk menjatuhkan putusan. Namun meski para saksi sudah disumpah bisa saja ia memberikan kesaksian palsu, kesaksian yang tidak sesuai dengan fakta. Akibatnya sangat buruk yang salah bisa jadi benar, yang benar bisa jadi salah.
Demikian juga dalam posisi kita sebagai saksi Kristus, bisa saja kita tidak memberikan kesaksian yang benar sebagai murid Tuhan, malahan justru kita memberikan kesaksian palsu melalui cara hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan dan akibatnya bukan menjadi berkat malahan menjadi sumber masalah dan persoalan di tengah keluarga, jemaat dan masyarakat. Apalagi sebagai Wanita Kaum Ibu GMIM yang kadangkala terjebak dengan ucapan, perkataan, sikap yang tidak dapat menunjukkan kehidupan sebagai saksi Tuhan.
Harapan kita lewat Hari Kenaikan Tuhan Yesus dan Hari Persatuan Wanita Kaum Ibu GMIM dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan bukan hanya simbol dan rutinitas yang tidak mengubah realitas MELAINKAN Kehadiran Wanita Kaum Ibu GMIM dimanapun ia pergi dan berada akan membawa sukacita yang membawa dampak positif dalam kehidupan keluarga, membawa seisi keluarga semakin taat kepada Tuhan.

Semoga  pemaknaan dan perenungan saat ini akan  membuat kita semua bersedia dan mau dipakai Tuhan lewat kuasa Roh Kudus untuk menjadi saksi yang selalu terpanggil menceritakan segala kebaikan Tuhan lewat Injil karena Tuhan Yesus pasti akan datang kembali bukan lagi sebagai bayi tapi IA akan datang sebagai Raja, sekaligus sebagai Hakim yang akan menghakimi setiap orang menurut perbuatannya dan berbahagialah yang Ia dapati SETIA menjadi saksiNya.  AMIN

Senin, 04 Januari 2016

RENUNGAN YEREMIA 17:7

"DIBERKATILAH ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN DAN YANG MENARUH HARAPANNYA PADA TUHAN"..

SELAIN ITU BERHATI HATI DENGAN UCAPANMU, HATI HATI DENGAN MULUT-MU. INGAT BERPIKIR DAHULU SEBELUM BERUCAP ! KARENA ADA "KUASA" DALAM MULUT ORANG PERCAYA DAN  AMINKAN SEMUA PERKATAAN POSITIF TENTANG KITA.
BIARLAH APAPUN UCAPAN KITA MEMBERKATI, MENYEMANGATI , MENDORONG, MEMBERI SPIRIT, MEMBERI ARAH POSITIF BAGI ORANG LAIN.
AMPUNILAH SAYA DAN KELUARGA SAYA YA TUHAN KARENA BANYAK UCAPAN TIDAK BENAR YANG TELAH TERUCAP SELAMA INI, UNGKAPAN UNGKAPAN NEGATIF YANG TERUCAP BAGI SESAMA, KAMI TARIK SEMUA DAN BUANG DALAM NAMA TUHAN YESUS.


pengampunan dan penerimaan ulang dari TUHAN menjadi titik sejarah iman

 YESAYA 44 :21-28 Jemaat yang dikasihi Tuhan Berita pengampunan yang baru kita baca memiliki dampak yang begitu besar bagi perjalanan iman...