Rabu, 12 Maret 2014

POLITISASI BIROKRASI

Memang sudah menjadi nasib PNS untuk saat ini kariernya bukan ditentukan oleh kapasitas, profesionalisme, kualitas , kapasitas, sumber daya yang handal tapi ditentukan oleh politik. Ini yang saya amati di daerah saya.  Jenjang karier menjadi tidak jelas, siapa dekat api katanya dia panas.PNS di kantor lebih banyak berbicara tentang politik, caleg, partai, daripada menyelesaikan tugas. Tupoksi pun terhambat karena arahan politis. Kegiatan kegiatan yang didanai APBD seperti sosialisasi, tatap muka , dialog melenceng dari tujuan karena jadi ajang kampanye terselubung . Warna baju PNS lebih banyak berganti ganti sesuai warna partai  pemenang. Lebih heran lagi fungsi mutasi, rotasi, promosi jabatan bukan ditentukan oleh Baperjakat tapi oleh " baperjakat swasta", orang orang dekat penguasa, pembisik pembisik, pelapor pelapor, pimpinan partai penguasa.  Siapa pasang badan untuk memenangkan kemauan pimpinan terhadap salah satu partai ya kalau menang pasti jadi bintang , kalau kalah pasti jadi sampah. Banyak pejabat pejabat ABS : asal bapak senang. Politik adalah kepentingan , dan kepentingan tidak ada yang abadi . Hari ini sama kepentingan kawan, besok berbeda jadi lawan. Kasihan politik bila harus seperti ini mengorbankan manusia terutama sang abdi negara, PNS. PNS lebih banyak menjadi alat politik di masa masa pemilihan daripada menjadi alat negara. PNS tidak berdaya karena nasibnya ditentukan oleh politik. PNS ditakut takuti seperti ungkapan : mutasi di tempat jauh, non job akhirnya   Lebih banyak yang suka cari cari muka tetapi mereka yang demikianlah yang dipakai. Sampai kapan ini terjadi ? Mau jadi apa bangsa ini, apa ini tujuan bangsa kita merdeka sedangkan kemerdekaan bagi PNS masih jauh dari harapan. Apa ini tujuan Soekarno Hatta mendirikan bangsa ini? Bukan main pembodohan terpelajar ini dan kita tidak dapat berbuat apa apa menghadapi fenomena ini. Elit elit penguasa sangat senang melihat penderitaan PNS. Setiap ajang pemilihan selalu ditakut takuti, diancam, di politisasi . Ini fakta karena saya sendiri alami, lihat dan rasakan. Pakai baju di rumah saja hati hati jangan salah warna. Hari ini pun masuk telepon , mau suka jabatan aman? pasang badan. Eh , di rumah nenekmu ada pasang bendera partai lain, hati hati ada laporan, bisa berpengaruh pada jabatanmu. Inikah demokrasi? Ya saya hanya memilih  berdoa saja dan lebih mendekat kepada Tuhan, karena hanya dalam DIA ada perlindungan, sukacita dan damai. Untuk apa kekuasaan, harta , jabatan , kalau mengorbankan orang lain , didapat dengan cara tidak benar. Tidak ada yang abadi dalam dunia ini. 

Belajar dari senior

Memang hidup penuh dengan makna apalagi dalam perjumpaan dengan orang lain dimana dalam percakapan ada hal hal menarik dan penting untuk dicatat.
Hari ini saya belajar dari senior Pak Sendow yang telah malang melintang dalam dunia birokrasi antar kabupaten /Kota, dimulai dari bawah sampai puncak. Ia sudah dua tahun lalu pensiun tapi dari perawakan sangat sehat, masih memiliki semangat , pemikiran masih jernih, suatu harapan juga bagi saya kalau pensiun nanti masih sehat sehat. Ia masih memiliki jiwa muda, nampak pada mobil yang baru ia beli dilengkapi dengan accecoris, prinsipnya nikmati hidup jangan ada harta tidak dinikmati.Katanya kepribadian orang kalau ia memiliki mobil dapat dilihat dari bagaimana ia memperhatikan kebersihan mobilnya.   mengetahui saya juga adalah birokrat muda yang sementara meniti karier maka ia menyampaikan pesan pesan kepada juniornya :

  1.         Pesan utama kesuksesan adalah andalkan Tuhan, hidup sesuai firmanNya ,cari dahulu kerajaan Allah, senantiasa bersyukur dalam keadaan apapun,  segala sesuatu sia sia tanpa Tuhan.
  2.         Jalani saya tugas , jangan bersungut sungut, CINTAI PEKERJAAN ITU, kalau memang Tuhan berkenan ia akan mengangkat kita , kalau memang garis tangan, itu akan terjadi, bersukacita saja, jangan kejar bintang , bintang tidak akan dapat kita kejar,
  3.           Sebagai sekcam maka buat atasan / camat merasa tenang meski tugas camat 75 % di lapangan tapi ia berpikir tenang , karena tugas kantor dapat diselesaikan oleh sekcam. Senior ini 7 tahun jadi sekcam dan setiap ganti camat selalu dipercaya.
  4.             Beri contoh kepada bawahan, jangan main perintah. Seperti disiplin setiap pagi lebih dahulu ke kantor.
  5.        Jangan menolak penugasan, merasa minder, merasa rendah diri dan tidak mampu dalam penugasan mewakili. Jalani saja dulu, dan minta hikmat Tuhan.
  6.       Sebagai atasan perhatikan kesejahteraan bawahan bila kuasa itu ada padamu, berbagi berkat, jangan makan sendiri.  Kalau ada anggaran beli seragam , lakukan itu untuk pegawai dan kepala desa.
  7.        Nama baik lebih berharga dari apapun itu.
  8.        Bangun komunikasi dengan semua orang / masyarakat. Sebagai pemimpin harus banyak turun lapangan dan menyerap aspirasi serta membantu menyelesaikan persoalan.
  9.        Jadilah birokrat tulen , ingat kita ini PNS, bukan pengurus partai, cerdaslah , loyal itu betul tapi jangan terlalu loyal sampai pasang badan. Bangun komunikasi yang baik terutama dengan politikus. Lebih baik tunjukan kualitas dan prestasi dalam pekerjaan.
  10.       Minta saran , masukan dan kritik membangun itu lebih baik daripada pujian manis yang membawa pada jurang kebinasaan. Ingatkan bawahan untuk dengan etika, sopan, santun memberi masukan pada pimpinan, jangan pemimpin so salah diam saja, sebab kalau pemimpin masuk jurang pasti bawahan juga kena akibatnya.
  11. .          Jadilah pemimpin yang tegas, integritas dan komitmen.
  12.             Berpikir matang sebelum bertindak.
Demikianlah poin poin penting yang saya tangkap dari percakapan dengan sang senior  yang sangat mencerahkan ini, makanya menyesal sekali kalau tidak langsung ditulis nanti keburu dilupa.
Setelah itu saat siang tiba pada hari itu juga, saya jumpa kepala bengkel . kebetulan lagi menambah accecoris kendaraan. Seorang Bapak yang ketika saya Tanya umurnya , dijawab sudah jam 3 sore. Entahlah umur berapa itu. Ciri khasnya meledak ledak, berbicara tegas dan keras , kadangkala keluar kata kata kasar, cenderung membenarkan pendapat dan hampir hampir tidak memberi kesempatan lawan bicara untuk bicara. Tangannya bahkan sampai menunjuk nunjuk. Orang kalau tidak kenal pribadi dan pemikirannya  pasti memiliki kesan tidak baik pada Bapak ini. Tapi begitulah kita jangan hanya selalu melihat dari sisi luar, tentang kekurangan dan kekurangan, bagaimanapun dan sekecil apapun ada sisi baik dari orang lain.

Kalau berbicara dengannya bahan apapun sepertinya ia sangat pakar dan menguasai apapun juga , apalagi politik. Dengar dengar sih dulu ia pernah jadi jurkam salah satu partai besar. Tapi bapak ini sisi bagusnya teguh berpegang pada prinsip yang ia yakini benar. Ia juga mahir bicara Alkitab. Saat ini lagi masa pencalegan dan ia marah pada salah satu saudaranya yang sudah 1 periode menjabat tapi tidak ada yang ia buat bagi masyarakat dan sekarang minta dukungan masyarakat lagi. Ia muak dan benci sosok seperti ini. Wakil rakyat harus benar benar merakyat , bersama sama rakyat, mendengar keluhan mereka dan memperjuangkan nasib mereka.

Rabu, 26 Februari 2014

Saatnya untuk kembali menata kehidupan

Asal ada makanan dan pakaian cukuplah,
Berikanlah kami makanan dan pakaian kami yang secukupnya

Mengucap syukur atas berkat rahmat dan kasihNya dalam hidup ini adalah hal yang terutama menurut saya dalam perenungan saat ini,
Mengapa kita mau menjadi susah untuk sesuatu yang akan binasa, tapi kadangkala itulah pilihan dan kebodohan kita, padahal sudah diingatkan hati nurani.
Hai manusia apakah yang kau cari di dunia ini, mengapa engkau mencari yang sia sia dan akan binasa, serta sifatnya sementara saja
Untuk hal hal yang mudah hancur , binasa, tidak kekal mengapa kita rela mati matian , berjuang sekuat tenaga dan memberikan segalanya bahkan rela mengorbankan sesama, keluarga dan harga diri
Tapi untuk hal yang abadi dan kekal kita biarkan dan santai santai saja , tanpa kita sadari hidup ini tidak selama lamanya.
Mengapa kita kuatir , takut, cemas, untuk kehilangan jabatan, kekuasaan, harta yang sifatnya sementara saja.
Dimana hatimu berada disitulah hidupmu berada,
Apa yang kau kejar didunia ini , yang selalu kau pikirkan itulah fokus hidupmu
Apakah arti kebahagiaan sejati ada pada harta, kekayaan dan kedudukan?
Semuanya yang ada didunia ini adalah kesia siaan belaka
Kalau memandang orang yang susah, hanya bekerja untuk makan sehari tapi justru ada kebahagiaan karena mereka bersyukur untuk apa yang ada.

Memang ternyata betul prinsip hiduplah secukupnya, jangan malas tapi bekerja dan berusahalah dengan semampunya, dengan sekuat tenaga, berilah yang terbaik, jangan meniru orang lain yang masa bodoh, malas malasan, egois, mementingkan diri sendiri, berdoalah kepada Tuhan selalu dan bersyukurlah untuk apapun hasilnya
Mendekatlah kepada Tuhan dan berserahlah kepadaNya sebab Ialah yang empunya segalanya, termasuk hidup ini.
Kalau Tuhan berkenan dan membuka jalan maka tidak ada satupun manusia yang dapat menutupnya, tapi kalau Tuhan tidak berkenan sekuat apapun kita berusaha pasti jalan akan tertutup.

 Gunakanlah segala sumber daya yang ada padamu saat ini, baik harta, materi dan kedudukan dengan sebaik baiknya, jangan boros apalagi berhutang untuk sesuatu yang fana, tidak berfaedah, terjerat dalam kredit yang menyusahkan seperti saat ini. Berhematlah , efisien dan hati hati menggunakan uang, jangan boros dan royal. Bantulah orang yang susah dan jadilah berkat bagi orang lain.
Jangan pernah merencanakan, berpikir yang buruk tentang orang lain apalagi menjatuhkan mereka meskipun sikap mereka banyak kali menjengkelkan kita.
Kalau kita berbuat sesuatu , berbuatlah yang terbaik, jangan ikut ikutan seperti orang lain, mereka malas tapi biarlah kita rajin.
Ada hal hal yang memang kita sudah berbuat yang terbaik tapi hasilnya kurang memuaskan, bersyukurlah yang penting kita sudah berusaha.
Janganlah menjadi sombong tapi jadilah rendah hati selalu menganggap orang lain juga penting , selalu punya hati yang ramah, dan mau membantu orang lain artinya hidup ini adalah hidup yang lebih banyak memikirkan bagaimana membantu orang lain daripada memikirkan diri sendiri.
Dimanapun kita ditanam berkembanglah dan berbuahlah!
Milikilah prinsip hidup, ketegasan dan integrtitas pribadi , bukan seperti kapal yang dapat diombang ambingkan sehingga tidak pernah sampai pada tujuan,
Apa artinya sukses diluar rumah tapi berantakan di dalam rumah. Keluarga adalah asset yang paling berharga.
Kesehatan juga harus dijaga dengan sangat baik , melalui pengaturan pola makan dan rajin berolahraga.

Saatnya untuk menata kembali kehidupan!
Rabu, 26 Feb 2014

Kamis, 19 September 2013

19 September 2013

Hari ini satu hari menjelang HUT ke-36 besok hari, dengan pergumulan yang saya rasakan terutama kekuatiran akan sakit penyakit. Memang belakangan ini setiap mendekati HUT di bulan September ada saja sakit yang mampir. Sakit yang saya rasakan saat ini begitu menakutkan dalam pikiran, bayang bayang .....begitu menguras pikiran ini. Hanya pasrah saja dan berserah kepada Tuhan bila memang saya harus melewati UJIAN IMAN ini. Janganlah saya dihukum karena dosa dosa saya yang banyak ya Tuhan. Saya memang tidak layak dihadapanMu. Karir sementara dibangun, keluarga yang masih baru dibangun dan perjuangan hidup keluarga yang masih baru, hanya padaMu ya Tuhan hambaMu memohon di usia ini sembuhkanlah aku ya Tuhan dan berilah aku kesempatan untuk hidup, jauhkanlah dari segala hal yang tidak kami inginkan, mujizatMu nyata ya Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiMu, rancanganMu adalah rancangan damai sejahtera bukan rancangan kecelakaan, masa depan yang penuh harapan. Oh Tuhan tolonglah hambaMu ini yang berseru , bermohon, berdoa dengan penuh kerendahan hati sebab hidupku ada dalam tanganMu dan semuanya sia sia tanpa Tuhan. Apalah artinya hidup ini tanpaMu ya Tuhan . Dengan segala kesibukkan tugas pekerjaan sebagai PNS maupun dalam pelayanan yang dipercayakan memang dengan kondisi kesehatan saat ini adalah mujizat bisa eksis , inilah satu permohonanku diusia ke 36 ini ya Tuhan yaitu kesehatan dan kebebasan dari bayang bayang ketakutan, kecemasan dan kekuatiran akan sakit yang saya rasakan ini. Saya percaya dalam iman sembuh.

Kamis, 29 Agustus 2013

Khotbah minggu, 18 Agustus 2013


Kemarin tanggal 17 AGUSTUS KITA memperingati Hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Di berbagai tempat Banyak kegiatan dilaksanakan untuk memaknai hari kemerdekaan. Merdeka tentu erat kaitan dengan kebebasan , bebas dari penindasan dan penjajahan . Bebas untuk hidup sebagaimana harkat dan martabat sebagai manusia.  Bebas untuk menata hidup menuju  sejahtera. Tetapi pertanyaan nya sekarang benarkah kita sudah merdeka ?
Tema mingguan yang diangkat MTPJ adalah mengusahakan kesejahteraan. Untuk sejahtera tentu harus diperjuangkan. Sejahtera tidak akan datang sendiri, mustahil sejahtera kalau kita malas, tidak melakukan apa apa dan pangko kaki. Mustahil bangsa ini merdeka jika tidak ada perjuangan dan pengorbanan para pahlawan yang merebut kemerdekaan. UUD 1945 secara jelas menyampaikan apa tujuan Negara ini setelah merdeka yaitu mencapai kesejahteraan umum.
Saat ini kita hidup dalam alam kemerdekaan , namun ada orang yang belum merasakan kemerdekaan dalam arti yang sebenarnya. Di sekitar kita masih  banyak orang yang hidup dalam keterbatasan, kemiskinan, dilecehkan, terpinggirkan , bagi mereka kemerdekaan seperti ungkapan jauh panggang dari api.
Belakangan ini di media massa menjadi topic hangat apa yang terjadi dengan oma Wilhelmina mogot yang tinggal di desa kaima kecamatan remboken.
Oma Wilhelmina adalah salah satu dari warga Minahasa yang boleh dikata tak merasa merdeka apalagi  tersentuh program mensejahterahkan masyarakat .

Tinggal di bawah pohon pada sebidang tanah milik orang, dengan beratapkan terpal tua yang mulai bocor serta tidur hanya diatas selembar papan berlantaikan tanah, minum dan memasak dari penampungan air hujan, Oma Wilhelmina tetap bertahan hidup.

Selama itu, dirinya bertahan hidup dengan berkebun di tanah orang dan menjual hasil tanamnya untuk menghidupkan dirinya bersama seorang anaknya bernama Benna Rintjap (40), yang sakit.
Dalam kondisi yang sangat memiriskan ini, Oma Wilhelmina tidak pernah terdaftar sebagai warga miskin di Minahasa, yang berhak menerima bantuan pemerintah seperti beras miskin (Raskin) ataupun bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM), apalagi jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), atau bantuan lainnya.
Tapi Tuhan maha adil dalam hidup serba kekurangan dan kemiskinan ia tetap sehat di usia saat ini 82 tahun.


http://cybersulutnews.co.id/files.php?file=minahasa/IMG_20130809_01553_932905131.jpg
Gambar 'Istana' Oma Wilhelmina, tempat dirinya bersama anaknya menghabiskan waktu selama 10 Tahun terakhir

 Saudaraku, ini hanya satu potret anak bangsa yang sudah 68 tahun merdeka. Jangankan sejahtera merdeka saja belum, sementara berita televisi diisi kembali dengan sepak terjang KPK dalam memberantas korupsi., terbaru yaitu penangkapan kepala Satuan kelompok kerja minyak dan gas bumi republic Indonesia  yang menerima suap 700.000 dolar Amerika atau 7,2 milyar rupiah. Padahal ia pun sebenarnya sudah kaya, harta pribadi tersangka  yang dilaporkan  resmi adalah 8 milyar.
Disini kita melihat kesenjangan, Yang kaya belum puas dan terus menghalalkan segala cara memperkaya diri sendiri sementara yang miskin semakin miskin.



Namun, lepas dari semuanya itu kita tetap adalah anak bangsa dan pertanyaan penting bagi kita sekalian adalah peran apakah  yang harus kita buat bagi bangsa ini  dalam mengisi kemerdekaan dan mengusahakan kesejahteraan bagi sesama , apakah kita memilih tinggal diam, tidak melakukan apa apa , atau  kita mau terlibat untuk menjadi berarti bagi sesama, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan dimana kita beraktifitas.

Konteks yeremia 29 : 1-14 bacaan kita hari ini  berbicara tentang kondisi umat yang sebenarnya tidak merdeka, mereka sementara berada dalam pembuangan. Tetapi disini nabi yeremia mengingatkan mereka untuk tidak larut dalam keputusasaan , meratapi nasib, menyerah, dan tidak melakukan apa apa. Meski di negeri orang lain yaitu babel mereka tetap dipanggil untuk mengusahakan kesejahteraan kota dimana mereka tinggal. Alasannya jelas kesejahteraan kota adalah kesejahteraan mereka juga. Kalau kota dimana mereka tinggal susah dan  menderita, maka demikian juga mereka.  Yeremia memberi pesan yang jelas kepada orang Israel daripada meratapi diri sendiri adalah lebih baik peduli dengan orang lain, peduli dengan lingkungan dan keadaan di sekitar kita KARENA Tuhan telah merancangkan yang terbaik bagi umat yaitu rancangan damai sejahtera, hari depan yang penuh harapan dan bukan rancangan kecelakaan.
dua hal penting yang ditekankan nabi yeremia kepada bangsa Israel yaitu dua  kata kerja : mendoakan dan mengusahakan.
 kedua hal ini berhubungan erat. Mendoakan sesuatu dengan sungguh-sungguh sangat penting , ini yang harus menjadi nafas setiap orang percaya kapan dan dimanapun dia berada. Dalam yeremia 29 ;12-14 Tuhan pasti mendengarkan doa umatnya ketika kita mencari Dia dengan segenap hati. Bila selama ini secara jasmani dan rohani kita merasa belum merdeka maka ketika kita datang pada Tuhan ia pasti akan memerdekakan kita .
  Dalam  konteks 1 Petrus 4 : 7b Paulus pun mengingatkan kepada jemaat yang sementara menderita, dianiaya karena Injil , supaya mereka  menguasai diri, di tengah kesulitan , pergumulan, ancaman, tantangan, supaya tetap tenang sehingga dapat berdoa karena doa adalah kekuatan orang percaya.
Selanjutnya Ketika kita telah berdoa dengan sungguh sungguh maka hal kedua yang tak kalah penting adalah mengusahakan secara  aktif dalam  mewujudkan doa-doa tersebut.
1 Petrus 4 : 8-11 membawa kita orang percaya untuk menjadi agen agen kemerdekaan dimanapun kita berada, dalam situasi dan kondisi sekitar yang masih membutuhkan kemerdekaan jasmani dan rohani. Paulus kembali mengingatkan tentang satu kata yaitu kasih..Gereja perlu melakukan kasih untuk mengatasi  masalah masalah sosial bagi mereka yang lemah, papa, miskin, bodoh, pengangguran, kesenjangan sosial,   Kasih bukan hanya kata kata, bukan hanya program, bukan hanya impian tapi kasih harus  dilakukan. Paulus memberi contoh praktis seperti Memberi tumpangan, melayani seorang akan yang lain semuanya dilakukan  dengan tidak bersungut sungut  .
Kita semua  adalah anak bangsa Indonesia . Maju mundurnya bangsa ini, sejahtera tidaknya bangsa ini terletak pada kepedulian kita semua. Bangsa Indonesia dalam usia kemerdekaan yang ke 68 tahun membutuhkan kita semua untuk menjadi seperti Yeremia dan umat Israel yang mau peduli dengan sesama, mendoakan dan berusaha menciptakan kemerdekaan yang sesungguhnya.
Tuhan., berkatilah Indonesia, ubahlah setiap hati yang egois agar tidak merusak negeri ini , berilah kasih bagi kami supaya kami dapat membawa kemerdekaan
untuk menciptakan kesejahteraan. Amin.

Senin, 29 Juli 2013

Pemimpin sejati seperti nehemia


Saat ini dalam kehidupan kita baik dalam berkeluarga, berjemaat, berbangsa dan bernegara kita diperhadapkan dengan  banyak masalah dan persoalan. Salah satu sumber masalah adalah kepemimpinan . Dalam keluarga masalah bisa muncul ketika orang tua sebagai pemimpin tidak lagi menjadi teladan, dalam kehidupan berjemaat persekutuan terganggu disebabkan masalah  kepemimpinan dan dalam kehidupan bermasyarakat  banyak pemimpin menyalagunakan kekuasaannya dan menindas rakyat yang lemah.
Pemimpin dihasilkan dari berbagai proses, salah satunya adalah melalui proses politik lewat pemilihan umum. Minggu ini GMIM mengangkat tema dalam MTPJ : Partisipasi warga gereja dalam politik.
 Jemaat adalah juga warga negara yang dijamin dalam undang undang untuk memiliki hak politik yaitu dipilih dan memilih. Proses dan siklus Politik lewat pemilihan umum terjadi berulang ulang dalam kehidupan kita sebagai warga masyarakat saat ini. Belum lama kita melaksanakan pemilihan kepala daerah Bupati dan Wakil Bupati, saat ini pun proses pemilihan anggota legislatif di tahun 2014 tahapannya sudah berjalan, diteruskan dengan pemilihan presiden tahun 2014, lanjut lagi dengan pemilihan gubernur tahun 2015. Ada pendapat mengatakan benarlah ungkapan yang berkata hidup adalah memilih.
Sebagai warga GMIM kita pun tidak lama lagi akan masuk pada pemilihan Pelayan Khusus di bulan Oktober dan Khusus untuk BIPRA sesuai juknis maka salah satu syarat utama adalah harus memiliki sertifikat kepemimpinan. Tetapi, apapun proses pemilihan tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah output atau hasil dari pemilihan itu sendiri, apakah menghasilkan pemimpin yang berkualitas ataukah pemimpin yang mengecewakan. Ketika pilihan masyarakat menghasilkan  pemimpin yang mengecewakan maka partisipasi warga gereja dalam proses politik pasti menurun, ini yang biasa disebut dengan golput atau golongan putih yaitu mereka yang tidak menyalurkan hak pilihnya.

Melihat perjalanan Nehemia sebagai pemimpin, kita bisa menyebut orang ini sebagai pemimpin yang peduli dan berkorban. Nehemia berasal dari suku Yehuda. Dibesarkan di Persia, ia dipilih raja sebagai juru minum, yang mengatur makan dan minum raja. Ia sangat dekat dengan raja, ketika ada pembangunan kembali kota Yerusalem, maka Nehemia ditunjuk sebagai Bupati. Sebagai orang besar, ia tidak kehilangan jati diri. Ia bisa menyombongkan dirinya karena jabatannya. Tapi tidak dengan nehemia. Baginya  Jabatan itu hanyalah kepercayaan dan bila ia menyalagunakannya maka jabatan itu bisa saja diambil darinya.




Ada sebuah kisah nyata tentang Mantan Presiden Amerika Serikat George Wasington. Suatu  ketika ia berkunjung untuk melihat pasukannya di medan tempur. Tanpa sengaja sebuah kereta jatuh di lubang. Sang Kopral marah besar dan memerintahkan dengan keras supaya anak buahnya segera mengangkat kereta itu . Kereta itu sulit untuk diangkat dan membutuhkan tambahan tenaga manusia . Tetapi sang kopral hanya berteriak teriak dan marah marah . George Washington turun dari kuda dan membantu tentara lain menarik kereta hingga bisa keluar dari lubang. Bukannya berterima kasih sang kopral terus memarahi anak buahnya. George Washington pun berkata : negeri ini sedang dilanda kesusahan dan sebagai pemimpin kita harus bersama dalam susah dan senang untuk mengapai kemenangan. Sang kopral malah membentak dan berkata kasar. Sampai kemudian sang ajudan menegurnya dan mengatakan bahwa yang berdiri didepannya adalah presiden amerika serikat.
Dalam bacaan kita saat ini , Alkitab  mencatat bahwa ada problema yang dihadapi masyarakat  dalam pembangunan tembok Yerusalem dan bagaimana sang pemimpin sejati hadir bertindak dan menyelesaikan masalah.

Problema yang dihadapi adalah Ada banyak orang Yahudi yang miskin dan dilanda  bahaya kelaparan . Dalam Neh 3-4 sudah kita membaca  bahwa bangsa itu bekerja mati-matian untuk membangun tembok Yerusalem. Pekerjaan ini pasti menyita begitu banyak waktu sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk bekerja mencari nafkah. Apalagi setelah dalam Nehemia  4 ada musuh yang mau menyerang mereka. Ini menyebabkan para pek­erja itu bahkan tidak bisa pulang ke rumah mereka masing-masing, dan mereka tidur di Yerusalem untuk berjaga-jaga terhadap serangan para musuh itu (Neh 4:22). Mereka terpaksa menggadaikan ladang atau kebun, bahkan rumah mereka (ay 3), dan mereka meminjam uang (ay 4). Semua ini juga menyebabkan mereka menjadi miskin / makin miskin.
Dalam keadaan demikian apakah tindakan para pemimpin  , ironis mereka justru menari nari, tertawa dan senang diatas penderitaan rakyat. Apa yang mereka lakukan : mereka menerima ladang, kebun, atau rumah yang digadaikan (ay 3,5,11a) meminjamkan uang dengan bunga (ay 7,11) dan mereka mengambil anak-anak lelaki dan perempuan dari orang-orang miskin itu untuk dijadikan budak (ay 5,8).
Hal-hal ini tentu tidak benar dalam keadaan darurat dan susah bagaimana mungkin mereka masih bisa memikir untuk memeras / memperbudak orang?
Dalam kondisi ini tampilah nehemia .Ia mau mendengar suara orang miskin! Ia marah karena segala kejahatan yang terjadi dan Ia bertindak menentang / melawan para penguasa / pemuka (ay 7).





Nehemia mengadakan sidang jemaah yang besar (ay 7).Ia mengajak para pemuka itu untuk sama-sama menghapuskan hutang orang-orang miskin itu (ay 10b). Dan  menyuruh mereka bersumpah untuk menepati janji, dan ia bahkan memberikan kutuk kepada orang-orang yang tidak menepati janjinya (ay 12b-13).
Kisah nehemia menampilkan sosok pemimpin yang sejati , peduli dan mau berkorban demi kesejahteraan orang lain Nehemia  berperan sebagai agen yang mendamaikan dan memberi kelepasan
Nehemia menampilkan sosok kepemimpanan dan menjadi gambaran yang diwujudkan dalam diri Yesus.
Dalam konteks Matius 22 :15-21 disana kita melihat kepemimpinan orang orang farisi  yang sangat  berambisi terhadap kekuasaan  dan jabatan sehingga ketika ada orang lain yang merebut simpati masyarakat mereka bertekad untuk menyingkirkannya dengan cara apapun .
Yesus mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Kebesaran seorang pemimpin Kristen tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya, tetapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Kebesaran seorang pemimpin Kristen terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang tersisih, kecil, marjinal, dan sering terlupakan.
Yesus membalikkan seratus delapan puluh derajat konsep kepemimpinan yang dimiliki kebanyakan orang, termasuk para murid-Nya. Alkitab menulis bahwa tak seorang pun yang kuasanya melebihi Dia (Yohanes 13:3). Keempat Injil mencatat segala perbuatan ajaib yang pernah dilakukan-Nya. Namun Yesus tidak pernah sekalipun menggunakan kuasa- Nya untuk kepentingan pribadi
Prinsip ini tidak dimengerti oleh orang farisi yang menginginkan mahkota namun menghindari salib, yang mengejar kemuliaan tapi menjauhkan penderitaan, yang berambisi menjadi tuan dan menolak disebut hamba.

Pemimpin sejati adalah mereka yang berhasil memberikan pengaruh positif, sehingga dengan sukarela banyak orang mengikutinya, bukan karena kedudukan atau imbalan yang akan didapatkan.
Saudaraku,  tidak semua orang dipanggil menjadi pemimpin.
namun mereka yang terpanggil menjadi pemimpin haruslah menjadi pemimpin-pelayan.
Kiranya Allah menolong Anda dan saya untuk melepaskan diri dari jerat kuasa, dan dalam anugerah-Nya dimampukan untuk menjadi pemimpin sejati dengan melayani sesama.

Kamis, 30 Mei 2013

renungan birokrat dari berbagai kutipan


Birokrat Dan Semangat

Cepat, cekatan, adil dan profesional adalah sosok ideal dari seorang birokrat yang diharapkan oleh masyarakatnya di era yang serba demokratis saat ini. Melihat semakin hari tugas dan fungsi pemerintah semakin meningkat, demikian pula kegagalan demi kegagalan pemerintah dalam mengimplementasikan program-programnya semakin menumpuk. Maka sorotan tajam kita langsung tertuju kepada sosok birokrat sebagai motor penggerak dari pemerintahan. Perlu sosok birokrat yang cerdas dalam berkarya dan berkinerja, tidak hanya para birokrat yang terlihat bermain catur di jam kerja, ngerumpi, nge-game, bolos jam kerja, dan hanya menghabiskan anggaran untuk kegiatan rutin yang sia-sia.
Birokrat sesuai dengan fungsi alamiahnya (pure function), diibaratkan sosok pelayan bagi masyarakat sebagai tuannya yang dituntut untuk menghadirkan pelayanan optimal dan efektif. Namun ironisnya, muncul pergeseran fungsi dari para punggawa pemerintahan ini, mereka merasa lebih ingin dilayani ketimbang untuk melayani. Fenomena inilah yang seringkali menghambat kinerja pemerintahan, sehingga birokrasi terkesan lambat, bertele-tele, dan korup. Kesan negatif yang melekat di tubuh birokrasi ini sangat sulit untuk dilepas selagi birokrat belum mampu membawa semangat kepentingan publik yang berorientasi pelayanan prima dan profesional.
Perkembangan paradigma pemerintahan modern saat ini telah memasuki fase yang disebut New Public Service yang sangat memandang bahwa pelayanan terhadap kepentingan masyarakat/publik adalah misi utama. Kemudian para birokrat dituntut untuk berperan lebih banyak mendengar daripada berkata-kata serta lebih banyak melayani daripada mengarahkan. Birokrat perlu untuk lebih peka terhadap masalah-masalah publik yang semakin lama semakin kompleks, bukan hanya terpaku pada rutinitas kerja yang kaku dan sentralisistik terhadap pimpinan.
Meskipun pemerintah telah meningkatkan anggaran dalam pengembangan sumber daya aparatur melalui berbagai pelatihan, lokakarya, seminar, kursus, maupun diklat dengan harapan untuk meningkatkan kinerja birokrasi dalam pelayanan publik. Akan tetapi, langkah kongkrit dari pemerintah itu belum terasa hasilnya bagi masyarakat sebagai user dari pelayanan yang diberikan. Hal ini mengindikasikan bahwa belum terbentuknya mental dan karakter birokrasi yang membawa semangat ke-publik-an. Perubahan – perubahan yang dihasilkan hanyalah bersifat administratif yang kian rumit dan komplek, namun tidak menyentuh pada perkembangan etika dalam birokrasi.
Dalam pelayanan publik yang dihadirkan oleh birokrasi, etika dapat dikatakan sebagai nilai moral yang dijadikan sebagai suatu rule of conduct untuk mewujudkan kinerja pelayanan yang prima dan profesional. Para birokrat perlu menghayati bahwa etika adalah variabel yang akan sangat mempengaruhi kinerja dari birokrasi, etika akan mengajarkan bagaimana berkarakter dan bermental profesional dalam melaksanakan tugas pelayanan. Etika akan mengingatkan bahwa public interest atau kepentingan publik adalah diatas segalanya, karena sejatinya dalam pelayanan publik perlu mengorbankan kepentingan individu untuk mencapai kepentingan publik ( Y.T. Keban, 2000).
Peranan etika birokrasi dalam proses pelayanan publik sangatlah vital. Ketika etika sebagai rule of conduct ini tidak mampu diaplikasikan maka akan dapat menimbulkan berbagai bentuk penyimpangan. Penyimpangan ini seperti yang biasanya terjadi di Indonesia dapat dilihat mulai dari proses kebijakan publik (misalnya pengusulan program maupun proyek yang tidak didasarkan atas kenyataan), desain organisasi pelayanan publik yang sangat bias terhadap kepentingan tertentu, proses manajemen pelayanan publik yang penuh rekayasa dan kamuflase, yang kesemuanya itu mengakibatkan kinerja yang tidak akuntabel, tidak transparan, inefisensi, berperilaku korup, dsb. Sehingga tidak dapat disangkal bahwa rapuhya etika birokrasi merupakan salah satu penyebab melemahkan kinerja pemerintahan dalam fungsi pelayanan hingga saat ini.
Untuk itu, pemerintah perlu memikirkan pondasi yang kuat bagi pembangunan etika birokrasi pemerintahan. Sehingga etika dapat dijadikan tulang yang kokoh untuk penopang kualitas pelayanan publik dan dialiri darah yang mengandung semangat kepublikan. Jikalau lemahnya etika ini dibiarkan membusuk dan menggerogoti sendi-sendi pelayanan publik, tentunya 20% lebih anggaran yang dialokasikan untuk belanja pegawai akan menjadi sia-sia, dan tidak akan membawa kebermanfaatan bagi masyarakat sebagai user pelayanan publik.

Ferdian Perdana AN'08

Profil Birokrasi di Era Perubahan
on 07-01-2013 | 13:04
Oleh : Drs. H. Dadi Mulyadi, M.Si
Widyaiswara Utama pada Badiklatda Provinsi Jawa Barat
Latar Belakang
Sangat disadari oleh bangsa dan negara bahwa aparatur negara atau lebih dikenal birokrasi pemerintahan memegang peranan penting yang sangat vital dan strategis dalam mengemban visi dan misi pemerintahan negara. Baik buruknya dan efektif tidaknya suatu pemerintahan sangat tergantung kepada baik buruknya kinerja birokrasi sebagai penyelenggara pemerintahan negara yang bersangkutan.
Proses reformasi birokrasi yang sampai saat ini masih terus berlangsung hingga saat ini. Dengan sangat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi informasi dan komunikasi mempercepat perubahan lingkungan global terhadap kultur birokrasi pemerintahan. Hal ini menuntut agar birokrasi pemerintahan harus senantiasa menyesuaikan pada kemajuan iptek agar dapat mengikuti perkembangan zaman dan dinamika tuntutan masyarakat.
Selama ini penyelenggaraan pemerintahan negara telah terjadi berbagai penyimpangan dan mismanagement dalam mengelola kekayaan negara, melayani dan memberdayakan masyarakat, praktik korupsi, kolusi dan nepotisme, sudah berlangsung sejak lama, terjadi secara sistematik dan meluas pada hampir seluruh bidang penyelenggaraan pemerintahan, yang merugikan keuangan negara, pelanggaran terhadap hak-hak sosial, merusak moralitas sebagian aparatur negara dan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa den bernegara.
Kebijakan reformasi birokrasi melalui para birokrat (SDMA) yang telah dijalankan oleh pemerintah selama ini, diarahkan pada upaya-upaya pembentukan profil birokrasi yang efisien, mampu, tanggap terhadap tuntutan yang ditujukan kepada birokrasi itu sendiri, dan misi reformasi birokrasi (Grand Desain Reformasi birokrasi) antara lain adalah mengubah mindset (pola pikir) birokrasi pemerintah, sebagai perencana, pelaksana dan pengendali. Dalam melaksanakan untuk menjadi baik bahkan satu
diantaranya sangat terkait dengan cara berpikir, dan sikap perilakunya.
Pola pikir dikatakan sebagai proses atau cara berpikir, yang menghasilkan pikiran, berpengaruh dan terwujudkan dalam sikap (attitude) dan perilaku (behaviour) manusia. Tindakan, sikap dan perilaku penyimpangan yang selama ini dilakukan oleh birokrat, adalah wujud dari cara berpikir dan pikiran yang tidak benar, tentunya kondisi demikian dapat terjadi dipengaruhi oleh banyak faktor-faktor diantaranya adalah faktor lingkungan (environmet) dimana dan kapan birokrasi melakukan aktivitas di berbagai bidang dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Reformasi birokrasi dalam konteks perubahan yang bersifat menyeluruh terhadap berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan, ternyata belum mampu secara optimal mewujudkan suatu perubahan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya. Semua itu pada dasarnya bemuara pada bagaimana cara berpikir, sikap perilaku (tindakan) yang baik, tepat dan benar dalam menyikapi tuntutan perubahan ke arah yang lebih baik. Akan sangat bertentangan, ketika birokrasi dengan pola pikir, sikap perilaku (tindakan) birokrasi pemerintah yang feodalistis, dengan cara berpikir dan sikap perilaku yang arogan/pongah. Hal ini terjadi karena tuntutan perubahan belum mampu merubah pola pikir birokrasi pemerintah. Hal ini menyebabkan birokrasi tidak berfungsi sebagai agen perubahan untuk memertemukan secara utuh kepentingan rakyat dan kepentingan pemerintah. Lalu bagaimana corak birokrasi pemerintah saat ini, dari kenyataan yang ada reputasi birokrasi pemerintah dikatakan buruk, banyak korupsi, tidak jelas tataran standarnya, tidak effisien, terlalu lemah dalam sistem pelayanan yang kaku, jauh dari modern, tergantung orang seseorang. Aturan terserah orangnya bukan orang terserah aturan. Islamy (1998) menyatakan bahwa birokrasi masa lalu dan sekarang memiliki kecenderungan yang kurang positif dalam perilaku birokasi diberbagai institusi pemerintah.
Melalui gambaran tersebut di atas, penulis mencobakan suatu pemikiran bahwa hal yang utama dalam reformasi birokrasi pemerintah, adalah melakukan perubahan pola pikir ke arah yang lebih baik, efektif, efisien, transparan, tanggap, dan demokratis. Berkaitan dengan hal tersebut yang menjadi pokok masalah adalah “pola pikir, sikap dan perilaku birokrasi pemerintah sampai saat ini belum berubah, sesuai dengan tuntutan perubahan“ yang terjadi di berbagai aspek kehidupan berpemerintahan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Identifikasi Masalah
1. Sejauhmana pola pikir berpengaruh terhadap sikap dan perilaku birokrasi pemerintah?
2. Bagaimana perubahan pola pikir berperan terhadap reformasi birokrasi pemerintah?
3. Apakah perubahan pola pikir merupakan satu diantara strategi reformasi birokrasi?
Maksud dan Tujuan dari hasil penulisan ini diharapkan akan berguna untuk upaya-upaya pengembangan pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu reformasi birokrasi dalam proses pembelajaran. Adapun tujuan penulisan sebagai berikut:
1. Mengetahui dan memahami lebih jauh tentang reformasi birokrasi dalam kontek Pembangunan sumber daya manusia di lingkungan pemerintahan.
2. Sejauhmana pengaruh dan keterkatan reformasi birokrasi administrasi negara dengan sumber daya manusia aparatur di lingkungan pemerintahan.

KERANGKA PIKIR
( Reformasi Birokrasi melalui Perubahan Pola Pikir )

KERANGKA TEORITIS
Kebijakan Publik
Kebijakan dan pembangunan adalah dua konsep yang terkait sebagai sebuah proses peningkatan kualitas hidup manusia, sebagai suatu proses perubahan terencana dan berkesinambungan. Pembanguan memerlukan cara atau pedoman. Suatu perangkat pedoman yang memberikan arah terhadap pelaksanaan dan strategi pembangunan dapat dikatakan sebagai kebijakan. Banyak definisi yang dibuat oleh para ahli untuk menjleaskan arti kebijakan. Thomas Dye, dalam Abidin (2006: 22) menyebutkan kebijakan sebagai pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (whatever govermment choose to do or to do). H. Hugh Heglo menyebut kebijakan sebagai “a course of action intended to accomplish some end” adalah suatu tindakan yang bermaksud untuk mencapai tujuan tertentu.
Selanjutnya di uraikan oleh Jones, dalam kaitan dengan beberapa isi kebijakan, pertama yang dimaksud dengan tujuan, adalah tujuan tertentu yang dikehendaki untuk dicapai (the desired aims to be achieved) , kedua, rencana, proposol yang merupakan alat atau cara tertentu untuk mencapainya, ketiga, program, atau cara tertentu yang telah mendapat persetujuan dan pengesahan untuk mencapai tujuan, kempat, keputusan, yaitu tindakan tertentu yang diambil untuk menentukan tujuan, membuat dan menyesuaikan rencana, meleksanakan dan mengevaluasi program, dan kelima, dampak (efek), yaitu dampak yang timbul dari suatu program dalam masyarakat.
Public policy (kebijakan publik) mengandung tiga konotasi, pemerintah, masyarakat dan umum. Kebijakan publik dibuat dengan tujuan untuk memecahkan masalah publik dimasyarakat yang begitu banyak macam, variasi dan intensitasnya. Jones (1984) mengemukakan bahwa masalah publik mudah menjadi kebijakan publik manakala (a) skope dan kemungkinan dukungan terhadap masalah publik (issues) tersebut dapat dikumpulkan, (b) problem atau issues tersebut dinilai penting dan (c) ada kemungkinan masalah publik tersebut dapat dipecahkan.
Selanjutnya Edward III dan Sharkansky, dalam Islamy (1984: 18) mengemukakan kebijakan publik adalah apa yang pemerintah katakan dan lakukan. Kebijakan merupakan rangkaian tujuan dan sasaran dari program-program pemerintah, Kebijakan publik dibuat adalah dalam kerangka untuk memecahkan masalah dan untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentu, (Wahab, 1997: 3).
Kebijakan publik yang telah disahkan, tidak akan bermanfaat apabila tidak diimplementasikan, Hal ini disebabkan karena implementasi kebijakan publik berusaha untuk mewujudkan kebijakan publik yang masih bersifat abstrak ke dalam realita. Dengan kata lain, pelaksanaan kebijakan publik berusaha menimbulkan hasil (outcome) yang dapat dinikmati terutama oleh kelompok sasaran (target gruops).
Selanjutnya Widodo (2006: 193) menyimpulkan implementasi kebijakan publik adalah suatu proses yang melibatkan sejumlah sumber, yang didalamnya termasuk manusia, dana dan kemampuan organisasional, baik oleh pemerintah maupun swasta (individu atau kelompok) untuk mencapai tujuan, yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pembuat kebijakan.
Birokrasi pemerintah
Birokrasi, seperti yang dikemukan oleh Sedarmayanti (2010; 68) merupakan sistem penyelenggaraan yang dijalankan oleh pegawai negeri berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Birokrasi adalah organisasi formal yang diselenggarakan berdasarkan aturan, bagian, unsur, yang terdiri dari pakar terlatih, memiliki pemusatan kewibawaan, yang menekan pada unsur tata susila , pengetahuan teknis, dan tata cara impersonal. merupakan ciri nyata masyarakat modern dan bertujuan menjalankan tugas pemerintahan, Sementara itu Pfiffner & Presthus (1960: 40) menyatakan bahwa birokrasi “adalah suatu sistem kewenangan kepegawaian, jabatan dan metode yang dipergunakan pemerintah untuk melaksanakan program-programnya“.
Dari pernyataan tersebut, birokrasi dimaknai sebagai proses penyelenggaraan pemerintahan (pelayanan masyarakat), dengan mengadopsi sistem tertentu dimana di dalamnya terdapat pembagian kerja dan tugas yang jelas, terdapat nilai-nilai impersonal dimana orang mengikuti aturan, bukan aturan mengikuti orang, penyusunan jabatan dan karier berdasarkan kompetensi dan bukan preferensi. Terdapatnya otoritas pengawasan dan hierarchi. Birokrasi membutuhkan sosok birokrat yang membutuhkan keterampilan, pengalaman dan keahlian, mereka hidup dari gaji, dan pendapatan yang diterimanya tidak didasarkan secara langsung atas dasar kinerja.
Dari kenyataan yang ada ternyata birokrasi pemerintah saat ini, dapat dikatakan bahwa reputasi birokrasi pemerintah dikatakan buruk, banyak kasus korupsi, tidak jelas tataran standarnya, tidak effisien, terlalu lemah dalam sistem pelayanan yang kaku, jauh dari modernisasi, tergantung orang seseorang. Aturan terserah orangnya bukan orang terserah aturan, Pertumbuhan birokrasi pemerintah semakin membesar dan cenderung tidak efektif, apalagi efisien, tentunya kenyataan ini sangat sulit diharapkan birokrasi siap dan mampu melaksanakan fungsi pemerintahan secara optimal.
Reformasi Birokrasi
Reformasi merupakan proses upaya sistematis, dan komprehensif, ditujukan untuk merealisasikan tata pemerintahan yang baik (good governance), adalah sistem yang memungkinkan terjadinya mekanieme penyelenggaraan pemerintahan negara yang efektif dan efisien dengan menjaga sinergi yan konstruktif di antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat, (Sedarmayanti,2010: 67).
Wibawa (2005: 207) menyatakan reformasi sebagai gerakan untuk mengubah bentuk dan perilaku suatu tatanan, karena tatanan tersebut tidak lagi disukai atau tidak sesuai dengan kebutuhan zaman, baik karena tidak efisien, tidak bersih, tidak demokratis. Selanjut Schacter (2000) menyatakan bahwa tujuan reformasi birokrasi antara lain adalah untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul dalam penyelenggaraan pemerintahan. Semua itu dalam kerangka mewujudkan kepemerintahan yang baik (good governance). Pemerintahan yang demokratis dan desentralistis agar aparatur negara (birokrasi pemerintahan) mampu memberikan pelayanan yang prima (excellent services) dan mampu meberdayakan masyarakat (empowerment of society).
Selanjutnya Rewansyah (2010: 124) menyatakan bahwa reformasi nasional adalah reformasi birokrasi, karena tidak ada reformasi bidang lain yang tidak bersentuhan antar para birokrat. Kadangkala para birokrat ikut serta dalam merencanakan dan melaksanakan reformasi di bidang politik, hukum, perekonomian dan budaya organisasi. Dengan kata lain, lingkungan strategi birokrasi pemerintahan yang sangat berpengaruh dan saling memengaruhi adalah sistem politik, perkonomian dan budaya organisasi (corporate cultural).
Oleh karena posisi aparatur/birokrasi sangat strategis dan sentral maka reformasi birokrasi harus dilakukan dan menjadi prioritas. Sasaran reformasi birokrasi secara nasional yaitu pembaharuan mindset (pola pikir) dan cultural set (pola budaya) para politisi, aparat hukum, ekonomi, budayawan dan para birokrat, yang kesemuanya merupakan sumber daya manusia (SDM) penyelenggaraan negara.
Kepemerintahan Yang Baik (Good Governance)
Secara teoritis, good governance dapat diberi arti sebagai suatu proses yang mengorientasikan pemerintahan pada distribusi kekuatan dan kewenangan yang merata, dalam semua elemen masyarakat untuk dapat memengaruhi keputusan dan kebijaksanaan yang berkaitan dengan kehidupan publik, beserta seluruh upaya pembangunan politik, ekonomi, sosial dan budaya dalam sistem pemerintahah. Selain itu good governance, juga diartikan sebagai cara kepemerintahan yang baik dan amanah, dimana hubungan yang sinergis dengan masyarakat luas (stakeholders). Masyarakat turut berpartisipasi aktif dalam proses dan pengambilan keputusan pemerintahan dan pembangunan melalui saluran kelembagaan yang resmi ataupun informal.
Secara konseptual pengertian good governance mengandung 2 (dua) pemahaman: pertama, nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan/kehendak rakyat, dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan (nasional), kemandirian, pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial, kedua, aspek fungsional dari pemerintah yang efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut (Sedarmayanti, 2009: 275). Karenanya upaya penciptaan good governance akan lebih efektif jika didukung dengan metode dan pendekatan partisipatif, karena terkait dengan usaha penting untuk pengelolaan urusan-urusan publik.
Prinsip utama unsur Good Governance menurut Sedarmayanti (2009: 289) adalah: (1) Akuntabilitas, terdiri dari akuntabilitas politik dan akuntabilitas publik, (2) Transparansi, dengan adanya: (a) adanya kebijakan terbuka terhadap pengawasan, (b) adanya akses informasi sehingga masyarakat dapat menjangkau setiap segi kebijakan pemerintah, (c) berlakunya prinsip check and balance, (3) partisipasi dan, (4) Supremasi hukum aparat birokrasi.
Prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik tidak hanya terbatas pada penggunaan peraturan perundang-undangan yang berlaku, melainkan dikembangkan dengan menerapkan prinsip-prinsip penyelenggaraan yang baik yang tidak melibatkan pemerintah semata, tetapi melibatkan internal birokrasi dan eksternal birokrasi.
Pola Pikir Birokrasi Pemerintah
Manusia menurut DR. Bill Gould dalam filosofi Transformational Thinking, terdiri dari atas tiga sistem yaitu sistem perilaku (behavior System), sistem berpikir (Thinking system) dan sistem kepercayaan (Belief System). Sistem perilaku (Behavior System), adalah cara manusia berinteraksi dengan dunia luar, dengan realitas, perilaku memengaruhi, dan sebaliknya. Dan selanjutnya pengalaman akan memengaruhi sistem perilaku manusia. Sistem berpikir (Thinking System) berlaku sebagai filter dua arah menerjemahkan berbagai kejadian atau pengalaman yang dialami manusia untuk menjadi suatu kepercayaan. Sedangkan sistem kepercayaan (Belief System) adalah inti dari segala sesuatu yang manusia yakni sebagai realitas, kebenaran , nilai hidup, dan sesuatu yang diketahui mengenai dunia ini.
Gunawan (2007: 14), mindset, “beliefs that effect somebody’s attitude, a set of beliefs or a way of thinking that determines somebody’s behavior and outlook” (kepercayaan-kepercayaan atau suatu cara berpfikir yang menentukan perilaku dan pandangan, sikap dan masa depan seseorang), selanjut dikatakan bahwa mindset “a fixed mental attitude or disposition that predetermines a person’s response to and interpretations of situations“ (sikap mental tertentu, atau watak yang menentukan respon dan pemaknaan seorang terhadap situasi). Dengan demikian jika manusia akan merubah mindsetnya yang harus kita lakukan sebenarnya adalah belief atau kumpulan belief (set of belief).
Belief, merupakan master key untuk perubahan yang cepat, efektif, efisien dan permanen. Begitu belief-nya berupa, self talk, persepsi dan emosinya juga akan berubah. Dengan demikian, perilaku atau behavior akan ikut berubah. Peilaku adalah sebuah gerakan yang berkaitan dengan segala aktivitas yang terjadi dalam tubuh manusia yang langsung ataupun tidak langsung berhubungan dengan mental dan dapat diamati dari luar.
Faktor-faktor yang membentuk pola pikir (mindset ) adalah: 1) Kecerdasan (IQ.EQ,SQ dan FQ,); (2) Lingkungan (Environment) (Lingkungan fisik, sosial dan psikologi); dan (3) Performance, yaitu, (kompetensi, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, kebiasaan dan talenta). Oleh karena lingkungan organisasi dan sosial dimana manuisi berakivitas sangat memengaruhi pola pikir manusia.
Kultur dan Etika Birokrasi di Indonesia
Van Peursen, dalam Said (2010: 184) kebudayaan (kultur) merupakan endapan dari kegiatan dan karya manusia, kebudayaaan dilihat sebagai produk dari aktivitas, dan dewasa ini kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok, kebudayaan bersifat aktif, merupakan aktivitas manusia itu sendiri sebagai kolektivitas, sebagai masyarakat. Pada intinya, aktivitas manusia sebagai masyarakat dalam mengubah dan membangun dunia sekelilingnya, karena aktivitas manusia itu berlangsung secara terus menerus, dan berkaitan dengan proses perkembangan partisipasi manusia dalam masyarakat. Dalam hal ini dinyatakan bahwa kebudayaan (kultur) dipandang sebagai sesuatu yang dinamis.
Karena kebudayaan dijalankan oleh individu-individu, maka pada dasarnya karakter kebudayaan sebagai sesuatu yang bersifat kolektif ditentukan oleh karakter dari individu atau kelompok individu penyusunnya. Karakter individu atau kelompok individu ini disebut etika. Etika merupakan karakter individu atau kelompok dalam suatu bidang kehidupan tertentu.
Menurut Said (2010: 191) faktor-faktor yang membentuk etika atau budaya birokrasi pemrintah ialah moralitas, yang membedakan garis tegas mengenai mana yang baik dan mana yang buruk. Moralitas menurut hierarki dibagi dalam 4 (empat) tingkatan yaitu: (1) moralitas personal, (2) moralitas profesi, (3) moralitas organisasi dan (4) moralitas sosial. Masing-masing menggambarkan peta kehidupan manusia, sebagai birokrasi pemerintah. Kinerja yang rendah, peyelewengan, dan korupsi adalah bentuk kultur dan etika dan moral buruk dari birokrasi pemerintah. Dampak perilaku korupsi menurut Richard Holloway, dalam Said (2010: 205) korupsi yang terjadi di Indonesia adalah: (1) hilangnya modal finansial, (2) hilangnya modal sosial, (3) hilangnya modal fisik dan (4) hilangnya modal manusia.
Kinerja dan Akuntabilitas
a. Kinerja Birokrasi
Kinerja dalam organisasi merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Para atasan sering tidak memerhatikan kecuali sudah amat buruk atau segala sesuatunya sudah menjadi serba salah. Terlalu sering atasan tidak mengetahui betapa buruknya kinerja telah membawa merosot sehingga instansi mengahadapi krisis yang serius. Kesan-kesan buruknya organisasi yang mendalam berakibat dan mengabaikan tanda-tanda peringatan adanya kinerja yang merosot.
Pengertian kinerja seperti yang dinyatakan oleh Prawirasentono (1999: 2) menyatakan kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara legal, bermoral dan beretika. Sehingga prestasi kerja sesuai dengan definisi di atas sama dengan kinerja.
Selanjutnya Soepardi (1989: 63) mendefinisikan prestasi kerja sebagai kegiatan dan hasil yang dapat dicapai atau ditunjukan oleh seseorang di dalam pelaksanaan tugas atau pekerjaan. Dapat pula dikatakan bahwa prestasi kerja merupakan perwujudan atau penampilan seseorang dalam pelaksanaan pekerjaan. Seseorang dapat berprestasi kerja dengan baik, apabila dapat mencapai sasaran atau standar kerja yang telah ditetapkan. Hal yang sama dinyatakan oleh Anwar Prabu Mangkunegara (2008: 67) mendefinisikan “Kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya“. Mink (1003: 76) mengemukakan pendapatnya bahwa individu yang memiliki kinerja yang tinggi memiliki beberapa karakteristik , yaitu diantaranya: (a) berorientasi pada prestasi, (b) memiliki percaya diri, (c) berpengendalian diri dan (d) kompetensi.
b. Faktor yang memppengaruhi Kinerja
Robert L Mathis dan Jhon H Jackson (2003: 82). Faktor yang memengaruhi kinerja individu tenaga kerja: (1) Kemampuan, (2) Motivasi, (3) Dukungan yang diterima, (4) Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan dan (5) Hubungan mereka dengan organisasi. Berdasarkan pengertian diatas penulis menarik kesimpulan bahwa kinerja merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan alami atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar serta keininginan untuk berprestasi.
Mangkunegara (2000: 67), menyatakan faktor yang memengaruhi kinerja antara lain: (a) faktor kemampuan secara psikologis kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (pendidikan). Oleh karena itu pegawai perlu ditempatkan sesuai dengan keahliannya, (b) faktor motivasi, motivasi terbentuk dari sikap (atitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai kearah untuk mencapai tujuan kerja. Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong seseorang untuk berusaha berperan mencapai potensi kerja secara maksimal.
David C,Mc Cleland (1997) seperti yang dikutip Mangkunegara (2001: 68) berpendapat bahwa: “ada hubungan yang positif antara motif berprestasi dengan pencapaian kerja“. Motif berprestasi dengan pencapaian kerja. Motif berprestasi adalah suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik-baiknya agar mampu mencapai prestasi kerja (kinerja) dengan predikat terpuji.
Mc Cleland mengemukakan 6 karakteristik dari seseorang yang memiliki motif yang tinggi yaitu: (1) memiliki tanggungjawab yang tinggi; (2) berani mengambil resiko; (3) memiliki tujuan yang realistis; (4) memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasi tujuan; (5) memanfaatkan umpan balik yang kongkrit dalam seluruh kegiatan kerja yang dilakukan; (6) mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan. Kelompok Variabel organisasi, Menurut Gibson (1987) terdiri dari variabel sumber daya, kepemimpian, imbalan akan berpengaruh terhadap variabel motivasi, yang akhirnya secara langsung akan memengaruhi kinerja individu. Gibson menyatkan bahwa ada 3 faktor yang memengaruhi terhadap kinerja: (1) faktor individu: adalah kemampuan, keterampilan, latar belakang, keluarga, pengalaman kerja, tingkat sosial dan demografi seseorang, tidak memengaruhi secara langsung; (2) faktor psikologis: persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi dan kepuasan kerja; (3) faktor organisasi: struktur organisasi, desain pekerjaan, kepemimpinan, sistem penghargaan (reward syatem).
Robinson dan Larsen (1990) atas hasil peneltian terhadap pegawai penyuluh kesehatan pedesaan di Colombia menunjukan bahwa pemberian imbalan mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap kinerja pegawai dibanding pada kelompok pegawai yang fidak diberli imbalan. Rosset dan Arwardy (1987) seperti yang dikutip Haryono, mengemukakan bahwa ada 4 (empat) faktor yang memengaruhi kinerja yaitu: (1) kurang keterampilan dan pengetahuan; (2) kurangnya insentif atau tidak tepatnya insentif diberikan; (3) lingkungan kerja yang tidak mendukung, dan (4) tidak adanya motivasi.
Lower dan Poster (1968) dalam Indra Widjaya (1989) faktor yang memengaruhi kinerja adalah:
a. Faktor motivasi
Motivasi, adalah dorongan, baik dari dalam maupun dari luar diri manusia untuk menggerakkan dan mendorong sikap dan tingkah lakunya dalam bekerja. Semakin tinggi motivasi seseorang, akan semakin kuat dorongan yang timbul untuk bekerja lebih giat sehingga dapat meningkatkan kinerjanya.
b. Faktor Kepuasan kerja
Kepuasan kerja merupakan keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan karyawan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Semakin tinggi tingkat kepuasan kerja maka semakin senang karyawan dalam melaksanakan pekerjaanya yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerjanya.
c. Faktor kondisi fisik pekerjaan
Kondisi kerja yang kurang baik dapat menyebabkan rendahnya prestasi kerja karyawan. Lingkungan kerja yang secara fisik merupakan bagian dari kondisi kerja hendaknya tertata dengan baik sehingga tidak menyebabkan adanya perasaan was-was karyawan dalam melaksanakan tugasnya, maka kinerjanya akan rendah. Sebaliknya jika karyawan merasa tenang dan nyaman dalam melaksanakan tugasnya, maka kinerjanya akan meningkat.
d. Faktor kemampuan kerja karyawan
Kemampuan kerja karyawan dalam melaksanakan tugas yang dibebabkan sangat perlu diperhatikan. Karyawan yang memiliki kemampuan yang cukup baik, kemampuan fisik maupun kemampuan non fisik (intelektuan/mental). Kemampuan fisik, adalah kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan dan keterampilan kerja. Kemampuan dipengaruhi oleh proses belajar. Apabila karyawan tidak mempunyai kemampuan yang cukup dalam melaksanakan pekerjaan yang dibebankan, maka pekerjaan tersebut tidak akan dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, atau mungkin tidak sesuai denga standar dan target yang telah ditetapkan. Sebaliknya jika karyawan mempunyai kemampuan yang cukup, maka tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan dengan baik.
ANALISIS MASALAH
Gambaran dan Kondisi Birokrasi Pemerintah
Proses Reformasi Birokrasi melalui Perubahan Pola Pikir
Berdasarkan Peraturan MENPAN No.Per/15/MENPAN/7/2008. Tentang Pedoman Umum Reformasi Birokrasi, manajemen perubahan dilaksanakan untuk memperoleh pemahaman yang sama dan mengurangi resitensi pegawai serta memastikan partispasi pegawai dan masyarakat dalam mewujudkan kepemerintahan yang baik (good govrnance). Secara mendasar yang diharapkan dari reformasi birokrasi adalah perubahan pola pikir, sikap perilaku birokrasi sebagai pelaku utama, dan publik selaku pemangku kepentingan (stake holders) lainnya sebagai pendukung perubahan, dan proses dan hasil reformasi adalah milik semua pihak.
Proses Reformasi Birokrasi melalui perubahan Pola Pikir, sikap dan perilaku penulis coba gambaran pada tabel di bawah ini sebagai berikut:
Analisis dan Langkah Strategis
Kebijakan Publik
Reformasi birokrasi yang dilaksanakan pemerintah pada dasarnya berpedoman dan diatur dengan kebijakan publik, yang prosesnya melalui proses formulasi dan emplementasi dan selanjutnya evaluasi. Hal yang penting untuk mendapatkan perhatian, sejak diimplementasikan-nya melalui berbagai program birokrasi pemerintah ternyata belum optimal menghasilkan perubahan yang diharapkan terutama dari aspek pola pikir, sikap, perilaku dan moral birokrasi.
Langkah strategis yang perlu dilaksanakan:
1. Evaluasi Kebijakan publik pada tataran implementasi, untuk mengetahui permasalahan, faktor penghambat dan faktor pendukung secara objektif dalam upaya menetapakan dan mengambil sikap dan tindakan yang tepat.
2. Evaluasi dalam tataran formulasi kebijakan, kemungkinan materi-materi kebijakan belum lengkap dalam memfasilitasi implementasi reformasi kebijakan. Perlu adanya peninjauan kembali, perbaikan dan kelengkapan, unuk mempertajam upaya dari program dan kegiatan ketika kebijakan tersebut diimplementasikan.
3. Perlu adanya dukungan dan peran serta dari elemen terkait dalam merumuskan (formulasi), implementasi dan evaluasi kebijan.
Birokrasi Pemerintah
Birokrasi pemerintah sebagai pelaku dan target sasaran reformasi birokrasi pemerintan, dan berkaitan dengan peran, tugas dan fungsinya dalam menyelenggarakan
pemerintahan dalam konteks pelayanan masyarakat. Kegiatan dan aktivitas apapun yang dilaksanakannya, selalu berorientasi kepada tuntutan dan kepentingan masyarakat yang semakin kritis, terjadi kontak langsung dan tidak langsung antara birokrasi pemerintah dan masyarakat. Hasil dan dampak pelayanan tersebut terasa oleh masyarakat apakah memberi kepuasan maupun ketidakpuasan, menjadi feed back bagi birokrasi dari penilai masyarakat.
Tuntutan dan perubahan terhadap kompetensi, transparansi, responsif, berkeadilan, tidak korup, tidak boros, efisien, status quo, primodial, netralitas, konsisten, sikap perilaku dan moral yang mengacu pada norma dan nilai yeng berlaku, pada dasarnya bermuara pada pola pikir (IQ,EQ.SQ.FQ) Tampaknya dari sisi inipun reformasi birokrasi belum optimal dalam mewujudkan perubahan yang diharapkan bahkan nyatanya semakin maraknya perilaku yang tidak konsisten bahkan cenderung melanggar komitmen yang telah disepakati dalam norma dan nilai yang berlaku.
Langkah strategis yang perlu dilaksanakan: (1) Restrukrisasi organisasi birokrasi; (2) Rekruitmen yang transparan, efektif dan efisien; (3) Reward and punishment; (4) Pengendalian dan pengeawasan yang objek dan bertanggungjawab; (5) Profesionil.
Pola Pikir
Pola pikir sebagai cara atau proses berpikir, yang menghasilkan pikiran dan pengaruh pada sikap dan perilaku manusia. Sehingga dapat dinyatakan bahwa sikap perilaku manusia (birokrat) adalah gambaran dari cara dan proses berpikirnya, yang hasilnya menjadi positif (pendukung) atau negatif (penghambat). Pola pikir yang dibentuk kecerdasan (IQ, EQ, SQ, FQ), lingkungan, knowledge, pengalaman, kebiasan, budaya dari birokrasi pemerintah. Pada saat ini pola pikir, sikap perilaku, tampaknya sudah terkontaminasi dengan berbagai kepentingan yang sifat materialistis, otoritas, kepentingan kelompok dan klien sistem, bahkan cenderung menyeleweng dan mengabaikan norma dan nilai kemanusian, berbangsa dan bernegara.
Hal ini hampir merata terjadi diberbagai komponen birokrasi yang berdampak pula kepada pola pikir, sikap perilaku masyarakat, cenderung destruktif dan sulit merubahnya menjadi konstruktif.
Langkah strategi yang dianggap perlu dilaksanakan: (1) Dari aspek individu (birokrat) harus mampu mengenal diri sendiri dan konsep diri yang jelas; (2) Proses rekruitmen yang jelas dan bertanggungjawab; (3) Kepemimpinan yang berorientasi humanis; (4) Memahami kembali nilai budaya lokal yang arief, sebagai potensi bangsa; (5) Nilai moral bangsa, semua menyadari bahwa birokrasi, masyarakat, bangsa adalah satu kesatuan dan tugas, peran dan fungsi masing-masing untuk mewujudkan cita negara; (6) Tingkat kesejahteraan birokrasi pemerintahan.
Kinerja dan akuntabilitas
Secara umum kinerja dinyatakan sebagai hasil kerja, yang bertanggungjawab sesuai dengan norma, stardar nilai (kualitas dan kuantitas) menggambarkan tingkat produktivitas individu (birokrat) dan organisai dalam mencapai tujuan, serta memberi dampak manfaat bagi semua pihak, Semua itu sangat terkait dengan peran pola pikir (kompetensi) sumber daya manusia aparatur (birokrat). Gambaran yang nyata dari penyelenggaraan pemerintah dalam konteks pelayanan masyarakat, seperti yang dikemukan sebelumnya, dapat dikatakan bahwa kinerja dan akuntabilitas belum optimal, dan bisa dikatakan masih rendah. Motivasi kerja, disiplin,
Etika kerja, pengakuan, kompetensi, kepemimpinan, reward dan punishment, serta keadilan, strukur organisasi.
Hal tersebut tampak merupakan bagian yang sangat menpengaruhi kinerja dan akuntabilitas birokrasi pemerintah. Semua itu tercermin dari semakin kritisnya masyarakat dengan pandangan serta persepsi negatif masyarakat terhadap kinerja birokrasi pemerintah. Langkah strategis: (1) Reorganiasi dan restrukturisasi organisasi birokrasi pemerintah; (2) Visi, Misi, Renstra, program, kegiatan yang jelas dan terukur; (3) Pengendalian dan pengawasan yang objektif; (4) Penegakan hukum, aturan yang jelas; (5) Reward dan Punishment.
KESIMPULAN
Bahwa Reformasi birokrasi adalah inti reformasi nasional, karena reformasi di semua bidang pasti bersentuhan dengan dan oleh birokrat, Sasaran reformasi birokrasi adalah perubahan dan pembaharuan mindset (pola pikir), yang berpengaruh pada sikap (attitude) dan perilaku (behavior) birokrasi.
Reformasi birokrasi merupakan upaya melakukan perubahan untuk menuju kepemerintahan yang baik (good governance). Kerenanya reformasi birokrasi tidak hanya sekedar tuntutan dan tantangan teta[i menjadi hal yang pasti dan harus dilaksanakan terprogram, kontinyu dengan jangka waktu yang terukur.
Dari uraian pada bagian sebelumnya, penulis mencoba memberikan simpulan bahwa pola pikir, sikap dan perilaku sumber daya manusia aparatur (birokrat) sangata bepengaruh terhadap birokrasi pemerintah sebagai pelaku dan target sasaran kebijakan. Perubahan pola pikir, sikap dan perilaku, sangat berperan dan menentukan dan menjadi salah satu strategi dalam reformasi birokrasi. Aspek yang sangat menentukan dalam proses perubahan pola pikir, sikap dan perilaku birokrasi diantaranya adalah kebijakan publik, knerja dan akuntabilitas sebagai gambaran dan alat ukur reformasi birokasi. Demikian kesimpulan yang dapat penulis sampaikan dan semoga bermanfaat.
Bandung, Juli 2012.
DAFTAR PUSTAKA
Zainal Abidin, Said, Kebijakan Publik, Jakarta, Suara Bebas, 2006
Gunawan, Adi, The Secret of Mindset, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2007
Gunawan, Adi, The Secret of Mindset, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2007
Rewansyah, Asmawi, Reformasi Birokrasi Dalam Rangka Good Governance
_________,Jakarta, Yusaintanas Prima, 2010
Sedarmayanti, Reformasi Adminstrasi Publik, Reformasi Birokrasi dan Kepemimpinan Masa Depan, Bandung, Refika Aditama, 2010
Said, M. Mas’ud, Birokrasi di Negara Birokratis, Malang, MM press, 2010
Wahab, Abdul Solihan, Analisi Kebijaksanaan, Dari Formulasi, Ke Implementasi Kebijaksanaan Negara, Jakarta, Bumi Aksara, 2004.


pengampunan dan penerimaan ulang dari TUHAN menjadi titik sejarah iman

 YESAYA 44 :21-28 Jemaat yang dikasihi Tuhan Berita pengampunan yang baru kita baca memiliki dampak yang begitu besar bagi perjalanan iman...