Sabtu, 27 September 2014

Renungan Efesus 5 : 8-10 ; Pengkhotbah 5 :7-9

DI sepanjang minggu yang berjalan ini dalam suasa perayan GMIM Bersinode yang ke-80 sebagai warga GMIM Kita merenungkan bagian firman Tuhan dengan Tema Bulanan : Keadilan yang gerejawi dan Tema mingguan, HIDUP DALAM TERANG BERBUAHKAN KEADILAN.
Belakangan ini aliran listrik ke rumah kita seringkali diputuskan oleh PLN. Ini menjadi persoalan klasik yang nampaknya belum dapat diselesaikan. Ketika aliran listrik dipadamkan banyak orang protes, marah marah dan tidak setuju. Intinya disini adalah  kita tidak ingin hidup dalam kegelapan, melainkan kita mau hidup dalam terang  karena kegelapan akan menghambat aktivitas kehidupan dan menimbulkan kekhawatiran ,ketakutan, ketidakpastian bahkan membuat hidup kita susah.
Walaupun demikian manusia kadang kala lebih mencintai  kegelapan .  keadaan gelap yang berkepanjangan kadangkala  telah melatih manusia  untuk hidup didalamnya, contohnya adalah Ketika lampu-lampu menjadi padam, secepatnya kita mengusahakan adanya penerangan lain agar kita tetap dapat berjalan tanpa khawatir terantuk dengan benda-benda yang ada di dalam rumah. Tapi cobalah untuk tidak menyalakan penerangan apapun juga di dalam rumah. Kali pertama, kita cenderung memilih untuk tetap tinggal di tempat di mana posisi kita berada saat kegelapan itu datang. Saat harus berjalan, langkah kita penuh kehati-hatian. Tetapi, jika kita lebih lama lagi tinggal di dalam kegelapan itu, lambat laun kita dapat ber-adaptasi [menyesuaikan atau mencocokkan diri] dengan keadaan gelap itu. Mata kita akan terbiasa dengan kegelapan dan kita dapat melangkah lebih yakin dari sebelumnya, karena keadaan gelap yang berkepanjangan itu telah melatih kita untuk hidup didalamnya.
Firman Tuhan menjelaskan bahwa mereka yang diam di Efesus dahulunya hidup di dalam kegelapan dengan rupa rupa perbuatan kecemaran yang membuat hidup kehilangan makna.  Mereka telah terbiasa dan terlena dengan jalan hidup yang berdosa . Perbuatan kegelapan inipun kita baca dalam konteks pengkhotbah 5 :7-9. Paling tidak ada  3 hal yang diangkat tentang kondisi  manusia yang gelap yaitu : menindas orang miskin, memperkosa keadilan dan mendewakan kekayaan.
Kondisi ini membuat Manusia menjadi homo homini lupus atau manusia adalah serigala bagi manusia lain. Dalam ungkapan lain  manusia  seringkali menjadi serigala yang  selalu menerkam dengan cara apapun demi keuntungan pribadi meski mengorbankan orang lain,  yang kuat menindas yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin, yang berkuasa memperkosa keadilan.
Semua ini telah merusak citra dan gambar diri manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah.


 Ini mengakibatkan manusia tidak hanya kehilangan makna dan tujuan hidup  tetapi juga kehilangan arah pengharapan ke depan . Berbagai perbuatan yang  mereka lakukan  membuat murka Allah dan selayaknya mereka akan mendapatkan penghukuman. Semua hal itu terjadi karena sebelumnya mereka tidak mengenal Kristus Yesus yang membawa terang kedalam hidup mereka. Intinya mereka sangat membutuhkan terang cahaya kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari Kristus.
Namun  dalam konteks Efesus  perbuatan kegelapan yang mereka lakukan adalah masa lalu , kasih Tuhan telah menjamah hamba hamba pelayannya yang mau melakukan tugas penginjilan dan pemberitaan Firman Tuhan yang tak kenal lelah , tak kenal menyerah dan mau berkorban bagi orang lain demi berita Injil, . Berita Injil mereka sebarkan di Efesus dan oleh perbuatan Roh Kudus sekarang mereka telah berpindah dari gelap ke terang.

Terang inilah yang dibutuhkan manusia dari masa ke masa,  terang yang sesungguhnya bukan hanya terang yang biasa kita lihat. terang itu merupakan hasil karya penciptaan yang pertama, namun  manusia dapat menikmati terang jika bergantung pada Tuhan sendiri. Kepercayaan seperti ini juga diteguhkan oleh Nabi Yesaya yang berkata: ''Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu.'' (Yesaya 60:20)
Dalam  firman yang ditujukan kepada umat di Efesus, Paulus menegaskan jikalau mereka sekarang adalah terang di dalam Tuhan, maka nampakkanlah perbuatan, sikap dan cara hidup   seperti anak-anak terang.
Anak anak terang akan dapat dengan mudah diketahui kualitasnya melalui buah yang dihasilkan. Dari buah yang dihasilkan orang kita dapat menilai apa yang tersembunyi dalam hatinya. Hati yang telah diterangi kasih Kristus seharusnya berbuah cahaya terang yang menerangi kegelapan disekelilingnya. Pengaruh terang bagi kehidupan itu akan memunculkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Ketiga hasil atau buah terang itulah yang akan mendukung kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan manusia.
Sekarang dalam konteks kita sebagai warga negara Indonesia. Kita menyaksikan kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh masalah . Korupsi dan ketidakadilan terus kita dengar dan jumpai. Rakyat menjadi korban oleh perbuatan oknum pejabat yang memperkaya diri sendiri. Hari demi hari dipenuhi dengan berita penangkapan KPK akibat keserakahan dan penyalagunaan kekuasaan sementara hutang negara semakin membengkak setiap tahun. Belum lagi Angka kemiskinan terus meningkat. 
Disini juga  Tuhan menempatkan kita sebagai warga gereja  untuk hidup dan berkarya di tanah Minahasa ini , diinjili dan mengenal Yesus melalui pelayanan Gereja Masehi Injili Minahasa yang telah bersionde ke-80. Kita melihat disekitar kita masih banyak kegelapan disana sini. Masih banyak saudara saudara kita yang hidup dalam kegelapan , mungkin keluarga kita terdekat, mungkin teman dan sahabat kita, mungkin tetangga kita yang sementara berjalan dalam kegelapan karena hidup jauh dari persekutuan dengan Tuhan. Mereka membutuhkan terang dan siap yang mau pergi untuk mereka. Kalau saja Rasul Paulus tidak pergi memberitakan Injil di Efesus maka pasti mereka tetap hidup dalam kegelapan. Demikian juga kita yang sudah hidup dalam terang dipanggil untuk membawa terang itu menyinari kegelapan supaya semuanya dalam kebersamaan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Tuhan memanggil manusia untuk hidup dalam terang-Nya, Dalam dinamika hidup dengan tantangan dan persoalan, saat suka dan duka, dalam setiap tugas aktivitas, mata pencaharian dimanapun kita pergi dan berada marilah kita  mengarahkan diri pada Sang Terang itu, sehingga kehidupan ini dipenuhi dengan kebaikan, keadilan dan kebenaran.

Jumat, 29 Agustus 2014

PESAN PENTING BAGI DIRI SAYA !

Pesan penting saat ini :
1. Hiduplah sehat dengan rajin berolaraga, menggerakkan badan, mengatur pola makan, mengelola pikiran
2. Jangan terbeban dengan pekerjaanmu.
3. Manusia hidup untuk menghidupkan orang lain. (ST3)
4. Dimanapun kamu ditanam berkembanglah.
5. Untuk kemajuan jangan takut , jadilah pribadi yang berani sebab dengan keberanian kita dapat menyelesaikan banyak hal.
6. Jangan mengasihi diri karena kekurangan mu tapi jadikanlah itu motivasi untuk berbuat yang terbaik meski dalam kekuarangan.
7. Bertobatlah dan hiduplah dalam kebenaran.
8. Cintailah istri, anak dan keluargamu dengan segenap hatimu.
9. Hati hati dengan pemborosan , kelola keuangan dengan  bijaksana, hemat dan rajin menabung tapi suka menolong orang lain.
10. Rajin rajinlah berbuat baik sekecil apapun itu.
11. Peganglah prinsip dan berdirilah pada kebenaran dan jangan takut kehilangan apa apa karena berdiri pada prinsip.
12. Jujurlah dengan keuangan yang dipercayakan padamu, jauhkan jiwa korupsi dan belajarlah benar dengan uang.

PEMIMPIN 28/8/14

Hari ini banyak pengalaman berharga dalam kehidupan saya.
Sebagai pemimpin
1. Menyelesaikan masalah
Pagi pagi saya mendapatkan telepon dari seorang perangkat desa yang mempertanyakan operasional A.D.D yang " katanya " belum diserahkan Ka des. Disini laporan ini jangan langsung di benarkan maka saya pun langsung lakukan kroscek dengan Ka des. Menurut penjelasan pak Kades tidak benar demikian. Kades pun meminta identitas pelapor tapi dalam rangka kerahasiaan informasi maka saya tidak sampaikan. Untuk pembuktian maka saya pun mendapat ide langsung untuk mempertemukan kedua pihak yaitu pelapor dan terlapor. Saya segera menindaklanjutinya, tidak menunda nunda dan langsung respon. Ternyata sang pelapor " tidak mau bertemu" banyak alasan . Saya pun meminta Ka des untuk datang  dan bawa bukti kwitansi penerimaan dan memang Kades datang ke kantor , mengadakan klarifikasi dan menunjukkan buktinya. Saya pun menfotocopy bukti tersebut dan mengambil keputusan sementara bahwa pelapor ini hanya cari masalah saja.
2. Menahan emosi, mampu mengendalikan diri dan sabar.
Ada masalah yang saya  komunikasikan dengan atasan tentang ketidakpuasan salah satu desa dengan pemindahan lokasi kantor camat . Saya pun langsung memberi saran kepada atasan dan didengar oleh teman teman kantor. Pembicaraan sebelumnya berjalan baik tapi teman teman yang mendengar " tanpa etika" langsung berubah menjadi kompor , mereka tertawa tapi tertawa ini lain yaitu menyinggung perasaan. Perasaan dan posisi saya seperti tersudut, tapi bersyukur saya dapat menahan emosi, mengendalikan diri dan sabar, meski pendapat saya tidak diterima malah di balas dengan candaan yang tidak tepat dari teman teman.
Herannya kalau dirumah tangga pengalaman sebelumnya emosi saya cenderung tidak terkendali , meledak bahkan barang barang sekitar jadi sasaran akibatnya memalukan diri sendiri dan dapat menghancurkan masa depan keluarga.
3. Jerih juang dan upaya kerja kita sebagai pemimpin dihargai oleh jemaat dan masyarakat
Sore hari saya diundang oleh Salah satu gereja untuk menghadiri HUT seorang pendeta ketuanya. Begitu saya tiba suasana sangat meriah, ada bangsal sukacita, banyak orang diundang . Saat masuk bangsal berjejer makanan di meja meja yang disedikan secara sukarela oleh anggota jemaat hanya untuk merayakan HUT seorang pemimpin. Begitu besar maknanya dalam acara ini yaitu kerelaan untuk membagi dan kedewasan dalam memberi dan menghargai pemimpin oleh jemaat. Bila sudah begini berarti pemikiran saya sang ketua ini pasti telah memberi yang terbaik, dicintai jemaatnya sehingga mereka rela membuat acara untuk sang pemimpin. Tentu kalau sudah begini maka otomatis sang pemimpin harus terlecut untuk lebih memberi yang terbaik.

Jumat, 27 Juni 2014

TUGAS TUGAS DIKANTOR

Jadilah teladan di kantor dalam banyak hal. Patuh, dengar dengaran, loyalitas pada atasan. Berilah masukan, bangun komunikasi dan jangan bertindak sebagai atasan meski kita lebih tahu. Biarlah sebagai bawahan kita betul betul dibentuk menjadi masak bukan karbitan. Anggaplah apa yang terjadi adalah proses untuk membentuk kita supaya kita siap menjadi pemimpin. Semuanya pasti ada makna dan artinya.

MASALAH KESEHATAN

Puji syukur pada Tuhan atas kesehatan dan nafas hidup yang Tuhan masih beri dalam saya menjalani hari hari ini. Meski memang saya banyak dosa pada Tuhan dan saya mau merubah hidup saya supaya berkenan dan layak meminta kepada Tuhan. Orang berkata sakit adalah tanda dari tubuh, Sakit juga dapat menjadi sarana untuk mengingatkan apa yang sudah kita buat dalam hidup ini. Yang pasti meski dalam kesulitan tetap mengucap syukur, memuji Tuhan, mendekat kepada Tuhan dalam firman dan doa sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Pasrah dan berserah kepadaNYa sebab apa yang Tuhan buat baik adanya.
Secara pribadi memang hari hari ini penuh kesibukan tapi juga penuh kekuatiran dengan kondisi tubuh yang terasa tidak fit, cepat lelah dan merasa sakit di bagian organ tubuh tertentu. Ada kerinduan untuk memeriksakan di dokter ahli tapi masih menunggu uang. Semoga saja Tuhan menyembuhkan dan semuanya baik baik saja. HIDUPLAH BERKUALITAS

TERUS BELAJAR

Dalam rangka peningkatan kualitas, pengembangan karier maka saya melanjutkan ke tingkat S2 meski memang tidak gampang, banyak tantangan, termasuk membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, dan juga aktifitas organisasi. Lanjut studi memang juga butuh dana yang besar. Jadi perlu pengetatan anggaran dan penghematan. Disini kelemahan saya yang banyak kali boros dan mengeluarkan biaya untuk hal hal yang tidak penting akibatnya di akhir  bulan juni 2014 ini, masih ditengah bulan anggaran bobol, mengakibatkan beban pikiran , kecemasan, kekuatiran dan juga kesulitan. Pinjam sana dan pinjam sini akibatnya ketika gaji datang tutup sana tutup sini. Saatnya untuk belajar dari pengalaman pengelolaan keuangan selama ini yang gagal untuk menata gaji supaya tidak bobol dengan pengeluaran pengeluaran yang ada. Saya sebenarnya mengelola keuangan sendiri tidak diberi kepada isteri dan ini memang salah, sampai saat ini keuangan habis pakai , ndak ada tabungan. Beruntunglah ada berkat terus dan aman aman saja, tetapi tetap saya merasa harus ada pembenahan total apalagi dengan biaya kuliah yang mendekati akhir semakin banyak. Jalan satu satunya adalah mengadaikan gaji di bank, beruntung saja pinjaman di bank periode lalu akan selesai bulan depan jadi ada dana fresh untuk penyelesaian studi. Ini yang sementara saya usahakan untuk modal selesai studi.
Disatu sisi memang keluarga kami sudah ada modal tanah, anak masih kecil, keluarga muda  tetapi masih ada hutang kepada orang tua yang cukup besar dan sekarang mengangsur mobil yang besar biayanya setiap bulan. Biaya kredit  terus terang ditanggulangi selalu oleh isteri melalui penghasilannya karena memang idenya untuk pengadaan kendaraan baru meski saya memang agak tidak setuju tetapi ya jalani saja.

pengampunan dan penerimaan ulang dari TUHAN menjadi titik sejarah iman

 YESAYA 44 :21-28 Jemaat yang dikasihi Tuhan Berita pengampunan yang baru kita baca memiliki dampak yang begitu besar bagi perjalanan iman...