Kamis, 30 Mei 2013

reform 2 birokrasi


Mengawal Sendi-Sendi Kehidupan Bangsa

Wakil Presiden Boediono membuka Kongres ke-2 Persatuan Alumni GMNI

Foto
Waki Presiden Boediono di Kongres ke-2 Persatuan Alumni GMNI. (Foto : Jeri Wongiyanto)
Surabaya. Berada di tengah-tengah alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI, membuat hati Wakil Presiden (Wapres) Boediono ikut terbakar. “Merdeka!” pekik Wapres menyampaikan salam kebangsaan di pembukaan Kongres II Persatuan Alumni (PA) GMNI, Jumat 26 November 2010 di Grand City, Surabaya. Hadir di acara itu, Ketua PA GMNI Palar Batubara, Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang juga alumni GMNI, Ketua Dewan Pakar GMNI TB Silalahi, Ketua Dewan Pertimbangan GMNI Siswono Yudhohusodo, beberapa Kepala Daerah yang juga alumni dari GMNI, seperti Gubernur Sulawesi Utara Sarungdajang, Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih, dan Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek

Sebelumnya, kongres pertama PA GMNI berlangsung pada 2006 sebagai konsolidasi awal. Saat itu kehadiran para alumni hanyalah atas nama individu. PA GMNI masih menata diri menjadi suatu kekuatan untuk mewadahi alumni GMNI. Organisasi ini sekarang sudah berkembang memiliki 22 pengurus di tingkat provinsi serta 117 di tingkat kabupaten/kota.

Alumni GMNI tersebar di mana-mana dengan latar belakang agama, pendidikan, profesi, maupun partai politik yang berbeda-beda. "Alumni GMNI harus berada di mana-mana, dapat ke mana-mana, tapi tetap bersama-sama," kata Palar seraya menegaskan bahwa PA GMNI tidak beraliansi dengan partai politik manapun."Kami tetap independen," tegasnya.

Secara politik, Palar menegaskan, Alumni GMNI akan terus mendukung Pemerintah selama empat pilar bangsa dipegang teguh. “Pancasila, UUD 45, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika adalah empat  pilar yang harus dipegang terus dalam membangun bangsa,” tegas Palar. Oleh karenya, tema Kongres II PA GMNI kali ini adalah “Memperkokoh Negara Pancasila.”

Dalam sambutannya, Wapres memaparkan nasionalisme dan demokrasi. "Berbicara mengenai nasionalisme di antara alumni GMNI seperti berkhotbah di depan kyai,” ujar Wapres bercanda. Intinya, Waspres mengingatkan kembali bahwa Republik Indonesia berdiri atas dasar kesepakatan para pendiri bangsa untuk hidup bersatu dengan damai di antara berbagai perbedaan.

Selain perasaan senasib yang mendorong kesepakatan itu, para pendiri bangsa juga membuat satu pijakan yang kokoh sebagai acuan masa depan bangsa. "Sebab, jika hanya berdasarkan perasaan senasib, tidaklah cukup Sebuah bangsa harus mempunyai dasar untuk masa depannya. Pijakan masa depan inilah yang harus kita kawal bersama," kata Wapres.Empat pilar yang disebutkan Palar sebelumnya adalah acuan masa depan dan pijakan bangsa itu..

Rasa kebangsaan itu harus tetap kita kawal karena selalu ada tantangan, baik dari luar maupun dari dalam. Tantangan dari luar adalah desakan globalisasi yang berjalan dengan sangat cepat dalam beberapa dekade terakhir ini. Dalam era globalisasi. menurut Wapres, konsep negara bangsa justru sagat diperlukan. Penghayatan pada bangsa sendiri harus menjadi prioritas. Semua warga seyogyanya tunduk pada sasaran ini. Bangsa kita memiliki elemen yang cirinya berbeda-beda. Kalau memang kita mencintai bangsa ini, tak bisa tidak, kita harus menyatukan diri. Perbedaan tentu boleh, tapi payungnya adalah kita negara bangsa yang harus bertarung di arena global.

Dalam glonbalisasi, sebuah bangsa memerlukan kemampuan berdiplomasi dan bernegosiasi. Ini adalah suatu keniscayaan. Globalisasi berarti banyak sekali aturan main yang ditentukan dalam forum-dorum dunia. Jika kita tidak mempunyai kemampuan bernegosiasi dan berdiplomasi, maka aturan main tadi bisa jadi akan merugikan Indonesia karena tidak sesuai dengan kemampauan negeri ini. Maka kemampuan berdiplomasi adalah wajib. Adalah tugas kita semua untuk memperjuangkan kepentingan Bangsa di banyak forum internasional di berbagai bidang. Dalam konteks ini, patut diingat bahwa nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang sempit. "Bahkan Bung Karmo pun pernah menegaskan: Nasionalisme Indonesia harus tumbuh subur di Tamansari Internasionalisme.Justru nasionalisme kita adalah landasan untuk berkompetisi di luar, bertarung di segala bidang," kata Wapres.

Sedangkan tantangan dari dalam untuk nasionalisme yang paling utama adalah munculnya rasa ketidakadilan di antara warganya. Keadilan di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, hukum, hingga politik adalah perajut persatuan. Jika rasa keadilan tercederai, maka persatuan akan terancam pula. Kita harus memerangi ketidak adilan dan memperkuat rasa keadilan di antara kita. Penjabarannya bisa melalui berbagai langkah. "Jangan sampai satu kelompok saja yang ingin mendapatkan semua," tutur Wapres.

Tantangan dari dalam yang lain adalah primordialisme. Ini berupa penonjolan kekhususan suku, agama, dan berbagai ciri lain, yang melebihi kebersaaman sebagai satu bangsa. Kalau menonjolnya terlalu besar, rasa kebangsaan akan terganggu. Tentu, ini bukan berarti kita tidak boleh berbeda. Sejak awal justru bangsa Indonesia sepakat berbeda-beda namun bersepakat hidup bersama. Primordialisme harus kita jaga agar jangan sampai melebihi landasan hidup bersama.

Sedangkan mengenai demokrasi, Wapres kembali menyampaikan pandangannya akan perlunya menjaga kualitas demokrasi kita agar tidak gagal lagi seperti yang pernah terjadi pada dekade 50-an. Sebab secara terus menerus demokrasi juga menghadapi tantangan. Demokrasi bisa macet tidak berjalan baik atau disfungsional. Ini terjadi jika pemerintahan lumpuh dan tidak efektif memberikan hasil nyata kepada rakyat.

Sedangkan persoalan kedua adalah rusaknya demokrasi secara pelan-pelan, mengalami degradasi.Ini terjadi jika praktek money politics dibiarkan marak. Sehingga, suara rakyat tidak lagi tertampung di dalam demokrasi. Kalau pelaku money politicsbisa membeli kebijakan dengan uang, maka landasan dasar demokrasi sudah tidak ada. Sebab, hakekatnya demokrasi seharunsya merupakan penyaluran isi hati rakyat. "Money politics adalah mekanisme pasar yang salah yang diterapkan pada demokrasi," kata Wapres.

Sedangkan sebab kedua yang membuat demokrasi rusak adalah politisasi birokrasi. Jika birokrasi boleh dipolitisasi, artinya birokrasi tidak lagi melayani kepentingan bangsa melainkan melayani kepentingan tertentu.

Di penghujung sambutannya, Wapres mengajak semua orang meerenungkan hakekat nasionalisme dan patriotisme. Seorang nasionalis  belum tentu seorang patriot, tapi seorang patriot sudah pasti seorang nasionalis. Patriotisme adalah nasionalisme plus kesadaran untuk berkorban,. Di sini ada perbedaan antara nasionalisme yang aktif dan pasif. Maka yang kita perlukan adalah patriot-patriot. yang cinta pada tanah air dan mau berkorban. Sebab, cinta memang pengorbanan. "Generasi kita dan juga pahlawan pendahuku kita memang sudah takdirnya, belum menjadi generasi yang akan memetik buahnya. Anak cucu kita nanti yang akan memetik buahnya," tutur Wapres. (Bey Machmuddin)


BANDUNG– Wakil Presiden (Wapres) Boediono menegaskan, birokrat tak boleh bermain politik dalam melaksanakan tugasnya. Birokrasi harus tunduk pada keputusan politik.
Di lain pihak, politisi juga jangan menyeret birokrat ke kancah politik. Interaksi yang tak sehat antara birokrasi dan politik memiliki akibat sistemik yang serius, yakni birokrasi berkinerja rendah dan korup.
Boediono menyampaikan hal itu dalam sambutan dengan judul “Jalan Penuh Tantangan Menuju Konsolidasi Demokrasi” saat membuka Sidang Pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia XIV di Bandung, Selasa (20/7/2010) malam ini. Bila birokrat bermain politik, tambah Wapres, delegitimasi hanya menunggu waktu.
Politisasi birokrasi merupakan fenomena lain yang perlu diwaspadai jika Indonesia ingin menjaga kualitas dan efektivitas kebijakan publik. Pada gilirannya, kebijakan publik akan ikut menentukan kualitas kinerja sistem politik secara keseluruhan.
“Bila mesin penggerak utama pemerintahan tak berjalan baik, kita tak bisa mengharapkan pemerintahan dan sistem politik yang menghasilkan manfaat bagi rakyat,” tuturnya.
Wapres menambahkan, jalan menuju demokrasi penuh kerawanan. Kewaspadaan dan komitmen bersama diperlukan agar kondisi itu bisa dilalui dengan selamat.
Boediono menuturkan, demokrasi dapat mengalami degenerasi karena, antara lain, politik uang serta penyalahgunaan kewenangan publik dan korupsi.
This post was submitted by KOMPAS.


Integritas birokrat


Sambutan Wakil Presiden Pada Acara Pengukuhan Pamong Praja Muda Lulusan Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XIX

Jatinangor, 6 September 2012

Bismillahirrahmanirahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Pada kesempatan yang berbahagia dan membanggakan, saya secara khusus ingin mengucapkan selamat kepada para Pamong Praja Muda yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ucapan selamat juga saya sampaikan kepada para orang tua dan keluarga atas keberhasilan putra-putrinya dalam menyelesaikan pendidikan di IPDN.

Dengan pengukuhan Saudara sebagai Pamong Praja Muda, Saudara akan memasuki babak baru  dalam kehidupan Saudara, yaitu melakukan pengabdian yang sesungguhnya kepada bangsa dan negara.

Saudara akan ditempatkan di jajaran pemerintahan baik di Pusat maupun di Daerah. Berbekal ilmu pengetahuan yang Anda miliki, kalian nanti akan menjadi pelaksana  pemerintahan di daerah dan di bidang masing-masing.

Kegiatan pemerintahan mempunyai  satu tujuan utama, yaitu melayani masyarakat, dengan efisien, dengan cara yang berkeadilan, dan tanpa diskriminasi.

Saudara-saudara sekalian,

Dalam mengemban tugas itu, Saudara senantiasa dituntut untuk bersikap profesional, netral dan teguh dalam menjaga integritas. 

Sebagai seorang profesional kalian harus tahu bagaimana mengerjakan tugas-tugas kalian sesuai dengan kaidah-kaidah profesionalisme.

Memang, tidak ada orang yang tahu segalanya, dan tidak boleh seseorang merasa sudah tahu segalanya, lalu bersikap tertutup dan tidak mau belajar lagi. Oleh karena itu, pesan saya yang pertama kepada kalian adalah terus ikuti perkembangan bidang ilmu kalian, terus kembangkan kemampuan pribadi kalian dengan sikap dan semangat tiada hari tanpa belajar sesuatu yang baru.

Pesan saya yang satu lagi adalah :
Jagalah integritas kalian dengan sungguh-sungguh. Karena itulah yang sebenarnya milik kalian yang paling berharga dalam karier kalian dan dalam  hidup ini. Itulah yang akhirnya menentukan martabat kalian sebagai  manusia,sebagai pejabat, sebagai pemimpin, di mata rakyat dan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Kalian telah memilih sendiri bidang pemerintahan sebagai bidang pengabdian kalian. Pemerintahan adalah bidang pengabdian yang sangat mulia.

Di sini Anda bisa berbuat sesuatu yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Di sini Anda dengan kewenangan publik yang dilimpahkan kepada Anda, dapat berbuat banyak untuk memerangi kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan yang masih dialami oleh rakyat  kita. Disinilah tempat kalian dapat memperoleh kemuliaan, kehormatan, kebanggaan, rasa terima kasih dan kecintaan  dari rakyat.

Di suatu kesempatan lain saya pernah mengatakan bahwa apabila tujuan utama hidup seseorang adalah memupuk harta dan mengeruk keuntungan, pemerintahan bukanlah tempatnya. Karena, kalau itu tujuan utama hidupnya, maka risikonya tinggi akan terjadi penyalahgunaan kewenangan publik untuk kepentingan privat atau kepentingan pribadi. 

Apabila ini terjadi, akibatnya fatal : kepribadian orang itu akan rusak, dan negara juga akan rusak. Jadi, integritas pribadi adalah kunci bagi segalanya. Dalam perjalanan karier Anda, Anda akan menghadapi  berbagai ujian yang menyangkut integritas Anda. Jangan pernah lupakan pesan saya yang satu ini : Jagalah integritas Anda baik-baik.

Kalian adalah Abdi Negara, bukan abdi dari kelompok tertentu atau kepentingan abdi tertentu. Pengabdian Anda adalah untuk kepentingan negara dan kepentingan umum. Kepentingan negara dan kepentingan umum harus menjadi  tujuan utama dan pertimbangan tertinggi dalam melaksanakan tugas-tugas Anda sebagai pejabat pemerintahan.

Pesan saya yang lain adalah :
Berjiwalah pemimpin. Jangan biasakan mengeluh, kecewa, apalagi frustasi jika dihadapkan pada situasi sulit dalam pelaksanaan tugas, Sebab hanya mereka yang pernah melalui masa-masa sulit dan kritis di dalam perjalanan karier dan kehidupannya yang berpotensi menjadi kader yang tangguh dan menjadi pemimpin sejati.

Sebagai pamong, Saudara dituntut untuk mampu melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Apabila tuntutan masyarakat terpenuhi, itu merupakan keberhasilan Saudara dalam mengabdi kepada masyarakat. Tetapi tidak jarang bahwa harapan masyarakat belum dapat dipenuhi.  Masyarakat merasa belum puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pamong.

Ini adalah tantangan yang menjadi tugas Saudara semua, sebagai unsur  aparatur negara, untuk mencari dan memberikan jawabannya. Dengan kompetensi yang Anda miliki dan dengan sikap dan semangat yang saya sebut tadi, kita semua yakin ,dan kalian sendiri harus juga yakin, bahwa  kalian dapat menjawab tantangan-tantangan itu dengan baik. Jadilah  penggerak dan pelopor pembangunan di daerah pengabdian Anda.

Saudara-saudara,

Akhir-akhir ini tata kelola pemerintahan mendapat sorotan tajam dari masyarakat, terutama karena banyaknya  kasus korupsi yang melibatkan pejabat di lingkungan birokrasi pemerintahan di pusat dan di daerah. 

Anda semua adalah tumpuan harapan kita untuk mendorong reformasi dan perbaikan aparat birokrasi di pusat dan di daerah. Kalian adalah prajurit-prajurit pembaharu di pemerintahan kita.Jangan lupa tugas yang satu ini.

Aparat pemerintahan harus bersih dari politik praktis. Apabila politik praktis masuk ke dalam jajaran birokrasi maka orientasi dan loyalitas aparat birokrasi akan menjadi kacau. Hal itu akan  menumbuhkan loyalitas sempit yang merongrong profesionalisme dan idealisme aparat pemerintahan, meningkatkan risiko terjadinya penyalahgunaan kewenangan dan bahkan korupsi.

Politik aparat birokrasi hanya satu, yaitu politik  kepentingan umum dan politik kepentingan negara. Hukumnya wajib bagi setiap abdi negara untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa, Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika.

Hal yang sama akan terjadi kalau kepentingan bisnis masuk ke dalam birokrasi. Politisasi dan komersialisasi aparat birokrasi dan jabatan birokrasi harus kita tolak dan kita tangkal. Kalian adalah garda terdepan pertahanan kita terhadap bahaya itu.

Sekarang saya ingin menyampaikan pesan-pesan saya kepada IPDN dan para pengelolanya. Dalam konteks pembangunan sistem pemerintahan, IPDN mempunyai peran yang strategis. IPDN sebagai lembaga pendidikan harus mampu merancang kurikulum dalam sistem pendidikan yang dinamis dan akseleratif guna menjawab tantangan permasalahan bangsa yang juga sangat dinamis.

Kuncinya disini adalah pada para dosen dan pembimbing yang harus senantiasa meningkatkan kualitas dan kemampuan masing-masing agar para Pamong Praja Muda dapat disiapkan menjadi aparatur birokrasi yang tangguh, profesional dan berintegritas. Sikap keteladanan para pembimbing dan tenaga pengajar merupakan kunci  utama pembentukan karakter dan kepribadian para lulusan institut ini.

Beberapa waktu lalu  telah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap IPDN. Saya minta rekomendasi-rekomendasinya ditindaklanjuti sehingga dapat membawa perubahan menyeluruh pada sistem akademik, pola pengasuhan, tata kelembagaan dan SDM, serta penyiapan sarana dan prasarana pendidikan.

Kepada pimpinan  IPDN, tenaga akademik dan sekretariat, saya harapkan untuk  terus memantau penyelenggaraan pendidikan di kampus ini dan kampus-kampus lain yang tersebar di berbagai provinsi. Upayakan standar kualitas pendidikan yang diterapkan berlaku sama di semua kampus IPDN.

Selain peningkatan kualitas pengajar, penambahan buku-buku di perpustakaan, perbaikan suasana hubungan sosial di lingkungan kampus, tidak kurang pentingnya perbaikan gizi dalam menu makanan para praja wajib terus ditingkatkan. Kita tidak ingin lagi mendengar kampus IPDN menjadi bahan gunjingan karena berbagai kasus kekerasan yang pernah terjadi. Jadikanlah lembaga pendidikan ini sebagai kebanggaan bagi  bangsa Indonesia dan tumpuan harapan kita semua bagi lahirnya kader pemerintahan yang unggul di masa depan.

Demikianlah pesan-pesan saya untuk IPDN. Kepada para Purna Praja yang hari ini dikukuhkan menjadi Pamong Praja Muda dengan menyandang gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan untuk Program Strata I dan Sarjana Sains Terapan Pemerintahan untuk Program Diploma IV sekali lagi saya sampaikan selamat. Doa dan harapan kita semua bersama Anda sekalian.

Keberhasilan pendidikan pamong praja merupakan keberhasilan seluruh civitas akademika IPDN. Untuk itu, saya sampaikan penghargaan yang tinggi atas kerja keras Saudara-saudara sekalian dalam mendidik, membina dan mencetak lulusan Pamong Praja Muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XIX tahun 2012.

Ke depan sistem pendidikan, kurikulum dan kualitas tenaga pengajar IPDN harus terus ditingkatkan  dan disempurnakan sesuai tuntutan zaman.

Akhirnya, dengan ini secara resmi Saudara-Saudara saya kukuhkan sebagai Pamong Praja Muda Lulusan Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XIX Tahun 2012. Selamat bertugas. Jangan kecewakan harapan rakyat. Semoga Allah SWT, senantiasa melimpahkan rahmat dan ridhaNya  kepada Anda semua dalam melaksanakan tugas-tugas Anda bagi bangsa yang kita cintai ini.

Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Wakil Presiden Republik Indonesia
Boediono

Reform birokrasi

Selasa, 28 Mei 2013 - 13:04 WIB
Wapres: Reformasi Birokrasi Perlu Tokoh-Tokoh Utama Yang Berani Lakukan Perubahan


Wakil Presiden (Wapres) Boediono mengemukakan, reformasi pada dasarnya adalah perubahan dari langkah lama yang rutin. Karena itu reformasi birokrasi pada tingkat makro maupun mikro memerlukan kehadiran tokoh-tokoh utama,champion alias kampiun atau juara-juara yang berani dan punya komitmen tinggi terhadap perubahan.
“Tujuan reformasi adalah melakukan perubahan dari yang ada. Maka champion tersebut harus orang, tidak bisa lembaga saja. Harus ada figur seseorang sebagai penggerak. Yang paling ideal adalah orang yang menjadi pimpinan dari lembaganya,” kata Wapres Boediono saat melakukan pencanangan pelaksanaan reformasi birokrasi pemerintah daerah di Birawa Hall, Gedung Bidakara, Jakarta, Selasa (28/5).
Menurut Wapres, suatu organisasi yang pucuk pimpinannya punya komitmen tinggi terhadap reformasi birokrasi, pasti jadi.” Tapi kalau tidak punya komitmen, dimana reformasi birokrasi diserahkan pada yang lebih bawah, hasilnya akan sub-optimal, karena ruang mereka yang di bawah akan lebih terbatas. Kalau seperti itu, yang terjadi akan pro-forma, di atas kertas baik tapi realitasnya tidak,” tegas Wapres.
Wapres meminta agar para daerah memunculkan tokoh kampiun atau juara yang memperjuangkan reformasi birokrasi dengan semangat tinggi. “Jangan menunggu didrop dari pusat, itu sulit. Tokoh kampiun atau juara itu harus ada di masing-masing provinsi dan kabupaten-kota. Langkah pertama adalah mengidentifikasi orang yang benar-benar menggerakkan proses perubahan. Mereka ini adalah orang-orang yang benar-benar memiliki dedikasi dan punya kemampuan melakukan perubahan,” ujar Wapres.

Wapres menekankan bahwa pelaksanaan reformasi birokrasi sangat tergantung pada rencana perbaikan sistem di masing-masing instansi yang semestinya dipetakan dengan sistematis dan kongkrit, serta terukur keberhasilannya. Selain itu, pelaksanaan reformasi juga memerlukan upaya ekstra untuk menjaga birokrasi dari kepentingan sempit atau pengaruh-pengaruh yang tidak sehat, yang tidak sesuai dengan tujuan awal. Politisasi birokrasi adalah kesalahan yang sangat fatal, demikian juga bila birokrasi lantas bersinggungan dengan kepentingan bisnis.

“Pada tingkat makro inilah ketegaran dari pimpinan masing-masing instansi dan pemerintah daerah sangat penting agar bisa mengamankan birokrasi dari pengaruh politik,” kata Wapres.

Wapres menekankan bahwa tugas pemerintah pusat adalah menfasilitasi proses reformasi birokrasi, terutama ketika sesuai otonomi daerah kewenangan administrasi berada di tangan pemerintah daerah. “Pemerintah pusat tidak akan mengambil alih. Upaya kita sejauh mendukung dengan asistensi tekhnis, dana dalam batas-batas tertentu atau kalau diperlukan mengambil kebijakan-kebijakan yang mendukung upaya reformasi di daerah,” kata Wapres.
Pencanangan pelaksanaan reformasi birokrasi pemerintahan daerah ini antara lain dihadiri oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar dan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Wakil Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi Eko Prasodjo, Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heryawan dan Wakil Menteri Kebudayaan Wiendu Nuryanti.
Hasil Tim Pengarah
Sebelumnya Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar mengemukakan, pencanangan ini merupakan hasil kerja Tim Pengarah Komite Nasional Reformasi Birokrasi, dimana telah disepakati bahwa tahun 2013 adalah dimulainya reformasi birokrasi pada pemerintah daerah kabupaten dan kota. Tujuan pencanangan ini adalah meningkatkan komitmen dan semangat pemerintah daerah dalam melaksanakan gerakan reformasi.
Dalam pencanangan tersebut, terdapat 98 pemerintah daerah yang menjadi pilot project dari gerakan reformasi. Ke-98 pemerintah daerah tersebut terdiri dari 33 pemerintah provinsi, 32 ibukota provinsi (30 kotamadya dan 2 kabupaten) serta 35 kabupaten.  Ke-98 daerah tersebut akan menyerahkan road map gerakan reformasi birokrasi di wilayah masing-masing yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tempat.

Wapres mengapresiasi upaya melakukan reformasi birokrasi yang dilakukan oleh 98 daerah pilot project. Menurutnya, apa-apa yang dilakukan ke-98 daerah tersebut harus disikapi sebagai batas bawah gerakan reformasi birokrasi, sehingga masing-masing daerah bisa kreatif dan inovatif dalam menerapkan langkah-langkah reformasi birokrasi di daerahnya.

Pada tahun 2012 Kementerian PAN telah merumuskan sembilan langkah percepatan reformasi birokrasi, yakni 1) penataan struktur birokrasi, 2) penataan jumlah maupun distribusi dan kualitas pegawai negeri sipil (PNS), 3) sistem seleksi dan promosi secara terbuka, 4) profesionalisme PNS, 5) pengembangan sistem pemerintahan elektronik (e-government), 6) penyederhanaan perizinan usaha, 7) pelaporan harta kekayaan pegawai negeri, 8) peningkatan kesejahteraan pegawai negeri, serta 9) efisiensi penggunaan fasilitas, sarana dan prasarana kerja pegawai negeri.

Selanjutnya, kata Menteri PAN, ke-sembilan langkah tersebut dapat diperas menjadi tiga titik berat yakni, penerapan zona integritas, anggaran berbasis kinerja dan pelayanan publik.
(Setwapres/ES)

10 Buah Kebaikan

Mari Kita Makan 10 Buah Kebaikan Setiap Hari

1. MARKISA (Mari Kita Sabar)

2. STRAWBERRY (Selalu Taat Rajin Memberi)

3. SALAK (Selalu Baik Dalam Bertindak)

4. JERUK (Jangan Berbuat Buruk)

5. PISANG (Pantang Iri, Sombong, dan Angkuh)

6. ANGGUR (Anda Gemar Bersyukur)

7. MELON (Menolong Orang Lain)

8. TOMAT (Tolong Menolong Antar Teman)

9. TALAS (Tak Ada Kata Malas)

10. MENTIMUN (Menuntut Ilmu Tidak Banyak Melamun)

Jumat, 29 Maret 2013

MASALAH MORALITAS


MASALAH  MORALITAS
Keluarga yang  kelihatan di “luar” baik baik saja, aman aman saja, serasi, harmonis, tapi siapa yang tahu isi hati ?
Tantangan keutuhan keluarga di zaman ini memang luar biasa. Godaan terhadap penyelewengan dalam keluarga, mengingkari janji pernikahan begitu kuat?
Semua berpulang pada pribadi.
Manusia memang telah jatuh dalam dosa, dan celah hawa nafsu begitu menggiurkan. Kita pun adalah terbuat dari “ daging”. Roh penurut tapi daging lemah demikianlah bunyi firman. Tergantung kita , apa kita mebuka celah, menyerah pada godaan atau melawan sekuat tenaga sampai mati terhadap godaan dosa ?
Laki laki dan perempuan itu beda secara seks , keinginan pada hasrat seksual itu pasti, karena tubuh ini dipenuhi hormon hormone seksualitas. Kalau kita tidak kendalikan bahaya? Itu juga yang terus digumuli setiap orang sepanjang masa.
Daud tokoh besar jatuh dalam godaan seks. Tokoh tokoh besar hancur keluarga, karir, pribadi karena penyelewengan seksual.
Godaan ituterus ada sepnjang zaman, bahkan semakin menggila.
Zaman sekarang lebih bahaya lagi, penyelewengan dan seks sudah menjadi bahasa biasa, bahasa umum.
Cerai, hugel, sudah bahasa hari hari.
Koran Koran dipenuhi berita berita seks, hugel, dan semacamnya. Seperti judul : Banyak IRT korban suami maniso.
Pengalaman ini pun jadi kenyataan dalam keluarga saya,
Rumah tangga kakak saya yang 20 tahun terbina, seperti aman, aman, tidak ada masalah, hancur seketika ketika seorang ibu, istri tanpa pemberitahuan, tanpa signal awal, lari dari rumah demi mencari cinta masa lalu yang bersemi kembali.  Padahal banyak orang mengira ini tidak masuk akal, mustahil. Karena ia tokoh masyarakat, disegani, banyak dipakai di pemerintah maupun jemaat, seorang tokoh pendidikan yang disegani sesuai penuturan kepalA UPTD karena ia kepala sekolah,pernah guru teladan, dan menerima sertifikasi guru,  di gereja apalagi seorang pelayan Tuhan, seorang penatua. Kalau Cuma masalah uang tidak masalah di keluarga.Tapi karena gelora nafsu, Ia pun bahkan rela meninggalkan suami, anak, dan semua jabatannya demi seorang laki laki, demi hubungan terlarang. Nama baik tercoreng, keluarga malu dan sampai tulisan ini dibuat belum ada kejelasan.
Belum lagi hilang masalah ini datang lagi masalah yang sama. Kali ini pun terjadi pada seorang tokoh gereja, seorang pendeta ketua jemaat, terindikasi curi curi pandang dengan seorang ibu anggota jemaat yang rumahnya di depan gereja, dekat pastori. Untunglah belum menjurus pada hubungan terlarang, dan masalah inipun terbuka karena kecurigaan dari suami dari ibu ini. Suami ibu ini memang bekerja di luar daerah, jarang pulang, tapi ia lakukan karena memang demi menafkahi keluarga. Bagaimanapun istri nya tidak kerja, anak 3, yang tua sementara kuliah, butuh biaya. Tapi ia curiga dengan perilaku istrinya yang mungkin butuh kasih sayang secara manusia, ingin dibelai, tapi ya suami kerja di luar daerah. Ibu ini pun memang di kalangan jemaat dan masyarakat dipanggil “artis” karena memang meski usia mendekati 40 tahun tapi selalu berpakaian menarik atau seksi . Entah mengapa dan ada pikran dari mana ,sang pendeta diam diam curi curi pandang, dan tertarik dalam hati. Memang istri pendeta inipun kerja, dan sangat mengejar karir. Mungkin tidak lagi memperhatikan kebutuhan jasmani dalam keluarga. Sang suami mungkin tidak diperhatikan lagi.  Ya, sudah bisa ditebak jadilah sesuatu yang mustahil, dan tidak seharusnya dilakukan seorang pendeta. Masakan sudah sering berkunjung ke rumah ibu anggota jemaat  ini tanpa alasan jelas, bahkan dalam pengakuan dosa sempat memeluk ibu ini dan mengajak untuk hugel. Ampun ya ampun apa yang terjadi . Dosa merajalela.
Orang orang yang dipandang tokoh tokoh justru begitu muda jatuh dalam godaan dosa.               Ini pun terus terjadi, belum lagi hilang kisah pendeta yang meneguhkan pernikahan saya , terjerumus dalam hubungan terlarang dengan anggota jemaat, seorang yang menurut istri berwibawa, tapi kepergok di hotel,
Kemudian, seorang rekan pendeta pelayanan  yang baru mutasi ke jemaat yang baru, dan tak lama kemudian terdengar kabar “affair” dengan pendeta ketua jemaat. Hancur ya hancur, siapa lagi yang bisa jadi teladan,
Belum lagi mantan atasan saya di kantor, hampir hancur berantakan keluarga karena “ affair dengan staf kantor  yang cantik, beruntung masih ada kata maaf dari istrinya. Tapi ya saya tidak tahu kalau mantan atasan saya ini sudah bertobat atau belum.
Saya pun mendengar kabar bagaimana seorang pemimpin daerah yang begitu jaya, dihormati dalam karir namun keluarga hancur, selama kepemimpinan tidak didampingi istri, karena istri strees, curiga, frustasi , dengan perilaku sang pejabat yang kalau keluar daerah, tidak jelas apa yang dilakukan , mungkin ada simpanan simpanan. Untuk apa karir sukses tapi keluarga hancur. Dan setelah mengakhiri jabatan, pisah ranjang suami istri, masing masing jalan sendiri meski ini memang tidak terekspos.

Hari ini pun saya bercerita dengan saudara tentang makhluk yang dinamakan perempuan ini.
Seorang pejabat non job di suatu kabupaten karena memang waktu tahapan pilkada ia begitu mendukung sang incumbent, namun incumbent kalah. Dalam pemerintahan baru otomatis ia diusulkan non job. Tapi ia cantik, menarik, mulus, begitulah pandangan laki laki.
Saat dikonsultasikan pergantian di tingkat yang lebih tinggi, pejabat penentu ini menanyakan : itu perempuan bagaimana? Dia diperbantukan saja di tempat ini. Wah, apa maksud? Bukankah dulu waktu tahapan pilkada ia marah dengan sikap perempuan ini, tapi ya begitulah.
Mungkin daftar cerita ini akan bertambah lagi, atau anda juga punya daftar yang banyak tentang kehancuran pribadi, rumah tangga hanya karena “kebun kecil” itu?
Oh Tuhan ampunilah, secara daging saya pun manusia menjadi sasaran godaan dosa ini.
Di dunia modern ini tidak gampang mempertahankan keutuhan rumah tangga, apalagi istri sudah tidak  menarik secara jasmani, atau suami tidak perhatian lagi , suami sibuk dengan karir.

Minggu, 20 Januari 2013

Pendapat bagus!

Pengamat politik Sulut, Dr Ferry Liando saat diwawancarai Tribun Manado, Sabtu (19/1/2013) menjelaskan, saat kampanye, pasangan ini mengumbar banyak program dan janji untuk membangun Minahasa.

"Ada banyak program dan janji yang telah disampaikan pada masyarakat. Bagi saya, setengah saja dari semua yang dijanjikan itu bisa ditepati maka akan sangat terasa pembangunan di Minahasa. Tidak perlu semuanya ditepati, setengah saja akan memberikan dampak yang luar biasa," ujarnya.

Liando menjelaskan, hal penting yang harus dilakukan pertama kali oleh pasangan ini adalah kembali menyatukan semua kekuatan warga di Minahasa. Menurutnya, saat ini potensi perpecahan sebagai dampak pemilukada masih terjadi. Menurutnya, warga terbagi menjadi lima kelompok dan perpecahan ini harus segera disatukan kembali.

Menurutnya, tugas JWS dan Ivansa sebagai pemimpin yang baru harus bisa meyakinkan semua masyarakat Minahasa untuk melupakan semua perbedaan pilihan. Menurutnya, persatuan semua warga bisa menjadi kunci dalam pelaksanaan program pembangunan.

"Paling utama adalah melakukan sosialisasi konsolidasi kepada masyarakat. Sebagai pemimpin, pasangan ini harus bisa merangkul semua masyarakat dan melibatkan mereka dalam program pembangunan," ujarnya.

Saat dimintai tanggapan soal rencana reformasi birokrasi yang akan dilakukan pada awal masa kepemimpinan JWS-Ivansa, Liando mengatakan, program tersebut sebenarnya tidak perlu dilaksanakan pada awal masa kepemimpinan. Menurutnya, tidak baik jika para pejabat diganti tanpa melihat kinerja mereka.

"Reformasi birokrasi atau penggantian posisi pejabat sebaiknya tidak dilaksanakan sejak awal. Harus ada kajian dan parameter penilaian yang jelas untuk menentukan posisi pejabat," ujarnya.

Dirinya mengatakan, jika memang ada pejabat yang potensial dan memiliki kemampuan pada bidangnya maka pejabat tersebut harus diperhatikan. Jangan menilai posisi pejabat berdasarkan keberpihakan saat pemilukada. Menurutnya, bukan rahasia lagi jika dalam setiap pelaksanaan pemilukada, para pejabat sering menjadi korban untuk mendukung pimpinan mereka.

Tribun Manado - Minggu, 20 Januari 2013 09:11 WITA

Selasa, 08 Januari 2013

Mzm 33



Seperti yang telah dikemukakan dalam renungan kemarin, mazmur ini memang kental dengan nuansa peperangan. Karenanya mazmur ini juga memberi banyak inspirasi dan ajaran berharga bagi Anda yang sedang menghadapi “peperangan” dalam kehidupan Anda.
Pemazmur membangkitkan iman kita dengan mengingatkan kuasa Tuhan yang bekerja atas seluruh penduduk bumi. Termasuk Anda, tentu saja. Kekuasaan itu berupa kemampuan Tuhan untuk melihat semua anak manusia. Tuhan menilik setiap orang bukan saja dari tampilan luarnya, melainkan juga apa yang ada di dalam hatinya. Daya jangkau kepedulian Tuhan kepada manusia – sekali lagi, juga kepada Anda – sangat luas dan sangat dalam, tiada batasnya.
Karena itulah pemazmur memberikan nasihat, yang juga berfungsi sebagai teguran. Pertama, kalimat ini tentu menegur orang-orang yang dengan sombong mengandalkan kekuatannya sendiri. Mereka seperti seorang raja yang mengandalkan para pahlawannya dan kuda-kudanya. Kedua, kalimat ini juga menegur orang-orang yang merasa putus-asa karena berada dalam situasi yang penuh kesulitan. Mengapa teguran semacam ini sangat diperlukan? Pada kenyataannya, seorang yang mudah merasa putus-asa adalah seorang yang cenderung mengandalkan kekuatannya sendiri.
Jika demikian, bagaimanakah kita harus bersikap ketika menghadapi kesulitan dalam hidup kita? Pertama, pemazmur menasihati agar kita tetap takut akan Tuhan. Kesulitan hidup sering membuat kita menghalalkan secara cara untuk mencari jalan keluar, bukan? Kedua, pemazmur menasihati agar kita berharap akan kasih setia-Nya. Kemampuan dan kekuatan kita memang terbatas, namun kasih setia Tuhan tidak terbatas. Ketiga, pemazmur menasihati kita agar menanti-nantikan Tuhan. Untuk melihat dan mengalami kuasa-Nya dibutuhkan kesabaran dan ketekunan. Dengan demikian kita tidak akan berputus-asa dan kehilangan sukacita kita. (TW)

Tuhan pasti akan bekerja dengan kasih dan kuasa-Nya, namun tidak selalu dengan cara seperti yang kita pikirkan dan tidak secepat yang kita harapkan

pengampunan dan penerimaan ulang dari TUHAN menjadi titik sejarah iman

 YESAYA 44 :21-28 Jemaat yang dikasihi Tuhan Berita pengampunan yang baru kita baca memiliki dampak yang begitu besar bagi perjalanan iman...