Kamis, 19 September 2013
19 September 2013
Hari ini satu hari menjelang HUT ke-36 besok hari, dengan pergumulan yang saya rasakan terutama kekuatiran akan sakit penyakit. Memang belakangan ini setiap mendekati HUT di bulan September ada saja sakit yang mampir. Sakit yang saya rasakan saat ini begitu menakutkan dalam pikiran, bayang bayang .....begitu menguras pikiran ini. Hanya pasrah saja dan berserah kepada Tuhan bila memang saya harus melewati UJIAN IMAN ini. Janganlah saya dihukum karena dosa dosa saya yang banyak ya Tuhan. Saya memang tidak layak dihadapanMu. Karir sementara dibangun, keluarga yang masih baru dibangun dan perjuangan hidup keluarga yang masih baru, hanya padaMu ya Tuhan hambaMu memohon di usia ini sembuhkanlah aku ya Tuhan dan berilah aku kesempatan untuk hidup, jauhkanlah dari segala hal yang tidak kami inginkan, mujizatMu nyata ya Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiMu, rancanganMu adalah rancangan damai sejahtera bukan rancangan kecelakaan, masa depan yang penuh harapan. Oh Tuhan tolonglah hambaMu ini yang berseru , bermohon, berdoa dengan penuh kerendahan hati sebab hidupku ada dalam tanganMu dan semuanya sia sia tanpa Tuhan. Apalah artinya hidup ini tanpaMu ya Tuhan . Dengan segala kesibukkan tugas pekerjaan sebagai PNS maupun dalam pelayanan yang dipercayakan memang dengan kondisi kesehatan saat ini adalah mujizat bisa eksis , inilah satu permohonanku diusia ke 36 ini ya Tuhan yaitu kesehatan dan kebebasan dari bayang bayang ketakutan, kecemasan dan kekuatiran akan sakit yang saya rasakan ini. Saya percaya dalam iman sembuh.
Kamis, 29 Agustus 2013
Khotbah minggu, 18 Agustus 2013
Kemarin tanggal 17 AGUSTUS KITA memperingati Hari
kemerdekaan bangsa Indonesia. Di berbagai tempat Banyak kegiatan dilaksanakan
untuk memaknai hari kemerdekaan. Merdeka tentu erat kaitan dengan kebebasan ,
bebas dari penindasan dan penjajahan . Bebas untuk hidup sebagaimana harkat dan
martabat sebagai manusia. Bebas untuk
menata hidup menuju sejahtera. Tetapi
pertanyaan nya sekarang benarkah kita sudah merdeka ?
Tema mingguan yang diangkat MTPJ adalah mengusahakan
kesejahteraan. Untuk sejahtera tentu harus diperjuangkan. Sejahtera tidak akan
datang sendiri, mustahil sejahtera kalau kita malas, tidak melakukan apa apa
dan pangko kaki. Mustahil bangsa ini merdeka jika tidak ada perjuangan dan
pengorbanan para pahlawan yang merebut kemerdekaan. UUD 1945 secara jelas
menyampaikan apa tujuan Negara ini setelah merdeka yaitu mencapai kesejahteraan
umum.
Saat ini kita hidup dalam alam kemerdekaan , namun ada
orang yang belum merasakan kemerdekaan dalam arti yang sebenarnya. Di sekitar
kita masih banyak orang yang hidup dalam
keterbatasan, kemiskinan, dilecehkan, terpinggirkan , bagi mereka kemerdekaan
seperti ungkapan jauh panggang dari api.
Belakangan ini di media massa menjadi topic hangat apa
yang terjadi dengan oma Wilhelmina mogot yang tinggal di desa kaima kecamatan
remboken.
Oma
Wilhelmina adalah salah satu dari warga Minahasa yang boleh dikata tak merasa
merdeka apalagi tersentuh program
mensejahterahkan masyarakat .
Tinggal
di bawah pohon pada sebidang tanah milik orang, dengan beratapkan terpal tua
yang mulai bocor serta tidur hanya diatas selembar papan berlantaikan tanah,
minum dan memasak dari penampungan air hujan, Oma Wilhelmina tetap bertahan
hidup.
Selama
itu, dirinya bertahan hidup dengan berkebun di tanah orang dan menjual hasil
tanamnya untuk menghidupkan dirinya bersama seorang anaknya bernama Benna
Rintjap (40), yang sakit.
Dalam kondisi yang sangat memiriskan ini, Oma Wilhelmina
tidak pernah terdaftar sebagai warga miskin di Minahasa, yang berhak menerima
bantuan pemerintah seperti beras miskin (Raskin) ataupun bantuan langsung
sementara masyarakat (BLSM), apalagi jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas),
atau bantuan lainnya.
Tapi Tuhan maha adil dalam hidup serba kekurangan dan
kemiskinan ia tetap sehat di usia saat ini 82 tahun.

Gambar 'Istana' Oma Wilhelmina,
tempat dirinya bersama anaknya menghabiskan waktu selama 10 Tahun terakhir
Saudaraku, ini
hanya satu potret anak bangsa yang sudah 68 tahun merdeka. Jangankan sejahtera
merdeka saja belum, sementara berita televisi diisi kembali dengan sepak
terjang KPK dalam memberantas korupsi., terbaru yaitu penangkapan kepala Satuan
kelompok kerja minyak dan gas bumi republic Indonesia yang menerima suap 700.000 dolar Amerika atau
7,2 milyar rupiah. Padahal ia pun sebenarnya sudah kaya, harta pribadi
tersangka yang dilaporkan resmi adalah 8 milyar.
Disini kita melihat kesenjangan, Yang kaya belum puas dan
terus menghalalkan segala cara memperkaya diri sendiri sementara yang miskin
semakin miskin.
Namun, lepas dari semuanya itu kita tetap adalah anak
bangsa dan pertanyaan penting bagi kita sekalian adalah peran apakah yang harus kita buat bagi bangsa ini dalam mengisi kemerdekaan dan mengusahakan
kesejahteraan bagi sesama , apakah kita memilih tinggal diam, tidak melakukan apa
apa , atau kita mau terlibat untuk
menjadi berarti bagi sesama, dimulai dari diri sendiri dan lingkungan dimana
kita beraktifitas.
Konteks yeremia 29 : 1-14 bacaan kita hari ini berbicara tentang kondisi umat yang sebenarnya
tidak merdeka, mereka sementara berada dalam pembuangan. Tetapi disini nabi
yeremia mengingatkan mereka untuk tidak larut dalam keputusasaan , meratapi
nasib, menyerah, dan tidak melakukan apa apa. Meski di negeri orang lain yaitu
babel mereka tetap dipanggil untuk mengusahakan kesejahteraan kota dimana
mereka tinggal. Alasannya jelas kesejahteraan kota adalah kesejahteraan mereka
juga. Kalau kota dimana mereka tinggal susah dan menderita, maka demikian juga mereka. Yeremia memberi pesan yang jelas kepada orang
Israel daripada meratapi diri sendiri adalah lebih baik peduli dengan orang
lain, peduli dengan lingkungan dan keadaan di sekitar kita KARENA Tuhan telah merancangkan
yang terbaik bagi umat yaitu rancangan damai sejahtera, hari depan yang penuh
harapan dan bukan rancangan kecelakaan.
dua hal penting yang ditekankan nabi yeremia kepada
bangsa Israel yaitu dua kata kerja : mendoakan
dan mengusahakan.
kedua hal ini berhubungan erat. Mendoakan sesuatu dengan
sungguh-sungguh sangat penting , ini yang harus menjadi nafas setiap orang
percaya kapan dan dimanapun dia berada. Dalam yeremia 29 ;12-14 Tuhan pasti mendengarkan
doa umatnya ketika kita mencari Dia dengan segenap hati. Bila selama ini secara
jasmani dan rohani kita merasa belum merdeka maka ketika kita datang pada Tuhan
ia pasti akan memerdekakan kita .
Dalam konteks 1 Petrus 4 : 7b Paulus pun mengingatkan
kepada jemaat yang sementara menderita, dianiaya karena Injil , supaya mereka menguasai diri, di tengah kesulitan ,
pergumulan, ancaman, tantangan, supaya tetap tenang sehingga dapat berdoa
karena doa adalah kekuatan orang percaya.
Selanjutnya
Ketika kita telah berdoa dengan sungguh sungguh maka hal kedua yang tak kalah
penting adalah mengusahakan secara aktif dalam
mewujudkan doa-doa tersebut.
1
Petrus 4 : 8-11 membawa kita orang percaya untuk menjadi agen agen kemerdekaan
dimanapun kita berada, dalam situasi dan kondisi sekitar yang masih membutuhkan
kemerdekaan jasmani dan rohani. Paulus kembali mengingatkan tentang satu kata
yaitu kasih..Gereja perlu melakukan kasih untuk mengatasi masalah masalah sosial bagi mereka yang
lemah, papa, miskin, bodoh, pengangguran, kesenjangan sosial, Kasih bukan hanya kata kata, bukan hanya program,
bukan hanya impian tapi kasih harus dilakukan.
Paulus memberi contoh praktis seperti Memberi tumpangan, melayani seorang akan
yang lain semuanya dilakukan dengan
tidak bersungut sungut .
Kita
semua adalah anak bangsa Indonesia .
Maju mundurnya bangsa ini, sejahtera tidaknya bangsa ini terletak pada
kepedulian kita semua. Bangsa Indonesia dalam usia kemerdekaan yang ke 68 tahun
membutuhkan kita semua untuk menjadi seperti Yeremia dan umat Israel yang mau
peduli dengan sesama, mendoakan dan berusaha menciptakan kemerdekaan yang
sesungguhnya.
Tuhan., berkatilah Indonesia, ubahlah setiap hati yang egois
agar tidak merusak negeri ini , berilah kasih bagi kami supaya kami dapat
membawa kemerdekaan
untuk menciptakan kesejahteraan. Amin.
untuk menciptakan kesejahteraan. Amin.
Senin, 29 Juli 2013
Pemimpin sejati seperti nehemia
Saat ini dalam kehidupan kita baik dalam berkeluarga, berjemaat, berbangsa dan bernegara kita diperhadapkan dengan banyak masalah dan persoalan. Salah satu sumber masalah adalah kepemimpinan . Dalam keluarga masalah bisa muncul ketika orang tua sebagai pemimpin tidak lagi menjadi teladan, dalam kehidupan berjemaat persekutuan terganggu disebabkan masalah kepemimpinan dan dalam kehidupan bermasyarakat banyak pemimpin menyalagunakan kekuasaannya dan menindas rakyat yang lemah.
Pemimpin dihasilkan dari berbagai proses, salah satunya adalah melalui proses politik lewat pemilihan umum. Minggu ini GMIM mengangkat tema dalam MTPJ : Partisipasi warga gereja dalam politik.
Jemaat adalah juga warga negara yang dijamin dalam undang undang untuk memiliki hak politik yaitu dipilih dan memilih. Proses dan siklus Politik lewat pemilihan umum terjadi berulang ulang dalam kehidupan kita sebagai warga masyarakat saat ini. Belum lama kita melaksanakan pemilihan kepala daerah Bupati dan Wakil Bupati, saat ini pun proses pemilihan anggota legislatif di tahun 2014 tahapannya sudah berjalan, diteruskan dengan pemilihan presiden tahun 2014, lanjut lagi dengan pemilihan gubernur tahun 2015. Ada pendapat mengatakan benarlah ungkapan yang berkata hidup adalah memilih.
Sebagai warga GMIM kita pun tidak lama lagi akan masuk pada pemilihan Pelayan Khusus di bulan Oktober dan Khusus untuk BIPRA sesuai juknis maka salah satu syarat utama adalah harus memiliki sertifikat kepemimpinan. Tetapi, apapun proses pemilihan tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah output atau hasil dari pemilihan itu sendiri, apakah menghasilkan pemimpin yang berkualitas ataukah pemimpin yang mengecewakan. Ketika pilihan masyarakat menghasilkan pemimpin yang mengecewakan maka partisipasi warga gereja dalam proses politik pasti menurun, ini yang biasa disebut dengan golput atau golongan putih yaitu mereka yang tidak menyalurkan hak pilihnya.
Melihat perjalanan Nehemia sebagai pemimpin, kita bisa menyebut orang ini sebagai pemimpin yang peduli dan berkorban. Nehemia berasal dari suku Yehuda. Dibesarkan di Persia, ia dipilih raja sebagai juru minum, yang mengatur makan dan minum raja. Ia sangat dekat dengan raja, ketika ada pembangunan kembali kota Yerusalem, maka Nehemia ditunjuk sebagai Bupati. Sebagai orang besar, ia tidak kehilangan jati diri. Ia bisa menyombongkan dirinya karena jabatannya. Tapi tidak dengan nehemia. Baginya Jabatan itu hanyalah kepercayaan dan bila ia menyalagunakannya maka jabatan itu bisa saja diambil darinya.
Ada sebuah kisah nyata tentang Mantan Presiden Amerika Serikat George Wasington. Suatu ketika ia berkunjung untuk melihat pasukannya di medan tempur. Tanpa sengaja sebuah kereta jatuh di lubang. Sang Kopral marah besar dan memerintahkan dengan keras supaya anak buahnya segera mengangkat kereta itu . Kereta itu sulit untuk diangkat dan membutuhkan tambahan tenaga manusia . Tetapi sang kopral hanya berteriak teriak dan marah marah . George Washington turun dari kuda dan membantu tentara lain menarik kereta hingga bisa keluar dari lubang. Bukannya berterima kasih sang kopral terus memarahi anak buahnya. George Washington pun berkata : negeri ini sedang dilanda kesusahan dan sebagai pemimpin kita harus bersama dalam susah dan senang untuk mengapai kemenangan. Sang kopral malah membentak dan berkata kasar. Sampai kemudian sang ajudan menegurnya dan mengatakan bahwa yang berdiri didepannya adalah presiden amerika serikat.
Dalam bacaan kita saat ini , Alkitab mencatat bahwa ada problema yang dihadapi masyarakat dalam pembangunan tembok Yerusalem dan bagaimana sang pemimpin sejati hadir bertindak dan menyelesaikan masalah.
Problema yang dihadapi adalah Ada banyak orang Yahudi yang miskin dan dilanda bahaya kelaparan . Dalam Neh 3-4 sudah kita membaca bahwa bangsa itu bekerja mati-matian untuk membangun tembok Yerusalem. Pekerjaan ini pasti menyita begitu banyak waktu sehingga mereka tidak mempunyai waktu untuk bekerja mencari nafkah. Apalagi setelah dalam Nehemia 4 ada musuh yang mau menyerang mereka. Ini menyebabkan para pekerja itu bahkan tidak bisa pulang ke rumah mereka masing-masing, dan mereka tidur di Yerusalem untuk berjaga-jaga terhadap serangan para musuh itu (Neh 4:22). Mereka terpaksa menggadaikan ladang atau kebun, bahkan rumah mereka (ay 3), dan mereka meminjam uang (ay 4). Semua ini juga menyebabkan mereka menjadi miskin / makin miskin.
Dalam keadaan demikian apakah tindakan para pemimpin , ironis mereka justru menari nari, tertawa dan senang diatas penderitaan rakyat. Apa yang mereka lakukan : mereka menerima ladang, kebun, atau rumah yang digadaikan (ay 3,5,11a) meminjamkan uang dengan bunga (ay 7,11) dan mereka mengambil anak-anak lelaki dan perempuan dari orang-orang miskin itu untuk dijadikan budak (ay 5,8).
Hal-hal ini tentu tidak benar dalam keadaan darurat dan susah bagaimana mungkin mereka masih bisa memikir untuk memeras / memperbudak orang?
Dalam kondisi ini tampilah nehemia .Ia mau mendengar suara orang miskin! Ia marah karena segala kejahatan yang terjadi dan Ia bertindak menentang / melawan para penguasa / pemuka (ay 7).
Nehemia mengadakan sidang jemaah yang besar (ay 7).Ia mengajak para pemuka itu untuk sama-sama menghapuskan hutang orang-orang miskin itu (ay 10b). Dan menyuruh mereka bersumpah untuk menepati janji, dan ia bahkan memberikan kutuk kepada orang-orang yang tidak menepati janjinya (ay 12b-13).
Kisah nehemia menampilkan sosok pemimpin yang sejati , peduli dan mau berkorban demi kesejahteraan orang lain Nehemia berperan sebagai agen yang mendamaikan dan memberi kelepasan
Nehemia menampilkan sosok kepemimpanan dan menjadi gambaran yang diwujudkan dalam diri Yesus.
Dalam konteks Matius 22 :15-21 disana kita melihat kepemimpinan orang orang farisi yang sangat berambisi terhadap kekuasaan dan jabatan sehingga ketika ada orang lain yang merebut simpati masyarakat mereka bertekad untuk menyingkirkannya dengan cara apapun .
Yesus mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Kebesaran seorang pemimpin Kristen tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya, tetapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Kebesaran seorang pemimpin Kristen terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang tersisih, kecil, marjinal, dan sering terlupakan.
Yesus membalikkan seratus delapan puluh derajat konsep kepemimpinan yang dimiliki kebanyakan orang, termasuk para murid-Nya. Alkitab menulis bahwa tak seorang pun yang kuasanya melebihi Dia (Yohanes 13:3). Keempat Injil mencatat segala perbuatan ajaib yang pernah dilakukan-Nya. Namun Yesus tidak pernah sekalipun menggunakan kuasa- Nya untuk kepentingan pribadi
Prinsip ini tidak dimengerti oleh orang farisi yang menginginkan mahkota namun menghindari salib, yang mengejar kemuliaan tapi menjauhkan penderitaan, yang berambisi menjadi tuan dan menolak disebut hamba.
Yesus mengajarkan kepemimpinan yang sejati. Kebesaran seorang pemimpin Kristen tidak terletak pada berapa orang yang menjadi pengikutnya, tetapi berapa banyak orang yang dilayaninya. Kebesaran seorang pemimpin Kristen terletak justru pada komitmennya kepada mereka yang tersisih, kecil, marjinal, dan sering terlupakan.
Yesus membalikkan seratus delapan puluh derajat konsep kepemimpinan yang dimiliki kebanyakan orang, termasuk para murid-Nya. Alkitab menulis bahwa tak seorang pun yang kuasanya melebihi Dia (Yohanes 13:3). Keempat Injil mencatat segala perbuatan ajaib yang pernah dilakukan-Nya. Namun Yesus tidak pernah sekalipun menggunakan kuasa- Nya untuk kepentingan pribadi
Prinsip ini tidak dimengerti oleh orang farisi yang menginginkan mahkota namun menghindari salib, yang mengejar kemuliaan tapi menjauhkan penderitaan, yang berambisi menjadi tuan dan menolak disebut hamba.
Pemimpin sejati adalah mereka yang berhasil memberikan pengaruh positif, sehingga dengan sukarela banyak orang mengikutinya, bukan karena kedudukan atau imbalan yang akan didapatkan.
Saudaraku, tidak semua orang dipanggil menjadi pemimpin.
namun mereka yang terpanggil menjadi pemimpin haruslah menjadi pemimpin-pelayan.
Kiranya Allah menolong Anda dan saya untuk melepaskan diri dari jerat kuasa, dan dalam anugerah-Nya dimampukan untuk menjadi pemimpin sejati dengan melayani sesama.
namun mereka yang terpanggil menjadi pemimpin haruslah menjadi pemimpin-pelayan.
Kiranya Allah menolong Anda dan saya untuk melepaskan diri dari jerat kuasa, dan dalam anugerah-Nya dimampukan untuk menjadi pemimpin sejati dengan melayani sesama.
Kamis, 30 Mei 2013
renungan birokrat dari berbagai kutipan
Birokrat Dan Semangat
Cepat, cekatan, adil dan profesional adalah sosok ideal dari seorang birokrat yang diharapkan oleh masyarakatnya di era yang serba demokratis saat ini. Melihat semakin hari tugas dan fungsi pemerintah semakin meningkat, demikian pula kegagalan demi kegagalan pemerintah dalam mengimplementasikan program-programnya semakin menumpuk. Maka sorotan tajam kita langsung tertuju kepada sosok birokrat sebagai motor penggerak dari pemerintahan. Perlu sosok birokrat yang cerdas dalam berkarya dan berkinerja, tidak hanya para birokrat yang terlihat bermain catur di jam kerja, ngerumpi, nge-game, bolos jam kerja, dan hanya menghabiskan anggaran untuk kegiatan rutin yang sia-sia.
Birokrat sesuai dengan fungsi alamiahnya (pure function), diibaratkan sosok pelayan bagi masyarakat sebagai tuannya yang dituntut untuk menghadirkan pelayanan optimal dan efektif. Namun ironisnya, muncul pergeseran fungsi dari para punggawa pemerintahan ini, mereka merasa lebih ingin dilayani ketimbang untuk melayani. Fenomena inilah yang seringkali menghambat kinerja pemerintahan, sehingga birokrasi terkesan lambat, bertele-tele, dan korup. Kesan negatif yang melekat di tubuh birokrasi ini sangat sulit untuk dilepas selagi birokrat belum mampu membawa semangat kepentingan publik yang berorientasi pelayanan prima dan profesional.
Perkembangan paradigma pemerintahan modern saat ini telah memasuki fase yang disebut New Public Service yang sangat memandang bahwa pelayanan terhadap kepentingan masyarakat/publik adalah misi utama. Kemudian para birokrat dituntut untuk berperan lebih banyak mendengar daripada berkata-kata serta lebih banyak melayani daripada mengarahkan. Birokrat perlu untuk lebih peka terhadap masalah-masalah publik yang semakin lama semakin kompleks, bukan hanya terpaku pada rutinitas kerja yang kaku dan sentralisistik terhadap pimpinan.
Meskipun pemerintah telah meningkatkan anggaran dalam pengembangan sumber daya aparatur melalui berbagai pelatihan, lokakarya, seminar, kursus, maupun diklat dengan harapan untuk meningkatkan kinerja birokrasi dalam pelayanan publik. Akan tetapi, langkah kongkrit dari pemerintah itu belum terasa hasilnya bagi masyarakat sebagai user dari pelayanan yang diberikan. Hal ini mengindikasikan bahwa belum terbentuknya mental dan karakter birokrasi yang membawa semangat ke-publik-an. Perubahan – perubahan yang dihasilkan hanyalah bersifat administratif yang kian rumit dan komplek, namun tidak menyentuh pada perkembangan etika dalam birokrasi.
Dalam pelayanan publik yang dihadirkan oleh birokrasi, etika dapat dikatakan sebagai nilai moral yang dijadikan sebagai suatu rule of conduct untuk mewujudkan kinerja pelayanan yang prima dan profesional. Para birokrat perlu menghayati bahwa etika adalah variabel yang akan sangat mempengaruhi kinerja dari birokrasi, etika akan mengajarkan bagaimana berkarakter dan bermental profesional dalam melaksanakan tugas pelayanan. Etika akan mengingatkan bahwa public interest atau kepentingan publik adalah diatas segalanya, karena sejatinya dalam pelayanan publik perlu mengorbankan kepentingan individu untuk mencapai kepentingan publik ( Y.T. Keban, 2000).
Peranan etika birokrasi dalam proses pelayanan publik sangatlah vital. Ketika etika sebagai rule of conduct ini tidak mampu diaplikasikan maka akan dapat menimbulkan berbagai bentuk penyimpangan. Penyimpangan ini seperti yang biasanya terjadi di Indonesia dapat dilihat mulai dari proses kebijakan publik (misalnya pengusulan program maupun proyek yang tidak didasarkan atas kenyataan), desain organisasi pelayanan publik yang sangat bias terhadap kepentingan tertentu, proses manajemen pelayanan publik yang penuh rekayasa dan kamuflase, yang kesemuanya itu mengakibatkan kinerja yang tidak akuntabel, tidak transparan, inefisensi, berperilaku korup, dsb. Sehingga tidak dapat disangkal bahwa rapuhya etika birokrasi merupakan salah satu penyebab melemahkan kinerja pemerintahan dalam fungsi pelayanan hingga saat ini.
Untuk itu, pemerintah perlu memikirkan pondasi yang kuat bagi pembangunan etika birokrasi pemerintahan. Sehingga etika dapat dijadikan tulang yang kokoh untuk penopang kualitas pelayanan publik dan dialiri darah yang mengandung semangat kepublikan. Jikalau lemahnya etika ini dibiarkan membusuk dan menggerogoti sendi-sendi pelayanan publik, tentunya 20% lebih anggaran yang dialokasikan untuk belanja pegawai akan menjadi sia-sia, dan tidak akan membawa kebermanfaatan bagi masyarakat sebagai user pelayanan publik.
Ferdian Perdana AN'08
| Profil Birokrasi di Era Perubahan |
|
reform 2 birokrasi
Mengawal Sendi-Sendi Kehidupan Bangsa
Wakil Presiden Boediono membuka Kongres ke-2 Persatuan Alumni GMNI
Waki Presiden Boediono di Kongres ke-2 Persatuan Alumni GMNI. (Foto : Jeri Wongiyanto)
Sebelumnya, kongres pertama PA GMNI berlangsung pada 2006 sebagai konsolidasi awal. Saat itu kehadiran para alumni hanyalah atas nama individu. PA GMNI masih menata diri menjadi suatu kekuatan untuk mewadahi alumni GMNI. Organisasi ini sekarang sudah berkembang memiliki 22 pengurus di tingkat provinsi serta 117 di tingkat kabupaten/kota.
Alumni GMNI tersebar di mana-mana dengan latar belakang agama, pendidikan, profesi, maupun partai politik yang berbeda-beda. "Alumni GMNI harus berada di mana-mana, dapat ke mana-mana, tapi tetap bersama-sama," kata Palar seraya menegaskan bahwa PA GMNI tidak beraliansi dengan partai politik manapun."Kami tetap independen," tegasnya.
Secara politik, Palar menegaskan, Alumni GMNI akan terus mendukung Pemerintah selama empat pilar bangsa dipegang teguh. “Pancasila, UUD 45, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika adalah empat pilar yang harus dipegang terus dalam membangun bangsa,” tegas Palar. Oleh karenya, tema Kongres II PA GMNI kali ini adalah “Memperkokoh Negara Pancasila.”
Alumni GMNI tersebar di mana-mana dengan latar belakang agama, pendidikan, profesi, maupun partai politik yang berbeda-beda. "Alumni GMNI harus berada di mana-mana, dapat ke mana-mana, tapi tetap bersama-sama," kata Palar seraya menegaskan bahwa PA GMNI tidak beraliansi dengan partai politik manapun."Kami tetap independen," tegasnya.
Secara politik, Palar menegaskan, Alumni GMNI akan terus mendukung Pemerintah selama empat pilar bangsa dipegang teguh. “Pancasila, UUD 45, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika adalah empat pilar yang harus dipegang terus dalam membangun bangsa,” tegas Palar. Oleh karenya, tema Kongres II PA GMNI kali ini adalah “Memperkokoh Negara Pancasila.”
Dalam sambutannya, Wapres memaparkan nasionalisme dan demokrasi. "Berbicara mengenai nasionalisme di antara alumni GMNI seperti berkhotbah di depan kyai,” ujar Wapres bercanda. Intinya, Waspres mengingatkan kembali bahwa Republik Indonesia berdiri atas dasar kesepakatan para pendiri bangsa untuk hidup bersatu dengan damai di antara berbagai perbedaan.
Selain perasaan senasib yang mendorong kesepakatan itu, para pendiri bangsa juga membuat satu pijakan yang kokoh sebagai acuan masa depan bangsa. "Sebab, jika hanya berdasarkan perasaan senasib, tidaklah cukup Sebuah bangsa harus mempunyai dasar untuk masa depannya. Pijakan masa depan inilah yang harus kita kawal bersama," kata Wapres.Empat pilar yang disebutkan Palar sebelumnya adalah acuan masa depan dan pijakan bangsa itu..
Rasa kebangsaan itu harus tetap kita kawal karena selalu ada tantangan, baik dari luar maupun dari dalam. Tantangan dari luar adalah desakan globalisasi yang berjalan dengan sangat cepat dalam beberapa dekade terakhir ini. Dalam era globalisasi. menurut Wapres, konsep negara bangsa justru sagat diperlukan. Penghayatan pada bangsa sendiri harus menjadi prioritas. Semua warga seyogyanya tunduk pada sasaran ini. Bangsa kita memiliki elemen yang cirinya berbeda-beda. Kalau memang kita mencintai bangsa ini, tak bisa tidak, kita harus menyatukan diri. Perbedaan tentu boleh, tapi payungnya adalah kita negara bangsa yang harus bertarung di arena global.
Dalam glonbalisasi, sebuah bangsa memerlukan kemampuan berdiplomasi dan bernegosiasi. Ini adalah suatu keniscayaan. Globalisasi berarti banyak sekali aturan main yang ditentukan dalam forum-dorum dunia. Jika kita tidak mempunyai kemampuan bernegosiasi dan berdiplomasi, maka aturan main tadi bisa jadi akan merugikan Indonesia karena tidak sesuai dengan kemampauan negeri ini. Maka kemampuan berdiplomasi adalah wajib. Adalah tugas kita semua untuk memperjuangkan kepentingan Bangsa di banyak forum internasional di berbagai bidang. Dalam konteks ini, patut diingat bahwa nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang sempit. "Bahkan Bung Karmo pun pernah menegaskan: Nasionalisme Indonesia harus tumbuh subur di Tamansari Internasionalisme.Justru nasionalisme kita adalah landasan untuk berkompetisi di luar, bertarung di segala bidang," kata Wapres.
Sedangkan tantangan dari dalam untuk nasionalisme yang paling utama adalah munculnya rasa ketidakadilan di antara warganya. Keadilan di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, hukum, hingga politik adalah perajut persatuan. Jika rasa keadilan tercederai, maka persatuan akan terancam pula. Kita harus memerangi ketidak adilan dan memperkuat rasa keadilan di antara kita. Penjabarannya bisa melalui berbagai langkah. "Jangan sampai satu kelompok saja yang ingin mendapatkan semua," tutur Wapres.
Tantangan dari dalam yang lain adalah primordialisme. Ini berupa penonjolan kekhususan suku, agama, dan berbagai ciri lain, yang melebihi kebersaaman sebagai satu bangsa. Kalau menonjolnya terlalu besar, rasa kebangsaan akan terganggu. Tentu, ini bukan berarti kita tidak boleh berbeda. Sejak awal justru bangsa Indonesia sepakat berbeda-beda namun bersepakat hidup bersama. Primordialisme harus kita jaga agar jangan sampai melebihi landasan hidup bersama.
Sedangkan mengenai demokrasi, Wapres kembali menyampaikan pandangannya akan perlunya menjaga kualitas demokrasi kita agar tidak gagal lagi seperti yang pernah terjadi pada dekade 50-an. Sebab secara terus menerus demokrasi juga menghadapi tantangan. Demokrasi bisa macet tidak berjalan baik atau disfungsional. Ini terjadi jika pemerintahan lumpuh dan tidak efektif memberikan hasil nyata kepada rakyat.
Sedangkan persoalan kedua adalah rusaknya demokrasi secara pelan-pelan, mengalami degradasi.Ini terjadi jika praktek money politics dibiarkan marak. Sehingga, suara rakyat tidak lagi tertampung di dalam demokrasi. Kalau pelaku money politicsbisa membeli kebijakan dengan uang, maka landasan dasar demokrasi sudah tidak ada. Sebab, hakekatnya demokrasi seharunsya merupakan penyaluran isi hati rakyat. "Money politics adalah mekanisme pasar yang salah yang diterapkan pada demokrasi," kata Wapres.
Sedangkan sebab kedua yang membuat demokrasi rusak adalah politisasi birokrasi. Jika birokrasi boleh dipolitisasi, artinya birokrasi tidak lagi melayani kepentingan bangsa melainkan melayani kepentingan tertentu.
Di penghujung sambutannya, Wapres mengajak semua orang meerenungkan hakekat nasionalisme dan patriotisme. Seorang nasionalis belum tentu seorang patriot, tapi seorang patriot sudah pasti seorang nasionalis. Patriotisme adalah nasionalisme plus kesadaran untuk berkorban,. Di sini ada perbedaan antara nasionalisme yang aktif dan pasif. Maka yang kita perlukan adalah patriot-patriot. yang cinta pada tanah air dan mau berkorban. Sebab, cinta memang pengorbanan. "Generasi kita dan juga pahlawan pendahuku kita memang sudah takdirnya, belum menjadi generasi yang akan memetik buahnya. Anak cucu kita nanti yang akan memetik buahnya," tutur Wapres. (Bey Machmuddin)
Selain perasaan senasib yang mendorong kesepakatan itu, para pendiri bangsa juga membuat satu pijakan yang kokoh sebagai acuan masa depan bangsa. "Sebab, jika hanya berdasarkan perasaan senasib, tidaklah cukup Sebuah bangsa harus mempunyai dasar untuk masa depannya. Pijakan masa depan inilah yang harus kita kawal bersama," kata Wapres.Empat pilar yang disebutkan Palar sebelumnya adalah acuan masa depan dan pijakan bangsa itu..
Rasa kebangsaan itu harus tetap kita kawal karena selalu ada tantangan, baik dari luar maupun dari dalam. Tantangan dari luar adalah desakan globalisasi yang berjalan dengan sangat cepat dalam beberapa dekade terakhir ini. Dalam era globalisasi. menurut Wapres, konsep negara bangsa justru sagat diperlukan. Penghayatan pada bangsa sendiri harus menjadi prioritas. Semua warga seyogyanya tunduk pada sasaran ini. Bangsa kita memiliki elemen yang cirinya berbeda-beda. Kalau memang kita mencintai bangsa ini, tak bisa tidak, kita harus menyatukan diri. Perbedaan tentu boleh, tapi payungnya adalah kita negara bangsa yang harus bertarung di arena global.
Dalam glonbalisasi, sebuah bangsa memerlukan kemampuan berdiplomasi dan bernegosiasi. Ini adalah suatu keniscayaan. Globalisasi berarti banyak sekali aturan main yang ditentukan dalam forum-dorum dunia. Jika kita tidak mempunyai kemampuan bernegosiasi dan berdiplomasi, maka aturan main tadi bisa jadi akan merugikan Indonesia karena tidak sesuai dengan kemampauan negeri ini. Maka kemampuan berdiplomasi adalah wajib. Adalah tugas kita semua untuk memperjuangkan kepentingan Bangsa di banyak forum internasional di berbagai bidang. Dalam konteks ini, patut diingat bahwa nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang sempit. "Bahkan Bung Karmo pun pernah menegaskan: Nasionalisme Indonesia harus tumbuh subur di Tamansari Internasionalisme.Justru nasionalisme kita adalah landasan untuk berkompetisi di luar, bertarung di segala bidang," kata Wapres.
Sedangkan tantangan dari dalam untuk nasionalisme yang paling utama adalah munculnya rasa ketidakadilan di antara warganya. Keadilan di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, hukum, hingga politik adalah perajut persatuan. Jika rasa keadilan tercederai, maka persatuan akan terancam pula. Kita harus memerangi ketidak adilan dan memperkuat rasa keadilan di antara kita. Penjabarannya bisa melalui berbagai langkah. "Jangan sampai satu kelompok saja yang ingin mendapatkan semua," tutur Wapres.
Tantangan dari dalam yang lain adalah primordialisme. Ini berupa penonjolan kekhususan suku, agama, dan berbagai ciri lain, yang melebihi kebersaaman sebagai satu bangsa. Kalau menonjolnya terlalu besar, rasa kebangsaan akan terganggu. Tentu, ini bukan berarti kita tidak boleh berbeda. Sejak awal justru bangsa Indonesia sepakat berbeda-beda namun bersepakat hidup bersama. Primordialisme harus kita jaga agar jangan sampai melebihi landasan hidup bersama.
Sedangkan mengenai demokrasi, Wapres kembali menyampaikan pandangannya akan perlunya menjaga kualitas demokrasi kita agar tidak gagal lagi seperti yang pernah terjadi pada dekade 50-an. Sebab secara terus menerus demokrasi juga menghadapi tantangan. Demokrasi bisa macet tidak berjalan baik atau disfungsional. Ini terjadi jika pemerintahan lumpuh dan tidak efektif memberikan hasil nyata kepada rakyat.
Sedangkan persoalan kedua adalah rusaknya demokrasi secara pelan-pelan, mengalami degradasi.Ini terjadi jika praktek money politics dibiarkan marak. Sehingga, suara rakyat tidak lagi tertampung di dalam demokrasi. Kalau pelaku money politicsbisa membeli kebijakan dengan uang, maka landasan dasar demokrasi sudah tidak ada. Sebab, hakekatnya demokrasi seharunsya merupakan penyaluran isi hati rakyat. "Money politics adalah mekanisme pasar yang salah yang diterapkan pada demokrasi," kata Wapres.
Sedangkan sebab kedua yang membuat demokrasi rusak adalah politisasi birokrasi. Jika birokrasi boleh dipolitisasi, artinya birokrasi tidak lagi melayani kepentingan bangsa melainkan melayani kepentingan tertentu.
Di penghujung sambutannya, Wapres mengajak semua orang meerenungkan hakekat nasionalisme dan patriotisme. Seorang nasionalis belum tentu seorang patriot, tapi seorang patriot sudah pasti seorang nasionalis. Patriotisme adalah nasionalisme plus kesadaran untuk berkorban,. Di sini ada perbedaan antara nasionalisme yang aktif dan pasif. Maka yang kita perlukan adalah patriot-patriot. yang cinta pada tanah air dan mau berkorban. Sebab, cinta memang pengorbanan. "Generasi kita dan juga pahlawan pendahuku kita memang sudah takdirnya, belum menjadi generasi yang akan memetik buahnya. Anak cucu kita nanti yang akan memetik buahnya," tutur Wapres. (Bey Machmuddin)
BANDUNG– Wakil Presiden (Wapres) Boediono menegaskan, birokrat tak boleh bermain politik dalam melaksanakan tugasnya. Birokrasi harus tunduk pada keputusan politik.
Di lain pihak, politisi juga jangan menyeret birokrat ke kancah politik. Interaksi yang tak sehat antara birokrasi dan politik memiliki akibat sistemik yang serius, yakni birokrasi berkinerja rendah dan korup.
Boediono menyampaikan hal itu dalam sambutan dengan judul “Jalan Penuh Tantangan Menuju Konsolidasi Demokrasi” saat membuka Sidang Pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia XIV di Bandung, Selasa (20/7/2010) malam ini. Bila birokrat bermain politik, tambah Wapres, delegitimasi hanya menunggu waktu.
Politisasi birokrasi merupakan fenomena lain yang perlu diwaspadai jika Indonesia ingin menjaga kualitas dan efektivitas kebijakan publik. Pada gilirannya, kebijakan publik akan ikut menentukan kualitas kinerja sistem politik secara keseluruhan.
“Bila mesin penggerak utama pemerintahan tak berjalan baik, kita tak bisa mengharapkan pemerintahan dan sistem politik yang menghasilkan manfaat bagi rakyat,” tuturnya.
Wapres menambahkan, jalan menuju demokrasi penuh kerawanan. Kewaspadaan dan komitmen bersama diperlukan agar kondisi itu bisa dilalui dengan selamat.
Boediono menuturkan, demokrasi dapat mengalami degenerasi karena, antara lain, politik uang serta penyalahgunaan kewenangan publik dan korupsi.
This post was submitted by KOMPAS.
Integritas birokrat
Sambutan Wakil Presiden Pada Acara Pengukuhan Pamong Praja Muda Lulusan Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XIX
Jatinangor, 6 September 2012
Bismillahirrahmanirahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Pada kesempatan yang berbahagia dan membanggakan, saya secara khusus ingin mengucapkan selamat kepada para Pamong Praja Muda yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ucapan selamat juga saya sampaikan kepada para orang tua dan keluarga atas keberhasilan putra-putrinya dalam menyelesaikan pendidikan di IPDN.
Dengan pengukuhan Saudara sebagai Pamong Praja Muda, Saudara akan memasuki babak baru dalam kehidupan Saudara, yaitu melakukan pengabdian yang sesungguhnya kepada bangsa dan negara.
Saudara akan ditempatkan di jajaran pemerintahan baik di Pusat maupun di Daerah. Berbekal ilmu pengetahuan yang Anda miliki, kalian nanti akan menjadi pelaksana pemerintahan di daerah dan di bidang masing-masing.
Kegiatan pemerintahan mempunyai satu tujuan utama, yaitu melayani masyarakat, dengan efisien, dengan cara yang berkeadilan, dan tanpa diskriminasi.
Saudara-saudara sekalian,
Dalam mengemban tugas itu, Saudara senantiasa dituntut untuk bersikap profesional, netral dan teguh dalam menjaga integritas.
Sebagai seorang profesional kalian harus tahu bagaimana mengerjakan tugas-tugas kalian sesuai dengan kaidah-kaidah profesionalisme.
Memang, tidak ada orang yang tahu segalanya, dan tidak boleh seseorang merasa sudah tahu segalanya, lalu bersikap tertutup dan tidak mau belajar lagi. Oleh karena itu, pesan saya yang pertama kepada kalian adalah terus ikuti perkembangan bidang ilmu kalian, terus kembangkan kemampuan pribadi kalian dengan sikap dan semangat tiada hari tanpa belajar sesuatu yang baru.
Pesan saya yang satu lagi adalah :
Jagalah integritas kalian dengan sungguh-sungguh. Karena itulah yang sebenarnya milik kalian yang paling berharga dalam karier kalian dan dalam hidup ini. Itulah yang akhirnya menentukan martabat kalian sebagai manusia,sebagai pejabat, sebagai pemimpin, di mata rakyat dan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Kalian telah memilih sendiri bidang pemerintahan sebagai bidang pengabdian kalian. Pemerintahan adalah bidang pengabdian yang sangat mulia.
Di sini Anda bisa berbuat sesuatu yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Di sini Anda dengan kewenangan publik yang dilimpahkan kepada Anda, dapat berbuat banyak untuk memerangi kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan yang masih dialami oleh rakyat kita. Disinilah tempat kalian dapat memperoleh kemuliaan, kehormatan, kebanggaan, rasa terima kasih dan kecintaan dari rakyat.
Di suatu kesempatan lain saya pernah mengatakan bahwa apabila tujuan utama hidup seseorang adalah memupuk harta dan mengeruk keuntungan, pemerintahan bukanlah tempatnya. Karena, kalau itu tujuan utama hidupnya, maka risikonya tinggi akan terjadi penyalahgunaan kewenangan publik untuk kepentingan privat atau kepentingan pribadi.
Apabila ini terjadi, akibatnya fatal : kepribadian orang itu akan rusak, dan negara juga akan rusak. Jadi, integritas pribadi adalah kunci bagi segalanya. Dalam perjalanan karier Anda, Anda akan menghadapi berbagai ujian yang menyangkut integritas Anda. Jangan pernah lupakan pesan saya yang satu ini : Jagalah integritas Anda baik-baik.
Kalian adalah Abdi Negara, bukan abdi dari kelompok tertentu atau kepentingan abdi tertentu. Pengabdian Anda adalah untuk kepentingan negara dan kepentingan umum. Kepentingan negara dan kepentingan umum harus menjadi tujuan utama dan pertimbangan tertinggi dalam melaksanakan tugas-tugas Anda sebagai pejabat pemerintahan.
Pesan saya yang lain adalah :
Berjiwalah pemimpin. Jangan biasakan mengeluh, kecewa, apalagi frustasi jika dihadapkan pada situasi sulit dalam pelaksanaan tugas, Sebab hanya mereka yang pernah melalui masa-masa sulit dan kritis di dalam perjalanan karier dan kehidupannya yang berpotensi menjadi kader yang tangguh dan menjadi pemimpin sejati.
Sebagai pamong, Saudara dituntut untuk mampu melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Apabila tuntutan masyarakat terpenuhi, itu merupakan keberhasilan Saudara dalam mengabdi kepada masyarakat. Tetapi tidak jarang bahwa harapan masyarakat belum dapat dipenuhi. Masyarakat merasa belum puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pamong.
Ini adalah tantangan yang menjadi tugas Saudara semua, sebagai unsur aparatur negara, untuk mencari dan memberikan jawabannya. Dengan kompetensi yang Anda miliki dan dengan sikap dan semangat yang saya sebut tadi, kita semua yakin ,dan kalian sendiri harus juga yakin, bahwa kalian dapat menjawab tantangan-tantangan itu dengan baik. Jadilah penggerak dan pelopor pembangunan di daerah pengabdian Anda.
Saudara-saudara,
Akhir-akhir ini tata kelola pemerintahan mendapat sorotan tajam dari masyarakat, terutama karena banyaknya kasus korupsi yang melibatkan pejabat di lingkungan birokrasi pemerintahan di pusat dan di daerah.
Anda semua adalah tumpuan harapan kita untuk mendorong reformasi dan perbaikan aparat birokrasi di pusat dan di daerah. Kalian adalah prajurit-prajurit pembaharu di pemerintahan kita.Jangan lupa tugas yang satu ini.
Aparat pemerintahan harus bersih dari politik praktis. Apabila politik praktis masuk ke dalam jajaran birokrasi maka orientasi dan loyalitas aparat birokrasi akan menjadi kacau. Hal itu akan menumbuhkan loyalitas sempit yang merongrong profesionalisme dan idealisme aparat pemerintahan, meningkatkan risiko terjadinya penyalahgunaan kewenangan dan bahkan korupsi.
Politik aparat birokrasi hanya satu, yaitu politik kepentingan umum dan politik kepentingan negara. Hukumnya wajib bagi setiap abdi negara untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa, Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika.
Hal yang sama akan terjadi kalau kepentingan bisnis masuk ke dalam birokrasi. Politisasi dan komersialisasi aparat birokrasi dan jabatan birokrasi harus kita tolak dan kita tangkal. Kalian adalah garda terdepan pertahanan kita terhadap bahaya itu.
Sekarang saya ingin menyampaikan pesan-pesan saya kepada IPDN dan para pengelolanya. Dalam konteks pembangunan sistem pemerintahan, IPDN mempunyai peran yang strategis. IPDN sebagai lembaga pendidikan harus mampu merancang kurikulum dalam sistem pendidikan yang dinamis dan akseleratif guna menjawab tantangan permasalahan bangsa yang juga sangat dinamis.
Kuncinya disini adalah pada para dosen dan pembimbing yang harus senantiasa meningkatkan kualitas dan kemampuan masing-masing agar para Pamong Praja Muda dapat disiapkan menjadi aparatur birokrasi yang tangguh, profesional dan berintegritas. Sikap keteladanan para pembimbing dan tenaga pengajar merupakan kunci utama pembentukan karakter dan kepribadian para lulusan institut ini.
Beberapa waktu lalu telah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap IPDN. Saya minta rekomendasi-rekomendasinya ditindaklanjuti sehingga dapat membawa perubahan menyeluruh pada sistem akademik, pola pengasuhan, tata kelembagaan dan SDM, serta penyiapan sarana dan prasarana pendidikan.
Kepada pimpinan IPDN, tenaga akademik dan sekretariat, saya harapkan untuk terus memantau penyelenggaraan pendidikan di kampus ini dan kampus-kampus lain yang tersebar di berbagai provinsi. Upayakan standar kualitas pendidikan yang diterapkan berlaku sama di semua kampus IPDN.
Selain peningkatan kualitas pengajar, penambahan buku-buku di perpustakaan, perbaikan suasana hubungan sosial di lingkungan kampus, tidak kurang pentingnya perbaikan gizi dalam menu makanan para praja wajib terus ditingkatkan. Kita tidak ingin lagi mendengar kampus IPDN menjadi bahan gunjingan karena berbagai kasus kekerasan yang pernah terjadi. Jadikanlah lembaga pendidikan ini sebagai kebanggaan bagi bangsa Indonesia dan tumpuan harapan kita semua bagi lahirnya kader pemerintahan yang unggul di masa depan.
Demikianlah pesan-pesan saya untuk IPDN. Kepada para Purna Praja yang hari ini dikukuhkan menjadi Pamong Praja Muda dengan menyandang gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan untuk Program Strata I dan Sarjana Sains Terapan Pemerintahan untuk Program Diploma IV sekali lagi saya sampaikan selamat. Doa dan harapan kita semua bersama Anda sekalian.
Keberhasilan pendidikan pamong praja merupakan keberhasilan seluruh civitas akademika IPDN. Untuk itu, saya sampaikan penghargaan yang tinggi atas kerja keras Saudara-saudara sekalian dalam mendidik, membina dan mencetak lulusan Pamong Praja Muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XIX tahun 2012.
Ke depan sistem pendidikan, kurikulum dan kualitas tenaga pengajar IPDN harus terus ditingkatkan dan disempurnakan sesuai tuntutan zaman.
Akhirnya, dengan ini secara resmi Saudara-Saudara saya kukuhkan sebagai Pamong Praja Muda Lulusan Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XIX Tahun 2012. Selamat bertugas. Jangan kecewakan harapan rakyat. Semoga Allah SWT, senantiasa melimpahkan rahmat dan ridhaNya kepada Anda semua dalam melaksanakan tugas-tugas Anda bagi bangsa yang kita cintai ini.
Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Wakil Presiden Republik Indonesia
Boediono
Bismillahirrahmanirahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Pada kesempatan yang berbahagia dan membanggakan, saya secara khusus ingin mengucapkan selamat kepada para Pamong Praja Muda yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ucapan selamat juga saya sampaikan kepada para orang tua dan keluarga atas keberhasilan putra-putrinya dalam menyelesaikan pendidikan di IPDN.
Dengan pengukuhan Saudara sebagai Pamong Praja Muda, Saudara akan memasuki babak baru dalam kehidupan Saudara, yaitu melakukan pengabdian yang sesungguhnya kepada bangsa dan negara.
Saudara akan ditempatkan di jajaran pemerintahan baik di Pusat maupun di Daerah. Berbekal ilmu pengetahuan yang Anda miliki, kalian nanti akan menjadi pelaksana pemerintahan di daerah dan di bidang masing-masing.
Kegiatan pemerintahan mempunyai satu tujuan utama, yaitu melayani masyarakat, dengan efisien, dengan cara yang berkeadilan, dan tanpa diskriminasi.
Saudara-saudara sekalian,
Dalam mengemban tugas itu, Saudara senantiasa dituntut untuk bersikap profesional, netral dan teguh dalam menjaga integritas.
Sebagai seorang profesional kalian harus tahu bagaimana mengerjakan tugas-tugas kalian sesuai dengan kaidah-kaidah profesionalisme.
Memang, tidak ada orang yang tahu segalanya, dan tidak boleh seseorang merasa sudah tahu segalanya, lalu bersikap tertutup dan tidak mau belajar lagi. Oleh karena itu, pesan saya yang pertama kepada kalian adalah terus ikuti perkembangan bidang ilmu kalian, terus kembangkan kemampuan pribadi kalian dengan sikap dan semangat tiada hari tanpa belajar sesuatu yang baru.
Pesan saya yang satu lagi adalah :
Jagalah integritas kalian dengan sungguh-sungguh. Karena itulah yang sebenarnya milik kalian yang paling berharga dalam karier kalian dan dalam hidup ini. Itulah yang akhirnya menentukan martabat kalian sebagai manusia,sebagai pejabat, sebagai pemimpin, di mata rakyat dan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Kalian telah memilih sendiri bidang pemerintahan sebagai bidang pengabdian kalian. Pemerintahan adalah bidang pengabdian yang sangat mulia.
Di sini Anda bisa berbuat sesuatu yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang. Di sini Anda dengan kewenangan publik yang dilimpahkan kepada Anda, dapat berbuat banyak untuk memerangi kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan yang masih dialami oleh rakyat kita. Disinilah tempat kalian dapat memperoleh kemuliaan, kehormatan, kebanggaan, rasa terima kasih dan kecintaan dari rakyat.
Di suatu kesempatan lain saya pernah mengatakan bahwa apabila tujuan utama hidup seseorang adalah memupuk harta dan mengeruk keuntungan, pemerintahan bukanlah tempatnya. Karena, kalau itu tujuan utama hidupnya, maka risikonya tinggi akan terjadi penyalahgunaan kewenangan publik untuk kepentingan privat atau kepentingan pribadi.
Apabila ini terjadi, akibatnya fatal : kepribadian orang itu akan rusak, dan negara juga akan rusak. Jadi, integritas pribadi adalah kunci bagi segalanya. Dalam perjalanan karier Anda, Anda akan menghadapi berbagai ujian yang menyangkut integritas Anda. Jangan pernah lupakan pesan saya yang satu ini : Jagalah integritas Anda baik-baik.
Kalian adalah Abdi Negara, bukan abdi dari kelompok tertentu atau kepentingan abdi tertentu. Pengabdian Anda adalah untuk kepentingan negara dan kepentingan umum. Kepentingan negara dan kepentingan umum harus menjadi tujuan utama dan pertimbangan tertinggi dalam melaksanakan tugas-tugas Anda sebagai pejabat pemerintahan.
Pesan saya yang lain adalah :
Berjiwalah pemimpin. Jangan biasakan mengeluh, kecewa, apalagi frustasi jika dihadapkan pada situasi sulit dalam pelaksanaan tugas, Sebab hanya mereka yang pernah melalui masa-masa sulit dan kritis di dalam perjalanan karier dan kehidupannya yang berpotensi menjadi kader yang tangguh dan menjadi pemimpin sejati.
Sebagai pamong, Saudara dituntut untuk mampu melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Apabila tuntutan masyarakat terpenuhi, itu merupakan keberhasilan Saudara dalam mengabdi kepada masyarakat. Tetapi tidak jarang bahwa harapan masyarakat belum dapat dipenuhi. Masyarakat merasa belum puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pamong.
Ini adalah tantangan yang menjadi tugas Saudara semua, sebagai unsur aparatur negara, untuk mencari dan memberikan jawabannya. Dengan kompetensi yang Anda miliki dan dengan sikap dan semangat yang saya sebut tadi, kita semua yakin ,dan kalian sendiri harus juga yakin, bahwa kalian dapat menjawab tantangan-tantangan itu dengan baik. Jadilah penggerak dan pelopor pembangunan di daerah pengabdian Anda.
Saudara-saudara,
Akhir-akhir ini tata kelola pemerintahan mendapat sorotan tajam dari masyarakat, terutama karena banyaknya kasus korupsi yang melibatkan pejabat di lingkungan birokrasi pemerintahan di pusat dan di daerah.
Anda semua adalah tumpuan harapan kita untuk mendorong reformasi dan perbaikan aparat birokrasi di pusat dan di daerah. Kalian adalah prajurit-prajurit pembaharu di pemerintahan kita.Jangan lupa tugas yang satu ini.
Aparat pemerintahan harus bersih dari politik praktis. Apabila politik praktis masuk ke dalam jajaran birokrasi maka orientasi dan loyalitas aparat birokrasi akan menjadi kacau. Hal itu akan menumbuhkan loyalitas sempit yang merongrong profesionalisme dan idealisme aparat pemerintahan, meningkatkan risiko terjadinya penyalahgunaan kewenangan dan bahkan korupsi.
Politik aparat birokrasi hanya satu, yaitu politik kepentingan umum dan politik kepentingan negara. Hukumnya wajib bagi setiap abdi negara untuk menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa, Pancasila, UUD 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika.
Hal yang sama akan terjadi kalau kepentingan bisnis masuk ke dalam birokrasi. Politisasi dan komersialisasi aparat birokrasi dan jabatan birokrasi harus kita tolak dan kita tangkal. Kalian adalah garda terdepan pertahanan kita terhadap bahaya itu.
Sekarang saya ingin menyampaikan pesan-pesan saya kepada IPDN dan para pengelolanya. Dalam konteks pembangunan sistem pemerintahan, IPDN mempunyai peran yang strategis. IPDN sebagai lembaga pendidikan harus mampu merancang kurikulum dalam sistem pendidikan yang dinamis dan akseleratif guna menjawab tantangan permasalahan bangsa yang juga sangat dinamis.
Kuncinya disini adalah pada para dosen dan pembimbing yang harus senantiasa meningkatkan kualitas dan kemampuan masing-masing agar para Pamong Praja Muda dapat disiapkan menjadi aparatur birokrasi yang tangguh, profesional dan berintegritas. Sikap keteladanan para pembimbing dan tenaga pengajar merupakan kunci utama pembentukan karakter dan kepribadian para lulusan institut ini.
Beberapa waktu lalu telah dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap IPDN. Saya minta rekomendasi-rekomendasinya ditindaklanjuti sehingga dapat membawa perubahan menyeluruh pada sistem akademik, pola pengasuhan, tata kelembagaan dan SDM, serta penyiapan sarana dan prasarana pendidikan.
Kepada pimpinan IPDN, tenaga akademik dan sekretariat, saya harapkan untuk terus memantau penyelenggaraan pendidikan di kampus ini dan kampus-kampus lain yang tersebar di berbagai provinsi. Upayakan standar kualitas pendidikan yang diterapkan berlaku sama di semua kampus IPDN.
Selain peningkatan kualitas pengajar, penambahan buku-buku di perpustakaan, perbaikan suasana hubungan sosial di lingkungan kampus, tidak kurang pentingnya perbaikan gizi dalam menu makanan para praja wajib terus ditingkatkan. Kita tidak ingin lagi mendengar kampus IPDN menjadi bahan gunjingan karena berbagai kasus kekerasan yang pernah terjadi. Jadikanlah lembaga pendidikan ini sebagai kebanggaan bagi bangsa Indonesia dan tumpuan harapan kita semua bagi lahirnya kader pemerintahan yang unggul di masa depan.
Demikianlah pesan-pesan saya untuk IPDN. Kepada para Purna Praja yang hari ini dikukuhkan menjadi Pamong Praja Muda dengan menyandang gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan untuk Program Strata I dan Sarjana Sains Terapan Pemerintahan untuk Program Diploma IV sekali lagi saya sampaikan selamat. Doa dan harapan kita semua bersama Anda sekalian.
Keberhasilan pendidikan pamong praja merupakan keberhasilan seluruh civitas akademika IPDN. Untuk itu, saya sampaikan penghargaan yang tinggi atas kerja keras Saudara-saudara sekalian dalam mendidik, membina dan mencetak lulusan Pamong Praja Muda Institut Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XIX tahun 2012.
Ke depan sistem pendidikan, kurikulum dan kualitas tenaga pengajar IPDN harus terus ditingkatkan dan disempurnakan sesuai tuntutan zaman.
Akhirnya, dengan ini secara resmi Saudara-Saudara saya kukuhkan sebagai Pamong Praja Muda Lulusan Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XIX Tahun 2012. Selamat bertugas. Jangan kecewakan harapan rakyat. Semoga Allah SWT, senantiasa melimpahkan rahmat dan ridhaNya kepada Anda semua dalam melaksanakan tugas-tugas Anda bagi bangsa yang kita cintai ini.
Terimakasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Wakil Presiden Republik Indonesia
Boediono
Langganan:
Komentar (Atom)
pengampunan dan penerimaan ulang dari TUHAN menjadi titik sejarah iman
YESAYA 44 :21-28 Jemaat yang dikasihi Tuhan Berita pengampunan yang baru kita baca memiliki dampak yang begitu besar bagi perjalanan iman...
-
BAHAN BACAAN : KIDUNG AGUNG 8 :5-7 Hari ini kita berkumpul UNTUK KEMBALI bersyukur kepada Tuhan yang memberi cintaNya kepada kita semua ,...
-
Salam sejahtera bagi kita semua, Apa kabar hari ini? Tentu sehat, kuat dan diberkati Tuhan sehingga kita boleh kembali memberi diri dala...
-
Oleh kasih karunia Tuhan maka kita sudah memasuki penghayatan dan perenungan di minggu sengsara yang ke V. Dimana kita merenungkan arti da...