Senin, 29 Maret 2021

MEMBANGUN DI ATAS DASAR YANG KUAT” (Matius 7:24-27)

Saat ini kita sementara berada dalam minggu sengsara yang ke-VI . Minggu terakhir dalam perenungan bersama arti dan makna pengorbanan Kristus di atas kayu salib demi menyelamatkan manusia yang berdosa. Di hari ini Wanita Kaum Ibu Jemaat secara khusus memberi diri dalam perayaan hari doa sedunia tahun 2021 dengan mengikuti Tata Ibadah yang dipersiapkan saudara seiman dari Negara Vanuatu.

Vanuatu merupakan kepulauan tropis yang terletak di Samudra Pasifik Selatan dengan lebih dari 80 pulau, yang enam puluh lima di antaranya berpenghuni. Pulau-pulau tersebut berpotensi rawan bencana alam seperti gempa bumi, angin topan, dan letusan gunung berapi. Disana agama Kristen mengambil 83% dari total populasi dimana Gereja Presbiterian  saat ini merupakan denominasi terbesar. Mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah nelayan dan petani.

Selanjutnya kehidupan kaum perempuan di Negara Vanuatu Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga paruh waktu yang merawat anak-anak, orang tua, penyandang disabilitas dan anggota keluarga lainnya. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap kemiskinan, perubahan iklim, bencana, dan tekanan mata pencaharian lainnya. Kesempatan yang diberikan kepada perempuan untuk membuka usaha juga terbatas karena mereka tidak memiliki akses ke modal, layanan keuangan dan pasar. Hal ini terutama terjadi pada perempuan pedesaan. Terdapat lebih banyak rumah tangga dengan orang tua tunggal yang dikepalai oleh perempuan dengan anak, cucu, atau anggota keluarga besar dibandingkan dengan rumah tangga yang dikepalai oleh laki-laki. Meskipun sebagian besar beban pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh perempuan, namun angka harapan hidup mereka lebih tinggi daripada laki-laki.

Kekerasan berbasis gender adalah masalah serius yang menimpa perempuan dan anak perempuan. Sekitar 60% perempuan di Vanuatu pernah mengalami beberapa bentuk kekerasan fisik dan / atau seksual dalam hidup mereka, dimana 21% di antaranya mengalami luka permanen.

Doa komite Vanuatu adalah mendapatkan dukungan untuk mengangkat suara perempuan Vanuatu supaya kaum perempuan boleh maju, sehat, berguna dan menjadi berkat.

Perempuan Vanuatu telah mengundang kita semua secara khusus Wanita kaum Ibu GMIM Syalom Tondegesan bersama sama seluruh perempuan sedunia untuk berpartisipasi dalam hari Doa Sedunia tahun 2021 untuk perubahan kehidupan yang lebih layak bagi kaum perempuan berlandaskan firman Tuhan dalam  Matius 7 :24-27.

Yesus bercerita mengenai Kerajaan sorga dengan menggunakan perumpamaan rumah dan tanah tempat rumah itu dibangun. Memilih tanah untuk membangun rumah merupakan keputusan penting bagi siapapun. Namun seperti di Negara Vanuatu ancaman gempa bumi, badai ,letusan gunung berapi bisa saja sewaktu waktu menghancurkan rumah tempat tinggal. Nanti setelah bencana akan kelihatan mana rumah yang kokoh tetap berdiri meskipun ada kerusakan dan mana rumah tempat tinggal yang hancur tak bersisa. Gambaran nyata ini diambil Tuhan Yesus dalam kaitan dengan kehidupan beriman secara khusus bagaimana KITA SEMUA AKAN  masuk kedalam kerajaan Sorga. Penekanan dalam bagian Alkitab ini ada pada 2 kata yaitu MENDENGAR DAN MELAKUKAN FIRMAN, sekali lagi MENDENGAR DAN MELAKUKAN FIRMAN. Bila 2 kata ini dilakukan maka orang tersebut disebut “BIJAKSANA” namun jika hanya satu kata saja yaitu mendengar dan tidak melakukan firman maka orang tesebut disebut “BODOH”.

Yesus mengambil 2 contoh ini supaya kita semua mudah untuk mengerti maksud firman yaitu PERTAMA seorang yang membangun Rumah diatas batu atau diatas dasar yang kuat dan KEDUA  seorang yang membangun diatas pasir  atau diatas dasar yang lemah.

Kemudian kedua rumah ini mengalami  ujian . Sangat menarik karena ujiannya  sama yaitu pertama turun hujan, kedua datang banjir dan ketiga angin melanda rumah itu.

Setelah ujian maka dampak atau Hasil kelihatan jelas dan terang benderang. Rumah yang dibangun diatas dasar yang kuat tidak rubuh SEMENTARA rumah yang dibangun diatas dasar yang lemah bukan saja rubuh tetapi Alkitab mencatat HEBATLAH KERUSAKANNYA.

Dari Ungkapan Yesus yang sangat jelas ini maka sebenarnya kembali mengingatkan kita khususnya kaum wanita tentang  bagaimana kehidupan kita dalam mengikut dan mengiring Yesus di hari hari ini? Apakah kita termasuk orang yang bijaksana ataukah kita termasuk  orang yang bodoh menurut konteks bacaan hari ini. Sangat jelas bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang mendengar dan melakukan firman tetapi orang yang yang hanya mendengar dan tidak melakukan adalah bodoh karena pasti tidak tahan uji dan tidak akan mampu menghadapi gelombang kehidupan.

Bersama sama dengan perempuan dari Negara Vanuatu dan perempuan yang percaya kepada Yesus Kristus di seluruh dunia dalam hari doa sedunia tahun 2021 kembali mengingatkan kita semua tentang bagaimana perempuan yang mengikut Yesus. Pesannya sangat jelas bergema yaitu BANGUNLAH RUMAH DIATAS DASAR YANG KOKOH. Tentu Membangun rumah bukan hanya terbatas dalam arti sebenarnya yaitu membangun rumah tempat tinggal, tetapi membangun rumah memiliki banyak sekali makna. Apakah membangun rumah tangga, membangun jemaat, dan membangun masyarakat . Untuk menjadi bijaksana maka perubahan hidup harus dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita sendiri dengan MEMBANGUN IMAN KEPADA TUHAN YESUS KRISTUS. Jangan bangun iman kita diatas dasar kekayaan, jabatan, kedudukan, harta, kecantikan dan segala sesuatu yang lemah dan bisa lenyap tetapi bangunlah iman kita diatas dasar yang kokoh yaitu FIRMAN TUHAN . Kaum perempuan adalah ciptaan Tuhan dan kaum perempuan adalah tiang doa dalam keluarga yang harus memberi contoh dan keteladanan iman bagi suami, anak anak dan sanak saudara.

Amsal 24 :3 berkata“Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan” (Amsal 24: 3). Hikmat inilah yang kita butuhkan sebagai perempuan dalam menjalani kehidupan apapun tugas dan profesi kita dimanapun kita pergi dan berada. Kita butuh hikmat Tuhan supaya tidak salah jalan, tidak salah berucap dan tidak salah bertindak dan kita butuh hikmat Tuha untuk mendengar dan melakukan firman Tuhan supaya kita boleh mendapat bagian dalam kerajaan Sorga.

Dalam perayaan hari doa sedunia bersama peremPuan dari Negara Vanuatu DAN DI SELURUH DUNIA , mari wanita kaum ibu  kita maknai dengan semangat dan motivasi yang tinggi untuk memuliakan Tuhan dengan mendengar dan melakukan firman Tuhan dimanapun kita pergi dan berada sebagai tanda perempuan yang BIJAKSANA. AMIN.


Kamis, 25 Maret 2021

TANGISILAH DIRIMU DARI LUKAS 23 :26-32

 

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang menyertai kita semua sampai saat ini kita boleh beribadah secara khusus hendak merenungkan bagian firman Tuhan berdasarkan bacaan Lukas 23:26-32. Tema Perenungan di minggu sengsara yang ke VI saat ini adalah TANGISILAH DIRIMU.

Tema ini memang sangat pendek namun sesungguhnya memiliki arti yang sangat mendalam kaitan dengan minggu minggu sengsara yang sementara kita jalani saat ini. Bila kita merenungkan diri ini sesungguhnya kita penuh salah dan dosa .Dosa membuat kita tidak layak dihadapan Tuhan Yesus.

Dosa telah  membawa manusia pada kebinasaan kekal dan inilah tangisan manusia yang sesungguhnya KARENA UPAH DOSA IALAH MAUT. Kemudian ALLAH  mengutus anakNya yang tunggal Tuhan Yesus Kristus untuk datang kedalam dunia ini menebus dosa manusia melalui jalan penderitaan., jalan yang tidak mudah , jalan yang susah dan jalan yang sangat berat atau VIA DOLOROSA.

Bagi kita yang pernah menyaksikan film tentang perjalanan kehidupan Tuhan Yesus mungkin akan meneteskan air mata melihat penderitaan Tuhan . Apalagi pada saat Yesus ditangkap, ketika Yesus dikhianati muridnya sendiri, ketika Yesus diolok olok, ketika Yesus dihina, dicambuk sehingga membuat tubuhnya penuh luka dan darah. Tidak berhenti disitu Yesus kemudian dipaksa memikul kayu salib yang kasar dan berat. Yesus pun harus berjalan jatuh bangun memikul salib. Emosi dan perasaan kita pasti tersentuh bahkan meneteskan air mata sambil berucap: ” Sungguh Tuhan Yesus mulia karena rela menderita demi dosa dosa manusia ”.

Saat Yesus sementara memikul salib sebagai manusia Ia memiliki keterbatasan berhubung energy dan tenaga telah tercurah, darah mengalir dan kelemahan mendera. Injil Lukas mencatat dengan jelas bahwa Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, kemudian diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus. Dari sekian banyak orang yang ada pada waktu itu namun Simon dari Kirene mendapat kehormatan memikul salib. Sebuah keteladanan disini bahwa ia tidak menolak . Simon dari Kirene HENDAK mengingatkan kepada manusia yang hidup dalam segala masa, termasuk kita saat ini  bahwa mengikut Yesus memang tidak gampang dan tidak mudah karena harus siap memikul salib yang berat namun Simon memberi teladan supaya jangan pernah menolak memikul salib apapun resikonya.

Dibelakang Yesus dan simon dari Kirene sejumlah besar orang mengikuti, diantaranya kaum perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. Perempuan memang identik dengan perasaan yang mudah tersentuh sampai harus menangis. Mengapa mereka menangis dan meratapi Yesus ? Karena demikianlah kaum perempuan yang tidak tahan melihat penderitaan dan ketidakadilan yang sementara terjadi. Masakan kita tertawa dan menari nari diatas penderitaan orang lain . Para perempuan memiliki sikap berbeda dengan orang lain Yang lain berkata :SALIBKAN DIA, SALIBKAN DIA ataupun tentara Romawi yang kejam dan  tanpa perasaan terus menyiksa tubuh Tuhan Yesus . Disisi lain Para perempuan bisa saja berteriak namun teriakan mereka tidaklah terwujud dalam bentuk kata kata yang terucap melainkan jeritan hati perempuan terwujud dalam tangisan.

Bagi kaum perempuan YANG MENGIKUT YESUS TANGISAN  bukanlah sebuah simbol kelemahan dan kekalahan TETAPI tangisan mereka sebagai simbol kekuatan . TANGISAN PEREMPUAN adalah Sebuah simbol dukungan dan empati terhadap sebuah penderitaan dan kesengsaraan yang sementara terjadi didepan mata. Tangisan MEREKA bukanlah TANGISAN sebagai bukti kelemahan tetapi tangisan ini adalah sebuah bukti kepedulian terhadap Yesus.

Namun kemudian YESUS  berpaling dan berkata Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu.

Mungkin saja para perempuan dan orang orang yang ada pada waktu itu terkejut dan pasti tidak pernah menyangka , namun ucapan Yesus sesungguhnya memiliki dasar , memiliki makna dan sebab akibat. Yesus bukannya tidak peduli atau tidak berterima kasih. Yesus justru  adalah Tuhan dan pribadi yang sangat mengerti dan tahu berterima kasih.  Dalam situasi ini Tuhan Yesus hendak mempertegas ungkapan kepada para perempuan untuk mengambil makna dan arti sebuah tangisan. Tangisilah dirimu merujuk pada segala perbuatan dosa yang telah sering dilakukan sehingga membuat Yesus harus menderita. Ungkapan Yesus ini ditujukan langsung kepada perempuan namun tentu saja semua yang terdekat juga mendengar ucapan Yesus supaya menangisi segala dosa dan perbuatan mereka. Betapa orang orang Yerusalem begitu cepat berubah hatinya, tidak konsisten dan tidak punya pendirian. Sebelumnya Yesus dielu elukan di yerusalem, orang banyak berjalan didepan Yesus dan mengikutiNya sambil berseru HOSANA BAGI ANAK DAUD, namun tidak lama kemudian mereka justru berteriak SALIBKAN DIA SALIBKAN DIA.

Yesus menegur Yerusalem yang akan hancur  KARENA TIDAK LAGI BERPIKIR DAN BERTINDAK SECARA OBJEKTIF DAN BENAR. Bayangkan saja betapa parahnya situasi dan kondisi yang terjadi karena orang benar disalahkan dan orang jahat dibenarkan . Yesus berkata   janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu. Yesus hendak memberi penegasan bahwa dosa selalu membawa akibat dan konsekuensi yang harus diterima yaitu kebinasaan dan penghukuman. Untuk itu ungkapan Yesus harusnya menyentuh hati untuk membawa pada pertobatan karena bagi Yesus Tidak cukup hanya sampai di menangis saja, menangis boleh boleh saja tetapi menangis tidak berarti jika tidak ada perubahan hidup. Disini Yang sangat  penting sekali adalah menangis yang berbuah pada penyesalan dan pertobatan. Itulah menangis yang berkenan kepada Tuhan.

Ungkapan Yesus  TANGISILAH DIRIMU SENDIRI sebagai tema perenungan kita hari ini kembali menggema di gedung gereja GMIM SYALOM untuk  menjadi peringatan dan teguran bagi kita disaat ini dan ditempat ini. Melihat diri kita ini maka  Gambaran Yerusalem yang hancur adalah gambaran diri kita yang berdosa dan tak bisa menyelamatkan diri sendiri. Kita sering mengaku sebagai anak Tuhan namun banyak kali tindakan dan perbuatan kita justru tidak mencerminkan perilaku selaku anakNya. Kita sering mengaku dosa namun banyak kali kita terus berbuat dosa. Kita mendengar firman Tuhan namun banyak kali kita melanggar perintahNya. Kita beribadah namun banyak kali kita memungkiri kekuatan Ibadah dengan tindakan yang tidak sesuai dengan kebenaran. Karena itu Yesus berkata kepada kita semua menangislah dan Tangisan yang terbaik adalah sebuah tangisan yang ditindaklanjuti menjadi pertobatan.

Saat ini ketika kita memperingati sengsara Tuhan Yesus melalui perenungan di minggu minggu sengsara ke-6 atau  terakhir sebelum kita memasuki hari kudus yaitu JUMAT AGUNG DAN PASKAH. Minggu minggu sengsara ini sangat penting kita isi dengan perenungan demi perenungan mendalam dalam bentuk introspeksi secara pribadi, keluarga, jemaat dan masyarakat tentang apa yang kita perbuat selama ini. Yesus telah melewati jalan penderitaan yang sangat berat dan jangan sia siakan penderitaan Tuhan Yesus. Jangan KITA menyalibkan Tuhan Yesus tetapi teladanilah Simon dari Kirene YANG  memikul salib dengan setia dan tidak menolak atau bersungut sungut.

Jalan hidup kita sebagai orang Kristen memang tidak mudah karena penuh tantangan dan cobaan, setiap saat godaan dan cobaan dosa bertubi tubi harus kita hadapi namun kita harus berani melawan dosa . Tuhan Yesus maha pengasih, penyayang dan pengampun untuk itu mari kita mengambil tekad untuk sungguh sungguh  bertobat dan mengikut Yesus. Mari kita memandang pada Yesus, mengandalkan Tuhan Yesus dan memikul Salib Tuhan Yesus dengan setia sampai akhir karena mahkota kehidupan telah tersedia bagi mereka yang SETIA SAMPAI AKHIR. AMIN.

 

Sabtu, 20 Maret 2021

KHOTBAH MATIUS 26:69-75 JANGAN MENYANGKAL YESUS KRISTUS

 

Oleh kasih karunia Tuhan maka kita sudah memasuki penghayatan dan perenungan di minggu sengsara yang ke V. Dimana kita merenungkan arti dan makna penderitaan Tuhan Yesus untuk menebus dosa dosa kita semua. Diminggu sengsara ke V ini kita telah bersama membaca bagian Alkitab yang sangat terkenal karena sudah banyak kali kita baca dan kita dengar mulai dari masa anak sekolah minggu sampai saat ini yaitu kisah Petrus menyangkal Yesus . Merenungkan bagian Alkitab  di minggu sengsara yang ke V kita dihentar melalui tema mingguan “JANGAN MENYANGKAL YESUS KRISTUS”.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia menyangkal artinya mengingkari, tidak mengakui, tidak membenarkan atau juga membantah, melawan, menentang dan menyanggah.  Disini kita mengerti bahwa menyangkal ternyata memiliki arti yang luas dan banyak. Sebagai manusia berdosa dalam perjalanan kehidupan sehari hari,  harus kita akui bahwa menyangkal adalah perbuatan yang sering kita lakukan . Contohnya saja anak anak banyak kali menyangkal perintah orang tua, orang tua juga tidak lepas dari perbuatan menyangkal karena sesuatu hal dalam keluarga, juga dalam kehidupan yang lebih luas  sebagai masyarakat terkadang menyangkal perintah pemerintah dan sebagai jemaat seringkali juga banyak kali sadar atau tidak sadar kita telah  menyangkal perintah yang tertulis dalam Alkitab.  Mengapa harus menyangkal? Tentu saja ada alasannya seperti mau membela diri, menganggap diri benar, menolak perintah dan sebagainya. Namun yang pasti menyangkal selalu ada akibat dan konsekuensi dari perbuatan menyangkal itu sendiri.

Saat ini Kita belajar dari Kisah Petrus salah satu dari 12 murid Tuhan . Hari demi hari ia bersama dengan Tuhan Yesus dan pastilah petrus sangat mengenal Tuhan Yesus. Namun mengapa pada akhirnya ia  menyangkal Tuhan Yesus pada saat Tuhan Yesus sangat membutuhkan dukungan dalam kesusahan. Bukankah Seorang sahabat seharusnya bersedia  setia dalam susah dan senang namun betapa menyakitkan ketika ternyata sahabat itu menyangkal kita saat dalam kesusahan dan kesulitan. Inilah sesungguhnya yang hendak digambarkan disini tentang sisi gelap manusia yang hanya berpikir untuk dirinya sendiri, hanya berpikir untuk kesenangan dirinya sendiri dan tidak peka dengan kesusahan orang lain, padahal orang lain itu telah banyak menolong dan membantunya.

Disini kita tahu bahwa nilai nilai kemanusiaan, nilai nilai persahabatan sebenarnya diuji BUKAN pada saat situasi aman aman , damai dan bahagia NAMUN nilai nilai kemanusiaan dan nilai nilai persahabatan sejati  justru diuji dalam hentaman badai, gelombang dan kemelut kehidupan. Pada akhirnya akan kelihatan mana yang betul betul sebagai teman dan mana yang hanya berpura pura menjadi teman.

Petrus yang mengikut Tuhan Yesus dalam pelayanan telah melihat mujizat demi mujizat yang Tuhan lakukan, ia menyaksikan perbuatan perbuatan ajaib dan luar biasa yang Tuhan yesus lakukan. Petrus pernah berkata ENGKAU ADALAH MESIAS ANAK ALLAH YANG HIDUP namun ternyata ia tidak mau menerima kenyataan bahwa Yesus harus menderita , Yesus harus disalibkan dan mati diatas kayu salib untuk menebus dosa dosa manusia. Petrus hanya mau berpikir untuk keselamatan dan kenyamanan dirinya sendiri dan ia tidak dapat menerima dengan akal dan logikanya mengapa  Yesus harus menderita meskipun sudah berkali kali Tuhan Yesus sampaikan menjelang penderitaannya namun nampaknya tidak bisa diterima Petrus karena baginya penderitaan adalah sesuatu yang menyakitkan.

Penderitaan memang tidak gampang, penderitaan memang susah dan berat sehingga banyak orang lebih  memilih menghindar dan lari dari penderitaan. Menghadapi penderitaan, Petrus kehilangan jati diri sebagai murid Tuhan Yesus . Ketika terpojok, ketika terancam, ketika  terabaikan, ketika dalam kesulitan dan dipermalukan membuat Petrus kehilangan imannya .

Padahal sebelumnya dalam matius 26 :33 petrus dengan tegas berkata : "Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak." Namun kemudian dalam waktu sekejap saja Petrus kehilangan imannya saat diuji melalui cobaan dan penderitaan.

Matius mengisahkan tiga kali Petrus menyangkal Tuhan Yesus. Pertama,  Petrus sengaja membuat strategi untuk menjaga jarak dari Tuhan Yesus dengan memilih duduk di luar di halaman. Ia cari aman sendiri dan berpikir bisa terbebas dari masalah namun seorang perempuan mengenalinya dan berkata bahwa Engkau selalu bersama sama dengan Yesus. Respon Petrus adalah Aku Tidak Tahu. Inilah penyangkalan yang pertama.

Ketika di halaman ia ketahuan, maka strategi kedua adalah Petrus menyingkir ke pintu gerbang yang kondisinya lebih gelap atau remang remang dengan harapan identitasnya sebagai murid Yesus tidak terdeteksi oleh masyarakat di sana. Ternyata di pintu gerbang pun ia masih dikenali sebagai seorang yang satu kampung halaman dengan Yesus dan disini petrus bukan hanya menyangkal Yesus yang kedua kali  tetapi juga bersumpah palsu dengan mengatakan tidak mengenal Yesus.

 Kali yang ketiga lebih parah lagi ketika sudah banyak orang yang mengerumuninya. Disini  Petrus mengutuk dan bersumpah AKU TIDAK KENAL ORANG ITU. Pada saat itu berkokoklah ayam dan teringatlah petrus pada perkataan Yesus bahwa sebelum ayam berkokok engkau telah menyangkal AKU tiga kali.

Tuhan menggunakan ‘ayam’ untuk mengingatkan  Petrus. Ada dua makna tersembunyi dari penggunaan  ‘ayam’ dalam penyangkalan Petrus.

 Pertama, ayam adalah salah satu binatang yang dianggap tidak setia. Dia akan bergonta ganti pasangan dan tidak ada ikatan yang terjadi antara ayam jantan dan betina . Disini Ayam digunakan sebagai sarana pengingat kepada petrus tetapi juga pengingat kepada manusia tentang sebuah ketidaksetiaan.

Tetapi, yang Kedua, Ayam  khususnya ayam jantan tetap setia berkokok di pagi hari artinya di tengah ketidaksetiaan manusia Tuhan tetap setia dan anugerah Tuhan selalu tersedia di pagi hari sebagaimana firman Tuhan dalam ratapan 3 :22-23 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

Ketika ayam berkokok Petrus pergi keluar dan menangis dengan sedihnya. Menangis dengan sedihnya adalah tanda penyesalan. Ia menyesal karena sebenarnya ia bisa membela imannya namun mengapa justru ia menyangkal imannya hanya karena tidak mau menderita. Bersyukur Petrus tidak mengambil jalan seperti Yudas karena kemudian penyesalan Petrus berbuah pada PERTOBATAN dan Petrus yang bertobat sungguh kemudian dipakai sebagai Rasul yang setia dan tidak pernah lagi mengingkari imannya kepada Kristus meskipun banyak sekali penderitaan yang harus ia hadapi seperti dapat kita baca dalam kesaksian  Surat Petrus.

Dari kisah petrus yang sangat terkenal ini maka sesungguhnya kita perlu mengambil makna dalam menjalani kehidupan beriman di tengah dunia yang bergelora saat ini, bahwa kita juga bisa menjadi lemah dan tak berdaya  di tengah tantangan dan kesulitan yang sewaktu waktu bisa datang dan menguji iman kita ataupun  di tengah penderitaan dan kesusahan yang harus kita lewati .

Situasi saat ini dimana kita Hidup di tengah dunia dengan banyak tawaran dan godaan yang menggiurkan seperti kekayaan, harta benda, jabatan, kedudukan , kecantikan , yang semuanya menghadirkan kemudahan, keindahan dan kenikmatan duniawi, namun hati hati jangan sampai karena tawaran dunia kita menyangkal Yesus Kristus. 

Harta benda, jabatan, kedudukan , popularitas akan hilang namun iman jangan sampai hilang karena iman kepada TUHAN YESUS KRISTUS  akan membawa kita pada keselamatan kekal.

Selagi masih diberikan nafas kehidupan, waktu hidup, kekuatan dan kesehatan dari Tuhan mari jemaat  kita menampilkan dan meyakinkan kepada  dunia, bahwa kita adalah orang orang yang setia dan tidak akan pernah menyangkal iman kita apapun konsekuensi kehidupan yang harus kita hadapi hari lepas hari. Ingatlah kesetiaan Tuhan Yesus untuk melakukan kehendak Allah demi keselamatan manusia. Ia rela sengsara, disiksa, menderita, disalibkan dan mati diatas kayu salib demi keselamatan kita. Kesetiaan Tuhan Yesus dalam penderitaan, kematian membawa pada kebangkitan Kristus yang artinya adalah kemenangan . Karena itu jangan pernah kita berpaling dari kasih Tuhan Yesus, jangan kita menjauh dari Tuhan Yesus, jangan kita mengandalkan diri sendiri ,jangan kita meninggalkan persekutuan yang beribadah dan jangan kita menyangkal Tuhan Yesus melainkan tetap setia karena pasti Tuhan Yesus akan menolong dan memampukan kita menjalani kehidupan di tengah dunia ini. AMIN.

pengampunan dan penerimaan ulang dari TUHAN menjadi titik sejarah iman

 YESAYA 44 :21-28 Jemaat yang dikasihi Tuhan Berita pengampunan yang baru kita baca memiliki dampak yang begitu besar bagi perjalanan iman...