Jumat, 16 Mei 2014

MELATIH BERBICARA

Memang sebagai birokrat kita harus melatih berbicara. Berani dan berani tampil di muka umum mengemukakan untuk pendapat yang mendasar , sopan santun dan beretika. Kemampuan untuk berbicara dan mengemukakan pendapat harus kita asah. Apa yang kita ungkapkan harus urgen, up tu date, sesuai pokok permasalahan dan supaya tidak menyinggung maka dipilih sedapat mungkin kata kata yang sesuai. Intonasi juga dijaga baik , nafas di kontrol . Hari ini pengalaman saya berbicara dalam suatu forum meski hanya penanya saja , tetapi memang banyak evaluasi yaitu :

  1. Harus dipikirkan dengan matang apa yang kita tanyakan , termasuk memikirkan kata kata yang tepat supaya tidak salah diucapkan dan menyinggung .
  2. Nafas dijaga sehingga bicara tidak terbata bata, percaya diri menatap orang lain dan jangan hanya satu arah saja.
Memang apa yang saya tanyakan memang itulah yang selama ini menjadi bahan perenungan saya , yang pertama tentang bangunan bangunan yang dibangun melalui dana pemerintah tapi tidak berfungsi, tidak tepat sasaran. Prioritas pembangunan  di desa itu sesuai situasi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat misalnya adalah jalan tapi dibangun pasar seperti di lokasi belakang kantor saya bertugas sebelumnya , dibangun pasar dan bangunan RPH dengan milyaran rupiah tapi tidak berfungsi sampai saat ini. Juga dalam suatu kesempatan berbincang dengan seorang Kabag tentang rumah pompa, saluran air utk pertanian yang tidak berfungsi, letaknya selalu dilihat orang karena berada dipinggir jalan raya, juga puskesmas pembantu yang terbengkalai. Saya pikir ini kesalahan adalah dimulai dari perencanaan awal yang tidak matang dan tidak dikaji dengan betul , ada program ambil saja mo berguna atau tidak yang penting dibangun, apalagi kalau sudah mainsheet berpikir cari keuntungan ya jadilah bangunan bangunan hantu yang tak digunakan.
Kemudian masalah sampah yang harus dipikirkan dengan baik solusi untuk mencegah dan mengatasi dari hulu sampai hilir dengan melibatkan masyarakat dan seluruh stake holder , perlu juga sanksi tegas terhadap semua pelanggaran . Juga perlu dipikirkan tentang tempat pembuangan sampah akhir di setiap kecamatan.

Rabu, 14 Mei 2014

Lika liku Pemimpin

Keberhasilan pemimpin adalah ketika dia mampu menjalankan fungsi manajemen. Tapi kalau pemimpin gagal memanage pekerjaan dan person maka pemimpin itu yang akan susah sendiri, kerja sendiri, menanggung sendiri pekerjaan dan bukan tidak mungkin dicap pemimpin gagal. Untuk apa ada staf kalau hanya pemimpin yang kerja. Ini juga yang saya rasakan. Hari ini saya melakukan pekerjaan staf ngantar surat dengan alasan saya berpikir  tidak mau menyusahkan staf, berapa lagi ongkos yang harus saya keluarkan kalau saya menyuruh staf. Padahal kepercayaan harus diberi dan pemimpin harus memanage pegawai, jangan semua melulu dikerjakan pemimpin. Memang ironi sekali PNS di kantor saya, tidak ada program, disuruh buat program kerja, sudah diberi format , sudah diberi petunjuk jelas , tidak dilakukan sampai saat ini. Belum lagi malas, jam kerja diatur sendiri, mau datang jam berapa semaunya, mau pulang jam berapa semaunya, datang telat tidak ada rasa malu pada pimpinan, mau keluar kantor pun tidak ada rasa hormat kepada pimpinan karena diam diam sudah keluar tanpa pemberitahuan, belum lagi sifat tidak disiplin, tidak bertanggung jawab terhadap tugas, pandang enteng, tidak ada kesadaran kerja, tidak punya etika birokrasi, tidak kreatif, kerjanya tidak jelas, jelas kalau terima gaji dan tunjangan. Bahkan ada tenaga honor yang lebih rajin daripada PNS, ada sekdes yang lebih mampu mengerjakan tugas kepala seksi. Ironi sekali. Memang kesimpulan saya kesalahan ada pada saya sebagai pimpinan yang “tidak tegas” menjalankan aturan kepegawaian melalui punishmet dan reward. Terkesan memang terjadi pembiaran dari pimpinan terhadap fenomena ini. Pemimpin yang lebih banyak pakai perasaan manusiawi. Memang kalau itu berbicara aturan kepegawaian , harus tegas apapun resikonya. Ketiak pemimpin bertindak menurut aturan, sopan, menghargai, bukan untuk kepentingan diri maka tidak usah takut. Ya pegawai yang malas jangan dimanja seperti yang terjadi selama ini, uang Tunjangan tambahan penghasilan tetap di beri full, daftar hadir dimanipulasi, pegawai dimanja dengan pemberian seragam, diajak makan/minum, jalan jalan tanpa ada unsur pembinaan disana. Harus ada perbedaan pegawai yang rajin dan malas dan wewenang pembinaan pegawai ada pada pimpinan. Tentu jauhlah dari pemimpin otoriter, tapi pemimpin juga harus selalu memberi teladan, tidak menyuruh disiplin sedangkan atasan sendiri tidak ada keteladanan disiplin. Butuh pemimpin yang bijaksana, harus beri penghargaan kepada yang setia dan punishment kepada yang malas.
Tugas tugas juga harus diarahkan , jadi dimulai dengan penguasaan Tupoksi masing masing, bekerja berdasarkan prinsip management perencanaan , pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi dan pertanggungjawaban. Setiap PNS dengan jabatan struktural menyusun program berdasar Renstra dan renja, ada terobosan tupoksi, setiap bulan ada pelaporan realisasi, dan permasalahan dan rencana kedepan. Itu yang saya rasa harus dilakukan. Surat surat penugasan dibagikan sesuai Tupoksi dan jangan ditunda tunda pekerjaan, harus ada rapat evaluasi setiap minggu untuk mengevaluasi kinerja.
Dalam pengambilan keputusan harus melalui Rapat Resmi , kecuali wewenang ada pada pimpinan tetapi harus menggali masukan, menimbang dengan bijaksana, jangan terburu buru, pelajari aturan terkait dan apapun resikonya keputusan harus diambil dan tegas dalam mengawal keputusan, jangan plin plan.


Jikalau kita berjuang untuk kepentingan banyak orang, untuk kesejahteraan rakyat maka jangan takut dan gentar, sopan dan santun dalam berjuang, totalisme , dedikasi tinggi dan berjuang sampai akhir dalam keyakinan. Perjuangan harus dengan motivasi yang luhur dan tulus, semua  akan sia sia jika kita mulai mengijinkan sesuatu dalam pikiran untuk diri sendiri.

Di wilayah saya ada  Eksplorasi dari perusahaan besar. Namanya perusahaan besar maka pasti organisasi, struktur dan modal sangat kuat apalagi perusahaan ini didukung negara. Persoalan eksplorasi tidak menjadi masalah,  yang penting dapat menjamin keamanan , tidak menimbulkan kerusakan lingkungan dan menjamin kesejahteraan masyarakat sekitar. Perusahaan juga harus terbuka soal CSR kepada masyarakat. Persoalan CSR inilah yang kadang menjadi masalah . Berbagai kepentingan yang benar untuk rakyat maupun kepentingan pribadi mengatasnamakan rakyat demi CSR. Perjuangan menuntut CSR haruslah melalui organisasi resmi yang satu, kuat dan berjuang untuk kepentingan masyarakat bukan pribadi. Jika kita berjuang sendiri sendiri maka perjuangan akan berat, terkotak kotak, dan mungkin sia sia. 

MASALAH SAMPAH DAN PENANGANANNYA

Bukan maksud untuk memberi penilaian karena diri sendiri juga banyak kekurangan, boleh berpikir sebagai camat tapi jangan bertindak sebagai camat, itulah yang kira kira tepat dalam etika organisasi saya . Anggaplah ini sebagai pembelajaran pribadi kalau Tuhan berkenan dan mengizinkan untuk jabatan itu.
Organisasi harus melakukan fungsi manajemen. Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, Evaluasi dan Pertanggungjawaban. Semuanya haruslah bermula dari rencana program , kegiatan dan anggaran. Ada kegiatan yang dilakukan di kantor dalam inisiatif pimpinan menurut saya tidak dilaksanakan dalam berpikir SISTEM. Itulah yang pernah diajarkan oleh mner S2 saya.  Salah satu dampak dari perkembangan ekonomi, pertumbuhan penduduk adalah masalah sampah. Wilayah Kecamatan saya bertugas dilewati poros jalan protocol atau jalan provinsi karena menghubungkan beberapa Kabupaten /Kota.Tetapi yang menjadi sisi negative dari mobilisasi penduduk adalah kurangnya kesadaran akan kebersihan, masih banyak sampah dari dalam mobil dibuang langsung kejalan oleh pengendara atau penumpang. Saya juga punya mobil , kadang saya sadari saya juga melakukan hal itu bahkan sempat adu mulut dengan istri karena istri juga beberapa kali membuang sampah rumah tangga yang di buang ke saluran air pinggir jalan  saat hendak pulkam ke rumah ortu.  Masalahnya jelas banyak sampah dibuang dari dalam kendaraan ke pinggir jalan. Solusi yang ditempuh oleh pihak kantor yaitu membuat baliho himbauan untuk jangan membuang apapun dari kendaraan anda! Himbauan ini ditempatkan di tempat tempat strategis yang dengan harapan akan dibaca oleh pengguna jalan sehingga ada kesadaran tidak membuang sampah. Tetapi memang dari evaluasi tidak maksimal, jauh dari harapan, tetap saja setiap minggu setelah dibersihkan begitu banyak sampah berserakan di pinggir jalan. Haruskah setiap minggu kita laksanakan gerakan memungut sampah, bolehlah kalau terprogram tapi kalau tidak terprogram selama ini? Ya harusnya ditetapkan setiap jumat misalnya, sudah disampaikan ke pada staf terlebih dahulu untuk kegiatan , jangan seperti yang selama ini terjadi, tanpa pemberitahuan sebelumnya tiba tibalangsung ada instruksi kerja bakti . Oke saja sih tapi kalau waktunya tidak tepat, pakai seragam resmi lagi, di hari yang banyak tugas kerja di kantor, otomatis waktu kerja tersita  apalagi tidak semua staf terlibat. Gerakan ini pun saya melihat hanya sekedar “ cari muka” karena tempat yang dibersihkan hanya disitu situ saja, hanya di dekat rumah “sang pejabat besar”, kalau ada acara pejabat mau lewat tiba tiba ada instruksi kebesihan , kerja bakti. Ini seperti bagaikan pemadam kebakaran yang hanya melaksanakan tugas saat sudah terjadi kebakaran tapi tidak melihat persoalan dan masalah masalah yang menyebabkan mengapa terjadi kebakaran? Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Jadi benar bahwa dalam kerja apapun kita harus berpikir SISTEM, jangan tiba saat tiba akal, hanya memyelesaikan masalah sesaat tanpa melihat akar persoalan. Jadi masalah kebersihan ini harus melibatkan semua pihak, harus terus disosilisasikan dalam berbagai acara dan kegiatan dan semua pihak harus saling mengamankan lingkungan masing masing.


Di wilayah tugas sekarang pun sementara berkembang dari segi pembangunan perumahan, tetapi masalahnya adalah tempat buang sampah dimana, armada sampah mana? Pengembang hanya tahu bangun rumah tapi tidak memikirkan dampak dari perumahan ini, belum lagi kesadaran yang kurang dari masyarakat. Inilah yang terjadi akhirnya banyak sampah dibuang sembarangan dijalan diluar perumahan karena pengembang tidak menyediakan Tempat pembuangan sampah dan  tidak ada armada sampah.  Itulah akar masalahnya, sekarang bagaimana dengan solusinya? Ya ini harus difasilitasi duduk bersama , buat pertemuan dengan masyarakat setempat, bangun kesadaran masyarakat , beri penyuluhan.  Kalau memang bantuan pemerintah untuk armada sampah tidak ada, bagaimana kalau ada swadaya masyarakat untuk petugas dan armada sampah, toh ada TPA di wilayah kecamatan sekitar. Setiap keluarga ada iUran per minggu untuk sampah. Ini saya rasa salah satu jalan keluar. Disamping pencegahan yaitu kalau ada pembangunan perumahan maka harus juga ada langkah langkah antisipatif dari pengembang untuk  mengatasi masalah sampah.  
" Menulis sebagai wadah untuk mencurahkan pikiran, ide ide , gagasan, konsep , pengalaman dan segalanya tentang perjalanan di kehidupan yang hanyalah tititpan dan anugerahNya, mengapa kita mempeributkan yang sia sia dan menjauh dari yang kekal. Semuanya hanyalah sandiwara dan semuanya hanyalah sementara."


Berjuang untuk rakyat memang bukan hanya slogan untuk menarik simpati tapi tidak pernah benar benar dilakukan dalam perjuangan kehidupan.
Sebagai pemimpin dibutuhkan kecerdasan berpikir dan bertindak dalam banyak hal. Satu hal yang pasti pemimpin haruslah berpikir untuk orang lain dan sedapat mungkin menjauh dari kepentingan diri.
Godaan sebagai pemimpin semakin besar berdasarkan level kepemimpinan. Pohon semakin tinggi akan semakin banyak cobaan lewat angin , pohon yang kuat akan bertahan dan pohon yang lemah akan tumbang.
\Hari ini saya berbincang dengan seorang kepala desa yang orangnya baik menurut saya karena ia berpikir banyak untuk masyarakatnya, berpikir untuk bagaimana desanya maju dan masyarakatnya sejahtera. Selalu ingin bertanya , bertanya dan bertanya meski agak bosan juga karena sudah diberi jawaban dan petunjuk masih kembali lagi ke pertanyaan awal. Akibatnya percakapan terputar putar. Kadang juga kepala desa ini mempersalahkan kenyataan yang terjadi tetapi tidak mencari solusi terhadap persoalan yang terjadi. Banyak kali ragu ragu untuk mengambil keputusan padahal padanya ada kewenangan. Sudah diberikan jalan dan petunjuk tapi ragu ragu atau  tidak dilaksanakan. Ya begitulah,
Saya belajar pemimpin harus tegas , taat pada aturan dan mati matian untuk kebenaran , untuk harkat dan martabat orang lain, untuk yang dipimpinnya, gigih, tidak putus asa dan pantang menyerah dalam memperjuangkan aspirasi masyarakatnya. Kalau untuk kebenaran mengapa kita harus takut, gentar dan cemas.Kalau ada dasar dan alasan yang jelas terhadap perjuangan kita untuk kepentingan orang banyak maka maju terus meski sulit , ada tantangan, sepertinya jalan tertutup tapi lebih baik berusaha daripada diam tidak dapat berbuat apa apa.  Kita harus takut, gentar dan cemas bila kita bekerja untuk diri kita sendiri dan menyimpang dari kebenaran.
Ada sebuah perusahaan besar yang mengadakan eksplorasi alam di wilayah kecamatan. Perusahaan ini kuat karena plat merah. Eksplorasi ini tentu ada dampak baik dampak positif maupun negatif. Dampak positif seperti hasil eksplorasi tetapi juga dampak negatif berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan. Namanya perusahaan yang besar maka dia memiliki sumber daya untuk mewujudkan keinginannya. Tetapi sekarang aspirasi masyarakat harus didengar, tidak lagi seperti dulu namanya untuk kepentingan perusahaan negara masyarakat harus setuju. Sekarang ini HAM memang menjadi isu penting, termasuk dalam eksplorasi alam. Perusahaan besar memiliki strategi supaya keinginannya terwujud, termasuk kucuran dana dan apa yang disebut CSR . CSR dalam pengamatan saya adalah salah satu cara untuk membujuk masyarakat supaya setuju dan mendukung eksplorasi.  Pemerintah dan masyarakat desa  sekuat apapun menolak eksplorasi ya tidak berdaya juga . Itu fakta yang saya lihat. Lebih bahaya lagi dengan beberapa orang yang mensusupi kepentingan pribadi, bermain dalam air keruh dan masyarakat jadi korban. Saya melihat pemimpin yang tidak tegas terhadap aspirasi masyarakat yang tertuang dalam hasil rapat yang menolak namun entah kenapa ketika kepala desa ini " dibujuk" maka hasil keputusan rapat menolak menjadi setuju. Iming iming tanah yang dibeli oleh perusahaan dengan harga melambung tinggi sudah pasti godaan ini tidak bisa ditampik oleh pemilik tanah yang hanya masyarakat biasa. Kalau tanah ini sudah dijual kepada perusahaan ya tidak ada cerita lagi dan percuma menolak eksplorasi. Seharusnya memang menghadapi fenomena ini harus ada kekompakan, berjuang sendiri sangat lemah tapi berjuang bersama kuat. Ya sudahlah eksplorasi tetap jalan dengan Izin yang lengkap dan amdal yang mumpuni , meski tetap ada resiko kegagalan karena kita hanya manusia. Selanjutnya pemerintah dan masyarakat mulai menuntut kontribusi dari perusahaan , saya melihat muncul juga oknum oknum yang bersuara kritis berjuang atas nama masyarakat menuntut kontribusi kepada masyarakat tapi sayangnya dibalik itu ada motivasi untuk pribadi. Perjuangan menuntut hak masih secara sporadis, tembak sana tembak sini yang lebih banyak mengakibatkan peluru nyasar. Tidak ada kebersamaan dalam perjuangan, lebih suka berjuang sendiri sendiri, berjuang untuk kepentingan sendiri, berjuang untuk desa sendiri, desa lain emang gue pikirin, kalau sudah begini gampang sekali masyarakat akan diatur / distel oleh perusahaan. Bahkan saya dengan sendiri bagaimana staf perusahaan mengadu domba antar kepala desa hanya karena salah satu bantuan. Staf ini akhirnya minta maaf karena kesalahannya. Bantuan yang diberikan pun saya melihat tidak tepat sasaran , perusahaan tidak koordinasi dengan pihak pemerintah, contoh bantuan perusahaan di bidang pertanian tidak koordinasi dengan UPT Pertanian akhirnya ada kelompok yang karena kedekatan dengan perusahaan  selalu dapat bantuan, padahal dia juga banjir bantuan dari pemerintah, sementara ada kelompok yang tidak pernah tersentuh bantuan. Adilkah ini. Ada juga desa yang karena disitu lokasi utama kegiatan eksplorasi selalu dapat sedang desa yang hanya dekat dengan lokasi tapi juga merasakan dampak eksplorasi tidak dapat. Ini menimbulkan kecemburuan. Tapi masing masing hanya memikirkan kepentingan sendiri. Siapa yang mau memfasilitasi ?

Apalah arti hidup ini tanpa TUHAN

Saya hanyalah manusia biasa dengan banyak sekali kekurangan, tetapi mencoba bangkit dan merubah diri kearah yang lebih baik, mencoba menjalani hidup anugerah Tuhan sambil terus bertanya pada diriku : apa yang sudah saya buat dengan hidup saya, hal hal apa yang telah saya buat bermakna bagi orang lain , atau lebih banyak saya menghasilkan karya karya buruk.



Sebenarnya hidup ini berat diluar Tuhan apalagi ditambah dosa dosa yang terus dan terus dilakukan secara sadar, beribadah tapi memungkiri kekuatannya, ada kekurangan jasmani yang membuat saya tidak percaya diri menjalani hidup ini, belum lagi ketakutan akan penyakit yang akhir akhir ini saya rasakan, mudah mudahan semua kekuatiran ini akan sirna dan meski dalam kekurangan jasmani saya dapat dimampukan menjalani hidup yang keras dan berat ini. Ya mau bagaimana lagi jalani saja dengan ucap syukur dan terus beri yang terbaik dalam kekurangan yang sangat banyak ini.

Terus menulis !

Menulis untuk mencurahkan isi hati, ide , gagasan, pendapat dan segalanya tentang kehidupan yang dianugerahkan sang pencipta.


Pengalaman menulis di blog ya ternyata harus hati hati, itulah yang saya alami ketika menulis pengalaman hidup  .Hampir selesai diketik , eh tiba tiba salah menekan  tuts , ya ternyata tak bisa di-undo lagi , konsep yang sudah dipikirkan dengan matang, diketik dalam waktu yang cukup lama sekejap hilang.  Menyesal ya tidak ada guna, . Sekarang saya memilih cara aman dengan mengetik dulu di word dulu baru copy paste ke blog.  Pengalaman adalah guru terbaik , jangan jatuh lagi kelobang yang sama, karena kita manusia dan bukan keledai.

pengampunan dan penerimaan ulang dari TUHAN menjadi titik sejarah iman

 YESAYA 44 :21-28 Jemaat yang dikasihi Tuhan Berita pengampunan yang baru kita baca memiliki dampak yang begitu besar bagi perjalanan iman...