Jumat, 27 Juni 2014

TUGAS TUGAS DIKANTOR

Jadilah teladan di kantor dalam banyak hal. Patuh, dengar dengaran, loyalitas pada atasan. Berilah masukan, bangun komunikasi dan jangan bertindak sebagai atasan meski kita lebih tahu. Biarlah sebagai bawahan kita betul betul dibentuk menjadi masak bukan karbitan. Anggaplah apa yang terjadi adalah proses untuk membentuk kita supaya kita siap menjadi pemimpin. Semuanya pasti ada makna dan artinya.

MASALAH KESEHATAN

Puji syukur pada Tuhan atas kesehatan dan nafas hidup yang Tuhan masih beri dalam saya menjalani hari hari ini. Meski memang saya banyak dosa pada Tuhan dan saya mau merubah hidup saya supaya berkenan dan layak meminta kepada Tuhan. Orang berkata sakit adalah tanda dari tubuh, Sakit juga dapat menjadi sarana untuk mengingatkan apa yang sudah kita buat dalam hidup ini. Yang pasti meski dalam kesulitan tetap mengucap syukur, memuji Tuhan, mendekat kepada Tuhan dalam firman dan doa sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Pasrah dan berserah kepadaNYa sebab apa yang Tuhan buat baik adanya.
Secara pribadi memang hari hari ini penuh kesibukan tapi juga penuh kekuatiran dengan kondisi tubuh yang terasa tidak fit, cepat lelah dan merasa sakit di bagian organ tubuh tertentu. Ada kerinduan untuk memeriksakan di dokter ahli tapi masih menunggu uang. Semoga saja Tuhan menyembuhkan dan semuanya baik baik saja. HIDUPLAH BERKUALITAS

TERUS BELAJAR

Dalam rangka peningkatan kualitas, pengembangan karier maka saya melanjutkan ke tingkat S2 meski memang tidak gampang, banyak tantangan, termasuk membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, dan juga aktifitas organisasi. Lanjut studi memang juga butuh dana yang besar. Jadi perlu pengetatan anggaran dan penghematan. Disini kelemahan saya yang banyak kali boros dan mengeluarkan biaya untuk hal hal yang tidak penting akibatnya di akhir  bulan juni 2014 ini, masih ditengah bulan anggaran bobol, mengakibatkan beban pikiran , kecemasan, kekuatiran dan juga kesulitan. Pinjam sana dan pinjam sini akibatnya ketika gaji datang tutup sana tutup sini. Saatnya untuk belajar dari pengalaman pengelolaan keuangan selama ini yang gagal untuk menata gaji supaya tidak bobol dengan pengeluaran pengeluaran yang ada. Saya sebenarnya mengelola keuangan sendiri tidak diberi kepada isteri dan ini memang salah, sampai saat ini keuangan habis pakai , ndak ada tabungan. Beruntunglah ada berkat terus dan aman aman saja, tetapi tetap saya merasa harus ada pembenahan total apalagi dengan biaya kuliah yang mendekati akhir semakin banyak. Jalan satu satunya adalah mengadaikan gaji di bank, beruntung saja pinjaman di bank periode lalu akan selesai bulan depan jadi ada dana fresh untuk penyelesaian studi. Ini yang sementara saya usahakan untuk modal selesai studi.
Disatu sisi memang keluarga kami sudah ada modal tanah, anak masih kecil, keluarga muda  tetapi masih ada hutang kepada orang tua yang cukup besar dan sekarang mengangsur mobil yang besar biayanya setiap bulan. Biaya kredit  terus terang ditanggulangi selalu oleh isteri melalui penghasilannya karena memang idenya untuk pengadaan kendaraan baru meski saya memang agak tidak setuju tetapi ya jalani saja.

KE RUMAH DUKA

Hari ini saya merasa bersalah ketika berjumpa dengan teman yang saya tahu berduka karena kehilangan ayahnya. Untuk ke kantor saya harus melewati jalan depan rumahnya dan suatu ketika saya melihat ada bangsal dukacita tapi saya tidak tertarik untuk bertanya siapa yang meninggal yang ternyata adalah ayah dari sahabat saya. Ketika saya berjumpa sahabat saya ini ada rasa penyesalan tidak melayat sedangkan waktu bertemu ia dengan begitu ramah menyambut saya. Ya kalau acara suka pasti ketemu lagi tapi kalau acara duka kapan lagi . Betul sekali firman : Lebih baik kerumah duka daripada kerumah suka.

BERBUATLAH KEBAIKAN

          Suatu hari saya bercerita dengan seorang Bapak tetangga saya yang bercerita tentang kematian sahabatnya yang begitu tiba tiba , sementara bertugas di kantor mengalami pusing dan koma sampai meninggal di rumah sakit. Tetapi sayangnya bapak almarhum  ini karena perbedaan pandangan politik dan ada masalah jabatan /keuangan dengan seorang anggota DPRD tetangga rumahnya maka  hubungan memanas, merenggang dan tidak sempat berbaikan sampai ajal menjemput. Bapak tetangga saya ini pun mengambil kseimpulan dari kisah ini bahwa dalam hidup ini lebih baik saling berbaik baikan dengan orang lain, artinya apapun itu entah kita yang benar tetapi kasih, pengampunan , memaafkan, hubungan baik dengan semua orang harus menjadi yang terdepan.

             Pada waktu menerima anggaran di sebuah kantor di ibukota kabupaten, saya bersama teman teman sekantor pergi dimana kebetulan ada juga acara bersamaan . Selesai menerima anggaran tersebut karena acara yang diikuti teman teman belum kunjung selesai maka muncul niat untuk pulang lebih dahulu bersama teman saya yang sama sama menerima anggaran. Terbersit dalam pikiran , ah kesempatan pulang lebih dahulu supaya bebas biaya traktir, itu saya utarakan kepada teman saya. Tapi teman saya berkata lebih baik menunggu sama sama pulang dengan teman temanmu, jangan pikirkan biaya traktir , tapi pikirkan kebaikan yang diberi pasti akan diingat teman temanmu dan kemudian pasti akan mereka ceritakan. Saya pun sadar , menyalami tanda setuju dengan ide teman saya ini.

             Waktu makan dengan isteri saya di sebuah rumah makan, isteri bercerita dengan kebaikan seorang Bapak yang peka dengan kebutuhan tetangga yang kebetulan sementara membangun dan ia memberi hadiah berupa seng. Mantap kebaikan pasti mendatangkan kebaikan.

Tetapi yang pasti berilah kebaikan dengan tulus, jangan mengharapkan imbalan
Berilah kebaikan bukan karena timbal balik memberi karena sudah diberi.
Berilah meski sebenarnya yang diberi adalah orang yang tidak menyukai kita.


Catatan , 28 Juni 2014

                Hari ini banyak inspirasi yang saya dapat melalui perjumpaan dengan lingkungan , dengan sesama dan perjumpaan dengan ciptaanNya. Ini untuk kembali lebih membentuk tujuan hidup ini dan apa yang harus kita perbuat dalam hidup yang dianugerahkanNya. Saya menyadari saya ini banyak sekali dosa dan kesalahan apakah untuk diri sendiri, istri, anak, keluarga, orang tua dan sesama termasuk dosa terhadap lingkungan, Sampai hari ini pun terus bergumul tentang arti kehidupan. Dengan melihat kesalahan dan kekurangan orang lain maka rasanya tidak tepat diri ini jika memberi penilaian terhadap kekurangan orang lain apalagi menghakimi. Dalam arti lihat dulu diri sendiri baru menilai orang lain. Itu baru adil. Kita pun tidak boleh mengambil hak Tuhan yaitu menghakimi. Bila ada kesalahan tentu kita sepakat kita tidak setuju dengan perbuatan kesalahan itu dan kita harus menegor dengan kasih karena lebih baik teguran yang nyata daripada kasih yang tersembunyi. Kita harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk mereka memperbaiki diri . Jika ternyata mereka memilih untuk tidak memperbaiki diri maka itu pilihan mereka sebab bukankah masing masing orang harus mempertanggungjawakan sendiri apa yang ia buat selama ia hidup. 
              Tulisan saya diatas didasari pada apa yang saya terjadi dimana seorang pemimpin masyarakat di desa saya , dalam kabar yang saya dengar telah menyalagunakan jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, tidak ada keterbukaan pada masyarakat, tidak mau mendengar masukan, lebih mendengar dan memakai pendapat sendiri, memiliki sifat mendendam, tidak melaksanakan tugas sebagai pengayom masyarakat. Akibatnya muncul mosi tidak percaya dari masyarakat dan menuntut pengunduran diri yang bersangkutan. Kesalahan pemimpin ini memang kalau terbukti tidak boleh dibenarkan dan dijadikan contoh. 
                Ini juga yang menjadi pelajaran penting kepada saya lewat apa yang terjadi pada orang lain sebab saya juga diberi kepercayaan sebagai pemimpin. Godaan sebagai pemimpin sangat besar tetapi sebagai pemimpin tidak boleh buta dengan godaan yang hanya membuat hidup ini kosong, hampa, sia sia dan tak berarti. Untuk apa kita memiliki isi dunia tapi binasa di akhirat. Bahwa sebagai pemimpin harus bertindak sebagai pelayan, mengutamakan kepentingan orang lain dulu diatas kepentingan pribadi. Sebagai pemimpin masyarakat harus menjadi PEMBELA bukan menjadi PENGHANCUR masyarakat. Kalau memang sesuatu hal itu bukan milik kita, kita hanya diberi tugas untuk mengurusnya maka berikanlah kepada siapa yang berhak. Jangan kita mengambil keuntungan pada sesuatu yang bukan hak kita. Teringat masalah pemotongan hak perangkat di suatu desa yang akibatnya adalah nama baik rusak. Nama baik itulah yang penting , untuk apa kita memiliki semuanya tapi nama baik hancur karena tindakan yang tidak benar.
        Selanjutnya dalam proses maka seharusnya ada pembinaan dulu kepada pemimpin ini supaya ia mengintrospeksi diri dan merubah sikap. Tetapi justru beberapa orang masyarakat dengan motivasi yang tidak baik justru membuat masalah semakin berat karena cenderung menghakimi tanpa berkaca melihat diri sendiri terlebih dahulu yang juga banyak kesalahan. Salah tetap salah tetapi janganlah menghakimi. Apapun yang kita buat ada konsekuensinya, ada Tuhan yang melihat dan serahkan saja kepada Tuhan yang memiliki jalan terbaik terhadap kesalahan yang kita perbuat. 

pengampunan dan penerimaan ulang dari TUHAN menjadi titik sejarah iman

 YESAYA 44 :21-28 Jemaat yang dikasihi Tuhan Berita pengampunan yang baru kita baca memiliki dampak yang begitu besar bagi perjalanan iman...